Antara NU, Ahmad Sarwat, Istilah “non-muslim”, Muwathin dan Kaedah “Membedakan Dua Perkara Yang Berbeda” 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Hukum Mengucapkan Aamiin Setelah Al Fatihah 

2.Hukum Melihat Tunangan Melalui Media VideoRekaman Oleh Kerabatnya

3.Safinatun Najah: Rukun Mandi dan Cara Mandi Junub.Secara Lengkap

4.Ujian dan Keutamaan Tinggal di Kota Madinah

5.Faedah Surat An-Nuur #28: Permisalan Cahaya Al-Qur’an dan Iman

6.Akhir Tragis Sang Penguasa Tiran

7.Apakah Semua Orang Kafir Sama ?

8. Muamalah Dengan Orang Kafir

9.Batasan Bermuamalah dengan Orang Kafir –

10. Bagaimana Berinteraksi Dengan Non Muslim?

==

Agar Terhindar Dari Kesesatan — Ustadz Yazid bin Abdul.Qadir Jawas

Fitnah akhir Zaman-Ust.Abdurrahman Thayyib.webm

Bolehkah Membangun Masjid Yang Disekitarnya Ada Pertunjukan Musik Live-Ust.Dzulqarnain M.Sunusi.

Dakwah Yang Sayang Kepada Umat-Ust Yazid Jawas.webm

Hukum Uang Elektronik-Ust.Dzulqarnain M.Sunusi.m4a

Jangan Sembarangan Memvonis Sesat — Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.m4a

Mengenal Nabi Biografi Singkat Nabi Muhammad-Ust Mizan.Qudsiyah.webm

MENGGAPAI HUSNUL KHATIMAH… _ USTADZ YAZID BIN ABDUL QODIR JAWAS.m4a

Sedang Viral _ Penggunaan Kata KAFIR diganti Non Muslim _Ustadz Mizan Qudsyiah.m4a

==

➡ Antara NU, Ahmad Sarwat, Istilah “non-muslim”, Muwathin dan Kaedah “Membedakan Dua Perkara Yang Berbeda”

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

  • WAHAI PAK KAFIR, wahai PAK NON ,,,,,

Prolog :


Syubhat Ahmad Sarwat

Nemu akun kayak gini, ….(lihat juga tulisan nya ketika nulis sholawat disingkat dg SAW), tapi “FORGET IT” lah urusan tulisan SAW mah, kita coba fokus saja kepada yg sedang VIRAL , terkait sebutan KAFIR atau NON MUSLIM (silahkan untuk lengkapnya baca artikel dalam foto akun di bawah)

Kira-kira ketika Nabi Muhammad SAW berbicara kepada paman Beliau, yaitu Abu Thalib, apakah memanggilnya kayak gini,”Pir, pir, woi paman kapir, sini luh, pir”.

Kebayang gak sih punya paman belum masuk Islam, lagi diproses.gitu. Terus kita tiap ketemu langsung bilang,”Hei kapir. Apa kabar ente? Masih kapir aja luh?”.

Jelas gak mungkin mau masuk Islam lah si paman. Kita lagi baik- baikin biar mau masuk Islam. Eh, kok kudu sebut kekafirannya.Kan gak logis.

Kalau tidak percaya, coba sesekali buka Al-Quran terkait konteks seperti ini. Ternyata justru Al-Quran menyapa mereka dengan sangat santun.

Misalnya orang yahudi dan nasrani itu seringkali disapa dengan.santun,”Wahai ahli kitab”. Atau menyebutkan dinasti dan klan mereka,”Wahai Bani Israil”.

Padahal kita tahu kebanyakan mereka pada kafir semua. Tapi asanya tetap beda antara disapa dengan ‘Hai kafir’ dengan disapa dengan ‘Hai ahli kitab’ atau ‘Hai Bani Israil’.

Meski orang itu kafir, tidak berarti harus selalu ditonjolkan kekafirannya setiap saat. Kadang bisa saja disebut nama kaumnya, nama keluarga bahkan bisa disapa dengan yang lebih santun,”Wahai anak-anak Adam”.

