Faedah Ilmu Tentang Pemilu di INDONESIA dan Apakah Salafi Golput atau Nyoblos (Bag.9) 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Gosok Gigi di 6 Waktu ini, Agar tidak Ganggu Malaikat

2.Hak dan Kewajiban Pemimpin dan Rakyat yang Dipimpin.(Bag. 2)

3.Insiprasi Kaum Muda

4.Keutamaan Menjadi Penyeru Kebaikan

5.AkhirYang Indah

6.Allah Maha Hidup Tidak Akan Mati

7.Kaffarat (Tebusan) Orang Yang Berjima’ DenganIstrinya di Siang Hari Pada Bulan Ramadhan,Sementara Dia Tidak Mampu Berpuasa ?

8.Seseorang Tidak Berpuasa Ramadhan, Karena Tunduk.Dengan Pengobatan Kimia, Maka Apa Yang Seharusnya ?

==

Kitab Shahih Bukhari Dialog Allah Dengan Malaikat-Ustadz Mizan Qudsiyah.webm

Meminta dan Berharap Hanya Kepada Allah-Ustadz Yazin Bin AbdulQadir Jawas.mp3

Nasehat Tentang Pemilu-Ustadz Muhammad Chusnul Yaqin.webm

Nyoblos atau Golput-Syaikh Saad bin Nashir Asy Syatsri Abu Habiib.mp4

Syarah Kitab Tauhid 14-Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat.webm

FATHUL BAARI SYARAH SHAHIH BUKHARI KITAB KE 97

BAB 36 | BAB Perkataan Allah ‘Azza wajalla pada hari Kiamat bersama para Nabi dan selain Mereka.(Hadits 7509, 7514)

BAB 37 | BAB Firman Allah ta’ala “Allah berbicara langsung dengan Musa (An-Nisa 164)(Hadits No. 7515 – 7517)

BAB 38 | Bab perkataan Allah kepada Ahli Syurga(Hadits No. 7518,7519)

Syarah Kitab Tauhid 15-Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat.webm

FATHUL BAARI SYARAH SHAHIH BUKHARI KITAB KE 97

BAB 39 | Bab Dzikir Allah kepada hambanya adalah dengan perintah (kepada hamba-Nya untuk mentaati-Nya.) sedangkan Dzikir hamba (kepada Allah) dengan Do’a dan merendahkan diri, dan menyampaikan risalah.Surat Al-Baqarah Ayat 152, Surat Yunus Ayat 71 dan 72

BAB 40 | Bab Firman Allah Ta’ala ( karna itu janganlah Kamu jadikan tandingan-tandingan bagi Allah) Surat Al-Baqarah Ayat 22.Hadits No. 7520

Berjalan Di Gurun Sahara-Ustadz Syariful Mahya Lubis.webm

Jika Engkau Cinta Rasul-Ustadz Abdurrahman Thayyib.webm

Kalau Takdirnya Masuk NERAKA Buat Apa Shalat Puasa Zakat dan Beramal Shalih-Ustadz Muflih Safitra.mp3

Tauhidkan Rabbmu Damailah Negeriku-Ustadz Zainal Abidin Syamsudin.webm

Wudhu Sesuai Sunnah-Ustadz Muflih Safitra.webm   

(webm diputar dgn mx player)

==

Ebook

Jangan Golput Fatwa 10 Ulama Salafiyyin-Muhammad Abduh Tuasikal 65Hlm link2

Amar Ma’ruf Nahi Mungkar(Perintah Kepada Kebaikan Larangan Pada Kemungkara)-Ibnu Taimiyyah 211Hlm

Sejarah Hidup dan Perjuangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam-Syaikh Shafiyur Rahman Mubarakfury 234Hlm

Tanda Cinta Kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam-DR.Fadhl Ilahi 51Hlm

Hukum-Hukum Fiqih 50Hlm

Mazhab Fiqih Kedudukan dan Cara Menyikapinya-Abdullah Haidir 94Hlm

Pelajaran dan Hikmah yang Terdapat Dalam Tafsir Surat Al-Fatihah-Abu Haidar 85Hlm

Hukum Sihir,Zina dan Dukun-Muhammad Abbas 41Hlm

Sihir (Ciri-Ciri dan Penanggulangannya)-Munirah binti Abdul Aziz al Turki 47Hlm

Risalah Tentang Hukum Sihir dan Perdukunan-Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Bin Baaz 25Hlm

=

Faedah Ilmu Tentang Pemilu di INDONESIA dan Apakah Salafi Golput atau Nyoblos (Bag.9)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hinggahari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

 

===

  • Doa Untuk Negeriku

Kami mengajak kepada diri ini dan semua kaum muslimin di manapun berada untuk banyak bermunajat dan berdoa kepada Allah:

