✅ Yang menguatkan hal ini adalah riwayat berikut:

عَنْ عُرْوَةَ: أَنَّ أَرْوَى بِنْتَ أُوَيْسٍ ادَّعَتْ عَلَى سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ أَنَّهُ أَخَذَ شَيْئًا مِنْ أَرْضِهَا، فَخَاصَمَتْهُ إِلَى مَرْوَانَ بْنِ الْحَكَمِ فَقَالَ سَعِيدٌ: أَنَا كُنْتُ آخُذُ مِنْ أَرْضِهَا شَيْئًا بَعْدَ الَّذِي سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ: وَمَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: مَنْ أَخَذَ شِبْرًا مِنَ الْأَرْضِ ظُلْمًا، طُوِّقَهُ إِلَى سَبْعِ أَرَضِينَ، فَقَالَ لَهُ مَرْوَانُ: لَا أَسْأَلُكَ بَيِّنَةً بَعْدَ هَذَا، فَقَالَ: اللَّهُمَّ إِنْ كَانَتْ كَاذِبَةً فَعَمِّ بَصَرَهَا وَاقْتُلْهَا فِي أَرْضِهَا، قَالَ: فَمَا مَاتَتْ حَتَّى ذَهَبَ بَصَرُهَا، ثُمَّ بَيْنَا هِيَ تَمْشِي فِي أَرْضِهَا إِذْ وَقَعَتْ فِي حُفْرَةٍ فَمَاتَتْ

Dari ‘Urwah : Bahwasannya Arwaa bintu Uwais menuduh Sa’iid bin Zaid telah mengambil sebagian tanahnya. Lalu ia (Arwaa) mengadukan permasalahan tersebut kepada Marwaan bin Al-Hakam. Sa’iid berkata : “Mungkinkah aku mengambil sebagian tanah miliknya setelah aku mendengar hadits dari Rasulullah ﷺ?”. Marwaan berkata : “Apa yang engkau dengar dari Rasulullah ﷺ?”. Sa’iid berkata : “Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda : ‘Barangsiapa mengambil sejengkal tanah secara dhalim, akan dikalungkan padanya tujuh lapis bumi (pada hari kiamat)’. Lalu Marwaan berkata kepadanya : “Aku tidak akan meminta bukti lagi kepadamu setelah mendengar hadits ini”. Kemudian Sa’iid berdoa : “Ya Allah, jika wanita itu (Arwaa) berdusta, maka butakanlah matanya dan bunuhlah ia di atas tanahnya sendiri”. ‘Urwah berkata : “Ternyata ia (Arwaa) tidak meninggal kecuali dalam keadaan buta matanya. Kemudian ketika ia berjalan di tanahnya, ia jatuh ke dalam lubang lalu meninggal” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1610].


✅ Di lain riwayat, Arwaa berkata dalam tuduhannya kepada Saiid bin Zaid:

إِنَّ سَعِيدَ بْنَ زَيْدٍ، قَدْ انْتَقَصَ مِنْ أَرْضِي إِلَى أَرْضِهِ، مَا لَيْسَ لَهُ، وَقَدْ أَحْبَبْتُ أَنْ تَأْتُوهُ فَتُكَلِّمُوهُ

Sesungguhnya Sa’iid bin Zaid telah mencaplok (sebagian) tanahku – yang bukan kepunyaannya – masuk dalam tanahnya. Aku ingin kalian (beberapa orang Quraisy yang bersama Arwaa’ – Abul-Jauzaa’) menemuinya dan berbincang-bincang dengannya” [Diriwayatkan oleh Ahmad, 1/189; sanadnya hasan].

Sa’iid bin Zaid berdoa kepada Allah ﷻ terkait dengan tuduhan penyerobotan tanah yang dialamatkan kepadanya, dan Allah ﷺ mengabulkan doa Sa’iid sehingga keburukan menimpa wanita yang menuduhnya (buta dan meninggal di atas tanahnya).

Dari peristiwa Sa’iid bin Zaid ini, dulu penduduk Madiinah apabila mendoakan keburukan orang lain:

أَعْمَاهُ اللَّهُ كَعَمَى أَرْوَى

Semoga Allah membutakan (mata)-nya seperti kebutaan yang menimpa Arwaa” [Fathul-Baariy, 5/105].

Begitu pula ketika salah seorang penduduk Kuufah yang bernama Usaamah bin Qataadah yang berkunyah Abu Sa’dah memberikan kesaksian dusta atas diri Sa’d bin Abi Waqqaash radliyallaahu ‘anhu, maka Sa’d berdoa:

أَمَا وَاللَّهِ لَأَدْعُوَنَّ بِثَلَاثٍ اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ عَبْدُكَ هَذَا كَاذِبًا قَامَ رِيَاءً وَسُمْعَةً فَأَطِلْ عُمْرَهُ وَأَطِلْ فَقْرَهُ وَعَرِّضْهُ

Maka demi Allah, sungguh aku akan berdoa kepada Allah tiga hal. Ya Allah, apabila hambamu ini (yaitu Usaamah) berdusta, mengatakannya karena riyaa’ dan sum’ah, maka panjangkanlah usianya, panjangkanlah pula kefakirannya, dan campakkan ia dalam berbagai fitnah”.

