Membedakan Antara Hukum Demokrasi Dengan Hukum Intikhobat (Nyoblos) 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Faedah Surat Yasin: Allah Hanya Berkata “Kun”, Maka Jadilah

2.Tidak Ada Doa Sebelum Azan?

3.Tanya Jawab Seputar Syirik Kecil (Bag. 4)

4.Tidak Putus Asa, Tidak Pula Besar Kepala

5.Ta’zhîm (Mengagungkan) Allâh Subhanahu Wa Ta’ala Maksud Dan Urgensi Mengimaninya

6.Syarhus Sunnah: Masuk Surga dengan Takdir Allah

7.Gelar Syaikhul Islam

8.Kumpulan Amalan Ringan #18: Shalat di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha

=

Tadabur Al-Fatehah – Ust. Syariful Mahya Lubis, Lc, MA.webm

Misteri Usia 40 Tahun – Ust Syariful Mahya Lubis, Lc, MA.webm

Ilmu Gendam dan Tumbal Pesugihan yang Sangat Mengerikan – Ustadz Zainal Abidin, M.M..webm

Sebab Kemenangan Ummat Islam Ustadz Mizan Qusyiah, Lc,MA.webm

Belajar Aqidah Inilah Pintu Pintu Kesyirikan, Sihir, dll, Ustadz.Mizan Qudsyiah, Lc, MA.webm

Ceramah Agama Dalil Batalnya Sesembahan selain Allah -Ustadz Lalu Ahmad Yani, Lc..webm

 Ceramah Singkt 5 Nasihat Berharga Menjelang PEMILU! -Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi.webm

Do’a Meminta Surga dan Dijauhkan Dari Api Neraka Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc, MA.webm

Irtikabu akhaffu adh-dhararain(Memilih Kemadaratan Teringan)-Ust Abdul Hakim Amir Abdat.mp4

Kata Mutiara Salaf Untukmu Yang Malas Baca Al Qur’an.Ustadz Mizan Qusyiah, Lc, MA.webm

Kitab Shahih Bukhari Peperangan Rasulullah – Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc., M.A..webm

Membangun Keluarga Sakinah Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc,M.A..webm

Fiqih Sebab-Ust Syariful Mahya Lc MA.webm

https://mir.cr/HJQEWFKW

Untukmu Yang Malas Belajar Agama Islam-Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc, MA.webm

Hukum Asal dalam Ibadah Itu Larangan – Ushul Fiqih-Ustadz Musyaffa Ad-Dariny

Tujuan Syariat Islam – Ushul Fiqih-Ustadz Musyaffa Ad-Dariny

Berlomba-Lomba dan Bersegera Untuk Mendapatkan Negeri Akhirat-Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc.

Kisah Pengingkaran Terhadap Bid’ah dan Bahayanya Perbuatan Bid’ah-Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc.

=

Ebook

9.Hadiah dan Bekal Persiapan Menyambut Ramadhan 227 Hlm 

10.24 Jam di Bulan Ramadhan 116Hlm

24 Jam di Bulan Ramadhan-Tablet Version 117Hlm

11.Panduan Lengkap Ilmu Tajwid-Ahmad Muhammad Mu’abbad 26Mb 326Hlm

Kaidah Membaca Al-Qur’an Yang Disusun Secara Sistematis dan Aplikatif

12.Matan dan Terjemahan IMAM HARB BIN ISMA’IL AL-KIRMANI

13.Menyelami Samudra Kalimat Tauhid

14.50 Indikasi Destruktif Demokrasi, Pemilu,Partai (Syaikh ‘Abdul Majid ar-Raimi)

15. 10 Hari AkhirRamadhan

16 AGAMA YANG BENAR [Menguak Kebenaran Agama Islam Secara Konseptual dan Rasional]

17.BUDI PEKERTI YANG MULIA-Muhammad bin Shalih al- Utsaimin

18.Pedoman Lengkap Tajwid dan Tahsin Al-Qur’an(Tajwidul Quran Metode Jazariy Jilid 1Level Tahmidi dan Tajwidul Huruf)-Abu Ezra Al Laili Al Fadhli.Spd.I

==

  • Membedakan Antara Hukum Demokrasi Dengan Hukum Intikhobat (Nyoblos).

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

 

 

 

  • MOHON PAHAMI DUA HAL YANG BERBEDA INI _#

Sebagian orang ada yang tidak bisa membedakan antara hukum demokrasi dengan hukum intikhobat (nyoblos).

