Fenomena Asal Nge-Gas dan Bedakan Fanatik Person Tertentu Dengan Membela KehormatanSesama Muslim.

 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Penuntut Ilmu dan Orang Awam Lebih Baik Tidak Ikut Ikutan Dalam Perselisihan Ulama

2.Pembully Bisa Dituntut Di Akhirat

3. Tidak Boleh Mengejek Ketergelinciran Ulama

4.Macam-Macam Ikhtilaf (Perselisihan Pendapat Ulama)

5.Menyikapi Perbedaan Pendapat Ulama

6.Penjelasan Hadits: “Siapa Yang Mendatangi Penguasa Ia Akan Terfitnah

7.Wanita Yang Taat Kepada Suami AkanMasuk Surga

8.Hukum Mengunjungi Pameran.Peninggalan Rasul

9.Kapan Dibolehkanya Mengangkat Telunjuk?

10.Kelembutan Dalam Berdakwah

=

Pem- bully Bisa Dituntut di Akhirat-Konsultasisyariah /

Lembutnya Dakwah Ahlu Sunnah-Ust Ali Musri

Lembutnya Sikap Ahlu Sunnah-Ust Zainal Abidin Samsudin

Tidak Semua Prasangka itu Dilarang?- Konsultasisyariah

Larangan Mencari-Cari Kesalahan, Berburuk Sangka dan Rakus-Ust Badrusalam

Tajassus ( Mencari Kesalahan Orang Lain)-Ust.Abu IhsanAl-Atsary /

==

Catatan Dosa Tidak Terhapus Meskipun Sudah Bertaubat -Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc, M.A..webm

Dunia Ust. Syariful Mahya Lubis, Lc, MA.webm

Persen Bunga Bank di Jepang Ust. Dr. Erwandi Tarmizi

Penjelasan Lengkap Tentang Pajak – Ust. Dr. Erwandi Tarmizi, MA.webm

Orang Beriman Dihadapan Dosa-Ustadz Syarif Mahya Lubis.webm

Ust. Syariful Mahya, Lc MA Sabar dan Taqwa.webm

Rekaman Kajian Kamis Sore – Andai ini Sholat Terakhirku Oleh Ustadz Hasyim Ikhwanuddin

Syirik Adalah Dosa Yang Tidak DiAmpuni-Syaikh ‘Abdurrazzaq bin’Abdil Muhsin Al-Badr

Syubhat dan Syahwat-Ust Syariful Mahya Lc MA.webm 

=~WebM Diputar Dgn App Mx Player~

  • Kajian Dibatalkan Karena Dibully dan Sikap Ulama Terhadap Para Pejabat, Tokoh Politik, Konglomerat, Orang-Orang Kaya

 

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

KAJIAN AHAD PON 24 MARET 2019, 07.00 – 10.00 WIB yang akan dihadiri Sandiaga Uno: DIBATALKAN karena satu dan lain hal.

Silakan sebar info ini.

—-

  • PRESS RELEASE

1. Kajian Ahad Pon 24 Maret 2019 adalah kajian rutin bersama PCM dan PCA Panggang Gunungkidul.

2. Kedatangan Pak Sandiaga Uno hanyalah sebagai tamu atas permintaan jamaah Gunungkidul yang notabene Muhammadiyah.

3. Pada tanggal tersebut secara aturan Panwaslu tidak boleh Pak Sandiaga Uno berkampanye dan berorasi karena 24 Maret 2019 giliran Paslon #01 di zona DIY. Sedangkan Paslon #02 di wilayah Jawa Tengah. Beliau hanya hadir sebagai pakar dalam bidangnya.

Jika ketahuan berkampanye pasti kena teguran dari Panwaslu karena acara ini sudah diketahui sampai tingkat nasional.

4. Kalau ada yang aneh pada saudara kita, itulah membuatnya cepat viral tanpa mau tabayyun, yang ada pintar membully dan suuzhon. Walhamdulillah yang dibully dapat pahala terus, yang membully siap-siap tanggung beban dosa hingga kiamat kalau tak mau bertaubat.

