Belajar Dewasa Menyikapi Hukum Nyoblos Dalam Pemilu 2019 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1. Politik Praktis

2. Kekuasaan Dan Jabatan Telah Menguasainya

3. Pmilu dan Demokrasi

4. Kudeta dan Demokrasi

5. Dampak Buruk Demokrasi

6. Haram Demokrasi dan Pemilu

7.Hafalkan Kaidah Penting Ini

8.Mengenal Imam Ahmad bin Hanbal, bag. 3

9.Menjaga Kesehatan dengan Menjauhi Maksiat

10.Hadits Palsu Tentang Aqiqah Dengan Onta, Sapi Atau Kambing

11.24 Jam di Bulan Ramadhan (Aktivitas Isya)

=

Untukmu Yang Malas Belajar Agama Islam-Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc, MA.webm

Ust.Ahmad Firdaus · Zina yang Paling Berbahaya

Ust.Mizan Qudsyiah · Hukum Sholat Sunnah Qobliyah Jumat

Ust.Mizan Qudsyiah · Tauhid Uluhiyah Dalam Al Quran

Ust. Mizan Qudsyiah · Cara Mengobati Riya’

Ust. Mizan Qudsyiah · Tawasul Dalam Islam

Mizan Qudsyiah · Bantahan Bolehnya Sholat Qobliyah Jumat

Lau Kaana Khairan Lasabaquunaa Ilaihi Oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir AbdatBag1: Bag2

Ebook

Membongkar Dosa-Dosa Pemilu, Pro Kontra Praktik Pemilu Perspektif Syariat Islam

Panduan Lengkap Ilmu Tajwid Ahmad Muhammad Mu’abbad 26Mb 326Hlm
Kaidah Membaca Al-Qur’an Yang Disusun Secara Sistematis dan Aplikatif 

===

  • Belajar Dewasa Menyikapi Hukum Nyoblos Dalam Pemilu 2019

Oleh: Abu Ubaidah As Sidawi

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

 

Hiruk pikuk fitnah politik merambah kepada para penuntut ilmu, sehingga debat kusir dan pro kontra menjelang pemilu sering terjadi tak terelakkan.

Tulisan ini bukan untuk menguatkan salah satu pendapat karena itu relatif bagi masing-masing orang sesuai dengan kadar akalnya, hanya saja kami ingin menyampaikan permasalahan dan nasehat agar kita lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan pendapat di kalangan para ulama dan ustadz dalam masalah ini.

➡ 1. Sesungguhnya sistem demokrasi bertentangan dengan hukum Islam, karena:

✅ a. Hukum dan undang-undang adalah hak mutlak Allah عزوجل. Manusia boleh membuat peraturan dan undang-undang selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan as-Sunnah.

✅ b. Demokrasi dibangun di atas partai politik yang merupakan sumber perpecahan dan permusuhan, sangat bertentangan dengan agama Islam yang menganjurkan persatuan dan melarang perpecahan.

✅ c. Sistem demokrasi memiliki kebebasan yang seluas-luasnya tanpa kendali dan melampui batas dari jalur agama Islam.

✅ d. Sistem demokrasi, standarnya adalah suara dan asiprasi mayoritas rakyat, bukan standarnya kebenaran Al-Qur’an dan as-Sunnah sekalipun minoritas.

✅ e. Sistem demokrasi menyetarakan antara pria dan wanita, orang alim dan jahil, orang baik dan fasik, muslim dan kafir, padahal tentu tidak sama hukumnya. (Lihat risalah Al ‘Adlu fi Syariah Laa fii Dimaqrutiyyah Al Maz’umah karya Syeikhuna Abdul Muhsin Al Abbad)

➡ 2. Namun karena di kebanyakan negeri Islam saat ini –termasuk Indonesia- menggunakan sistem demokrasi yang kepemimpinan negeri ditentukan melalui pemilu, maka dalam kondisi seperti ini apakah kita ikut mencoblos ataukah tidak?

