Qiyam Ramadhan (Shalat Tarawih) 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Dzulqarnain Penguasa Yang Adil 

2.Manakah yang Lebih Utama, Wanita Shalat di Rumah atau di Masjid? (Bag. 2)

3.Seputar Puasa Ayyamul Bidh

4.Bertahap Dalam Pengharaman Di Dalam Syari’at

5.Manakah yg Diprioritaskan Hadits : Shahih, Hasan, Jayyid?

6.Shahihkah Hadits Tentang Membaca QS. At Taubah : 128?

7.Apakah Majelis Tanpa Hijab Termasuk Ikhtilat?

8.Sahur bukan Syarat Sah Puasa

l==

Nasehat Setelah Pemilu 2019-Ustadz Ahmad Sabiq,Lc

Tausiah Umum (Penerjemah: Ustadz Ali Basuki, Lc) *Syaikh Prof. Dr. Adil as-Subai’iy ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ *(- Guru Besar Qismus Sunnah, Fakultas Ushuluddin Universitas Muhammad bin Su’ud,

SESI 1

PRINSIP PRINSIP HIDUP DI MASA FITNAHBERSAMA PEMATERI AL USTADZ ABU YAHYA ASRI AL BUTHONY HAFIDZAHULLAH TA’ALA

LINK DOWNLOAD

Bekal Berharga Di Bulan Mulia Bersama Pemateri-Ustadz IBNU YUNUS ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ

Link download

INILAH JALANKU YANG LURUS-USTADZ FARHAN ABU FURAIHAN HAFIZHAHULLAH.

Link download

INGIN MEWARNAI NAMUN AKHIRNYA TEWARNAI ( Belajar Dari Kisah Imron Bin Hiththan )-Ustadz Farhan Abu Furaihan Hafidzahulloh

SESI 1

SESI 2

PERSAUDARAAN KAUM MUSLIMIN-Ustadz Salman Mahmud

[KAJIAN MUSLIMAH] WANITA YANG DIRINDUKAN SURGA-Ustadz Salman Mahmud

IKHLAS DALAM BERAMAL-Ustadz Salman Mahmud

++++++

Hukum dan Tata Cara Qiyaamul Ramadhan-Ustadz Mizan Qudsiyah

Zainal Abidin Syamsudin · Ramadhan dan Qiyamullail

Abdullah Taslim · Hukum Seputar Qiyam Ramadhan

Ahmad Zainuddin · Seputar Qiyamul Lail (Shalat Malam)

Zainal Abidin Syamsudin-Shalat Tarawih

KonsultasiSyariah-Kumpulan Kajian Ramadhan

Shalat Tarawih di Rumah

Tahajud Setelah Tarawih

Tarawih 11 ataukah 23 Rakaat?

Tarawih Cepat, Tidak Sah?

=

Ebook

Tata Cara Shalat Tarawih dan Witir

Keutamaan Qiyam Ramadhan

Qiyam Ramadhan

Paket Fiqih Ramadhan-2_Shalat Tarawih & Witir

Fiqh dan Hukum Seputar Shalat-105Hlm

Qiyamul Lail-33Hlm

(membahas masalah fiqih seputar Shalat-shalat Malam, diantaranya; Shalat Tahajjud, Shalat Tarawih dan Shalat Witir.)

Fiqih Shalat Lengkap-503HlmTuntunan Praktis Shalat (Hukum-Hukum Seputar Shalat, mulai dari; syarat sah shalat hingga dzikir-dzikir sesudah shalat)

Petunjuk Lengkap Tentang Shalat – Sa’id binAli Al Qahthani

Koreksi Atas Kekeliruan Ibadah Sholat (Al-Qaul Al-Mubin Fii Akhta’ Al-Mushallin) Penulis: Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Salman 615Hlm

Fiqh Bersuci dan Sholat Sesuai TuntunanNabi

====

  • Qiyam Ramadhan(Shalat Tarawih)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam

https://free.facebook.com/groups/409575513161120?

