Faedah Ilmu Tentang Pemilu di INDONESIA dan Apakah Salafi Golput atau Nyoblos (Bag.7) 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Tak Lebih Berharga dari Sehelai Sayap Nyamuk!

2.Perbandingan Antara Dunia Dengan Akhirat

– 3.Ternyata 3 Ini yang Ditimbang di Hari kiamat

4.Allah Benci Orang Gendut? |

5.Hukum Menerima Uang dari Caleg

6.Hukum Menerima ‘Serangan Fajar’

7. Hukum Tinta Pemilu untuk Wudhu

=

Antara Islam dan Demokrasi” OlehUstadz Dzulqarnain M.Sanusi

Harga Sebuah Dunia” Oleh Ustadz MuhammadNuzul Dzikri Lc

Ustadz Mizan Qudsyiah · Pembatal-pembatal Keislaman Menganggap Ada Hukum yg Lebih Dari Hukum Allah

Kembali Kepada Hukum Allah & Menjauhi Bid’ah-Ustadz Armen Halim Naro

Benahkah Menempelkan Tangan Saat Berdoa Hadistnya Lemah-Ust Mizan Qudsiyah

Kitab Shahih Bukhari Suara yang Didengar Allah – UstadzMizan Qudsyiah, Lc., M.A..webm

Adab Dalam Utang Piutang Ustadz Yazid bin Abdul QadirJawas.webm

Ceramah Agama Wajib Memperingatkan Umat Bahaya Bid’ah -UStadz Mizan Qudsyiah, Lc., M.A..webm

Mahalnya Hidayah – Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc, M.A..webm

NASEHAT BERPEGANG TEGUH KEPADA SUNNAH USTADZ YAZID BIN ABDUL QODIR JAWAS ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .webm

TIDAK SEMUA BID’AH ITU SESAT USTADZ YAZID BIN ABDUL QODIR JAWAS ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .webm

Ustadz Ali Musri – Mewaspadai Bahaya Media Sosial

Darimana Kamu Mengambil Ilmu Ustadz MizanQudsyiah, Lc,MA.webm

Al-Intikhabat wa Ahkamuha fi Al-Fiqh Al-Islami (Pemilu dan Hukum-Hukumnya dalam Fiqih Islam)-Ust.Aris Munandar Link2

Dunia Lebih Jelek Daripada Bangkai Kambing”Oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

=

Macam-Macam Syirik-Syaikh ‘Abdurrazzaq bin’Abdil Muhsin Al-Badr

.

Hati-Hati Amalan Terhapus Karena Riya’-Syaikh ‘Abdurrazzaq bin’Abdil Muhsin Al-Badr

Beriman Kepada Takdir-Ustadz Muhammad Nur Ihsan

Pengambilan Janji Pada Anak Cucu Keturunan Adam-Ustadz Muhammad Nur Ihsan

Syafaat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Pada Hari Kiamat-Ustadz Muhammad Nur Ihsan

==

Ebook

Membongkar Dosa-Dosa Pemilu, Pro Kontra Praktik Pemilu Perspektif Syariat Islam

Fatwa Ulama Seputar Penguasa Di Era Kontemporer-Abul Fatih Ristiyan 147Hlm

Pandangan Tajam Terhadap Politik, Antara Haq Dan Bathil-Syaikh Abdul Malik Al-Jazairi-30Mb 368Hlm

 

==

➡ Faedah Ilmu Tentang Pemilu di INDONESIA dan Apakah Salafi Golput atau Nyoblos (Bag.7)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

=

  • Suap Politik, Pengundang Laknat

Abu Ubaidah As Sidawi

Sebagai muslim & warga negara yang baik, pasti kita menginginkan & mendoakan yg terbaik negeriku agar dipimpin oleh pemimpin yang pro Islam & kaum muslimin, yg kuat mengarut dan menjaga keamanan negeri, merawat persatuan, yg amanah & menunanaikan janjinya, dan menegakkan keadilan.

