Faedah Ilmu Tentang Pemilu di INDONESIA dan Apakah Salafi Golput atau Nyoblos (Bag.8)

 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

 

==

1.Mutiara Hadis: Sulitnya Mencari Manusia Pilihan di Zamanini

2.Hak dan Kewajiban Pemimpin dan Rakyat yang Dipimpin(Bag. 1)

Buah Indah Dari Itsar (Mendahulukan Kepentingan OrangLain)

4.Mengganggu Hak Orang, Hukuman Segera Datang

5.Sedekah Makanan di Hari Jumat

6.Dibutuhkan Saksi Dalam Hutang

7.Apa Hukum Rukhsah Bagi Musafir?

8.Ketinggalan Sunnah lalu Bersedih Apakah Termasuk Gangguan Iblis?

9.Dia Ingin Berpuasa, Sementara Masih Terbuka Wajah Dan Rambutnya

10.Enam Catatan Tentang Pemimpin Negeri

11.Faedah Sirah Nabi: Pensyariatan Shalat Lima Waktu Ketika Isra Mikraj

=

Nasehat Tentang Pemilu-Ustadz Muhammad Chusnul Yaqin.webm  

Nyoblos atau Golput-Syaikh Saad bin Nashir Asy Syatsri Abu Habiib.mp4  

BELENGGU TAKLID.-Ustadz Sofyan Chalid Bin Idham Ruray.webm

Mendalami Tiga Tauhid Dalam Islam – Ustadz Mizan Qudsiah,Lc.MA.webm

Perbedaan Dakwah Salafiyyah Dengan Dakwah Hizbiyyah Harokiyyah Siyaasiyyah-Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat-mc.m4a

Tanya Jawab Aqidah, Ibadah & Muamalah – Ustadz Muflih Safitra, M.Sc.webm

Tauhid Syarat Masuk Surga Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.webm

Tiga Ucapan yang Merusak Aqidah-Ustadz Sofyan Chalid Bin Idham Ruray.webm

==

Ebook

Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja-Muhammad Abduh Tuasikal, MSc 86Halaman

Bekal Terbaik Demi Menyongsong Kehidupan Akhirat-Hakam Bin Adil Zamo An Nuwairy 89Hlm

Harta Simpanan Berharga-Nashir bin Abdullah bin Dakhil Al Fuhaid-59Hlm

SYARAH HADITS ARBA’IN IMAM NAWAWIPENJELASAN 40 HADITS INTI AJARAN ISLAM. Pengarang, Ibnu Daqiqil ‘ied. 173Hlm

Hal-Hal yang Wajib Diketahui Setiap Muslim-Abdullah bin Ibrahim Al Qar’Awi 42Hlm

Beberapa Pelajaran Penting Untuk Seluruh Umat-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah Bin Baaz 41Hlm

Pedoman Hidup Setiap Muslim-109Hlm

Bimbingan Islam Untuk Pribadi dan Masyarakat-Syekh Muhammad bin Jamil Zainu 162Hlm

Akhlak Dalam Islam-35Hlm

Loyalitas Dalam Islam-Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan 48Hlm

==

Faedah Ilmu Tentang Pemilu di INDONESIA dan Apakah Salafi Golput atau Nyoblos (Bag.8)

 

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

  • Tunjukan Calon Yang Lebih Baik


✅ Pertanyaan kepada Syaikh Abdul Malik Ramadhan Al Jazairi:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.Semoga Allah menjaga Anda, syaikh kami..

Sebagaimana Anda ketahui bahwa di negeri kami Indonesia akan diadakan pemilu. Ada dua calon, salah satunya adalah presiden negara ini.

Sebagian da’i menulis di halaman Facebook-nya bahwa secara publik bahwa presiden negara ini suka berdusta, atau telah dikenal dustanya. Dan bahwa ia merugikan kaum muslimin selama masa pemerintahannya.

Apakah boleh hal semisal ini? Karena hal itu dilakukan untuk menunjukkan kepada umat mengenai siapa yang lebih ringan keburukannya bagi kaum muslimin di antara dua calon tersebut, bukan dalam rangka memprovokasi masyarakat untuk memberontak kepada presiden?

Jazakallahu khaira.

✅ Jawab:

Tidak boleh. Akan tetapi tunjukkan kepada orang-orang mengenai siapa calon yang lebih baik, tanpa mencela

=

  • Tanya Jawab Pemilu

Karena ada tuduhan yang menurut saya “unik”, maka saya ingin sedikit cerita kenapa sampai ada tanya jawab kemarin.