Hukum demokrasi itu syirik, maka itu jelas karena demokrasi itu adalah suatu agama tersendiri.

Jika orang sampai memiliki i’tiqod bahwa suara rakyat adalah suara tuhan. Dan hukum buatan dianggap olehnya boleh menggantikan hukum syariat, atau dianggap setara.

Dengan tanpa ada unsur mengakui bahwa ini dosa, hanya saja dia khilaf mengikuti hawa nafsu. Sama seperti pemabuk dan pezina yang melakukan zina dan minum Khomr, dengan mengakui itu dosa dan tidak boleh sebenarnya. Atau karena dipaksa.

Maka jika sampai terjadi seperti ini, orang ini benar telah melakukan kesyirikan yang nyata dan menjadi musyrik.

Adapun Al intikhobat (nyoblos) maka ini perincian hukumnya berbeda dengan demokrasi itu sendiri.

Hukum far’i (cabang) itu memang akan mengikuti hukum Ushul (pokok). Akan tetapi jika ujug ujug langsung gebyak uyah karena demokrasi bagi orang yang memiliki i’tiqod seperti yang sebutkan tadi adalah syirik, maka berarti otomatis Al intikhobat itu syirik juga. Yang mana ini berarti setiap orang yang nyoblos telah melakukan kesyirikan dan menjadi musyrik.

Maka ini berarti saya harus menurunkan strata keilmuan saya ke level atmosfer, agar semua orang bisa faham dan bisa membedakan perincian hukum antara demokrasi dan pemilu.

Baca : Pak Ndul mode on.

***

Jadi jika ada orang yang nyoblos dengan memiliki i’tiqod demokrasi seperti yang diatas. Maka baginya hukum syirik.

Adapun jika ada orang yang nyoblos dengan memahami hakikat demokrasi yang seperti itu, yang mana walaupun dia tahu amalan intikhobat itu merupakan cabang dari keyakinan demokrasi sebagai landasan utamanya.

Akan tetapi dia tidak memiliki i’tiqod seperti itu ketika nyoblos. Dan alasan dia melakukan amalan intikhobat dengan tujuan irtikabu akhoffu Adh dhororoin (usaha untuk memilih madhorot yang lebih ringan).

Maka orang seperti ini tidak bisa dianggap telah melakukan amalan kesyirikan, dan menjadi musyrik.

Sudah faham belum? Ini saya sudah menurunkan strata keilmuan saya ke level atmosfer lho.

Maka dari itu ketika anda nggak faham ketika saya kasih contoh kasih laporan spt pajak tahunan. Atau masalah tiap hari saya terpaksa bawa shuroh (gambar) yang ada di dalam uang saya.

Maka itu saya anggap wajar.

Nggak faham itu wajar. Maka dari itu kita memang harus bertanya kepada Ahlinya ahli, intinya inti, core of the core biar kita bisa faham.

Dan itu terus terang bukan saya…. Lha wong saya ini kan bukan Ustadz, majhul, dan suka sakpenake dhewe. Maka dari itu Ahlinya ahli, intinya inti, core of the core terus terang bukan saya.

Anggap saja saya tukang jual obat di pinggir jalan. Nggak usah digubris.

Baca : Pak Ndul mode off.

Oleh Pak Kautsar Amru

=

  • Dua Kaidah Yang Berbeda

✅ Kaidah fiqih:

ارتكاب أخف الضررين

“Memilih mudhorot yang lebih ringan”

✅ Sering diartikan atau disamakan dengan kaidah:

ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﺗﺒﻴﺢ ﺍﻟﻤﺤﻈﻮﺭﺍﺕ

Dharurat membolehkan hal yang terlarang”

Padahal keduanya adalah dua kaidah yang berbeda.

Kaidah “Memilih salah satu dari dua mudharat yang lebih ringan” tidak harus sampai pada derajat darurat.

Hal ini berbeda dengan kaidah “darurat membolehkan yang terlarang”, kaidah ini khusus keadaan darurat saja.

(Faedah Dr. Musyaffa’ Ad Darini, MA dalam group Suara Dakwah Salafiyah)

  • ➡ Makna “irtikab akhafu dhararin”

Berkata Ibnu Nujaim: ” jika seorang dihadapkan dua mudharat yang mana keduanya sama kadarnya maka dia memilih salah satu sesuai yang dikehendakinya, namun jika keduanya berbeda (kadarnya) maka dia pilih yang lebih ringan

KARENA MELAKUKAN SESUATU YANG HARAM TIDAK DIBOLEHKAN KECUALI KARENA DARURAT, DAN TIDAK ADA DARURAT DALAM SUATU YANG BERLEBIHAN” ( Al-Asybah Wa Nadzooir hal.76)

Jadi kaidah ini hanya untuk masalah darurat

Karena para ulama membawa kaidah ini dibawah kaidah besar ” Ad-Daurarat Tubihul Mahdzurat”.