Namun, satu hal yg dikhawatirkan banyak pihak adalah noda demokrasi berupa kecurangan praktek sogok dan beli suara, yang sering terjadi saat pemilihan terjadi, terutama serangan fajar saat pagi menyongsong jelang acara demokrasi.

Saudaraku, Ingatlah bahwa Islam telah melarang secara keras tentang praktik risywah (sogok/suap) berdasarkan Al Quran, hadits, dan ijma’.

Dan telah menjadi rahasia umum bahwa dalam kampanye politik seringkali terjadi pemberian hadiah-hadiah kepada rakyat dengan tujuan agar dia dipilih dalam pemilihan. Hal ini termasuk bagian sogok yang terlarang, dalam bentuk apa pun hadiah yang diberikan berupa uang, bahan pokok, baju, kaos, topi, cendera mata, atau lainnya.
Nabi bersabda:
لَعَنَ اللهُ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ
“Allah melaknat pemberi suap dan yang menerima suap.”

✅ Komite tetap fatwa dan penelitian keislaman kerajaan Arab Saudi telah memfatwakan haram pemberian dan penerimaan hadiah dari calon yang akan ikut pemilihan legislatif dalam fatwa no. 7245, yang ditandatangani oleh al-Syaikh ‘Abdul-‘Aziz ibn Baz (ketua), yang berbunyi:
Soal: Apakah hukum Islam tentang seorang calon anggota legislatif dalam pemilihan yang memberikan harta kepada rakyat agar mereka memilihnya dalam pemilihan umum?

✅ Jawab: Perbuatan calon anggota legislatif yang memberikan sejumlah harta kepada rakyat dengan tujuan agar mereka memilihnya termasuk risywah dan hukumnya haram. (Fatawa Lajnah Daimah 13/541)

✅ Dan suap menyuap adalah tindakan yang mendatangkan laknat dari Alloh maupun Rosul-Nya, sebagaimana keduanya dinukilkan dalam Hadits Abdullah bin ‘Amr rodhiallohu ‘anhu
:
ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﻋَﻤْﺮٍﻭ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻟَﻌْﻨَﺔُﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺮَّﺍﺷِﻲ ﻭَﺍﻟْﻤُﺮْﺗَﺸِﻲ

Alloh akan melaknat pemberi suap dan penerima suap .” (HR Ibnu Majah 2313, Ahmad 6984)

ﻟَﻌَﻦَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟﺮَﺍﺷِﻰ، ﻭُﺍْﻟﻤُﺮْﺗَﺸَﻰِ

Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam melaknat yang memberi suap dan yang menerima suap .” (HR Abu Dawud 3582, Tirmidzi 1337)

  • AMBIL UANGNYA JANGAN PILIH ORANGNYA

✅ Ini salah, yuk kita simak tulisan berikut :

Dari Abdullah bin ‘Amr, dia berkata: Rasûlullâh shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Laknat Allâh kepada pemberi suap dan penerima suap”. [HR. Ahmad, no. 6984; Ibnu Majah, no. 2313. Hadits ini dinilai sebagai hadits shahih oleh syaikh al-Albani dan syaikh Syu’aib al-Arnauth]

Sesungguhnya perkara yang dilarang oleh Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya merupakan dosa. Dan dosa itu bertingkat-tingkat, ada dosa kecil dan ada dosa besar. Risywah (suap) termasuk dosa besar, karena ada ancaman laknat dari Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Definisi dosa besar yang terbaik adalah: dosa yang ada had (hukuman tertentu dari agama) di dunia, atau ancaman di akhirat, atau peniadaan iman, atau mendapatkan laknat atau kemurkaan (Allâh) padanya”. [Taisîr Karîmirrahmân, surat an-Nisa’/4:31]

✅ Al-Fayyumi rahimahullah berkata, “Risywah (suap) adalah sesuatu yang diberikan oleh seseorang kepada hakim atau lainnya, agar hakim itu memenangkannya, atau agar hakim itu mengarahkan hukum sesuai dengan yang diinginkan pemberi risywah”. [Misbâhul Munir dinukil dari al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, 22/219]

