Hal-Hal Yang Harus Dijauhi Orang Yang Berpuasa Karena Bisa Mengurangi dan Membatalkan Pahala Puasa

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

Kajian Fikih Puasa Ustadz Sofyan Chalid Ruray

Hal-Hal yang Sunnah dalam Puasa

Hal-Hal yang Makruh dalam Puasa

Hal-Hal yang Mubah dalam Puasa

Kesalahan-Kesalahan Sebagian Orangdalam Puasa

Macam-macam dan Syarat-syarat Puasa

Rukum-Rukun Puasa

Keringanan dalam Puasa dan Orang-Orangyang Boleh Tidak Puasa

Pembatal-Pembatal Puasa

Syarat Pembatal Puasa & Adab Wajib dalamPuasa

Puasa di Negeri Siangnya Panjang danPenjelasan Hal-Hal yang Haram dalam Puasa

Dauroh Fiqih PuasaSesi1:Sesi2:

Sifat Dusta-Ustadz Abu Ihsan Al Atsary

Bahaya Ghibah (Ghibah yg Boleh dan Dilarang)-Ustadz Firanda Andirja

Bahaya Ghibah-Ustadz Firanda Andirja

Taubat Pelaku Ghibah-Ustadz Syafiq Basalamah  
=

Ebook

Madrasah Ramadhan-Ust Sofyan Chalid Ruray 333Halaman

Fiqh dan Hikmah Puasa, Tarawih, I’ tikaf, Zakat dan Hari Raya. Ringkasan Pembahasan,Fatwa dan Tarjih Ulama Ahlus sunnah Wal Jama’ah

Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja-Muhammad Abduh Tuasikal, MSc 86Halaman

Bekal-Bekal Ramadhan-Syeikh muhamad jamil zainu

Buku Harianku Ramadhan

Para Pencuri Ramadhan

Meraih Surga Bulan Ramadhan-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Kiat Mendidik Anak Puasa Ramadhan

RAMADHAN BERTABUR BERKAH(Fiqh Puasa dan Panduan Menjalani Ramadhan Sesuai Sunnah Nabi)-ABU UTSMAN KHARISMAN 270Hlm

Hadiah dan Bekal Persiapan Menyambut Ramadhan 227 Hlm

24 Jam di Bulan Ramadhan 116Hlm

24 Jam di Bulan Ramadhan-Tablet Version 117Hlm

Fiqih Puasa (membahas hukum seputar puasa, baik itu; Puasa Ramadhan, Puasa Sunnah,dan Puasa yang Dilarang)-54Hlm

Jangan Sia-Siakan Ramadhan Tahun Ini-26Hlm

Amalan Utama di Bulan Ramadhan-24Hlm

Jangan Sia-siakan Ramadhan Tahun Ini

Kitab Fiqih Ramadhan-22Hlm

Fiqih Puasa-90Hlm

(Membahas hukum seputar puasa, baik itu; Puasa Ramadhan,Puasa Sunnah,Puasa yang Dilarang, dan I’tikaf)

Fiqih Ketika Bulan Ramadhan-128Hlm

Puasa-Muhammad Bin Ibrahim Altuwayjiry 54Hlm

Risalah Ramadhan(Keutamaan-Kekhususan-Hukum-Faedah-Adab-Fatwa-Pesan-Nasehat)-Abdullah Bin Jarullah 202Hlm

Jauhi Ghibah

Ghibah (Menggosip), Mengadu Domba dan Mencela, Mencederai Puasa dan Mengurangi Pahala

Manhaj Hadits

Sumpah Palsu Masuk Neraka 

==

Hal-Hal Yang Harus Dijauhi Orang Yang Berpuasa dan Awas Ghibah dan Dusta

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR

Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1

Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ

Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM

Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR

  • 16. HAL-HAL YANG HARUS DIJAUHI ORANG YANG BERPUASA

Seorang yang berpuasa diharuskan menjauhi hal-hal sebagai berikut:

✅ 1. Segala macam perbuatan dosa

✅ 2. Dusta

✅ 3. Ghibah

✅ 4. Berkata atau bersikap rofats

✅ 5. Berteriak-teriak tanpa keperluan

✅ 6. Bermusuhan dalam urusan pribadi dengan orang lain

✅ 7. Melakukan hal-hal yang sia-sia

Hal-hal di atas tidak membatalkan puasa, namun mengurangi pahala puasa, bahkan bisa sampai taraf menghapuskan pahala puasa.