Oleh: Agus Susanto

=

  • Bijak Sikapi Khilafiyah Ijtihadiyyah Seputar Pemilu

Tolong yang ingin nyoblos jangan ngece yang golput. Dan yang golput juga jangan ngece yang mau nyoblos. Lihatlah bagaimana adil dan bijaknya sikap para ulama menyikapi perbedaan pendapat dalam masalah Pemilu berikut ini:

✅ Syaikh Abdurrahman Al Barrak hafizhahullah mengatakan:

ومن ترجح عنده في المشاركة تحصيل هذه المصالح، ودرء تلك المفاسد فلا عليه إذا شارك بنية صالحة، ومن لم يترجح عنده تحقيق المصالح الراجحة، ولم يأمن من الوقوع في الباطل فليس عليه حرج إذا اعتزل تلك الطوائف كلَّها، ونَصَحَ لله _تعالى_ ولرسوله (صلى الله عليه وسلم) وللمؤمنين، كما قال تعالى{لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلا عَلَى الْمَرْضَى، وَلا عَلَى الَّذِينَ لا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِه،ِ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ}

Dan barangsiapa yang mengambil pendapat bahwa ikut serta dalam Pemilu itu akan mewujudkan maslahah tersebut dan mencegah mafsadah maka ia harus menyertainya dengan niat yang shalih. Dan siapa yang mengambil pendapat belum adanya maslahah yang kuat dan merasa khawatir untuk terjerumus dalam kebatilan, maka tidak mengapa baginya untuk meninggalkan semua golongan-golongan tersebut. Dan ia mengupayakan nasehat bagi Allah Ta’ala, bagi Rasul-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam dan kaum Mu’minin. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلا عَلَى الْمَرْضَى، وَلا عَلَى الَّذِينَ لا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِه،ِ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Tiada dosa atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka mengupayakan nasehat kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. At Taubah: 91).

✅ Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman hafizhahullah mengatakan:

وقبل حدوث هذه النازلة جلس إخوانكم في هذا البلد على إثر زيارة بعض إخواننا من العراق وجرى بحث هذا الأمر فانشرحت صدورهم إلى المشاركة في الانتخابات من باب المصالح المعتبرة التي يقرها العارفون الذين يعرفون حيثيات ما يجري في العراق، فإن هم أصابوا الحق فالحمد لله ، وإلا فهم مأجورون على اجتهادهم.وعلى الأخوة أن لا يدخلوا في هذه الانتخابات وإنما ينشغلون بتعليم الناس دين الله ومن ذلك أن يحضوا عامة أهل السنة إلى انتخاب أهل السنة فقط

Dan sebelum kejadian ini, saudara-saudara kalian di negeri ini (Yordania) telah berkunjung ke sebagian saudara-saudara kita di Iraq, dan membahas bersama mengenai perkara ini hingga mereka pun berlapang dada untuk berpartisipasi dalam pemilu, dalam rangka meraih kemaslahatan syar’i. Hal ini telah disetujui pula oleh para cendekiawan yang memahami realita kondisi di Iraq. Maka apabila mereka memang berada di atas al haq dengan keputusan mereka, maka alhamdulillah. Adapun jika mereka salah, maka mereka mendapatkan pahala atas ijtihad mereka. Adapun sebagian saudara kita yang tidak ikut serta dalam Pemilu, mereka itu sibuk mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat, namun mereka mendesak kepada seluruh ahlussunnah agar hanya memilih kandidat yang ahlussunnah.

Sumber: http://muslim.or.id/manhaj/hukum-pemilu-pilpres-2-fatwa-fatwa-para-ulama.html

Stop saling mencela dalam masalah khilafiyah ijtihadiyyah. Andaikan ingin menyanggah, sanggahlah dengan ilmiah dan kesantunan.

Semoga Allah memberi taufik.

Oleh: Yulian Purnama

=

  • Mengenal Hizbi, agar tidak gagal paham.

Syeikh Rabi’ Al Madkhaly berkata:

Setiap orang yang menyelisihi metodologi Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan keteladanannya makania dianggap sebagai kelompok sesat.

