Kaidah Viral .. “Mengambil Yg Lebih Ringan Mudharatnya”. dan Penerapan Kaidah Ini Dalam Masalah Bolehnya Mengikuti Pemilu Apa Sudah Tepat & Memenuhi Syarat

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Kriteria Capres Pilihan Umat Islam |

2.Cerdas dalam Memilih Maslahat dan Mudarat

3.Ketika Harus Memilih : Antara Beberapa Maslahat Dan 2 Mudarat

4.Kapan Waktu Membaca Surat Al Kahfi di Hari Jum’at?

5.Khutbah Jumat: Iman dan Istiqamah

6.Memperbanyak Taubat

7.Golput ataukah Memberikan Suara?

8. Hukum Golput dalam Pemilu

9. Hukum Memberikan Suara dalam Pemilu

=

Irtikabu akhaffu adh-dhararain(Memilih Kemadaratan Teringan)-Ust Abdul Hakim Amir Abdat.mp4

Obrolan Santai Menjelang Pemilu Pilih Golput atau Nyoblos – Dr. Muhammad Arifin Badri.m4a

Kedudukan Shalat Dalam Islam-Ust Abu Hanifah J Yasin.m4a

lApa itu RIDHO Ust. Syariful Mahya Lubis, Lc, MA.webm

PenantianPara Nabi-Syariful Mahya Lubis, Lc, MA.webm

https://mir.cr/1CHJQLYH

Saat KesulitanMengajariku-Ust.Syariful Mahya Lubis, Lc, MA.webm

https://mir.cr/XV0GRGZD

TunjukanKuburnya Kepadaku-Ust.Syariful Mahya Lubis, Lc, MA.webm

https://mir.cr/RSTQRRTC

Belajar Aqidah Aqidah Salaf Memahami Turunnya Allah Ustadz Mizan Qusyiah, Lc, MA.webm

Bolehkah Kita Ikut PEMILU Pilpres, Pilkada – Ustadz Dr.Firanda Andirja, MA..webm

Hukum Seputar Perbudakan Dalam Islam Ustadz Mizan Qusyiah, Lc, MA.webm

Syarat Agar Ibadahmu Diterima – Ustadz Rizal Yuliar Putrananda, Lc.webm

Pentingnya Pijakan Ilmu Syar’i Untuk Regenerasi Bangsa dengan pemateri Ustadz Abul Irbadh Supriano ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ

Peran Orang TuaSebagai Pondasi Ilmu Keluarga , Ustadz Abu Imron Sanusi Darisﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ

Bahaya Hizbiyyah Oleh Ustadz Yulian Purnama S.Kom

Salah Memilih Teman Bisa Meracuni Hati Oleh Ustadz Amir As Soronji,

==

==

➡ Kaidah Viral .. “Mengambil Yg Lebih Ringan Mudharatnya”. dan Penerapan Kaidah Ini Dalam Masalah Bolehnya Mengikuti Pemilu Apa Sudah Tepat & Memenuhi Syarat?

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

==

  • Fatwa Politikus

Kalau kita tanyakan: mana yang lebih besar mudharatnya, 01 atau 02? Sebutkan mudharat-mudharat yang kemungkinan besar terjadi, dan sebutkan mashlahat yang kemungkinan besar didapatkan?!

Jawabannya pasti mudharat dan mashlahatnya itu didasarkan dari analisa para politikus BUKAN ulama.

Jadi hakikatnya bukan ikut fatwa Ulama tapi ikut fatwa Politikus.

Oleh: Muhammad Abu Muhammad Pattawe

=

  • Kaidah yg lagi viral .. “mengambil yg lebih ringan mudharatnya”.

