Faedah Ilmu Tentang Pemilu di INDONESIAdan Apakah Salafi Golput atau Nyoblos (Bag.1)

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1. Keharusan Melaksanakn Shalat Fardhu Secara Berjamaah Bag.1

2. Tidak Tumakninah Ketika Mengerjakan Sholat

3. Korupsi Tanda Kemunafikan

5.Ucapan yang Baik/

6.Seorang-yang-mengajarkan-ilmu-seperti-tanah-yang-subur

7.Jangan-lakukan-tathbiiq-saat-ruku/

8. Awas-pahala-anda-terkikis-karena-status/

9. Tugas-kita-adalah-berdakwah-bukan-menghukumi/

10.Keutamaan Surat al Jumu’ah

11.Untaian Bait Untuk Muslimah Yang Sedang Menanti

=

Pemilu 2019 Nyoblos Atau Golput-DR. Sufyan Baswedan   

Irtikabu akhaffu adh-dhararain (Memilih Kemudharatan Teringan)-Ust Abdul Hakim Amir Abdat.mp4
https://app.box.com/s/sr6srf36dmsyqzrohgnddb8nu89qs39c

Ceramah Singkt 5 Nasihat Berharga Menjelang PEMILU! -Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi.webm

https://app.box.com/s/7g2wdkrlxcf8ux3tr2ssl1aasjk7ikw1

Bolehkah Kita Ikut PEMILU Pilpres, Pilkada – Ustadz Dr.Firanda Andirja, MA..webm

https://app.box.com/s/uyey2v6ltkbxcszt6mgyhckayswhcx6i

Obrolan Santai Menjelang Pemilu Pilih Golput atau Nyoblos – Dr. Muhammad Arifin Badri.m4a

https://app.box.com/s/le4lq0nnw3cnh69hrkmzspadmygg6uew 

Al-Intikhabat wa Ahkamuha fi Al-Fiqh Al-Islami (Pemilu dan Hukum-Hukumnya dalam Fiqih Islam)-Ust.Aris Munandar link2

Sikap Terbaik Dalam Menghadapi Pemilu Presiden – Ustadz Firanda Andirdja, MA  

Hukum Golput – Dr. Muhammad Arifin Badri

=

Buku Menggali Kandungan Makna SuratYasin-Abu Utsman Kharisman 224Hlm

RAMADHAN BERTABUR BERKAH(Fiqh Puasa dan Panduan Menjalani Ramadhan Sesuai Sunnah Nabi)-ABU UTSMAN KHARISMAN 270Hlm

Tata Cara Mengurus Jenazah Sesuai SunnahSyarh Kitab al- Janaiz min Bulughul Maram-Abu Utsman Kharisman 170Hlm

Buku Fiqh Bersuci dan Sholat SesuaiTuntunan Nabi-Abu Utsman Kharisman 515Hlm

AKIDAH AL-MUZANI (Murid al-Imam asy-Syafii)-Abu Utsman Kharisman 362Hlm

MEMAHAMI MAKNA BACAAN SHOLAT (SEBUAH UPAYA MENIKMATI INDAHNYA DIALOG SUCI DENGAN ILAHI) Abu Utsman Kharisman 348Hlm

Sukses Dunia Akhirat dengan Istighfar danTaubat Penulis : Abu Utsman Kharisman 152Hlm

25 Fatwa Ulama’ Ahlussunnah Seri 1

25 Fatwa Ulama’ Ahlussunnah Seri 2

25 Fatwa Ulama’ Ahlussunnah Seri 3

Fatwa Fatwa Ramadhan-Asy Syaikh Abdul Aziz Bin Baz

=

Faedah Ilmu Tentang Pemilu di INDONESIA dan Apakah Salafi Golput atau Nyoblos (Bag.1)

 

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

=

  • Kegoncangan Ikhwan Pengajian

Akal sehat ikhwah pengajian sedang goncang, dikedua pihak. Jangan berlebihan jangan menganggap enteng. Anda mau berargumen gunakanlah data yang valid dari para ulama, minimal ustadz yang anda yakini keilmuannya.