Awalnya saya sudah deaktif dari FB karena ingin menjaga persahabatan, sekaligus istirahat sejenak.

Tapi setelah itu saya ketahui ada seseorang yang saya hormati ikut menyebarkan sesuatu yang saya yakini itu munkar, maka saya tergerak untuk mulai mencari tahu kenapa bisa demikian.

✅ Ternyata, dalil untuk membenarkannya adalah perkataan Syaikh Muqbil:

وفرق بين أن تقوم وتنكر على المنبر أعمال الحاكم المخالفة للكتاب والسنة، وبين أن تستثير الناس على الخروج عليه، فالاستثارة لا تجوز إلا أن نرى كفرًا بواحًا،

Patut dibedakan antara mengingkari kebijakan-kebijakan pemerintah yang menyelisihi al Qur’an dan sunnah di atas podium dengan melakukan agitasi agar rakyat memberontak terhadap pemerintah. Agitasi untuk memberontak itu tidak diperbolehkan kecuali jika kita melihat pemerintah memiliki kekafiran yang nyata”.

Jadi kesimpulannya, selama tidak bermaksud memberontak, maka walaupun provokatif maka tidak masalah???

✅ Berangkat dari itu saya tanyakan ke Syaikh Abdul Malik, apa iya seperti itu.. Sebuah pertanyaan yang memang mengharapkan dua jawaban:

1. Apakah perbuatan semacam itu dibenarkan?

2. Apakah benar kalau selama tidak bermaksud memberontak, hal itu dibolehkan?

Bahkan sebelum saya berikan pertanyaan itu ke Syaikh, saya tanyakan ke seorang kawan, apakah pertanyaan saya sudah inshaf dan menggambarkan permasalahan? Beliau jawab, iya, sudah.

Demikian saya bercerita dengan sejujur-jujurnya. Jika ada yang masih memframing bahwa saya berusaha framing, maka saya serahkan kepada Allah Yang Maha Adil

==

  • Bughot

Saya dituduh menganut paham “kalau nggak milih petahana berarti bughot/pemberontak”, padahal dari tahun lalu sudah menulis keanehan paham tersebut.

Husnuzhon saya, yang menuduh belum baca postingan saya yang ini. Monggo sak kersanipun njenengan mawon..

Karena ngajinya setengah-setengah, atau mungkin memang gak pernah ngaji aqidah, masih saja ada anggapan bahwa taat waliyyul amri itu sampai pada level kalau ia kampanye untuk pemilu berikutnya maka wajib menuruti ajakannya.

✅ Tapi saya mau kasih sebuah ungkapan dari Imam Abul Laits As Samarqandi:

ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺍﻟْﻮَﺟْﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻫُﻮَ ﻧِﻔَﺎﻕٌ ، ﻓَﻬُﻮَ ﺃَﻥْ ﻳَﻐْﺘَﺎﺏَ ﺇِﻧْﺴَﺎﻧًﺎ ﻓَﻠَﺎ ﻳُﺴَﻤِّﻴﻪِ ﻋِﻨْﺪَ ﻣَﻦْ ﻳَﻌْﺮِﻑُﺃَﻧَّﻪُ ﻳُﺮِﻳﺪُ ﻣِﻨْﻪُ ﻓُﻠَﺎﻧًﺎ ، ﻓَﻬُﻮَ ﻳَﻐْﺘَﺎﺑُﻪُ ﻭَﻳَﺮَﻯ ﻣِﻦْ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ﺃَﻧَّﻪُ ﻣُﺘَﻮﺭِّﻉٌ ، ﻓَﻬَﺬَﺍ ﻫُﻮَ ﻟِﻠﻨِّﻔَﺎﻕِ .