Dusta dan ghibah sebenarnya sudah masuk dalam perbuatan dosa, namun karena hal itu sering diremehkan dan sering terjadi selama seseorang berpuasa, perlu dituliskan pada poin tersendiri untuk menjadi perhatian khusus.

Terdapat beberapa ucapan dari para Ulama’ Salaf yang menunjukkan bahayanya perbuatan dusta dan ghibah terhadap puasa seseorang.

Diriwayatkan bahwa Mujahid -seorang Tabi’i- menyatakan: Ada 2 hal, yang jika seseorang menjaga (agar tidak terjerumus padanya), maka selamatlah puasanya. (Dua hal itu adalah) ghibah dan dusta (riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf no 8980)

✅ Abul ‘Aliyah -seorang tabi’i- menyatakan: Seorang yang berpuasa berada dalam keadaan beribadah selama ia tidak berghibah (menggunjing orang lain) (riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf no 8982)

Penjelasan tentang dusta dan ghibah akan disebutkan dalam bab tersendiri, insyaAllah. Sebagai panduan bagi kita semua agar mengetahui hakikatnya dan meninggalkannya.

✅ Sungguh merugi seorang yang berpuasa dan hanya mendapatkan lapar dan haus saja.

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ

Betapa banyak orang berpuasa yang mendapat bagian dari puasanya hanya lapar dan haus. Betapa banyak orang yang qiyaamul lail yang mendapatkan bagian darinya hanyalah berjaga (tidak tidur)(H.R anNasaai, Ibnu Majah, Ahmad, lafadz sesuai riwayat Ahmad, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, al-Hakim, dan al-Albany)

✅ Sedangkan poin 4-6 di atas disebutkan dalam hadits Nabi yang terkait khusus dengan puasa.

وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

Jika kalian berpuasa janganlah berbuat/berkata rofats jangan berteriak. Dan jika ada seseorang yang memusuhi dia, hendaknya dia mengatakan: Sesungguhnya aku berpuasa (H.R alBukhari no 1771)

Rofats adalah kata-kata atau ungkapan yang berkonotasi tentang hubungan suami-istri. Seorang Ulama mendefinisikan rofats sebagai: segala sesuatu yang diinginkan oleh seorang pria terhadap wanita. Seseorang tidak boleh berbincang-bincang dengan rekannya dengan pembicaraan yang menjurus pada hal itu. Atau, memperagakan hal-hal tertentu yang terkait dengan hal tersebut. Itu bisa mengurangi pahala puasanya.

✅ Berpuasa tidaklah sekedar menahan diri dari makan-minum serta pembatal puasa lainnya, namun juga harus menahan diri dari segala hal yang tidak diridhai Allah.

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatannya, serta perilaku kebodohan, maka Allah tidaklah butuh dengan sikapnya menjauhi makan dan minumnya (dalam puasa)(H.R alBukhari 5597)

✅ Sahabat Nabi Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma berkata:

إذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُك وَبَصَرُك وَلِسَانُك عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَأْثَمِ ، وَدَعْ أَذَى الْخَادِمِ ، وَلْيَكُنْ عَلَيْك وَقَارٌ وَسَكِينَةٌ يَوْمَ صِيَامِكَ ، وَلاَ تَجْعَلْ يَوْمَ فِطْرِكَ وَيَوْمَ صِيَامِكَ سَوَاءً