Masalah ini diperselisihkan para ulama yang mu’tabar tentang boleh tidaknya, karena mempertimbangkan kaidah maslahat dan mafsadat:

✅ A. Sebagian ulama berpendapat tidak boleh berpartisipasi secara mutlak seperti pendapat mayoritas ulama Yaman karena itu sistem yang menyelisihi Islam, tidak ada maslahatnya bahkan ada madharatnya. (Lihat Tanwir Dzulumat Syeikh Muhammad Al Imam)

✅ B. Sebagian ulama lainnya berpendapat boleh untuk menempuh madharat yang lebih ringan seperti pendapat Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syeikh Al Albani, Syaikh Ibnu Utsaimin dan lain-lain banyak sekali. (Lihat Al Intikhobat wa Ahkamuha kry Dr. Fahd Al ‘Ajlani) karena “Apa yang tidak bisa didapatkan seluruhnya maka jangan ditinggalkan sebagiannya” dan “rabun itu lebih baik daripada buta”.

Intinya, para ulama berbeda pandangan dalam masalah ini antara melarang secara mutlak dan membolehkan dg pertimbangan maslahat dan mafsadat. Lah, kalau ulama saja beda pendapat, apa mungkin kita paksa semua orang satu pendapat dengan kita?!

Maka seyogyanya bagi kita semua untuk bersikap arif dan bijaksana serta berlapang dada dalam menyikapinya. Marilah kita menjaga ukhuwwah islamiyyah (persaudaraan sesama Islam) dan menghindari segala perpecahan, perselisihan serta percekcokan karena masalah ijtihadiyyah seperti ini.

✅ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga pernah mengatakan:

وَأَمَّا الِاخْتِلَافُ فِي ” الْأَحْكَامِ ” فَأَكْثَرُ مِنْ أَنْ يَنْضَبِطَ وَلَوْ كَانَ كُلَّمَا اخْتَلَفَ مُسْلِمَانِ فِي شَيْءٍ تَهَاجَرَا لَمْ يَبْقَ بَيْنَ ‏الْمُسْلِمِينَ عِصْمَةٌ وَلَا أُخُوَّةٌ وَلَقَدْ كَانَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا سَيِّدَا الْمُسْلِمِينَ يَتَنَازَعَانِ فِي أَشْيَاءَ لَا يَقْصِدَانِ إلَّا ‏الْخَيْرَ‎

Adapun perselisihan dalam masalah hukum maka banyak sekali jumlahnya. Seandainya setiap dua orang muslim yang berbeda pendapat dalam suatu masalah harus saling bermusuhan, maka tidak akan ada persaudaraan pada setiap muslim. Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu dan Umar Radhiyallahu ‘anhu saja—kedua orang yang paling mulia setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam—mereka berdua berbeda pendapat dalam beberapa masalah, tetapi keduanya tidak menginginkan kecuali kebaikan.” (Majmu Fatawa 5/408)

➡ 3. Bagi siapa yang memilih karena mempertimbangkan kaidah: يُخْتَارُ أَهْوَنُ الشَّرَّيْنِ‎ “Menempuh mafsadat yang lebih ringan.” maka:

– Hendaknya bertaqwa kepada Allah عزوجل dengan memilih pemimpin yang lebih mendekati kepada kriteria pemimpin yang ideal dalam Islam yaitu:

✅ 1. Memiliki agama yang bagus dan diharapkan mampu membela Islam dan memberikan kemudahan untuk dakwah sunnah.

✅ 2. Memiliki kemampuan dalam mengatur negara, menjaga stabilitas negara, dan persatuan umat.

✅ 3. Perlu menjadi pertimbangan juga orang atau partai di sekitarnya karena tentu saja mereka memiliki pengaruh besar bagi calon pemimpin.

Dan yang lebih penting dari masalah ini adalah mari kita sibukkan diri kita dengan memperbanyak ibadah dan doa kepada Allah, karena nasib negara ini bukan di tangan makhluk, tetapi di tangan Allah.

Tinggalkan debat kusir masalah ini yang hanya akan mengeraskan hati kita dan tidak akan menyelesaikan masalah serta membuang waktu dan tenaga kita sia-sia. Kalau memang mau diskusi, diskusilah dengan ilmiah dan adab mulia dg tetap menjaga persaudaraan di antara kita.

