Kafir Tidak Sama Dengan Non-Muslim 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Bagaimana Selayaknya Seorang Hamba.Bersyukur Kepada Tuhannya Atas Nikmat Yang Melimpah Ruah

2.Diterimanya Taubat

3.Apakah Pelaku Dosa Besar Memungkinkan Masuk Surga Tanpa Hisab ?

4.Perbedaan Antara Kafalah (Memelihara) Yatim Dan Mengadopsinya 
5.Hukum Mewajibkan Denda Karena Terlambat Mengembalikan Buku-buku Yang Dipinjam

6.Hukum Berjalan Cepat Agar Mendapatkan Shalat Jamaah 
7.Apakah Najis Gamis Akhwat Yang Terkena Kotoran Ayam?

8.Menuntut Ilmu Ketika Orang Tua MintaDikunjungi

9.PINJAM UANG KE BANK UNTUK KEADAANDARURAT

10.BUNGA DARI SALDO BPJS KETENAGAKERJAAN

=

Bahaya Ulama Suu’ Dan Persatuan Agama Ustadz Yazid bin…Abdul Qadir Jawas.webm

https://app.box.com/s/kg6pbtdj0zjgkxd7829wy8c09xdww48j

KITABUT TAUHID 9 UST. ABDUL HAKIM BIN AMIR ABDATﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .webm

https://app.box.com/s/x7chlm3xvtjq1avj7f4jli8lh3j4dta9

Bagaimana Merealisasikan Tauhid Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.webm

https://app.box.com/s/rot4gp6p9sxlvyzz4mml53eve29m1k6x

KEUTAMAAN BERDZIKIR DAN KESALAHAN KESALAHANNYA USTADZ YAZID BIN ABDUL QODIR JAWAS

https://app.box.com/s/15vw5l94epawhl28vve698xi0p0g1rqd

Khutbah Jumat – Istilah Kafir – Ustadz Nizar Saad Jabal,Lc,M.Pd..m4a

https://app.box.com/s/5xk5nofqrg51me5dw093bknjcthy8q47

Khutbah Jumat Dosa Jariyah – Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc, M.A..webm

https://app.box.com/s/n22dfrmtskt69qeg7lgurm8xh45ditsb

Kitab Shahih Bukhari Larangan Dalam Berdoa – Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc., M.A..webm

https://app.box.com/s/5j90vtcbjhb8sl83qobwj33wgqjcfldt

Orang yg Pintar Menurut Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam – Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.webm

https://app.box.com/s/jvej4xmkjbq16rml6ckbbgrl7z41zbii

Ustadz Muflih Safitra – Khutbah Jum’at – Dari Adu Fisik Hingga Syirik Karena Kesurupan Politik.m4a

webm bisa Diputar Dgn Aplikasi MX Player
== 

=

  • Kafir Tidak Sama Dengan Non-Muslim

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

=

[ Diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari makalah Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan hafizhahullah yang berjudul La Tatadakkhalu fi Ma Laisa min Ikhtishashikum dalam kitab al-Bayaan li Ba’dhi Akhtha’il Kuttab, 2/177-180 ]

Allâh Ta’alla telah menciptakan makhluk agar mereka beribadah kepada Allâh Ta’alla dan menjadikan fithrah mereka di atas tauhid dan ketaatan kepada-Nya, namun kemudian diantara mereka ada yang kufur. Allâh Ta’alla berfirman :

وَلَكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُم مَّنْ ءَامَنَ وَمِنْهُمْ مَّن كَفَرَ

Akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. (QS. al-Baqarah/2:253)

✅ Allâh Ta’alla juga berfirman :

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنكُمْ كَافِرٌ وَمِنكُم مُّؤْمِنٌ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dia-lah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang Mukmin. dan Allâh Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. at-Taghâbun/64:2)

Dengan irâdah (kehendak) diniyah-Nya, Allâh Ta’alla menghendaki kebaikan dan keimanan, namun sebaliknya syaitan dan penyeru keburukan menginginkan kekufuran dan kejelekan. Allâh Ta’alla berfirman (yang artinya) :

Allâh hendak menerangkan (hukum syari’at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu ke jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. dan Allâh Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dan Allâh hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). (QS. an-Nisâ’/4:26-27)

Oleh karena itu, Allâh Ta’alla mengirimkan para rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab dan menegakkan hujjah (argumentasi). Diantara manusia, ada yang menerima kebenaran dan masuk dalam keimanan dengan penuh ketaatan dan tanpa paksaan, namun ada pula yang menolak kebenaran dan memilih masuk ke dalam kubangan kekufuran dengan kemauan sendiri.

Allâh Ta’alla telah menetapkan banyak perbedaan antara kaum Mukminin dengan kaum kuffar (orang-orang), baik di dunia maupun di akhirat. Dan Allâh Ta’alla melarang manusia menyamakan antara dua kelompok manusia di atas. Allâh Ta’alla juga telah mempersiapkan balasan dan menetapkan hukum-hukum bagi masing-masing kelompok di dunia maupun akhirat.