Status hizbiyah itu bisa terjadi tanpa ada kriteria / persyaratan tertentu. Buktinya Allah menyebut ummat ummat terdahulu dengan sebutan ahzab (jama’ dari kata hizeb).

Sebagaimana Allah juga menyebut Quraisy sebagai ahzab, yaitu ketika mereka berkumpul dan kemudian ada kelompok/kabilah lain yang bergabung dengan mereka.

Mereka tidak memiliki organisasi atau unsur suatu organisasi lainnya.

Pendek kata, tidak dipersyaratkan berorganisasi untuk bisa dianggap sebagai hizbi . Namun bila hizeb itu terorganisir maka tentu itu semakin buruk.

FANATISME KEPADA SATU PEMIKIRAN/ pendapat yang terbukti menyimpang dari Al Kitab dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Membangun loyalitas dan permusuhan di atas pemikiran tersebut, INILAH YANG DISEBUT TAHAZZUB / hizbiyah ( fanatisme ).

Hizbiyah seperti ini, walaupun tidak terorganisir , menetapi pemikiran yang menyimpang, memobilisasi masa untuk mengikuti pemikiran tersebut, maka inilah yang disebut hizby. Baik terorganisir atau tidak terorganisir.

Selama bersatu di atas pemikiran seseorang yang terbukti menyelisihi al Kitab dan As Sunnah.

http://www.rabee.net/ar/questions.php?cat=31&id=662

Jadi hizbi itu tidak sekedar berkelompok atau berorganisasi, sendirianpun bisa jadi hizby, bila fanatisme itu dipelihara.

Semoga mencerahkan.

=

  • Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Demikian kata pepatah, banyak yang gagal paham tentang hizbi, dianggapnya hizbi itu organisasi atau perkumpulan atau kelompok.

Padahal hizby itu adalah sikap dan perilaku.

Mungkin banyak yang heran, kok bisa terjadi pendangkalan pemahaman seperti ini?

Betul, usut punya usut ternyata begitulah pohonnya. Pohon mangga tak akan berbuah kelapa, jadi kalau ada murid gagal, maka perlu dicek dulu, jangan buru buru nyalahkan murid, bisa jadi gurunya yang salah “cetakan produksinya”,

Makanya harus ada koreksi pada “cetakan” yang dipakai oleh gurunya.

akan banyak buang buang energi bila kita berjibaku merubah “produk” tapi membiarkan cetakannya salah ukuran.

Semoga mencerdaskan.

=

  • ➡ “Trik Penjajahan”

Eeh, ngeluarkan fatwa boleh ikut nyoblos, sudah musyawarah dengan para syeikh apa belum?

Demikian nasehat bijak sebagian orang.

Sayangnya, dia melanjutkan dengan kesimpulan fatwa tawaqquf, alias abstain.

Jadi , harusnya dia juga komitmen: tawaqquf sudah konsultasi dengan para syeikh atau belum? Seakan dirinya tidak butuh kepada tambahan ilmu, atau ……

Sobat, saya sudah kenyang dengan “trik penjajahan” seperti ini.

Kalau ada yang berbeda langsung disuruh bertanya ke syeikh, tapi dirinya sendiri tidak pernah mau bertanya.

Seakan dirinya sudah jadi syeikh bahkan lebih hebat dibanding syeikh, sehingga tidak perlu bertanya. Yang harus bertanya adalah setiap yang berbeda dengan dirinya.

Jadi kesimpulannya, ”bertanya kepada syeikh” sekedar alat untuk menjatuhkan atau membungkam pendapat orang lain, bukan untuk mencari kebenaran.

Semoga mencerdaskan.

=

  • Di akhirat emangnya ditanya siapa pilihan presidenmu?

Demikian seloroh sebagian orang.

Sobat, ketahuilah semua tindakan dan ucapan manusia akan dimintai pertanggung jawaban.

Anda memilih atau anda memilih untuk tidak memilih, semua itu adalah tindakan.

Sampaipun pertanyaan anda di atas juga akan dicatat dan harus anda pertanggung jawabkan.

Dalam ayat 18 surat Al Qaf, telah ditegaskan bahwa tiada sepatah kata yang diucapkan manusia melainkan di sisinya ada malaikat yang mengawasi dan menghitung (mencatat).

Karena itu mungkin yang lebih tepat pertanyaannya dibalik: emang anda punya dalil bahwa di akhirat anda terbebas dari pertanggung jawaban atas sikap anda tidak memilih?

