Jauhkan Diri dan Hati-Hati Dari Perkara Yang Nantinya Engkau Butuh Klarifikasi 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

BELENGGU TAKLID.-Ustadz Sofyan Chalid Bin Idham Ruray.webm

Mendalami Tiga Tauhid Dalam Islam – Ustadz Mizan Qudsiah,Lc.MA.webm

Perbedaan Dakwah Salafiyyah Dengan Dakwah Hizbiyyah Harokiyyah Siyaasiyyah-Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat-mc.m4a

Tanya Jawab Aqidah, Ibadah & Muamalah – Ustadz Muflih Safitra, M.Sc.webm

Tauhid Syarat Masuk Surga Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.webm

Tiga Ucapan yang Merusak Aqidah-Ustadz Sofyan Chalid Bin Idham Ruray.webm

=

Hukum-Hukum Fiqih 50Hlm

Mazhab Fiqih Kedudukan dan Cara Menyikapinya-Abdullah Haidir 94Hlm

Taubat Jalan Menuju Surga- Abdul Hadi Bin Hasan Wahby 93 hlm

Tarbiyah Dzatiyah-Abdullah Bin Aziz al-Aidun 82Hlm

Beberapa Nasehat Untuk Keluarga Muslim-47Hlm

Nasehat Dari Hati Ke Hati-Abdullah Haidir 52Hlm

==

  • Jauhkan Diri dan Hati-Hati Dari Perkara Yang Nantinya Engkau Butuh Klarifikasi

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

HATI-HATI DARI PERKARA-PERKARA YANG NANTINYA ENGKAU BUTUH KLARIFIKASI

✅ [1]- Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِيَّاكَ وَكُلَّ مَا يُعْتَذَرُ مِنْهُ

Waspadalah dari setiap perkara yang (engkau) butuh untuk minta udzur padanya.”

Diriwayatkan oleh Dhiya’ dalam “Al-Mukhtaaraah” dengan sanad yang hasan, sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Albani -rahimahullaah- dalam “Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah” (no. 354).

✅ [2]- Imam Al-Munawi -rahimahullaah- berkata:

“Yakni: berhati-hatilah engkau dari mengatakan sesuatu yang nantinya engkau butuh untuk meminta udzur (klarifikasi) padanya….

✅ Dan Imam Ahmad meriwayatkan dalam “Az-Zuhd” dari Sa’d bin ‘Ubadah bahwa beliau berkata kepada anaknya: “Waspadalah dari perkara-perkara yang (engkau) butuh untuk minta udzur (klarifikasi) padanya; baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan lakukanlah perkara-perkara yang tampak (baik) menurutmu…karena tidak akan (engkau) butuh untuk minta udzur (klarifikasi) pada kebaikan.”

[“Faidhul Qadiir” (III/598-599)]

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix

=

Jauhkan diri dari perkara yang membuatmu dicurigai atau membuatmu mesti membuat klarifikasi

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

وَإِيَّاكَ وَمَا يُعْتَذَرُ مِنْهُ

Tinggalkanlah hal-hal yang membuatmu perlu meminta udzur setelahnya”

(HR. Dhiya Al Maqdisi dalam Ahadits Al Mukhtarah, 1/131; Ar Ruyani dalam Al Musnad, 2/504; Ad Dulabi dalam Al Kuna Wal Asma’; Dihasankan oleh Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah, 1/689)

Dalam kaidah ushul fiqih, huruf ما adalah isim maushul yang menunjukkan makna umum. Sehingga hadits ini mencakup segala sesuatu baik perbuatan maupun perkataan. Wallahu’alam.

Sebagian ulama membatasi maknanya pada perkataan saja karena lafadz lain dari hadits ini berbunyi:

وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا

Jangan anda mengatakan sesuatu yang membuat anda akan perlu untuk meminta udzur (meralatnya) besok hari“

Termasuk juga dalam hadits ini, setiap perkataan dan perbuatan yang jika dilakukan akan mengundang buruk sangka dari orang-orang sehingga anda merasa perlu untuk memberikan penjelasan kepada orang-orang dan meminta udzur dari mereka.

