Rincian Memanggil dengan kata “Wahai Orang Kafir” dan Pemurnian Tauhid Kepada Allah 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Nabi Saja Takut Dengan Kesyirikan ApalagiKita

2.Kumpulan Amalan Ringan #10: Puasa Tiga Hari Tiap Bulan, Puasa Arafah, Puasa Asyura

3.Setiap Penyakit Ada Obat, Bagaimana dengan AIDS/HIV?

4.Apakah Semua Yang Diharamkan (di Dunia) Ada Yang Serupa Dengannya di Dalam Surga ?

5.Hukum Jalannya Imam Ke Arah Kiblat Sampai DiMikrofon Agar Orang Dapat Mendengarnya

6.Dia dan Istrinya Mempunyai Harta, Apakah Boleh Membayarkan Zakatnya Kepada Bapak dan Saudara-saudaranya ?

7.Hukum Menggunakan Pengeras Suara Dalam Iqamah Shalat

8.RENUNGAN UNTUK PARA PENUNTUTILMU AGAMA

9.Ikuti Bisikan Setan, Mengubah Agama Allah, NU Ganti.Lafal Kafir Jadi Muwathinun untuk Sebut Non Islam

10.NU Mau Hapus Istilah Kafir untuk Non Muslim, Ini Gejala Taat ke Orang Kafir dan Munafik?

11.Situs Resmi NU pun Menyebarkan PerusakanAqidah Islam 

••

=Belajar Do’a Agar di Mudahkan Hisab di Padang Mahsyar Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc, MA.webm

Gambaran Gopay Secara Global – Ustadz Dr. Firanda Andirja,Lc, M.A..webm

ITTIBA’ LAA IBTIDA’ – Ustadz Khailid Abdul Shomad.m4a 10Mb 40Mnit

KALIMAT KUFUR & SESAT VS KALIMAT TAUHID USTADZ YAZID BIN ABDUL QODIR JAWAS ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .webm

KEUTAMAAN BULAN RAJAB _ USTADZ YAZID BIN ABDUL QODIR JAWAS ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .m4a

KITABUT TAUHID 12 UST. ABDUL HAKIM BINAMIR ABDATﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .webm

FATHUL BAARI SYARAH SHAHIH BUKHARIKITAB KE 97-KITAB AT TAUHID-BAB 33 | BAB PERKATAAN ALLAH KEPADA JIBRIL DAN SERUAN ALLAH KEPADA PARA MALAIKATNYA.
HADITS NO. 7485 – 7487
BAB 34 | BAB FIRMAN ALLAH TA’ALA : “ALLAH MENURUNKANNYA DENGAN ILMU-NYA, DAN MALAIKAT-MALAIKATPUN MENJADI SAKSI HADITS NO. 7488 – 7490

KITABUT TAUHID 13 UST. ABDUL HAKIM BIN AMIR ABDATﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .webm

FATHUL BAARI SYARAH SHAHIH BUKHARIKITAB KE 97-KITAB AT TAUHID-BAB 35 | BAB FIRMAN ALLAH TA’ALA : “Mereka hendak mengubah kalam Allah” {S. Al-Fath, Ayat 15}
HADITS NO. 7491 – 7508

Masjid Gaul – Ust. Dr. Musyaffa Ad Dariny, MA.webm

Metode Dakwah kepada Orang Kafir-Ustadz Sofyan Chalid Ruray.webm

Non Muslim itu KAFIR – Al Ustadz Qomar Su’aidi Lc.m4a

Setengah Hijrah Setengah Sunnah – Ustadz Muflih Safitra,M.Sc.webm

Ustadz Menjawab Cara Masuk Surga Tanpa di Hisab Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc, MA.webm

webm bisa diputar dengan Aplikasi MX Player

=

  • Rincian Memanggil dengan kata “Wahai Orang Kafir” dan Pemurnian Tauhid Kepada Allah

 

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

  • # Rincian Memanggil dengan kata “Wahai Orang Kafir”

Memanggil dengan kata-kata “wahai orang kafir” ada rinciannya sesuai dengan keadaan dan hikmahnya. Berikut rinciannya:

✅ 1.Menggunakan panggilan kafir secara umum (tidak menunjuk person tertentu), maka ini ada contohnya dalam Al-Quran

✅ 2.Menggunakan panggilan kepada orang kafir sebagai panggilan, misalnya “hai kafir, ke sini”, maka ini suatu hal yang tidak hikmah dan dihindari

✅ 3.Menggunakan panggilan kafir kepada seorang muslim, hal ini tidak boleh sembarangan dan asal-asalan. Hal ini berat perkaranya dan apabila tidak bisa dibuktikan maka tuduhan kembali kepada si penyeru pertama

Berikut penjelasannya:

.