5. Info kajian 24 Maret 2019 sebenarnya hanya disebar di empat group kajian Darush Sholihin. Namun gitulah kalau kajian yang hangat dan enak dibully, makanya jadi viral. Kalau info nasihat atau donasi Rumaysho lainnya pasti tak viral seperti ini.

6. Selama dibully oleh pihak yang tidak suka, walhamdulillah sudah jadi satu buku “24 Jam di Bulan Ramadhan” yang diterbitkan Rumaysho dan akan segera dibagi gratis kepada khalayak ramai.

Setiap kita akan dituntut pada hari kiamat apalagi terkait menjatuhkan aib saudara kita.Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Jumat pagi, 15 Rajab 1440 H

_______________________________________

➡ Tanggapan :

Ternyata banyak diantara kita yang baru sebatas pengakuan saya Salafiy, saya Ahlus Sunnah wal Jama’ah namun jauh panggang dari api dalam hal praktek dan pengamalan utamanya akhlak yaitu berprasangka baik kepada sesama Ahlus Sunnah apalagi kepada seseorang yang dikenal da’i Ahlus Sunnah yang berjuang melawan kesyirikan, bid’ah dan khurafat.

Wallaahi, seorang Salafiy, Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak butuh sebatas pengakuan namun yang terpenting ialah pengamalan.

  • Apa sifat yang paling menonjol dari seorang Ahlus Sunnah?

Ya, mereka berda’wah dengan lemah lembut dan mendahulukan prasangka baik serta berkasih sayang diantara sesamanya apalagi ia dikenal sebagai da’i Ahlus Sunnah.

Al-Hasan al-Bashri رحمه الله تعالىٰ berkata,

Wahai Ahlus Sunnah, berlaku baik (berlemah-lembutlah)! Semoga Allah memberikan rahmat kepada kalian. Karena sesungguhnya kalian adalah golongan yang paling sedikit dari kalangan manusia.” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Lalika’i dalam Syarh Ushuuli I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, I/57, no. 19)

Sufyan Ats-Tsauri رحمه الله تعالىٰ berkata,

Berwasiatlah kepada Ahlus Sunnah dengan kebaikan, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang terasingkan.” (Syarh Ushuul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah, I/64, no. 49)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله تعالىٰ berkata, “Ahlus Sunnah ialah orang-orang yang paling tahu akan kebenaran lagi paling sayang terhadap makhluk.” (Minhajus Sunnah, V/158)

Semoga Allah تبارك و‏تعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq.

Oleh: Abu ‘Aisyah Aziz Arief_

=

  • Sikap ulama, ustadz, da’i terhadap para pejabat, tokoh politik, konglomerat, orang-orang kaya

Bukan menjauh secara mutlak dan bukan juga mendekat secara mutlak. Simak penjelasan Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy Syaikh berikut ini:

Diantara adab ulama dan penuntut ilmu adalah menahan diri untuk tidak dekat-dekat dengan para raja (pemimpin) dan abna-ud dunya (pejabat, tokoh politik, orang-orang kaya). Berusaha tidak terlibat dengan mereka selama ada celah untuk lari dari mereka. UNTUK MENJAGA ILMU, sebagaimana dilakukan oleh para salaf radhiallahu ta’ala ‘anhum.

Ulama atau penuntut ilmu yang melakukan hal itu (terlibat dengan mereka) maka ia telah menyerahkan dirinya pada sesuatu yang tidak akan ia sanggupi, dan ia mengkhianati amanahnya (untuk menyampaikan al haq), karena ilmu adalah amanah baginya.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (QS. Al Anfal: 27).

Namun jika ADA KEBUTUHAN, atau DARURAT atau ada MASLAHAT AGAMA yang lebih kuat dari mafsadah-nya, dan disertai dengan niat yang lurus, maka tidak mengapa insya Allahu ta’ala.

Pada kemungkinan inilah kita memaknai perbuatan sebagian salaf yang mendatangi raja-raja dan ulil amri. Bukan karena mereka mencari tujuan-tujuan duniawi dengan hal itu, camkanlah itu!”(Mukhtashar Al Mu’lim bi Adabil Mu’allim wal Muta’allim, 41).