Malah kalau yang kafir itu bapaknya sendiri, tetap saja dipanggil sebagai Bapak. Bukan Pir, Pir, Kapir, nggak kayak gitu juga. Gak sopan amat nyebut bapak sendiri dengan sapaan kafir. Meski memang kafir, tapi pasti gak suka lah.

“Awas Diatas Adalah Tulisan Syubhat Ahmad Sarwat. Berikut Dibawah Ini Sumbernya”

https://free.facebook.com/story.php?story_fbid=2615828201767819&id=100000219936471

  • Saya katakan :

“Tulisan atau artikel di akun tersebut jelas Super syubhat kelas tinggi,,,karena yg nulis ada gelarnya tanda ngalamin bangku sekolah.

Sisi syubhatnya adalah BELIAU yang mulia , tdak bisa bedakan antara kontek MEMANGGIL dengan kontek PERNYATAAN.

Allah Ta’ala memanggil kaum Nabi Musa -alaihis salam- dg panggilan : “WAHAI BANI ISRAIL” dan tidak dengan panggilan : “WAHAI KAFIRIN ” , hal ini karena memang kaum bani israil umat musa di zaman itu BUKAN ORANG KAFIR lalu kenapa harus dipnaggil orang kafir, mereka adalah KAUM MUSLILIN dizaman MUSA, mereka yg beriman kpada Allah Ta’ala dan beriman kepada Nabi Musa -alaihis salam- jadi mereka bukan NON MUSLIM, tapi MUSLIMUN yg iman kpada nabi Musa -alaihis salam- , bahkan mereka seutama utama kaum bagi seluruh alam pada zamannya, sebagaimana yang Allah nyatakan dalam surat Al Baqarah.

Namun kepada kafir ahlil kitab yahudi nasrani setelah berlalu zaman musa alaihi salam dan sudah berlalu pula zaman Isa alaihis sallam, maka Allah pun menyatakan KEKAFIRAN bahkan tidak tanggung tanggung dan seburuk buruk makhluk (syarrul bariyyah), seperti yang tertera dalam surat al Bayinnah.

Demikian juga kita diperintah untuk menyatakan KAFIR kepada orang yang tidak beriman kepada Allah dalam surat al Kafirun, walaupun ayat ditujukan kepada Nabi namun maknanya umum bagi manusia dari umat ijabah , sebagaimana kaedah dalam tafsir, “Al ‘Ibrah bi ‘Umumil Lafdzi Laa Bi Khushushis Sabab” artinya, “Yang jadi barometer itu keumuman lafadznya ayat, bukan kekhususan untuk siapa ayat di turunkan”.

Adapun terkait panggilan nabi IBRAHIM -alaihis Salam- kpada ayahnya yg kafir dengan panggilan YAA ABATI artinya “wahai ayahku”, tidak memanggil dengan “wahai ayah kafir” ,

Maka hal ini adalah karena konteknya masalah adab dalam memanggil , apalagi kpada orangtua walaupun kafir tetap wajib berbakti dan berbuat baik kepada orang tua, yang diantaranya memanggil dengan lemah lembut, santun, hormat, namun tetap meyakini KEKAFIRAN nya, dan menyatakan kekafirannya. Bahkan nabi Ibrahim -alaihis salam- tegaskan kalau beliau berlepas diri dari kekafiran ayahnya yang menyembah BERHALA.

Demikian juga Nabi kita yang mulia-shalaalahu alaihi wasallam- memanggil pamannya ABU THALIB yang mati diatas KEKAFIRAN dengan panggilan “YAA ‘AMMI” artinya “wahai paman ku”. Beliau -shalallahu alaihi wasallam- tidak memanggil ” wahai kafir”, atau “wahai paman Fir“. Hal itu karena konteknya adalah adab dan sopan santun beliau kpada siapapun apalagi kerabat, bahkan kerabat yang membela dan mengorbankan apa saja demi Rasululaah -sahalallahu alaihi wasallam- maka wajar kalau memanggil dengan panggilan yang baik.

