Faedah Ilmu Tentang Pemilu di INDONESIAdan Apakah Salafi Golput atau Nyoblos (Bag.2)

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Perbedaan Amalan Dan Pahala yang Terhapus

2.Kehidupan Setelah Datangnya Kematian

3.Syarhus Sunnah: Surga dan Neraka dalam Timbangan Akidah

5.Hukum Mengikat Rambut saat Sholat

6.Matan Abu Syuja: Rukun dan Cara Berniat Puasa

7.Tidak Boleh Meyakini Kafirnya Orang Yahudi danNashrani?Tauhid sebagai Sebab Penggugur Dosa (Bag. 1)

8.Syariat Allâh Azza Wa Jalla Wajib Dicintai, Tidak Dibenci

9.Matan Abu Syuja: Syarat Wajib Puasa

10.Tauhid sebagai Sebab Penggugur Dosa (Bag. 1)

11.Cara Mengetahui Aqidah Ahlus Sunah

12.Mengucapkan Salam Sambil Beri Isyarat

==

Pemilu 2019 Nyoblos Atau Golput-DR. Sufyan Baswedan   

Irtikabu akhaffu adh-dhararain (Memilih Kemudharatan Teringan)-Ust Abdul Hakim Amir Abdat.mp4

Ceramah Singkt 5 Nasihat Berharga Menjelang PEMILU! -Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi.webm

Bolehkah Kita Ikut PEMILU Pilpres, Pilkada – Ustadz Dr.Firanda Andirja, MA..webm

Obrolan Santai Menjelang Pemilu Pilih Golput atau Nyoblos – Dr. Muhammad Arifin Badri.m4a  

Al-Intikhabat wa Ahkamuha fi Al-Fiqh Al-Islami (Pemilu dan Hukum-Hukumnya dalam Fiqih Islam)-Ust.Aris Munandar Link2

Sikap Terbaik Dalam Menghadapi Pemilu Presiden – Ustadz Firanda Andirdja, MA  

Hukum Golput – Dr. Muhammad Arifin Badri 

==
Ebook

Pengantar Ilmu Hadits-Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin113Hlm

Shahih al-Adab al-Mufrad Jilid 1 332Hlm

Shahih al-Adab al-Mufrad Jilid 2 360Hlm

Bekal Muwahid (Menjawab Dalih Pengagungan Wali) 55Hlm

Selayang Pandang Hukum Murabahah:

Dasar-dasar Tauhid dan Fikih bagi Anak-Anak-Yahya Bin Ali Al Hajuri 78Hlm

==

Faedah Ilmu Tentang Pemilu di INDONESIA dan Apakah Salafi Golput atau Nyoblos (Bag.2)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

=

  • TIDAK MEMILIH ADALAH JALAN KESELAMATAN

Pada malam tadi Syeikh Abdul Muhsin Abbad memberikan penjelasan tentang pemilu yang sebentar lagi akan diadakan di indonesia

Berikut penjelasan beliau

أنا الذي قلته أنه إذا كان هناك شخصان مرشحان وبعضهم أحسن من بعض وخير للمسلمين من بعض، بعني..ودخولهم يرجح جانب الذي فيه الخير، أنه لا بأس بذلك، وأما إذا كان يعني ما فيه تميز بعضهم من بعض، يعني…فالإنسان يعني أقول السلامة أسلم، لكن إذا كان أحدهم فيه ميزة عن الآخر في مسألة تمكين المسلمين من أمور دينهم، ولا سيما أهل السنة الذين هم على طريقة مستقيمة فإن هذا يرجح جانبه اذا كان دخولهم يرجح جانبه

Yang aku katakan (maksudkan), apabila ada dua orang calon, satunya lebih baik dari yg lain dan lebih baik untuk kaum muslimin dari yg lain, maksudku keikutsertaan mereka menguatkan calon yg lebih baik, tidak mengapa (mereka ikut memilih), adapun jika tidak ada kelebihan salah satunya dari yg lain, MAKA SESEORANG LEBIH BAIK MEMILIH KESELAMATAN (TIDAK IKUT MEMILIH) lebih selamat, akan tetapi apabila salah satunya ada kelebihan dari yang lain dari sisi ia memberi keluasan untuk kaum muslimin dalam menjalankan kegiatan agama mereka, terutama ahlussunnah yg mereka berada diatas jalan yg lurus, maka (sebaiknya) dia menguatkan calon tersebut jika keikutsertaan mereka memperkuat calon yg lebih baik.” (Diterjemahkan oleh Ustadz Iqbal Gunawan)

