Wasilah Dakwah (Bag.1) 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Bolehkah Bekerja Di Sekolah Non Sunnah?

2.Menghadiri Undangan Makan Caleg?

3.“Kehidupan Hanya Kesenangan”?

4.Bolehkah Menutup Mata Ketika Shalat?

5.Janji Seorang Suami Yang Tidak Ditepati

6.Membaca Basmallah Saat Minum Kopi Dan Teh?

7. Apakah Termasuk Harta Warisan, Dana Pensiunan, Santunan Kematian Dari Lembaga Asuransi dan Pensiunan ?

==

Obrolan Santai Menjelang Pemilu Pilih Golput atau Nyoblos – Dr. Muhammad Arifin Badri.m4a

Kedudukan Shalat Dalam Islam-Ust Abu Hanifah J Yasin.m4a

Apa itu RIDHO Ust. Syariful Mahya Lubis, Lc, MA.webm

PenantianPara Nabi-Syariful Mahya Lubis, Lc, MA.webm

https://mir.cr/1CHJQLYH

Saat KesulitanMengajariku-Ust.Syariful Mahya Lubis, Lc, MA.webm

https://mir.cr/XV0GRGZD

TunjukanKuburnya Kepadaku-Ust.Syariful Mahya Lubis, Lc, MA.webm

https://mir.cr/RSTQRRTC

Belajar Aqidah Aqidah Salaf Memahami Turunnya Allah Ustadz Mizan Qusyiah, Lc, MA.webm

Bolehkah Kita Ikut PEMILU Pilpres, Pilkada – Ustadz Dr.Firanda Andirja, MA..webm

Hukum Seputar Perbudakan Dalam Islam Ustadz Mizan Qusyiah, Lc, MA.webm

Syarat Agar Ibadahmu Diterima – Ustadz Rizal Yuliar Putrananda, Lc.webm

Pentingnya Pijakan Ilmu Syar’i Untuk Regenerasi Bangsa dengan pemateri Ustadz Abul Irbadh Supriano ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ

Peran Orang TuaSebagai Pondasi Ilmu Keluarga , Ustadz Abu Imron Sanusi Darisﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ

Bahaya Hizbiyyah Oleh Ustadz Yulian Purnama S.Kom

Salah Memilih Teman Bisa Meracuni Hati Oleh Ustadz Amir As Soronji,

=

  • Wasilah Dakwah (bagian pertama)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

 

Sederhananya, dakwah adalah istilah untuk sebuah usaha mengajak orang lain untuk mengamalkan Islam, atau meninggalkan kemaksiatan. Sering kali dengan alasan mengikuti perkembangan jaman dan kecondongan manusia, usaha ajakan tersebut dimodifikasi,atau dikreasikan dengan ide pemikiran baru. Sehingga, munculah wasilah dakwah yang belum pernah ada pada generasi terdahulu.

Dakwah dengan nasyid misalnya, dengan sandiwara dan sinetron islami, atau yang belum lama ini dengan sosial eksperimen, dakwah dengan membuat komunitas hobi (bikers, sepeda dan semisalnya), atau memadukan masjid dengan tempat nongkrong kaum muda millenial yang dibumbui dengan musik, tari dan aktifitas lainnya, atau dakwah dengan menyandingkan artis dengan ustadz, bahkan dengan menyandingkan tokoh politik dengan ustadz penceramah di masa kampanye.

Permasalahan seperti ini, tidak luput dari perhatian ulama dari jaman ke jaman, bahkan dari sejak dahulu. Para ulama pun berselisih dalam permasalahan ini; apakah wasilah dakwah ijtihadiyah (sesuai dengan pandangan dai’) ataukah tauqifiyyah (sesuai dengan Nash dalil dan tidak diperbolehkan berkreasi).

Akan tetapi perlu dijelaskan tentang maksud dari wasilah dakwah disini. Kebanyakan ulama yang mengatakan bahwa wasilah dakwah adalah perkara ijtihadiyah, memahami bahwa maksud dari wasilah dakwah adalah dakwah dengan alat dan teknologi terbaru sesuai dengan kemajuan jaman. Kalaulah yang dimaksud wasilah tersebut adalah hal ini, maka semua ulama sepakat tentang kebolehannya.

Seperti dakwah dengan media sosial, dakwah dengan radio dan siaran televisi, atau bahkan aplikasi. Maka semua ini hakikatnya sudah dilakukan Nabi -shallalahu alaihi sallam- dan para sahabatnya. Karena hakikatnya dakwah dengan wasilah ini sama dengan wasilah dakwah yang dilakukan Nabi -shallalahu alaihi wasallam- pada jamannya, yaitu melalui media: tulisan,ceramah, nasehat, dan khutbah. Jadi yang di maksud dengan wasilah disini (yang dianggap tauqifiyyah dan haram berkreasi dengannya) adalah wasilah yang benar-benar tidak dilakukan oleh Nabi dan para Salaf. seperti dakwah dengan nyanyian,sandiwara, tarian, musik, wayang, dan hobi.