Ilmu syar’i itu mulia, majelis ilmu syari itu tinggi dan agung, jangan direndahkan dengan tujuan-tujuan duniawi seperti untuk mencari harta dunia atau mencari kedudukan.

Nasehat ini umum, terutama untuk kami sendiri, untuk anda dan untuk kita semua. Semoga Allah memberi taufik

  • KETIKA ORANG AWAM IKUT KOMENTAR

✅ Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy Syaikh*) mengatakan:

Bahkan andaikan dua orang ulama berselisih pendapat. Antara ulama dengan ulama terkadang terjadi permusuhan. Dan kadang terlontar kritikan dan celaan yang keras. Namun bisa jadi ulama yang pertama ma’dzur (diberi udzur oleh syariat) dan ulama yang kedua terkadang ma’dzur.

Adapun jika anda (orang awam) ikut-ikutan bicara dengan perkataan yang rusak, maka anda membinasakan diri anda sendiri”.

(Mukhtashar Al Mu’lim bi Adabil Mu’allim wal Muta’allim, hal. 21)

*) beliau adalah ulama besar, ketua Al Lajnah Ad Daimah yang pertama, rektor UIM yang pertama dan yang mendirikan Hai’ah Kibaril Ulama.

Oleh: Yulian Purnama

==

  • Adab Menasehati


Asatidzah Jogja punya cara sendiri untuk saling menasehati diantara mereka. Tidak diranah publik, pake adab dan bahasa yg santun, mengutamakan pertemuan langsung atau minimal via telp.

Karena nasehat & kritik itu harus bersiiih dari kebencian, hasad dan menjatuhkan. Karena nasehat itu adl semata.menginginkan kebaikan pada org yg kita nasehati. Karena nasehat itu hanyalah perbaikan yg kita tuju.

Wallohu a’lamu bis showab

Oleh: Khanif Muslim

=

JANGANLAH PARA DA’I LUPA ATAU PURA-PURA LUPA TERHADAP SABDA NABI -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- BERIKUT INI:

…. ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏَ ﺍﻟﺴُّﻠْﻄَﺎﻥِ؛ ﺍﻓْﺘُﺘِﻦَ، ﻭَﻣَﺎ ﺍﺯْﺩَﺍﺩَ ﻋَﺒْﺪٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴُّﻠْﻄَﺎﻥِ ﻗُﺮْﺑًﺎ،؛ﺇِﻻَّﺍﺯْﺩَﺍﺩَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺑُﻌْﺪًﺍ

“…dan barangsiapa yang mendatangi pintu-pintu penguasa/pemerintah; maka dia akan terkena fitnah, dan tidak bertambah kedekatannya dengan penguasa/pemerintah; melainkan dia akan bertambah jauh dari Allah.” Sanadnya Hasan: HR. Ahmad (no. 8822 dan 9646- cet. Daarul Hadiits) dan Ibnu ‘Adi dalam Al-Kaamil (I/318- cet. Daarul Fikr),.dan sanadnya di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah.Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah (no. 1272)

Imam Al-Munawi berkata:

Hal itu dikarenakan: orang yang masuk kepada mereka (para penguasa/pemerintah):

– bisa jadi dia akan tertarik dengan kenikmatan yang ada pada mereka; sehingga dia akan meremehkan nikmat yang Allah berikan kepada dirinya,

– atau dia akan meremehkan pengingkaran terhadap (kezhaliman) mereka -padahal (pengingkaran) itu adalah wajib-; sehingga dianakan menjadi orang yang fasik.”[Faidhul Qadiir Syarh Al-Jaami’ Ash-Shagiir (VI/94- cet. DaarulMa’rifah)]

Oleh: Ahmad Hendrix Eskanto

=

  • FENOMENA ASAL NGE-GAS…


Mengetahui benar dan salah itu belum cukup untuk membuat lisan kita boleh “njeplak bicara”

Akan tetapi kita harus mengetahui “apakah ucapan itu bermaslahat ataukah bermafsadat???”