Apalagi bila anda bertanya dengan tendensi biar dianggap paling wara’, sedang yang lain paling ceroboh, merasa paling potensial masuk surga karena tidak terlibat dalam politik sedangkan yang terlibat walau hanya dengan menggunakan hak suara maka tertutup baginya pintu surga, atau minimal paing potensial masuk neraka.

Sobat, sekali lagi sikap dan pilihan anda adalah amalan anda, tang harus anda pertanggung jawabkan.

Karena kata “amalan” dalam Islam mencakup perbuatan dan juga pilihan meninggalkan suatu perbuatan atau dalam bahasa arahnya disebut dengan At tarku. Makanya anda membaca status ini bila dilengkapi dengan niat meninggalkan namimah, atau ghibah maka itu sudah dianggap sebagai amalan.

Semoga mencerdaskan.

Oleh: Dr Muhammad Arifin Badri

=

  • Kaedah Kaedah dalam memahami demokrasi

✅ 1. Islam tidak akan berjaya melalui jalan demokrasi, akan tetapi melalui proses Tashfiyah wat Tarbiyah.

✅ 2. Demokrasi itu syirik besar dari kacamata penetapan hukum, yakni karena memposisikan Allah dan syariat Nya sebagai sesuatu yang memiliki kedudukan yang sama, dengan keinginan hawa nafsu manusia dan rumusan hukum buatannya. Sehingga seseorang dianggap boleh pilih.

*Ada perincian dalam masalah ini. Jika orang itu mengaku berdosa, terpaksa, tidak tahu atau tidak faham, karena uang-jabatan-popularitas, bermaksiat mengikuti hawa nafsu, karena adanya syubhat, dan yang semisal.

Namun dia ber-itiqod bahwa sebenarnya hukum Allah yang paling benar, paling tinggi, yang seharusnya wajib dia ikuti, dan hal hal yang semisal. Maka dia tidak terkena ancaman kafir dalam hal ini, dia hanya dipandang seorang muslim yang bermaksiat, fasiq, berdosa, atau yang mendapatkan udzur.

**Ini hanya berlaku bagi hukum hukum syariat Allah yang qoth’i dan shorih (tegas dan jelas). Adapun hukum hukum lain yang tidak diperinci oleh syariat, maka tidak mengapa dibicarakan dan diputuskan berdasarkan mashlahat madhorot.

✅ 3. Pemilu adalah bagian dan jalan dari demokrasi, namun dia tidak memiliki kedudukan sama dalam masalah menetapkan hukum. Kecuali dalam masalah memilih pemimpin Kafir.

✅ 4. Berpartisipasi untuk memilih lewat pemilu adalah termasuk cara mugholabah (yang saling berusaha mengalahkan). Yang mana pemilu ini tidak sesuai dengan syariat, karena menganggap suara orang pandai sama dengan orang bodoh, ulama sama dengan awam, dan orang kafir sama dengan orang muslim.

Walaupun caranya bertentangan dengan syariat, namun hasilnya diakui oleh syariat. Masalah mekanisme dan masalah de facto itu adalah dua hal yang berbeda.

✅ 5. Berpartisipasi dalam pemilu itu asalnya haram atau tidak boleh, kecuali hanya karena sekedar pertimbangan darurat, maslahat madhorot, atau memilih yang madhorot nya paling kecil.

Dan wajib untuk memahami bahwa Islam tidak akan berjaya melalui jalan demokrasi, akan tetapi melalui proses Tashfiyah wat Tarbiyah. Ini hanya masalah kepepet saja.

✅ 6. Pemimpin yang terpilih melalui pemilu adalah tetap dianggap ulil Amri de facto, jika dia adalah seorang Muslim

=

  • Demokrasi dan problematikanya

Bagaimana ulil Amri yang terpilih dari hasil pemilihan umum demokrasi? Bukankah demokrasi itu syirik akbar?

*****

Jawaban akan pertanyaan itu akan kami jawab nanti di akhir penjelasan kami. Berikut akan kami kedepankan dulu penjelasan duduk perkaranya, agar jangan sampai “jumping to the conclusion” dan menimbulkan kesalahan yang fatal.

*****

  • Point satu :

Ya, demokrasi itu merupakan sistem kufur yang tergolong syirik akbar secara umum, akan tetapi pelakunya tidak otomatis menjadi kafir kecuali dengan perincian.

Dikatakan syirik akbar karena demokrasi membolehkan untuk membuat dan meresmikan aturan tandingan, atau aturan yang menentang syariat Islam yang jelas.

