Faedah Ilmu Tentang Pemilu di INDONESIA dan Apakah Salafi Golput atau Nyoblos (Bag.4)

 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Bolehkah Membatalkan Shalat Saat Terdengar Suara Gaduh?

2.Hukum Bernazar Dan Cara Membayar Kafarat

3.Bersikap Baik Terhadap Teman Yang Buruk

4.Menyikapi Gunjingan Tetangga

5.Lebih Utama Mana, Menjadi Imam atau Muadzin?

6.Apakah Salafy Ikut Pemilu? Inilah BantahanSyubhat…

7.Hukum Pemilu & Demonstrasi dalam Islam

8.Shalat Fajar Ditunaikan Di Masjid Negaranya SebelumWaktunya, Apa Yang Harus Dilakukan?

9.Bapaknya Pecandu Minuman Keras, Dia Bekerja Kepada Orang Nasrani Berdagang Daging Babi, Apakah Yang Demikian Harus Dijelaskan Kepada Peminang Yang Datang ?

10.Hukum Shalat Lelaki Di Belakang Wanita Ketika AdaTuntutan Akan Hal itu

=

Misteri Usia 40 Tahun – Ust Syariful Mahya Lubis, Lc, MA.webm   

Pilpres Nyoblos Atau Tidak?-Ustadz Abdullah Zaen  

Aku Benci Guruku – Ustadz Muflih Safitra, M.Sc.webm

Al-Ghuroba (Orang yang Asing) Ustadz Yazid bin Abdul QadirJawas -hafidzahullah-.webm

Bid’ah Hasanah-Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat.m4a

Ceramah Agama Berdakwah kepada Keluarga – ustadz Lalu Ahmad yani, Lc..webm

Ceramah Agama Halal dan Haram di Tangan Allah – Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc., M.A..webm

Ceramah Agama Penyebab Pingsannya Para Malaikat – Ustadz Lalu Ahmad Yani, Lc..webm

Jangan Menuhankan Guru atau Pemimpin-Ustadz Sofyan Chalid Idham Ruray

Kitab Shahih Bukhari Dahsyatnya Firman Allah – Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc., M.A..webm

Renungan Bagi Pelaku Bid’ah Pernahkah Nabi Muhammad Tahlilan-Ustadz Darul Palihin

Mereka Tabayyun dan Bertanya Masalah Agama Kepada Ustadz Yazid Jawas Hafizhahullah. 

Syubhat-Syubhat Kekinian- Bersama Ustadz Dr. Musyaffa AdDariny MA.mp3

Apa Itu Manhaj Salaf Siapa Salafi Siapa Wahabi-Ust. Sofyan Chalid Idham Ruray.webm

Bagaimana Seorang Muslim Menyikapi Perbedaan Pendapat -Ustadz Rizal Yuliar Putrananda, Lc.webm

Ceramah Agama Amalan di Bulan Sya’ban – Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc., M.A..webm

ISTIQOMAH DALAM MENTAUHIDKAN ALLAH USTADZ YAZID BIN ABDUL QODIR JAWAS ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .webm

LELAKI ADALAH PEMIMPIN BAGI WANITA USTADZ YAZID BIN ABDUL QODIR JAWAS ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .m4a

MENJADI MUSLIM YANG KAFFAH USTADZ YAZID BIN ABDUL QODIR JAWAS ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .webm

NIKMAT ISLAM DAN SUNNAH USTADZ YAZID BIN ABDUL QODIR JAWAS ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .webm

ORANG KAFIR JADI IDOLA USTADZ YAZID BINABDUL QODIR JAWAS ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .webm

Ustadz Farhan Abu FuraihanNasehat Pemilu2019.m4a

Video Singkat Nasehat Dalam Menyikapi Pemilu 2019 – Ustadz Mizan Qudsiah, Lc.MA.webm

Jangan Kau Tinggalkan Shalat ! – Ustadz DRSyafiq Riza Basalamah MA.webm

Mx player digunkan memutar file webm

=

Ebook

Tentang Bolehnya Menggunakan Hak Pilih Dalam Pemilu

10 Hadits Istimewa-17Hlm

Syarah 10 Hadits Qudsi Pilihan-120Hlm

10 Hadits Qudsi Pilihan-22Hlm

Shahih Fadhail(Keutamaan) Amal(65 hadits tentang fadhail a’mal )

Syarah Hadits Asyrah(Hadits Terpenting Dalam Islam)-116Hlm

40 Hadits Pilihan Dalam Masalah Aqidah

Penjelasan Tentang Ihsan-16Hlm

Syarah Hadits Jibril ’Alaihis Salam-65Hlm

10 Hadits Terpenting Jilid 1-40Hlm

Meneladani Sifat Mulia Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

Keistimewaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Agar Jauh dari Kekufuran Baik Kufur Besar dan Kecil