Ya Allah, jagalah negeri kami Indonesia dari segala fitnah dan kekacauan
Ya Allah, jagalah stabilitas keamanan & persatuan negeri kami
Ya Allah, jadikan negeri ini penuh berkah dan keimanan
Ya Allah, anugerahkanlah untuk kami para pemimpin yang pro Islam dan kaum muslimin serta memudahkan dakwah sunnah bukan malah menghalanginya
Ya Allah, berikanlah kepada kami pemimpin yang kuat dan mampu mengatur negeri ini dengan agama & keberanian
Ya Allah, berikanlah kepada kami pemimpin yang bisa menjaga keamanan, persatuan, dan kedaulatan negeri.
Ya Allah, berikanlah kepada kami pemimpin yang amanah, menegakkan keadilan tanpa pilih kasih dan tulus mencintai rakyat serta berusaha untuk kemakmuran mereka.
Ya Allah, janganlah siksa kami karena dosa dosa kami dengan pemimpin yang tidak pro Islam dan kaum muslimin, yang tidak menegakkan keadilan dan hanya berambisi dunia dan kekuasaan.
Ya Allah, Kami serahkan negeri ini sepenuhnya kepadaMu yang memiliki segala kekuasaan di langit dan bumi, karena kami adalah makhlukMu yang lemah. Hanya kepadaMu kami bergantung wahai Rabbku.
Ya Allah, kami yakin dan optimis bahwa Engkau akan mengabulkan doa-doa kami.
Amin Ya Robbal Alamin…

Abu Ubaidah As Sidawi
=

  • Pilih Siapa?

Beliau (Jokowi) orang baik, sederhana, konon katanya juga sering puasa Senin – Kamis, semoga Allah menjaga beliau.
• Tapi, untuk memimpin negeri ini, kalo diberi pilihan antara beliau dengan Pak Prabowo, saya lebih memilih Pak Prabowo.

• Menurut saya yg bukan siapa2 ini, masalah Islam Nusantara adalah masalah penting. Jika ide rusak itu didukung dengan gambaran Islam Nusantara hari ini, rusaklah Islam & rusaklah
Nusantara.

Selain itu, orang-orang di belakang Pak Prabowo nampak lebih baik bagi umat Islam dibandingkan orang-orang di belakang PakJokowi.
Mudah-mudahan klo beliau tidak terpilih lagi besok, hal itu menjadi kebaikan dan pembuka kebaikan yang lebih lebar buat beliau dan buat kaum muslimin di negeri ini.
Jangan lupa panjatkan doa agar siapapun yg jadi, Allah berikan taufik memimpin negeri ini, Allah berikan berkah senantiasa pada negeri.
Wallahul musta’an.

Nb: ini pendapat pribadi saya, tidak mewakili lembaga2 apapun yang saya berkecimpung di dalamnya.
Amrullah Akadhinta
==

  • NKRI Harga Mati ?

Padahal hidup dan mati kita hanya untuk Allah. Allah Ta’ala berfirman

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam” (QS : al-An’am : 162)

Cinta tanah air diperbolehkan selama tidak ada fanatisme buta sebagaimana kita diperkenankan mencintai orang tua, pasangan, anak, kerabat dan lainnya. Namun orang-orang yang beriman kecintaaan terbesarnya hanyalah kepada Allah sebagaimana firman-Nya :

والذين آمنوا أشد حبا لله

Orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah”

Tali keimanan yang paling kuat pun bukan keimanan yang dibangun diatas kecintaan kepada tanah air, namun membenci dan mencintai karena Allah. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda :

أَوْثَقُ عَرَى اْلِإيْمَانِ الْحُبُّ فَي الله وَالبُغْضُ فِي الله

Tali simpul iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad)

Bukankah cinta tanah air adalah sebagian dari iman ? Bukankah hal itu dilandasi oleh hadits ?!

حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الْإِيْمَانِ

Cinta tanah air adalah bagian dari iman”


Hadits ini adalah hadits yang palsu,bahkan para ulama menyatakan hadits ini tidak ada asal usulnya di kitab-kitab induk hadits. Maka bagaimana mungkin hadits palsu bisa dijadikan landasan ?!

Bahkan Allah mencela suatu kaum yang sangat mencintai Tanah air ketimbang menjalan perintah Allah, Allah berfirman :

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ ۖ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا

Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka, “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung (tanah air)mu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Seandainya mereka benar-benar melaksanakan perintah yang diberikan kepada mereka, maka tentu itu lebih baik bagi mereka dan lebih bisa mengungatkan keimanan mereka (QS. An-Nisa’ : 66)

Dalam sebuah hadits yang shahih mengenai pembagian 70 sekian iman, ternyata iman yang paling tertinggi ialah mengucapkan kalimat syahadat. Maka kalimat syahadat itulah yang sudah seharusnya dijadikan “harga mati“.

Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa malu sebagian dari keimanan, kita pun tidak menjadikan malu sebagai “harga mati”. Apalagi cinta tanah air yang sama sekali tidak termasuk bagian dari keimanan.