Adapun dalam bentuknya sebagai kemunafikan, yaitu ketika ia mengghibahi orang tertentu tanpa menyebut nama orang tersebut, tapi hal itu disebutkannya pada orang-orang yang mengenal dan mengetahui orang yang disebutnya tersebut, sehingga mereka benar-benar tahu bahwa yang dimaksudkannya tersebut adalah Fulan. Maka dia telah menggunjingnya, namun dia menganggap dirinya terbebas dari itu (padahal tidak demikian), maka justru disinilah kemunafikan tersebut! [Tanbihul Ghafilin]

✅ Kalau misalnya lupa definisi ghibah, nih:

ﺫﻛﺮﻙ ﺃﺧﺎﻙ ﺑﻤﺎ ﻳﻜﺮﻩ

Menyebut2 sesuatu tentang saudaramu (di belakangnya), sesuatu yang dia tidak suka jika mengetahuiny

=

  • Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Daripada panas terus, bagaimana kalau kita mulai belajar yang dasar-dasar lagi? Insyaallah saya akan posting beberapa postingan sebagai ta’shil ilmu atau membangun pondasi dasar. Bermodal terjemahan saja, supaya tidak dikira dari kantong sendiri.

Saya mulai dari 3 kaidah amar ma’ruf nahi munkar yang dijelaskan oleh Syaikh Shalih Al Ushaimi:

✅ Kaidah 1: Suatu kemungkaran selamanya mungkar. Tidak akan berubah keharamannya sampai hari kiamat. Maka wajib bagi setiap orang untuk berusaha mengangkat kemungkaran tersebut sesuai tingkatan kemampuannya (tangan, lisan, dan hati).

✅ Kaidah 2: Mengingkari kemungkaran dengan tidak dengan menyebarluaskannya. Karena hal tersebut termasuk aurat kaum muslimin. Wajib bagi seorang hamba berusaha menutupinya.

✅ Sebagian salaf mengatakan:

من أشاع منكرا فقد أعان على هدم الإسلام

Siapa yang menyebarkan kemungkaran, maka dia telah membantu menghancurkan Islam”

Maka, yang diperbuat sebagian orang dengan menukil dan menyebarkan foto-foto kemungkaran di media sosial, ini haram dalam syariat. Karena hal tersebut termasuk menyiarkan kemungkaran.

Dan cara mengangkat kemungkaran bukan dengan cara seperti ini, dan hendaknya dia ubah kemungkaran tersebut sesuai syariat. Sedangkan ini bukan cara yang diajarkan syariat.

✅ Kaidah 3: Mengingkari kemungkaran tidak boleh dijadikan jalan untuk memecah persatuan kaum muslimin dan menjauhkan rakyat dari penguasanya. Karena sebagian orang ada yang menjadikan inkarul munkar sebagai sarana untuk tujuan tersebut. Maka mereka memecah persatuan kaum muslimin dan menjauhkan manusia dari mendengar dan taat kepada penguasa.

✅ Maka di sini ada dua kewajiban:

1. Inkarul munkar

2. Tetap mendengar dan taat kepada penguasa, dan bersatu.

Dengan ini maka terwujudlah persatuan kaum muslimin sekaligus hilangnya kemungkaran di dalamnya.

Maka ketika ada kemungkaran, seseorang langsung saja menyebutkan hukumnya tanpa menyebut pelakunya. Misal: Nyanyian itu haram, musik itu haram, dll. tanpa menyebutkan detail kejadiannya, supaya tidak malah menimbulkan kemungkaran yang lain.

Para ulama, mereka juga melakukan nahi munkar kepada penguasa, tapi mereka tidak butuh pengeras suara atau pengumuman kepada manusia kalau mereka melakukannya. Mereka hanya butuh untuk membebaskan diri dari kewajiban untuk menasehati, dan mencapai tujuan nahi munkarnya (yaitu terangkatnya kemungkaran, pent).

Postingan semacam ini lebih penting untuk disebarkan daripada postingan2 curhat saya sebelumnya. Hehe.

Oleh: Ristiyan Ragil Putradianto

==

  • Gagal Paham

Dr Muhammad Arifin Badri

Yang paham, akan paham yang gagal paham ya tetap gagal paham, apalagi …..

Pagi ini saya dikirimi copas pertanyaan ke seorang syeikh, seakan yang kitim ingin berkata bahwa pertanyaan dan jawaban bisa ini bertentangan dengan apa yang saya lakukan selama ini.

Saya tidak ingin membantah ataupun mengelak, namun saya hanya mengajak saudara untuk sedikit berfikir kritis.

Pada ujung pertanyaan disebutkan kata kata: bukan dalam rangka MEMPROVOKASI untuk melakukan PEMBERONTAKAN.

Saya yakin para pembaca orang orang pandai dan mampu menalar dengan cerdas.

Silahkan di renungkan dan dipikirkan dengan baik.