Dan kaum muslimin secara umumpun, baik yang awam ataupun yang berilmunya, yang mereka menyatakan KAFIRNYA orang orang kafir yg telah di nyatakan KAFIR oleh Allah dalam al Quran dan oleh Nabi- Nya dalam hadits hadit, tidak ada satu pun yg memanggil orang kafir dg pak KAFIR, atau pak FIR, atau pak NON ,,,,kecuali kalau memang namanya kebetulan KAFIR SURAFIR bin MUKIDI maka mungkin saja dipnggil pak FIR, atau mungkin kebetulan wanita namanya memang NONI MUSLIMANI maka bisa saja dipanggil Mbak Non atau mbak Mus. Adapun yg panggil kafir karena agamanya yg memang agama kafir , saya kok blum dengar atau memang mungkin tidak ada yang panggil “hai Fir” . Tidak tahu kalau ada yg bermasalah pada fikirannya atau otaknya mungkin ada yang panggil begitu.

Lalu bukankah Allah Ta’ala juga menyebut ahli kitab itu sebagai KAFIR dan Allah Ta’ala tdak sebut NON MUSLIM.

Sementara yg di permasalahkan sekarang dari hasil keputusan bahtsul masaail NU, yg telah menuai kontroversi ini kan bukan masalah PANGGILAN kepada orang kafir pak KAFIR atau Pak FIR tapi masalah PERNYATAAN terhadap orang kafir, agar jangan dinyatakan sebagai KAFIR tapi ungkapkan dan nyatakan dg sebutan NON MUSLIM.

Demikian maka harap bedakan antara panggilan dengan pernyataan”.

Oleh: Abu Ghozie As Sundawy

=

  • Prinsip Dasar Islam

Barangsiapa menolak masuk ke dalam agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-; maka ia kafir musyrik. Setiap muslim wajib meyakini kekufuran setiap orang yang menolak agama Islam: dari kalangan Yahudi, Nasrani maupun selainnya. Wajib menamainya kafir, meyakini bahwa ia adalah musuh Allah dan meyakini bahwa orang kafir yang mati dalam kekafirannya adalah penghuni Neraka dan kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah -‘Azza Wa Jalla- berfirman:

{يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ}

Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu kafir (mengingkari) ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya)?” (QS. Ali ‘Imran: 70)

-dinukil dari buku “Prinsip Dasar Islam” (hlm. 226 -cet. ke-17), karya Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-

oleh: Ahmad Hendrix Eskanto

=

  • Orang Liberal Dan Fatwa Sesat


Kita semua paham bahwa mayoritas yang hadir pada pengguliran fatwa sesat kemarin memang orang-orang liberal yang sesat menyesatkan, maka tak heran keluarlah fatwa sesat yang sangat tidak masuk di akal, bahkan bagi yang akalnya lemah sekalipun dimana setiap agama memiliki istilah bagi ummat agama lain semisal domba sesat bagi non-nashrani, binatang / anjing bagi non-yahudi dll.

Semua itu adalah istilah internal agama yang kita pun tidak merasa resah dengan julukan yahudi, Budha, Hindu, nashrani terhadap kaum muslimin. Kemudian muncul orang-orang sesat dalam tubuh kaum muslimin yang ingin merubah istilah yang sudah permanen dalam Al-Qur’an menjadi menjadi nama lain dengan alasan kekerasan teologi, padahal istilah kafir dalam Al-Qur’an sudah dipermenkan oleh bahasa Indonesia dan termaktub dalam KBBI dengan makna yang serupa dengan yang ada di Al-Qur’an.

Orang-orang sesat itu memang sejak lama sangat mendambakan negeri kita dikuasai oleh orang-orang kafir agar mereka semakin liar dalam mengekspresikan kekafiran dan kesesatan mereka. Jadi sudah wajar demikian adanya. Berikutnya ada agenda busuk yang karena terlalu busuknya, hingga tercium aroma jelek tersebut ke khalayak awam sekalipun. Maksudnya ?

Sudah, tidak perlu pura-pura polos ya !