Abul Hamid Al-Ghazali menyatakan di Al-Ihya’ :

اعلم أن الأمة مجمعة على أن الحب لله تعالى ولرسوله صلى الله عليه و سلم فرض

Ketahuilah bahwa ummat Islam telah bersepakat bahwa mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah kewajiban”

Demikianlah pemahaman beliau yang dibangun diatas nash-nash Al-Qur’an dan As-sunah beserta keterangan para imam, bukan berlandaskan hadits palsu terlebih jika disertai niat jahat untuk menipu ummat dan menjilat penguasa.

Sekali lagi, kita tidak dilarang mencintai tanah air dan negara, sebagaimana kita diperkenankan mencintai orang-orang yang kita cintai. Namun mengedepankan cinta kepada tanah air dari pada cinta kepada Allah, Rasul-Nya dan Islam adalah syirik mahabbah yang merupakan syirik Akbar. Oleh karena itulah para ulama semisal Asy-Syaikh Bin Baz, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan dan lainnya menyatakan bahwa paham nasionalisme, yaitu mengedepankan cinta tanah air daripada cinta kepada Allah, Rasul-Nya dan Islam adalah kekufuran yang nyata.

=

Dahulu yang nyoblos itu hizby, gak ada salafi !
Dahulu pokoknya dahulu yang jadi patokan !
—–
Mas, dahulu anda dan banyak orang ngaji itu ditelan oleh kejumudan level akut, sampai-sampai jubah atau celana dijadikan acuan ini salafy atau bukan. Menerima sumbangan dana dari yayasan tertentu untuk kepentingan dakwah menjadi penyebab di PHK secara tidak hormat dari salafy dan lainnya dari segala macam keanehan sebab-sebab seorang dianggap salafy atau bukan. Dahulu sangat sedikit referensi ditemukan, saat ini dengan mudah kita mendapatkan berbagai referensi dari karya-karya ulama tentang dhawabith kapan seseorang disebut sebagai salafy dan tidak lagi menjadi salafy.

Dahulu fatwa-fatwa ulama kibar terkubur, Alhamdulillah saat ini semua fatwa ulama kibar yang jumlahnya banyak sekali ditemukan dan menjadi pedoman ummat. Kalau anda menyatakan dahulu yang menyebarkan fatwa-fatwa tersebut dahulu dari kalangan hizby, sekarang kok da’i dan para doktor salafy, kenapa anda tidak langsung saja memvonis para masyaikh kibar tersebut sebagai masyaikh hizby atau terjangkit hizby karena mengeluarkan fatwa untuk kaum hizby ?

Gagalnya anda dalam memahami perbedaan masalah manhajiyyah dan masalah ijtihadiyyah adalah bukti bahwa anda lebih suka terpuruk dalam kubangan kejumudan dibandingkan dengan cahaya ilmu, kembali kepada ulama kibar, dan arogansi dalam perbedaan pendapat yang semua ulama berpendapat ini adalah masalah ijtihadiyyah, kecuali anda atau guru anda yang menyatakan ini adalah permasalahan yang sudah final, pembeda antara salafi dan bukan salafy.


Syaikh Al-Albani agar kita meninggalkan politik, berarti jangan nyoblos”

Mungkin anda akan mengatakan, “Salafy kok berpolitik ?”
Saya sedikit menanggapi, kenapa anda tidak bertanya demikian pula ke para masyaikh kibar semisal Ibnu Baz, Al-Albani, Al-‘Abbad, Al-‘Utsaimin, Al-Barrak, Lajnah Daimah, dan lainnya yang sangat banyak yang memperbolehkan turut serta dalam pemilu dengan pertanyaan “Ulama salafy kok berfatwa politik ?” Apa di era digital seperti saat ini smartphone anda masih tidak bisa mengakses fatwa mereka ?!
Anda mungkin bergumam, “Tuh fatwa Asy-

Lagi-lagi ini adalah keluguan berpikir dengan cara mengambil kesimpulan yang sangat rapuh sekali. Asy-Syaikh Al-Albani mewasiatkan kepada kita untuk tidak turut serta dalam politik praktis semisal berpartai, nyaleg dan sebagainya, namun beliau memperkenankan memberikan hak suara untuk memilih pemimpin yang dianggap lebih memberikan mashlahat kepada kaum muslimin.

“Tapi fatwa ulama bukan dalil”, katamu
Saya tanggapi sedikit, kalau fatwa ulama bukan dalil, apalagi perkataan anda dan semua guru anda ? Terlebih lagi kita diperintahkan untuk bertanya kepada para ulama, dan termasuk adab ialah bertanya kepada para terkait perkara nawazil. Karena keberkahan itu ada pada ulama kibar.