Apakah statement kita Menciptakan kemaslahatan ataukah malah menyulut api permusuhan????

Perhatikan nasehat ulama, syaikh Sulaiman Ar-Ruhali hafizahullah berkata: Di antara fiqh menghadapai zaman fitnah: Sesungguhnya keyakinan harus dibangun di atas ilmu, sedangkan ucapan dan penjelasan (kepada ummat) harus dibangun di atas kemaslahatan.

Maka seorang muslim harus meyakini apa yang ditunjukkan oleh dalil dan apa yang ditetapkan oleh para ulama, adapun ucapan dan penjelasan kepada ummat maka harus didasarkan pada kemaslahatan.

Maka tdk disyariatkan bagi seorang muslim untuk mengucapakan setiap apa yang dia ilmui, akan tetapi dia harus menimbang, jika dg mengucapkannya ada kemaslahatan maka dia mengucapkannya, namun jika menurut maslahat, perkara tersebut harus diakhirkan maka diapun harus mengakirkannya dan menunda untuk mengatakannya.[Fiqh al-Fitan, Sulaiman Ar-Ruhaily: 40-41]

Ustadz Fadlan Fahamsyah

=

  • Definisi Ashobiyyah Jahiliyyah.

Kelompok di sini juga mencakup suporter sepak bola, majelis taklim, teman satu pengajian dll

Membela kelompok/golongan/ormas/partai/suku walaupun salah itulah hizbiyyah

✅ Dari Watsilah bin Al Asqa’, ia mengatakan:

ﺳﺄﻟْﺖُ ﺭﺳﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠَّﻢَ، ﻓﻘﻠْﺖُ: ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ، ﺃَﻣِﻦَ ﺍﻟﻌﺼَﺒﻴَّﺔِﺃﻥْ ﻳُﺤِﺐَّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻗَﻮﻣَﻪ؟ ﻗﺎﻝ: ﻻ، ﻭﻟﻜﻦْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻌﺼَﺒﻴَّﺔِ ﺃﻥْ ﻳَﻨﺼُﺮَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻗَﻮﻣَﻪ ﻋﻠﻰﺍﻟﻈُّﻠْﻢِ

Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “wahai Rasulullah apakah termasuk ashabiyyah (fanatik golongan)jika seseorang mencintai kaumnya?”. Nabi menjawab: “Tidak demikian, namun ashabiyyah itu kalau dia membela kaumnya yang berbuat kezaliman”” (HR. Ahmad no.16989, dihasankan Syu’aib Al Arnauth dalam Takhrij Al Musnad).

=

  • ➡Sabar dan Takwa

Orang yang berada di atas kebenaran dan tidak melakukan kesalahan lalu dizhalimi oleh orang yang menzhaliminya seperti tahdzîr tidak pada tempatnya dan tidak melakukan sesuatu yang mewajibkan tahdzir atau ditabdii’ padahal tidak melakukan bid’ah atau bahkan dikafirkan padahal tidak melakukan kekufuran maka jalan keluarnya adalah sabar dan takwa, demikian pula jika diganggu oleh orang yang bodoh seperti gangguan supporter yang berisik atau cheerleader yang pecicilan maka kuncinya adalah sabar dan takwa.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah untuk menjelaskan hal tersebut berdalil dengan QS Ali Imran : 120 dan dalil tanbih dari ayat QS Ali Imran : 186, apakah itu dalil tanbih silakan pelajari Ushul Fiqh.

Oleh: Ust Variant Ghani Hirma

==

  • Adab dan Ilmu

 

Saya lebih membutuhkan banyak adab dari ilmu. Karena dangkalnya adab saya, seringkali lisan dan tangan ini membully para da’i dan ulama. Satu kesalahan mereka seakan menghapuskan seratus kebaikan yang dimiliki.

Saya belum hafam kedudukan da’i di sisi Allah dan di tengah umat. Kalau bukan karena mereka, tentu terangnya siang bagaikan malam yang gelap gulita.

Yaa Raab.. Ampuni kami karena sering kali mendzalimi penerus utusanMu.