========

  • Qiyam Ramadhan

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Qiyam Ramadhan

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله اما بعد:

Ibnul Qayyim dalam Fawaa’idul fawaa’id hal. 398 menjelaskan,

“Seorang hamba memiliki dua tempat untuk berhadapan dengan Allah:

1.    Ketika shalatnya.

2.    Ketika bertemu dengan-Nya pada hari kiamat.

Siapa saja yang memenuhi hak di tempat pertama, maka akan dimudahkan di tempat kedua. Sebaliknya, siapa saja yang meremehkan tempat pertama, ia tidak memenuhi haknya, maka ia harus siap menerima rintangan di tempat kedua, Allah berfirman,

Dan pada sebagian malam, sujudlah dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.–Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat). (terj. Al Insan: 26-27).”

  • Keutamaan qiyamul lail di bulan Ramadhan

Qiyamul lail adalah amalan sunat yang dianjurkan, ia termasuk ciri khas orang-orang yang bertakwa.

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,

 “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air–Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan.–Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.– Dan selalu memohon ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. (terjemah Adz Dzaariyaat: 15-18)

✅ Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفاً يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا وَ بَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَا، أَعَدَّهَا اللهُ تَعَالَى لِمَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ، وَأَلاَنَ اْلكَلاَمَ، وَ أَدَامَ الصِّيَامَ، وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

Sesungguhnya di surga itu ada kamar-kamar yang terlihat luarnya dari dalam, dan dalamnya dari luar. Allah Ta’ala mempersiapkannya untuk orang yang memberikan makan, berbicara lembut, selalu berpuasa dan shalat malam ketika orang sedang tidur.” (Hadits hasan, Shahihul Jami’: 2123)

✅ Lebih dianjurkan lagi qiyamullail pada bulan Ramadhan, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa yang melakukan qiyamul lail di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksud “karena iman” adalah ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, membenarkan janji-Nya serta membenarkan keutamaan qiyam Ramadhan dan besarnya pahala.

Sedangkan maksud “mengharap pahala” adalah ia melakukan itu karena mengharapkan pahala, bukan karena riya’, bukan karena ikut-ikutan dsb.

  • Petunjuk Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melakukan qiyamullail

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya tentang shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan, maka ia menjawab:

مَا كَانَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ ، وَلاَ فِى غَيْرِهَا عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ، يُصَلِّى أَرْبَعاً فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعاً فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثاً

Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menambahkan dari sebelas rak’at di bulan Ramadhan  maupun di bulan lainnya; Beliau melakukan shalat 4 rak’at, janganlah kamu bertanya tentang bagus dan lamanya, lalu Beliau melakukan 4 rak’at, janganlah kamu bertanya tentang bagus dan lamanya, kemudian Beliau shalat 3 rak’at.” (HR. Bukhari dan Muslim)

✅ Ibnu Umar meriwayatkan bahwa ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang shalat malam, maka Beliau menjawab,

صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

Shalat malam itu dua rak’at-dua rak’at, jika salah seorang di antara kamu khawatir tiba waktu Subuh, maka ia kerjakan shalat satu rak’at untuk mengganjilkan shalatnya itu.” (HR. Bukhari)

  • Bacaan pada qiyamullail

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan batasan minimal dan maksimal bacaan pada shalat malam, bacaan Beliau terkadang pendek dan terkadang panjang. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca pada setiap rak’at seukuran surat Al Muzzammil (sebagaimana dalam riwayat Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad shahih) dan terkadang seukuran 50 ayat, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى فِي لَيْلَةٍ بِمِائَةِ آيَةٍ لمَ ْيُكْتَبْ مِنَ اْلغَافِلِيْنَ

Barang siapa yang shalat (malam) dengan 100 ayat, maka ia tidak akan dicatat termasuk orang-orang yang lalai.”

(HR. Ahmad dengan sanad shahih)

Bahkan Beliau pernah membaca As Sab’uth Thiwal (tujuh surat yang panjang) dalam semalaman. (sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Hakim, dan dishahihkan olehnya).