Maka dari penjelasan Syeikh diatas bisa diambil kesimpulan:

1. Jika memang dalam dua pasangan calon ada yang lebih baik maka tidak mengapa untuk memilih

2. Jika diketahui kalau salah satu dari mereka lebih memberi keluasan kepada kaum muslimin terutama ahlu sunnah maka hendaknya memilihnya

3. Akan tetapi jika tidak diketahui siapa yang lebih baik maka hendaknya dia memilih jalan kesalamatan yaitu tidak memilih

Terlepas dari setuju atau tidaknya kita dari pendapat Syeikh diatas, maka dalam bab tanaazul (mengalah) kepada mereka yang pro pemilu kita katakan:

“Tidakkah kalian memilih jalan kesalamatan bukankah Rosulullah -Shoallahu ‘alaihi wa sallam” bersabda:

Tinggalkanlah hal yang meragukanmu kepada yang tidak meragukan”.

Syeikh sendiri telah memberi solusi tatkala kita tidak bisa membedakan mana yang lebih baik diantara calon pasangan pemimpin dengan kita tidak ikut serta dalam pemilu itu

Nah sekarang coba kita jalankan arahan Syeikh tersebut kalau kita mau mengambil fatwa beliau.

Kalau ada yang bilang satu calon didukung oleh islam nusantara kita katakan calon yang satu juga seperti itu

• Kalau ada yang bilang satu pasangan calon melakukan kesyirikan

• Kita katakan paslon yang satu juga sepeti itu bahkan sujud kepada kuburan

• Kalau ada yang bilang paslon yang satu didukung oleh yang suka membubarkan kajian

Kita katakan apa paslon yang satu tidak didukung oleh orang2 yang membubarkan kajian, apa lupa kejadian pembubaran kajian ustadz zainal di bekasi dibubarkan oleh siapa,?

Yang demo masjid MIAH kemarin kebanyakan dukung siapa?

• Kalau ada yang bilang paslon satu didukung Abu janda

• Kita katakan lah yang satu lago didukung oleh Sony alias Maheer

Selamat merenung

Oleh: Agus Susanto

=

  • Biar Berbeda Tetap Saudara

Intinya berarti Syeikh tidak melarang scr mutlak, ditimbang maslahat dan mafsadatnya.

Kalau yg bisa memilih berdasarkn ilmu mn yg lbh ringan dari yg ada boleh nyoblos, yg blm bisa membedakan mk tdk perlu ikut.

Disinilah kecerdasan dan pengalaman punya peran besar. Intinya, kita berlapang dada sj, gak perlu ngegas dan saling.menyalahkan. Mari lbh dewasa dan naik kelas mnghadapi perbedaan.

Biar kita berbeda tetap saudara seiman dan semanhaj

@Ust Abu Ubaidah As Sidawi

=

Oleh; Agus Susanto

=

  • Embun senja

Tadi di maktabah, saat saya bercerita kepdada Syaikh Abu Tayyibpengajar hadist, yang beliau murid Syaikh Muqbil Rahimahullah.

Saat saya berce rita berkaitan apa yang terjadi di tengah Ikhwan Salafiy di Indonesia tentang pemilu. Beliau matanya berkaca-kaca..

Beliau berpesan kepada saya ” Kita berkeyakinan bahwa intikhaabat haram, namun dibolehkan jika ada maslahatnya bagi kaum muslimin. Para ulama boleh berijtihad dalam memandang manfaat dan mudharat. Tidak selayaknya saling bersikap kasar dalam masalh Ijtihadiah “.

Beliau melanjutkan ” Berbuat yang terbaik, tidak perlu hiraukan manusia yang bersikap kasar “.

Nasehat untuk saya.

__________

Perpus, Daarul Hadist

Abu Naayif

==

  • ➡ Hikmah ulama Ketika berfatwa

Subhanallah, takjub dan kagum dengan fatwa ulama kibar Syaikh Abdul Muhsin ketika ditanya tentang pemilu di Indonesia, dan penanya tidak tahu siapa dari dua calon yang lebih sedikit mudhorotnya. Jawaban Syaikh justru sangat hikmah ketika menyuruh penanya bertanya yang tahu mudhorotnya yang paling ringan. Dan Syaikh mengembalikan waqi’ justru kepada yang mengetahui Indonesia secara khusus.

