Antara Hanan Attaki, Fungsi Masjid Untuk Ibadah Bukan Hiburan Dan Kreatifitas Dakwah Jangan Kebablasan 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••=

1.Peran Masjid Dalam Islam –

2.Apa Pengertian dari Masjid?

3.Gemar Memakmurkan Masjid, Sifat Orang Beriman

4.Dari Masjid Kita Bangkit

5.Hukum Menari dan Joget Dalam Islam

6.Menari Untuk Suami

7.Islam Nusantara dan Islam Arab

8.Hukum Jual Beli Sistem Inah Disertai ContohKasus

9.Jawaban Terhadap Pertanyaan Orang Atheis: “Apakah Allah Mampu Menciptakan Batu Yang Dia sendiriTidak Mampu Untuk Mengangkatnya ?”

==

Kapankah anda Termasuk Ahlus Sunnah-Ust.Abdurrahman Thayyib

Bolehkan Masjid dan Sekitarnya Dijadikan Live Musik-Ust Sofyan Chalid Ruray.

Ditantang Debat Soal Musik-Ust Muflih Safitra

Pandangan Tentang Ide Pembangunan Masjid Gaul-Ust Firanda Andirja 

==

MUSIK ITU QUR’AN NYA SYAITAN – Kajian Islam – Ust Nizar Saad Jabal 8Mb

Fiqh Seputar Masjid-Ust.Firanda Andirja

Adab Masjid-Syaikh Hasan Al Halaby

Seputar Hukum Masjid-Ust.Mizan Qudsiyah

Bag1:Bag2

Keutamaan Memakmurkan Masjid-Ust.Abdurrahman Thayyib

Sebaik-Baik Tempat Adalah Masjid-Syaikh Abdur Rozzaq Al Badr

Orang-Orang Yang Memakmurkan Masjid-Syaikh Abdur Rozzaq Al Badr

Kesalahan Orang Di Masjid-Ust.Abu Ihsan Al Atsary

==

Ebook

Adab Di Dalam Masjid

Hukum Shalat di Masjid Dikelilingi Kuburan

MASJID & PENGARUHNYA DALAM DUNIA PENDIDIK

Adab Adab Masjid

Hidup Tanpa Musik

Bila Nyanyian Di Usik

Hukum Nyanyian

Haramnya Musik dan Lagu

Polemik Seputar Hukum Lagu & Musik

==

Antara Hanan Attaki, Fungsi Masjid Untuk Ibadah Bukan Hiburan Dan Kreatifitas Dakwah Jangan Kebablasan

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

 

  • KREATIFITAS DAKWAH JANGAN KEBABLASAN

Salah satu target dakwah dari seorang da’i, tentu adalah dakwahnya diterima oleh sebanyak-banyaknya orang, sehingga semakin banyak yang tunduk patuh kepada Allah ta’ala. Ini jelas tak masalah, karena jika dakwah berjalan begitu saja, tanpa target agar ia bisa sampai dan diterima oleh mad’u, tentu tujuan dakwah tak tercapai.

Karena itu, wajar dan sah-sah saja seorang da’i, berpikir sekreatif dan se-“out of the box” mungkin, agar dakwahnya bisa diterima oleh sebanyak-banyaknya mad’u. Misal dakwah Mush’ab bin ‘Umair radhiyallahu ‘anhu yang menyasar para pembesar Yatsrib. Demikian juga dakwah Walisongo di nusantara, dan terlalu banyak contoh lainnya.

Teknis dakwah tak melulu harus ceramah atau tabligh akbar. Duduk di warung kopi sambil berdakwah, tak masalah. Datang ke kumpulan anak-anak punk dan berbicara Islam, juga tak masalah. Bahkan, datang ke masjid yang dikelola bank konvensional, dan berkhutbah tentang haramnya riba a.k.a. bunga bank, itu mantap sekali, bukan malah berceramah tentang meningkatkan etos kerja, yang berarti menyemangati mereka untuk bertransaksi ribawi.