Memberi suap untuk mendapatkan jabatan hakim atau kekuasaan wilayah (kepala desa, bupati, gubernur, presiden, anggota legislatif, atau jabatan lainnya-pen), hukumnya haram bagi pemberi dan penerimanya. [Lihat al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, 22/222]

Maka fenomena yang banyak terjadi di masyarakat tentang suap ini sangat memprihatinkan, baik berkaitan dengan memutuskan hukum atau mendapatkan jabatan, atau lainnya. Selayaknya umat Islam tidak melakukannya. Bahkan seharusnya mereka mengingkarinya sesuai dengan kemampuan, baik dengan tangan/kekuasaan, lesan/perkataan, atau paling tidak dengan hati.

Jangan sampai mengikut arus dan larut di dalam kemaksiatan. Karena hal itu akan menyebabkan kecelakaan di dunia dan akhirat.
Hendaklah orang yang beriman selalu ingat bahwa dunia itu fana, kematian bisa datang kapan saja, dan di akhirat akan ada perhitungan dan pembalasan terhadap perbuatan. Maka orang yang berakal seharusnya lebih mengutamakan kebaikan akhirat yang kekal daripada dunia yang sementara. Hanya Allâh Tempat mengadu.

Dikutip dari Al manhaj
Ya Allah, lindungilah kami dari dosa
==

  • Berdo’a Minta Petunjuk Kebenaran

Kalau Anda pusing melihat perselisihan pendapat yang terjadi diantara pesbukers pemilu lah atau yg lainnya, maka supaya anda tidak pusing caranya gampang. Matikan HP anda, kemudian istirahatlah sejenak, setelah itu berdoalah kepada Allah subhanahu wa Ta’ala dg doa berikut:

اللهم أرنا الحق حقاً، وارزقنا اتباعه، وأرنا الباطل باطلاً، وارزقنا اجتنابه، ولا تجعله ملتبساً علينا فنضل، واجعلنا للمتقين إماما

Allahumma arinal-haqqa haqqan warzuqnat-tiba’ah, wa arinal-batila batilan warzuqnaj-tinabah,waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa.

Ya Allah, nampakkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya dan nampakkanlah kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya dan janganlah Engkau jadikan kebatilan itu seakan kebenaran sehingga kami tersesat karenanya. Jadikanlah kami teladan bagi orang orang yang bertakwa”
[Tafsir Ibnu Katsir 1/444].

✅ Kenapa kita baca doa tersebut??

untuk mengenal kebenaran dan pendapat yang benar dalam semua permasalahan ilmiah yang diperselisihkan oleh banyak orang dan berbagai hal baru yang dialami seorang hamba dalam kehidupannya.

✅ Hentikanlah debat kusir karena itu hanya akan membuat Anda pusing 🤯…
Pusing yang anda alami adalah sinyal bahwa Anda terlalu tenggelam dalam sosmed sehingga anda butuh mencharger kembali otak anda dengan cara membaca AlQuran agar hati ini menjadi tenang dan tidak berpenyakit!!!

Doa di atas tergolong doa yang sarat makna dan sangat manfaat. Makna doa tersebut adalah seorang hamba yang mengucapkan kalimat doa tersebut memohon kepada-Nya agar memberinya taufik untuk mengenal kebenaran dan pendapat yang benar dalam semua permasalahan ilmiah yang diperselisihkan oleh banyak orang dan berbagai hal baru yang dialami seorang hamba dalam kehidupannya. Serta memohon kepada Allah agar memberinya kemampuan untuk mengikuti kebenaran dan tegar memegangi kebenaran. Sebagaimana hamba tersebut memohon kepada Allah agar memberinya taufik untuk melihat kebatilan sebagai kebatilan dan kesesatan dan kemampuan untuk menjauhinya sebagai perkataan penyair:

عرفت الشــرَّ لا …… للشـر لكـن لتوقيه

ومن لم يعرف الشر ……. من الناس يقـع فيه

Aku mengenal kejelekan bukan untuk mempraktekannya akan tetapi untuk menjaga diri darinya.