✅ Misalnya anda, muslim yang multazim, membuat janji bertemu dengan seseorang di tempat konser musik. Meskipun anda datang ke sana bukan untuk menonton konser, namun bisa jadi ada teman anda yang melihat lalu berburuk sangka bahwa anda telah bermaksiat dengan menonton konser musik. Sehingga anda merasa perlu memberi penjelasan dan memohon udzur dari teman anda bahwa anda di sana bukan untuk menonton konser.

Seorang muslim hendaknya mempertimbangkan dengan bijak sebelum melakukan perbuatan atau mengatakan perkataan. Terkadang yang dilakukan atau dikatakan memang mubah namun dapat menimbulkan tuduhan, menjatuhkan wibawa dan menjerumuskan pada kemudharatan.

✅ Al Munawi menukil perkataan bijak dari Dzun Nun Al Misri:

ثلاثة من أعلام الكمال: وزن الكلام قبل التفوه به ومجانبة ما يحوج إلى الاعتذار وترك إجابة السفيه حلما عنه

Tiga hal yang merupakan tanda kesempurnaan (akhlak) : menimbang perkataan sebelum menjawab sesuatu, menjauhkan diri dari hal yang membutuhkan udzur nantinya, dan tidak menjawab omongan orang bodoh sebagai bentuk sikap lembut terhadapnya” (Faidhul Qadhir, 3/117)

Seorang muslim hendaknya berusaha tidak berada dekat-dekat atau melakukan hal yang mendekati sesuatu yang diharamkan agama, sebagaimana agama ini telah melarang umatnya dari perkara syubhat.

✅ Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ، وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى، يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ، أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ

Siapa yang menjauhkan diri dari syubhat, sungguh ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Siapa yang terjerumus dalam syubhat, ia akan terjerumus dalam keharaman. Sebagaimana pengembala yang mengembalakan hewannya di dekat perbatasan sampai ia hampir saja melewati batasnya. Ketahuilah batas-batas Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya” (Muttafaqun ‘alaih)

Diantara bentuk fitnah (ujian) yang sangat berat adalahketika kita mendapatkan nasehat kebenaran dari orang-orang baik atas kesalahan kita, tapi di sisi lain kita malah dapat banyak dukungan dari orang-orang buruk.

Tidak akan lolos dari ujian berat ini lalu rujuk kepada kebenaran kecuali orang yang dirahmati Rabb-nya. Semoga Allah menetapkan langkah kita di jalan-Nya.

Wallahu a’lam.

Oleh: Yulian Purnama

=

  • Apa salah Ust Muhammad Abduh Twasikal?

Banyak yang merasa mendapat amunisi untuk menjatuhkan beliau, hanya gara gara belia mengacungkan dua jarinya.

Alasan, beliau berkampanye?

Eeeeeh, coba dipikir dulu, jangan buru buru. cobaa hayo dipikir dulu,

Para ulama’ yang membolehkan bahkan menganjurkan penggunaan hak pilih, menjelaskan bahwa kalau anda tidak tahu siapa calon yang paling menguntungkan atau paling minim keburukannya, menganjurkan agar masyarakat awam bertanya kepada yang berilmu, agar bisa menentukan pilihannya.

✅ Lagian selama ini “para pesilat”banyak yang mancing dengan ranjau “kalau alasan menggunakan hak suara adalah memilih yang minim madharotny, maka tunjukkan mana calon tersebut?

Ehem ehem, giliran ust M Abduh Tuwasikal menjalankan tugas penjelasan kepada masyarakat dalam menentukan pilihan yang lebih ringan madhorotnya menurut analisa beliau….. eeeee…..nafsu mentahzir tak kuat dibendung….ya langsung diembat momentum ini.