Allâh Ta’alla juga telah menetapkan bagi masing-masing kelompok nama yang bisa membedakan diantara keduanya, seperti al-Mukmin dan al-kafir, al-bir (pelaku kebaikan) dan al-fâjir (pelaku keburukan), al-musyrik (orang yang melakukan perbuatan syirik) dan al-muwahhid (orang yang mentauhidkan Allâh Ta’alla ), al-muthî’ (orang yang senantiasa taat) dan al-‘âsh (orang yang melakukan perbuatan maksiat).

Kemudian setelah itu, Allâh Ta’alla melarang segala tindakan yang menganggap sama atau berusaha menyamakan kedua kelompok yang jelas berbeda tersebut, baik dalam nama maupun perilaku. Allâh Ta’alla berfirman (yang artinya) :

Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? amat buruklah apa yang mereka sangka itu. (QS. al-Jâtsiyah/45:21)

✅ Allâh Ta’alla berfirman (yang artinya) :

Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) kami menganggap orang- orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma’siat? (QS. Shâd/38:28)

Maksudnya, Allâh Ta’alla tidak menjadikan antara Muslim dan kafir itu sama, karena jelas itu tidak sesuai dengan sifat keadilan Allâh Ta’alla .

Pada ayat yang lain Allâh Ta’alla memerintahkan kaum Mukminin untuk berlepas diri dari orang-orang kafir dan orang-orang musyrik, meskipun mereka masih memiliki ikatan kekeluargaan. Allâh Ta’alla berfirman (yang artinya):

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrâhîm dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dari dari apa yang kamu sembah selain Allâh, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allâh saja, kecuali perkataan Ibrâhîm kepada bapaknya, “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allâh”. (Ibrâhîm berkata), “Ya Rabb kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. al-Mumtahanah/60:4)

Ini merupakan salah satu diantara pondasi keimanan dan agama, yang telah ditetapkan dalam al-Qur’ân dan as-sunnah juga dalam kitab-kitab aqidah yang benar yang diragukan lagi oleh seorang Muslim pun. Namun, pada zaman ini, kita mendengar sebagian kaum Muslimin ada yang berusaha mengganti istilah kafir dengan non-Muslim, sebagaimana tertulis disebagian majalah atau yang lainnya. Semoga saja apa yang mereka lakukan itu dilatarbelakangi oleh ketidaktahuan mereka terhadap agama ini, bukan dilandasi oleh sikap penentangan terhadap ajaran agama.

  • APAKAH MAKSUD DAN TUJUAN DARI PERUBAHAN NAMA INI ?

Apakah supaya kita meninggalkan istilah-istilah yang ada dalam al-Qur’ân, al-hadits dan kitab-kitab aqidah, seperti istilah kufur dan orang kafir atau syirik dan kaum musyrikin?! Jika ya, maka itu sebentuk upaya meralat al-Qur’an dan sunnah dan bisa dikategorikan sebagai bentuk penentangan terhadap Allâh dan Rasul-Nya. Ini juga termasuk perbuatan mengganti hakikat kebenaran syar’iyah sehingga pelakunya bisa dimasukkan kedalam golongan orang-orang yang merubah kitabullâh dan sunnah Rasul-Nya.

Lalu, mengapa mereka melakukan itu? Apa yang menjadi motivasi mereka? Apakah dalam rangka mencari ridha orang-orang kafir? Ketahuilah! Orang-orang kafir itu tidak akan pernah ridha terhadap kita sampai kita meninggalkan agama kita. Allâh Allâh Ta’alla berfirman (yang artinya) :

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. (QS. al-Baqarah/2:120)

Allâh Ta’alla berfirman (yang artinya) :

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. (QS. al-Baqarah/2:217)

✅ Juga berfirman (yang artinya):

Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). (QS. an-Nisâ’/4:89

Disamping juga, kita tidak diperbolehkan mencari ridha dan berusaha meraih cinta mereka, sementara mereka adalah para musuh Allâh Ta’alla dan Rasul-Nya. Allâh Ta’alla berfirman ( yang artinya):

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, (QS. al-Mumtahanah/60:1)

Jika tujuan orang-orang yang menyerukan penggantian istilah-istilah ini adalah untuk menampakkan sikap lemah lembut kepada orang-orang kafir dan dalam rangka bermuamalah dengan mereka, maka itu tidak boleh dilakukan dengan cara merubah istilah-istilah syari’at. Sikap lemah lembut terhadap orang kafir bisa ditampakkan dengan cara sebagai berikut :

➡ 1. Mendakwahi mereka agar memeluk agama Islam yang merupakan agama Allâh Ta’alla yang disyari’atkan buat seluruh manusia.

Allâh Ta’alla berfiman (yang artinya):

Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (QS. an-Nahl/16:125)

Kita dakwahi mereka demi kebaikan dan kebahagiaan merka di dunia dan akhirat.