✅ Alangkah bagusnya nasihat Syaikh Ibnu ‘Utsaimin:

Hendaknya bagi para penuntut ilmu khususnya dan semua manusia umumnya untuk berusaha menuju persatuan semampu mungkin, karena bidikan utama orang-orang fāsiq dan kāfir adalah bagaimana orang-orang baik berselisih di antara mereka, sebab tidak ada senjata yang lebih ampuh daripada (adu domba agar timbul) perselisihan.”

(Syarhul Mumti’ 4/63)

Hati-hatilah dalam berbicara dan menulis kata-kata, karena semua kita akan berdiri di hadapan Allah mempertanggungjawabkan perbuatan kita.

Semoga Allah menjaga hati kita, ukhuwwah kita dan adab kita

=

  • Bingung Antara Dua Pilihan

Abu Ubaidah As Sidawi

Seringkali kita dihadapkan antara dua pilihan yang sama-sama pahit, maka disitulah kecerdasan kita diuji dan diasah.

قَالَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ : ” لَيْسَ الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْرِفُ الْخَيْرَ مِنَ الشَّرِّ ، وَلَكِنَّهُ الَّذِي يَعْرِفُ خَيْرَ الشَّرَّيْنِ.

Sahabat Amr bin ‘Ash berkata: “Orang yang cerdas bukanlah yang bisa membedakan antara kebaikan dan kejelekan, namun orang yang cerdas adalah yang bisa menimbang mana yang terbaik antara dua pilihan yang buruk”. (Al Isyraf fi Manazill Asyraf karya Ibnu Abi Dunya hlm. 264)
Kalimat mutiara ini merupakan kaidah penting dalam menimbang ucapan, perbuatan dan peristiwa.

Membedakan antara kebaikan dan keburukan adalah hal yang terpuji. Namun lebih terpuji lagi jika seorang bisa menimbang antara dua keburukan, sebab kalau cuma membedakan antara keburukan dan kebaikan maka banyak diantara manusia yang bisa melakukannya, berbeda dengan menimbang antara dua keburukan maka ini jarang yang bisa melakukannya karena butuh kepada ilmu yang luas, pandangan yang tajam, serta pengalaman yang panjang.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan:
Syariat Islam dibangun untuk mewujudkan kemaslahatan dan menyempurnakannya, serta menghilangkan mafsadat dan meminimalkannya semampu mungkin, sehingga apabila berbenturan dua kebaikan maka didahulukan yg lebih besar kemaslahatannya, sebaliknya jika berbenturan dua kerusakan maka didahulukan kerusakan yang lebih ringan”.
(Minhaj Sunnah Nabawiyyah 6/118)

Jika kita perhatikan fakta di lapangan, kita akan dapati bahwa faktor utama ketimpangan yang terjadi dalam kehidupan manusia adalah karena tidak memahami dan tidak menerapkan kaidah ini, sehingga menimbulkan kerusakan besar di muka bumi ini.
Yuk, kita menjadi orang yang cerdas dengan memahami dan menerapkan kaidah berharga ini.

(Disarikan dari kitab Mawaidz Shohabah, karya Dr. Umar bin Abdullah Al Muqbil, hlm. 248, cet Dar Al Minhaj, KSA

=

  • Nyoblos Atau Ga Nyoblos Pasti Dihisab Maka Siapkan Hujjahmu Di Akhirat

Milih A, B atau gak milih,
semua kita akan dihisab oleh Allah
Siapkanlah hujjahmu kelak di pengadilan akherat di hadapan Allah

Semua amalan akan dihisab, siapa bilang nyoblos atau ga nyoblos ga akan dihisab sedangkan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :

… فينظر إلى أيمن منه فلا يرى إلا ما قدم وينظر أشأم منه فلا يرى إلا ما قدم… أو كما قال في رواية مسلم

“… lalu seseorang melihat ke kanannya maka ia akan melihat amalannya dan jika ia melihat ke kirinya maka ia akan melihat amalannya...”, sedangkan lafazh ما قدم itu menggunakan ما mawshûl yang merupakan salah satu lafazh umum, bagi yang mengeluarkan perkara nyoblos ga nyoblos dari keumuman lafaz ini maka wajib bawakan dalil, jika tidak ada maka tetap keumuman lafaz yang berlaku