=====

Dalam tulisan ini, penulis ingin memberikan sedikit faedah tentang kaidah ini, dan untuk lebih mudah memahaminya, penulis akan jabarkan dalam beberapa poin berikut ini:

  • Pertama:

Dalam bahasa arab, ada banyak redaksi utk kaidah ini, diantaranya:

الضرر الأشد يزال بالضرر الأخف

Mudharat yang lebih berat, harus dihilangkan dg melakukan yg mudharat yg lebih ringan

يختار أخفَّ الضررين

Yang harusnya dipilih adalah mudharat yg lebih ringan

يختار أهونَ الشرين

Yang harusnya dipilih adalah keburukan yg lebih ringan

إذا اجتمع الضرران أسقط الأكبر للأصغر

Jika ada dua mudharat yg berkumpul, maka yg lebih besar harus digugurkan, untuk melakukan yg lebih kecil.

تحتمل أخف المفسدتين لدفع أعظمهما

Mafsadat yg lebih ringan harus dijalani untuk menolak mafsadat yg lebih besar.

إذا تعارض مفسدتان رُوعي أعظمُهما ضررًا بارتكاب أخفهما

Apabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yg harus ditinggalkan adalah mafsadat yg mudharatnya lebih besar, dg melakukan mudharat yang lebih ringan.

إذا تزاحمت المفاسد، واضطر إلى فعل أحدها، قدم الأخف منها

Jika ada banyak mafsadat berkumpul, dan terpaksa harus melakukan salah satunya, maka yg didahulukan sebagai pilihan adalah mafsadat yg paling ringan.

  • Kedua:

Kaidah ini adalah bukti nyata kesempurnaan Islam dan betapa besar rahmat yg dibawa oleh Islam .. hingga dalam masalah yang sulit seperti ini pun, Islam masih memberikan solusi yg memudahkan manusia, dan tentunya akan tetap mendatangkan pahala bila niatnya adalah untuk tunduk dan patuh kepada syariat Allah yg menciptakan kita.

  • Ketiga:

Ada banyak dalil yg menunjukkan benarnya kaidah ini, diantaranya:

✅ 1. Firman Allah ta’ala:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah: berperang dalam bulan itu adalah dosa besar. Tetapi menghalangi orang dari jalan Allah, ingkar kepada-Nya, (menghalangi orang masuk) masjidil haram, dan mengusir penduduknya darinya, itu lebih besar dosanya dalam pendangan Allah. Dan tindakan² fitnah tersebut lebih parah daripada pembunuhan”. [Albaqarah: 217].

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa mafsadat yg dilakukan oleh kaum musyrikin berupa: tindakan kufur kepada Allah, menghalangi manusia dari petunjuk Allah, mengusir kaum muslimin dari tanah mekah, ini semua lebih berat dari tindakan kaum muslimin memerangi sebagian kaum musyrikin di bulan haram itu.

Sehingga tindakan memerangi orang² kafir di bulan haram saat itu menjadi boleh, karena mafsadatnya lebih ringan daripada mafsadat² yg dilakukan kaum musyrikin terhadap kaum muslimin .. dan kaum muslimin tidaklah melakukan hal itu kecuali agar mafsadat yg lebih besar dari kaum musyrikin tidak terjadi.

✅ 2. Firman Allah ta’ala tentang kisah Nabi Khidir -alaihissalam- yg melubangi kapal milik orang miskin dan membunuh anak kecil .. kedua tindakan ini dilakukan oleh beliau untuk menghindari mudharat yg lebih besar, yaitu: diambilnya kapal yg masih bagus oleh penguasa yg zalim, dan kufurnya kedua orang tua anak tersebut karena terfitnah oleh anaknya. [Lihat Alkahfi, ayat: 71-74, dan ayat 79-81, dan kitab Alqawaid wal ushul Aljamiah: 150]

✅ 3. Firman Allah ta’ala tentang larangan mencela tuhannya kaum kafirin, karena itu menyebabkan mereka mencela Allah ta’ala [Al-An’am: 108] .. karena mafsadat dicelanya Allah secara zalim itu jauh lebih besar daripada mafsadat tidak dicelanya tuhan² mereka yg batil itu.

