Rangkul Saudaramu Dengan Pelukan Sunnah

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Menjadi Yang Terdepan Dalam Mendatangi Majelis

2.Merasa Terasing Ketika Pengajian

3.Ketika Mulai “Ngaji”: Terlalu Semangat, Keras dan Bablas

4.Adab Majelis Ilmu

5.Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu Di Masjid

6.Keutamaan Dan Bentuk Majlis Dzikir

7.Suami Menduakan Istri Dengan Sesama Jenis

8.Shahihkah Hadits Tentang Istri Melayani Suami?

9.Keterlambatan Pemberian Hak Gaji Pekerja

10. Konsekwensi ittiba’ kepada ajaran Nabi

11.Berlipat gandanya pahala kebaikan

==

KEUTAMAAN SAHABAT NABI ﷺ _ USTADZ YAZIDBIN ABDUL JAWAS

Khutbah Jumat _ Orang Kaya Juga Harus Qonaah – Ustadz Firanda Andirja 

Sikap Ahlusunnah Di Tahun Politik-Ustadz Sofyan Chalid Ruray

Tegas Banget__ Awas Manhaj Mencla Mencle _ Ustadz Abdurahman Thayyib.

Ceramah Terbaru _ Perkara Yang Dibenci Dalam Shalat-Ust Mizan Qudsiyah.

Hakikat Hijrah-Ustadz Sofyan Chalid Ruray

Hijrah Itu Kepada Sunnah-Ustadz Sofyan Chalid Ruray

Bolehkah Mentahdzir Calon Presiden-Ustadz Sofyan Chalid Ruray

URGENSI WAKTU (Tafsir Surat Al-Ashr)-Ustadz Abdurahman Thayyib.

AQIDAH ISLAM TERHADAP MUSIBAH-Ustadz Abdurahman Thayyib.

••

Ebook

Penjelasan Tentang Sunnah-Sunnah Sehari-Hari

KEWAJIBAN BERPEGANG TEGUH KEPADA AS-SUNNAH DAN WASPADA TERHADAP BID’AH

Berpegang Teguh Dengan Al-Qur’an dan Sunnah

Kun Salafiyan ‘Alal Jaddah (Jadilah SeorangSalafi Sejati) Karya Asy-Syaikh DR. Abdussalam bin Salim as-Suhaimi hafizhahullah

==

  • RANGKUL SAUDARAMU DENGAN PELUKAN SUNNAH

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

بسم الله الرحمن الرحيم

Alhamdulillah dakwah Sunnah semakin diterima oleh kaum muslimin di bumi Indonesia. Namun, sungguh disayangkan atas sikap sebagian saudara(i) kita yang kurang adab dalam bersikap terhadap saudara(i) mereka. Biasanya hal ini lahir karena semangat yang kuat dalam berpegang kepada Sunnah namun jahil dalam penerapannya di tengah masyarakat. Hal ini bisa jadi da’i-da’i di daerah tersebut jarang membahas adab-adab yang baik dalam berinteraksi atau bisa jadi tidak adanya da’i di daerah tersebut, melainkan sekumpulan orang yang mengenal dakwah Sunnah melalui Radio atau media lainnya tanpa ada yang membimbing mereka secara langsung.

Fenomena itu berdampak buruk bagi Dakwah Sunnah yang mulia ini, bagaimana tidak? Dakwah Sunnah tercoreng dengan ulah mereka. Kadang kita mendengar ocehan dari sebagian kelompok penyimpang: Salafi itu tidak beradab!.

Subhanallah! Padahal Ahlussunnah adalah kaum yang sangat mengutamakan adab. Oleh karena itu, Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Risalahnya yang terkenal “Al-Aqidah Al-Wasithiyyah” yang merupakan Risalah tentang Aqidah Ahlussunnah, beliau menyebutkan bahwa diantara Manhaj Ahlussunnah adalah mengajarkan Adab dan Akhlak.

✅ Beliau rahimahullah berkata:

ويدعون إلى مكارم الأخلاق ومحاسن الأعمال، ويعتقدون معنى قوله صلى الله عليه وسلم:”أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا”.

Mereka (Ahlussunnah wal Jama’ah) mengajak kepada akhlak yang mulia dan perbuatan yang baik, dan mereka meyakini makna sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا

Kaum mu’minin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya.”(HR.Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, shahih lighairih)

Ucapan emas di atas terkandung dua perkara:

✅ –Bantahan kepada mereka yang menuduh bahwa Ahlussunnah itu tidak mengajarkan akhlak dan adab, dan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang tidak beradab.

✅ -Teguran bagi mereka yang mengaku Ahlussunnah, namun tidak berhias dengan akhlak yang baik dan mulia.

