Antara SAS, Kebaikan Orang Kafir dan Al Imam Asy Syafi’i Bukan Penganut Pluralisme

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.BUKU TAFSIR JUZ ‘AMMA.KARYA USTADZ DR. FIRANDA ANDIRJA, MA

2.Panutan Penyesat Umat 

3.Ilmu yang Dibutuhkan oleh Juru Dakwah

4.Para Da’i Sunnah Adalah Tokoh-Tokoh.Pembuka Pintu Kebaikan

5.Ciri Ciri Dai Yang Mengajak Kepada Neraka Jahannam

6.Dzikir-Dzikir Penghapus Dosa

7.Safinatun Najah: Syarat Wudhu

8.Pluralisme, Paham yang Terbantahkan

9.Pluralisme Agama; Trend Pemikiran Semua Agama

10.Sepuluh Kaidah Dasar Menolak Paham Pluralisme

11.Menjaga Anak dan Pemuda dari Paham Liberal dan Pluralisme

=

Dianjurkan Untuk Membuat Orang Kafir Marah & Jengkel -Ustadz DR Syafiq Riza Basalamah.mp3

Bahaya Kaum Munafikun-Ust Abdurrahman Thayyib.webm

Haruskah Kita Membenci Orang Kafir _ – Ustadz DR Syafiq Riza Basalamah MA.m4a

Meraih Kebahagian Dunia-Ust Abdurrahman Thayyib.webm

Perlukah Masjid Dgn Musik Cafe dan Breakdance-Ust Harits Abu Naufal.mp4

Tanggapan Rencana Masjid Gaul-Ust Muhammad Alif.mp4

Tata Cara Sholat yang Benar Sesuai Sunnah LENGKAP -Kesalahan ketika Sujud & Sujud yang Benar.mp4

Tata Cara Sholat yang Benar Sesuai Sunnah LENGKAP- Rukuk Seperti Rasulullah.mp4

WebM bisa diputar dgn MX player 

=

Dakwah Gaul Dengan Musik Berhasil Apa Jadi Boleh?-Ust Sofyan Chalid Ruray

JANGAN PANGGIL ORANG DILUAR ISLAM KAFIR-Ust Abdul Hakim Amir Abdat

Kita Diantara Surga dan Neraka-Ust Mizan Qudsiyah.webm

Kupas Tuntas Tentang Musik-Ust.Syariful Mahya Lc.MA.webm

Sepakat Ulama Tidak Mengkafirkan Orang Kafir Adalah KeKafiran Mengapa-Ust Sofyan Chalid Ruray

Tentang Dai Dai yang Mengajak Pada Neraka-Ust Dzulqarnain.M.Sunusi 

Membantah Da’i Pluralisme-Ustadz Abdul Muhsin Firanda MA

Pluralisme Dalam Timbangan Syariat-Ust Ali Basuki

Kajian “Islam Kok Liberal” Oleh Ustadz Abdul Muhsin Firanda MA

Islam VS Liberal” Oleh Ustadz Dr.Syafiq Riza Basalamah MA

Kritik Islam Terhadap Materialisme & Sekulerisme” Oleh Ustadz Sofyan Chalid Ruray

==

Ebook

Pluralisme Agama

Bantahan Terhadap Paham Pluralisme Agama

==

  • Kebaikan Orang Kafir dan Al Imam Asy Syafi’i Bukan Penganut Pluralisme

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

  • KEBAIKAN ORANG KAFIR


Apakah ada orang kafir yang baik hati ? Ada, tidak sedikit. Tentu kita tidak lupa tentang Abu Thaalib, paman Nabi ﷺ. Dirinya telah mengorbankan segala yang ia miliki untuk membela Nabi ﷺ dari ancaman orang-orang kafir Quraisy. Akan tetapi di akhir hayatnya ia tetap tidak mau masuk Islam. Lantas bagaimana nasibnya di akhirat ? Bahagia atau celaka ?

➡ Jawab : celaka.