Jangan mengambil data dari para Ruwaidhah semisal seseorang yang katanya sadar diri menjadi serpihan rengginang namun malah sibuk mensleding para asaatidzah dengan julukan-jukukan buruk sehingga para ikhwah ikut-ikutan si Ruwaidhah tersebut.

Ikhwah pun ikut-ikutan dengan qiyas ngawur si Ruwaidhah ini dengan ‘ibarah-‘ibarah yang tidak jelas berasal dari ulama mana dengan qiyas-nya : nyoblos karena mengikuti fatwa ulama disamakan dengan khamr, makan daging babi dan semisalnya. Ini ‘ibarah dari ulama mana ? Di kitab apa ?

Tatkala si Ruwaidhah ini ditanya bagaimana rukun syarat dari qiyas nyoblos ia qiyaskan dengan minum khamr, jawabannya sangat jauh dari aroma Ushul fiqh yang menunjukkan ia tidak pernah sama sekali mempelajari kitab-kitab Ushul fiqih di hadapan guru.

Silahkan mengikuti fatwa dari kedua pendapat ini, namun ilmiah dan data yang valid dari ahli adalah sebuah keniscayaan, bukan data dari analisa-analisa dangkal para Ruwaidhah.

Ust. Abu Hanifah Jandriadi Yasin

=

  1. Pemilu

Ada ulama yang mengharamkan berpatisipasi dalam pemilu secara mutlak, semisal fatwa Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah. Na’am, ini benar adanya.

Ada juga fatwa yang membolehkan berpatisipasi dalam pemilu semisal Asy-Syaikh Bin Baz, Asy-syaikh Al-Albani dan beberapa masyaikh lainnya. Adapun Asy-syaikh Al-‘Utsaimin, menurut keterangan murid senior beliau sekaligus menantunya bahkan mewajibkan berpatisipasi pada beberapa keadaan tertentu. Rahimahumumullah.

Ahlus Sunnah yang berpatisipasi dalam pemilu bukanlah semisal Hizbiyun yang memang membangun al-wala’ wal bara’ nya diatas partai dan kelompok, mereka sekedar mengamalkan fatwa ulama yang lebih mereka pilih dan dianggap memberikan mashlahat dan menghindari mudharat yang lebih besar. Selepas pemilu, maka berakhir pula keikutsertaan mereka dan tidak ada al-wala’ wal bara’ sama sekali selain kepada yang telah ditunjukkan oleh syariat.

Bagaimana bisa ahlus Sunnah yang mengamalkan fatwa masyaikh ini dianggap sudah keluar dari ahlis sunnah sementara justru para masyaikh kibar menganjurkan memberikan fatwa kepada mereka untuk berpatisipasi dalam pemilu tersebut tidak dikeluarkan dari ahlis sunnah ?

Sebagian orang merasa lebih pintar daripada masyaikh kibar (yang membolehkan berpatisipasi pemilu) dalam menerapkan kaidah-kaidah fiqih dengan analisa-analisanya. Sebagian lagi merasa bahwa dirinyalah yang lebih berhak menafsirkan fatwa para masyaikh kibar yang membolehkan berpatisipasi dalam pemilu dengan menyatakan “Fatwa Asy-syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah untuk kaum muslimin di Kuwait tidak bisa diterapkan di Indonesia, ketat syaratnya dan seterusnya dari uraian prematurnya.

Silahkan saja bagi siapapun untuk tidak berpatisipasi dalam pemilu, namun harap tetap berlaku jujur dalam memaparkan data dalam menyanggah pendapat yang kontra dengannya. Jangan seperti hizbiyyun yang suka menggunting fatwa para ulama sesuai dengan hawa nafsunya.

Perhatikanlah fatwa Asy-syaikh Al-‘Utsaimin ini, bagaimana beliau membolehkan kaum muslimin di Amerika berpatisipasi dalam pemilu pilpres yang kita ketahui semua calon presiden disana bagikan dari Demokrat atau republik semuanya terdapat mudharat apakah itu Goerge Bush senior atau junior, Abraham Lincoln, Ronald Reagan, Donald Trump, Bilang Clinton, Barrack Obama

Perhatikanlah bagaimana Asy-syaikh Al-‘Utsaimin berdalil dan wajhul istidlalnya, perhatikan pula Asy-Syaikh menerapkan kaidah fiqih yang sedang diributkan oleh sebagian ahlis sunnah lokal.