➡ 1. Menggunakan panggilan kafir secara umum (tidak menunjuk person tertentu), maka ini boleh sesuai tuntunan keadaan

Hal ini sebagaimana kita dapati pada ayat Al-Quran, misalnya surat Al-Kafirun:

✅ Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6

Katakanlah, “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak pernah men]adi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku.” [QS. Al-Kafirun: 1-6]

➡ 2. Menggunakan panggilan kepada orang kafir sebagai panggilan, misalnya “hai kafir, ke sini”, maka ini suatu hal yang tidak hikmah dan dihindari


✅ Sebagaimana yang dijelaskan pada Syabakah Islamiyah asuhan syaikh Abdullah Al-Faqih:

فلا شك أن من لم يكفر الكافر أو يشك في كفره أنه كافر، وهذا أصل أصيل في الإسلام، إلا أن هذا لا يعني ما ذكره السائل من إسماع الكافر كونه كافراً، بل الغالب أن ذلك يتنافى مع الحكمة، إذ كيف يقال هذا الكلام لمن يرجى تأليفه على الإسلام، لا سيما وأن الكافر قد يعتقد أنه على حق، فإسماعه هذه الكلمة مقتض لتنفيره عن سماع الحق وعن قبوله إياه. ويستثنى من هذا حالة وهي فيما إذا اقتضت المصلحة الشرعية ذلك، ويغلب أن يكون هذا في حق المعاند،

Tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir atau meragukan kekafiran mereka maka ia juga kafir. Ini adalah landasan paling dasar dalam Islam, akan tetapi tidak sebagaimana yang disebutkan oleh penanya yaitu memperdengarkan seruan (panggilan) kafir pada orang yang statusnya kafir (misalnya memanggil: hai kafir), bahkan mayoritasnya panggilan ini bertentangan dengan hikmah. Bagaimana bisa dikatakan ucapan (panggilan) ini kepada mereka yang diharapkan hatinya agar cenderung kepada Islam? Lebih-lebih pada orang kafir yang berkeyakinan bahwa (agama) mereka adalah benar. Memperdengarkan panggilan seperti ini akan berkonsekuensi membuat manusia lari dari mendengar dan menerima kebenaran. Dikecualikan hal ini pada keadaan ada mashlahat syar’iyyah, mayoritasnya dilakukan pada orang-orang yang menentang (ngeyel).” [Syabakah Islamiyyah no.39380]

➡ 3. Menggunakan panggilan kafir kepada seorang muslim, hal ini tidak boleh sembarangan dan asal-asalan. Berat perkaranya dan apabila tidak bisa dibuktikan maka kembali kepada si penyeru pertama.

✅ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهِ أَحَدُهُمَا

Apabila seseorang mengatakan kepada saudaranya (muslim): ‘Wahai Kafir’, maka akan kembali kepada salah satunya.” [HR. Bukhari & Muslim]

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa hadits peringatan bagi seroang muslim agar tidak asal-asalan dan sembarangan memanggil “hai kafir” kepada saudaranya se-Islam. Beliau berkata

أن الحديث سيق لزجر المسلم عن أن يقول ذلك لأخيه المسلم

Hadits ini terdapat larangan keras bagi seorang muslim dari memanggil saudaranya yang juga muslim dengan panggilan ini (hai kafir).” [Fathul Bari 10/481]

✅ Demikian juga syaikh Abdul aziz bin Baz menjelaskan hadits ini larangan bagi seseorang asal-asalan mengkafirkan saudaranya. Beliau berkata,

يعني: إذا لم يكن من قيل له ذلك صالحًا لها رجعت إلى من قالها، فلا يجوز للمسلم أن يكفر أخاه، ولا أن يقول: يا عدو الله ولا يا فاجر إلا بدليل

Yaitu apabila saudaranya yang dipanggil (dituduh) tersebut tidak layak (dipanggil kafir), maka tuduhan akan kembali kepadanya. Tidak boleh seorang muslim mengkafirkan saudaranya (tanpa kaidah yan benar). Tidak boleh juga berkata ‘wahai musuh Allah’, ‘wahai fajir’ kecuali adanya dalil.’ [Fatwa syaikh bin Baz no. 17189