Nah, sekarang tinggal penanya fatwa menyikapi fatwa Syaikh Kibar dan ulama kibar yang tidak diragukan keilmuannya. Dan ada dua kemungkinan sikap mereka setelah bertanya:

➡ 1. Bertanya dan mencari tahu mudhorotnya yang paling ringan kepada yang tahu realita dan waqi’ sesungguhnya, tapi…

pertanyaan selanjutnya adalah: kepada siapakah mereka akan bertanya?

ini juga ada beberapa kemungkinan;

apakah mereka bertanya kepada parpol pengusung, dan ormas pengusung?

– atau bertanya kepada media sosial?

-atau bertanya kepada media berita?

-atau bertanya kepada pengamat politik?

-atau yang terakhir, adalah bertanya kepada sesama ahli ilmu yang mengerti realita, serta mashlahat dan mudhorotnya, dan tentu ada ustadz kibar didalamnya yang punya pengalaman dakwah… Tapi ini belum dilakukan, justru yang ada….

Ahhh sudahlah…

➡ 2. Langsung memutuskan perkara, padahal pertanyaannya jelas mereka gak tau mana mudhorotnya yang lebih ringan, akan tetapi malah ga mau musyawarah, diskusi bersama ustadz2 yang ada, ya tentu dengan ustadz kibar kalau mau diajak diskusi. Karena kalau tanpa mereka, atas dasar apa mereka dikecualikan dalam diskusi….??

✅ Kalau kemungkinan ke dua ini dilakukan, maka mau ga mau mereka menganggap bahwa:

-. mereka adalah ahli ilmu, dan yang paling tahu, padahal mereka sendiri yang mengatakan bahwa mereka tidak tahu.

-. mereka sudah menganggap bahwa mereka di atas ustadz lainnya, dan ustadz lain ga perlu didengar pendapat dan wijhatun nadhornya.

Tinggal kita lihat bagaimana kelanjutannya.

Sebelum di tutup, ada catatan bahwa:

Kalau sesungguhnya pilihan itu bukan cuma dua, tapi ada tiga: pilih calon a, calon b, atau tidak memilih sama sekali. Dan jangan membatasi sesuatu pada dua hal, padahal ada hal yang ketiga. Harusnya kalau mau di bahas mudhorotnya yang paling ringan buat dakwah ya di bahas ketiganya. Sekian.

Oleh: Dika Wahyudi

=

  • FATWA-FATWA ULAMA KIBAR SEPUTAR PEMILU

Suatu yang tidak bisa dipungkiri bahwa sistem demokrasi adalah merupakan sistem yang tidak sesuai dengan syari’at islam, bahkan bertentangan dengan aqidah islam.

Merupakan suatu keanehan jika dikatakan bahwa pemilu bukanlah bagian dari sistem demokrasi itu sendiri, karena pemilu itu sendiri merupakan acara inti dari pesta demokrasi.

Maka dari sini para ulama ahlu sunnah melarang dan menyatakan bahwa ikut pesta demokrasi itu adalah hal yang haram, karena ini masuk dalam bab “tolong menolong dengan keburukan”.

✅ Allah berfirman:

ولا تعاونوا على الاثم والعدوان

Dan janganlah kalian tolong menolong dalam dosa dan permusuhan” (Q.S Al-Maidah:2)

Tapi akhir2 ini banyak diantara manusia yang mencoba untuk mencari-cari fatwa ulama yang sesuai dengan seleranya kemudian menyebarkannya kepada kaum muslimin, sehingga mereka lupa kalau fatwa2 tersebut terikat dengan kaidah “irtikab akhaaffu dhararain”. Yang artinya mereka tidak membolehkan mutlak.

Hanya saja yang sangat disayangkan mereka hanya menampilkan fatwa-fatwa ditengah2 kaum muslimin sesuai dengan yang mereka inginkan saja, sehingga menimbulkan kesan bahwa yang membolehkan itu ulama kibar sementara yang melarang tidak ada ulama kibar didalamnya.

Benarkah demikian adanya?