“Dalil bolehnya pemilu gak kuat, terlebih kita bisa menghindar dari dua mudharat yang ada jika bolehnya pemilu untuk mengambil satu diantara dua mudharat yang paling ringan”
Saya tanggapi sedikit, para ulama kibar tidak demikian memahaminya. Fatwa ulama berdasarkan ilmu yang kuat dan nalar yang ilmiah. Saat ini di negeri kita pun para asaatidzah banyak yang mempelajari Ushul dan kaidah fiqih, bahkan sudah ada yang telah selesai menempuh jenjang doktor Ushul fiqh. Mereka tidak memahami demikian.


Saya hadiahkan kepada anda sebuah link kitab gratis, karena saya pun mendapatkannya gratis. Supaya anda tidak mempermalukan diri di depan khalayak berbicara tanpa ilmu perihal kaidah fiqih dan ushulnya, sehingga kedepannya tidak ada lagi yang melawak dengan kaidah fiqih darurat, mengqiyaskan tanpa ilmu nyoblos pemilu dengan makan babi minum khamr.
https://www.moswrat.com/books_download_28849.html
Semoga Allah mengampuni kita semua 

=

Oleh: Abu Hanifah Ibnu Yasin 

=

  • Dakwah Salafiyah

Dakwah salafiyah adalah dakwah yang mencerdaskan.
Maka akan terlihat bedanya komentar dari orang yang ngaji…dengan yang tidak.
Dakwah yang fokus menggalang massa, simpatisannya cenderung seperti orang tidak berpendidikan.
Tipikal komentarnya di dunia maya tidak jauh2 dari: kasar, nuduh, suuzhon, menyalah-artikan, gagal paham, mengejek, menertawakan, dsb.
Orang semakin berilmu, semakin susah diprovokasi dan digiring.
Tidak cocok kalau tujuannya memperbanyak kuantitas semisal di parpol2. Jadi lebih baik biarkan bodoh, kalau perlu dibuat bodoh,
agar bisa dibodohi, dibakar emosinya, cara singkat meningkatkan jumlah pendukung.

Sedangkan yang niatnya mencerdaskan umat memang harus banyak-banyak bersabar, karena usahanya jauh lebih keras, dan hasilnya tidak secepat dan se-instan usaha pembodohan. 
=

➡ Pemimpin Diberikan Sesuai Kualitas Rakyat

Sejak dulu saya meyakini bahwa pemimpin itu adalah pemberian dari Allah. Dia akan berikan sesuai kualitas kita, sebagaimana ungkapan:

كما تكونوا يولى عليكم
“Kalian akan dipimpin sesuai keadaan kalian”

Sehingga kalaupun saya berharap Fulan menjadi pemimpin, maka saya tidak akan “ngoyo” alias sebegitunya dalam mengusahakannya. Saya akan tempuh jalan-jalan yang diridhai Allah sesuai kaidah syariat yang berlaku, dan akan menghindari jalan-jalan yang tidak diridhai Allah.
Setelah itu bertawakkal. Selesai.

Allah tidak membebani kita dengan usaha yang melampaui batas, dengan cara-cara yang munkar, yang menghalalkan segalanya.
Sehingga di injury time seperti sekarang ini pun, kita tidak perlu terlalu sibuk mencari segelintir swing voter, baik itu dari 01 ke 02, atau sebaliknya, atau dari golput ke salah satu paslon. Apalagi dengan cara-cara yang -maaf- receh, seperti membahas hal-hal yang tidak punya pengaruh untuk menambah suara.

Hampir semua sudah mantap pada pilihannya. Yang lebih tepat adalah mengajak untuk meluruskan niat masing-masing. Golput ya silakan asal karena prinsip. Nyoblos ya silakan, asal niatnya benar. Siapapun yang memimpin nanti, itu Allah yang akan menentukan, bukan Anda secara orang per orang.


Jadi, luruskan niat, tempuh jalan yang benar, jangan ngoyo, jangan melanggar syariat, dan terakhir berdoa dan bertawakkal.
Meskipun kita berbeda pilihan, namun kita tetap bersatu dalam libur. Salam.   

=

  • Sifat Zaman

Ketika Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi berkuasa menjadi gubernur di Madinah, dia berbuat dzolim dan semena mena.

Bahkan beberapa sahabat senior di Madinah yang masih hidup pun, tidak lepas dari kedzoliman Hajjaj.

Ketika sebagian tabi’in mengeluhkan hal ini, Anas bin Malik rodhiyalloohu anhu selaku sahabat senior yang masih hidup waktu itu di Madinah. Yang mana walaupun beliau tidak lepas juga dari kedzoliman Hajjaj, beliau memberikan nasehat :

اصبروا فإن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إنه لا يأتي على الناس زمان إلا وما بعده شر منه حتى تلقوا ربكم

Bersabarlah kalian semua, sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda :

Tidaklah datang kepada manusia suatu zaman, melainkan zaman itu lebih buruk dibandingkan zaman sebelumnya. (Begitu seterusnya) hingga kalian bertemu Rabb kalian.’ “

[Hr. Al Bukhari, hadits no 7068, di dalam kitabul fitan]

***

✅ Hadits ini memberikan gambaran bagi kita, bahwa sifat zaman itu makin lama akan semakin buruk.

