• MENDOAKAN SESAMA BUKTI KETULUSAN HATI

Mendoakan kebaikan untuk sesama muslim adalah amalan lisan. Namun ini menunjukkan ketulusan hati. Kepedulian, kasih sayang dan perhatian, seyogyanya diwujudkan antara lain dengan mendoakan orang lain. Memohon kepada Allah agar saudaranya dikaruniai hidayah serta kesuksesan dunia dan akhirat. Itulah sosok kepribadian muslim yang ideal. Selalu mengharapkan kebaikan untuk sesama. Jika belum bisa demikian, maka minimal ia tidak menyakiti mereka.

✅ Dalam hadits sahih dijelaskan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ»

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Muslim sejati adalah yang tidak mengganggu muslim lain dengan lisan dan tangannya”. HR. Bukhari dan Muslim.

✅ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

«عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ»، فَقَالُوا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ: «يَعْمَلُ بِيَدِهِ، فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ» قَالُوا: فَإِنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ: «يُعِينُ ذَا الحَاجَةِ المَلْهُوفَ» قَالُوا: فَإِنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ: «فَلْيَعْمَلْ بِالْمَعْرُوفِ، وَلْيُمْسِكْ عَنِ الشَّرِّ، فَإِنَّهَا لَهُ صَدَقَةٌ»

Seyogyanya setiap muslim bersedekah”. Para sahabat bertanya, “Wahai Nabiyullah, orang yang tidak punya sesuatu untuk bersedekah bagaimana?”. Beliau menjawab, “Hendaklah ia bekerja dengan tangannya. Sehingga memberi manfaat untuk dirinya sendiri lalu bisa bersedekah”. Mereka bertanya lagi, “Bagaimana bila tidak tersisa?”. Beliau menjawab, “Hendaklah ia menolong orang yang sedang sangat membutuhkan bantuan”. Mereka bertanya kembali, “Jika ia tidak mampu juga?”. Beliau menjawab, “Hendaklah ia berbuat kebaikan dan tidak mengganggu orang lain. Sungguh itu sudah terhitung sedekah”. HR. Bukhari dan Muslim.

✅ Seorang muslim selalu menjaga lisannya. Tidak berucap kecuali yang baik-baik saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewanti-wanti,

“لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الفَاحِشِ وَلاَ البَذِيءِ“

“Mukmin itu bukan orang yang suka mencela, gemar melaknat, suka berbuat/ berkata keji dan berkata kotor/ jorok”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy. 

Lisan yang kotor adalah pertanda hati yang kotor. Apalagi bila yang ia cela adalah manusia-manusia mulia. Contohnya: para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Merendahkan mereka adalah indikator penyimpangan pemahaman pelakunya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewanti-wanti,

«لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ، وَلَا نَصِيفَهُ»

Jangan kalian mencela seorangpun dari sahabatku. Bila kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud, sungguh tidak akan menyamai pahala infak mereka yang hanya setelapak tangan atau separuhnya”. HR. Bukhari dan Muslim.

Termasuk hal yang dilarang juga adalah mencela para ulama serta orang-orang salih.

=

➡ MENDOAKAN ORANG KAFIR

Di pertemuan sebelumnya telah dijelaskan anjuran mendoakan orang tua dan kerabat. Berikut dalil-dalilnya. Namun timbul pertanyaan, bagaimana bila orang tua tersebut beragama selain Islam. Apakah masih berhak untuk didoakan?

✅ Jawabannya: tergantung waktu mendoakannya dan apa isi doanya.

Bila waktu mendoakannya adalah saat mereka masih hidup, sedangkan konten doanya adalah memohon agar mereka mendapat hidayah, maka ini diperbolehkan.

✅ Dalilnya antara lain hadits berikut ini;

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Saat ibuku masih musyrik, aku selalu mengajaknya masuk Islam. Suatu hari saat aku mendakwahinya, namun beliau justru ngata-ngatain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka akupun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sembari menangis. Aku berkata, “Wahai Rasulullah. Sungguh aku selalu mengajak ibuku masuk Islam. Namun beliau tidak mau. Hari ini aku mendakwahinya. Ternyata ia malah mengeluarkan kata-kata tentang dirimu yang tidak aku sukai. Doakanlah ibuku agar diberi hidayah oleh Allah”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berdoa,

“اللهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ“

“Ya Allah, berilah ibunda Abu Hurairah hidayah”.

Akupun keluar dengan perasaan bahagia mendengar doa Nabiyullah. Sesampainya di rumah, kutemukan pintu tertutup. Ibuku mendengar suara langkahku. Beliau berkata, “Abu Hurairah, berhentilah di situ!”. Aku mendengar gemercik air. Setelah selesai mandi, beliau bergegas mengenakan pakaian dan tidak sempat berjilbab. Beliau membuka pintu seraya berkata, “Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Serta aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”.

Maka akupun kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sembari menangis bahagia. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku datang membawa kabar gembira. Allah telah mengabulkan doamu dan memberi hidayah kepada ibuku!”. Maka beliaupun memuji Allah dan menyanjung-Nya. Serta mendoakan kebaikan”.  HR. Muslim.