Oleh: Abu Ubaidah As Sidawi dan Variant Ghani Hirma
=

  • Politikus non syar’i itu susah inshof

Untuk nyerang kubu lawan pakai hadits Nabi

ﺍﻟْﻤَﺮْﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺩِﻳﻦِ ﺧَﻠِﻴﻠِﻪِ ﻓَﻠْﻴَﻨْﻈُﺮْ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻣَﻦْ ﻳُﺨَﺎﻟِﻞُ

Seseorang akan berada di atas agama teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang menjadi teman karibnya ”.(HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378,Lihat Shohihul Jaami’ 3545).

Tapi itu ga berlaku buat Paslon pilihannya, walau jelas mereka penentang Sunnah, masih aja nyari alasan bukan tim resmi dan lain2.
Lupa ya siapa aja yang memusuhi dakwah dan membubarkan
kajian sunnah??… Semua ada didua2 nya

=

  • Adab ikhtilaf menurut mereka:

1. Kalau mereka memilih pendapat yang membolehkan, kita memilih pendapat yang mengharamkan, kita ga boleh menjelaskan keharaman dan kemudharatannya. Kalau kita menjelaskan pendapat yang kita pilih, nge”gas” itu namanya.
2. Kalau kita memilih membid’ahkan suatu amalan, mereka memilih membolehkannya, kita ga boleh menulis bantahan dan koreksian pendapat mereka, kalau kita masih meluruskan, di cap ngga tau adab ikhtilaf.
3. Kalau mereka mengharamkan, dan kita justru memilih pendapat yang membolehkan,
Mereka dengan lantang mengatakan. Maaf, anda dan ustadz anda salah….titik
Adab ikhtilaf atau emang mereka ga siap berbeda, dan ga siap di kritik. 

=

  • Politik Praktis

Oleh: Abu Hanifah Jandriadi Yasin


Sependek pengetahuan saya Haikal Hasan bukanlah representasi dari Paslon 02, dia bukan ketua partai salah satu koalisi 02.
Sebaiknya ikhwah yang tidak ingin ikut-ikutan memilih di pilpres nanti secara totalitas tidak ikut-ikutan kecuali jika benar-benar.kemungkaran yang diagendakan oleh capres/cawapres ataupun.dari salah satu ketua partai koalisinya, kecuali jika ikhwah tersebut adalah pendukung dari salah satu paslon 01 / 02.

Haikal Hasan itu bukan timses resmi, bukan perumus visi misi, tidak ada kontrak politik dengan 02, bukan ketua partai koalisinya.
Terus gimana mau dijadikan sebagai representasi 02 ?

Professional sedikit dong, jangan amatiran begitu kecuali jika anda memang nyata pendukung 01. Kalau tidak mau terlibat politik praktis, maka diam saja selama wacana kemungkaran.bukan berasal dari Paslon yg resmi atau timses resminya atau partai koalisinya. Ingkari saja wacana kemungkaran tersebut tanpa mengaitkan ke Paslon yang didukungnya.

Misal dari cawapres salah satu Paslon sudah mewacanakan ide kekufuran paham Islam Nusantara, ini baru layak disanggah dan di ingkari, kecuali jika wacana ajaran sesat Islam Nusantara hanya berasal dari timses hore tidak resmi yang sama sekali tidak terlibat dalam perumusan visi misi dan tidak ada kontrak politik sedikitpun.