Dan karena sahabat Anas bin Malik menyebutkan hadits ini dalam menanggapi kepemimpinan Gubernur Hajjaj bin Yusuf. Maka secara umum, demikian pulalah sifat daripada para pemimpin itu.

Akan tetapi perlu dicatat, hadits ini hanya berlaku secara umum saja. Tidak secara mutlaq.

Karena kadang ada juga zaman dan pemimpin yang lebih baik dibandingkan zaman dan pemimpin sebelumnya. Seperti misal pada zaman kepemimpinan Kholifah Umar bin Abdul Aziz.

Seluruh ulama secara umum sepakat, bahwa sifat zaman dan kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz itu lebih baik dibandingkan zaman kepemimpinan pendahulu nya yang digantikan nya.

Demikian juga jika berikan contoh lain seperti hadits masalah imam Mahdi misalnya. Yang digambarkan sendiri secara jelas bahwa kepemimpinan beliau itu berlangsung dengan baik dan penuh keadilan. Sifat zamannya juga lebih baik daripada sebelumnya. Hingga kemudian muncul Dajjal.

***

✅ Hadits ini juga memberikan faedah yang lain bagi kita. Bahwa yang namanya kepemimpinan itu secara umum akan berhubungan secara langsung dengan yang namanya kemadhorotan.

Oleh karena itu irtikabu akhoffu adh dhororoin sudah merupakan kelaziman jika kita berhubungan dengan hal yang berhubungan dengan kekuasaan dan kepemimpinan.

Hadits ini juga membantah pendapat bahwa ada pilihan “tidak ada madhorot”, selain pilihan madhorot, dan pilihan irtikabu akhoffu adh dhororoin.

Karena pakem dalam masalah kepemimpinan dan sifat zaman itu, adalah senantiasa berhubungan dengan masalah mana yang lebih afdhol dan yang lebih sedikit madhorot nya.

Maka dari itu imam Ahmad ketika ditanya mana yang lebih baik untuk memegang kekuasaan antara orang yang sholeh, akan tetapi lemah. Dibandingkan orang yang fajir, akan tetapi dia memiliki kekuatan.

Maka imam Ahmad mengatakan bahwa orang yang fajir tapi kuat itu lebih afdhol. Karena kefajirannya hanya akan berdampak pada dirinya pribadi saja, akan tetapi kekuatannya akan memberikan kemashlahatan bagi khalayak umum.

=

  • Apa ini olok olok istilah “golput rasa 01”?

Apa ini balasan olok olok “Salafi rasa Haroki”, gara gara membolehkan nyoblos dengan alasan irtikabu akhoffu adh dhororoin?

Klau begitu apa bedanya ini dengan olok olok “Cebong” yang dibalas “Kampret”?

Jangan begitu akhi,

sibaabul muslim fusuuqun wa qitaaluhu kufrun

Mencaci maki seorang muslim itu fasiq, membunuhnya itu kufur.

Mbok kalau kasih julukan itu yang bagus. Yang membuat orang suka dan tersenyum gitu. Jangan yang menghina.

Sama makanan saja kadang kita memuji, “harga kaki lima, rasa Bintang Lima”. Masak sama saudara sendiri malah mencela?

Oleh: Kautsar Amru

=

  • Ketaatan Kepada Pemimpin

Siapapun presidennya kelak, kita tetap menyerukan untuk taat dalam perkara yang ma’ruf dan sabar saat tidak suka.

✅ Diantara doa Nabi shallallahu alaihi wasallam:

وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Jangan Engkau kuasakan kepada kami orang yang tidak menyayangi kami.” HR Attirmidzi.

Ya Allah berikanlah kepada kami pemimpin yang adil dan amanah dan kuat. Berikan kepada kami pemimpin yang tunduk kepadaMu..

Aamiin

Badru Salam

=

  • Serpihan rengginang di setiap kelompok masyarakat.

Dr Muhammad Arifin Badri

Imam Ibnu Taimiyyah berkata: “Tidak ada satu kelompokpun, melainkan akan ada dari mereka segelintir orang yang membuat pernyataan pernyatan yang nyata nyata salah.

Ucapan ucapan semisal inilah yang sering kali menjadi viral (selalu diingat) oleh kelompok lain yang bersebrangan dengan mereka

Ucapan ucapan itu kemudian juga sering dijadikan sebagai bahan perolok-olokan kepada mereka.

Padahal faktanya kebanyakan dari anggota kelompok tersebut menentang ucapan ucapan segelintir orang itu dan menentangnya dengan keras.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 17/362)

Penjelasan beliau ini berlaku pada semua kelompok, termasuk orang orang yang menisbatkan dirinya kepada ahlussunnah atau ahlul hadits, demikian beliau menjelaskan.