Disinilah, orang yang hatinya kotor seringkali bermain dalam kerancuan tanpa menjelaskan dan memperinci permasalahan, kemudian bertanya kepada ulama kibar tentang wasilah dakwah, dengan tujuan melegalkan perbuatan mereka. Akhirnya banyak ulama yang menyangka bahwa wasilah dakwah disini adalah perkembangan teknologi dan kemajuannya. Akhirnya para ulama tadi berfatwa membolehkan wasilah dakwah tersebut dan dibenturkanlah dengan fatwa yang mengharamkan dan membid’ahkan wasilah baru dalam dakwah.

Oleh karena itu, pada hakikatnya, dakwah dengan wasilah yang baru tidaklah diperbolehkan. Wasilah dakwah adalah tauqifiyyah dengan berbagai dalil dan alasan berikut:

  • ➡ 1. Dakwah adalah ibadah.

✅ Allah berfirman:

وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلٗا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ

Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” Surat Fushilat, Ayat 33

Apabila disepakati dakwah adalah ibadah, maka syarat diterima ibadah ada dua: ikhlas dan ittiba.

يقول ابن قاسم – رحمه الله تعالى -: ( ولا بد في الدعوة إلى الله تعالى من شرطين : أن تكون خالصة لله تعالي . وأن تكون على وفق سنة رسوله . فإن أخل بالأول كان مشركاً وإن أخل بالثاني كان مبتدعاً

(( حاشية كتاب التوحيد )) ( ص 55 )

Berkata Syaikh Ibnu Qoshim: “dakwah harus memiliki dua syarat; ikhlas lillahi Ta’ala, dan sesuai dengan Sunnah Rasul Nya. Apabila hilang syarat pertama maka ia menjadi musyrik, dan apabila hilang syarat yang kedua maka ia menjadi mubtadi'”

[hasyiah kitabut tauhid Hal. 55]

  • ➡ 2. Agama Islam sudah sempurna.

✅ Nabi bersabda:

(( ما بعث الله نبياً إلا كان حقاً عليه أن يدل أمته على خير ما يعلمه لهم وينهاهم عن شر ما يعلمه لهم )).

Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali wajib baginya menunjukkan umatnya kepada kebaikan yang dia ketahui untuk mereka dan melarang mereka dari keburukan yang ia ketahui untuk mereka” (HR. Muslim)

Tidak perlu dengan Alasan mengikuti jaman, merubah apa yang sudah sempurna.

  • ➡ 3. Berpegang kepada Sunnah adalah keselamatan.

فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدٗى فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشۡقَىٰ

Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” Surat Tha-Ha, Ayat 123

✅ Berkata Ibnu Abbas:

(( أجار الله تابع القرآن من أن يضل في الدنيا أو يشقى )) قال : (( لا يضل في الدنيا ولا يشقي في الآخرة )).

Allah melindungi orang yang mengikuti Al-Qur’an dari tersesat di dunia atau sengsara” dan dia berkata: “tidak tersesat di dunia dan tidak sengsara di akhirat” lihat ad-dur almantsur (V/607)

✅ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata: “kaidah yang bermanfaat dalam wajibnya berpegang teguh kepada risalah dan penjelasan bahwa kebahagiaan dan petunjuk ada di dalam mengikuti Rasulullah -shalallahu wassalam-, dan sesungguhnya kesesatan dan kesengsaraan disebabkan karena menyalahi petunjuk beliau. sesungguhnya setiap kebaikan di alam semesta ini baik yang bersifat umum atau khusus sumbernya dari diutusnya Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, begitu juga semua kejelekan di alam semesta yang menimpa manusia disebabkan penyimpangannya terhadap petunjuk Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- dan ketidaktahuan atas apa yang beliau -shallallahu alaihi wasallam- bawa. bahwasanya kebahagiaan manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat disebabkan ittiba’ mengikuti petunjuk Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- risalah kenabian dibutuhkan oleh seluruh makhluk kebutuhan mereka kepada diutusnya Rasulullah shalallahu wassalam di atas seluruh kebutuhan.diutusnya nabi Muhammad ﷺ merupakan ruh bagi alam semesta cahaya dan kehidupan. kebaikan yang mana bagi alam semesta apabila tidak adanya roh tidak ada kehidupan dan tidak adanya cahaya? [Majmu’ fatawa (XIX/93]

  • ➡ 4. Wasilah tidak boleh dengan yang haram, harus dengan yang halal dan dibolehkan oleh syariat.