✅ 4. Diantara dalil yg menjadi dasar kaidah di atas adalah: kisah perjanjian Hudaibiyah, dimana ada beberapa sisi ketidak-adilan yg tampak jelas dalam perjanjian itu .. tapi hal itu tetap diterima dan dipilih oleh Nabi kita -shallallahu alaihi wasallam-, karena mafsadat tidak menerima perjanjian itu lebih besar .. yaitu dg terancamnya kaum muslimin yg masih berada di mekah dari pembunuhan dan penyiksaan. [Shahih Bukhari: 2731].

Dan terbukti setelah perjanjian itu, tidak hanya kaum muslimin yg ada di makkah selamat, tapi lebih dari itu perkembangan dakwah beliau semakin cepat dan menguat dimana-mana.

✅ 5. Dalil lain yang menunjukkan benarnya kaidah di atas adalah: kisah seorang badui yg kencing di masjid Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, kemudian ada sebagian sahabat beliau yg ingin menghentikannya .. maka beliau mengatakan kepada para sahabatnya: “Biarkan dia, dan jangan kalian memutus (kencing)-nya!” kemudian beliau meminta seember air, lalu beliau menyiram (tempat bekas kencing)-nya. [HR. Muslim 284]..

Ini menunjukkan bahwa beliau lebih memilih mudharat yg lebih ringan .. karena jika orang badui itu dihardik dan dihentikan, maka air kencingnya akan berhamburan di masjid beliau, tentu ini mafsadat yg lebih besar .. oleh karena itu, beliau meninggalkan mafsadat tersebut dengan cara membiarkan mafsadat yg lebih ringan, yaitu: kencing di masjid beliau sampai selesai di satu tempat saja.

  • Keempat:

Sebagian orang mengatakan, bahwa “kaidah ini hanya berlaku bila keadaannya darurat .. ketika keadaannya tidak darurat, maka kaidah ini tidak boleh diterapkan” .. Ini adalah kesimpulan yg prematur dan tidak sesuai dg praktik para ulama dalam menjelaskan kaidah ini.

Tapi yg menjadi syarat kaidah ini adalah “ketika dua mudharat tidak bisa dihindari semuanya, tapi masih bisa menghindari salah satunya dan tahu mudharat yg lebih ringan .. maka itulah yg harusnya dilakukan”.

Ada beberapa bukti yg menunjukkan hal ini, diantaranya:

✅ a. Kenyataan bahwa dua kaidah itu dibahas oleh para ulama dalam tempat yang berbeda .. kaidah الضرورات تبيح المحظورات “keadaan darurat membolehkan sesuatu yang diharamkan”, dibahas oleh para ulama sebagai cabang dari kaidah المشقة تجلب التيسير “Kesulitan bisa mendatangkan kemudahan”.

Sedangkan kaidah ارتكاب أخف الضررين “mengambil mudharat yg lebih ringan”, dibahas oleh para ulama sebagai cabang dari kaidah الضرر يزال “mudharat itu harus dihilangkan” .. ini menunjukkan bahwa dua kaidah ini harus dibedakan keadaannya.

[Lihat: Alqawaid Alkubra wa ma tafarra’a anha, hal: 247, 527. Dan Alwajiz fil qawaidil fiqhiyyah 234 dan 260]

Penjelasan ini tidak menafikan adanya keterkaitan antara kaidah “keadaan darurat membolehkan sesuatu yg diharamkan” dengan kaidah “mengambil mudharat yg lebih ringan” .. tapi harus dipahami, bahwa adanya keterikatan tidak melazimkan keduanya harus berkumpul terus dalam semua masalah.

✅ b. Kenyataan bahwa contoh yg diberikan oleh para ulama dalam kaidah “mengambil mudharat yg lebih ringan”, tidak semuanya sampai pada keadaan darurat .. sehingga bisa kita pahami, bahwa kaidah itu tidak hanya berlaku pada keadaan darurat saja, tapi juga bisa berlaku pada keadaan lain.