Redaksi pertanyaan sejalan dengan fatwa sebagian oknum yang mengatakan bahwa memilih non incumbent itu berarti pemberontakan alias bughot dan tentu itu haram.

Semoga mencerdaskan.

=

  • Subhanallahu: gagal paham itu tetap gagal paham.

Masak sih, belum bisa membedakan ?

Coba bandingkan redaksi saya berikut:

Pilihlah “IKI WAE” , karena yang ITU sudah terbukti ngibul dan mloroti Ummat Islam.

Sedangkan redaksi penanya berbunyi:

Sebagian da’i menulis di halaman Facebook-nya bahwa secara terbuka bahwa PRESIDEN NEGARA INI suka berdusta, atau telah dikenal dustanya. Dan bahwa ia merugikan kaum muslimin selama masa pemerintahannya.

Kegagalan membedakan keduanya membuktikan kEgagalan anda menerapkan manhaj ahlissunnah yang berbunyi:

لازم القول ليس بقول

Konsekwensi suatu ucapan tidak serta merta dapat dianggap bagian dari ucapan tersebut.

Kaum khawarijlah yang paling sering gagal paham dengan klaedah ini, akhirnya mereka bernafsu mengkafirkan orang lain hanya berdasarkan praduga dan pemahaman sepihak atas ucapan orang lain.

Adapun Ahlussunnah, tidak demikian, selalu teliti dan ekstra hati hati, karena itu ahlussunnah tidak mengkafirkan kaum mu’tazilah atau yang serupa dengan mereka, walaupun banyak dari pendapat mereka yang memiliki konsekwensi yang sangat buruk.

Sungguh indah judul kitab yang ditulis oleh Prof Dr Abdussalam As Suhaimy

كن سلفيا علفى الجادة

Jadilah salafi yang sejati.

Berarti salafi tidak cukup sekedar klaim sepihak, perlu diuji dan dibuktikan.

Semoga mencerdaskan

=

  • Partai-partai politik yang bertarung dalam pemilu sejak 1955 s.d 2019.

Partai islam yang cukup kuat dulu adalah Masyumi pimpinan Muhammad Natsir. Kemudian pecah karena NU bikin partai sendiri. Masyumi lalu dibubarkan rezim Soekarno karena tidak mau ikut Nasakom (Nasionalis-Agamis-Komunis). Partai NU tetap bergabung.

Di zaman rezim orde baru, partai yang bertarung hanya 3: PPP, Golkar dan PDI. Partai2 Islam digabung menjadi Partai Persatuan Pembangunan, tapi tidak pernah menjadi pemenang karena selalu dikalahkan oleh partai pemerintah, GOLKAR.

Paska reformasi muncullah partai2 baru. PDI kubu Megawati Soekarnowati menjadi PDI-Perjuangan. Amien Rais sebagai tokoh reformasi dan eks ketua Muhammadiyah mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN), gerakan tarbiyah yang terinspirasi ikhwanul muslimin mendirikan Partai Keadilan (PK).

Masyumi kembali bangkit menjadi Partai Bulan Bintang. Tokoh2 NU mendirikan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Partai Rakyat Demokratik (PRD) pimpinan tokoh sosialis Budiman Sujatmiko juga ikut meramaikan pemilu.

Tahun 2004, Jendral purn Susilo Bambang Yudoyono dengan partai barunya DEMOKRAT mengikuti pemilu yang pertama kali memilih presiden wapres secara langsung. SBY memenangkan pemilu pilpres dengan pasangannya Jusuf Kalla.

Tahun 2009, partai Golkar pecah menjadi beberapa partai. Mantan pembesar partai Golkar mendirikan partai sendiri.

Jend. Purn Wiranto mendirikan Hanura.

Letjen purn Prabowo mendirikan Gerindra.

Dan akhirnya Surya Paloh pun mendirikan Nasdem. Nasdem baru ikut pemilu di 2014.

Tahun 2014 itu 5 tahun yll.. anda masih tahu ceritanya. 2019 mudah2an aman terkendali.

Jasmerah.

  • Melanjutkan tulisan tentang Pemilu...

Walaupun Masyumi dibubarkan oleh presiden Soekarno yang pro komunis, aktivitas Muhammad Natsir tidaklah berhenti.

Untuk membendung kristenisasi yang marak di zaman itu, beliau dan rekan2 kemudian mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), jangan keliru dgn LDII.