Kaidah Memahami Hadits (Sunnah) Rasulullah Shallalahu ‘alahi wa Sallam

Faidah Dari HaditsAl-Arba’in An-Nawawiyah-55Hlm

Hadits Terpenting Jilid 2-46Hlm

Faidah dari Hadits ‘Asyrah (10 Hadits Terpenting Dalam Islam)-29Hlm

Wasiat Agung Rasulullah

Shalawat Kepada Nabi

Konsekuensi Cinta Kepada Rasulullah

Detik-detik Perpisahan Dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang Mulia-27Hlm

=

Faedah Ilmu Tentang Pemilu di INDONESIA dan Apakah Salafi Golput atau Nyoblos (Bag.4)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

  • Efek GOLPUT-mu:

a. Menguatkan / melemahkan paslon 1

b. Menguatkan / melemahkan.paslon 2

Kita takkan bs mnghindari hisab akheratnya

  •  ✅ Demokrasi memberimu 3 pilihan:

Pilih 1, atau pilih 2, atau pilih Golput

Yakin Antum bisa menghindar?

 ✅ IMAM SYAFI’I -rahimahullah-: “Tidak bisakah kita tetap bersaudara, meski pendapat kita SELALU berbeda?”

Oleh: Ust. Musyaffa Ad Dariny

=

  • Berlapang dada Dalam Perbedaan Pendapat

Karena hati yang kurang lapang dalam menyikapi perbedaan pendapat dalam masalah pemilu, sampai teganya nyinyirin asatidzah alumni Universitas Islam Madinah yang belasan tahun belajar dengan para ulama di kota Nabi secara langsung. Dengan segala kekurangannya, mereka adalah para asatidzah yang sudah mendapat tazkiyah ulama, menghabiskan usianya untuk ilmu dan dakwah. Lalu untuk apa anda membawa bawa nama lembaga semisal Universitas Islam Madinah dengan nada sindiran seolah para lulusannya tidak mengerti ILMU POLITIK SYAR’I dan masalah DEMOKRASI

 ✅ Di Fakultas Syariah diajarkan mata kuliah “Siyasah Syar’iyyah (Ilmu Politik Islam)”. Di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin diajarkan mata kuliah “Madzahib Fikriyyah” yang diantaranya mengupas tuntas masalah DEMOKRASI.

Wahai anda yang di hatinya ada penyakit! Adakah anda merasa lebih baik daripada para asatidzah tersebut yang jelas latar belakang keilmuannya? Atau anda lupa berkaca tentang latar belakang diri anda, belajar agama di mana dan talaqqi langsung dengan siapa?

Semoga Allah merahmati seseorang yang mengetahui kadar dirinya

Yang lebih miris lagi, ada yang ingin menyamakan antara Wahil bin Atha’ sang mubtadi’ dengan dai-dai ahlus sunnah wal jama’ah yang kebetulan bergelar doktor. Allahul musta’an.

Semoga Allah melembutkan hati para ahlus sunnah. Ingat ahlus sunnah itu sedikit

Oleh: Haris Hermawan

=

  • Para doktor bukan tolak Ukur kebenaran..

Para doktor tidak menjamin keilmuannya luas dan Manhajnya benar, gelar hanya tanda lulus saja “. Seperti itu kira-kira status yang banyak lewat di beranda Facebook saya. Lalu disamakan dengan DR. Sa’id Agil Siraj. Tidak yangbung sekali..

Ucapan di atas bisa benar, tergantung kepada siapa ditujukan: Namun saya berfikir, jika para doktor yang lebih dari 10 tahun belajar bersama para ulama di kampus dan duduk di Majelis para ulama yang diakui ilmu dan Manhajnya saja bisa salah dan belum tentu ilmu dan manhajnya bener.

Terlebih lagi mereka yang mengatakan seperti itu, yang belum pernah merasakan duduk membaca kutub dihadapan para ulama, walaupun pernah mungkin hanya 3-4 tahun lamanya. Ini belum apa-apa.. Baru merasakan kulit dari ilmu. Bukan maskud merendahkan, namun kita bicara ilmiahnya.

Jika ditinjau dari sisi ilmiyah saja, tentu yang belajar lama dengan para ulama lebih unggul dari mereka yang hanya sekedar belajar sebentar. Namun tidak menutup kemungkinan juga yang belajar sebentar bisa lebih unggul..