Kekalahan si kafir penista Kalamullah dalam pemilu DKI tempo hari benar-benar menyentakkan kaum kafirin, terutama etnis pendatang yang sudah ngebosi dan menjadi tuan bagi para hamba sahaya pribumi. Ini diluar prediksi mereka bahwa si penista bisa kalah padahal penuh dukungan tipu daya media, sokongan dana yang kuat telah membuat mereka jumawa dan diatas angin, sehingga mereka pun perlu mengevaluasi faktor-faktor kegagalan sang kafir penista.

Rupa-rupanya pembahasan “Hukum mengangkat pemimpin Kafir” lah yaong menjadi momok dimata mereka, sehingga segala macam cara diupayakan mulai dari mendatangkan begitu banyak pekerja Cina lengkap dengan KTP-nya, media yang terus menerus melakukan tipu daya, pendangkalan aqidah secara menyeluruh melalui program Islam Nusantara dan …….. Langkah kongkrit penghapusan secara permanen label kafir bagi siapa saja yang kafir, dengan istilah warga negara.

Yup, demikianlah makar jelek mereka

Oleh: Abu Hanifah Jandriadi Yasin

=

  • Diantara Kaedah yang harus diketahui adalah: “Membedakan Dua Perkara Yang Berbeda”

Hal ini banyak yang tidak memahami. Sehingga kita melihat sebagian saudara-saudara kita ketika muncul fatwa sebuah Ormas yang menyatakan bahwa “non muslim jangan disebut kafir”, mereka memasukkan perkara ini dalam bab “barangsiapa yang tidak mengakfirkan kafir maka dia kafir”.

Padahal ucapan di atas berbeda dengan ucapan: “mereka bukan orang kafir”.

Sehingga perlu rincian:

✅ –jika maksud mereka adalah “mereka bukan orang kafir”, maka ini yang masuk dalam Kaedah “barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir maka dia kafir”.

✅ -jika maksud mereka adalah sekedar penggunaan istilah, artinya kita menggunakan kata non muslim dan semisalnya dan tidak menggunakan kata kafir, maka di sini mereka telah menyelisihi istilah syar’i yang digunakan di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Namun, pada “keadaan tertentu” (bukan pada semua keadaan) dibolehkan kita menggunakan lafaz selain lafaz kafir karena dalam Alquran juga kadang ada penyebutan-penyebutan kepada orang kafir sesuai dengan kondisi ketika pembicaraan seperti lafaz Ahlu Kitab, Manusia, dan semisalnya.(Faedah Niqasy bersama Syaikhuna Bakri Al-Yafi’i hafizhahullah, salah satu pengajar Aqidah di Darul-Hadits Ma’bar-Yaman)

  • Catatan:

Tulisan ini bukan pembelaan terhadap Ormas Sesat tersebut. Namun, agar supaya kita tidak gegabah dalam menghukumi. Ahlussunnah itu tegak di atas kaedah-kaedah yang lurus dan menempatkan sesuai pada tempatnya.

Wallahu A’lam

Oleh: Muhammad Abu Muhammad Pattawe

=

  • MUWATHIN


Meskipun saya yakin kekafiran orang kafir, tapi seumur hidup saya tak pernah mengucapkan “Hai kafir” atau semisalnya, di hadapan orang-orang kafir. Karena, persoalan meyakini kekafiran orang kafir, ini masalah i’tiqad. Adapun cara kita berkomunikasi dengan mereka, ini persoalan muamalah, dan di sisi lain ada sudut pandang fiqih dakwah, agar mereka tertarik pada Islam.

Ini satu hal.

Adapun usulan dari sebagian pihak, untuk mengganti istilah kafir menjadi muwathin saja, atau dengan bahasa lain, tidak melabeli mereka dengan predikat “kafir”, tapi “muwathin” atau sesama warga negara, ini bukan sekadar mengganti sapaan seperti yang saya sebutkan di paragraf pertama, tapi ada konsekuensi fiqihnya, dan jelas juga akan membawa umat Islam ke model peradaban berbeda, dengan yang pernah kita pelajari di kitab-kitab klasik.

Bagi yang terbiasa membaca kitab-kitab fiqih klasik, mungkin akan bisa menyimpulkan bahwa orang-orang kafir itu memang warga negara kelas dua, tidak sama dan setara dengan muslim, meski jiwa, harta, dan kehormatan mereka tetap dijaga.

