Puasa Nabi Daud Alaihisallam Atau Puasa Ayyamul Bidh? 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Jika Puasa Daud, Jangan Mikir Puasa Sunah Lain

2.HuKum Puasa Daud,

3.Puasa Daud , Puasa Paling Istimewa

4.Puasa Daud , Sebaik-baiknya Puasa

5.Dilarang Puasa Hari Sabtu?

6.Kenapa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- Tidak Puasa Daud

7.Nihayah, Dosa Besar Warisan Jahiliyyah

8.Anjuran Shalat Tahiyatul Masjid

9.Serial Tauhid Bag1

10.Penguasa

••

Puasa Nabi Dawud, apakah hari mulainyaditentukan?-Ust Abu Qotadah

Puasa Sunnah Yang Paling Utama-Ust.Armen Halim Naro

Fiqh Puasa Sunnah-Ust Armen Halim Naro

Subhat dan Syahwat-Ust Syariful Mahya Lc MA.webm 

Catatan Dosa Tidak Terhapus Meskipun Sudah Bertaubat -Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc, M.A..webm

Dunia Ust. Syariful Mahya Lubis, Lc, MA.webm

Persen Bunga Bank di Jepang Ust. Dr. Erwandi Tarmizi

Penjelasan Lengkap Tentang Pajak – Ust. Dr. Erwandi Tarmizi, MA.webm

Orang Beriman Dihadapan Dosa-Ustadz Syarif Mahya Lubis.webm

Ust. Syariful Mahya, Lc MA Sabar dan Taqwa.webm

Rekaman Kajian Kamis Sore – Andai ini Sholat Terakhirku Oleh Ustadz Hasyim Ikhwanuddin

Syirik Adalah Dosa Yang Tidak Diampuni Allah-Syaikh ‘Abdurrazzaq bin’Abdil Muhsin Al-Badr

==`~~WebM Bisa Diputar Dgn Aplikasi MX Player ~~~`

Ebook

Kepribadian Rasulullah

48 Persoalan Puasa

Hukum Hukum Puasa

Ringkasan Hukum-Hukum Seputar Puasa

Tujuh Puluh Masalah Seputar Puasa

===

  • ➡ PUASA NABI DAUD ALAIHISALLAM ATAU PUASA AYYAMUL BIDH ?

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, 

  • ✅ PERTANYAAN :

Kalau sudah menjalankan puasa Sunnah Daud apa masih puasa Ayyamul Bidh lagi. Kalau sudah puasa Daud bolehkah bolos satu hari misal waktunya puasa tapi gak puasa karena cuma di undang makan-makan sama teman. Jadi Puasa Daud Hari Senin, Rabu, Jum’at, Ahad atau bagaimana, bukannya hari Jum’at tidak boleh puasa sebelum Puasa sebelum hari itu atau hari setelahnya.

  • JAWABAN :


Bismillahirrahmanirr­ahim. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Jawaban atas pertanyaan ini dibagi menjadi tiga

  • Pertama, Kalau sudah menjalankan puasa Sunnah Daud apa masih puasa Ayyamul Bidh lagi ?

Antara Puasa Sunnah Nabi Daud alaihisallam dan Puasa Sunnah Ayyamul Bidh adalah sama-sama memiliki keutamaannya masing-masing namun jika ditimbang dengan nash yang shahih maka dapat dipahami dengan baik bahwasannya Puasa Sunnah Nabi Daud alaihisallam lebih memiliki fadhilah (keutamaan) nya bila dibandingkan oleh Puasa Sunnah Ayyamul Bidh. Ini akan terdapat pembahasannya tersendiri. Insya Allah
Dan jika seseorang memang telah rutin menjalankan Puasa Sunnah Nabi Daud alaihisallam, maka hal yang lebih utama dan diuatamakan bagi dirinya adalah tetap merutinkan Puasa Nabi Daud alaihisallam tanpa menjalankan Puasa-Puasa Sunnah yang lainnya, kecuali jika ia memang tidak rutin atau Puasa Nabi Daud alaihisallam bukan suatu amalan yang ia rutinkan, maka Puasa Ayyamul Bidh lebih utama dan diuatamakan bagi dirinya.

