Hukum Memaksa Anak Gadis Menikah dan Apakah Pernikahannya Sah

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

Membayar Zakat Dari Tahun-Tahun Yang Sudah Berlalu

2.Batas Aurat Muslimah di Hadapan Wanita Non Muslim 

3.Manakah yang Lebih Utama, Wanita Shalat di Rumah atau di Masjid? (Bag. 3)

4.Tujuan dan Hikmah Nasehat

5.Solusi Dalam Mengirim Mushaf Al Qur’an Dan Hukum Orang Kafir Menyentuhnya

6.Larangan Mengupload Video Akhwat Ke Youtube Karena Wanita Adalah Aurat

7.Apakah Boleh Mempelajari Ilmu Kalam?

•••

Syafiq Basalamah · Syarat Mendapatkan Kedamaian

  1. Syafiq Basalamah · Pernikahan Tidak Harus Cinta

Syafiq Basalamah · Panduan Menuju Keluarga Sakinah

Syafiq Basalamah · Menjadi lautan

Syafiq Basalamah · Kerja Keras Tanpa Hasil

Syafiq Basalamah · Ingin Rumah Yang Indah

Syafiq Basalamah · Ingkar Kepada Nikmat Allah

Syafiq Basalamah · Azabku Sangat Perih

Syafiq Basalamah · Bila Ditinggal Suami

.

Perbedaan Gadis dan Janda Ketika Dinikahi-Ustadz M.Abduh Tuasikal

Ustadz Ahmad Yani-Hukum dan Manfaat Menikah bagi Wanita

Andai Aku Tidak Menikah Dengannya-AhmadZainuddin

===

Bekal Ilmu Dalam Beribadah Di Bulan Ramadhan – Ustadz Dr. Aspri Rahmat Azai, MA.webm

Perusak – Perusak Aqidah Dr. Syafiq Riza Basalamah,MA.webm

Berhati Hati dari Sering Terlambat Sholat Jamaah Ustadz Ayman Abdillah.m4a

Ceramah Agama Keutamaan Bulan Ramadhan – Ustadz Ahmad Firdaus, Lc..webm

Ceramah Agama Wasiat Ummul Mukminin Aisyah – Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc., M.A..webm

Fiqih Ramadhan – Ustadz Jefri Halim, MA.webm

Hukum – Hukum Seputar Puasa – Ustadz AdeAgustian,Lc.webm

Keluarga Sakinah-Ustadz Dr.Firanda Andirja.webm

Kitab Shahih Bukhari Kabar Gembira bagi Orang Bertauhid -Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc., M.A..webm

Menjaga Nikmat Keamanan Negeri- Ustadz Sofyan Chalid Ruray.webm

Sifat-sifat Istri Shalihah Calon Penghuni Surga-Ustadz Sofyan Chalid Ruray.webm

Wanita yang Masuk Surga dari Pintu Mana Saja yang Dikehendakinya- Ustadz Sofyan Chalid Ruray.webm  

(webm diputar dengan mx player di hp android)

,===

Ebook

Khithbah (Panduan Syariat Dalam Melamar)-16Hlm

Fikih Munakahat(Fiqih seputar pernikahan. Di mulai dari pembahasan; sebelum pernikahan, ketika pernikahan, hingga hal-hal yang dapat memutuskan hubungan pernikahan)

Fikih Munakahat Bab1-48Hlm

Fikih Munakahat Bab2-105Hlm

Fikih Munakahat Bab3-84Hlm

Fiqih Muslimah-363Hlm

Haidh dan Nifas-30Hlm

Terimakasih, Wahai Isteriku …-29Hlm

=

Hukum Hukum Wanita Muslimah-54Hlm

Kepada Ukhti AlMuslimah-40Hlm

Wanita Muslimah Berdandan dan Bersolek Menurut Bimbingan Islam-33Hlm

Darah Kebiasaan Wanita-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin-67Hlm

50Nasehat Untuk Muslimat-Syaikh Abdul Azin Bin Abdullah Al Muqbil 63Hlm

=

➡ Hukum Memaksa Anak Gadis Menikah dan Apakah Pernikahannya Sah?