Oleh: Abu Naayif Iqbal

==

  • Prasangka Baik

 


Bukan hanya) logika (tapi juga prasangka baik) yang digunakan, tentu bukan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang berinisiatif mengundang Pak Sandiaga Salahuddin Uno, dan kita ketahui itu adalah kajian yang dimotori oleh saudara-saudara kita dari Muhammadiyah, apalagi ada yang ngeramal bahwa pasti kajiannya membahas masalah politik, bahkan ada ajakan untuk memboikot Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal karena sudah dinilai menyimpang, saya tidak mengerti cara berpikir orang-orang model seperti itu.

Kalaupun benar akhirnya kajian itu terselenggara (tapi ternyata tidak), toh posisi Pak Sandiaga Salahuddin Uno disana adalah sebagai praktisi yang memang beliau adalah berlatar belakang sebagai pengusaha, sedangkan Ustadz Muhammad Abduh membahas dari sisi hukum syar’inya, pada dasarnya penilaian kita terhadap Ustadz Muhammad Abduh adalah bisa jadi dilatar belakangi sentimen atau hasad karena beliau masih muda sudah lebih dalam ilmunya daripada kita atau ustadz kenalan kita.

Saya mengenal beliau dulu tahun 2005 atau 2006, saat itu saya datang ke kost teman di Jogja, kebetulan kostnya bersebelahan dengan kos Ustadz Muhammad Abduh. Beliau حفظه الله تعالىٰ saya lihat banyak menghabiskan waktunya dengan membaca kitab, hampir jarang ngobrol kesana kemari, makanya saya rasa kegigihan beliau dalam belajar, wajar menjadikan beliau kini menjadi da’i yang cukup sukses di usianya yang terbilang masih muda.

__________________

Copas :

Akhuna Sucipto Hadi Saputro

____________________________

➡ Tanggapan :

Sebagaimana kita tidak boleh ‘meramal’ dengan ditakut-takuti PKI, Syi’ah, Liberal berkuasa lantas disisi yang lain mengapa kita ‘meramal’ itu kajian membahas politik? Sementara kajiannya saja belum berlangsung.

Standar ilmiahnya dimana? atau justru kita mempunyai standar ganda dalam menilai dan menghukumi?

Semoga Allah تبارك و‏تعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq.

=

  • Mengekor Ahlu Bid’ah

Kita menolak argumentasi cara strawman dari saudara-saudara kita di kalangan ahlul bida’ wal ahwa’, namun sadar atau pun tidak ada diantata kita yang mengekor (baca : mengikuti) cara mereka dalam beragumentasi apalagi itu ditujukan kepada sesama Ahlus Sunnah, Allaahul Musta’aan.

Dikatakan oleh ahlul bida’ bahwa kita membenci shalawatan, hanya karena kita tidak membenarkan cara mereka di dalam bershalawat yang menyelisihi sunnah dan petunjuk Rasulullah ﷺ.

Dikatakan oleh ahlul bida’ bahwa kita tidak mencintai Rasulullah ﷺ, hanya karena tidak membenarkan perbuatan bid’ah mereka dalam maulid.

Kita menolak argumentasi mereka, bahwasanya itu dusta dan bathil. Kita tidak membenci shalawatan, kita juga mencintai Rasulullah ﷺ namun dengan cara yang benar. Karena sesungguhnya yang kita ingkari adalah cara mereka yang menyelisihi Rasulullah ﷺ dalam beribadah bukan membenci ibadah itu sendiri.

Lantas, ada bahkan nyata sebagian dari kita yang ngekor beragumentasi dengan model strawman seperti yang saudara-saudara kita lakukan dari kalangan ahlul bida’ dalam ‘menyerang’ da’wah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahkan sampai menuduh dengan tuduhan dusta kepada seorang da’i Ahlus Sunnah sementara dia lupa akan siapa dirinya… apa yang sudah ia berikan untuk Islam dan kaum muslimin.

Jelas, ini adalah majelis ‘ilmu bukan kampanye seperti yang dikatakan sebagian orang, sebab ada syarat yang ditentukan.