Lebih lengkapnya silahkan baca referensi di atas.

Karena itu, jangan mudah menuduh atau menghakimi kelompok lain hanya berbekalkan ucapan segelintir oknum dari kelompok tersebut, bagaikan jangan pernah mencibir rengginang hanya karena sisa sisa “serpihan rengginang” di sudut kaleng biskuit yang mulai mlempem.

Semoga mencerdaskan.

=

  • kafir, 1 selamat (yang tidak berhukum dengan hukum Allah)

———–

Asy-Syaikh Bin Baz Rahmatullah ‘alaihi berujar, “Barang siapa yang berhukum dengan selain hukum Allah maka ia tidaklah lepas dari empat kondisi :

1. Ia menyatakan, “Saya berhukum dengan hukum ini (selain hukum Allah) karena hukum ini lebih utama daripada syari’at Islam“. Maka ia kafir dengan kekafiran yang besar

2. Ia menyatakan, “Saya berhukum dengan hukum ini (selain hukum Allah) karena hukum ini sama / selevel dengan syari’at Islam sehingga sah-sah saja berhukum dengan hukum ini dan juga boleh berhukum dengan syari’at Islam. Maka ia kafir dengan kekafiran yang besar.

3. Ia menyatakan, “Saya berhukum dengan hukum ini (selain hukum Allah), dan berhukum dengan syari’at Islam lebih utama. Akan tetapi sah-sah saja berhukum dengan hukum selain hukum Allah.” Maka ia kafir dengan kekafiran yang besar

4. Ia menyatakan, “Saya berhukum dengan hukum ini (selain hukum Allah). Namun ia meyakini bahwa berhukum dengan hukum selain hukum Allah tidak diperkenankan, ia pun juga menyatakan bahwa berhukum dengan syari’at Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum dengan selain selain hukum Allah, namun ia orang yang bermudah-mudah dalam masalah ini, atau karena perintah atasannya….maka ia kafir dengan kekafiran yang kecil yang tidak mengeluarkan dirinya dari Islam dan perbuatannya tersebut dianggap sebagai dosa besar.” (At-Tahdzir min at-tasarru’ fi at-takfir hal. 21-22)

  • Bagaimana jika penguasa tidak pada kondisi yang ke empat ? Apakah boleh khuruj ?

✅ Asy-Syaikh Bundar Al-‘Utaibi menjelaskan hal ini di kitab beliau Al-Hukmu Bi Ghairi Ma Anzalallah dalam bahts pertama kaidah ketiga (hal. 7). Beliau berkata :

Kekufuran penguasa tidaklah mengharuskan bolehnya memberontak kepada mereka. Hal ini didasari bahwa diperkenankannya memberontak pemerintah dengan lima syarat :

1. Penguasa terjatuh kedalam kekafiran yang nyata, yang kita memiliki keterangan yang jelas mengenai kekufuran tersebut dari Allah Ta’ala

2.. Ditegakkannya hujjah kepada penguasa yang terjatuh kedalam kekufuran tersebut

3. Adanya kemampuan untuk menggulingkannya.

4. Adanya kemampuan untuk mengangkat seorang muslim untuk menggantikannya.

5. Khuruj yang dilakukan tidak menimbulkan mafsadah yang lebih bagi kaum muslimin daripada mafsadah keberadaan pemimpin kafir tersebut

oleh: Abu Hanifah Ibnu Yasin

=

  • ➡BAHAN RENUNGAN

Engkau yang mencela salah satu paslon dengan sebutan “tukang ngibul” ,”meloroti ummat” dan lainnya dari perkataan yang tidak pantas, tidak kah engkau khawatir akan mudhrat yang akan menimpa dakwah ini, jika memang Allah mentaqdirkan ternyata dia yang menang?

Engkau yang terang2an membawa nama dakwah salaf mendukung salah satu pasangan dimedia sosial, tidak kah engkau khawatir akan berdampak buruk terhadap dakwah ini…

Coba lah renungkan dengan hati nurani dan akal sehat…

Selamat merenung bagi kalian yang masih punya akal sehat.

Yang gak punya jangan baper apalagi ngegas..

Agus.Susanto

=

  • Penghormatan Berlebihan

Salah satu sebab kerusakan dakwah karena adanya penghormatan “berlebih” terhadap satu sosok tokoh, sebagaimana dulu pernah terjadi pada kasus Laskar Jihad: banyak santri, orang awam, hingga sebagian du’at begitu sangat over dosis dalam penghormatan terhadap Panglima Laskar Jihad.

Kesalahan yang pernah terjadi pada LJ, jangan kemudian ditiru. Atau malah ada yang mengulanginya dengan pola yang sama, meskipun pada tokoh yang lain.