  • Puasa Daud merupakan puasa Sunnah terbaik dan yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Telah bercerita kepada kami Qutaibah bin Sa’id : telah bercerita kepada kami Sufyan dari ‘Amru bin Dinar dari ‘Amru bin Aus ast-Tasaqafiy, dia mendengar ‘Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku,

Puasa yang paling Allah cintai adalah puasa Nabi Daud ‘alaihisallam, yaitu dia berpuasa satu hari dan berbuka satu hari dan shalat yang paling Allah sukai adalah shalatnya Nabi Daud ‘alaihisallam pula, yaitu dia tidur hingga pertengahan malam lalu bangun mendirikan shalat pada sepertiga malam dan tidur lagi di akhir seperenam malamnya.
( HR. Bukhari no. 1063, 3167 | Fathul Bari no. 1131, 3420, Muslim no. 1969. 1970 | Syarh Shahih Muslim no. 1159, Abu Dawud no. 2092 | no. 2448, Tirmidzi no. 701 | no. 770, Nasa’i no. 1612, 2304, 2347 | no. 1630, 2344, 2388, Ibnu Majah no. 1702 | no. 3420, Darimi no. 1687 | no. 1798 dan Ahmad no. 6203, 6248, 6499. Lafazh dan sanad
Bukhari no. 31667 | Fathul Bari no. 3420)



Sebagian ulama berpendapat, diantara aturan puasa Daud yang perlu diperhatikan, bahwa seseorang yang telah merutinkan puasa Daud maka dia tidak diperbolehkan melakukan puasa sunnah yang lainnya karena tidak ada Puasa Sunnah yang lebih utama daripada Puasa Sunnah Nabi Daud alaihisallam.



Diantara dalilnya yang menunjukkan hal ini bahwa tidak ada Puasa Sunnah yang lebih utama daripada Puasa Sunnah Nabi Daud alaihisallam adalah riwayat yang menceritakan tentang rencana puasa sunnah tiap hari yang hendak dilakukan Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu

Telah bercerita kepada kami Yahya bin Bukair : telah bercerita kepada kami Al Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihab bahwa Sa’id bin Al Musayyab dan Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman mengabarkan kepadanya bahwa ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al Ash radhiyallahu ‘anhu berkata : Disampaikan kabar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa aku berkata : “Demi Allah, sungguh aku akan berpuasa sepanjang hari dan sungguh aku akan shalat malam sepanjang hidupku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya (‘Abdullah bin ‘Amru) : Benarkah kamu yang berkata :”Sungguh aku akan berpuasa sepanjang hari dan sungguh aku pasti akan shalat malam sepanjang hidupku ?” Kujawab : “Demi bapak dan ibuku sebagai tebusannya, sungguh aku memang telah mengatakannya.” Maka Beliau berkata: “Sungguh kamu pasti tidak akan sanggup melaksanakannya. Akan tetapi berpuasalah dan berbukalah, shalat malam dan tidurlah dan berpuasalah selama tiga hari dalam setiap bulan karena setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa dan itu seperti puasa sepanjang tahun.” Aku katakan : “Sungguh aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah”. Belau berkata : “Kalau begitu puasalah sehari dan berbukalah selama dua hari.” Aku katakan lagi : “Sungguh aku mampu yang lebih dari itu”. Beliau berkata,
“Kalau begitu puasalah sehari dan berbukalah sehari, yang demikian itu adalah puasa Nabi Allah Daud ‘alaihisallam yang merupakan puasa yang paling utama.” Aku katakan lagi : “Sungguh aku mampu yang lebih dari itu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Tidak ada puasa yang lebih utama dari itu.”