➡ Berikut ini beberapa fatwa ulama kibar yang melarang untuk ikut partisipasi dalam pesta demokrasi.

1. Syeikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy

Beliau menyatakan pemilu itu haram dalam bukunya “hurmatul intikhobat”

2. Syeikh Fauzan

Beliau mengatakan bahwa pemilu itu bertentangan dengan syari’at islam

Silahkan disimak disini https://youtu.be/hFrNKSGjnlY

3. Syeikh Albani dalam satu fatwanya

Beliau ketika ditanya tentang hukum pemilu diamerika beliau menjawab tidak boleh ikut

Silahkan disimak disini https://youtu.be/nLlAR5CENgA

4. Syeikh Utsaimin dalam fatwanya

Beliau juga pernah ditanya tentang ikut pemilu dan bergabung dengan partai2 yang didalamnya ada ahl bid’ah dan lainnya

Beliau menjawab tidak boleh

Silahkan dilihat https://youtu.be/5D52dWkyFM8

5. Syeik Abdurrahman Al Barrak (anggota hia’ah kibar ulama)

Beliau mengatakan bahwa hukum pemilu haram dakam fatwanya sebagaimana dinukil dalam buku “al intikhobat wa ahkumuha” hal: 58

6. Syeikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhaliy

Bisa disimak disini

7. Syeikh Muhammad bin Hadi

Bisa disimak disini

8. Lajnah da’imah

Dalam fatwanya (23/406-407) mengatakan:

Tidak boleh bagi seorang muslim untuk mencalonkan diri ke suatau negara yang tidak berhukum dengan hukum Allah dan syari’at islam.

DAN TIDAK BOLEH BAGI SEORANG MUSLIM JUGA UNTUK MEMILIHNYA atau yang lainnya yang mereka bekerja di negeri itu.

Kecuali jika ada seoarang calon yang ingin mengubah hukum negara tersebut dengan syari’at islam. Dan menjadikan itu hanya sekedar perantara untuk menjatuhkan hukum negara tersebut

Dengan syarat orang yang sudah mencalonkannya juga ketika terpilih tidak melakukan sesuatu yang bertentangn dengan syari’at islam.”

Demikianlah nukilan fatwa-fatwa ulama kibar diatas tentang hukum pemilu

Masihkah ada yang beranggapan kalau yang tidak membolehkannya bukan dari kalangan ulama kibar…

Silahkan sebarkan ini jika memang bermanfaat agar tidak ada lagi fakta yang disembunyikan

Ditulis oleh

Agus Susanto Sanusi

=

  • Keburukan dan Bahaya Demokrasi

✅ Doktor Berkata:

Jika keadaannya demikian, tidak diragukan lagi, bahwa menyumbangkan suara dalam pemilu untuk memilih calon pemimpin yg lebih ringan keburukannya bagi Islam dan kaum muslimin mudharatnya lebih ringan daripada mudharat tidak ikut menyumbangkan suara di pemilu, bila akhirnya akan berakibat buruk terhadap Islam dan kaum muslimin.

➡Saya katakan:

Ini benar jika jelas terwujud keburukan dan bahaya tersebut, dan adanya kemungkinan besar meraih maslahatnya.

Apakah benar Sudah terwujud keburukan dan bahaya tersebut? Dan maslahat yang akan diraih? Ataukah hanya isu-isu politik yang dikembangkan oleh para Politikus dan Para Pembela masing-masing calon??

Tidakkah engkau mengambil pelajaran atas sikap sebagian teman Doktormu pada Pemilu 2014 yang membela salah satu calon dan menjatuhkan calon lainnya? Yang hanya dibangun di atas isu-isu para Politikus.! Ada yang terbukti? Bukankah kalian merasakan bagaimaa Dakwah Sunnah tersebar di zaman Calon yang dulu dijatuhkan? Mana ketakutan yang kalian takutkan itu?

✅ Kemudian Doktor berkata:

Cobalah kita bayangkan bila kaum muslimin yg baik² tidak ikut memilih dalam pemilu? Apakah dengan begitu sistem demokrasi akan berhenti? Tentunya tidak, sistem ini akan tetap berjalan selama masih ada banyak pemilih yang menyumbangkan suaranya.