Namun, kreatifitas tak boleh menabrak Syariah. Kreatifitas juga tak boleh merusak tatanan adab yang telah dibangun Islam. Dalam aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Ummahatul Mu’minin adalah sosok-sosok yang sangat mulia, dan wajib kita muliakan, serta kita sebut dengan penuh penghormatan dan adab. Tentu tak layak dilabeli seperti label yang biasa diberikan ke remaja-remaja kebanyakan, apalagi remaja alay. Ini satu contoh.

Demikian juga, menjadikan masjid sebagai pusat peradaban, itu sangat bagus. Saya sendiri sudah lama berwacana, agar masjid itu benar-benar bisa menjadi pesantren untuk lingkungan sekitarnya dengan kurikulum yang terstruktur dengan baik dan berjenjang, sehingga alumni pengajian masjid, memang lulus menjadi seorang alim, bukan diam di tempat ilmunya, meski telah hadir pengajian belasan tahun. Toh, dana yang dimiliki masjid biasanya besar, tentu menggaji 5-10 orang pengajar berkompeten masing-masing minimal 3 juta/bulan, tak akan terlalu berat.

Namun tentu, jika konsep masjidnya malah berisi break dance, live music, dan lain-lain, ini tentu kurang wajar, dan terkesan kurang beradab. Mengajak anak gaul ke masjid, itu maksudnya mengajak mereka shalat dan kajian di masjid, bukan mengajak mereka joget-joget dan menyanyi-nyanyi di halaman masjid.

Jika dakwah dilakukan tanpa memperhatikan adab, kita patut khawatir, yang lahir adalah para “aktivis hijrah” yang tak punya adab. Wal ‘iyadzu billah.

=

  • Kesalahan Ustadz HA itu bukan:

✅ 1. Sengaja mencela Nabi dan Ummul Mu’minin. Jika sengaja, memang bisa dibawa ke bab takfir.

✅ 2. Bukan sekadar “salah ucap biasa”, “kepleset lidah biasa”. Seperti contoh dalam Hadits, orang yang saking gembiranya mengatakan, “Engkau hambaku, dan aku Tuhanmu”.

Salah ucap itu mungkin karena emosi kurang stabil, seperti terlalu gembira, terlalu sedih, terlalu gugup, dan semisalnya.

✅ 3. Bukan juga kekeliruan karena “kurang referensi”, seperti bingung ketika ditanya ‘Arsy makhluk atau bukan (yang ini agak parah juga sih, karena perkaranya ma’lum minad diin bidh dharurah), atau menyatakan Imam Malik bin Anas rahimahullah adalah putra dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

✅ Kesalahan beliau, karena “terlalu memaksakan diri terjun ke lingkungan anak gaul dan bahasa mereka”. Akhirnya, demi menarik simpati anak-anak gaul tersebut, beliau secara sadar memilih diksi yang terkesan kurang adab kepada Nabi dan Ummul Mu’minin.

Padahal, cara berbicara dan pilihan kata anak gaul tersebut, tidak selalu pantas dan layak diucapkan oleh orang-orang baik.

Wallahu a’lam.

➡ NB:

Kalau ada yang menimpali, “Kok membahas itu lagi?”

Saya jawab: Selama masih ada muncul berbagai tulisan di beranda saya, yang terlihat tidak proporsional, baik dalam membela sang da’i atau dalam mengkritiknya, ada kemungkinan saya tergelitik untuk menanggapi lagi.

=

  • USTADZ HANAN ATTAKI

Oleh: Muhammad Abduh Negara

(Jika mau berkomentar, harap baca betul-betul tulisan ini, dari awal sampai akhir)

Ini mungkin tulisan terakhir saya, tentang Ustadz HA yang ingin membangun masjid yang disekelilingnya ada live music, break dance, dll.

✅ 1. Awal mula saya ikut menulis tentang hal ini, saat membaca ada komentar seseorang terhadap pengkritik Ustadz HA: “Apa kontribusi anda untuk Islam selain cuma nyinyir karya orang lain”. Kemudian, banyak juga saya temukan komentar-komentar senada, termasuk yang ditujukan ke saya. Beberapa waktu sebelumnya, masih tentang ustadz yang sama, saat ramai ungkapan “Nabi Musa preman” dan “Aisyah itu seorang traveller”, ungkapan semisal ini juga muncul.