Namun jika waktu mendoakannya adalah saat mereka wafat dan isi doanya permohonan agar mereka diampuni Allah, maka ini tidak boleh. Para ulama telah berijma’ tentang haramnya hal tersebut. Sebagaimana dinukil oleh Imam Nawawiy rahimahullah (w. 676 H). Sebab Allah telah menyatakan bahwa Dia tidak akan mengampuni orang kafir. Bila kita tetap meminta agar orang kafir tersebut diampuni, maka itu termasuk sikap tidak beretika kepada Allah.

✅ Allah ta’ala berfirman,

“مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ“ 

Artinya: “Tidak boleh bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik. Sekalipun orang-orang itu adalah kerabatnya. Setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahannam”. QS. At-Taubah (9): 113.

=

  • MENDOAKAN PEMERINTAH

Manusia adalah makhluk sosial. Tidak mungkin ia hidup sendirian. Dia perlu berinteraksi dengan orang lain. Membutuhkan kebersamaan dalam kehidupannya. Suatu komunitas tidak akan berjalan dengan baik, kecuali bila ada pemimpinnya. Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ“

Bila ada tiga orang bepergian jauh bersama, hendaklah mereka mengangkat salah satunya menjadi pemimpin”. HR. Abu Dawud dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu. Syaikh al-Albaniy menilai sanadnya hasan sahih.

Bila sekumpulan orang berjumlah tiga saja harus ada pemimpinnya, apalagi sekumpulan orang dalam sebuah negara. Tentu harus ada pemimpinnya. Bukan sekedar ada pemimpin, namun pemimpin yang dipatuhi rakyatnya. Allah ta’ala berfirman,

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ“

Artinya: “Wahai orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan pemerintah kalian”. QS. An-Nisa’ (4): 59.

Namun berhubung pemerintah adalah manusia, maka peluang untuk melakukan kesalahan pun terbuka lebar. Sebagaimana rakyatnya juga demikian. Karenanya perlu ada pembudayaan saling nasehat-menasehati.

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رضي الله عنه، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه سلم قَالَ: “الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ“ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: “لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ“.

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Dâry radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Agama itu nasehat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasehat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasehat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. HR. Muslim.

✅ Salah satu bentuk nasehat untuk pemerintah adalah mendoakan kebaikan untuk mereka. Saking pentingnya hal ini, hingga Imam al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah (w. 187 H) pernah berkata, “Andaikan aku memiliki satu doa yang mustajab, niscaya tidak akan kugunakan kecuali untuk mendoakan pemerintah. Sebab bila pemerintah baik, niscaya negara dan masyarakat akan aman”.

✅ Bahkan para ulama Ahlus Sunnah mengategorikan hal ini dalam prinsip akidah yang musti dipegang setiap muslim. Imam Abu Ja’far ath-Thahawiy (w. 321 H) menjelaskan, “Kami (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) tidak membenarkan pemberontakan terhadap pemerintah, sekalipun mereka berbuat zalim. Tidak mendoakan keburukan untuk mereka. Tidak mencabut ketaatan dari mereka. Kami memandang bahwa ketaatan kepada mereka merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah yang wajib. Selama mereka tidak memerintahkan maksiat. Kita selalu mendoakan agar mereka baik dan selamat”.

Inilah solusi yang paling tepat menghadapi kebobrokan pemerintah. Tidak perlu merasa alergi untuk mendoakan kebaikan buat pemerintah. Toh, mendoakan keburukan untuk mereka juga tidak menyelesaikan masalah. Justru malah memperparah keadaan.

=

Tunasilmu.com

•••••••••••••••••••••••

_*Ya Allah, saksikanlah bahwa kami telah menjelaskan dalil kepada umat manusia, mengharapkan manusia mendapatkan hidayah,melepaskan tanggung jawab dihadapan Allah Ta’ala, menyampaikan dan menunaikan kewajiban kami. Selanjutnya, kepadaMu kami berdoa agar menampakkan kebenaran kepada kami dan memudahkan kami untuk mengikutinya*_

_*Itu saja yang dapat Ana sampaikan. Jika benar itu datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Kalau ada yang salah itu dari Ana pribadi, Allah dan RasulNya terbebaskan dari kesalahan itu.*_

Hanya kepada Allah saya memohon agar Dia menjadikan tulisan ini murni mengharap Wajah-Nya Yang Mulia, dan agar ia bermanfaat bagi kaum muslimin dan menjadi tabungan bagi hari akhir.

_*Sebarkan,Sampaikan,Bagikan artikel ini jika dirasa bermanfaat kepada orang-orang terdekat Anda/Grup Sosmed,dll, Semoga Menjadi Pemberat Timbangan Amal Kebaikan Di Akhirat Kelak. Wa akhiru da’wanā ‘anilhamdulillāhi rabbil ālamīn Wallāhu a’lam, Wabillāhittaufiq

_*“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orangyang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.”* (HR Muslim no. 2674)_