Namun Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengkhatamkan Al Qur’an dalam semalam, bahkan tidak ridha terhadap perbuatan itu (Lebih jelasnya lihatlah kitab Shifat Shalatin Nabi karya Syaikh Al Albani)

Jika seseorang shalat sendiri maka dipersilahkan memperpanjang shalat semaunya, demikian juga jika bersamanya ada orang yang suka memperpanjang shalatnya. Dan jika ia shalat mengimami orang banyak maka ia boleh memperpanjang shalatnya namun panjangnya tidak memberatkan ma’mum, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِلنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ ، فَإِنَّ مِنْهُمُ الضَّعِيفَ وَالسَّقِيمَ وَالْكَبِيرَ ، وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ

Apabila salah seorang di antara kamu mengimami orang banyak, maka ringankanlah, karena di antara mereka ada yang lemah, yang sakit dan yang tua. Namun apabila ia shalat untuk dirinya sendiri maka panjangkanlah semaunya.” (Muttafaq ‘alaih)

  • Disyari’atkannya berjama’ah dalam qiyamullail (shalat tarawih) di bulan Ramadhan

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam shalat di masjid, orang-orang pun ikut shalat dengan Beliau, besoknya Beliau juga shalat, ternyata semakin banyak yang hadir, hari ketiga atau keempat orang-orang berkumpul (menunggu Beliau), namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar menemui mereka, ketika Subuhnya Beliau bersabda:

قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوْجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّيْ خَشِيْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ

Aku telah melihat perbuatan yang kalian lakukan, sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk keluar selain karena kekhawatiranku akan diwajibkan shalat malam kepada kalian.”

Aisyah berkata, “Hal itu terjadi di bulan Ramadhan.” (Muttafaq ‘alaih)

  • Tentang keutamaan shalat tarawi berjama’ah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

Sesungguhnya orang yang melakukan qiyamul lail bersama imam hingga selesai, maka akan dicatatkan untuknya qiyamul lail semalaman.” (HR. Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah, serta dishahihkan oleh pentahqiq Jaami’ul Ushuul 6/121)

  • ➡ Waktu shalat tarawih

Waktu shalat tarawih dimulai dari setelah shalat Isya dan berakhir hingga terbit fajar, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ زَادَكُمْ صَلاَةً وَهِيَ الْوِتْرُ، فَصَلُّوْهَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلىَ صَلَاةِ الْفَجْرِ

Sesungguhnya Allah memberikan tambahan shalat kepadamu yaitu witir, maka lakukanlah antara shalat Isya dan terbit fajar.” (HR. Ahmad, hadits ini adalah shahih)

  • Cara pelaksanaan shalat tarawih

Pelaksanaan shalat tarawih dengan witirnya boleh dilakukan dengan beberapa cara;

✅ • Dengan dua rak’at salam-dua rak’at salam dan berwitir satu rak’at (sebagaimana dalam riwayat Bukhari di atas). Pendapat ini dipegang oleh Imam Malik, Syafi’i, Ahmad dan segolongan kaum salaf, namun dengan adanya khilaf di antara mereka apakah yang demikian wajib atau sunat.

✅ • Dengan 4 rak’at salam-4 rak’at salam (boleh adanya tasyahhud awwal pada setiap dua rak’atnya, boleh juga tidak) lalu witir tiga rak’at (telah disebutkan dalilnya). Imam Abu Hanifah berkata, “Jika kamu mau, kamu boleh kerjakan dua rak’at. Jika mau, empat rak’at. Jika mau, enam dan delapan, dan kamu tidak salam kecuali di akhirnya.” Namun yang utama dalam madzhabnya adalah melakukan 4 rak’at dengan sekali salam beralasan dengan hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha.

✅ Sedangkan cara pelaksanaan shalat witir jika tiga rak’at ada dua cara:

1.  Dengan tanpa tasyahhud awal (langsung tiga rak’at) satu kali salam.

2. Dengan dua rak’at salam, kemudian satu rak’at salam.

Hal ini berdasarkan adanya larangan menyamakan shalat witir dengan shalat Maghrib.

✅ • Bisa juga melakukan shalat sebanyak 9 rak’at dengan tasyahhud awwal di rak’at kedelapan dan tasyahud akhir di rak’at kesembilan kemudian salam, lalu ia lanjutkan dua rak’at sehingga jumlahnya menjadi sebelas rak’at (sebagaimana dalam hadits riwayat Nasa’i).