Beberapa kejadian yang kadang kita dengar bahkan kadang kita saksikan seendiri tentang kurangnya adab sebagian orang yang menyandarkan diri kepada Sunnah adalah hal yang dimaklumi. Kita melihat sebagian dari mereka saat ada pengajian, biasanya mereka berkumpul dan saling menyapa hanya kepada sesama mereka yang sudah lama saling mengenal. Sebagian saudara(i) kita yang baru mulai mencari tau apa itu Sunnah kadang tak diacuhkan, tidak digubris, bahkan kadang orang baru tersebut yang datang menyapa dan menyalami mereka, namun sayang, disambut dengan wajah tak bersahabat. Sebagian mereka ketika melihat wajah baru maka yang dipandang adalah pakaiannya, atau jilbab gaulnya, kalau dia seorang laki-laki maka yang dipandang adalah celananya yang masih isbal atau jenggotnya yang masih dicukur.

Ya Subhanallah!, ada apa dengan ini? Demi Allah, Ustadz-Ustadz Sunnah tidak mengajarkan hal ini. Jika ada ustadz Sunnah yang mengajarkan hal ini maka yakinlah dia bukan Ustadz Sunnah atau dia seorang Ustadz yang tidak paham apa itu Sunnah.!

Lebih parah lagi, ada sebagian orang yang kadang berprasangka buruk terhadap saudaranya. Ketika dia melihat ada seorang yang masih ikut di suatu organisasi atau kelompok tertentu baru muncul batang hidungnya di tempat kajian, maka serta merta dianggap mata-mata, atau prasangka buruk lainnya.

Duhai betapa bodohnya orang seperti ini! Tidakkah engkau berprasangka baik terhadapnya kalau ternyata dia menginginkan mengenal Sunnah sebagaimana engkau mengenal Sunnah? Bisa jadi dia hadir dengan hati yang ikhlas menginginkan dan mencari Ilmu tentang Sunnah melebihi keikhlasanmu.!

✅ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ

Wahai orang-orang yang beriman! jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagian dari prasangka adalah dosa. (QS.Al-Hujurat:12)

✅ Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

Hati-hatilah kalian dari prasangka, sebab prasangka itu adalah ungkapan yang paling dusta. (HR.Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu).

Wahai saudaraku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengajarkanmu bersifat lembut terhadap saudara(i)mu:

يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, Dia mencintai sikap lemah lembut. Allah akan memberikan pada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak Dia berikan pada sikap yang keras dan sikap lainnya.”

(HR.Muslim)

Dari Aisyah radhiyallahu anha bahwasanya beberapa orang Yahudi datang kepada Nabi ﷺ sambil berkata: assāmu alaykum (kebinasaan atas kalian).

Rasulullah ﷺ menjawab: wa alaykum.

Maka Aisyah menjawab: “Semoga kebinasaan atas kalian juga, dan semoga laknat dan murka Allah juga menimpa kalian”.

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

مهلا يا عائشة عليك بالرفق وإياك والعنف والفحش

Tenanglah wahai Aisyah, berlemah lembutlah dan janganlah kamu bersikeras dan berkata buruk.

Aisyah berkata:

Apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka katakan?

Beliau bersabda:

أولم تسمعي ما قلت؟ رددت عليهم فيستجاب لي فيهم ولا يستجاب لهم في

Tidakkah kamu mendengar apa yang saya ucapkan? saya telah membalasnya, adapun jawabanku akan dikabulkan sementara do’a mereka tidak akan dikabulkan”.

(HR.Al-Bukhari dan ini lafaznya dan Muslim)

✅Berkata Al-imam An-Nawawi rahimahullah:

ﻭﻓﻴﻪ ﺣﺚ ﻋﻠﻰ اﻟﺮﻓﻖ ﻭاﻟﺼﺒﺮ ﻭاﻟﺤﻠﻢ ﻭﻣﻼﻃﻔﺔ اﻟﻨﺎﺱ ﻣﺎ ﻟﻢ ﺗﺪﻉ ﺣﺎﺟﺔ ﺇﻟﻰ اﻟﻤﺨﺎﺷﻨﺔ

Di dalam hadits ini terdapat motivasi untuk berlaku ramah, sabar, santun, dan berlemah lembut terhadap manusia, selama tidak ada kebutuhan (yang dibolehkan) yang mendorong untuk berlaku keras.(Syarh Shahih Muslim:14/145)

Wahai saudaraku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengajarkan agar engkau berinteraksi dan bergaul dengan masyarakat dan bersabar atas gangguan mereka.

✅ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

َ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

Seorang mukmin yang berbaur (berinteraksi) dengan manusia dan bersabar atas keburukan mereka, lebih besar pahalanya daripada seorang mukmin yang tidak berbaur (berinteraksi) dengan manusia dan tidak sabar atas keburukan mereka.”