Salah satu cara efektif menghindari kultus individu terhadap tokoh, adalah membiasakan kajian-kajian Islam dengan metode talaqqi yang banyak membahas perkara-perkara ushul dan qawaid. Peserta kajian, dibiasakan menilai suatu kasus bukan lagi atas dasar “mengikuti pendapat ustadz” tetapi atas dasar dalil dan kaidah ilmiah. Peserta kajian harusnya bisa sampai taraf mengetahui dalil dan kaidah apa yang digunakan oleh para ulama salaf yang mu’tabar dalam menilai suatu kasus.

Kalau belajarnya tidak sampai tingkat itu, dan hanya mengandalkan kajian-kajian tematik: niscaya peserta kajian akan cenderung taklid pada sosok tertentu. Ketika diajak bertukar pikiran: mentoknya hanya bisa “ini adalah pendapat ustadz fulan dan fulan”, tanpa bisa mengeluarkan dalil dan kaidah apa yang jadi landasan pendapat ustadz tersebut. Repotnya lagi, jadi saling berdebat kusir hingga saling caci maki gara-gara salah satu pihak atau dua-duanya saling taklid dengan pendapat ustadz tertentu. Debatnya tidak sehat karena tidak saling ajukan argumentasi dalil dan kaidah ilmiah, tetapi lebih ke arah menjatuhkan kehormatan.

Cuma, kalau belajarnya sampai taraf itu: memang step awalnya harus belajar bahasa Arab dulu, minimal dasar-dasar baca kitab agar bisa menelaah kitab-kitab salaf yang mu’tabar. Hanya saja, banyak sekali peserta kajian tidak mau bersabar & berlelah-lelah untuk belajar bahasa Arab. Menyerah duluan. Lebih sukanya berdebat di medsos.

—-

Ginanjar Indrajati Bintoro

=

  • ➡ ~ Penyebab Fitnah diseluruh negeri qaum muslimin adalah berpaling dari Ulama’

Hanafi Abu Abdillah Ahmad

 

✅ Berkata as-Syaikh al-‘Allaamah Muqbil al-Waadi’i rahimahullah:

“Sungguh berbagai macam fitnah, bala’, dan musibah yang mendera qaum muslimin di seluruh negeri-negeri Islam, (penyebabnya) adalah berpaling dari ulama”.

[Ijaabatus Saa-il hal 18]

➡ Faidah yang didapat:

1. Penyebab huru-hara yang terjadi di semua negeri qaum muslimin adalah berpaling dari ulama’, dan masing-masing mereka berijtihad dan menghukumi hukum yang akan ditetapkan sendiri-sendiri tanpa menyertakan ulama’ didalamnya.

2. Berpaling dari ulama’ adalah petaka yang sangat besar yang menimpa ummat ini.

➡ Catatan:

1.Ulama’ yang dimaksud adalah ulama’ yang keilmuan mereka telah dipersaksikan oleh para ahli ilmu, mereka dikenali oleh penuntut ilmu dari seluruh penjuru dunia, dan mereka memang dikenal sebagai ulama’, (mereka inilah yang akan dimintakan fatwanya terkait hal-hal besar).

2. Belumlah dikatakan ulama’ orang yang keilmuannya belum dipersaksikan oleh ulama’ dunia bahwa ia layak dikatakan sebagai ulama’ sekalipun memiliki gelar dan history pendidikan yang mentereng .

3. Keberkahan itu bersama para akaabir (Para Ulama’ besar dunia), maka tatkala muncul fitnah, kembalilah bersama mereka, dan banyak-banyaklah minta fatwa mereka, dan jangan bersendirian dalam perkara yang tidak ada imaamny

=

  • Kegalauan Ulama’ atas kemerosotan moral di Negri Al Haramain.

Pada tanggal 6/1/1439 H, telah terbit mandat Khadim Al Haramain Raja Salman –semoga Allah senantiasa menjaganya dan meberikan taufiq kepadanya untuk melaksanakan hal hal yang Allah ridhai- yang memerintakan Mendagri untuk mengizinkan wanita mengendarai kendaraan dan menerapkan seluruh peraturan lalulintas kepada lelaki dan wanita. Atas terbitnya mandat ini, orang orang barat dan kaum westernis merayakannya dengan gegap gempita. Mereka adalah orang orang yang mendambakan agar di negara Saudi tidak lagi mengisolir diri dari seluruh negara lainnya dengan mempertahankan hijab, menjaga diri dari perbuatan nista dan pergaulan bebas antara pria dan wanita.

Pada tulisan lain, beliau juga mengeluhkan tentang berbagai perubahan ke arah liberalisasi pemerintahan, beliau berkata: “Pada waktu yang relatif pendek sejak berdirinya kerajaan Saudi hingga periode Raja Abdullah, semoga Allah merahmatinya, tepatnya pada pertengahan tahun 1426, hingga saat ini, kaum westernis telah berhasil mewujudkan beberapa hal aneh bagi Negri Al Haramain. Hal hal itu sebelumnya tidak pernah di kenal di negri ini; diantaranya: kaum wanita mulai mengumbar auratnya, bergaul bebas dengan lawan jenis di mass media dan ketika berjual beli di pasar, dan lainnya.