✅ c. Kenyataan bahwa kaidah “mengambil mudaharat yg lbh ringan” sering disandingkan dg kaidah “apabila maslahat dan mafsadat berkumpul, dan maslahatnya lebih besar, maka yg didahulukan adalah maslahatnya” .. karena kaidah ini tdk hanya berlaku ketika keadaan darurat, maka kaidah yg sering disandingkan dengannya pun demikian, tdk hanya berlaku pada keadaan darurat saja.

Diantara contohnya adalah berdakwah lewat video, ada maslahatnya, ada juga mafsadatnya .. tp kl kita bandingkan, maka kita akan dapati lebih banyak maslahatnya, sehingga tetap boleh dilakukan.

d. Kenyataan bahwa mudharat atau mafsadah itu bisa terjadi meski keadaannya tdk darurat .. Nah, bila ada dua mudharat atau mafsadat yg tdk bisa kita hindari semuanya, maka yg kita lakukan adalah memilih mudharat atau mafsadat yg lbh ringan.

Perlu diketahui, bahwa keadaan darurat adalah: “Sesuatu yg harus ada untuk terciptanya maslahat agama dan dunia. Sehingga bila tidak ada, maka maslahat dunia akan rusak, keadaan kacau, dan terjadi kematian. Sedang di akherat mendatangkan kerugian nyata dg tidak mendapatkan surga dan kenikmatan”. [Al-Muwafaqat: 2/8].

Atau lebih simpelnya keadaan darurat adalah: “Keadaan yg apabila seseorang tidak melakukan larangan, dia akan mati atau mendekati kematian”. [Al-Mantsur fil Qawaid liz zarkasyi 2/319]

Atau: “Kebutuhan mendesak yang memaksa seseorang melakukan sesuatu yg diharamkan syariat”. [Haqiqatud Dharuratisy Syar’iyyah, lil jizani, hal: 25].

  • Kelima:

Ada banyak contoh yg disebutkan oleh para ulama dalam penerapan kaidah ini .. dan kalau kita renungkan, kita akan mendapati bahwa kaidah itu bisa diterapkan pada semua keadaan, baik keadaannya darurat maupun tidak .. yg penting dua mudharat itu tidak bisa dihindari semuanya, dan hanya bisa menghindar dari salah satunya.

Berikut sebagian contoh kaidah ini:

✅ 1. Bolehnya mendiamkan kemungkaran, apabila ditakutkan timbul kemungkaran yg lebih besar dengan mengingkarinya .. karena mafsadat adanya kemungkaran yg sedang terjadi = lebih ringan daripada mafsadat kemungkaran yg dikhawatirkan. [Alqawaid Alkubra, hal: 532]

✅ 2. Apabila cincin berharga seseorang dimakan oleh ayam ternak tetangganya, maka pemilik cincin itu berhak memiliki ayam tersebut dg membelinya, lalu menyembelihnya untuk mendapatkan kembali cincinnya .. karena mafsadat matinya ayam ternak lebih ringan, daripada mafsadat hilangnya cincin berharga. [Alqawaid Alkubra, hal: 532]

✅ 3. Seandainya ada orang yg shalat, dia tidak mampu menutup auratnya ketika berdiri .. tapi bila dia duduk, auratnya bisa tertutupi .. maka dia diperintahkan untuk shalat duduk .. karena mafsadat tidak berdiri lebih ringan daripada mafsadat tidak menutup aurat dalam shalat. [Alqawaid Alkubra, hal: 532]

✅ 4. Boleh bagi produsen atau pemerintah membatasi harga jual suatu produk, padahal membatasi harga jual pada asalnya dilarang dan itu bisa mendatangkan mudharat kepada penjual .. tapi hal itu menjadi boleh, karena mudharat mahalnya harga yg harus dialami oleh masyarakat umum = lebih besar dan lebih luas efeknya, daripada mudharat yg harus dialami oleh penjual.