Natsir pun kemudian menjadi tokoh islam internasional dengan menjadi presiden liga muslim sedunia (world moslem congress). Natsir mendapat banyak sekali penghargaan dari dunia Islam. Di tahun 1980, atas jasa2nya terhadap dunia Islam, beliau mendapatkan penghargaan raja Faisal dari Saudi Arabia.

Natsir juga menjadi pembuka program beasiswa bagi santri2 indonesia untuk belajar di Timur Tengah. Santri2 ini lah yang kemudian membawa warna baru terhadap Islam di Indonesia yang sebelumnya didominasi oleh kaum tradisional dan abangan.

Prof. Usman Abu Bakar, mantan rektor IAIN Surakarta sering mengatakan bahwa langkah yang ditempuh oleh Natsir harusnya menginspirasi kaum muda. Berjuang tak harus di ranah politik

Oleh: Wira Bachrun

=

  • Kekeliruan Menerapkan Perintah Taat Penguasa

Hanafi Abu Abdillah Ahmad

.

Manhaj ahlussunnah itu mentaati para penguasa yang berhasil menduduki tampuk kekuasan, meski dengan cara apapun mereka mendapatkan kekuasaan itu (mau di dapat via dimoqrathiyyah, bughat, inqilaab, dan semisalnya maka tetap wajib untuk di taati), dan mendoakan kebaikan untuk mereka, adapun kekeliruan-kekeliruan mereka wajib diinkari dan dinasehati.

.

Dan diantara kekeliruan sebagian qaum muslimin hari ini selaku rakyat awam dalam menerapkan perintah taat penguasa adalah ikut berkampanye yang tidak ada kepentingan mereka untuk ikut andil didalamnya dimusim-musim tertentu, apalagi didalamnya ada unsur menyerang semua lawan-lawan politiknya (black campaign) jelas ini kekeliruan, karena jatuh kepada ghibah, namimah, dan ta’awun ‘alal itsmi wal ‘udwan.

.

Syari’at mengajarkan untuk tidak mencela para penguasa qaum muslimin, tidak berontak kepada mereka, taat kepada mereka, dan mendoakan kebaikan untuk mereka, bukan berarti ikut terjun dan membela didalam semua urusan dan perbuatan mereka, apalagi ikut berkampanye didalamnya kemudian menyerang, menghina, menjatuhkan, dan black campaign terhadap lawan-lawan politik mereka maka ini jelas kekeliruan.

.

Manhaj ahlussunnah itu mengkampanyekan tashfiyah dan tarbiyah, bukan berkampanye tanpa ada urusan dan kepentingan yang dibebankan syariat atas mereka.

Para ulama’ menasehati tatkala berada dizaman-zaman fitnah untuk banyak diam, atau jika harus berbicara maka berbicaralah dengan ilmunya.

=

  • Cerdas Dalam Memilih dan Milih Siapa?

Oleh: Abu Ubaidah As Sidawi

Ketika seorang akan memilih atau mengangkat pemimpin, maka hendaknya bertaqwa kepada Allah dan memilih pemimpin yang lebih mendekati kepada kriteria pemimpin dalam Islam yaitu al-Qowwiyyu al-Amin (kuat & amanah), sebagaimana dalam firmanNya:

إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.

(QS. Al-Qoshosh: 26)

Dari ayat ini, para ulama mengambil kaidah bahwa kriteria orang yang berhak mengemban suatu pemerintahan adalah yang memiliki dua sifat, semakin besar tanggung jawabnya maka semakin ketat kriterianya.

✅ Dan jika kita perhatikan dalam Al Quran, seringkali dua kriteria ini digabungkan, diantaranya:

1. QS. At Takwir: 19-21 ketika Allah mensifati para Malaikat yang menyampaikan wahyu kpd para Nabi dan rasul.

2. QS. Yusuf: 55 ketika Allah mensifati Nabi Yusuf dalam mengelola harta negara.

3. QS. An Naml: 38-39. (Lihat Qowaid Quraniyyah, halm 110-112 karya Dr. Umar Al Muqbil)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan:

Hendaknya kepemimpinan diberikan kepada yang terbaik dan paling maslahat, karena kepemimpinan itu memiliki dua pilar utama yaitu kuat dan amanat.