Demikian semoga bermanfaat

@ Lombok, Pulau seribu masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel http://www.muslim.or.id

https://muslim.or.id/45464-rincian-memanggil-dengan-kata-wahai-orang-kafir.html

=

  • RAHMAT ALLAH UNTUK ORANG MUKMIN & ORANG KAFIR

PEMBAHASAN FIRMAN ALLAH -TA’AALAA-

{… رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا…}

Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu yang ada pada-Mu meliputi segala sesuatu…” (Al-Mukmin: 7)

Di sini ada beberapa pembahasan:

➡ [1]- Ayat ini adalah tentang para malaikat yang memikul ‘Arsy dan yang di sekelilingnya, yang bertasbih kepada Allah dengan memuji-Nya, dan memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman; maka di antara perkataan mereka:

{… رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا…}

Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu yang ada pada-Mu meliputi segala sesuatu…” (Al-Mukmin: 7)

➡ [2]- Ayat ini menunjukkan bahwa Rahmat Allah mengenai seluruh makhluk-Nya; baik mukmin maupun kafir, karena Rahmat Allah di sini digandengkan dengan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu. Sehingga rahmat ini disebut dengan Rahmat ‘Aammah (rahmat yang umum).

➡ [3]- Rahmat Allah untuk orang-orang kafir itu berbentuk kasih sayang dalam urusan dunia mereka; seperti: makan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, dll. Bahkan terkadang melebihi nikmat dunia yang diberikan kepada orang-orang yang beriman. Akan tetapi Allah mengingatkan orang-orang yang beriman agar jangan terkecoh dengan orang-orang kafir. Allah Ta’aalaa berfirman:

{لَا يَغُــرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِـي الْبِلَادِ * مَـتَاعٌ قَـلِيْلٌ ثُـمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ}

Jangan sekali-kali kamu terpedaya oleh kegiatan orang-orang kafir (yang bergerak) di seluruh negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat kembali mereka adalah Neraka Jahannam. Dan (Jahannam) itu seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS. Ali Imran: 196-197).

Adapun yang Allah berikan kepada orang-orang yang beriman adalah kenikmatan di dunia dan akhirat, seperti yang Allah firmankan:

{مَنْ عَمِلَ صَالِـحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَـلَـنُـحْـيِـيَـنَّـهُ حَـيَاةً طَـيِّـبَـةً وَلَــنَـجْـزِيَـنَّـهُمْ أَجْـرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ}

Barangsiapa beramal shalih -baik laki-laki maupun perempuan- dalam keadaan beriman; maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka amalkan.” (QS. An-Nahl: 97).

Terkadang orang kafir menghina orang mukmin dalam urusan dunia, karena mereka diberi kekayaan lebih dari orang yang beriman, Allah Ta’aalaa berfirman:

{زُيِّــنَ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوا الْـحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُوْنَ مِنَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا …}

Kehidupan dunia dijadikan terasa indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka menghina orang-orang yang beriman…” (QS. Al-Baqarah: 212)

Akan tetapi orang-orang kafir, mereka makan dan minum seperti binatang dan Neraka menjadi tempat tinggal bagi mereka, sebagaimana firman Allah

{… وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَتَمَتَّعُوْنَ وَيَأْكُلُوْنَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَـهُمْ}

“…Dan orang-orang yang kafir menikmati kesenangan (dunia), dan mereka makan seperti hewan makan, dan (kelak) Neraka lah tempat tinggal bagi mereka.” (QS. Muhammad: 12)

Sehingga ketika di akhirat: kalaulah mereka memiliki dunia dan sesisinya -bahkan ditambah lagi yang semisalnya-; tentulah mereka akan menebus dengannya agar mereka terbebas dari siksa, seperti yang Allah firmankan:

{وَلَوْ أَنَّ لِلَّذِيْـنَ ظَلَمُوْا مَا فِـي الْأَرْضِ جَـمِيْعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لَافْــتَدَوْا بِـهِ مِنْ سُوْءِ الْعَذَابِ يَوْمَ الْقِـيَامَةِ…}

Dan sekiranya orang-orang yang zhalim mempunyai segala apa yang ada di bumi dan ditambah lagi sebanyak itu; niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari adzab yang buruk pada Hari Kiamat…” (QS. Az-Zumar: 47)

Bahkan mereka berangan-angan seandainya mereka dahulu adalah termasuk kaum muslimin. Allah Ta’aalaa berfirman