✅ Siapa saja yang tidak mengenal kejelekan maka dia akan terjerumus ke dalamnya.

وقد أمر الله عباده أن يسألوه الهداية إلى الصراط المستقيم في كل صلاة “اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ” [الفاتحة:6]،

Allah pun memerintahkan kita semua untuk memohon hidayah meniti jalan yang lurus kepada-Nya dalam setiap sholat yang kita kerjakan dengan mengatakan ‘Ihdinas Shiratal Mustaqim’.

وكان النبي – صلي الله عليه وسلم- إذا قام من الليل يصلي يقول: “اللهم رب جبريل وميكائيل وإسرافيل. فاطر السماوات والأرض. عالم الغيب والشهادة. أنت تحكم بين عبادك فيما كانوا فيه يختلفون. اهدني لما اختلفت فيه من الحق بإذنك إنك تهدي من تشاء إلى صراط مستقيم” أخرجه مسلم (770)،

Allaahumma rabba jibroo-iil, wa miikaa-iil, wa isroofiil. Faathiros-samaawaati wal ardh. ‘Aalimal ghoibi wasy-syahaadati. Anta tahkumu baina ‘ibaadika fiimaa kaanuu fiihi yakhtalifuun. Ihdinii limakhtulifa fiihi minal haqqi bi-idznik. Innaka tahdii man tasyaa-u ilaa shirootim-mustaqiim.

Dalam doa iftitah sholat malam Nabi pun berdoa yang artinya ‘Ya Allah, rabb bagi Jibril, Mikail dan Israfil, pencipta langit dan bumi, yang mengetahui hal yang ghaib dan yang nampak, engkaulah yang menetapkan keputusan diantara para hamba dalam berbagai hal yang mereka perselisihkan, berilah aku petunjuk untuk mengetahui kebenaran dalam hal hal yang diperselisihkan dengan izin-Mu sesungguhnya engkau itu memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki untuk menuju jalan yang lurus’ [HR Muslim no 770].

وفي حديث أبي ذر -رضي الله عنه: “يا عبادي كلكم ضال إلا من هديته فاستهدوني أهدكم …” أخرجه مسلم (2577). هذا والله الموفق والهادي إلى سواء السبيل.

Dalam hadits dari Abu Dzar, Allah berfirman ‘Wahai hamba hambaku semua kalian adalah sesat kecuali yang Kuberi petunjuk maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya Aku akan memberi hidayah kepada kalian” [HR Muslim no 2577]”.

Oleh: Ust Abu Yala Hizbul Majid dan Aris Munandar=

  • ➡ (SYUBHAT-SYUBHAT SEPUTAR PEMILU)

*

PENDAHULUAN

Bismillah Wa Sholatu Wa sallam ‘Ala Rosulillah.

Amma Ba’du…

Pemilu sebentar lagi tiba, seperti biasa seiring dekatnya waktu pemilu banyak diantara saudara-saudara kita yang gencar untuk menyerukan ummat untuk ikut serta dalam pesta demokrasi atau yang disebut dengan pemilu.

Mereka mencoba untuk mengerahkan segenap tenaga mereka untuk menggiring ummat kepada suatu keharaman, dengan memberikan beberapa syubhat untuk bisa mencapai apa yang mereka inginkan.

Sehingga kerusakan demi kerusakan tidak sedikit kita saksikan, yang ini semua bermula dari syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh saudara-saudara kita dari kalangan yang mengaku menisbatkan diri kepada manhaj salaf.

Kalau dahulu syubhat-syubhat ini dilontarkan oleh kaum hizbiyyin dan pergerakan(HAROKIYYAH), akantetapi kenyataanyang memilukan sekarang ini yang kita hadapi adalah saudara-saudara kita yang berada dalam satu naungan dalam manhaj salaf.

Berikut ini adalah syubhat-syubhat dari mereka yang bisa kita rangkup dalam tulisan ini.