(HR.Ibnu Majah, Shahih Lighairih)

Berkata Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah:

Ketahuilah wahai muslim! bahwa pondasi dalam kehidupan kaum muslimin adalah kerjasama dalam menjalankan ibadah-ibadah, dan menegakkan kewajiban-kewajiban Islam dan syariat-syariatnya.

Hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan adanya pergaulan/interaksi diantara mereka. Berinteraksi bersama masyarakat muslim karena tujuan ini adalah sesuatu yang dituntut secara syariat, maka tidak boleh seorang muslim meninggalkannya.(At-Tanbih Al-Hasan Fi Mauqifil-Muslim Minal-Fitan:15)

✅ Berkata Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah:

ﻓﺨﻴﺮ اﻟﻨﺎﺱ ﺃﻧﻔﻌﻬﻢ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻭﺃﺻﺒﺮﻫﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﺫﻯ اﻟﻨﺎﺱ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat kepada manusia dan paling bersabar atas gangguan mereka.”(latha’if Al-Ma’arif:515, dinukiil dari “Allahu Yu’amiluk kama Tu’amilu Ibadah”:12)

Wahai saudara(i)ku, tidakkah engkau menginginkan kebaikaan dan hidayah kepada saudara(i)mu sebagaimana engkau menginginkan kebaikan untuk dirimu?

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah beriman seseorang dari kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri”.

(HR.Al-Bukhari dan Muslim)

Semoga hal ini menjadi titik perhatian bagi kita dan banyak mengintropeksi diri menuju Ahlussunnah yang beraqidah bersih, bermanhaj lurus, dan beradab mulia.

.

وبالله التوفيق.

🗓

@Muhammad Abu Muhammad Pattawe,

==

  • Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu Di Masjid

➡ 1.Dimudahkan jalannya menuju surga

Orang yang keluar dari rumahnya menuju masjid untuk menuntut ilmu syar’i, maka ia sedang menempuh jalan menuntut ilmu.

Padahal Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ﻣَﻦ ﺳﻠَﻚ ﻃﺮﻳﻘًﺎ ﻳﻄﻠُﺐُ ﻓﻴﻪ ﻋِﻠْﻤًﺎ،ﺳﻠَﻚ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑﻪ ﻃﺮﻳﻘًﺎ ﻣِﻦ ﻃُﺮُﻕِ ﺍﻟﺠَﻨَّﺔِ

Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju surga ” (HR. At Tirmidzi no. 2682, Abu.Daud no. 3641, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud ).

➡ 2. Mendapatkan ketenangan, rahmat dan dimuliakan para Malaikat

Orang yang mempelajari Al Qur’an di masjid disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendapat ketenangan, rahmat dan pemuliaan dari Malaikat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻭَﻣَﺎ ﺍﺟْﺘَﻤَﻊَ ﻗَﻮْﻡٌ ﻓِﻰ ﺑَﻴْﺖٍ ﻣِﻦْ ﺑُﻴُﻮﺕِﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﺘْﻠُﻮﻥَ ﻛِﺘَﺎﺏَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻳَﺘَﺪَﺍﺭَﺳُﻮﻧَﻪُﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺇِﻻَّ ﻧَﺰَﻟَﺖْ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢُ ﺍﻟﺴَّﻜِﻴﻨَﺔُﻭَﻏَﺸِﻴَﺘْﻬُﻢُ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺔُ ﻭَﺣَﻔَّﺘْﻬُﻢُ ﺍﻟْﻤَﻼَﺋِﻜَﺔُﻭَﺫَﻛَﺮَﻫُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓِﻴﻤَﻦْ ﻋِﻨْﺪَﻩ

Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya ” (HR. Muslim no.2699).

Makna dari ﻭَﺣَﻔَّﺘْﻬُﻢُ ﺍﻟْﻤَﻼَﺋِﻜَﺔُ “ mereka akan dilingkupi para malaikat“, dijelaskan oleh Al Mula Ali Al Qar

ﻣَﻌْﻨَﺎﻩُ ﺍﻟْﻤَﻌُﻮﻧَﺔُ ﻭَﺗَﻴْﺴِﻴﺮُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻧَﺔِﺑِﺎﻟﺴَّﻌْﻲِ ﻓِﻲ ﻃَﻠَﺒِﻪِ

Maknanya mereka akan ditolong dan dimudahkan dalam upaya mereka menuntut ilmu” (Mirqatul Mafatih, 1/296).