{رُبَـمَا يَوَدُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْ كَانُوْا مُسْلِمِيْـنَ}

Orang-orang itu kadang-kadang (nanti di akhirat) menginginkan: sekiranya dahulu (di dunia) menjadi orang muslim.” (QS. Al-Hijr: 2)

Dan sekali lagi kami ingatkan: bahwa janji Allah untuk orang-orang yang beriman dengan kenikmatan di akhirat; maka hal ini tidak menafikan kenikmatan di dunia yang Allah berikan kepada mereka, sebagaimana telah disebutkan dalam friman Allah:

{مَنْ عَمِلَ صَالِـحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَـلَـنُـحْـيِـيَـنَّـهُ حَـيَاةً طَـيِّـبَـةً وَلَــنَـجْـزِيَـنَّـهُمْ أَجْـرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ}

Barangsiapa beramal shalih -baik laki-laki maupun perempuan- dalam keadaan beriman; maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka amalkan.” (QS. An-Nahl : 97)

➡ [4]- Dalam ayat ini terdapat keutamaan bagi orang-orang yang beriman, dimana mereka dimintakan ampunan oleh para malaikat yang memikul ‘Arsy dan yang di sekelilingnya. Maka hendaknya kita berusaha meningkatkan keimanan kita, terutama keimanan terhadap yang gaib, seperti yang Allah sebutkan pertama kali tentang sifat orang yang bertakwa:

{الٓم * ذٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِــيْـهِ هُدًى لِلْمُـتَّــقِـيْـنَ * الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُــقِيْمُوْنَ الصَّلَاةَ وَمِـمَّا رَزَقْـــنَاهُمْ يُــنْـفِقُوْنَ}

Alif Laam Miim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, menegakkan shalat, dan menginfakkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 1-3).

➡ [5]- Dalam ayat ini juga terdapat penetapan sifat ilmu bagi Allah.

-diambil dari “Syarah ‘Aqidah Wasithiyyah”, karya Ahmad Hendrix

=

  • Dua Surat Pemurnian Tauhid

Oleh: Abu Ubaidah As Sidawi

Tahukah anda bahwa di dalam Al Quran ada dua surat yang disebut surat Al Ikhlas? Kedua surat yang sering dibaca oleh Nabi dalam sholat karena keduanya mengandung konsep tauhid kepada Allah

Ya… Surat Al Kafirun dan al Ikhlas disebut dua surat al Ikhlas, sebagaimana dalam hadits Jabir bahwa Nabi usai thowaf membaca dua surat Al ikhlas dan al kafirun

Hal itu karena kedua surat tersebut mengandung kemurnian semua jenis tauhid. Surat Al Kafirun memurnikan ibadah kepada Allah saja dan berlepas diri dari tuhan2 yang diibadahi oleh orang2 kafir.

Adapun surat Al Ikhlas memurnikan keyakinan tentang Allah bahwa dia sempurna nama dan sifatNya, tidak ada yang serupa denganNya.

Karena pentingnya dua surat ini, Nabi sering membaca keduanya setelah al Fatihah dalam beberapa moment:

1. Sholat dua rakaat usai thowaf, sebagaimana dalam Shohih Muslim 726

2. Dua rokaat sebelum shubuh, sebagamaina dalam Shohih Bukhori 1218

3. Witir, sebagaimana dalam Sunan Abi Dawud 4/299

4. Dua rakaat setelah maghrib, sebagaimana dalam Musnad Ahmad 4763

(Syarah Risalah Tadmuriyyah hlm. 34-35 oleh Prof. Dr. Abdurrahmam Al Khumais)

Mari kita ulang kembali hafalan kita kedua surat tersebut, mari kita dalami kandungan keduanya agar tauhid dan aqidah kita tidak tergerus arus syubhat yang menghantam saat2 ini.

Apakah Nabi dan kaum muslimin sejak dulu yang membaca kedua surat tersebut berarti melontarkan ujaran kebencian?

Apakah setiap imam sholat dan orang ngaji yang membaca kedua surat tersebut berarti melontarkan kebencian dan akan ditempeleng? Kalau begitu, beranikah mereka menghapus Al Quran dari hati umat Islam? atau lebih baik mereka terus terang saja mencopot baju Islam dari diri mereka agar siapa muslim, kafir dan munafiq sekarang ini?

=  ×××××××× (Lanjut ke halaman2) ××××××

Iklan