Seakan jika seseorang itu dianggap telah banyak kontribusinya, ia tak boleh dikritik lagi, meski terbukti salah. Ini kaidah dari mana? Dari sisi yang lain, jujur saja, istilah kontribusi itu pun saat ini sebenarnya cukup bias. Apa ukuran seseorang dianggap lebih berkontribusi untuk dakwah Islam dibandingkan yang lain? (Ini panjang kalau mau diulas, tapi sepertinya tak cukup ruang di sini)

✅ 2. Ada pula yang dengan alasan ukhuwwah, mengajak untuk tak mengkritik sang ustadz. Atau dengan bahasa lain, cari waktu yang tepat untuk mengkritik, yang entah kapan itu, karena faktanya kesalahan-kesalahan yang serupa seperti terus berulang. Ini konsep ukhuwwah dari mana?

Ukhuwwah Islamiyyah tak menafikan amar ma’ruf nahi munkar. Mengkritik kesalahan sang ustadz di depan umum pun, bukan sesuatu yang keliru. Karena kesalahannya terpublikasi luas, bahkan dipublikasi oleh sang ustadz sendiri, tanpa merasa yang ia lakukan itu keliru. Bahkan membela diri saat diberi kritik.

Jika kita benar-benar berkasih sayang kepada umat Islam dan du’atnya, tentu kesalahan seperti ini tak akan kita diamkan. Mendiamkan kesalahan, yang kemudian menyebabkan orang lupa bahwa itu sebuah kesalahan, adalah sesuatu yang buruk. Orang sangat mungkin menganggap kemungkaran bukan sebuah kemungkaran, karena terlalu biasa terjadi di hadapannya.

✅ 3. Apakah kesalahan Ustadz HA ini benar-benar salah, atau kesalahpahaman saja, atau cuma salah komunikasi atau? Zhahirnya, itu sebuah kesalahan. Masjid dengan konsep anak muda, ada live music, ada break dance, hip hop, musik akustik, ada skate park, dll, ini terlihat kurang adab terhadap masjid. Kecuali jika beliau menjelaskan bahwa semua istilah itu, berbeda dengan yang dipahami oleh keumuman orang. Jika memang seperti yang ada di benak kita, maka itu kekeliruan.

✅ 4. Ada yang mencoba menghubung-hubungkan dengan afiliasi. Padahal kritik saya tak ada hubungannya dengan afiliasi apapun. Mau dia ustadz IM, ustadz JT, ustadz Salafi, ustadz Asy’ari-Sufi, ustadz HTI, ustadz ABC, ustadz Indofood, ustadz Cap Bango, apapun, jika melakukan kekeliruan yang sama, tetap layak dikritik. Bukan masalah afiliasinya apa, tapi persoalannya adalah, ia keliru atau tidak.

Saya tahu, orang tertentu misalnya, jika yang salah ustadz dari kalangan haraki, cepat ia hujat, sedangkan jika dari afiliasinya sendiri, cenderung diam, menyembunyikan, bahkan membenarkan. Juga sebaliknya, sebagian kalangan, kalau yang salah dari Salafi misalnya, cepat dicerca, sedangkan jika dari afiliasinya sendiri, tidak. Demikian juga dengan afiliasi-afiliasi lainnya. Kalau saya bagaimana? Saya tidak memperhatikan itu semua. Kesalahan adalah kesalahan, dari afiliasi manapun ia. Begitu juga, yang benar tetap benar, dari afiliasi manapun.

✅ 5. Kok antum mengkritik ustadz HA, padahal kan kontribusi beliau dalam dakwah besar? Masalah besar atau tidak, mungkin akan sangat relatif, tergantung dari mana kita melihatnya.