Lantas, apakah sikap seperti ini mencerminkan sikap seorang Ahlus Sunnah? Atau memang selama ini kita hanya sebatas pengakuan semata?

Semoga Allah تبارك و‏تعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq.

=

  • Membully

Kajian dibatalkan…. Namun…..

Bagaimana dengan yang sudah membully narasumber?!

Hayo…Sudah istighfar belum? Sudah minta maaf belum, sebelum dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak?

Mari sibukkan diri kita dengan ibadah dan doa

Mari kita bersikap dewasa

Mari menerapkan akhlak yang indah

Mari berhusnu dzon kepada sesama saudara

✅ Alangkah bagusnya nasihat Syaikh Ibnu ‘Utsaimin:

Hendaknya bagi para penuntut ilmu khususnya dan semua manusia umumnya untuk berusaha menuju persatuan semampu mungkin, karena bidikan utama orang-orang fāsiq dan kāfir adalah bagaimana orang-orang baik berselisih di antara mereka, sebab tidak ada senjata yang lebih ampuh daripada (adu domba agar timbul) perselisihan.”

(Syarhul Mumti’ 4/63)

=

  • ➡ [Takutlah Kamu Kepada Allah!]

Jika membaca ghibah terhadap dai Ahlus Sunnah, terlebih yang memiliki kelebihan yang tidak Allah karuniai kepada selainnya dan tidak saya mengenalinya kecuali hamba Allah yang baik, berilmu dan berakhlak…

Jika melihat beliau ditikam, apalagi oleh insan sebarisan, maka ibarat saya pun juga ditikam. Walaupun saya bukan sesiapa. Saya merasakan sakitnya. Walaupun saya bukan sesiapa. Saya tidak ingin menerimanya. Tidak ingin membacanya.

Hendaklah ghill, hiqd, dan makr, disembuhkan. Jika ada dai Ahlus Sunnah melakukan kesalahan, kita semua bersalah. Jika dai tersebut berulang melakukan kesalahan, maka kita ini apa? Alien? Malaikat?

Kullu bani Adam khaththa’.

Bahkan, dengan menghancurkan kehormatannya di hadapan banyak muridnya dan umat, bisa masuk ke seriba-ribanya riba. Boleh jadi nilai takabbur itu ada pada kita, sembari melempar tudingan beliau lah yang takabbur.

Jika ada singgungan bahwa saya tidak paham masalah, maka apakah Anda paham masalah? Yang paling mengerti tentang insan adalah ar-Rahman, kemudian insan itu sendiri, kemudian insan terdekatnya. Dan rupanya kita sama-sama jauh. Mendengar tentangnya melalui perantara demi perantara. Lalu menghakiminya. Maka bersaksilah kini, bahwa kita siap mempertanggungjawabkan ucapan kita di Akhirat. Siap?

Jika Anda katakan, “Siap!” maka di situlah rusaknya hati, takabbur dan merasa aman.

Jika Anda katakan, “Tidak siap!” lalu mengapa kita menulis sesuatu yang kita sendiri khawatir akan menyesalinya kelak?!

Jika Anda diam atau mengalihkan bicara, sambil menuding saya macam-macam, maka jangan mengenyangkan setan. Redupkan penyakit hati. Ittaqillah.

Jika nasehat ittaqillah bisa Anda bantah, maka manhaj akhlak dan keagamaan Anda sedang bermasalah.

Ittaqillah.

Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

==

  • Penyusup Ahlu Sunnah

Para penyusup di kalangan penuntut ‘ilmu yang seperti ini buanyak. Tidak lain tujuan mereka adalah untuk memecah-belah persatuan kaum muslimin utamanya adalah da’wah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah..

✅ Kenali ciri-ciri mereka seperti :

[1]. Suka mencari-cari kesalahan ustadz Ahlus Sunnah.

[2]. Suka membenturkan perkataan ustadz dengan ustadz lainnya dalam perkara ijtihadiyyah.

[3]. Ucapan (baca : komentarnya) penuh dengan kebencian dan provokasi kepada sesama Ahlus Sunnah meskipun menghiasinya dengan dalih nasihat.