Kalau anda menyatakan bahwa fatwa Asy-syaikh Al-‘Utsaimin tentang pemilu di Kuwait tidak bisa diterapkan di Indonesia, maka bagaimana dengan fatwa beliau di video ini untuk kaum muslimin di Amerika, apakah juga tidak bisa diterapkan di Indonesia ? Janganlah anda merasa lebih pandai menilai fatwa beliau ini dibandingkan dengan murid-murid beliau, terutama murid senior beliau sekaligus menantu beliau yakni Asy-syaikh Khalid Al-Mushlih.

Sekali lagi, silahkan tidak berpatisipasi dalam pemilu nanti….namun bersikaplah dengan penuh keadilan kepada ahlis sunnah yang memilih berbeda pandangan dengan anda dalam hal ini. Karena sikap adil demikian lebih dekat dengan ketaqwaan, dan menjauhkan dari kedzaliman.

Oleh: Ust Abu Hanifah Ibnu Yasin

.=

  • Renungan khusus untuk penuntut ilmu

1. Apa hasil debat calon pemimpin suatu negara ? Jawaban diluar kepala.

2. Istinsyaq dan istintsar ketika wudhu itu termasuk rukun, sunnah, atau kesempurnaan wudhu ? (Sedikit yang tahu)

Pertanyaan no 1 tidak akan ditanya Allah jika tidak tahu, pertanyaan no 2 akan ditanya, karena wudhu itu syarat sah shalat, sementara shalat akan dihisab pertama kali diakhirat. Kalau tidak tahu rukun-rukun wudhu lalu meninggalkannya, maka tidak sah wudhunya, dan shalat tidak sah tanpa wudhu.

Kenapakah penuntut ilmu hari ini semangat dalam hal-hal yang tidak akan ditanya pada alam akhiratnya, dan melupakan hal-hal yang menentukan keselamatan atau kebinasaan baginya di alam akhiratnya ?

=

  • Pembahasan Pemilu

Pembahasan pemilu tidak bisa dihukumi dengan muthlaq haram, atau sebaliknya muthlaq halal, dan ada kalanya mendorong seseorang untuk memilih, atau sebaliknya.

Sehingga pembicaraan ini jika ditinjau dari sisi syari’at, kurang pantas dijadikan sebagai pembicaraan untuk semua kalangan. pembicaraan ini adalah pembicaraan untuk orang-orang khusus, lalu kalau dijadikan pembicaraan publik, ini akan menjadi pemicu perpecahan.

Dimedsos ini pola fikir manusia itu tidak sama, pemahaman mereka ada yang sangat alim, ada yang biasa-biasa saja, bahkan ada manusia yang umurnya sudah sepuh, namun ternyata pemahaman agamanya setara TK, ada anak SD, SMP, SMA, ABG, kakek, nenek, dll.

Out of Topic.

Apa reaksi anak TK jika diajarkan ditengah-tengah mereka terkait dukhulnya kemaluan lelaki kedalam kemaluan wanita lalu setelah itu tercapailah kenikmatan sampai keubun-ubun, dan didalamnya bernilai shadaqah..?

Pantaskah…? Tentu jawabnya tidak pantas.

Tidak setiap perkara yang dibolehkan itu artinya boleh disampaikan disetiap tempat, apalagi perkara kontroversi, tentu harus lebih berhati-hati untuk membahasnya ditempat yang isinya semua kalangan. Jika tidak, pembahasan semisal ini akan menjadi bola api yang akan membakar siapa saja yang ikut membahasnya.

Bicaralah kepada manusia sesuai kadar dan kapasitas mereka, agar apa yang akan disampaikan itu dapat difahami dan diterima baik oleh manusia.

Al-Hafidz dalam Al Fath, berkata setelah atsar Ali no 127 :

حدثوا الناس بما يعرفون أتحبون أن يكذب الله ورسوله

Berbicaralah kepada manusia dengan apa yang mereka ketahui, apakah kalian suka Allah dan rasul-Nya di dustakan ?”.

Semoga Allah bimbing kita semua diatas hidayah-Nya.

