Tak Ada Istirahat Kecuali Di Surga Kelak

 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Menutup Jalan Menuju Kemaksiatan Dan Kerusakan

2.Katanya: “Apalah Arti Sebuah Nama” ?

3.Faedah Surat Yasin: Dalil Manusia Akan Dibangkitkan

4.Dilarang Tidur Setelah Asar?

5.Faedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika.Jin Mendengar Al-Quran

6.Allah Ta’ala Tidak Mengampuni Dosa Syirik

7.Mendoakan Keburukan terhadap Penguasa ?

8.Akidqah Dan Syariat

l9.Salah Menentukan Waktu Suci dari Haid, Berdosakah?

10.Doa Agar Diteguhkan Hati untuk Istiqamah

11.Kumpulan Amalan Ringan #16: Membangun Masjid

12.Salah Kaprah Masalah Upload Foto Wanita

=

97 KITABUT TAUHID 11 UST. ABDUL HAKIM BIN AMIR ABDATﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .webm

FATHUL BAARI SYARAH SHAHIH BUKHARI KITAB KE 97(KITAB AT TAUHID 11)

BAB 32 | BAB FIRMAN ALLAH TA’ALA : “dan tidak bermanfaat safaat disisi Allah kecuali orang yang telah mendapat izin dari Allah” ~ Surat Saba’, Ayat 23 ~ HADITS NO. 7491 – 7508

Apakah Musik Religi Haram – Ustadz Abu Haidar as-Sundawyﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ .webm

Ceramah Agama Bekerja Bisa Menjadi Syirik – Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc., M.A..webm

MENJADI HAMBA YANG BERSUKUR USTADZ YAZID BIN ABDUL.QODIR JAWAS ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .webm

Tanya Jawab – Bernyanyi Tanpa Alat Musik – Ustad Nizar Saad Jabal, Lc, M.Pd.m4a

Tanya Jawab – Hukum Nasyid Dan Marawis -Ustad Nizar Saad Jabal, Lc, M.Pd.m4a

Tanya Jawab – Penghasilan Dari Musik – Ustad Nizar Saad Jabal, Lc, M.Pd.m4a 

TIADA KEHIDUPAN KECUALI KEHIDUPAN AKHIRAT UST. ABDUL HAKIM BIN AMIR ABDAT ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .webm

Macam-Macam Tauhid dan Macam-Macam Syirik- Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘AbdilMuhsin Al-‘Abbad Al-Badr

Arti Syirik dan Sarana-Sarana Yang Menghantarkan Kepada Kesyirikan-Ust Ahmad Zainuddin

Bergegaslah! Hidup di Dunia Hanya Sebentar-Ust.Badrusalam

Arti Syirik dan Sarana-Sarana YangMenghantarkan Kepada Kesyirikan-Ust Ahmad Zainuddin

Audio Kajian Islam (Pijakan-Pijakan Politik Syar`iy & Kepemimpinan, Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi),Bag1:Bag2

=

Tak Ada Rehat Kecuali Di Jannah Kelak

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

Dikisahkan seorang kakek senja usia pulang dari masjid kampungnya. Lalu ia segera mengetuk pintu rumahnya, namun sang istri tak membukakan pintu dengan segera. Hingga ia lelah dan pingsan di depan pintu rumahnya. Beberapa saat kemudian, sang istri yang tak mendengar ketukan pintu menyadari keterlambatan suaminya. Bergegas ia melihat keluar dan ternyata suaminya tergeletak pingsan di depan pintu karena menunggu lama. Ia pun panik, bersusah payah membawanya masuk ke dalam rumahnya.

Lalu menyeka wajahnya dengan air hingga suami siuman dari pingsannya. Sang istri meminta maaf atas keterlambatan ia membukakan pintu untuk suaminya. Akan tetapi sang suami tak memarahinya. Dia hanya berkata, “Saya pingsan bukan karena lamanya menunggu pintu dibuka, tapi karena saya ingat akan suatu hari,  ketika di hadapan Allah saya berdiri lama sementara pintu jannah tertutup di depan mata saya.”

Begitulah hati yang peka, senantiasa terkait dengan Allah dan Hari Akhir. Dia membayangkan bagaimana kelak jika dia bersusah payah mendatangi jannah, namun pintu tak terbuka untuknya. Pelajaran ini membawa dirinya untuk senantiasa mengusahakan sebab dibukanya pintu jannah untuknya. Karana mudah atau susahnya ia memasuki jannah tergantung upayanya di dunia untuk mendatangi amal-amal yang memudahkan baginya untuk masuk jannah. Tak apalah kita berlelah-lelah di dunia, selagi kita dipermudah untuk memasuki jannah-Nya. Karena itulah, ketika Imam Ahmad bn Hambal ditanya, “mata ar-raahah?” Kapankah datangnya waktu rehat? Maka beliau menjawab, “Yakni saat engkau menginjakkan kakimu di jannah, saat itulah kamu bisa rehat.”