  • SYUBHAT PERTAMA:

“Anggapan bahwa ikut serta dalam pesta demokrasi atau pemilu ini berdasarkan fatwa ulama kibar semisal Syeikh Albani, Syeikh Ibnu Utsaimin,dan lainnya”

➡ TANGGAPAN:

PERTAMA: Apakah dengan adanya fatwa ulama yang kalian bawakan bisa menjadikan sesuatu yang haram bisa menjadi boleh..???

Sungguh menjadi suatu kenyataan yang memilukan sekarang ini banyak diantara ikhwah yang menjadikan fatwa-fatwa ulama seperti dalil, seakan-akan dengan adanya fatwa ulama tersebut kita bisa menjalankan apa yang sebelumnya haram.

✅ Padahal para ulama kita telah mengatakan:

أَقْوَالٌ أَهَّلَ العِلْمُ فَيَحْتَجُّ لَهَا وَلَا يَحْتَجُّ بِهَا

Pendapat para ulama itu butuh dalil dan ia (pendapatnya) bukanlah dalil”.

Demikian juga para ulama dari masa kemasa telah mewasiatkan kepada kita agar kita tidak bertaqlid kepada mereka.

✅ – Imam Malik berkata :

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِئُ وَأُصِيبُ، فَاُنْظُرُوا فِي رَأْيِي، فَكُلُّ مَا وَافَقَ الكِتَابَ وَالسَّنَةَ، فَخُذُوهُ. وَكُلُّ مَا لَمْ يُوَافِقْ الكُتَّابُ وَالسَّنَةُ، فَاُتْرُكُوهُ

Saya ini hanya seorang manusia, kadang salah dan kadang benar. Cermatilah pendapatku, tiap yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah, ambillah. Dan tiap yang tidak sesuai dengan Qur’an dan Sunnah, tinggalkanlah..” (Lihat Jami’ Bayan Ilmi Wa Fadhlihi 2/32 oleh Ibnu Abdil Barr Dan Al-Ihkam Fi Ushul Al Ahkam oleh Ibnu Hazm 6/149).

✅ – Imam Asy-Syafi’i berkata :

أَجْمَعُ النَّاسُ عَلَى أَنْ مَنْ اِسْتَبَانَتْ لَهُ سُنَّةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلٍ أَحَدٌ مِنْ النَّاسِ

Para ulama bersepakat bahwa jika seseorang sudah dijelaskan padanya sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak boleh ia meninggalkan sunnah demi membela pendapat siapapun”. (Lihat Al I’lam 2/361 oleh Ibnul Qayyim).

✅ – Imam Abu Hanifah berkata :

لَا يُحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَأْخُذَ بُقُولَنَا، مَا لَمْ يَعْلَمْ مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ

Tidak halal bagi siapapun mengambil pendapat kami, selama ia tidak tahu darimana kami mengambilnya (dalilnya)”. (Lihat Hasyiah Ibnu ‘Abidin 6/293).

✅ – Imam Ahmad bin Hambal berkata :

لَا تُقَلِّدُنِي، وَلَا تُقَلِّدُ مَالِكًا، وَلَا الشافعي، وَلَا الأوزاعي، وَلَا الثَّوْرِيُّ، وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوا

Jangan taqlid kepada pendapatku, juga pendapat Malik, Asy Syafi’i, Al Auza’i maupun Ats Tsauri. Ambilah darimana mereka mengambil (dalil)”. (Lihat ‘Ilamul Muwaqi’in 2/302 oleh Ibnul Qayyim ).

Kalau saja para imam diatas telah mengatakan perkataan tersebut maka orang yang setelahnya lebih berhak untuk tidak taqlid…

KEDUA: Para Ulama yang telah membawakan fatwa akan bolehnya ikut serta dalam pemilu mereka semua memberikan fatwa dalam rangka untuk memperkecil kerusakan, bukan pembolehan secara mutlak.

Karena memang hukum asal dalam pemilu ini adalah haram, dan tidaklah kita dibenarkan untuk melakukan sesuatu yang haram kecuali dalam keadaan yang benar-benar terpaksa.

Sayangnya sekarang ini banyak ikhwah yang sudah melampaui batas dalam memakai fatwa ulama tersebut.

