Sirah Nabi 25 – Usaha Kaum Musyrikin Quraisy Dalam Menghalangi Dakwah Nabi

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Kafir Quraisy Juga Mengenal Allah dan Rajin Ibadah

2.Kaum Quraisy Menyerukan Toleransi Keyakinan 

3.Cara-Cara Orang Musyrik Menghambat Dakwah Islam

4.Hukum Lewat Di Depan Orang Shalat

5.Hukum Memilih Pemimpin Negara Dalam Islam

6.Perbedaan Hukum Islam Dan Syariat Islam

7.Sikap Kepada Orang Tua Dan Berita Politik

8.Apakah Was – Was Membatalkan Shalat?

9.Qodho Sholat Magrib Dikerjakan Di Waktu Isya’

10.Kisah Kesabaran Wanita yang Tak KunjungHamil

11.Hukum Mencukur Jenggot Karena Pekerjaan ==

Sepak-Terjang Kaum Musyrikin dalam Menghambat Dakwah Rasulullah (Ustadz Dr.Ali Musri Semjan Putra, M.A)

Bag1Bag2Bag3

Bagaimana Kafir Quraisy Mengolok danMendustakan Rasulullah –(Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.)

Celaan Musyrikin Quraisy Terhadap Dakwah Nabi-Ust Abdullah Zaen

Gangguan Fisik Kaum Musyrikin Quraisy-Ust Abdullah Zaen

Usaha Kaum Musyrikin Quraisy Untuk Menghalangi Dakwah Rasulullah-Ust Sufyan Bafin Zen

Bag1:Bag2:Bag3:Bag4:Bag5

Mengenal Quraisy-Konsultasisyariah.com 

••

Ebook

Shahih Sirah Nabawiyah-DR.Akram Dhiya’ Al- Umuri

Sirah Nabawiah

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam (lengkap)

SIRAH NABAWIYYAH – Shafiyurrahman al-Mubarakfury

Buku Shahih Sirah Nabawiyah |

Sejarah Hidup dan Perjuangan Rasulullah.PDF

==

  • Sirah Nabi 25 – Usaha Kaum Musyrikin Quraisy Dalam Menghalangi Dakwah Nabi

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

  • Usaha Kaum Musyrikin Quraisy Dalam Menghalangi Dakwah Nabi

Pada awalnya orang-orang kafir Quraisy menyangka bahwasanya dakwah Nabi sama seperti dakwah orang-orang ahnaaf yang kadang muncul kadang hilang. Namun ternyata tidak, dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam terus menerus berkembang. Di samping itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam mulai berani berdakwah secara terang-terangan, mulai membicarakan tentang sesembahan-sesembahan orang-orang Quraisy, mulai berbicara mengenai tauhid, dan mulai melarang mereka untuk melakukan kesyirikan. Seandainya Nabi bertauhid hanya seorang diri dan tidak mengusik mereka, maka hal ini tidak menjadi masalah bagi mereka. Akan tetapi ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam menyuruh mereka untuk meninggalkan kesyirikan dan mengatakan bahwa apa yang selama ini mereka dan nenek moyang mereka lakukan adalah suatu kesalahan, maka ini telah mengusik urusan pribadi mereka. Akhirnya mulailah mereka menolak dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam.

Adapun sebab-sebab kenapa orang kafir Quraisy menolak dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam, maka diantaranya adalah;

  • ➡ ⑴ Karena pertimbangan duniawi.

Ka’bah di kota Mekah merupakan pusat peribadatan. Orang-orang dari penjuru dunia datang ke kota Mekah untuk melakukan praktek kesyirikan. Selain untuk thawaf dan haji, mereka juga berdoa kepada patung-patung yang ada di Mekah. Berbagai macam kabilah datang untuk meminta permintaan kepada patung-patung tersebut. Kita tahu bahwa banyak patung (360 patung) yang berada di Ka’bah, masing-masing patung punya fungsi sendiri, ada patung khusus untuk meminta rizki, ada patung khusus untuk meminta jodoh. Demikian juga masing-masing kabilah mungkin menggandrungi patung tertentu. Oleh karena itu, seandainya patung-patung ini disingkirkan, orang-orang tidak akan datang lagi ke kota Mekah.

Selain itu, Mekah juga merupakan pusat perdagangan. Hal ini disebabkan karena orang-orang berbondong-bondong datang dan berkumpul di situ, sehingga terjadilah banyak transaksi perdagangan. Seandainya patung-patung yang berada di Ka’bah dibersihkan sehingga orang-orang menjauh dari kota Mekah, maka perdagangan di kota Mekah akan menjadi lambat atau bahkan terhalang.

  • ➡ ⑵ Taklid terhadap nenek moyang

Namun diantara perkara yang paling membuat mereka tidak mau meninggalkan ajaran mereka adalah karena taklid terhadap nenek moyang mereka. Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan perkataan orang-orang kafir Quraisy.

✅ Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

Dan demikianlah, tidaklah Kami mengutus sebelum engkau wahai Muhammad pada setiap negeri dari Rasul yang memberi peringatan, kecuali orang-orang yang hidup mewah diantara mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami berada di atas agama ini dan kami hanya mengikuti ajaran mereka.” (QS Az-Zukhruf : 23)

Ini adalah perkara yang sangat berat bagi mereka apabila mereka meninggalkan kesyirikan-kesyirikan tersebut, karena mereka sudah ratusan tahun berada dalam keadaan ini. Dan sesungguhnya mempertahan tradisi yang salah adalah sebab yang paling besar yang menghalangi seseorang dari hidayah. Karenanya para Nabi ditolak oleh kaum mereka karena bertentangan dengan tradisi nenek moyang mereka.

Kaum ‘Aad menolak dakwah Nabi Huud ‘alaihis salam dengan alasan tradisi nenek moyang.

✅ Allah berfirman :

قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar” (QS Al-A’roof : 70)

✅ Demikian pula Kaum Tsamuud tatkala menolak dakwah Nabi Sholih ‘alaihis salam. Allah berfirman :

يَاصَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَذَا أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ (62)

Kaum Tsamud berkata: “Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.” (QS Huud : 62)

✅ Demikian penolakan penduduk Madyan terhadap Nabi Syu’aib ‘alaihis salam. Allah berfirman :

قَالُوا يَاشُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ (87)

Mereka berkata: “Hai Syu´aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.” (QS Huud : 87)

✅ Demikian juga alasan kaum Ibrahim tatkala menolak dakwah Nabi Ibrahim, Allah berfirman :

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ إِبْرَاهِيمَ (69) إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا تَعْبُدُونَ (70) قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَاماً فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِينَ (71) قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ (72) أَوْ يَنفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ (73) قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا آبَاءنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ (74)

Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām berkata kepada kaumnya, “Apa yang kalian sembah?” Mereka menjawab, “Kami menyembah patung-patung berhala, kami akan terus i’tikaf di patung-patung ini dan kami tidak akan meninggalkan patung-patung ini.” Kata Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām, “Apakah mereka mendengar kalian ketika kalian menyeru mereka, ataukah patung-patung tersebut memberi manfaat kepada kalian atau memberi kemudharatan kepada kalian?” Mereka menjawab, “Demikianlah kami mendapati nenek moyang kami berbuat begitu.” (QS Asy-Syu’arā 70-71)

✅ Namun Allah tidak menerima hujjah tradisi nenek moyang yang dijadikan argument oleh kaum musyrikin, Allah berfirman :

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (172) أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ (173)

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. Atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu? (QS AL-A’roof : 172-173)

<<< Lanjut Ke Halaman Dua >>>