Saya tidak memilih, namun sungguh lucu tapi bikin muak sebagian ikhwah yang tidak memilih malah membawa isu Haikal Hasan ini ke publik dengan maksud memojokkan. Apa mereka sedang kampanye 01 ? Sepertinya iya Konsisten dengan prinsip itu sesuatu hal yang sulit ternyata 

=


Terkhusus untuk ikhwah yang ngompol mojokin 02 pakai data palsu, kedepannya silahkan konsisten jika ingin golput tak terlibat politik praktis.
Saya khawatir ikhwah ini pendukung garis keras 01, bagaimana tidak ? Wacana ide paham kekufuran(ISLAM NUSANTARA) dari cawapres 01 (jelas videonya dan valid datanya) tidak ia komentari sebagaimana
jarinya menari-nari mengingkari tweet hoax Haikal Hasan, namun wacana tahlilan Haikal Hasan ia sibuk mengingkari, itupun ternyata hoax … Pengen tertawa jadinya saya.
Prinsip di hati sulit ternyata disingkronkan dengan gatalnya jar  

Kejahatan Demokrasi

Kejahatan ada bukan karena banyaknya orang jahat, tapi karena banyaknya orang baik yg berdiam diri. Karenanya sebagai warga negara yg baik, kita harus turut serta aktif mencegah kejahatan dengan cara ikut pemilu memilih paslon terbaik.

Ini adalah satu cacad logika berpikir yg sering dipakai sebagai pembenaran bagi mereka para pengusung demokrasi. Coba lihat! Bahkan di zaman Nabi sekalipun kejahatan tetap ada; khawarij ada, pezina juga ada, pemabuk ada dll. Lalu jika kejahatan dan maksiat tetap ada, apakah mereka juga akan mengatakan itu terjadi karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiam diri?

Lagipula, jika kejahatan dikaitkan dgn partisipasi seseorang dalam demokrasi, maka pertanyaannya: mengapa angka kriminalitas di Amerika (yg sangat demokratis) berlipat kali lebih banyak dibandingkan dgn di Arab Saudi (yg sangat tidak demokratis)? Lihat contoh data yg dikutip dari nationmaster•com! Dari data thn 2014: terdapat 12996 kasus pembunuhan per 100000 orang di Amerika, yg mana 49 kali lipat angka pembunuhan di Arab Saudi. 714.4 kasus perampokan per 100000 penduduk di Amerika, sementara di Arab Saudi hanya 0.1. Total crime? di Amerika 11.88 juta, sedang di Arab Saudi hanya 84559 kasus di thn 2014.

Kejahatan itu ada dan tetap ada karena orang jahat memilih tetap pada kejahatannya. Ia menolak hijrah atau tak mau menjadi muhaajir, yg Nabi definisikan sebagai orang yg meninggalkan larangan Allah. Ini sama persis dgn orang yg mabok demokrasi yg mengatakan tdk ada cara lain memilih pemimpin selain coblosan demokrasi. Faktanya bukan karena tak ada cara lain, tapi karena si mabok itu memang tak mau hijrah meninggalkan (kejahatan) demokrasi

=

  • Cara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Mengangkat Pemimpin

Tidak ada cara lain selain demokrasi, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita untuk mengangkat pemimpin, meski hanya dalam sebuah rombongan perjalanan. Itu sebabnya partisipasi aktif dlm pemilu menjadi sebuah keharusan bagi seorang muslim demi mengangkat seorang pemimpin.

Benarkah logic pemikiran seperti ini? Mengatakan tidak ada cara lain dlm menentukan pemimpin, (bagi saya) sama artinya dengan melecehkan syariat Islam itu sendiri karena faktanya para sahabat radhiyallahu ‘anhum tak pernah berhukum dgn demokrasi ketika mengangkat seorang pemimpin sepeninggal Nabi. Nabi pun semasa hidupnya tak pernah menggunakan cara2 lotere demokrasi ketika menunjuk pemimpin dalam sebuah misi ataupun tugas2 tertentu. Lha sekarang, dimana logikanya sementara kita mengaku pengikut sunnah beliau, tapi dalam saat bersamaan kita sotoy memvonis tak ada cara lain selain demokrasi?

Iya, tapi gimana dong kalau tidak ada coblosan, darimana kita bisa dapat pemimpin? Wooy, ngeyel aja ente … coba buka sejarah! apakah pak Karno atau Raden Wijaya naik tampuk kekuasaan karena coblosan pemilu? Trus, bagaimana kira2 pak Habib bisa kepilih jadi ketua nganu atau dewan nganu, apakah juga lewat coblosan? Toh tanpa coblosan pun beliau mampu “mengcopy” 7juta manusia berjilid2 mendatangi monas. Ini artinya, pemimpin itu seperti halnya rizki, sudah Allah tentukan sehingga akan selalu ada caraNya menghadirkannya di tengah2 kita.