Sampai-sampai mereka menjadikan fatwa-fatwa tersebut untuk mengikuti hawa nafsu dan ambisi mereka, dan membolehkan segalanya yang para ulama tidak berfatwa seperti itu.

Sebagai suatu contoh, ada sebagaian kalangan dari yang membawakan fatwa itu untuk bolehnya kampanye dengan diiringi sesuatu yang diharamkan seperti ikhtilath, musik, dan lainnya.

Adalagi yang membawakan fatwa-fatwa ulama itu untuk bergabung dalam politik praktis.

Padahal ulama-ulama yang mereka bawakan fatwanya tidak ada yang membenarkan apa yang mereka lakukan.

Maka lihatlah bagaimana jauhnya fatwa-fatwa ulama tersebut dengan apa yang dilakukan oleh sebagian diantara mereka.

Fa’tabiruu ya Ulil Abshar…

KETIGA: Bahwa fatwa-fatwa ulama tersebut terikat dengan kaidah “Irtikab Akhfaffu dharrain”. Yang mana kaidah ini mempunyai dhowabit yang tidak diperhatikan oleh mereka para penyeru intikhobaat (pemilu).

Dan sudah kita jelaskan dhowabit tersebut disini https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2399735886724525&id=100000644123573

KEEMPAT: Adapun terkait dengan fatwa Syeikh Al-Albani maka kita katakan:

✅ 1. Syeikh Al-Albani pada hakikatnya beliau tidak membolehkan pemilu ini hal ini sebagaimana dikatakan oleh Syeikh Muqbil dalam bukunya “Hurmatul Intikhobat”: “Aku mencoba untuk memghubungi Syeikh lewat telepon dan aku katakan: kenapa engkau membolehkan pemilu? Maka syeikh menjawab: aku tidak membolehkannya akan tetapi ini hanya dalam bab “irtikab akhfu dhrarain”.

✅ 2. Syeikh Salim bin ‘ied Al-Hilaly (murid senior Seyikh Al-Albani) mengatakan: “ Sungguh telah datang surat dari Syeikh Muqbil terkait pemilu ini yang ini ditandatangani oleh Syeikh Al-Albani sendiri untuk tidak ikut masuk dalam intikhobat(pemilu) dan karena hal ini hanyalah jalan Syaithan dan hanya jalan untuk meninggikan kalimat bathil, dan ini bukanlah jalan untuk meninggikan kebenaran atau kalimat Allah.” (Dinukil dari kaset soal jawab seorang thalib yaman kepada murid2 Syeikh Albani)

✅ 3. Syeikh Al-Albani sendiri ketika ditanya tentang pemilu yang akan diadakan di Amerika dengan alasankaidah “irtikab Akhaffau dhararain” beliau menjawab akan tidak bolehnya

Lihat lengkapnya disini https://youtu.be/nLlAR5CENgA

KELIMA: Adapun terkait dengan fatwa Syeikh Utsaimin maka perlu diketahui bahwa Syeikh sendiri mempunyai fatwa untuk tidak bolehnya bergabung dengan partai yang memamg disana terdapat para pelaku bid’ah

Silahkan disimak disini https://youtu.be/5D52dWkyFM8

*

SYUBHAT KEDUA

“Perkataan mereka: Bahwa orang yang ikut pemilu tidak mesti dia ikut dalam demokrasi, maka harus dibedakan antara pemilu dan demokrasi itu sendiri”

➡ TANGGAPAN:

Syubhat ini adalah suatu keanehan yang muncul dari mereka yang menyeru ummat untuk ikut dalam pesta demokrasi.

Bagaimana mungkin bisa dipisahkan antara pemilu itu sendiri dengan demokrasi sementara pemilu tersebut adalah inti acara dari pesta demokrasi bagi suatu negara yang menganut sistem demokrasi.

Pemilu ini selalu identik dengan sebutan pesta

demokrasi, karena memang dipemilu inilah acara demokrasi diadakan besar-besaran setiap lima tahun sekali.