✅ Diantaranya juga kaum wanita mulai masuk dalam keanggotaan Dewan Permusyawaratan, mereka duduk bersama kaum pria, padahal dari mereka ada yang mengumbar auratnya. Kaun wanita juga mulai diizinkan masuk ke dalam anggota Majlis Al Baladiyah (Semisal DPRD), mereka boleh mencalonkan diri dan dicalonkan.

Kaum westernis juga telah berhasil mengerdilkan peran Hai’ah Al Amri Bil Ma’ruf wa An Nahyi ‘An Al Mungkar (Polisi Ibadah). Menguatkan bidah olah raga, mensuport para olahragawan.

✅ Mereka juga mulai memberi perhatian dalam porsi besar terhadap sektor hiburan, sampai sampai membentuk satu badan otoritas publik yang menangani masalah hiburan. Ini semua sangat mengawatirkan akan diikuti dengan hal hal yang mungkar (tercela), semisal pembukaan gedung gedung biskop, yang nyata-nyata mendatangkan murka Allah dan merusak moral.

Ditambah lagi keputusan mentri Pendidikan yang sekarang yaitu Dr. Ahmad Al ‘Isa yang menerbitkan beberapa keputusan mentri yang menyimpang, diantaranya:

✅ Satu: Menetapkan seorang wanita sebagai dekan di Fakultas Kedokteran di kota Thaif, sehingga wanita itu akan menjadi pemimpin kaum lelaki dan wanita, dosen, staf dan juga mahasiswa pria.

✅ Kedua: Keputusan memasukkan pendidikan olah raga di sekolah sekolah wanita.

✅ Ketiga : Instruksi agar dimulai persiapan menyatukan kelas laki laki dan wanita pada sekolah dasar kelas 1 & 2, yang akan diajar oleh guru guru wanita.

Dan menanggapi keputusan Mentri Pendidikan yang pertama, saya telah menulis satu tulisan dengan judul: “Petaka moral besar menimpa rakyat Saudi akibat keputusan menyimpang Mentri Pendidikan” dan telah terbit di media masa pada tanggal 12/6/1438H.

Dan masih banyak lagi, hal hal yang beliau ungkap tentang berbagai kemerosotan yang terjadi di Saudi Arabia.

Lebih lengkapnya silahkan kunjungi web beliau: https://al-abbaad.com/

Atau minta bantuan google untuk menemukan jejak tulisan tulisan beliau yang diekspos di media Arab Saudi dan lainnya.

Sobat! Saya mengangkat masalah ini, guna membuka mata kita semua bahwa kadang kala seorang tokoh apalagi ulama’ perlu bersuara lantang untuk mengarahkan masyarakat dan juga memberi masukan kepada pemerintahnya.

✅ Sebenarnya Syeikh Abdul Muhsin -menurut hemat saya- sudah menyadari akan terjadinya kemerosotan moral di Saudi Arabia , dan seluruh negri Islam, sejak meninggalnya dua ulama besar abad ini dan yang paling disegani, yaitu Syeikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz, dan Syeikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin.

Siklus Pasang surut ummat Islam yang selalu berputar setiap 100 tahun akan terus berputar.

Apalagi dalam beberapa kesempatan Syeikh Abdul Muhsin mengisyaratkan bahwa pembawa pembaharuan ummat Islam di abad 14 adalah Syeikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz dan Syeikh Muhammad bin Nashiruddin Al Albani, dan keduanya telah wafat pada tahun 1420 H.

Namun demikian, semangat beliau untuk terus berkontribusi dalam membentengi moral masyarakat beliau dan mencegah kemungkaran, tiada pernah padam. Karena itu beliau selalu sigap menunjukkan sikap, dan memberikan masukan kepada kerajaan dan masyarakat luas dengan cara menulis dan lainnya. Tentu semua itu beliau lakukan dengan tetap mengindakan prinsip prinsip ahlussunah wa al jamaah, dan dengan mengedepankan dalil, data dan fakta bukan sekedar praduga atau emosional sesaat belaka.

Tulisan ini bukan bertujuan memobilisasi para pemuda untuk ceroboh mengkritisi apalagi menggerakkan massa untuk melawan pemerintah. Namun tujuannya adalah untuk membuka mata bahwa dalam banyak masalah, ada syarat dan ketentuan yang berlaku, karena itu jangan asal gebyah uyah podo asine (semua garam sama asinnya) alias generalisasi buta.

Tulisan ini juga tidak bertujuan menjelek-jelekkan negara Arab Saudi, karena negara yang lainnya lebih parah tingkat kemerosotan moralnya.

Semoga bermanfaat.

== “` (Lanjut ke Halaman 2) “`