Sehingga sistem demokrasi itu mensetarakan posisinya dengan Allah sang pembuat aturan syariat, disinilah kesyirikan itu terjadi.

Demokrasi itu bisa menjadi syirik akbar, jika dijadikan sebagai dasar acuan voting untuk menerima atau menolak suatu aturan syariat.

  • Misal :

Islam tegas membuat aturan bahwa khomr itu haram. Jika kemudian diajukan voting demokrasi untuk menentukan apakah khomr itu halal atau haram, maka ini adalah syirik akbar karena syariat sudah jelas mengharamkannya. Dan tidak ada pilihan lain akan hal ini.

Dia mensyirikkan Allah sebagai penetap aturan syariat, dengan hawa nafsu manusia voting suara melalui sistem demokrasi.

Dia hendak mentabdil (mengganti) syariat Allah, dengan menisbatkan kebolehan menghalalkan yang haram atau sebaliknya sebagai hal yang diinginkan Allah.

Atau mentabdil (mengganti) syariat dengan aturan lain yang dianggap setara atau bahkan lebih tinggi dari aturan syariat.

Atau mentabdil (mengganti) syariat dengan aturan lain, karena dianggap syariat itu sudah tidak sesuai zaman dan boleh diganti dengan aturan lain yang sesuai kondisi zaman.

Ingat sekali lagi,

kami baru membahas sistem demokrasi dan konsekuensi nya secara umum. Kami belum membahas masalah “pelaku demokrasi” itu sendiri.

Jangan jumping to the conclusion dulu dalam hal ini. Dua hal itu adalah dua hal yang berbeda pembahasan nya.

****

  • Point dua :

Adapun jika demokrasi digunakan untuk menvoting suatu kebijakan yang tidak menyelisihi, tidak diatur secara jelas, dan tidak bertentangan dengan aturan syariat.

Maka hal ini dibolehkan dan mubah saja.

Karena ini kembali kepada qaidah umum hukum asal masalah keduniawian. Yang mana hukum asal keduniawian itu mubah hingga ada dalil yang melarang.

Demikian juga telah dijelaskan oleh Syaikh Ali al Halabi hafidzahullooh.

****

  • Point tiga :

Sekarang setelah kita tahu bahwa ada demokrasi yang haram dan bahkan merupakan syirik besar, dan ada juga demokrasi yang hukumnya mubah saja. Maka bagaimana kah hukum pelaku demokrasi dalam masalah yang haram dan merupakan syirik besar itu?

(Adapun untuk pelaku masalah demokrasi dalam hal yang mubah tidak kita bahas, karena hal itu sudah jelas.)

Hukum pelaku demokrasi dalam hal yang haram dan merupakan syirik besar itu dibagi menjadi dua :

✅ 1. Jika dia melakukan voting demokrasi dalam hal yang diharamkan, dengan tujuan dan keyakinan untuk mentabdil (mengganti) syariat Allah, dengan menisbatkan kebolehan menghalalkan yang haram atau sebaliknya, sebagai hal yang diinginkan Allah.

Atau mentabdil (mengganti) syariat dengan aturan lain yang dianggap setara atau bahkan lebih tinggi dari aturan syariat.

Atau mentabdil (mengganti) syariat dengan aturan lain, karena dianggap syariat itu sudah tidak sesuai zaman dan boleh diganti dengan aturan lain yang sesuai kondisi zaman.

Atau sengaja karena untuk menentang syariat aturan Allah, dengan membolehkan atau menghalalkan apa yang Allah haramkan, dan sebaliknya.

Maka orang seperti ini telah melakukan syirik besar, dan menjadi kafir jika terpenuhi sebab, syarat, dan tidak adanya udzur padanya.

✅ 2. Jika dia melakukan voting demokrasi dalam hal yang diharamkan, karena mengikuti hawa nafsunya untuk bermaksiat dan dia mengaku bahwa dia salah dan berdosa.

Atau karena tidak faham, adanya syubhat, dan adanya udzur bagi dia.

Atau karena dipaksa atau terpaksa, sedangkan dia sebenarnya tidak ridho dan mengakui bahwa itu salah dan dosa.

Atau karena masalah suap agar mendapatkan uang sehingga dia menjual suaranya. Sedangkan dia sebenarnya faham bahwa itu tidak boleh dan mengaku berdosa.

Maka orang seperti ini tidak dikafirkan, dan dia termasuk orang muslim pendosa atau fasiq, atau termasuk orang muslim yang mendapatkan udzur atas kesalahannya.

****(Lanjut ke Halaman2)****