✅ Dengan menyebut mereka muwathin, maka jiwa, harta, dan kehormatan mereka bukan dijaga oleh umat Islam, tapi baik muslim maupun non-muslim, jiwa, harta, dan kehormatannya terjaga sebagai sesama warga negara, tanpa memperhatikan agamanya.

✅ Dengan menyebut mereka muwathin, maka jizyah tak layak diberlakukan lagi, karena itu diskriminatif. Yang ada adalah pajak, yang diberlakukan untuk semua, tanpa membedakan agama.

✅ Dengan menyebut mereka muwathin, hak berekonomi, berkesenian, berkebudayaan, dan berpolitik mereka sama sepenuhnya dengan muslim. Maka dalam bidang-bidang ini, tak boleh bawa agama, kecuali dengan istilah “kearifan lokal” yang sangat bias. Dan jelas, secara politik hak muslim dan non-muslim harus disamakan, tak boleh ada diskriminasi.

=

Berdasarkan berbagai informasi yang saya dapatkan, usulan forum resmi dari sebuah lembaga, untuk tidak menggunakan kata kafir lagi pada WNI non-muslim, dan menggantinya dengan istilah “muwathin”, mengandung tiga kemungkinan:

➡ 1. Meninggalkan penggunaan kata kafir dalam berkomunikasi dengan orang-orang non-muslim. Hanya itu, dan sama sekali tidak ada hubungan dengan persoalan aqidah atau fiqih.

Kemungkinan ini tidak bisa diterima, karena hampir semua kita tak pernah memanggil non-muslim dengan “Hai kafir”, “Mati lu kafir”, dan semisalnya. Dan juga tidak sesuai dengan penjelasan pada forum resmi tersebut dan keterangan dari pihak terkait.

➡ 2. Istilah kafir tidak bisa digunakan lagi, dan non-muslim bukan orang kafir. Dan segala konsekuensi aqidah terkait orang kafir, tak mesti berlaku pada mereka. Misal: non-muslim belum tentu masuk neraka, dll.

Ini juga sepertinya tidak terlalu tepat. Seandainya hanya oknum, mungkin bisa kita terima ada yang berkeyakinan nyeleneh itu. Tapi jika dalam forum resmi, agak berat. Lagi pula, beberapa pihak terkait sudah membantahnya.

➡ 3. Pengalihan istilah, dari “kafir” menjadi “muwathin”, mengikuti sistem politik dan kenegaraan modern, yang tak lagi mengenal istilah kafir harbi, dzimmi, mu’ahad, dan musta’min. Dengan sistem politik dan kenegaraan sekarang, mau disebut apa WNI non-muslim tersebut? Dzimmi, toh mereka tak bayar jizyah. Harbi, berarti boleh dibunuh?

Karena sulit menggunakan istilah-istilah klasik tersebut, sekaligus juga dalam sistem kenegaraan saat ini, semua warga negara apapun agamanya, sama dan setara dalam seluruh aspeknya. Maka tak bisa lagi digunakan istilah-istilah tersebut, sehingga perlu istilah baru.

Inilah alasan yang paling relevan.

Sayangnya, dampak dari pemahaman ini adalah, banyak persoalan yang dibahas para ulama terdahulu tentang posisi non-muslim di negara Islam, tak bisa diberlakukan lagi.

Selain juga, status negara ini, agak sulit diberi label “negara Islam”, karena pakem-pakem negara Islam tak diikuti.

Kemudian, bagaimana konsekuensi lebih lanjut terkait beberapa hukum yang sangat terkait erat dengan perbedaan keyakinan, semisal hukum murtad, pembunuhan muslim terhadap orang kafir, persoalan waris, hukum pemimpin kafir, hukum membesarkan syiar kekufuran, dan lain-lain. Ada kemungkinan, hal-hal semacam ini pun bisa jadi perlu “ijtihad baru” menyesuaikan istilah baru tersebut.