Jikalau pun terpaksa harus membantah (baca : meluruskan), maka luruskanlah dengan cara yang paling baik. Bukan mencela, menghina apalagi sampai harus berkata-kata provokatif yang sejatinya itu tidak masuk pada pokok permasalahan yaitu nasihat atau memperbaiki kekeliruan, yang ini bukanlah salah satu metode da’wah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam meluruskan kesalahan saudaranya apalagi sampai harus dilempar ke sosial media, tanpa mempertimbangkan maslahat dan mafsadat orang awam dan penyusup dari kalangan ahlul bida’ wal ahwa’ masuk untuk memprovokasi.

✅ Allah ﷻ berfirman : “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

(QS. An-Nahl [16] : 125)

Dari Anas bin Malik رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata ,Rasulullah ﷺ bersabda,”Mudahkanlah dan janganlah menyusahkan (mempersulit)! Berikanlah kabar gembira, dan jangan membuat (manusia) lari.”(Shahiih, HR. Al-Bukhari, I/38, no. 69, 3038, 6124, 6125, Muslim, no. 1732, 1733, 1734, Ahmad, no. 11883, 12698, 18751, 18868, dan Abu Dawud, no. 4835)

Padahal jelas ini bukanlah prinsip da’wah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Karena da’wah ini mengajak pada tauhid dan sunnah dengan lemah lembut, apalagi ia dikenal sebagai da’i Ahlus Sunnah.

Al-Hasan al-Bashri رحمه الله تعالىٰ berkata,

Wahai Ahlus Sunnah, berlaku baik (berlemah-lembutlah)! Semoga Allah memberikan rahmat kepada kalian. Karena sesungguhnya kalian adalah golongan yang paling sedikit dari kalangan manusia.”(Diriwayatkan oleh Imam Al-Lalika’i dalam Syarh Ushuuli I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, I/57, no. 19)

Sufyan Ats-Tsauri رحمه الله تعالىٰ berkata,

Berwasiatlah kepada Ahlus Sunnah dengan kebaikan, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang terasingkan.” (Syarh Ushuul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah, I/64, no. 49)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله تعالىٰ berkata, “Ahlus Sunnah ialah orang-orang yang paling tahu akan kebenaran lagi paling sayang terhadap makhluk.” (Minhajus Sunnah, V/158)

Mungkin sebagian kita lupa bahwa salah satu tugas syaithan adalah mengadudomba dan memecah-belah barisan kaum muslimin, maka apa mungkin kita termasuk anak buah mereka?

Dari Jabir bin ‘Abdillah رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,

Rasulullah ﷺ bersabda,”Sesungguhnya syaithan telah putus asa untuk bisa disembah oleh orang-orang yang shalat di jazirah Arab, akan tetapi dia (berusaha) membuat permusuhan di kalangan kalian.” (Shahiih, HR. Muslim, no. 2812, dan at-Tirmidzi, no. 1937)

Karena itu, luruskan niat kita dalam menuntut ‘ilmu dan hindarilah pertemanan dengan akun-akun palsu provokator yang menyusup di barisan Salafiyyin.

Dari Jabir bin ‘Abdillah رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata. Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah kalian mencari ‘ilmu dengan tujuan untuk berbangga-bangga di hadapan para ‘ulamaa, membantah orang-orang bodoh, dan janganlah kalian memilih majelis untuk mencari perhatian orang. Barangsiapa yang melakukan hal itu, maka tempatnya di Neraka, di Neraka.”

(Shahiih, HR. Ahmad, II/338, Ibnu Majah, no. 252, 254, at-Tirmidzi, no. 2654, Abu Dawud, no. 3664, Ibnu Hibbaan, no. 77, 89, 90, al-Hakim, I/86, al-Aajuri dalam kitab Akhlaaqul ‘Ulamaa, no. 126, 127, al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab al-Iqtidhaa’, no. 102, Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih, I/648, no. 1127, dan al-Albani dalam Shahiih at-Targhiib wat Targhiib, I/154, no. 107)

✅ Abu Darda’ رضي الله تعالىٰ عنه berkata,

“Carilah ‘ilmu, jika kalian tidak mencarinya maka cintailah orang-orang yang berilmu, jika kalian tidak mencintai mereka maka janganlah kalian membenci mereka.” (Az-Zuhd, hal. 187 – 188)

✅ Catatan :

Status ini utamanya saya tujukan kepada diri saya pribadi untuk menjadi renungan.