Jika engkau berpuasa, maka puasakanlah pendengaran, penglihatan, dan lidahmu dari dusta dan dosa. Janganlah menyakiti budak. Hendaknya engkau bersikap tenang dan santun pada saat berpuasa. Jangan jadikan keadaanmu sama saja antara pada saat berpuasa dengan tidak (riwayat Ibnu Abi Syaibah no 8973)

Janganlah seseorang yang berpuasa melakukan hal-hal yang sia-sia. Seseorang hendaknya menjaga dirinya untuk tidak melakukan hal-hal yang sia-sia, tidak bermanfaat bagi kehidupan dunia ataupun akhiratnya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di antara kebaikan Islam seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak penting (berguna) baginya (H.R atTirmidzi)

  • ➡ 17. MENJAUHI PERBUATAN DUSTA 

Dusta harus dijauhi dalam segenap waktu dan keadaan. Pada saat berpuasa lebih ditekankan lagi menjauhi dusta, karena bisa mengurangi atau membatalkan pahala puasa.

  • Definisi Dusta

Dusta adalah ucapan yang tidak sesuai dengan kenyataan secara sengaja padahal ia mengetahui keadaan yang sebenarnya. Dusta adalah akhlaq tercela dan termasuk dosa besar.

Kerugian Perbuatan Dusta

Beberapa kerugian dan kerusakan karena perbuatan dusta:

➡ 1. Menyeret seseorang ke neraka. Satu dusta akan menyeret pada dusta berikutnya, hingga mengarah pada perbuatan kefajiran dan perbuatan kefajiran akan menyeret pada neraka.

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Jauhilah kedustaan karena kedustaan menyeret pada perbuatan fajir (menyimpang) dan perbuatan fajir menyeret menuju neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan menyengaja memilih berdusta hingga tercatat di sisi Allah sebagai tukang dusta (H.R al-Bukhari dan Muslim)

➡ 2. Allah ancam para pendusta dengan adzab yang pedih:

…وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

dan bagi mereka adzab yang pedih disebabkan kedustaan mereka (Q.S alBaqoroh:10)

➡ 3. Mendapat laknat Allah

قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ

Terlaknatlah para pendusta (Q.S adz-Dzaariyaat:10)

Para Ulama menjelaskan bahwa al-Khorroshuun yang disebut dalam ayat adalah para pendusta yang membangun kedustaannya pada dugaan yang tidak berdasar.

➡ 4. Satu kedustaan yang tersebar hingga seluruh penjuru dunia dari seseorang, akan menyebabkan dia disiksa dengan dirobek-robek sudut mulutnya di alam barzakh (alam kubur) hingga hari kiamat:

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِي قَالَا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ فَكَذَّابٌ يَكْذِبُ بِالْكَذْبَةِ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

dari Samuroh bin Jundub radhiyallahu anhu beliau berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda: Aku melihat tadi malam dua laki-laki yang datang dan berkata: Sesungguhnya yang engkau lihat tentang seseorang yang dirobek-robek ujung mulutnya adalah pendusta yang berdusta dengan satu kedustaan dinukil terus hingga mencapai ufuk (penjuru dunia) maka demikianlah dia disiksa hingga hari kiamat (H.R al-Bukhari)

✅ Allah perintahkan kepada orang beriman untuk bertaqwa dan berjalan bersama orang-orang yang jujur

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur (Q.S atTaubah:119)

Seseorang diperintahkan untuk tidak berdusta baik dalam keadaan sungguhan atau main-main. Tidak boleh bagi seseorang menjanjikan sesuatu kepada anaknya (yang masih kecil) kemudian tidak dia penuhi. Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata:

لَا يَصْلُحُ الْكَذِبُ فِي جِدٍّ وَلَا هَزْلٍ، وَلَا أَنْ يَعِدَ أَحَدُكُمْ وَلَدَهُ شَيْئًا ثُمَّ لَا يُنْجِزُ لَهُ