✅ Jaabir bin Samuurah bersaksi atas kebenaran doa Sa’d radliyallaahu ‘anhumaa:

وَكَانَ بَعْدُ إِذَا سُئِلَ يَقُولُ شَيْخٌ كَبِيرٌ مَفْتُونٌ أَصَابَتْنِي دَعْوَةُ سَعْدٍ، قَالَ عَبْدُ الْمَلِكِ: فَأَنَا رَأَيْتُهُ بَعْدُ قَدْ سَقَطَ حَاجِبَاهُ عَلَى عَيْنَيْهِ مِنَ الْكِبَرِ، وَإِنَّهُ لَيَتَعَرَّضُ لِلْجَوَارِي فِي الطُّرُقِ يَغْمِزُهُنَّ

Maka beberapa masa kemudian setelah itu, orang tersebut (Usaamah) apabila ditanya tentang keadaannya yang sengsara, ia berkata : ‘Aku seorang tua renta yang terkena fitnah akibat doa Sa’d.

✅ ‘Abdul-Malik bin ‘Umar Al-Lakhamiy rahimahullah – perawi hadits di atas – juga bersaksi:

فَأَنَا رَأَيْتُهُ بَعْدُ قَدْ سَقَطَ حَاجِبَاهُ عَلَى عَيْنَيْهِ مِنَ الْكِبَرِ، وَإِنَّهُ لَيَتَعَرَّضُ لِلْجَوَارِي فِي الطُّرُقِ يَغْمِزُهُنَّ

Dan aku sendiri melihat setelahnya bahwa kedua alisnya panjang ke bawah menutupi kedua matanya karena terlalu tua dan dirinya suka mengganggu wanita-wanita muda di jalanan” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 755].

✅ Rasulullah ﷺ memperingatkan kita :

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

Waspadalah kalian doa orang yang terdhalimi, karena tidak ada penghalang antara dirinya dengan Allah (untuk dikabulkan doanya)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 19].

Ini berlaku pada siapa saja, baik penguasa maupun rakyat. Barangsiapa yang bertindak dhalim dan orang yang didhalimi berdoa kepada Allah agar dibalas kedhalimannya, maka doanya tersebut mustajab. Rasulullah ﷻ bersabda:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ لَا شَكَّ فِيْهِنَّ : دَعوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

“Ada tiga doa mustajab yang tidak ada keraguan padanya : doa orang yang terdhalimi, doa orang yang sedang bepergian (musafir), dan doa orang tua kepada anaknya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dalam Al-Adabul-Mufrad no. 32 & 481, Abu Daawud no. 1536, At-Tirmidziy no. 1905 & 3448, dan yang lainnya; dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 596].

✅ Rasulullah ﷺ sangat mengecam penguasa yang dhalim. Beliau ﷺ bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

Tidak ada seorang hamba yang Allah angkat untuk memimpin rakyatnya kemudian tidak mengurus mereka dengan baik, ia pasti tidak akan mencium bau wangi surga” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7150].

مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنَ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Tidak ada seorang penguasa pun yang memimpin rakyatnya dari kalangan muslimin, lalu ia meninggal dalam keadaan menipu mereka (rakyat), maka Allah ﷻ pasti haramkan baginya surga” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7151].

مَا مِنْ أَمِيرِ عَشَرَةٍ، إِلَّا يُؤْتَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَغْلُولًا، لَا يَفُكُّهُ إِلَّا الْعَدْلُ، أَوْ يُوبِقُهُ الْجَوْرُ

Tidaklah ada seorang pun yang memimpin sepuluh orang, kecuali ia didatangkan dengannya pada hari kiamat dalam keadaan (tangannya) terbelenggu. Tidak ada sesuatu yang membebaskannya kecuali keadilannya, atau justru kemaksiatannya (kedhalimannya) akan melemparkanya (ke neraka)” [Diriwayatkan oleh Ahmad 2/431; sanadnya qawiy].

✅ Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ berdoa keburukan bagi para penguasa dhalim:

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا، فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

Ya Allah, barangsiapa mengurusi sesuatu dari urusan umatku, lalu ia malah menyusahkan mereka, maka susahkanlah ia. Dan barangsiapa mengurusi sesuatu dari urusan umatku, lalu ia bersikap lembut kepada mereka, maka bersikap lembutlah kepadanya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 182].

Maka dalam hal ini, secara hukum syar’iy boleh hukumnya mendoakan keburukan bagi penguasa dhalim yang mendhalimi rakyatnya.