✅ Saya sih kasihan sama beliau, karena panik, akhirnya terpaksa buat klarifikasi, padahal beliau tuh sebenarnya tidak usah buat klarifikasi macam macam, cukup jelaskan bahwa sikap beliau adalah penjelasan kepada ummat agar bisa menjalankan fatwa ulama’ dengan baik, sesuai analisa beliau sebagai salah satu tokoh panutan masyarakat banyak.

Coba deh, baca lagi fatwa ulama’ semisal syeikh Ibnu Utsaimin, Abdul Muhsin Al Ábbad, sholeh Fauzan dll.

Nafsu oh nafsu, memang kesesatan itu biang utamanya ada dua: kebodohan dan nafsu.

Saudaraku! Nafsu anda untuk membuly ust M Abduh Twasikal, kelak akan dipertanggung jawabkan, di hari Qiyamat, tanpa tabayyun dan tanpa nasehat, langsung bully.

Atau anda merasa perbuatan semacam itu memang halal untuk anda lakukan?

Semoga mencerahkan…

Oleh: Dr M.Arifin Badri

=

  • Berjiwa besar

Tidak mudah akhi, mengakui kesalahan. Berat, terlebih ia seorang tokoh. Hanya yang dirahmati Allah yang mau mengakui kesalahan.

Ada manusia yang semakin menjadi, saat melakukan kesalahan.

Namun beliau sudah mengakui itu salah.. Baarakallah Fik Ustadzuna Muhammad Abduh Tuasikal ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ .

__________

Semoga kedepan bisa lebih hati-hati. Biarkan mereka yang meng_gonggong, lelah dengan gonggongannya.

==

  • Seneng melihat Yang porno..

Akhi, jika mata terbiasa melihat yang haram maka pikiran akan kacau, hati akan mengeras, serta Allah sibukkan dengan perkara melalaikan. ibadah terasa sulit..

✅ Sama halnya, saat mata dibiasakan melihat, membaca tulisan yang haram, tulisan porno dan ghibah, maka Allah jadikan hati tersebut mengeras, jauh dari menginagat Allah. Terlebih melakukan ketaatan..

Tinggalkan bacaan seperti itu, terlebih ikut nimbali, ngelike, menikmati.. Tidak takut kah amal terkikis.. ? Itu pun kalau punya amal shalih, kalau amalan kita diterima, jika tidak. Semakin numpuk dosa nya.. ” Ghibah itu ngeri, akhi..

  • Sudah berapa lembarkah baca Qur’an hari ini..?
  • Sudakah membaca Dzikir pagi petang..?
  • Sudah berapa lembar baca buku Ulama…?
  • Sudah berapa puluh kali Istighfar..?
  • Masih suka Shalat Malam . . ?

Jika sulit melakukan ketaatan diatas, cukuplah hal tersebut sebagai hukuman atas dosa yang diperbuat.

Ini amalan yang sudah jelas pahalanya, tersimpan sebagai bekal menuju Allah In syaa Allah. Coba direnungkan, saat lagi menggibahi da’i kemudian Allah cabut nyawa kita. Kira-kita bagaimana tulisan dan komentar kita, dan akan dibaca oraag lain.. Yang baca tentu enek.

Ngeri yah.. tulisan yang sudah diketik akan menjadi catatan malaikan sebagai bukti pengadilan antara sipengghibah dengan yang dighibahi. Karena engkau akan dihadapkan dengan mereka..

✅ Allah berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ طَائِرٍ يَطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلاَّ أُمَم أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ (38)

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) sepertimu. Tiadalah Kami lupakan sesuatu apapun di dalam Al-Kitab kemudian kepada Rabb-lah mereka dihimpunkan.” (QS. Al-An’aam: 38)

Betapa banyak orang yang jijik memakan daging babi, namun mersa biasa memakan riba, mereka takun melakukan zina namun tidak takut meninggalkan Shalat, mereka takut mlihat yang porno namun tidak takut mengghibah dan ikut nimbrung mengghibahi. Syaithon cerdik, kawan..