Niat yang baik, harus didukung dengan cara yang benar. Betapapun seorang ikhlas untuk menyedekahkan hartanya namun harta yang diperoleh dari hasil riba, korupsi, suap, maling, begal maka tidak akan diterima Allah. Karena niat yang baik, tidak akan merubah hakikat dari wasilah yang haram menjadi halal.

Dalam Atsari Ibnu Mas’ud yang menentang dzikir berjamaah dengan menggunakan kerikil, merupakan dalil yang sangat jelas terhadap permasalahan ini.

كم من مريد الخير لن يصيبه

Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, ia tidak akan mendapatkannya”

Sangat banyak hadits yang melarang musik dan nyanyian, maka bagaimana mungkin sesuatu yang haram, menjadi wasilah ibadah yang mulia yaitu dakwah ilallah. Demikian pula dakwah dengan wasilah parlemen dan politik kotor, tidaklah diperkenankan walaupun tujuannya baik.

Bersambung bagian ke dua

(Pengingkaran salaf terhadap wasilah dakwah yang tidak ada di jaman Nabi-shallallahu alaihi wa sallam-)

Oleh: Dika wahyudi

=

  • ➡ ~ Harapan Bagi Para Da’i ~

Tatkala Nabi shalallahu’alaihi wasallam berdakwah menuju Thaif dg berjalan kaki kurang lebih sejauh 80 KM, disepanjang perjalanan beliau menawarkan Islam kepada kabilah-kabilah Arab antara lintas Makah-Thaif. Namun tidak ada satupun kabilah yg mau merespon dakwah beliau.

Setibanya beliau di Thaif, beliau pun ditolak oleh masyarakat Thaif sampai dilempari dg batu hingga kedua kaki beliau luka, sedangkan Zaid bin Haritsah luka kepalanya karena melindungi Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Inilah momen terberat dlm berdakwah yg pernah dirasakan oleh Nabi shalallahu’alaihi wasallam.

Keadaan ini diceritakan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya oleh istri tersayang, yaitu ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :

هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ عَلَيْكَ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ قَالَ لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

Apakah pernah datang kepadamu (Anda pernah mengalami-Pen.) satu hari yang lebih berat dibandingkan dengan saat perang Uhud?”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Aku telah mengalami penderitaan dari kaummu. Penderitaan paling berat yang aku rasakan, yaitu saat ‘Aqabah, saat aku menawarkan diri kepada Ibnu ‘Abdi Yalil bin Abdi Kulal, tetapi ia tidak memenuhi permintaanku. Aku pun pergi dengan wajah bersedih. Aku tidak menyadari diri kecuali ketika di Qarnust-Tsa’alib, lalu aku angkat kepalaku. Tiba-tiba aku berada di bawah awan yang sedang menaungiku. Aku perhatikan awan itu, ternyata ada Malaikat Jibril , lalu ia memanggilku dan berseru: ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dan Allah Azza wa Jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka’. Malaikat (penjaga) gunung memanggilku, mengucapkan salam lalu berkata: ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain’ (dua gunung).”

Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua”. [HR Imam al-Bukhari dan Imam Muslim].

Namun apa yang terjadi setelah itu? Di luar apa yang diperkirakan oleh Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kemudian Allah mengutus para jin yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari beliau akhirnya para jin tersebut masuk Islam dan mengajak kaumnya untuk masuk Islam. Sebagaimana dalam surat al-Ahqaf/46 ayat 29-31.

Dari sini kita ambil faedah, hendaknya para da’i dan pengurus kajian tidak putus asa dan kecewa dg sedikitnya jama’ah yg hadir dlm majelisnya. Karena bisa jadi yg hadir dari kalangan jin dan yg mendapat hidayah dari kalangan mereka jumlahnya ratusan atau mungkin ribuan. Dan itu pun akan menjadi pahala besar bagi sang ustadz ataupun para pengurus kajian….

Abu Ya’la Hizbul Majid

=

  • Bertahun-tahun belajar Tidak meningkat

Minimal kalau orang awam kita ajarkan selesai kitab silsilah Tauhid Syaikh Muhammad ‘Abdul Wahab, Untuk Fiqih Safiinatu An-naja, belajar Nahwu selesai Jurumiah, B. Arab duruu sulugha jilid 1 dan 2, belajar adab islam dan do’ harian, menghafal minimal 2 juz, itu sudah cukup bagi mereka .