✅ Amatilah betapa seringnya para reporter dari berbagai media di Tanah Air melontarkan secara lisan maupun tulisan kalimat-kalimat seperti, “Masyarakat menyambut pesta demokrasi ini dengan mengadakan konvoi untuk mendukung capres pilihan mereka.” atau “Pesta demokrasi ini sangat berarti bagi masa depan bangsa Indonesia.” Contoh lain, “Kita berharap pesta demokrasi ini dapat berlangsung jujur dan adil.”

Lantas apakah dengan ini kita bisa memisahkan pemilu dengan demokrasi?

Jadi orang yang ikut serta dalam pemilu, pada hakikatnya mereka adalah orang yang ikutserta dalam merayakan pesta demokrasi itu sendiri.

Dan ini masuk dalam bab “tolong menolong dalam dosa dan maksiat”

Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:

ولا تعاونوا على الإثم والعدوان

Dan janganlah kalian tolong menolong dalam dosa dan permusuhan” (Q.S Al-Ma’idah :2)

Suatu yang patut ditanyakan kepada mereka yang membolehkan pemilu :”Apakah dengan kalian pemilu ada perasaan kalau kalian telah membantu terselanggaranya pesta demokrasi ini”???

Apakah kalian tidak sadar bahwa dengan kalian ikut pemilu, kalian telah memberikan kelancaraan untuk berhukum kepada hukum selain Allah”??

Allah berfirman:

فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ

Sesungguhnya Hukum itu hanyalah milik Allah yang maha tinggi dan lagi maha besar” (Q.S. Ghaafir: 12)

✅ Allah berfirman:

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ

“Hukum itu hanya milik Allah (Q.S Yusuf :40)

✅ Allah berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْماً لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah yang mereka inginkan hukum jahiliyah?, Hukum siapakah yang lebih baik dari Allah bagi orang-orang yaing beriman” (Q.S Al-Ma’idah :50)

*

  • SYUBHAT KETIGA: 

“perkataan mereka “Kita ikut dalam pemilu adalah dalam rangka untuk menerapkan kaidah “Irtikab Akhaffu Dharaarain”( mencegah kemudharatan yang lebih besar dengan mengerakan kemudhratan yang kecil”

TANGGAPAN: Sekarang marilah kita bandingkan bahaya ikut pemilu dengan tidak ikut pemilu

Bahaya ikut pemilu:

1. Membantu terselenggaranya sistem demokrasi yang merupakan kesyirikan

2. Membantu sistem yang mengatakan suara rakyat adalah suara tuhan

3. Membantu dalam undang-undang yang dibuat oleh manusia

4. Membantu sistem yang berkeyakinan bahwa hukum undang-undang bukanlah hak Allah

5. Dan masih banyak lagi bahaya yang ditimbulkan dari ikut dalam pesta demokrasi ini

Apakah bahaya-bahaya diatas tersebut bisa ditimbang dengan bahaya-bahaya yang mereka takut-takuti selama ini, yang katanya kalau kita tidak ikut pemilu maka ahlu sunnah akan banjir darah, pki akan berkuasa, syi’ah aka membantai ahlu sunnah, negeri ini akan dikuasai oleh orang kafir dan sederet bahaya yang sifatnya hanya persangkaan semata.

✅ Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Wahai orang-orang yang beriman jauhilah oleh kalian banyak persangkaan , karena sebagian persangkaan itu adalah dosa” (Q.S. Al-Hujuraat :12)

✅ Rosulullah -Sholllahu ‘Alaihi Wa sallam – bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Jauhilah sifat berprasangka karena sifat berprasangka itu adalah sedusta-dusta pembicaraan. Dan janganlah kamu mencari kesalahan, memata-matai, janganlah kamu berdengki-dengkian, janganlah kamu belakang-membelakangi dan janganlah kamu benci-bencian. Dan hendaklah kamu semua wahai hamba-hamba Allah bersaudara.” (HR. Bukhori no. 6064)