➡ 2. Membuat perjanjian damai, jika mereka menghendakinya.

Allâh Ta’alla berfiman (yang artinya) :

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkAllâh kepada Allâh. Sesungguhnya dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Anfâl/8:61)

Begitu juga, ketika kaum Muslimin membutuhkan perjanjian damai tersebut, demi kemaslahatan kaum Muslimin, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasûlullâh ﷺ terhadap kaum kuffar di Hudaibiyah. Dengan adanya perjanjian damai ini, masing-masing bisa mengirimkan diplomatnya, sehingga hubungan diflomasi tetap terjaga.

➡ 3. Tidak menyakiti mereka tanpa alasan yang dibenarkan syari’at.

Allâh Ta’alla berfiman (yang artinya):

Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allâh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah! Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allâh, Sesungguhnya Allâh Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. al-Mâidah/5:8)

➡ 4. Berbuat baik kepada mereka yang berbuat baik terhadap kaum Muslimin, yang tidak memerangi kaum Muslimin dan tidak mengusir kaum Muslimin dari tempat tinggal mereka.

Allâh Ta’alla berfiman (yang artinya):

Allâh tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. al-Mumtahanah/60:8)

➡ 5. Bermu’amalah (bersosialissasi) dengan mereka pada hal-hal yang diperbolehkan syari’at, seperti jual-beli barang, saling memberi berita-berita yang bermanfaat dan mengambil faidah dari ilmu duniawi mereka yang bermanfaat bagi kita.

➡ 6. Menepati janji yang sudah disepakati dengan mereka, menghormati dan menjaga jiwa serta harta benda orang-orang kafir yang terikat perjanjian dengan kaum Muslimin, karena orang-orang kafir yang seperti ini memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kaum Muslimin.

✅ Allâh Ta’alla berfiman (yang artinya):

Maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS. at-Taubah/9:7)

(Maksudnya penuhilah janji kalian, selama mereka juga memeuhi janjinya-pent)

✅ Allâh Ta’alla berfiman (yang artinya) :

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allâh (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar (QS. al-An’am/6:151)

Jiwa yang diharamkan oleh Allâh Ta’alla untuk dibunuh adalah jiwa kaum Muslimin dan jiwa mu’âhad (orang-orang kafir yang berada dalam perjanjian). Barangsiapa membunuh orang-orang kafir yang berada dalam perjanjian damai dengan kaum Muslimin secara sengaja,

➡ Rasûlullâh ﷺ bersabda :

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

Barangsiapa membunuh orang kafir yang sedang berada dalam jaminan kaum Muslimin, maka dia tidak akan mencium aromah surga, padahal aroma surga itu sudah tercium dari jarak 40 tahun perjalanan. (HR. al-Bukhâri)

Sedangkan jika pembunuhan terhadap mu’âhad itu tergolong perbunuhan tersalah, maka itu sama hukumannya dengan pembunuhan tersalah yang menimpa jiwa kaum Muslimin. Si pembunuh wajib membayar diyat dan kaffarah. Allâh Ta’alla berfiman (yang artinya):

Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, Maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. (QS. an-Nisâ’/4:92)

  • PENUTUP :

Saya menasehatkan kepada orang-orang yeng menyerukan perubahan nama-nama atau istilah-istilah syar’i agar segera bertaubat kepada Allâh! Hendaklah mereka tidak ikut campur pada sesuatu yang tidak dia kuasai dengan baik dan pada sesuatu yang tidak menjadi spesialisnya. Karena perbuatan itu termasuk bisa dikategori dalam mengucapkan suatu perkataan atas nama Allâh Ta’alla tanpa didasari ilmu (yang benar), padahal Allâh Ta’alla berfiman (yang artinya):

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. (QS. al-Isra’/17:36)

✅ Allâh Ta’alla juga berfirman ( yang artinya):

Katakanlah, “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allâh dengan sesuatu yang Allâh tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allâh apa yang tidak kamu ketahui. (QS. al-A’raf/7:33)

Allâh Ta’alla meletakkan perbuatan lancang mengucapkan perkataan atas nama Allâh k tanpa dilandasi ilmu di atas perbuatan syirik, karena perbuatan tersebut sangat berbahaya.

Jika mereka ini termasuk orang-orang yang mengakui spesialisasi dan tidak menginginkan orang lain ikut campur pada sesuatu yang bukan bidangnya, lalu kenapa mereka ikut campur dalam masalah-masalah syari’at, bahkan dalam sebuah permasalahan yang sangat beresiko dan urgen yaitu permasalahan yang terkait aqidah, padahal itu bukan spesialis mereka?

Apa yang saya sampaikan pada makalah singkat ini hanyalah sebuah nasehat, semoga Allâh Ta’alla membuka hati kita untuk senantiasa menerima nasehat kebaikan.

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ وَصَحْبِهِ …

Majalah As-Sunnah Edisi 11/Thn XVII/Jumadil Awwal 1435H/Maret 2014M

= “[lanjut ke halaman 2] “