Namun sangat di sayangkan, mereka yang baru ngaji kurang minat mengkaji kitab hingga selesai. Padahal ini sangat bermanfaat bagi diri dan anak-anaknya di rumah. Ada juga yang sudah duddk di majelis ilmu bertahun-tahun namun juz ‘Amma belum hafal, rukun shalat dan wudhu belum tahu. Kalau sepeti ini kasihan kan ..

Begitu juga dengan para da’i, alangkah indah jika orang yang baru ngaji diajarkan dengan kajian kitab Ulama yang sederhana , minimal bisa mengangkat ketidaktahuan mereka akan syarian Islam dan hukum-hukumnya.

Sejatinya umat itu lebih rindu kepada ilmu, nasehat, mereka membutuhkan saluran tangan pada da’i. Masih terlalu banyak manusia yang meminta kepada selain Allah, melakukan kesyirikan, amalan bid’ah. Jika sebagian da’i disibukkan dengan perselisihan, khawatir Allah memalingkan dari suatu yang penting kepada perkara yang melalaikan, bahkan menyi-nyiakan enerji dan waktu.

* Sungguh di antara keberkahan dakwah para da’i, Allah menyibukkan dirinya memperbaiki umat, sibuk dakwah, mengingatkan dari bahaya Syirik dan bid’ah. Bersyukurlah da’i seperti ini. Kerena umat sangat butuk perbaikan..

Semoga Allah menjaga para da’i dari keburukan dan fitnah akhir zaman.

_______________________

Daarul Hadist-Yaman

Abu Naayif Al-‘Utayb

=

  • NASEHAT AL-IMAM AL-UTSAIMIN RAHIMAHULLAH

Beliau berkata:

Engkau akan melihat orang awam itu lebih baik dalam aqidah dan keikhlasannya dari pada kebanyakan para penuntut ilmu yang tidak memiliki perhatian kecuali:

1. Menukil dan membantah

2. Qiila wa qool (sibuk dengan ucapan seseorang yang tak jelas sumbernya)

3. Sibuk dengan pertanyaan: bagaimana pendapatmu wahai fulan?

4. Bagaiamna pendapatmu tentang kitab fulani?

5. bagaimana pendapatmu tentang tulisan fulan?

Itu semua membuat seorang hamba tersia2kan, mengambil hati dari mengingat Allah serta tidak menjadikan seorang hamba punya perhatian kecuali sekadar qiila wa qoola (katanya dan katanya)

✅ Maka nasehat saya pada setiap orang:

hendaklah dia menghadap kepada Allah azza wajalla dan hendaklah dia meninggalkan manusia serta perselisihan2 mereka, inilah yang terbaik

Liqa’ al-Bab al-Maftuh – asy-syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah.

=

  • Kenapa masih banyak ummat islam yang kultus kepada benda dan percaya ajimat?

Karena anda tidak mau mendakwahi mereka.

Karena anda hanya mau berdakwah dan mengajarkan ilmu bila ngaji kitab, kalau ndak ngaji kitab anda anggap bukan dakwah.

Karena anda malah sibuk mencari aib para dai dibanding membangun sinergi dengan para dai lainnya.

Karena anda lupa bahwa tauhid adalah muatan dakwah paling utama.

Karena anda hanya mau berceramah kalau murid yang datang ke tempat anda, tapi anda merasa terhina bila mendatangi tempat murid anda atau masyarakat umum.

Karena anda hanya mau berceramah atau berdakwah bila panitianyabsudah ngaji kepada anda.

Karena anda hanya mau berdakwah bila tempatnya di masjid atau pesantren, adapun di pasar, atau rumah, atau perkantoran apalagi ruang serbaguna apalagi hall hotel maka anda anggap itu bukan dakwah.

Karena anda hanya mengakui dakwah itu benar bila judulnya “ngaji tauhid” tapi kalau temanya umum, walau muatannya tauhid atau sarat dengan tauhid maka tidak anda akui.

Karena anda garang kepada masyarakat sehingga mereka enggan mengundang anda atau mereka menjauhi dakwah anda.

Karena anda sibuk membaca dan mengkritisi status saya, padahal status saya tidak ditujukan bagi anda yang sudah pandai karena sudah rajin ngaji kitab dan selalu hadir di majlis ilmu. Status saya saya tujukan kepada yang merasa butuh dan kurang memiliki kesempatan untuk hadir di majlis ilmu apalagi ngaji kitab.

Dan tahukah anda siapa yang dimaksud dengan “anda” di atas?

Ketahuilah dia dalam banyak kondisi di atas adalah saya dan juga anda semua, karena islam adalah tanggung jawab kita bersama.

Semoga bermanfaat

Oleh: Dr.Muhammad Arifin Badri

= ~~~ (Lanjut Ke Halaman 2) ~~~