By Hanafi Abu Abdillah Ahmad

=

  • Penerapan irtikab akhaf adh dhararain / al mafsadatain

Penerapan irtikab akhaf adh dhararain / al mafsadatain dalam pemilu yang saya pahami adalah antara dua mafsadah:

✅ 1. Mafsadah memilih, yaitu berpartisipasi dalam sistem yang tidak syar’i.

✅ 2. Mafsadah adanya pemimpin yang membahayakan kaum muslimin atau dakwah ahlus sunnah.

Karena yang kedua mafsadahnya lebih besar, maka dipilih mafsadah yang pertama.

Adapun jika yang dimaksud dua mafsadah adalah dua pemimpin, lalu dianggap bahwa memilih salah satu lebih ringan daripada memilih yang lain, maka konsekuensinya:

✅ 1. yang golput tidak masuk dalam “irtikab” akhaf al-mafsadatain, karena dia tidak merasa terpaksa untuk memilih salah satu. dia masih bisa golput.

✅ 2. Adapun alasan bahwa memilih ataupun golput tetap akan ada salah satu yang naik, maka ini bukanlah paksaan yang membuat orang harus memilih. Kalau dia -berdasarkan wawasannya- menganggap bahwa keduanya sama2 buruk dan tidak bisa menentukan mana yang paling buruk, maka dia tidak harus memilih.

✅ 3. Lagipula kalau calonnya ada tiga atau lebih, bagaimana penerapan kaidah tersebut? Tetap yang paling ringan di antara dua? atau di antara tiga?

Meskipun berbeda sikap, namun pro-golput dan pro-nyoblos tetap disatukan oleh satu keyakinan, yaitu batilnya sistem “suara terbanyak”. Silakan koreksi jika saya keliru.

Jadi hendaknya yang pro-nyoblos tetap menunjukkan penekanan hukum asal berpartisipasi dalam sistem batil tersebut, serta menunjukkan bahwa partisipasi ini adalah bentuk keterpaksaan demi mencegah bahaya yang lebih besar.

Jangan sampai terlihat bermudah-mudahan. Tetap menunjukkan harapan agar sistem ini tidak lestari di negeri kita, dan menunjukkan sikap berlepas diri darinya semampunya.

Dengan demikian, pro-golput pun bisa berbaik sangka dengan pihak yang berseberangan pendapat, karena bagaimanapun kedua pihak sama-sama mengingkari sistem suara terbanyak dan hukum asal partisipasi di dalamnya.

Dengan demikian, tidak ada ushul/pokok Aqidah Ahlus Sunnah yang terlanggar, sehingga tidak ada yang berhak mengeluarkan seseorang dari Ahlus Sunnah karena masalah ini atau memperlakukannya seperti Ahli Bid’ah.

Di negeri mayoritas muslim seperti Indonesia ini, tidakkah ada keinginan supaya negara ini beralih dari “hukum tertinggi = suara terbanyak” menjadi “hukum tertinggi = hukum Allah” ?

Jika iya, apa yang sudah Anda usahakan sebagai seorang muslim untuk mewujudkan hal itu?

– Sekedar tulisan ringan sebagai bentuk usaha mendamaikan sesama Ahlus Sunnah –

Oleh: Ust Ristiyan Ragil Putradianto

=

  • Faedah ilmu tentang pemilu di INDONESIA

 Fatwa Al-‘Allamah Abdul-Muhsin Al-Badr Haddatsani Asatidzah is di Multaqa Fiqhis-Salafiy dari DR Musyaffa Ad-Dariniy Ust Iqbal (kandidat Doktoral Madinah) ia berkata : Saya bertanya kepada Al-‘ Allamah Abdul-Muhsin Al-Badr…

.

  • Faedah ilmu tentang pemilu di INDONESIA

.=====

Pada tanggal 31 Maret 2019 M, Ust Iqbal Gunawan -hafizhahullah- (kandidat doktor di bidang akidah UIM) telah bertanya kepada Syeikh Abdul Muhsin Al’Abbad -hafizhahullah- (ulama hadits paling senior di Madinah, bahkan di Arab Saudi) dg pertanyaan kurang lebih seperti ini:

Dua pekan lagi di INDONESIA akan diadakan pemilu utk memilih presiden, ada dua calon yg maju.