Itulah saat di mana seorang hamba berhasil mencapai sukses tertinggi, keberhasilan yang sebenar-benarnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

Maka barangsiapa dijauhkan dari neraka  dan dimasukkan ke dalam jannah maka sungguh ia telah beruntung.” (QS. ali Imran: 185)

Maka kalimat al-fauzul ‘azhiem yang bermakna keburuntungan atau sukses besar banyak disebutkan oleh Allah dalam al-Qur’an setelah penyebutan tentang orang-orang yang masuk jannah dan terhindar dari neraka.

Inilah kesuksesan sesungguhnya. Karena kenikmatan jannah bersifat sempurna tanpa terselip kesedihan sedikitpun. Hanya ada kelezatan tanpa kepahitan, rasa aman tanpa ketakutan, semua keinginan tercapai tanpa sedikitpun penghalang, dan akan kekal selamanya tanpa akhiran.

Berbeda dengan apa yang diklaim sebagai kesuksesan di dunia ini. Yang sekarang sudah menduduki jabatan tinggi itu belum sukses yang sebenarnya. Mereka masih menghadapi keruwetan masalah yang di hadapinya, masih menanggung celaan dari orang yang tidak ridha dengan posisinya dan masih takut jika harus lengser dari jabatannya.

Begitupun yang sekarang sudah kaya raya, pun belum bisa dikatakan jaya dengan sebenarnya. Masih ada ambisi dan kehausan akan apa yang belum bisa dicapainya. Ada keresahan hati jika hartanya berpindah atau hilang, dna masih harus menghadapi kedengkian orang lain terhadapnya. Hal yang sama dialami oleh orang-orang tenar dan terkenal.

Memang begitulah isi dunia, semua manusia tanpa beda akan merasakan kesusahan dan kelelahan; mukmin maupun kafir.

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. al-Balad: 4)

Sa’id bin Jubeir menafsirkan makna ‘fi kabad’, yakni manusia mengalami kesusahan dan kesulitan dalam mencari mata pencaharian.” Sedangkan Hasan al-Bashri menyebutkan, “Yakni harus menghadapi kesulitan hidup di dunia dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kesusahan di akhirat.”

Tak ada manusia yang terbebas total dari musibah, kesulitan hidup, kegelisahan, kesedihan maupun rasa sakit. Jangan disangka orang-orang kafir hanya merasakan kesenangan tanpa duka lara. Dari sisi bahaya dan musibah yang dihadapi, nyaris tak ada beda antara keduanya, meski berbeda corak dan variasi. Tak hanya itu, menjadi pejuang kebathilan juga mengharuskan mereka untuk bersusah payah dalam berusaha. Bedanya, ada pengharapan baik bagi orang mukmin sehingga bisa menjadi pelipur lara baginya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِن تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّـهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّـهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dan janganlah kalian berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka ketahuilah mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu rasakan. Sedang kamu masih dapat mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan.” (QS. an-Nisa’: 104)

Bedanya lagi, sekecil apapun penderitaan yang dialami seorang mukmin bisa menjadi penggugur dosa. Sedangkan musibah yang dialami orang kafir adalah sebagai bonus siksa yang disegerakan di dunia. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى، إِلاَّ حَاتَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطَايَاهُ، كَمَا تَحَاتُّ وَرَقُ الشَّجَرِ

Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Seorang mukmin takkan merasa bosan dan putus asa dalam berikhtiar dan berusaha, hingga tercapai kesuksesan jannah yang didambakannya. Jikalau ada keinginan duniawi yang belum bisa dicapainya, toh akan digantikan dengan yang lebih baik dan lebih kekal di akhirat.

Andaikan yang terjadi di dunia ini selalu sesuai dengan apa yang kita ingini, tentulah jannah tak dirindukan lagi. Dan andai tidak ada duka lara di dunia ini, niscaya tak ada istimewanya rehat di akhirat nanti. Karenanya, ucapan penghuni jannah saat memasuki jannah adalah,

Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.” (QS. Fathir: 34)

Semoga Allah memasukkan kita ke dalam jannah, aamiin.