Jika tampak deadlock tak ada cara lain, sementara kita butuh pemimpin yg baik maka pilihan paling logis adalah berdoa, bukannya memaksakan demokrasi! Bukankah Allah sendiri menjanjikan: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan”? … Kita mah aneh, ngaku muslim tapi lebih percaya janji2 demokrasi ketimbang janji2 Allah.

Yg lebih aneh lagi, meyakini berhukum pada hukum Allah, tapi malah rutin menelan pil demokrasi yg mana adalah produk hukum sekuler tanpa ada sedikitpun usaha meninggalkannya. Alih-alih meninggalkannya, yang ada malah jadi jurkam gretongan: “ente kan udah ngaji, pilih yg terbaik dong!” Kelakuan begini sih mirip seorang pengemis yg tidak melihat cara lain mencari nafkah selain mengemis, kerena memang setiap saat yg dilakukannya adalah mengemis tanpa pernah mencoba meninggalkannya. Bei dir piept’s wohl!

=

  • ➡ Demokrasi Menghancurkan Islam

Sebaik2 muslim itu adalah yg bermanfaat bagi orang lain! Kalau anda shalat atau puasa, pahalanya cuma buat anda saja. Makanya meski tanpa ikut2an politik seorang muslim masih bisa tetap shalat dan puasa, tetapi tetap kaum muslimin harus berpolitik dan menguasai parlemen, demi kemaslahatan ummat! Dan karena demokrasi cuma satu2nya jalan, maka kita wajib berpartisipasi aktif di dalamnya.

Benarkah logic berpikir seperti itu? Kalau ada yg cari pembenaran dgn argumen seperti itu, pertama yg akan saya katakan kepadanya adalah: sudahkah anda melunasi hutang2 anda? Lha iya, apakah logis gegayaan ingin bermanfaat untuk orang lain, tapi tunggakan hutang masih banyak dan berpotensi menjadi tanggungan diri sendiri di akhirat kelak. Atau jika hutang sudah lunas, darimana anda yakin shalat dan ibadah2 anda bakal diterima Allah?

Sempurnakan dulu itu, sebelum gegayaan niat berpolitik demi kemaslahatan ummat, sebab jika anda sudah disibukan dgn politik, maka besar kemungkinan banyak perkara ibadah yg akan dikompromikan … tak perlu jauh2, saat anda jadi pejabat/politikus maka suka tidak suka, anda akan terbiasa mengucapkan selamat hari raya anu, ikut perayaan anu dll. Anda siap?

Bagimana dengan palestina, uighur, atau rohingya bukankah sebagai sesama muslim, kita perlu menolong mereka? Karenanya kita harus ikut berpolitik

Well, coba lihat di Palestina sana! Bukankah politik dan demokrasi sudah lama ditegakkan? Berapa kali pemilu, berapa kali Hamas memenangkan pemilu dan berkuasa? Tapi apa hasilnya? Malah sekarang Hamas didemo sendiri rakyatnya. Di aljazair, FIS pernah menang dgn cara demokratis. Apa hasilnya?

Pertumpahan darah dan kematian jutaan orang. Di Mesir, Mohamed Morsi, the best ikhwanist abad 21 pernah terpilih jadi presiden, tetapi hasilnya pun tidak lebih baik; sebagai contoh sebelum revolusi 2011, indeks korupsi di Mesir 27, dan faktanya justru cenderung meningkat mencapai titik tertinggi 37 di thn 2013/14 (sebelum dan setelah Morsi lengser). Libya? Rusak hancur karena rakyatnya berbondong2 terjun ke politik demokrasi.

Di Indonesia sendiri, bertahun2 parlemen dan pemerintahan dikuasai politikus Islam. Lalu apa hasilnya? Malah semakin banyak yg ketangkep OTT, kulakan sapi, korupsi pengadaan alQuran, dan penyelewengan2 lainnya. Pertumbuhan kesyirikan juga makin meroket melampaui pertumbuhan ekonomi. Da’i2 malah makin banyak yg jadi jurkam membenturkan sesama muslim. Pengajian2 juga masih banyak yg dibubarkan dan konyolnya oleh orang islam sendiri.