Hanya saja, kritikan saya sama sekali tidak menafikan apresiasi kebaikan kepada sang ustadz. Orang-orang yang tidak pernah shalat sebelumnya misalnya, kemudian karena dakwah sang ustadz, jadi rajin shalat, insyaallah sang ustadz akan mendapatkan pahalanya. Demikian juga untuk kebaikan-kebaikan lainnya.

Ini pun saya lakukan, misalnya kepada Ustadz YM yang saat ini sudah jatuh sekali di pandangan sebagian orang, dituduh munafik, dll. Saya sendiri tidak sepakat dengan beberapa tindakan beliau, termasuk konsep sedekah beliau yang “agak gimana gitu”. Tapi saya tetap mengapresiasi beliau, terutama usaha beliau dalam melahirkan para penghafal Al-Qur’an.

Jadi, kritik bukan berarti tak mengapresiasi kontribusi. Demikian pula, mengapresiasi kontribusi, bukan berarti jadi haram mengkritik. Ibnu Taimiyyah, meski sering mengkritik kalangan Asy’ariyyah, beliau tak menafikan kontribusi mereka dalam dakwah Islam. Atau sebaliknya, Syaikh ‘Ali Jum’ah, meski mengkritik pegangan aqidah Ibnu Taimiyyah, tetap mengakui keilmuan beliau.

Masalahnya, para penggemar sang ustadz, dan sebagian warganet lain yang kurang memahami hal ini, melihat jika sang ustadz dikritik, maka itu berarti menghujat, menghina, dll. Akhirnya muncul serangan balik kepada si pengkritik (yang sebenarnya sangat tak relevan). Cara-cara semacam ini harus dihentikan, karena tak akan baik bagi perkembangan dakwah Islam ke depannya. Seakan kalau orang sudah menjadi da’i, kemudian punya banyak follower, lalu tak boleh dikritik lagi.

✅ 6. Alih-alih mengkritisi sang ustadz, proporsi saya lebih besar untuk mengkritisi para pembela sang ustadz. Saya benar-benar tak memahami cara berpikir mereka. Jika mereka menganggap sang ustadz tak salah, tinggal ditunjukkan bahwa tuduhan penuduh keliru, dengan menjelaskan poin-poinnya. Tapi itu juga tak dilakukan (sepengetahuan saya). Atau menggunakan pembelaan yang menunjukkan sang ustadz tidak keliru, tapi argumentasinya terlalu lemah, dan sudah dibantah juga.

Jika mereka menganggap sang ustadz memang keliru, lalu mengapa sibuk membela?

7. Silakan baca juga beberapa tulisan saya ini:

(a) Kreatifitas Dakwah Jangan Kebablasan (https://www.facebook.com/sy.muhammad.abduh/posts/10213402753212734)

(b) https://www.facebook.com/sy.muhammad.abduh/posts/10213407885901048

(c) https://www.facebook.com/sy.muhammad.abduh/posts/10213408025024526

(d) https://www.facebook.com/sy.muhammad.abduh/posts/10212002858656245

Ditulis Oleh:Muhammad Abduh Negara

=

  • BOLEHKAH MASJID & SEKITARNYA DIJADIKAN TEMPAT LIVE MUSIC?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tentu tidak boleh, karena musik itu maksiat dan melalaikan.

✅ Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

.“Sungguh akan ada nanti segolongan umatku yang menghalalkan zina, sutera (bagi laki-laki diharamkan, pen), khamar dan alat-alat musik.” [HR. Al-Bukhari dari Abu Malik Al-‘Asy’ari radhiyallahu’anhu]

✅ Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ ، يُسَمُّونَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا ، يُعْزَفُ عَلَى رُءُوسِهِمْ بِالْمَعَازِفِ وَالْمُغَنِّيَاتِ ، يَخْسِفُ اللَّهُ بِهِمْ الْأَرْضَ ، وَيَجْعَلُ مِنْهُمْ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ

.”Sungguh akan ada segolongan manusia dari umatku yang minum khamar, mereka namakan khamar itu bukan dengan namanya yang sebenarnya. Kepala mereka bergoyang-goyang dengan alat-alat musik dan para penyanyi wanita. Allah akan menenggelamkan mereka ke bumi dan menjadikan diantara mereka kera-kera dan babi-babi.” [HR. Ibnu Majah dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallaahu’anhu, Al-Misykaah 4292]