Lalu jika kaum muslimin yg baik² tidak ikut memilih pemimpin, siapa yang akan memilih pemimpin? tidak lain adalah kaum muslimin yg tidak baik, dan mereka yg non muslim (kafir).

➡Saya katakan:

Tidak perlu dibayangkan wahai Doktor! Sesungguhnya ini hanyalah was-was Syaitan.

✅ Allah berfirman:

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, “Orang-orang (Kuffar Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah sebagai penolong bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”

(QS.Ali Imran:173)

✅ Kemudian Allah berfirman:

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti teman-teman setianya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang beriman. (QS.Ali Imran:170)

✅ Sang Doktor hafizhahullah berkata:

b. Alasan kedua: karena sistem demokrasi ini adalah keburukan ygdipaksakan kepada kita .. mau tidak mau kita harus mengikuti dan menjalaninya ..

✅ Saya katakan:

Benar Demokrasi adalah musibah yang menimpa mayoritas Negeri kaum Muslimin, tapi apakah sistem demokrasi tersebut dipaksakan semua sistemnya secara keseluruhan kepada kaum Muslimin? Bukankah kaum muslimin di Indonesia Alhamdulillah bisa menjalankan agamanya dengan baik dalam banyak segi dan

lini kehidupan tanpa bersinggungan dengan demokrasi. Jadi, jika kita masih bisa menghindar kenapa kita harus masuk??? Apakah pemilu perkara yang sama sekali kita tidak bisa menghindar??? Jika engkau katakan tidak, maka sungguh ini perkara yang menyelisihi kenyataan.!

Oleh: Muhammad Abu Muhammad Pattawe

=

  • Umat Butuh Dakwah Ilmu dan Tauhid Bukan Sibuk Politik

kalau 2 mudharat itu adl memilih A atau B, maka ini berlaku bagi orang yang memang secara MUTLAK membolehkan pemilu dan segala anak cucunya demokrasi…

tapi bagi mereka yang yakin bahwa demokrasi bertentangan dgn syariat Islam, sistem kufur maka 2 mudharat itu adalah: (1) tetap tidak ikut campur pada hal itu meski ada ancaman (ndak ikutan pesta DEMOKRASI) atau (2) TERPAKSA ikut karena diancam bila tidak ikut…

dan ternyata dari pemilu jaman kapan sampe yg baru lalu, orang yang TIDAK ikut tidak pernah diancam jiwanya…keselamatannya…karena itu adalah HAK bukan kewajiban sebagai warga negara. Ini sebabnya mengatakan kita dlm kondisi darurat pemilu itu hanya khayalan org2 harokah atau yang di dalam dirinya ada kecenderungan harokah…

semudah ini kok memahami masalahnya

✅ benar kata beliau (Ust.Abdul Hakim Amir Abdat)::”ketakutan-ketakutan akan dikuasai orang kafir kalau tidak masuk politik itu khayalannya orang-orang harokah dan atas dasar khayalan itu mereka pikir diri mereka dalam keadaan darurat sehingga kemudian memasukkan diri pada hal-hal yang dilarang agama…demokrasi, berpartai2 misalnya…padahal yang seharusnya mereka lakukan bukan itu tetapi taati perintah Allah dan RasulNya…dakwahkan ilmu…didik umat…bukan malah berpolitik…” itulah kata beliau sekitar 12 tahun yang lalu ketika saya, beliau

dan ustadz Ibnu Saini ngobrol bersama di ruangan Darul Qalam, Pasar Minggu. 12 tahun berlalu dan kini…?

dibilangnya: Salafi yg ndak ikut nyoblos kata-katanya melecehkan asatidz yg doktor…

kenyataannya: Antum belum lihat bagaimana para pemuja coblosan itu melecehkan para ustadz yg senior tho? Bahkan kemarin saja sudah berlalu bagaimana seorang dai penyokong coblosan melecehkan ayat dgn gaya membacanya…

tanyakan hatimu: Siapa yang sedang mengumbar nafsu politiknya?