Ucapan di atas secara tidak langsung merendahakan para doktor yang menimba ilmu di kampus dan Mulazamah di hahadapan para ulama bertahun-tahun lamanya. Jangan suka menjatukan orang lain di khalak ramai, tidak baik.

Apakah kita merasa bahwa Ilmu dan Manhaj kita lebih kokoh dari para doktor..? Karena jika saya perhatikan, yang bayak dipertanyakan keilmuan dan Manhjanya oleh mereka, adalah para doktor yang jelas Aqidah dan belajarnya.

Saya khwatir mereka ini punya misi buruk, menjauhkan umat dari Da’i yang jelas belajar dan dakwahnya. Agar manusia menjauh dari kebenaran. Semoga saya salah..

Kita meminta kepada Allah, agar senantiasa menjaga para doktor yang berada di atas Al-Qur’an dan Sunnah di Negeri ini, serta menjaga para da’i yang lai

Oleh: Abu Naayif Iqbal

=

  • Golput tetap tidak lepas dari demokrasi?

Oleh: Ristiyan Ragil Putradianto

Ini aneh. Kalau tidak akan lepas dari siapapun yang jadi pemimpin, maka benar. Yang golput, yang gak punya hak pilih, dan yang nyoblos, semua tetap akan kebagian pemimpin yang terpilih.

Tapi kalau dikatakan “tidak lepas dari demokrasi”, ya gak benar. Karena komponen demokrasi itu adalah adanya pemilih. Kalau rakyat gak memilih, apakah demokrasi akan jalan? Tentu tidak.

Jadi yang tidak akan lepas dari demokrasi hanyalah mereka yang punya hak pilih dan mau menggunakannya.

Adapun yang tidak punya hak pilih dan yang golput, tentu tidak berpartisipasi dalam demokrasi. Ini sangat mudah dipahami dengan akal sehat.

Dan ingat, memilih dan tidak memilih itu ranah taklifi, yaitu yang menjadi tanggung jawab pribadi seorang hamba. Adapun negeri ini mau berjalan terus demokrasinya atau tidak, itu bukan ranah taklifi masing2 individu. Itu di luar kemampuan kita.

Yang akan kita pertanggung jawabkan adalah, kenapa memutuskan untuk memilih, padahal itu termasuk partisipasi dalam demokrasi? Atau sebaliknya kenapa tidak memilih? Alasannya apa?

Maka yang lebih tepat adalah mengembalikannya ke hukum asal ikut pemilu, apakah haram, makruh, atau mubah? Atau bahkan wajib? Itu saja yang harus dijawab dulu dengan tegas.

Bukankah itu perbuatan hamba yang tak lepas dari hukum taklifi? Yang akan dimintai tanggung jawab?

Kalau mindset-nya adalah “kita tidak akan pernah lepas dari demokrasi”, milih gak milih sama saja, sehingga lebih baik milih, ya monggo.

Tapi kalau cara berpikir saya tidak demikian.. Kalau dengan golput saja katanya demokrasi tetap jalan, maka apalagi kalau berpartisipasi terus setiap 5 tahun dengan alasan seperti di atas?? Tambah tetap lestari..

Oleh karena itu saya tetap meyakini bahwa ikut pemilu ini termasuk mahzhurat alias larangan, yang semestinya tidak dilakukan kecuali ada bahaya yang tidak dapat dicegah kecuali dengannya

==

  • Ilmu Prasangka Menilai Niat Orang

Sebuah statemen yang amat bahaya dan ghuluw, ketika para ustadz-ustadz kita Salafiyah yang menganjurkan untuk mencoblos dalam rangka mengambil mudharat yang lebih ringan kemudian dianggap telah menggiring masyarakat awam kepada demokrasi secara pelan-pelan.



Yang lebih parahnya lagi dianggap mengikuti langkah-langkah syaitan. Sungguh ini penyakit ghuluw yang sangat akut bahkan imbasnya para ulama yang berfatwa tentang masalah mencoblos pun bisa terkena efek dari pernyataan yang ghuluw ini!!!



Demikianlah kalau orang kurang belajar tentang masalah adab dalam Islam serta tidak mengerti tentang adab-adab dalam permasalahan khilaf, akan cenderung statemen nya menyudutkan dan mudah memvonis orang yang berlawanan pendapat dengannya!!!



Ya akhi hal yang seperti ini tidak lain bersumber dari kantongmu sendiri. Klo memang bersumber dari fatwa para ulama tolong Sebutkan mana fatwa ulama yang menyebutkan bahwa ikut mencoblos dalam rangka mengambil ‘mafsadat’ yang lebih ringan adalah mengikuti langkah syaitan dan ingin menjerumuskan masyarakat pelan-pelan ke dalam demokrasi!!!