Masalahnya kemudian, kadang seseorang merasa didhalimi orang lain (termasuk penguasa), padahal kenyataan tidak. Misalnya, seseorang yang memiliki mobil sering memarkirnya di pinggir jalan perumahan di depan rumahnya. Pemerintah kemudian menderek paksa mobilnya itu. Karena merasa didhalimi, ia berdoa keburukan terhadap penguasa. Ini tidak benar. Mengapa?. Ia sendiri justru yang berbuat dhalim mengurangi hak pengguna jalan lain dengan memarkir mobil di badan jalan. Melanggar pula peraturan yang telah dibuat Pemerintah[2]. Tindakan Pemerintah benar, karena mengedepankan kepentingan umum. Maka, seseorang yang merasa didhalimi jika ingin mendoakan keburukan terhadap orang mendhaliminya – dan mendoakan hidayah dan memaafkannya lebih utama sebagaimana telah lewat penjelasanya – hendaknya ia mengucapkannya secara bersyarat seperti:

“Ya Allah, apabila (benar) Fulaan telah mendhalimiku, maka…….”

[sesuai kadar kedhaliman yang dialaminya].

✅ Sama seperti doa Sa’d bin Abi Waqqaash radliyallaahu ‘anhu:

.

اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ عَبْدُكَ هَذَا كَاذِبًا قَامَ رِيَاءً وَسُمْعَةً فَأَطِلْ عُمْرَهُ وَأَطِلْ فَقْرَهُ وَعَرِّضْهُ

Ya Allah, apabila hambamu ini (yaitu Usaamah) berdusta, mengatakannya karena riyaa’ dan sum’ah, maka panjangkanlah usianya, panjangkanlah pula kefakirannya, dan campakkan ia dalam berbagai fitnah”.

Bisa jadi dakwaan kedhaliman kita benar, bisa jadi keliru.

Inilah yang dijelaskan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin rahimahullah dalam fatwanya.[3]

Berikut adalah rekaman video penjelasan dari Asy-Syaikh Mushthafaa bin Al-‘Adawiy hafidhahullah berkaitan dengan pertanyaan ‘bolehkah mendoakan keburukan terhadap penguasa yang dhalim ?’:

Wallaahu a’lam.

Semoga ada manfaatnya.

[abul-jauzaa’ – 12032019].

[1]    Dari jalan Abu Shaalih, dari Mu’aawiyyah bin Shaalih, dari ‘Aliy bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhu. Ada pembahasan menarik tentang Abu Shaalih ini dimana ia ditautsiq oleh sebagian ulama, namun dijarh sebagian ulama yang lain. Kesimpulan ringkasnya, bahwa riwayat yang dibawakannya dihukumi hasan/shahih jika diriwayatkan oleh ulama yang terkenal teliti dan hati-hati semisal Abu Haatim, Ibnu Wahb, Al-Bukhaariy, Yahyaa bin Ma’iin, dan semisalnya. Jika selain dari selain mereka, maka lemah atau abstain hingga ada qarinah penguatnya, wallaahu a’lam.

[2]    Seperti misalnya Pemprov. DKI Jakarta. Silakan baca : Dasar Hukum yang Melarang Parkir Kendaraan di Depan Rumah Sendiri.

[3]    Silakan baca : “Apakah afdlal bagi orang yang didhalimi untuk mendoakan keburukan terhadap orang yang mendhaliminya ?”.

•••••••••••••••••••••••

_*Ya Allah, saksikanlah bahwa kami telah menjelaskan dalil kepada umat manusia, mengharapkan manusia mendapatkan hidayah,melepaskan tanggung jawab dihadapan Allah Ta’ala, menyampaikan dan menunaikan kewajiban kami. Selanjutnya, kepadaMu kami berdoa agar menampakkan kebenaran kepada kami dan memudahkan kami untuk mengikutinya*_

_*Itu saja yang dapat Ana sampaikan. Jika benar itu datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Kalau ada yang salah itu dari Ana pribadi, Allah dan RasulNya terbebaskan dari kesalahan itu.*_

Hanya kepada Allah saya memohon agar Dia menjadikan tulisan ini murni mengharap Wajah-Nya Yang Mulia, dan agar ia bermanfaat bagi kaum muslimin dan menjadi tabungan bagi hari akhir.

_*Sebarkan,Sampaikan,Bagikan artikel ini jika dirasa bermanfaat kepada orang-orang terdekat Anda/Grup Sosmed,dll, Semoga Menjadi Pemberat Timbangan Amal Kebaikan Di Akhirat Kelak. Wa akhiru da’wanā ‘anilhamdulillāhi rabbil ālamīn Wallāhu a’lam, Wabillāhittaufiq

_*“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orangyang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.”* (HR Muslim no. 2674)_