(- HR. Bukhari no. 3165 | Fathul Bari no. 3418)




Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil : telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah telah mengabarkan kepada kami Al Awza’iy berkata : telah menceritakan kepada saya Yahya bin Abu Katsir berkata : telah menceritakan kepada saya Abu Salamah bin ‘Abdurrahman berkata, telah menceritakan kepada saya ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al Ash radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku : “Wahai ‘Abdullah, apakah benar berita bahwa kamu puasa seharian penuh lalu kamu shalat malam sepanjang malam ?” Aku jawab : “Benar, wahai Rasulullah.” Beliau berkata : “Janganlah kamu lakukan itu, tetapi shaumlah dan berbukalah, shalat malamlah dan tidurlah, karena untuk jasadmu ada hak atasmu, matamu punya hak atasmu, isterimu punya hak atasmu dan isterimu punya hak atasmu. Dan cukuplah bagimu bila kamu berpuasa selama tiga hari dalam setiap bulan karena bagimu setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa dan itu berarti kamu sudah melaksanakan puasa sepanjang tahun seluruhnya.” Maka kemudian aku meminta tambahan, lalu Beliau menambahkannya. Aku katakan : “Wahai Rasulullah, aku mendapati diriku memiliki kemampuan.” Maka Beliau berkata,
Berpuasalah dengan puasanya Nabi Allah Daud alaihissalam dan jangan kamu tambah lebih dari itu.
Aku bertanya : “Bagaimanakah itu cara puasanya Nabi Allah Daud ‘alaihisallam ?” Beliau menjawab : “Dia (Daud ‘alaihisallam) berpuasa setengah dari puasa Dahr (puasa sepanjang tahun), caranya yaitu sehari puasa dan sehari tidak”. Di kemudian hari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash radliallahu ‘anhuma berkata : “Aduhai, seandainya dahulu aku menerima keringanan yang telah diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”

– HR. Bukhari no. 1839 | Fathul Bari no. 1975



Bahkan Ibnu Hazm rahimahullah berpendapat bahwa orang yang melaksanakan puasa Sunnah lebih dari rutinitas puasa Daudnya maka dia tidak mendapat pahala untuk puasa tambahan yang dia lakukan.
Ibnu Hazm rahimahullah berkata,“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa tidak ada yang lebih afdhal dibandingkan puasa Daud, maka kesimpulan yang benar bahwa orang yang berpuasa lebih dari puasa Daud, telah menggugurkan nilai afdhalnya. Dan jika menggugurkan nilai afdhalnya, berarti tambahan puasa yang dia lakukan menjadi gugur tanpa ragu lagi. Sehingga menjadi amal yang tidak berpahala. Bahkan ini mengurangi pahalanya. Sehingga puasa semacam ini sama sekali tidak halal.”

– Al Muhalla, IV/432



Berdasarkan keterangan di atas, bagi yang sedang menjalani Puasa Sunnah Nabi Daud alaihisallam, rutinkan puasa terbaik ini secara istiqamah, dan tidak perlu memikirkan Puasa Sunnah yang lainnya. Sekalipun tidak mendapatkan kesempatan puasa-puasa Sunnah lainnya, Karena jika orang yang menjalankan Puasa Sunnah Nabi Daud alaihisallam masih memikirkan puasa lainnya, akan mengganggu rutinitas Puasa Sunnah Nabi Daud alaihisallam yang dirutinkan olehnya. Allahu A’lam.

Kedua, Kalau sudah puasa Daud bolehkah bolos satu hari misal waktunya puasa tapi gak puasa karena cuma di undang makan-makan sama teman ?


Sebagaimana sudah dijelaskan keutamaan Puasa Nabi Daud alaihisallam di atas, maka sungguh sayang sekali jika memutusnya hanya 1 hari meskipun seseorang diperbolehkan untuk membatalkan Puasa Sunnah sekalipun tidak udzur padanya.