عن الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ: مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ، قَالَ: هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ، وَلَوْلَا أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

Dari Al-‘Abbaas bin ‘Abdil-Muthallib radliyallaahu ‘anhu, ia berkata kepada Nabi ﷺ : “Apakah engkau bisa memberikan sesuatu kepada pamanmu (Abu Thaalib). Sesungguhnya ia dulu telah melindungimu dan marah untuk (membela)-mu”. Beliau ﷺ bersabda : “Ia berada di pinggir neraka yang dangkal. Seandainya saja bukan karena aku (syafa’atku), niscaya ia berada di dalam kerak neraka paling dalam” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 3883].

Amal kebaikan orang kafir di dunia tidak akan bermanfaat untuk menyelematkannya dari siksa neraka. Teresa, wanita kafir peraih Nobel perdamaian tahun 1979, yang suka menolong orang-orang miskin dan lemah, memurtadkan banyak orang, serta memindahkan satu bentuk kekafiran (penyembah patung) kepada kekafiran yang lain (penyembah ‘Isa ‘alaihis-salaam dan ibunya); bagaimana nasibnya kelak di akhirat ?.

➡ Jawab : neraka.

Teresa bukan satu-satunya orang yang bernasib celaka, akan tetapi banyak yang semisalnya. Diantara contohnya yang ada dalam riwayat adalah Mulaikah, ibu Salamah bin Yaziid Al-Ju’fiy radliyalaahu ‘anhu.

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ يَزِيدَ الْجُعْفِيِّ، قَالَ: انْطَلَقْتُ أَنَا وَأَخِي إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ: قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أُمَّنَا مُلَيْكَةَ كَانَتْ تَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتَفْعَلُ وَتَفْعَلُ، هَلَكَتْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَهَلْ ذَلِكَ نَافِعُهَا شَيْئًا؟ قَالَ: ” لَا ”

Dari Salamah bin Yaziid Al-Ju’fiy, ia berkata : Aku bersama saudaraku pernah pergi menemui Rasulullah ﷺ. Kami berkata (kepada beliau ﷺ) : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibu kami, Mulaikah, dulu orang yang gemar menyambung silaturahim, memuliakan tamu, dan berbuat banyak kebaikan. Ia telah meninggal semasa Jahiliyyah. Apakah kebaikannya tersebut bermanfaat baginya?”. Beliau ﷺ menjawab : “Tidak” [Diriwayatkan oleh Ahmad 3/478; shahih].

✅ Dalam riwayat lain dari jalan Ibnu Mas’uud :

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: جَاءَ ابْنَا مُلَيْكَةَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَا: إِنَّ أُمَّنَا كَانَتْ تُكْرِمُ الزَّوْجَ، وَتَعْطِفُ عَلَى الْوَلَدِ، قَالَ: وَذَكَرَ الضَّيْفَ غَيْرَ أَنَّهَا كَانَتْ وَأَدَتْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، قَالَ: ” أُمُّكُمَا فِي النَّارِ “، فَأَدْبَرَا، وَالشَّرُّ يُرَى فِي وُجُوهِهِمَا، فَأَمَرَ بِهِمَا، فَرُدَّا، فَرَجَعَا وَالسُّرُورُ يُرَى فِي وُجُوهِهِمَا، رَجِيَا أَنْ يَكُونَ قَدْ حَدَثَ شَيْءٌ، فَقَالَ: ” أُمِّي مَعَ أُمِّكُمَا ”

Dari Ibnu Mas’uud, ia berkata : Dua orang anak Mulaikah mendatangi Nabi ﷺ. Mereka berkata : “Sesungguhnya ibu kami semasa hidupnya dulu memuliakan suami dan berlemah-lembut kepada anak”. Kemudian mereka menyebutkan sikap ibunya terhadap tamu. Namun ibunya tersebut melakukannya pada masa Jahiliyyah (dan kini telah meninggal). Nabi ﷺ bersabda : “Ibu kalian di neraka”. Maka mereka pergi dan kekecewaan terlihat di wajah keduanya. Keduanya lalu diperintahkan untuk kembali dan nampak kegembiran di wajah keduanya. Mereka berharap telah terjadi sesuatu. Namun Nabi ﷺ bersabda : “Ibuku bersama ibu kalian berdua (di neraka)” [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/398, Al-Bazzaar dalam Al-Bahr no. 1534, dan yang lainnya].