=

AL-QUR-AN DAN AS-SUNNAH MELIPUTI SEMUA PERBUATAN HAMBA SEBAGAIMANA TAKDIR ALLAH MELIPUTINYA

✅ Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah- berkata:

Dzikri Amri (syari’at Allah) meliputi semua perbuatan para mukallaf (orang yang dibebani untuk melaksanakan syari’at); baik berupa: perintah, larangan, izin (tentang hal yang dibolehkan), atau ‘afwu (yang dimaafkan).

Sebagaimana Dzikri Qadari (takdir Allah) meliputi semuanya; berupa: ilmu Allah, kitabah (penulisan), maupaun qadar (takdir). Maka ilmu-Nya, penulisan-Nya, dan takdir-Nya telah meliputi semua perbuatan hamba-Nya, sebagaimana perintah-Nya, larangan-Nya, pembolehan-Nya, dan ma’af-Nya…telah meliputi semua perbuatan hamba yang berkaitan dengan taklif (pembebanan syari’at).

Maka tidak ada satu pun perbuatan hamba yang keluar dari salah satu dari 2 (dua) hukum: kauni (takdir) atau syar’i amri.

Sungguh, Allah -Subhaanahu- telah menjelaskan melalui lisan Rasul-Nya -dengan firman-Nya dan sabda Rasul-Nya-:

semua yang Dia perintahkan,

– semua yang Dia larang,

– semua yang Dia halalkan,

– semua yang Dia haramkan,

– dan semua yang Dia ma’afkan.

✅ Dengan inilah agama-Nya telah sempurna, sebagaimana yang Allah -Ta’aalaa- firmankan:

{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي…}

“…Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu…” (QS. Al-Maa-idah: 3)

Akan tetapi terkadang pemahaman kebanyakan manusia kurang mampu untuk memahami apa yang ditunjukkan oleh dalil-dalil, dan segi serta tempat pendalilannya. Dan umat ini berbeda-beda dalam tingkatan pemhaman terhadap (maksud) Allah dan Rasul-Nya dengan (tingkatan-tingkatan) yang tidak ada yang mampu untuk menghitungnya kecuali Allah. Kalaulah semua pemahaman adalah sama; maka tentunya akan sama juga pijakan (kekuatan) para ulama dalam ilmu.”

✅ Kemudian beliau -rahimahullaah- berkata:

Dalil-dalil telah meliputi hukum-hukum tentang segala yang terjadi. Dan Allah dan Rasul-Nya tidak mengarahkan kita kepada ra’yu (pendapat) dan tidak juga qiyas. Bahkan Allah telah menjelaskan semua hukum secara keseluruhan, dan dalil-dalil telah mencukpi dan meliputi semuanya. Dan qiyas yang shahih; maka itu benar dan pasti sesuai dengan dalil, sehingga menjadi dua dalil: Al-Kitab dan Al-Mizan (qiyas), dimana terkadang penunjukkan dalil tersamar atau tidak sampai kepada seorang ulama sehingga (ulama tersebut) berpaling kepada qiyas; kemudian terkadang tampak kesesuaiannya dengan dalil sehingga menjadi qiyas yang shahih, dan terkadang tampak penyelisihannya terhadap dalil sehingga menjadi qiyas yang fasid (rusak).”

✅ Beliau juga pernah berkata ketika menjelaskan faedah firman Allah:

{…فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ…}

“…Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu (apa pun); maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya),…”(QS. An-Nisaa’: 59)

“Firman-Nya:

{فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ}

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu (apa pun)”

(Kata شيء) di sini adalah “isim nakiroh” dalam kalimat berbentuk “syarth” sehingga berlaku umum mencakup segala yang diperselisihkan oleh kaum mukminin dalam masalah-masalah agama; baik yang kecil maupun yang besar, dan baik yang jelas maupun yang samar. Kalaulah di dalam Kitabullah (Al-Qur-an) dan (Sunnah) Rasul-Nya tidak ada penjelasan tentang hukum dari apa yang diperselisihkan oleh mereka; maka (keduanya) tidaklah mencukupi, dan tentunya Allah tidak akan perintahkan untuk mengembalikan kepadanya. Karena, tidak mungkin Allah -Ta’aalaa- memerintahkan -ketika terjadi perselisihan- untuk kembali kepada yang tidak ada pemutus perselisihan.”

[“I’laamul Muqwaqqi’iin” (II/90 & 97) dan (I/92) -cet. II)]

-diterjemahkan & diberi judul oleh: Ahmad Hendrix

=“` (Lanjut Ke Halaman 2) “`