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan : telah menceritakan kepada kami Abu Daud : telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dia berkata : saya pernah mendengar Simak bin Harb berkata, salah seorang cucu Ummu Hani’ yang bernama Ja’dah telah menceritakan kepadaku dan Ummu Hani’ adalah neneknya, maka neneknya telah menceritakan kepadaku bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam datang ke rumahnya dan meminta air lalu meminumnya, kemudian beliau menyodorkan kepadanya lalu dia meminumnya, dia (Ummu Hani’ radhiayallahu ‘anha) berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya sedang berpuasa, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Orang yang berpuasa sunnah lebih berhak atas dirinya, jika ingin maka boleh membatalkan atau menyempurnakan puasanya.”

– HR. Tirmidzi no. 664 | no. 732 dan Ahmad no. 26117. Lafazh dan sanad di atas milik Tirmidzi



Terlebih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membenci dan mencela perbuatan seseorang yang meninggalkan amalan sunnah yang telah menjadi amalan rutin yang dikerjakan oleh seseorang

Telah menceritakan kepada kami ‘Abbas bin Al Husain : telah menceritakan kepada kami Mubasysyir bin Isma’il dari Al Awza’iy dan diriwayatkan telah menceritakan kepada saya Muhammad bin Muqatil Abu Al Hasan berkata : telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah : telah mengabarkan kepada kami Al Awza’iy berkata, telah menceritakan kepada saya Yahya bin Abu Katsir berkata, telah menceritakan kepada saya Abu Salamah bin ‘Abdurrahman berkata, telah menceritakan kepada saya ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepadaku,
Wahai ‘Abdullah, janganlah kamu seperti fulan, yang dia biasa mendirikan shalat malam namun kemudian meninggalkan shalat malam.”

– HR. Bukhari no. 1084 | Fathul Bari no. 1152, Muslim no. 1965 | Syarh Shahih Muslim no. 1159, Ibnu Majah no. 1321 | no. 1331, Nasa’i no. 1742, 1743 | no. 1763, 1764 dan Ahmad no. 6296. Lafazh dan sanad di atas milik Bukhari



✅ Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah (wafat 872 H) berkata, “Dapat diambil istinbath hukum dari hadits ini terhadap makruh (terlarang) nya memutus ibadah yang rutin dikerjakan meskipun ibadah itu tidak wajib.”
– Fathul Bari, III/38

Adapun hanya diundang makan-makan, adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kepada umatnya bahwasannya memang wajib menghadiri undangan selama di dalamnya tidak terdapat kemungkaran seperti ikthilath, ghibah, atau hal-hal yang diharamkan secara Syariat, meskipun tidak makan.



Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna : telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi. Dan diriwayatkan dari jalur lain : telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair : telah menceritakan kepada kami ayahku, dia berkata : telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Az Zubair dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Jika kalian diundang ke jamuan makan, hendaknya ia mendatanginya, jika ia menghendaki, silakan makan, dan jika ia tidak menghendaki, ia boleh meninggalkannya.”

– HR. Muslim no. 2583 | Syarh Shahih Muslim no. 1430, Abu Dawud no. 3249 | no. 3740, Ibnu Majah no. 1741 | no. 1751 dan Ahmad no. 1464. Lafazh dan sanad di atas milik Muslim



Sementara untuk Puasa Sunnah yang telah menjadi amalan rutinnya maka seseorang tidak harus membatalkannya bahkan tetap dibolehkan untuk mempertahankan Puasa Sunnah yang telah menjadi amalan rutinnya.



Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Amru An Naqid dan Zuhair bin Harb mereka berkata : telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Abu Zinad dari Al A’raj dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, -Abu Bakr bin Abu Syaibah berkata- dan telah berkata Amru hingga sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam -sementara Zuhair berkata- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

Apabila salah seorang dari kalian diundang makan padahal ia sedang berpuasa, maka hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya, saya sedang berpuasa.”