✅ Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim rahimahullah berkata,

والْمَعَازِفُ هِيَ خَمْرُ النُّفُوسِ تَفْعَلُ بِالنُّفُوسِ أَعْظَمَ مِمَّا تَفْعَلُ حُمَيَّا الْكُؤُوسِ

“Alat-alat musik adalah khamar jiwa, pengaruhnya lebih dahsyat dibanding khamar dalam gelas.” [Al-Fatawa, 10/417]

✅ Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim rahimahullah juga berkata,

يُوجَدُ مَنْ اعْتَادَهُ وَاغْتَذَى بِهِ لَا يَحِنُّ إلَى الْقُرْآنِ وَلَا يَفْرَحُ بِهِ وَلَا يَجِدُ فِي سَمَاعِ الْآيَاتِ كَمَا يَجِدُ فِي سَمَاعِ الْأَبْيَاتِ

Ada orang-orang yang sudah terbiasa mendengarkan nyanyian dan merasa puas dengannya; mereka tidak tertarik untuk mendengar Al-Qur’an dan tidak bahagia dengannya serta tidak terkesan ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur’an sebagaimana ketika mendengar lirik-lirik lagu.” [Al-Fatawa, 11/568]

=

  • Fungsi Masjid Untuk Ibadah Bukan Hiburan

Masjid adalah tempat yang paling di cintai oleh Allah ta’ala adalah masjid.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا “.[مسلم : ٢٨٨]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, _’Tempat yang paling di cintai oleh Allah adalah masjid, dan tempat yang paling di benci oleh Allah adalah pasar'”_

(HR. Muslim : 288)

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tatkala menetap di Madinah, yang pertama sekali di bangun oleh beliau adalah masjid, bukan pabrik atau warung-warung.

②. Oleh karenanya, mari berupaya untuk memakmurkan masjid agar kita meraih pahala besar. Dan memakmurkan masjid itu dengan dua hal:

  • ➡ 1. Memakmurkannya dengan ibadah seperti sholat, baca Al Quran, kajian, dzikir dan doa dan lain sebagainya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى، يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ”

Dari abu hurairah, Rasulullah bersabda, _”Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu masjid Allah lalu mereka membaca kitabullah, mempelajarinya, kecuali akan diturunkan ketenangan oleh Allah kepada mereka, diliputi rahmatNya, dan malaikan menaungi mereka dan Allah sebut mereka kepada makhluk yang ada di sisiNya”.

✅ Nabi juga bersabda

إن هذه المساجد لا تصلح لشيء من هذا البول ولا القذَر، إنما هي لذكر الله عز وجل، والصلاة، وقراءة القرآن.

Sesungguhnya masjid itu tidak dibenarkan untuk dikencingi atau dikotori, karena ia adalah tempat untuk dzikir kepada Allah, sholat dan membaca Al Quran. (HR. Muslim)

  • ➡ 2. Memakmurkannya dari sisi pembangunan, kebersihan, kenyamanan dan sebagainya.

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ – بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ “. [مسلم : ٤٣]

_”Barang siapa membangun berharap wajah Allah”-, maka Allah bangunkan bangunan yang semisalnya di surga. (HR. Muslim : 43)

Dari sini, jelas bagi kita bahwa fungsi masjid adalah untuk ibadah kepada Allah. Maka kewajiban bagi kita untuk mengagungkan masjid dan menjaganya dari kotoran/najis dan noda2 syirik, bidah dan kemaksiatan seperti musik dan nyanyian.

Agungkanlah syariat Allah. Jangan kalian kembalikan umat kepada paham jahiliyyah yang beribadah dengan senda gurau dan tepuk tangan serta siulan…

Takutlah kalian kepada Allah dan didiklah umat agar mengangungkan agama Allah. Jangan jadikan agama Allah sebagai candaan dan mainan.

Oleh: Abu Ubaidah As Sidawi

= ~~~ (Lanjut Ke Halaman 2) ~~~