Ya akhi…jangan kau gunakan ilmu prasangka untuk menilai niat orang. Justru prasangka itu adalah merupakan kebohongan yang besar.

Abu Ya’la Hizbul Majid

=

  • Masalah Pemilu 2019

Oleh: Abu Hanifah Jandriadi Yasin

Sekedar info : fak syariah uim mengkaji juga politik Islam, demikian juga dengan Ushuluddin yang mengupas demokrasi.
Adapun fak ilmu sosial politik di univ lokal dan interlokal, mayoritas politiknya ialah versi barat.

Semoga kita lebih menjaga adab lagi terhadap para da’i terutama para doktor yang telah belasan tahun duduk bersimpuh dihadapan ulama, terlebih mereka adalah para juru dakwah ahlus Sunnah.

Yang tidak pernah menamatkan kitab Qawaid fiqhiyyah didepan guru harap jangan berkomentar tentang kaidah fiqih tentang pilpres di FB, sungguh membuat kawan mengelus dada dan membuat lawan terbahak-bahak sekaligus meyakinkan lawan bahwa ia berada diatas kebenaran karena lawannya bodoh sekali.


Kalau merasa belum paham plus awam, diam saja lebih selamat daripada ingin tampil malah tampil membuat lawan mengolok-olok. Allahul Musta’an

Di pertemukan di FB, di buat semakin erat di wa, di pisahkan oleh arogansi berpendapat masalah ijtihadiyyah, bukan pemilunya !

Lihatlah tatkala masyaikh kibar semisal Bin Baz, Al-Albani, Al-‘Utsaimin yang membolehkan berpatisipasi memilih pemimpin dalam perhelatan pemilu dengan pertimbangan ilmiah mereka, tidaklah serta merta mereka berpisah jalan dengan para masyaikh yang tidak memperbolehkan secara mutlak semisal Asy-Syaikh Muqbil rahimahumullah.

Bahkan Asy-syaikh Al-‘Utsaimin mewajibkan kaum muslimin memilih pada pemilu Kuwait dan Amerika, padahal kedua kandidat adalah kafir dengan dalil dan wajhul istidlal yang mudah dipahami oleh kaum awam sekalipun beserta tinjauan kaidah yang paling bermanfaat dan sedikit mudharatnya untuk kaum muslimin. Begitu pula fatwa Asy-syaikh Muqbil tidaklah menjadikan beliau bermusuhan dengan para masyaikh yang berseberangan dengan beliau dalam masalah ini.

Para ulama tersebut tidaklah mengajarkan loyalitas kepada al-wala’ wal bara’ kepada partai atau person seperti halnya mereka orang-orang partai, semua ulama tersebut diatas Aqidah yang satu, semuanya mengajarkan aqidah dan manhaj ahlus Sunnah.

Berbeda dengan akar rumput yang seringkali berjalan sendiri tanpa ada bimbingan ulama kibar dan meneladani sikap mereka. Entah siapa yang sedang mereka teladani tatkala mereka menjadikan fenomena ini sebagai jalan pemisah manhaj dan menggelari para da’i yang memiliki keutamaan dengan gelar-gelar yang buruk hanya karena berbeda pandangan dengan apa yang mereka pilih.

Ajaibnya akar rumput hanya berani garang kepada orang-orang yang mengambil fatwa yang berseberangan dengan pendapat yang ia pilih, namun ia sama sekali tidak berani sedikitpun untuk mengecam sang ulama tersebut.

=

  • Memilih berbeda dengan Kampanye.

Syaikh Ali Hasan Al-Halabi ditanya: wahai Syaikh, kami memiliki pemimpin yang tidak memenuhi janjinya bahkan mengingkari janjinya. maka munculah gerakan untuk merubah pemimpin kami, bagaimana nasehat anda?.

Jawaban: “nampaknya anda masih muda dan tidak banyak mengerti tentang perpolitikan, seluruh pemimpin di dunia ini, siapa diantara mereka yang memenuhi janji kampanyenya?

Anda saja, berapa presiden yang sudah berkuasa di Indonesia dan aku tau sebagiannya, Soekarno kemudian Soeharto, dan… Yang lainnya sampai sekarang, siapa diantara mereka yang memenuhi janjinya? Tidak ada kan.

Dan ini juga berlaku sama di negaraku, akan tetapi yang perlu anda ketahui bahwa krisis yang ada merupakan limpahan dari pemerintahan sebelumnya kemudian sebelumnya dan sebelumnya dan sangat rumit.