Tentu saja, masalah2 yg dihadapi kaum muslimin makin hari makin pelik, baik di Rohingya, Uighur, dan tempat2 lain di dunia termasuk masalah2 domestik di tanah air yg tidak sederhana. Semua tetap harus diperjuangkan dan dicari solusinya, tapi bukan ngeyel dgn cara demokrasi yg haram dan terbukti justru membawa kerusakan di negeri2 Islam.

=

  • Politik Demokrasi Menghancurkan Umat

Orang Islam tidak ikut2an urusan politik, maka politik akan dikuasai orang yg tak paham agama, boro2 Islam? Begitukah? ...

Di negara2 barat dimana islam minoritas sekalipun, seorang muslim bisa menegakkan rukun islam tanpa kesulitan berarti. Tanyakan pada muslim yg mbolang disonoh: adakah muslim yg kesulitan bersyahadat, shalat, zakat, puasa, atau berhaji? Sebaliknya di indonesia dimana islam mayoritas, bukankah tetap saja masih banyak orang yg tak mendirikan shalat, pengajian didemo orang islam sendiri yg bahkan tanpa ragu hidup dalam kesyirikan? Lalu pertanyaannya dimana urgensinya seorang muslim ikut cawe2 dalam politik yg jelas2 berpotensi mencelakakan dirinya dunia akhirat?

Last but not least, apa untungnya mengusai politik, jika yg berpolitik pun orang Islam yg oleng pemikirannya, fulus orientasinya, mumet manhajnya? Lagipula, bukankah politik copras capres itu cuma membahas urusan dunia? Apa pula yg perlu dikhawatirkan kalaupun seisi dunia dikuasai asing aseng atau orang2 kafir semuanya? So be it, take it if they want!!!

So, selama politik itu masih didefinisikan sebagai demokrasi, dimana the rules and rulers ditentukan berdasarkan suara terbanyak, maka (saya memandang) politik itu adalah barang sangat sangat tercela yg harus dihindari. Sederhananya, karena alQuran telah dengan tegas memperingatkan bahwa yang banyak itu justru yang sesat (QS6:116).

=

  • Politik Membuat Orang Jadi Penjahat

Hari ini pejabat, besok bisa langsung menjadi penjahat. Kenapa? Karena memang sistem politik kita yg berbiaya tinggi, menjadikan banyak pejabat yg melakukan hal-hal yg melanggar perundang-undangan sehingga ditangkap KPK”

—–end quote—-

Siapapun yg mengucapkan kalimat itu sebenarnya menyadari resiko yg harus dihadapinya jika ia menjadi pejabat atau berpolitik. Jika orang itu memiliki akal sehat, maka minimal yg harus dilakukannya adalah tidak melakukan hal2 yg melanggar undang2.

Akan tetapi jika orang itu memiliki tauhid yg kokoh maka ia tak akan nyemplung masuk ke dalam pusaran politik sama sekali. Mengapa? Kalaupun ia tidak melanggar undang2 hari ini, esok atau lusa, tetap saja dirinya sulit sekali mewujudkan politik berbiaya murah, sehingga potensi pelanggaran2 pun akan tetap ada dan mengintainya setiap saat.

Tauhidnya yg kokoh itulah yg akan menolongnya mencukupkan diri pada rizki yg Allah telah janjikan tanpa ia harus berpolitik atau terobsesi menjadi pejabat, sehingga ia akan memilih untuk menghindari politik sama sekali.

Jadi, siapapun politikus yg mengucapkan kalimat tersebut di atas, lalu ia ketangkep #KPK, maka kewarasan dan tauhidnya perlu dipertanyakan …. setidaknya ia tak pantas membawa nama Islam dalam ormas atau partainya. Sebab orang Islam itu harus berakal sehat dan kokoh tauhidnya. Betul?

= ~~~{ Lanjut ke Halaman 2 } ~~~