Oleh: Andi Bangkit Setiawan

=

MASALAH-MASALAH POLITIK TIDAK SEPANTASNYA DISAMPAIKAN SEMUA KE KHALAYAK RAMAI

✅ Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan di dalam Shahihnya ( nomor 6328 ) dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma bahwasanya dia berkata :

Aku menyampaikan qiraah untuk beberapa orang muhajirin yang diantara mereka adalah ‘Abdurrahman bin Auf, ketika aku berada di persinggahannya di Mina dan dia bersama Umar bin Khattab, di akhir haji yang dilakukannya. Tiba-tiba Abdurrahman bin Auf kembali kepadaku dan mengatakan; ‘sekiranya engkau melihat seseorang yang menemui amirul mukminin hari ini, orang itu mengatakan; ‘Wahai amirul mukminin, apakah engkau sudah tahu berita si fulan yang mengatakan; ‘sekiranya Umar telah meninggal, aku akan berbaiat kepada fulan, pembaiatan Abu Bakar ash Shiddiq tidak lain hanyalah sebuah kekeliruan dan sekarang telah berakhir.‘ Umar serta merta marah dan berujar; ‘Sungguh sore nanti aku akan berdiri menghadapi orang-orang dan memperingatkan mereka, yaitu orang-orang yang hendak mengambil alih wewenang perkara-perkara mereka.’ Abdurrahman berkata; maka aku berkata; ‘Wahai amirul mukminin, jangan kau lakukan sekarang, sebab musim haji sekarang tengah menghimpun orang-orang jahil dan orang-orang bodoh, merekalah yang lebih dominan didekatmu sehingga aku khawatir engkau menyampaikan sebuah petuah hingga para musafir yang suka menyebarkan berita burung yang menyebarluaskan berita, padahal mereka tidak jeli menerima berita dan tidak pula meletakkannya pada tempatnya, maka tangguhkanlah hingga engkau tiba di Madinah, sebab madinah adalah darul hijrah dan darus sunnah yang sarat dengan ahli fikih para pemuka manusia, sehingga engkau bisa menyampaikan petuah sesukamu secara leluasa dan ahlul ilmi memperhatikan petuah-petuahmu dan meletakkannya pada tempatnya.’ Umar menjawab; ‘Demi Allah, insya Allah akan aku lakukan hal itu diawal kebijakan yang kulakukan di Madinah.’… ”

✅ Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Romadhoni berkata :

Betapa agungnya usulan Abdurrahman bin Auf tersebut ! Betapa kuat masyarakat yang mengetahui kadar segala sesuatu !. Pendidikan seperti itu sangat jauh berbeda dengan keadaan orang-orang yang mengekspos berita apa saja kepada masyarakat umum dan kalangan khusus. Terutama isyu-isyu politik yang banyak mengusik masyarakat dewasa ini. Mereka membicarakannya dengan antusias seakan-akan mereka memohon bantuan kepada makhluk dari kezhaliman makhluk. Tidak akan anda temukan mereka mengkaji tauhid dan membantah syirik ! “

✅ Kesimpulan : ” Sesungguhnya oknum-oknum yang mengajarkan seluruh persoalan politik kepada masyarakat bukanlah seorang yang robbani, meskipun ia mengklaim dirinya ingin menyadarkan umat yang lalai dan menggerakkan umat yang tidur atau ingin mewujudkan keuniversalan amalan-amal Islam. Tidakkah Anda lihat bab yang ditulis oleh Imam Al-Bukhari, Bab : Orang yang mengkhususkan ilmu bagi suatu kaum yang tidak disampaikan kepada kaum yang lain karena dikhawatirkan mereka tidak memahaminya . Beliau membawakan di dalam bab tersebut sebuah riwayat dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu yang berbunyi :

حَدِّثُوا النَّاسَ، بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ، اللَّهُ وَرَسُولُهُ

Berbicaralah kepada manusia dengan perkataan yang dapat mereka mengerti. Inginkah Engkau bila Alloh dan RasulNya didustakan ?! “ ( Shahih Bukhari 1/37 ) “ ( Madaarikun Nazhar fis Siyasah hal. 164 dan 174 ).

✅ Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata :

ليس لعامة الناس أن يلوكوا ألسنتهم بسياسة ولاة الأمور و من أراد أن يكون للناس رأي في سياسة ولاة الأمور فقدضل

Tidak boleh masyarakat umum membiasakan lidah mereka dengan politik pemerintahan. Siapa yang menginginkan masyarakat umum memiliki peran di dalam politik pemerintahan maka dia telah sesat “

‏http://ar.alnahj.net/audio/679

== ~~~(Lanjut ke Halaman 2)~~~