Abu Naayif Iqbal

 

==

  • Salah Satu Pintu Fitnah

Rasulullah shalalloohu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى أَبْوَابَ السُّلْطَانِ افْتَتَنَ

Barangsiapa yang mendatangi pintu penguasa, maka dia akan terfitnah”

[Hr. At Tirmidzi hadits no. 2256, dari Ibnu Abbas rodhiyalloohu anhu. Imam At Tirmidzi menghukumi hadits ini Hasan Ghorib]

***

Jadi salah satu pintu fitnah itu adalah dekat dekat dengan penguasa demi kepentingan duniawi.

Pintu pintu fitnah itu ada banyak, seperti wanita, anak, harta, maka itu juga merupakan pintu pintu fitnah sebagaimana yang dijelaskan dalam dalil-dalil yang lain.

Hadits ini menerangkan “potensi” fitnahnya saja, bukan untuk mengharamkan secara mutlaq.

Diperingatkan potensi fitnahnya, karena banyak orang yang keblinger dalam masalah ini.

Akan tetapi kita juga tidak perlu paranoid juga dalam memahami hadits ini.

Sebab di dalam hadits lain juga disebutkan bahwa agama itu adalah nasehat. Dan termasuk di antara bentuk nasehat itu adalah nasehat kepada penguasa.

Lha kalau kita tidak memiliki kedekatan tertentu kepada penguasa, maka bagaimana mungkin kita bisa memiliki akses untuk menasihati nya dengan cara baik-baik sesuai dengan Sunnah yang diajarkan Rasulullah dan para sahabatnya?

Jadi intinya kita janganlah menggampangkan masalah ini, karena jelas Rasulullah memperingatkan besarnya potensi pintu fitnah dekat-dekat sama penguasa ini.

Dan sebaliknya, kita juga jangan paranoid dan mengharamkan mutlaq membina hubungan baik dengan penguasa. Karena jalan-jalan nasehat yang baik-baik kepada penguasa sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah itu, juga melalui kedekatan pintu pintu kita kepada penguasa.

Emang mau koar-koar di muka publik, melecehkan kehormatan pemerintah, dan ngancam akan menggulingkan?

Nggak mungkin kan?

Jalannya para Khowarij yang seperti ini nih.

Oleh: Kautsar Amru

=

  • NIAT MEWARNAI, AKHIRNYA TERWARNAI

Awalnya seseorang itu sangat mengingkari ahlul bid’ah. Dia bantah penyimpangan ahlul hawa. Dan terus duduk dengan ahlul bid’ah dalam bantah membantah. Akhirnya justru dia sendiri terkena syubhat dan terwanai.

✅ Berkata Ibnu Baththah rahimahullah :

ولقد رأيت جماعة من الناس كانو ايلعنونهم، ويسبونهم، فجالسوهم على سبيل الإنكار، والرد عليهم، فمازالت بهم المباسطة وخفي المكر، ودقيق الكفرحتى صبو إليهم

Saya pernah melihat sekelompok manusia yang dahulunya melaknat ahlu bid’ah, lalu mereka duduk bersama ahlu bid’ah untuk mengingkari dan membantah mereka dan terus menerus orang-orang itu bermudah-mudahan, sedangkan tipu daya itu sangat halus dan kekafiran sangat lembut dan akhirnya terkena kepada mereka.” (Al-Ibanah Ibnu Baththah)

Intinya, berhati-berhatilah untuk jangan sampai bermudah-mudahan untuk duduk bersama ahlul bid’ah walaupun tujuannya dalam rangka membantah penyimpangannya, karena syubhat merupkan racun yang berbahaya.

Nah, bagaimana lagi dengan orang yang duduk-duduknya bukan untuk menasehati dan mengingkari kesesatannya, hanya sekedar duduk ngobrol dan mendengarkan argumentasinya lalu diakhiri dengan selfie, maka ini lebih parah lagi kesalahannya.

AFM

== ^^^(Lanjut ke Halaman 2)^^^