Sebelumnya perlu diketahui bahwa shalat witir bisa dilakukan satu rak’at, tiga rak’at, lima rak’at, tujuh rak’at atau sembilan rak’at.

Bila shalat witirnya lima rak’at caranya adalah dengan tanpa tasyahhud awal (langsung lima rak’at) satu kali salam (sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim).

Jika shalat witir dengan jumlah tujuh rak’at caranya adalah dengan tasyahhud awal di rak’at keenam dan tasyahhud akhir di rak’at ketujuh kemudian salam (sebagaimana dalam hadits riwayat Nasa’i).

Untuk lebih rincinya bisa dilihat kitab Bughyatul mutathawwi’ karya Dr. M. bin Umar bazmul

  • Jumlah shalat tarawih

Sunnahnya shalat tarawih itu berjumlah 11 rak’at, berdasarkan hadits Aisyah di atas. Dalam Al Muwaththa’ juga disebutkan dari Muhammad bin Yusuf dari Saa’ib bin Yazid, “Bahwa Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu menyuruh Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daariy untuk mengimami orang-orang dengan jumlah sebelas rak’at.”

✅ As Saa’ib bin Yazid juga mengatakan, “Qaari’ (imam) ketika itu membaca 200-an ayat sampai kami bersandar dengan tongkat dan kami selesai hampir mendekati fajar.”

Tetapi kalaupun lebih dari sebelas rak’at maka tidak mengapa, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang qiyamullail, Beliau menjawab, “Shalat malam itu dua rak’at-dua rak’at, jika salah seorang di antara kamu khawatir tiba waktu Subuh, maka ia kerjakan shalat satu rak’at untuk mengganjilkan shalatnya itu.”, akan tetapi membatasi jumlah shalat sesuai yang disebutkan dalam As Sunnah (yakni sebelas rak’at) dengan memperlambat dan memperpanjang shalatnya tentu lebih utama.

(dari penjelasan Syaikh M. bin Shalih Al ‘Utsaimin dalam Fushuul fish shiyaam wat taraawih waz zakaah)

Imam Ibnu Abdil Bar berkata, “Para ulama sepakat bahwa tidak ada batasan dan ukuran tertentu shalat malam, dan bahwa hukumnya sunat. Barang siapa yang mau, ia boleh memperlama berdirinya dan rak’at shalatnya sedikit, dan barang siapa yang mau, ia boleh memperbanyak ruku’ dan sujud.”

  • Bacaan dalam shalat witir yang tiga rak’at

Sunnahnya pada rak’at pertama setelah Al Fatihah adalah surat Al A’laa, rak’at kedua surat Al Kaafiruun dan pada rak’at ketiga surat Al Ikhlas, terkadang pada rak’at ketiga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan dengan Al Mu’awwidzatain (Al Falaq dan An Naas) setelah Al Ikhlas (sebagaimana dalam riwayat Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

✅ Setelah selesai shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca,

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ

Subhaanal malikil qudduus (3x),

“Maha Suci Allah; Raja, lagi Maha Qudus.” (sebanyak tiga kali)

dan pada ketiganya Beliau mengeraskan suaranya (sebagaimana dalam hadits riwayat Nasa’i, hadits ini shahih)

✅ Di dalam riwayat Daruqutni ada tambahan,

رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْح

(robbil malaa-ikati war-ruuh). ِ

“Tuhan Malaikat dan ruh (Jibril).”

✅ Lebih baik lagi jika dilanjutkan dengan do’a berikut,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سُخْطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Allaahumma innii a’uudzu biridhooka min sakhothika, wa bimu’aafaatika min ‘uquubatika, wa a’uudzu bika minka, laa uhshii tsanaa-an ‘alaika, anta kamaa ats-naita ‘alaa nafsik.”

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan perlindungan-Mu dari hukuman-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tak bisa menghitung pujian untuk-Mu sebagaimana Engkau memuji diri-Mu.” (HR. Abu Dawud, Al Irwaa’ 2/175)

~~•~~•~~ (Lanjut ke halaman 2) ~~•~~•~~