✅ 5. Apabila ada orang terpaksa harus makan, dan di depannya hanya ada dua bangkai, yg satu bangkai kambing, dan yang satu bangkai anjing .. maka yg harus dia pilih adalah bangkai kambing, karena mudharatnya lebih ringan. [Alqawaid Wal Ushul Aljamiah: 86]
✅ 6. Barangsiapa terpaksa harus menjimak salah satu dari dua isterinya, tapi yg satunya sedang haid dan yg satunya lagi puasa wajib .. maka yg harus dia pilih adalah isteri yg sedang puasa wajib, karena itu yg mudharatnya lebih ringan, karena puasa wajib boleh dibatalkan untuk kebutuhan orang lain yg mendesak, seperti: karena menyusui, khawatir dg kesehatan janin, menyelamatkan seseorang dari kebakaran, dst. [Alqawaid Wal Ushul Aljamiah: 86]

✅ 7. Boleh merusak rumah seseorang yg berada di samping rumah orang lain yg sedang terbakar .. dengan pertimbangan agar kebakaran tidak menjalar ke banyak rumah yg lainnya .. karena rusaknya satu rumah adalah mudharat yg lebih ringan, daripada terbakar dan rusaknya banyak rumah yg lainnya. [Alqawaid Wal Ushul Aljamiah, ta’liq syeikh Utsaimin: 151]

✅ 8. Boleh untuk tidak taat kepada kedua orang tua ketika melarang anaknya menunaikan ibadah haji wajib, meskipun itu menjadikan mereka marah .. karena mudharat tidak menunaikan kewajiban ibadah haji lebih besar daripada mudharat tidak taat kepada kedua orang tua .. karena mudharat bermaksiat kepada Allah lebih besar daripada mudharat bermaksiat kepada kedua orang tua .. maka ada sabda Nabi -shallallahu alaihi wasallam- yg artinya: “tidak boleh taat kepada makhluk, dalam hal bermaksiat kepada sang Khaliq” [Alqawaid Wal Ushul Aljamiah, ta’liq syeikh Utsaimin: 151]

✅ 9. Apabila seorang yg sedang ihram terpaksa harus makan, dan di depannya hanya ada dua pilihan: hewan buruan atau bangkai kambing .. maka yg menjadi pilihan adalah hewan buruan, karena memakan hewan buruan bagi dia, mudharatnya lebih ringan .. karena haramnya bangkai itu berkaitan dg dzatnya, sedangkan haramnya hewan buruan itu bukan karena dzatnya, tapi karena keadaan dia yg sedang ihram. [Alqawaid Wal Ushul Aljamiah, ta’liq syeikh Utsaimin: 152]

✅ 10. Boleh berdusta antara suami isteri untuk menjaga keharmonisan dan rasa cinta antara keduanya .. karena mudharat dusta untuk menguatkan tali pernikahan = lebih ringan daripada rusaknya tali suci pernikahan. [Lihat hadits Attirmidzi 1939, shahih]

✅ 11. Boleh berdusta untuk mendamaikan dua insan yg sama² muslim yg sedang tidak rukun .. karena mudharat berdusta untuk mendamaikan keduanya = lebih ringan daripada rusaknya persaudaraan sesama muslim. [Lihat hadits Attirmidzi 1939, shahih]

✅ 12. Boleh membuka perut ibu hamil yg sudah meninggal, bila diperkirakan janinnya bisa diselamatkan dg cara itu .. karena mudharat dilukainya tubuh mayit lebih ringan daripada mudharat matinya janin yg ada di rahimnya. [Alwajiz fil qawaidil fiqhiyyah 261].

✅ 13. Seseorang yg dimintai keterangan tentang wanita yg akan dipinang, dia boleh membuka aib wanita itu kepada orang yg ingin meminangnya .. karena mudharat membuka aibnya dalam kondisi seperti ini lebih ringan daripada mudharat salah pilih istri yg akan dialami oleh orang tersebut.

~~~ Lanjut Ke Halaman 2 ~~~