Dan apabila ada dari salah satu calon yang mudhorotnya paling ringan, janganlah kalian menampakkan dukungan kalian secara terang-terangan kepadanya, karena kalian akan di anggap menjadi oposisi, dan kita tahu dimana pun itu di dunia, bahwa oposisi akan selalu dipersulit oleh petahana.

Demikian sekilas inpoh. Dari liqo du’at. Cikini

Oleh: Dika Wahyudi

=

  • Tuduhan

Oleh: Dr Muhammad Arifin Badri
Makanya jangan suka obral tuduhan….

Kemaren anda membuli, menuduh sesukanya, seakan label kebenaran otoritas anda sendiri, eeeeh giliran sekarang kena buli, merasa dizolimi, merasa dihakimi, dituduh tanpa bukti.

Semoga besok kita semua bisa menghargai saudaranya, dan berlapang dada dengan adanya perbedaan pendapat.

Bila anda ingin didengar dan dihargai sudut pandang anda, maka hormatilah sudut pandang saudara anda.

Bila anda ingin saudara anda tabayyun kepada anda, maka awalilah dengan bertabayyun kepada saudara anda.

Yuk, kita memulai lembaran baru dalam berinteraksi, terlebih di zaman keterbukaan informasi seperti ini

=

  • Demokrasi

Oleh: Musamulyadi Luqman
 ✅ Tahapan

1. Hukum Demokrasi

Ini sudah hampir semua ulama Salafiyyun menfatwakannya Haram

2. Hukum Intikhobat Demokrasi

Ada khilaf ulama, namun kebanyakan yang difatwakan oleh Kibar Ulama Salafiyyun adalah tidak boleh

3. Hukum Ikut Serta Nyoblos

Ini yang dirincikan hukumnya oleh Ulama. Antara boleh dan tidaknya sesuai dengan timbangan Mashlahat dan Mafsadat.
Nah, Sebagian kaum itu, ketika mendengar ada Fatwa Ustadz atau Ulama membolehkan (no. 3) maka pikiran dan fokusnya dia arahkan ke no. 1 dan no. 2. Tentu hal ini akan menimbulkan keracunan.. Sudah begitu ngotot pula dan main Tahdzir nuduh Manhaj pula..

 ✅ Yang dibahas Ulama adalah hukum pemilu, yakini hukum Syar’i..

Tapi yang dipahami oleh sebagian kaum bahwa itu adalah bahasan politik..

Kadang sebagian kaum merasa paling memiliki ghirah atas Tauhid dan Akidah sehingga siapa pun yang memfatwakan boleh ikut serta dalam intikhabat ia curigai akidah dan Manhajnya.

Namun mereka tidak sadar atau memang tidak mau sadar, atau memang dia Jahil bahwa para ulama yang membolehkan turut serta dalam Intikhabat tersebut adalah sosok ulama yang sudah menghabiskan pena dan usianya untuk mndakwahkan ummat kepada Akidah dan Manhaj..

Mereka jadikan keterbatasan ilmu mereka sebagai alat untuk menuduh dan mencurigai fatwa Ulama..

لا حول ولا قوة الا بالله..

=

  • Antara Syaikh al-Albani dan Syaikh Ali Alhalaby tentang hukum pemilu

Dahulu Syaikh Ali Alhalaby berbeda pandangan dengan Syaikh al-Albani tentang hukum pemilu, Syaikh al-Albani cenderung boleh memilih, sedangkan Syaikh Ali lebih cenderung kepada pendapat ulama lain yang tidak membolehkan, akan tetapi hubungan KEDUANYA tetap terjalin dengan baik sampai akhir hayat Syaikh al-Albani.

Syaikh Ali tidak meragukan manhaj gurunya Syaikh al-Albani karena membolehkan memilih dan Syaikh al-Albani juga tidak melazimkan pendapatnya kepada muridnya dalam hal ini, walaupun setelah meninggalnya gurunya, Syaikh Ali cenderung pada pendapat sang guru, membedakan antara tarsyikh (tidak bolehnya mencalonkan diri menurut beliau), dengan Intikhob (sekedar memilih calon yg ada yg dirasa lebih maslahat bagi negeri dan umat).

 ✅ Dalam hal-hal ijtihad yg sangat mungkin beda pandangan, Syaikh al-Albani sering mengatakan:

كلامي معلم وليس بملزم

Ucapan saya sifatnya adalah informasi tentang pendapat saya, bukan suatu yang lazim bagi orang lain”

Faedah dari Ust Abdurrahman Hadi, Lc

= |||(Lanjut ke halaman 2)|||