Ketika tdk tahu mana yg lbh ringan mudharatnya, apakah kita lebih baik golput?”

Syeikh bertanya: “Semuanya muslim?”

Ust Iqbal: “Iya, semuanya muslim”.

Syeikh menjawab: “Tanya siapa yg lebih baik (dari keduanya), tanya orang yg tahu (tentang hal itu)”.

.——

Lihatlah, bagaimana beliau tetap menganjurkan utk TIDAK GOLPUT .. Beliau menganjurkan agar kita tetap berusaha mencari tahu siapa yg lebih baik dari keduanya, tidak lain utk dijadikan sebagai sandaran pilihan kita.

Kalau kita ingin ikut ulama kibar .. karena berkah itu bersama ulama kibar .. maka saya melihat beliau sangat pantas disebut sebagai ulama kibar, wala uzakki ‘alallahi ahada, wallahu a’lam

Setelah jawaban Syeikh di atas tersebar, beliau ditanya lagi pada 26 Rajab 1440 H / 1 April 2019 M, dalam majlis beliau di masjid.Nabawi tentang hal yg sama, maka beliau menjawab:
Yang saya katakan, apabila ada dua calon, yg satunya lebih baik daripada yg lain, (salah satunya) lebih baik untuk kaum muslimin daripada yg lain .. dan keikutsertaan mereka menguatkan calon yg lebih baik, maka tidak mengapa (mereka ikut memilih).

Adapun jika tidak ada nilai lebih diantara keduanya, maka seseorang memilih keselamatan (dengan tidak ikut memilih) lebih selamat.
Akan tetapi, apabila salah satunya mempunyai nilai lebih daripada yang lain dari sisi dia bisa menguatkan kaum muslimin dalam.urusan agama mereka, terutama ahlussunnah yg berada di atas jalan yg lurus, maka calon yg ini (harusnya) dikuatkan (dg memilihnya), jika keikutsertaan mereka bisa memperkuat calon tersebut”.

—–
MasyaAllah dua fatwa yg saling melengkapi dan saling menguatkan.
Sangat jelas terlihat dlm dua fatwa itu, beliau lebih menguatkan memilih daripada golput.
Bahkan di fatwa kedua beliau membuka dg anjuran memilih dan menutupnya juga dg anjuran memilih, wallahu a’lam
.
oleh: Ust Musyaffa Ad Dariny

.

  • Kita Butuh Adab

Sang Doktor Madinah tidak mengeluarkan kalimat penghinaan dianggap menghina…

Ini bener-bener asik menghina beneran diam saja…

Sang Doktor sudah bawa fatwa Syaikh Abdul Muhsin Al-Badr dan bukan dari kantong sendiri masih tetap dianggap pembawa syubhat…

Entah siapa yang memulai, Allah tidak akan diam terhadap orang-orang yang berusaha merusak shaf Ahlussunnah dan melakukan namimah antar Ustadz…

Bagi yang memiliki murid-murid hendaknya diajarkan adab yang benar, murid/awam kurang adab seperti ini lebih butuh kepada pelajaran adab daripada banyak ilmu

Oleh: Ust Variant Ghani Hirma

  • Nasehat Bagi Yang Sibuk Politik

 

Sebagian dari kita yang tidak ikutan Pemilu karena haramnya, memiliki karakter paten suka nyakiti orang. Kalau Anda perhatikan mereka, sebenarnya orangnya itu itu saja. Juga suka mendiskreditkan sekian banyak dai, terutama sekali dai yang memiliki gelar tinggi dan berpengaruh baik buat kaum Muslimin.

Sementara nama-nama ini, umumnya tak begitu dikenal riwayat belajar ilmu syariahnya, tapi koarnya offside. Diperiwitin wasit, biasanya tetap ngotot. Kadang melotot sambil membawa nama besar. Padahal yang berseberangan dengannya, membawa nama-nama yang jauh lebih besar. Kebiasaan.

Waktu daurah, ada seorang dai yang diam-diam bersama temannya lidahnya mencela beberapa dai bergelar tinggi. Padahal dai-dai tersebut ada di dalam daurah. Tinggal ketemu, ngobrol. Tapi dai ini memilih ngumpul ‘menyendiri’ bersama beberapa temannya yang muda. Selevel daurah pilihan aja seperti ini.