➡ 3. Merupakan jihad fi sabilillah

Orang yang berangkat ke masjid untuk menuntut ilmu syar’i dianggap sebagai jihad fi sabilillah. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ﻣَﻦ ﺩﺧَﻞ ﻣﺴﺠِﺪَﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻟِﻴﺘﻌﻠَّﻢَ ﺧﻴﺮًﺍﺃﻭ ﻳُﻌﻠِّﻤَﻪ ﻛﺎﻥ ﻛﺎﻟﻤُﺠﺎﻫِﺪِ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞِﺍﻟﻠﻪِ ﻭﻣَﻦ ﺩﺧَﻠﻪ ﻟﻐﻴﺮِ ﺫﻟﻚَ ﻛﺎﻥﻛﺎﻟﻨَّﺎﻇﺮِ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻟﻪ

Barangsiapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) untuk mempelajari kebaikan atau untuk mengajarinya, maka ia seperti mujahid fi sabilillah. Dan barangsiapa yang memasukinya bukan dengan tujuan tersebut, maka ia seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang bukan miliknya ” (HR. Ibnu Hibban no. 87, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Mawarid , 69).

➡ 4. Dicatat sebagai orang yang shalat hingga kembali ke rumah

Jika seorang berangkat ke masjid berniat untuk shalat, kemudian setelah shalat ada pengajian (majelis ilmu), maka selama ia berada di majelis ilmu dan selama ada di masjid, ia terus dicatat sebagai orang yang sedang shalat hingga kembali ke rumah.

✅ Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ﺇﺫﺍ ﺗَﻮﺿَّﺄَ ﺃﺣﺪُﻛُﻢ ﻓﻲ ﺑﻴﺘِﻪِ ، ﺛﻢَّ ﺃﺗَﻰﺍﻟﻤﺴﺠﺪَ ، ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺻﻼﺓٍ ﺣﺘَّﻰ ﻳﺮﺟﻊَ، ﻓﻼ ﻳﻔﻌﻞْ ﻫﻜَﺬﺍ : ﻭ ﺷﺒَّﻚَ ﺑﻴﻦَﺃﺻﺎﺑﻌِﻪِ

Jika seseorang berwudhu di rumah, kemudian mendatangi masjid, maka ia terus dicatat sebagai orang yang shalat hingga ia kembali. Maka janganlah ia melakukan seperti ini.. (kemudian beliau mencontohkan tasybik dengan jari-jarinya) ” (HR. Al Hakim no. 744, Ibnu Khuzaimah, no. 437, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, 2/101).

Tasybik adalah menjalin jari-jemari.

➡ 5. Dicatat amalannya di ‘illiyyin

Jika seorang berangkat ke masjid berniat untuk shalat, kemudian setelah shalat ada pengajian (majelis ilmu) hingga waktu shalat selanjutnya (semisal pengajian antara maghrib dan isya), maka ia terus dicatat amalan kebaikan yang ia lakukan di masjid, di ‘illiyyin .

✅ Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ﺻﻼﺓٌ ﻓﻲ ﺇﺛﺮِ ﺻﻼﺓٍ ﻻ ﻟﻐﻮَ ﺑﻴﻨَﻬﻤﺎﻛﺘﺎﺏٌ ﻓﻲ ﻋﻠِّﻴِّﻴﻦَ

Seorang yang setelah selesai shalat (di masjid) kemudian menetap di sana hingga shalat berikutnya, tanpa melakukan laghwun.(kesia-siaan) di antara keduanya, akan dicatat amalan tersebut di ‘illiyyin ” (HR. Abu Daud no. 1288, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud ).

✅ Dijelaskan oleh Syaikh Sulaiman bin Amir Ar Ruhaili hafizhahullah:

ﻭﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻠِّﻴِّﻴﻦَ ﻛﺘﺎﺏ ﻻ ﻳﻜﺴﺮﻭ ﻳﻔﺘﺢ ﺇﻟﻰ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻣﺤﻔﻮﻅ ﻻﻳﻨﻘﺺ ﻣﻨﻪ ﺷﻴﺊ

Catatan amal di ‘illiyyin adalah catatan amal yang tidak akan rusak dan tidak akan dibuka hingga hari kiamat, tersimpan awet, tidak akan terkurangi sedikit pun”

Dan tentu saja orang yang menuntut ilmu di masjid akan mendapat semua keutamaan menuntut ilmu secara umum yang ini jumlahnya banyak sekali.

Semoga Allah Ta’ala menambahkan semangat kepada untuk terus menuntut ilmu syar’i,terutama di zaman penuh syubuhat dan fitnah ini.

Faidah dari kajian Fiqhu Al Mashalih wal Mafasid, oleh Syaikh Sulaiman bin Amir Ar Ruhaili

Penyusun: Yulian Purnama

=(Lanjut Ke Halaman 2)

Iklan