Tidak boleh berdusta dalam keadaan sungguh-sungguh atau main-main. Tidak boleh seseorang menjanjikan sesuatu kepada anaknya (yang masih kecil) kemudian tidak dia tepati (riwayat al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan oleh Syaikh al-Albany)

✅ Ada ancaman yang keras bagi seseorang yang berdusta untuk membuat tertawa orang lain:

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

Celakalah orang yang bercerita dan berdusta untuk membuat tertawa suatu kaum. Celaka baginya. Celaka baginya (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, anNasaai, dihasankan Syaikh al-Albany)

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam hanya memberikan keringanan berdusta untuk 3 keadaan yaitu: dalam perang, dusta suami ke istri atau sebaliknya dalam rangka menyenangkan hati dan semakin merekatkan hubungan, dusta untuk mendamaikan di antara dua orang yang sedang berselisih (perkataan Ummu Kultsum radhiyallahu anha yang diriwayatkan oleh Muslim).

  • Tauriyah, Penghindar dari Dusta

Dalam keadaan yang dibutuhkan, seperti karena dipaksa atau didzhalimi, maka seorang muslim boleh bersikap tauriyah. Tauriyah adalah mengatakan sesuatu yang multitafsir, yang dipahami oleh orang yang diajak bicara sebagai sesuatu, namun ia bisa bermakna sesuatu yang lain.

✅ Contoh: Ketika dalam perjalanan hijrah, Abu Bakr ditanya oleh seseorang yang mengenalnya: Siapa yang bersamamu? Abu Bakr menjawab: Ia adalah penunjuk jalanku. Maksud Abu Bakr adalah beliau adalah Rasulullah shollallahu alaihi wasallam sebagai penunjuk jalan menuju jalan Allah, namun orang itu menganggap bahwa itu adalah orang yang diupah khusus sebagai penujuk jalan menuju tempat yang dituju (disarikan dari penjelasan Syaikh Abdul Muhsin alAbbad dalam syarh Sunan Abi Dawud)

✅ Demikian juga ketika Nabi Ibrahim dan istrinya sedang berada di wilayah yang dikuasai oleh raja yang sangat dzhalim. Sang raja bertanya kepada Ibrahim: Siapa wanita itu? Nabi Ibrahim menjawab: Dia adalah saudaraku. Raja itu mengira bahwa yang dimaksud Ibrahim adalah saudara kandung, padahal maksudnya adalah suadara seagama. Hal itu dilakukan oleh Nabi Ibrahim untuk mencegah kedzhaliman dari raja tersebut.

Tauriyah disebut juga al-Ma’aaridh dan merupakan jalan keluar dari perbuatan dusta.

✅ Umar radhiyallahu anhu berkata:

أَمَّا فِي الْمَعَارِيضِ مَا يَكْفِي الْمُسْلِمَ مِنَ الْكَذِبِ

Pada al-Ma’aaridh (tauriyah) terdapat hal yang mencukupi seorang muslim dari berbuat dusta (riwayat alBukhari dalam Adabul Mufrad dishahihkan Syaikh al-Albany)

✅ Sahabat Nabi Imron bin Hushain radhiyallahu anhu menyatakan:

إِنَّ فِي الْمَعَارِيضِ لَمَنْدُوحَةً عَنِ الْكَذِبِ

Sesungguhnya pada al-Ma’aaridh terdapat alternatif untuk tidak terjatuh dalam kedustaan (riwayat alBukhari dalam Adabul Mufrad dishahihkan Syaikh al-Albany)

Hanya saja tauriyah/ al-Ma’aaridh tidak boleh dijadikan sebagai kebiasaan. Tidak boleh bermudah-mudahan melakukannya, namun hanya dilakukan ketika terdzhalimi atau terpaksa seperti keadaan pada Nabi Ibrahim dan Abu Bakr di atas.

~~•~~••~ (Lanjut ke Halaman 2) ••~~•~~•~