– HR. Muslim no. 1940 | Syarh Shahih Muslim no. 1150, Abu Dawud no. 2105 | no. 2461, Ibnu Majah no. 1740 | no. 1750, Tirmidzi no. 712 | no. 781, Darimi no. 1674 | no. 1778 dan Ahmad no. 7003. Lafazh dan sanad di atas milik Muslim




Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna berkata : telah menceritakan kepada saya Khalid dia adalah anak Al Harits : telah menceritakan kepada kami Humaid dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu : Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang menemui Ummu Sulaim, kemudian Ummu Sulaim menyuguhkan kurma dan mentega untuk Beliau. Beliau berkata,

Simpanlah mentega-mentega kalian untuk suguhan minuman dan kurma-kurma kalian untuk makanannya karena aku sedang berpuasa.”

Kemudian Beliau berdiri di pojok rumah mengerjakan shalat sunnat. Setelah itu Beliau memanggil Ummu Sulaim dan anggota keluarga lainnya. Ummu Sulaim berkata : “
Wahai Rasulullah, aku mempunyai permintaan sederhana.” Beliau bertanya : “Apa itu ?” Ummu Sulaim berkata : “Pelayan anda itu, Anas, dia tidak pernah meninggalkan kebaikan akhirat sekalipun dan urusan dunianya kecuali dia minta kepadak.” Maka Beliau berdo’a : “Ya Allah, karuniakanlah dia harta dan anak-anak dan berilah dia keberkahan didalamnya.” Setelah itu aku menjadi orang yang paling banyak hartanya di kalangan Kaum Anshar. Dan telah menceritakan kepada saya putriku Umainah : “Setelah itu dia memiliki anak dari sulbiku, yang ketika kedatangan Hajjaj di Bashrah, telah dikuburkan sekitar sebanyak seratus dua sembilan puluh orang.”- HR. Bukhari no. 1846 | Fathul Bari no. 1982



✅ Dan mendoakan kebaikan seluruh orang yang terdapat dalam undangan makan tersebut

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Ghiyats dari Hisyam dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Jika salah seorang dari kalian diundang, hendaknya ia penuhi undangan tersebut, jika ia sedang berpuasa, maka hendaklah ia mendo’akannya, dan jika ia sendang tidak berpuasa, hendaknya ia memakannya.
– HR. Muslim no. 2584 | Syarh Shahih Muslim no. 1451, Abu Dwud no. 2104 | no. 2460, Tirmidzi no. 711 | no. 780 dan Ahmad no. 7422, 9956. Lafazh dan sanad di atas milik Muslim

  • Karena doa yang sedang berpuasa tidaklah tertolak dalam arti pasti dikabulkan


Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad berkata : telah menceritakan kepada kami Waki’ : dari Sa’dan Al Juhani : dari Sa’d Abu Mujahid Ath Tha’i -ia seorang yang dapat dipercaya- dari Abu Mudillah – ia juga seorang yang dapat dipercaya- dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Ada tiga orang yang tidak akan ditolak doanya : imam yang adil, orang yang berpuasa hingga berbuka dan doa orang yang teraniaya.

– HR. Ibnu Majah no. 1742 | no. 1752, Tirmidzi no. 3522 | no. 3598 dan Ahmad no. 9366. Lafazh dan sanad di atas milik Ibnu Majah


Telah menceritakan kepada kami Waki’, dia berkata : telah menceritakan kepada kami Sa’dan Al Juhani : dari Sa’d Abu Mujahid Ath Tha`i : dari Abu Mudillah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seorang yang berpuasa tidak akan ditolak doanya.”

– HR. Ahmad no. 9793. Isnadnya Shahih

  • Ketiga, Jadi Puasa Daud Hari Senin, Rabu, Jum’at, Ahad atau bagaimana, bukannya hari Jum’at tidak boleh puasa sebelum puasa sebelum hari itu atau hari setelahnya ?