✅ Begitu pula dengan kisah Ibnu Jud’aan yang meninggal dalam keadaan kafir semasa Jahiliyyah.

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ابْنُ جُدْعَانَ، كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ، وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ، فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ؟ قَالَ: لَا يَنْفَعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

Dari ‘Aaisyah, ia berkata : “Wahai Rasulullah, Ibnu Jud’aan dulu di masa Jahiliyyah selalu menyambung silaturahim dan memberi makan orang-orang miskin. Apakah itu berguna baginya di akhirat?”. Beliau ﷺ menjawab : “Tidak akan berguna baginya, karena ia tidak pernah mengucapkan : ‘Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku di Hari Pembalasan nanti” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 214].

✅ Karena Allah ta’ala telah berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun” [QS. Al-Maaidah : 72].

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” [QS. Aali ‘Imraan : 85].

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” [QS. Al-Furqaan : 23].

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَلِقَاءِ الآخِرَةِ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ هَلْ يُجْزَوْنَ إِلا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan” [QS. Al-A’raf : 147].

✅ Al-Qaadliy ‘Iyaadl rahimahulah berkata:

وَقَدْ اِنْعَقَدَ الْإِجْمَاع عَلَى أَنَّ الْكُفَّار لَا تَنْفَعهُمْ أَعْمَالهمْ ، وَلَا يُثَابُونَ عَلَيْهَا بِنَعِيمٍ وَلَا تَخْفِيف عَذَاب ، لَكِنَّ بَعْضهمْ أَشَدّ عَذَابًا مِنْ بَعْض بِحَسَبِ جَرَائِمهمْ

Dan telah terjadi ijmaa’ bahwasannya amal kebaikan orang-orang kafir tidak akan memberikan manfaat bagi mereka, tidak akan diberikan pahala atasnya berupa kenikmatan dan keringanan adzab. Akan tetapi sebagian mereka diberikan adzab yang lebih keras dibandingkan yang lain sesuai dengan kadar kejahatan/dosa mereka” [SYarh Shahiih Muslim, 3/86].

✅ NB : Celotehan di bawah adalah milik M. Kholid Syeirazi yang katanya Sekjen Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU). Muatan paham agama Islam Nusantara.

#repost ustadz Dony Arif Wibowo

=

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam telah membantah paham pluralisme sejak dahulu

✅ Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أهل النار

Tidaklah seseorang dari umat ini baik dari kalangan Yahudi maupun Nasrani yang mendengar ajaranku kemudian mati dalam keadaan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, kecuali ia menjadi penghuni neraka” (HR. Muslim).

Beliau pernah melihat lembaran Taurat di tangan Umar bin Khattab radhiallahu’anhu, lalu beliau bersabda:

أمتهوكون يا ابن الخطاب؟ لقد جئتكم بها بيضاء نقية، لو كان موسى حيا واتبعتموه وتركتموني ضللتم

Apakah engkau termasuk orang yang bingung wahai Ibnul Khathab? sungguh aku datang kepada kalian dengan membawa ajaran yang putih bersih. andaikan Musa hidup saat ini, lalu kalian mengikuti syariat Nabi Musa dan meninggalkan syariatku, maka kalian akan tersesat”

✅ dalam riwayat lain:

لو كان موسى حياً ما وسعه إلا اتباعي

andaikan Musa hidup saat ini, tidak ada kelonggaran baginya kecuali mengikuti syariatku”

✅ Maka Umar bin Khathab pun mengatakan:

رضيت بالله رباً وبالإسلام ديناً وبمحمد نبياً

aku telah ridha Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Nabiku” (HR. An Nasa-i, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jami’, no. 5308).

Maka waspada terhadap paham pluralisme yang berkeyakinan semua agama sama, yang membahayakan akidah kaum Muslimin.

Sekarang mereka sedang mendapat angin segar. Maka wajib kita serukan keluarga dan orang-orang sekitar kita agar menjauhkan diri dari para penyerunya.

Allahul musta’an wa ilaihi at tuklan

=

  • Syubhat Pluralisme

Syubhat pengusung pluralisme: orang kafir yang berbuat banyak kebaikan masa iya tidak selamat di akhirat?