Apalagi Facebook? Yang mana kita bisa njeplak semaunya. Tanpa bertemu orangnya. Makanya, saya lebih condong memandang beberapa rekan FB yang saban hari nyakitin orang ini, sebenarnya tidak mencari dan menyeru kepada kebenaran, melainkan orang-orang yang memiliki kelainan jiwa. Terapinya cukup .bertauhid dan tazkiyatun nufus.

Terapinya: takut kepada Allah, dan membuang jauh-jauh hasad dan kebencian sesama Muslim tanpa haq.

Kita mungkin serupa memilih 0. Tapi semoga saya tak semisal mereka.

Oleh: Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

=

  • Pemilu 2019 Milih Siapa?

 Ustadz pilih siapa di pemilu ini ?!

1. kl dijawab langsung = dibilang jurkam amatiran.

2. kl dijawab: “kembali ke penilaian masing²” = dibilang membingungkan.

3. kl didiamkan = kasihan.

Karena itulah, saya memilih jawaban kedua .. karena itu keadaan yg paling ringan bagi saya .. karena dengan jawaban itu, orang yg nanya tidak kasihan, saya tidak dikatakan sebagai jurkam amatiran, dan kebenaran tidak saya sembunyikan,

wallahu a’lam.

Jangan tanya lagi ya .. karena saya sudah jawab dg status ini.untuk semuanya .. semoga bisa dipahami dg baik.

Oleh: Ust Ad Dariny

=

Bila Para Ahli Ilmu Berbeda Pendapat, Sikap Penuntut Ilmu Adalah Memilih Pendapat Yang Kuat Tanpa Merendahan Yang Lainnya

Akhir-akhir ini kita saksikan para penuntut ilmu disibukan berdebat tentang masalah pendapat boleh atau tidak bolehnya ikut menyoblos pada pemilu…

Yang hasilnya adalah fanatik dan ta’ahub pada guru…

Inilah hasil dari sebuah perdebatan tanpa ilmu…

Katax ngak mau sibuk dg pilitik tapi kok sibuk berdebat masalah politik, karena kedua pendapat tsb tdk keluar dari fatwa masalah politik, baik yg berfwa membolehkan maupun yg tidak, yg ujung-ujungnya tetap mengkapanyekan pendapat gurunya…

Mari fokus belajar dan jauhilah berdebat…

Oleh: AliMusri Semjan Putra

=

  • Faedah Sore

Perlu diketahui bahwa para ulama kita yang membolehkan ikut mencoblos di Pemilu semisal Syeikh Ibnu Baz, Syeikh Al Utsaimin, Syeikh Al Albani, dan murid-murid mereka, bukan berarti mendukung sistem demokrasi yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam.

Sebagai contoh adalah Syaikhuna Al Allamah Abdul Muhsin al-‘Abbad, beliau termasuk ulama yang membolehkan jika kemaslahatan menuntut demikian, termasuk Pemilu depan di negeri kita, beliau menyarankan untuk memilih yang terbaik dari yang ada.

Sekalipun begitu, beliau memiliki sebuah risalah khusus yang mengkritisi sistem demokrasi yaitu “Al-Adlu fi Syari’ah Islam wa Laisa fii Dimoqrotiyyah al-Maz’umah”. (Keadilan itu dalam hukum Islam bukan dalam sistem demokrasi).

Bolehnya nyoblos sebagaimana arahan ulama kibar yang tentu sangat mengerti dalil dan kaidah islam bukan berarti kita sibuk politik praktis, masuk parlemen, jadi juru kampanye atau saksi pemilu… Tidak… Bukan itu maksudnya.

Namun, hanya sekedar menggunakan hak suara karena sistem yang dipaksakan kepada kita sebagai usaha kecil memperbaiki keadaaan yang ada menuju lebih baik. Cukup hanya itu saja.

Karena bagi kita, perubahan hakiki bukanlah dengan pemilu, tetapi dg kembali kepada Al Quran dan sunnah. Itulah prioritas dakwah kita.

Mari kita lebih dewasa lagi menyikapi masalah ini. Gak perlu ngegas dan saling debat kusir.