Maksud dari larangan berpuasa Hari Jum’at tanpa dibarengi puasa sebelumnya atau setelahnya adalah mengkhususkan waktunya untuk melakukan Puasa pada Hari Jum’at yang menyendiri harinya.

Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafsh bin Ghiyats telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Al A’masy telah menceritakan kepada kami Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Janganlah seorang dari kalian berpuasa pada hari Jum’at kecuali dibarengi dengan satu hari sebelum atau sesudahnya.”

– HR. Bukhari no. 1849 | Fathul Bari no. 1985, Muslim no. 1929 | Syarh Shahih Muslim no. 1144, Abu Dawud no. 2067 | no. 2420, Tirmidzi no. 674 | no. 743 dan Ahmad no. 10021. Lafazh dan sanad di atas milik Bukhari



Telah menceritakan kepada kami Amru An Naqid : telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Abdul Hamid bin Jubair dari Muhammad bin Abbad bin Ja’far, ia berkata : saya bertanya kepada Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu saat ia melakukan thawaf, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk berpuasa di Hari Jum’at ?” Maka ia pun menjawab,
Ya, dan Rabbnya Ka’bah (Allah) juga melarang.”
– HR. Muslim no. 1928 | Syarh Shahih Muslim no. 1143, Ibnu Majah no. 1714 | no. 1724 dan Darimi no. 1683 | no. 1789. Lafazh dan sanad di atas milik Muslim

Adapun jika bertepatan dengan Puasa Sunnah yang dirutinkannya, seperti Puasa Sunnah Nabi Daud alaihisallam atau Puasa Sunnah lainnya, maka tidak masalah untuk berpuasa pada Hari Jum’at



Telah menceritakan kepadaku Abu Kuraib : telah menceritakan kepada kami Husain yakni Al Ju’fani dari Za`idah dari Hisyam dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,
Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum’at dengan shalat malam di antara malam-malam yang lain, dan jangan pula dengan puasa, KECUALI memang bertepatan dengan hari puasanya.”

– HR. Muslim no. 1930 | Syarh Shahih Muslim no. 1144


Telah menceritakan kepada kami ‘Affan : telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah berkata; telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Umair dari seorang laki-laki bani Al Harits bin Ka’ab berkata : Aku duduk di samping Abu Hurairah, lalu datanglah seorang laki-laki seraya bertanya : “Wahai Abu Hurairah, apakah engkau telah melarang berpuasa pada Hari Jum’at ?” Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : Tidak, Demi Allah, akan tetapi aku, Demi Allah, telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Sekali-kali janganlah kalian berpuasa pada Hari Jum’at KECUALI jika itu adalah hari-hari yang ia harus berpuasa.”
Lalu datang seseorang lagi dan bertanya : “Wahai Abu Hurairah, apakah engkau telah melarang orang-orang shalat dengan mengenakan sandal ?” Abu Hurairah berkata : “Tidak, demi Allah, akan tetapi aku, demi Allah, telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di tempat ini, sedang beliau mengenakan sandalnya, lalu beliau pergi dan tetap memakainya, semoga Allah bershalawat atasnya.”

HR. Ahmad no. 9089. Isnadnya Shahih. Semua perawinya digunakan oleh Bukhari dan Muslim



Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah berkata,“Dimakruhkan (dilarang) menyendirikan puasa pada hari Jum’at saja kecuali jika bertepatan dengan kebiasaan berpuasa. Seperti berpuasa Daud, yaitu sehari berpuasa sehari tidak, lalu bertepatan dengan hari Jum’at atau bertepatan dengan kebiasaan puasa di awal, akhir atau pertengahan bulan
– Al Mughni, III/ 53

Allahu A’lam Bishawab

Ditulis oleh Atha bin Yussuf

WAG Al Ikhwanul As Sunnah

= ~~~ [lanjut ke halaman 2] ~~~

Iklan