✅ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِنِّ اللهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثاٌ : قِيلَ وَقَالَ ، وَإِضَاعَةَ المَالِ ،وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla membenci tiga perkara : menyebarkan desas-desus, menghambur-hamburkan harta, banyak pertanyaan yang tujuannya untuk menyelisihi jawabannya. [H.R al-Bukhari no. 1477, dan Muslim no. 1715]

✅ Beliau Shallahu ‘alaihi wa sallam juga bersaba:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Cukup seseorang itu dikatakan pendusta jika ia mudah menyebarkan setiap berita yang ia dengar”. [H.R Muslim no.4]

*

  • ➡ SYUBHAT KEEMPAT: 

“Perkataan mereka “ Kami tidaklah ikut dalam pemilu melainkan dengan niatan yang baik”.

TANGGAPAN: semata-mata niat yang baik tidak bisa menjadikan semua yang haram itu menjadi boleh.

Karena sebagaimana kita ketahui bahwa betapa banyak orang yang ingin mendapatkan kebaikan tapi tidak bisa dicapai karena salah dalam melangkah

✅ Bekata Abdullah bin Mas’ud -Radhiyaallahu ‘Anhu-:

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (Diriwayatkan oleh Ad-Darimy dalam Sunannya no.210 dan atsar ini dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam “As-shahihah” no.2005)

Jadi hanya semata-mata niat yang baik tidak menjadikan seorang boleh ikut partisipasi dalam pesta demokrasi ini.

Karena niat yang baik, bukan berarti kita boleh menjalankan apa yang dilarang dalam syari’at.

*

  • SYUBHAT KELIMA: 

Perkataan mereka: “kita ini tidak bisa lepas dari sitem demokrasi baik ikut pemilu ataupun tidak ikut pemilu’

  • TANGGAPAN :

PERTAMA: Nampaknya orang yang meyampaikan syubhat ini tidak bisa membedakan mana yang tidak ikut memilih karena didasari keyakinan akan kebatilan sistem demokrasi, dengan orang yang tidak ikut memilih lantaran karena kekecewaan kepada negara dari penyelengaraan pemilu itu sendiri atau disebut dengan pemilu.

Kalau kita tidak memilih karena memang tidak ada keyakinan akan bathilnya sistem demokrasi ini bisa dikatakan kita ikut serta dalam sistem demokrasi karena tidak adanya pengingkaran dalam hati kita.

Akan tetapi jika kita tidak memilih lantaran kita berkeyakinan kalau sistem demokrasi adalah bentuk kesyirikan, apakah bisa dikatakan ikut dalam sitem demokrasi??

✅ Maka benarlah apa yang dikatakan oleh seorang penyair:

سارت مسرقة وسرت مغربا

شتان بين مشرق ومغرب

“Dia berjalan ketimur dan aku bejalan kebarat

Aduhai alangkah jauhnya antara timur dengan barat”

KEDUA: Kita tanyakan kepada mereka: apakah jika sebegian besar penduduk indonesia memilih untuk tidak ikut pemilu pesta demokrasi ini akan tetap berjalam?

Jawabnya : tentu tidak , sistem demokrasi tidak akan berjalan jika memang sebagian besarnya memilib untuk tidak ikut dalam pesta demokrasi.

KETIGA: Tanyakanlah kepada mereka-mereka yang ahli hukum tentang pernyataan mereka yang mebawa syubhat ini niscaya hal ini akan mengundang ketawa dari mereka yang paham akan sistem demokrasi ini.

✅ Maka benarlah apa yang dikatakan oleh seseorang:

من تكلم في غير فنه أتى بالعجائب

“Siapa yang berbicara bukan pada bidangnya maka akan mendatangkan keanehan-keanehan”.

  • PENUTUP

Inilah yang bisa ana tuliskan dan ana rangkum dari syubhat-syubhat yang ana dapati dari sebagaian ikhwah seputar pemilu

Mudah-mudahan ini bisa mencerahkan dan bisa bisa menjadi benteng bagi kita agar kita tidak terkena syubhat -syubhat ini.

Ditulis oleh

Agus Susanto Sanusi

== `(Lanjut Ke Halaman 2)’