Kuat itu relatif, kalau dalam peperangan maka maksudnya adalah kuat mental, pengalamam perang dan mengerti berbagai ilmu strategi perang, adapun kalau dalam menegakan hukum maka maksudnya kuat adalah ilmu tentang keadilan dan keberanian dalam menerapkannya.

Sedangkan amanah, maka ini kembali kepada rasa takut kepada Allah dan tidak menjual ayat Allah dg harga murah“.

✅ Beliau melanjutkan lagi:

Terkumpulnya dua kriteria ini jarang ada terkumpul pada manusia. Oleh karena itu, maka harus dikedepankan yang paling maslahat sesuai kondisi. Jika ada dua pilihan antara dua orang, yang satu amanat dan yang lain lebih kuat, maka didahulukan untuk mengemban kepemimpinan tersebut siapa yang lebih banyak manfaatnya.

Dalam perang misalnya, lebih didahulukan yang lebih kuat dan pemberani walaupun ada kekurangannya daripada yang lemah sekalipun dia amanah, sebagaimana pernah ditanyakan kepada imam Ahmad tentang dua orang dalam pemimpin perang, siapakah yang lebih berhak: Antara orang yang kuat tapi fajir dan orang yang sholih tapi lemah? Beliau menjawab: Pemimpin fajir maka kekuatannya bermanfaat untuk kaum muslimin dan kefajirannya untuk pribadinya, sedangkan orang yg shalih tapi lemah maka keshalihannya untuk pribadinya dan kelemahannya kembali kepada kaum muslimin, maka didahulukan yang kuat walau fajir”.

Lalu beliau menutup: “intinya dalam masalah ini adalah mengetahui mana yg lebih maslahat dengab mengetahui inti tujuan kepemimpinan, kalau tujuannya diketahui dan sarananya maka sempurna perkara”.

(Siyasah Syariyyah 42-63, taliq Syeikh Al Utsaimin)

Dan inti kepemimpinan negara adalah:

✅ 1. Menjaga Agama

✅ 2. Menjaga stabilitas negara dari ancaman musuh baik luar maupun dalam

✅ 3. Menegakkan keadilan diantara manusia

Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus menjadi pertimbangan kita dalam memilih:

✅ 1. Siapa yang lebih diharapkan untuk membela agama Islam dan kaum muslimin dan memberikan kemudahan bagi dakwah sunnah, bukan malah menghalanginya atau membubarkannya.

✅ 2. Siapakah partai pendukungnya, apakah kebanyakannya adalah partai Islam atau memusuhi Islam, karena seorang itu berdasarkan agama temannya.

✅ 3. Siapakah yang diharapkan punya skill mampu mengatur negara, menjaga stabilitas keamanan negeri, menjaga persatuan, karena ngurus negara itu berat, butuh keahlian, kecerdasan dan keberanian.

✅ 4. Siapakah yang lebih amanah dalam mengembankan amanat Allah & amanat manusia, bukan yang suka inkar janji dan tidak menunaikan amanat.

✅ 5. Siapakah yang lebih diharapkan mampu menegakkan hukum secara adil tanpa pilih kasih tajam ke bawah tumpul ke atas, tajam ke lawan tumpul ke kawan, karena ketidakadilan adalah sumber kehancuran negara.

Yuk cerdas dalam memilih, karena ini adalah ujian kecerdasan dan akal sehat kita.

=

  • ➡ • Tradisi Mengadukan Pertikaian

.

Saya merasa tradisi mengadukan pertikaian duat lantaran berbeda pendapat kepada kalangan masyaikh tertentu yang pada akhirnya kerap berujung adu kuat ulama cenderung selain seperti main kucing-kucingan, seakan merendahkan martabat para ulama hafizhahumullah.

.

Mereka diarah-arahkan untuk menjawab pertanyaan yang sudah disetir ke arah tertentu demi memuaskan syahwat manhaj kita.

Dulu senior dan guru saya dari Kanada Sheikh Afraz Baksh yang juga lulusan Universitas Islam Medinah tahun 80-an sempat mengalami hal serupa di negerinya.

.

Seorang simpatisan dakwah di Kanada yang mungkin awalnya mengenal Sunah lewat dakwah Sheikh Afraz setelah melalui proses belajar bahasa Arab menelepon seorang syaikh di Arab Saudi.

Ya Syaikh, Bagaimana menurut penilaian Anda mengenai ucapan seorang dai mubtadi’ di sini bahwa Imam Ahmad bin Hanbal memiliki beberapa kekeliruan?”