.Yuk, kita naik kelas dan menjadi lebih dewasa dan lapang dada menghadapi perbedaan. Jagalah persatuan & persahabatan walau kita beda pandangan.

Jangan lupa, doakan yang terbaik untuk negeri kita agar aman, penegakan hukum adil, berkah, dakwah lancar gak ada lagi pembubaran, dan menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur.

Dan yang penting juga, siapapun presiden terpilih nanti, kita sebagai ahli sunnah wal jamaah harus tetap tegar di atas prinsip sami’na wa atho’na.

Oleh: Abu Ubaidah As Sidawy

=

  • Pelajaran Dari Runtuhnya Dinasti Abbasiyah.

Dinasti islam yang telah memimpin negri Islam yang membentang dari ujjng timur hingga ujung barat bumi, semuanya harus berakhir dengan pilu.

Pembantaian ulama’ dan ratusan ribu ummat Islam, pemusnahan karya karya ulama’.

Ahli sejarah semisal Imam Ibnu Katsir dan lainnya menyebutkan bahwa salah satu alasan begitu rapuhnya Dinasti Abbasiyah sehingga Pasukan Mongol dengan mudah mengalahkan Khilafah Islamiyah, adalah adanya pengkhianatan besar besaran yang dilakukan secara sitemik oleh perdana mentri (wazir) dinasti Abbasiyah yang ternyata penganut sekte syi’ah

Perdana mentri yang dikenal dengan sebutan Ibnu Al Alqamy dan didukung oleh guru spiritualnya Nashiruddin At Thushy, secara pelan dan terencana bersinergi melucuti kekuatan khilafah Abbasiyah.

Ibnu Al Alqamy sang perdana mentri tersebut secara masif mengganti pejabat negara yang berakidah ahlissunnah diganti dengan para penganut paham syi’ah.

Dan selanjutnya langkah di atas dilengkapi dengan melemahkan keluatan pasukan khilafah, yang semula berjumlah ratusan ribu pasukan, hingga tersisa kurang dari sepuluh ribu pasukan saja.

Jumlah yang sedikit tersebut dalam kondisi memprihatinkan, mereka dimiskinkan secara sistemik, gajinya dikurangi, ditunda tunda dan bahkan banyak tunjangannya yang dihapuskan, sampai sampai banyak pasukan perang khilafah yang terpaksa mengemis ngemis di pintu pintu masjid dan pasar, hanya sekedar untuk bisa bertahan hidup.

Wajar bila pada saat Pasukan Holako Khan (pasukan Tartar ) yang ditaksir jumlahnya 200 ribu,!datang menyerang maka dengan mudah menguasai Khilafah Abbasiyah.

Semoga menjadi pelajaran.

Ini adalah hoaks : Bandara dan pelabuhan negri antah berantah sudah diserahkan kepada asing, jabatan strategis diserahkan kepada non muslim alias kafir, dan yang muslim satu persatu disingkirkan, penduduk dimiskinkan secara sistemik…..

Jadi jangan dipercaya, fokus pada belajar agama saja….. hoaks di atas tidak ada buktinya, karena saya tidak pernah melihatnya

=

  • Paslon mana yang lebih ringan madharatnya?

Aduuuuh, mas mau milih terserah tidak juga silahkan.

Karena orang kalau punya kemauan minat atau dia akan berusaha agar bisa.

Namun bila orang sudah tidak punya hasrat maka sejuta satu alasan juga dengan mudah disebytkan agar tetap tidak.

Tiap hari anda bisa memilih antara dua hal dengan pertimbangan serupa, salah satunya memilih nikah lagi atau tetap monogami.

Anda tidak perlu bertanya kepada saya atau lainnya, dan anda tidak pernah menuduh orang lain ambigu.

Eeeh kini anda kok “kelihatan bijak” dengan bertanya?

Mbok coba anda tanya saya mana yang lebih baik antara monogami atau poligami? Nisacaya dengan lantang saya jawab….

Hayooooo berani bertanya? Apalagi dihadapan istri anda yang mungkin sudah mulai menginjak umur…..

Selamat mencoba : Ujian nyali .

Oleh: Dr Muhammad Arifin Badri

= ~~~ (Lanjut ke Halaman 2) ~~~

Iklan