Jawabnya, orang kafir yang berbuat kebaikan di dunia maka Allah akan balas di dunia. Namun di akhirat tidak ada manfaatnya dan jadi sia-sia karena tidak dilakukan ikhlas mengharap wajah Allah.

Dan ia tetap binasa di neraka karena telah berbuat kezaliman yang paling fatal dan paling parah, yaitu kesyirikan.

Simak penjelasan Syaikh Al Albani berikut ini

  • AMALAN TERTOLAK TANPA IKHLAS

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani -rahimahullah-

✅ Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إن الله عز وجل لا يقبل من العمل إلا ما كان له خالصا وابتغي به وجهه

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak menerima amalan kecuali yang ikhlas mengharapkan wajah-Nya”

Sababul wurud hadits ini adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Umamah radhiallahu’anhu, beliau berkata:

جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: أرأيت رجلا غزا يلتمس الأجر والذكر ماله؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا شيء له، فأعادها ثلاث مرات، يقول له رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا شيء له. ثم قال : إن الله عز وجل لا يقبل من العمل إلا ما كان له خالصا وابتغي به وجهه

Datang seorang lelaki kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Lalu beliau bertanya: bagaimana menurut engkau jika ada seorang yang berperang untuk mengharapkan pahala dan sekaligus ingin disebut namanya (sebagai pahlawan), apa yang ia dapatkan? Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘ia tidak mendapatkan apa-apa‘. Lelaki tadi mengulangi pertanyaannya hingga tiga kali.Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tetap bersabda: ‘ia tidak mendapatkan apa-apa‘. Lalu beliau bersabda: ‘Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak menerima amalan kecuali yang ikhlas mengharapkan wajah-Nya‘”.

Hadits ini diriwayatkan oleh An Nasa’i dalam Sunan-nya, pada kitab Al Jihad (2/59).

Sanadnya hasan sebagaimana dikatakan Al Hafidz Al ‘Iraqi dalam Takhrij Al Ihya (4/328). Dan hadits-hadits yang semakna dengan ini banyak sekali. Anda bisa mendapatkannya di dalam kitab At Targhib karya Al Hafidz Al Mundziri.

Hadits ini dan hadits-hadits semisalnya menunjukkan bahwa seorang Mu’min tidak akan diterima amalannya jika ia tidak mengharapkan wajah Allah ‘Azza wa Jalla dari amalannya tersebut. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” (QS. Al Kahfi: 110).

Jika demikianlah keadaan kaum Mukminin, maka bagaimana lagi keadaan orang-orang kafir jika mereka tidak ikhlas (mengharap wajah Allah) dalam beramal? Jawabannya terdapat dalam firman Allah Ta’ala:

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” (QS. Al Furqan: 23).

Dengan asumsi bahwa mungkin ada orang kafir yang beramal shalih dengan ikhlas (mengharap wajah Allah) walaupun ia masih dalam keadaan kafir, maka ketika itu Allah tidak akan menyia-nyiakan amalannya tersebut. Bahkan Allah akan membalas amalannya tersebut di dunia.

Oleh karena itu terdapat hadits yang shahih dan tegas dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

إن الله لا يظلم مؤمنا حسنته، يعطى بها (وفي رواية: يثاب عليها الرزق في الدنيا) ويجزى بها في الآخرة، وأما الكافر فيطعم بحسنات ما عمل بها لله في الدنيا، حتى إذا أفضى إلى الآخرة لم يكن له حسنة يجزى بها

Sesungguhnya Allah tidak akan berbuat zalim kepada seorang Mu’min yang telah berbuat kebaikan. Allah akan memberikan (dalam riwayat lain: mengganjarnya dengan rezeki) di dunia dan di akhirat. Adapun orang kafir, Allah akan memberikannya rezeki di dunia atas kebaikan yang ia lakukan karena Allah, hingga akhirnya ketika ia di akhirat, ia tidak memiliki kebaikan sama sekali untuk diberi balasan“ (HR. Muslim no. 2808).

Wallahu a’lam

= “` (Lanjut ke Halaman 2).“`