.

Karena dalam redaksi pertanyaan ada penyebutan mubtadi’ maka syaikh pun menjawab, “Seperti yang kau katakan, dia adalah seorang mubtadi’.”

.

✅ Kabar pun tersebar bahwa Sheikh Afraz sudah tidak bermanhaj salafi. Alhamdulillah, beliau sendiri tidak terlalu menanggapi hal itu. Beliau tetap terus berdakwah dengan ilmu dan hikmah. Menurutnya, beliau memaklumi sifat kekanak-kanakan seperti itu.

.

Anak-anak yang usianya masih belia banyak yang menjauhi beliau hingga pada saat seorang dari yang menjauhinya ditinggal wafat oleh ayahandanya, Sheikh Afraz datang melayat dan membantu pengurusan jenazah dan sebagainya karena teman-temannya yang sebaya tidak ada yang berani tampil. Di situasi seperti itulah tampak siapa yang sebenarnya selama ini menebar kebaikan.

Memori hampir 20 tahun silam.

.====

  • ➡ • Merawat Harmoni Persaudaraan Sekalipun Berbeda Pendapat dan Pendapatan?

.

Kalau menurut pandangan subjektif saya, tidak elok main belakang mengadukan perkara Ust. Arifin Badri hafizhahullah kepada sebagian ulama untuk kemudian dijadikan amunisi guna menyerang beliau.

.

Sejauh ini, sekalipun tidak kenal secara pribadi, saya banyak mendengar hal baik tentang kiprah dakwah Ust. Arifin Badri. Maka tidak pantas sama sekali memperlakukan orang semulia beliau dengan cara seperti itu, apalagi jika niatnya untuk menjatuhkan wibawa beliau.

Cara serupa dulu pun tidak saya sukai ketika sejumlah ustadz lokal dihakimi sepihak semisal Ust. Yazid dan Ust. Abdul Hakim Abdat hafizhahumallah oleh kalangan ulama tertentu lantaran pengaduan oknum tertentu di sini.

Tidak bisakah kita merawat harmoni persaudaraan sekalipun berbeda pendapat dan pendapatan?

Oleh: Alee Massaid

=

  • Ada calon suami rekomendasi Ustadz.

Apakah itu mesti menjamin setelah nikah nanti ya mesti baik sesuai rekomendasi Ustadz?

Nggak ada yang bisa jamin 100%. Resiko nanti sang calon suami itu berubah atau ternyata kelihatan belangnya, tentu masih ada.

Sang Ustadz hanya bisa kasih rekomendasi sesuai informasi yang ia ketahui saja. Sesuai dengan logika, pertimbangan, dan kebijakan yang dia ketahui.

Dan walaupun Ustadz tersebut ternyata salah dalam menilai, sehingga merugikan orang lain dan tidak sesuai harapan. Maka itulah ijtihad sang Ustadz, yang walaupun salah insya Allah akan diberi pahala.

✅ Demikian juga sebaliknya.

Jika ada calon yang datang dan ternyata menurut pertimbangan Ustadz tidak baik. Akan tetapi ternyata penilaian sang Ustadz itu salah total.

Maka kesalahannya pun insya Allah bisa dimaklumi.

Namanya juga manusia. Nggak ada yang bisa tau 100% bagaimana ke depannya, kecuali dia mendapatkan wahyu.

Rasulullah shalalloohu alaihi wa sallam saja pernah menjodohkan Zaid dan Zainab ternyata hasilnya tidak berjalan dengan baik. Akan tetapi ternyata ini adalah kehendak Allah supaya turun wahyu, bahwa menikahi wanita mantan dari istri anak angkat itu tidak mengapa.

****

  • Jadi apa kesimpulan nya?

Jangan harapkan Ustadz anda bisa merekomendasikan seseorang dengan tingkat kepastian 100%. Jangan harapkan juga apa yang dianggap madhorot nya lebih ringan itu akurat 100%.

✅ Ustadz anda itu bukan Nabi.

Akan tetapi boleh anda menerima atau menolak ijtihad Ustadz anda, yang mana dia melihat mana yang lebih memberikan mashlahat dan apa yang lebih kecil madhorot nya.

Dan ijtihad yang salah sekalipun insya Allah berpahala.

Betul?

= `(Lanjut ke Halaman 2)’