Semoga Allah تبارك و‏تعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq.

Oleh: Abu ‘Aisyah Aziz Arief_

=

  • Seandainya mereka (ingin) berprasangka baik dan menahan lisan dan tangan-tangan mereka…

Ibu saya dahulu menentang saya menikah dengan cara walimahan syar’i (dipisah lelaki dengan perempuan), singkat cerita dari sikap ibu saya dulu yang sprti itu, sekarang Alhamdulillah bi’idznillah beliau rutin datang (ke) kajian Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal حفظه الله تعالىٰ, beliau sudah hapal dzikir pagi petang tanpa baca (dari buku), bacaan beliau yang kerap dibaca “Amalan Sunnah Setahun” karya al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله تعالىٰ, tidak salaman (menyentuh) dengan non mahram, tidak mau mendengarkan pendapat-pendapat syubhat dari ustadz syubhat, dan banyak hal lainya, semoga Allah تبارك و‏تعالىٰ memberikan ke-istiqomahan kepada kita semua.”

Beliau melanjutkan :

Saya sering antar ibu saya (ke) kajian Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal حفظه الله تعالىٰ

Dalam sesi tanya jawab selepas kajian beberapa (pekan) lalu, ada yang bertanya perihal politik, bagaimana sikap kita dalam politik?

Beliau حفظه الله تعالىٰ dengan tegas tanpa basa-basi menjawab bahwa kajian beliau murni tentang ilmu, tentang fiqh, dan beliau tidak (ada) urusan dengan yang namanya politik, tidak mau membahas dan tidak mau tahu.

Masyallah…”

__________________

Tanggapan :

Wallaahi, ini adalah tulisan salah satu jama’ah beliau حفظه الله تعالىٰ dan ini dapat dipertanggungjawabkan dunia akhirat.

Sebagaimana kita sering mengatakan :

Tahu darimana PKI, Syi’ah, Liberal akan berkuasa jika kita golput? Jangan jadi dukun!”

Lantas nyatanya kita melanggar prinsip kita sendiri dengan sok tau menuduh seorang da’i Ahlus Sunnah berpolitik?!!? Dan ternyata tuduhan tersebut tidak terbukti (baca : dusta) sebagaimana bisa kita lihat dalam press release langsung dari yang bersangkutan dalam hal ini al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal حفظه الله تعالىٰ, mereka hanya bermodalkan prasangka buruk kepada seorang ustadz.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,”Seorang muslim, ialah orang yang kaum muslimin selamat dari lidah dan tangannya.”

(Shahiih, HR. Al-Bukhari dalam Shahiih-nya, kitabul ‘Iimaan, bab Al-Muslimu man salimal muslimuu-na min lisaanihi wa yadihi, no. 10, 6044, Muslim, no. 40, Abu Dawud, no. 2481, dan An-Nasaa’i, VIII/105)

Abdullah bin Muhammad bin Manazil رحمه الله تعالىٰ berkata, “Seorang mukmin selalu mencarikan udzur terhadap saudaranya, sedangkan orang munafiq, ia suka mencari-cari aib saudaranya.” (Syu’abul Iman, XV/515)

Dengan kehendak Allah melalui beliau banyak kaum muslimin utamanya masyarakat Gunungkidul yang mendapatkan kebaikan yang sebelumnya kesyirikan, kristenisasi, bid’ah dan khurafat merajalela disana, sedangkan kita apa yang sudah kita perbuat?

Semoga Allah تبارك و‏تعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq.

Oleh: Abu ‘Aisyah Aziz Arief_

=“` (Lanjut Ke Halaman 2) “`