Akhirnya, para ahli fatwa sibuk menyesuaikan fatwanya dengan kondisi terkini, tanpa memperhatikan lagi aspek tsawabit dan mutaghayyirat. Pokoknya, jika keadaan mengharuskan untuk mengubah satu hukum, meskipun ia mendasar dan mujma’ ‘alayh, meskipun ia termasuk tsawabit dalam agama ini, tetap harus diubah

oleh: ~ Muhammad Abduh Negara ~

=

  • Masyru’ nya istilah “non-muslim” selain “Kafir”


Sekedar penyampaian saja istilah non muslim selain kafir termasuk yang disyari’atkan.

✅ Allah ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ أَوْ آخَرَانِ مِنْ غَيْرِكُمْ إِنْ أَنْتُمْ ضَرَبْتُمْ فِي الأرْضِ فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ تَحْبِسُونَهُمَا مِنْ بَعْدِ الصَّلاةِ فَيُقْسِمَانِ بِاللَّهِ إِنِ ارْتَبْتُمْ لا نَشْتَرِي بِهِ ثَمَنًا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَلا نَكْتُمُ شَهَادَةَ اللَّهِ إِنَّا إِذًا لَمِنَ الآثِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau DUA ORANG DARI SELAIN KALIAN, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah jika kamu ragu-ragu:

“(Demi Allah) kami tidak akan menukar sumpah ini dengan harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa”[QS. Al-Maaidah : 106].

✅ Dalam atsar disebutkan:

حَدَّثنا أَبِي، ثنا سَعِيدُ بْنُ عَوْنٍ، ثنا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ، ثنا حَبِيبُ بْنُ أَبِي عَمْرَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، قَالَ: قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ، فِي قَوْلِهِ: أَوْ آخَرَانِ مِنْ غَيْرِكُمْ، قال: ” مِنْ غَيْرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ ”

Telah menceritakan kepada kami ayahku : Telah menceritakan Sa’iid bin ‘Aun : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Waahid bin Ziyaad : Telah menceritakan kepada kami Habiib bin Abi ‘Amrah, dari Sa’iid bin Jubair, ia berkata :

Telah berkata Ibnu ‘Abbaas tentang firmannya : ‘atau dua orang dari selain kalian’ (QS. Al-Maaidah : 106), ia berkata : ‘Kalangan non-muslim, dari Ahlul-Kitaab” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Haatim dalam Tafsiir-nya no. 6934; sanadnya hasan].

✅ Para ulama terdahulu pun sering menggunakan istilah non-muslim dalam kitab-kitab mereka. Misalnya, Ibnu Hibbaan rahimahullah yang membuat bab dalam kitabnya – Shahiih Ibni Hibbaan – :

ذكر الإخبار بأن غير المسلمين إذا دخلوا النار يرفع الموت عنهم ، ويثبت لهم الخلود فيها

Penyebutan pengkhabaran bahwasannya orang-orang non-muslim jika masuk ke dalam neraka, kematian akan diangkat dari mereka dan menetapkan bagi mereka kekekalan di dalamnya (neraka)” [Shahiih Ibni Hibbaan, 16/515].

✅ Begitu juga dengan guru Ibnu Hibbaan, yaitu Ibnu Khuzaimah rahimahumallah, saat menjelaskan permasalahan orang-orang yang berhak menerima zakat, ia berkata :

في هذا الخبر دلالة على أن الصدقة المفروضة غير جائز دفعها إلى غير المسلمين و إن كانوا فقراء أو مساكين لأن النبي صلى الله عليه و سلم أعلم أن الله أمره أن يأخذ الصدقة من أغنياء المسلمين و يقسمها على فقرائهم لا على فقراء غيرهم

Hadits ini menunjukkan shadaqah yang diwajibkan (zakat) tidak boleh diberikan kepada non-muslim, meskipun mereka termasuk golongan fakir dan miskin. Hal itu dikarenakan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam lebih mengetahui bahwasannya Allah telah memerintahkan beliau untuk mengambil shadaqah dari orang-orang kaya dari kaum muslimin dan membagikannya kepada kaum faqir di antara mereka (kaum muslimin), bukan kepada orang-orang faqir dari selain mereka (non-muslim)” [Shahiih Ibni Khuzaimah, 4/64].

√√√ (Lanjut ke Halaman 2) √√√