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR

Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1

Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ

Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM

Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR

 

  • Hukum Memaksa Anak Gadis Menikah

Assalammualaikum ustadz

ustadz saya mau bertanya

mengenai sepupu saya dipaksa menikah dengan pilihan dari orangtuanya Bagaimana hukum jika wanita di paksa , sedangkan wanita tersebut tidak mau. Jazakallah khoir ustad.

Dari : Ibu Ainun Analisa, di Surabaya.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, amma ba’du.

➡ Pertama, perlu kita ketahui bahwa, kerido’an mempelai pengantin untuk mengikrarkan ikatan pernikahan adalah sebuah kewajiban.

Islam menolak pemaksaan orang tua kepada anak gadisnya untuk menikahi laki-laki pilihan orang tua, sementara Sang anak tidak menyukai. Jadi nikah itu dibangun atas dasar cinta dan kasih-sayang. Karena diantara tujuan pernikahan adalah untuk meraih sakinah mawaddah wa rahmah (ketentraman, ketulusan cinta dan kasih-sayang). Hal ini akan sulit tercapai bila pernikahan dibangun atas dasar pemaksaan.

Kedua, manusia tak bisa memaksakan cinta.

Cinta adalah ekspresi naluri yang tak bisa dipaksakan. Al-Quranpun memaklumi bahwa cinta tak bisa dipaksakan bagaimanapun keadaannya.

✅ Allah ta’ala berfirman,

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَة

Kalian sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil kepada istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. Maka janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan kamu biarkan yang lain terkatung-katung.” (QS. an-Nisaa’: 129)

“Sebagian ahli tafsir (menjelaskan makna firman Allah ta’ala), ‘Kalian sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara istri-istri(mu)…’, maksudnya adalah: engkau tak akan mampu berlaku adil dalam hal perasaan yang tersimpan dalam hati (red. rasa cinta). ” Jelas Imam Syafi’i rahimahullah dalam kitab Al-Umm (5/158)

Ketiga, Nabipun tak memaksa.

Kejadian yang seperti ini pernah terjadi di masa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Mari kita lihat bagaimana baginda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menyikapinya.

✅ Disebutkan dalam riwayat dari shohabiyyah Khansa’ binti Khidzam Al-Anshariyah radhiallahu anha,

أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهِيَ ثَيِّبٌ فَكَرِهَتْ ذَلِكَ فَأَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ نِكَاحَهَا

“Bahwa ayahnya menikahkan dia -ketika itu dia janda- dengan laki-laki yang tidak disukai. Maka dia datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (untuk mengadu) maka Nabi shallallahu alaihi wasallam membatalkan pernikahannya.” (HR. Bukhari no. 5138)

Di kesempatan yang lain, Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma menceritakan seorang gadis yang pernah menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, mengadukan ayahnya yang telah menikahkan gadis tersebut tanpa keridhoan hatinya. Lantas Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan pilihan kepada Sang Gadis; apakah ia ingin meneruskan ataukah membatalkan pernikahannya. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2096 dan Ibnu Majah no. 1875)

✅ Secara tegas, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam melarang melalui sabdanya,

لاَ تُنْكَحُ اْلأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ وَلاَ تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَكَيْفَ إِذْنُهَا؟ قَالَ: أَنْ تَسْكُتَ

Seorang janda tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta musyawarahnya. Demikian seorang gadis tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta ijinnya.”

Para Shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimanakah ijinnya?”

Bila ia diam.” Jawab Rasulullah.

( HR. Bukhori no. 5136, Muslim no. 1419, Abu Dawud no. 2092, at-Tirmidzi (no. 1107), Ibnu Majah no. 1871 dan An-Nasai VI/86 )

Dalam hadis yang lain, Nabi shallahu’alaihiwasallam juga tegas mengatakan,

الثَّيِّبُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا وَالْبِكْرُ يَسْتَأْذِنُهَا أَبُوهَا فِي نَفْسِهَا وَإِذْنُهَا صُمَاتُهَا

Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan maka ayahnya harus meminta persetujuan dari dirinya. Dan persetujuannya adalah diamnya.” (HR. Muslim no. 1421, dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma)

  • AIR MATA GADIS YANG DIPINANG

Oleh : Abu Fadhel Majalengka

Jika seorang gadis dipinang oleh seorang laki-laki maka hendaklah orang tua meminta persetujuan anaknya. Bila anak itu diam saja, berarti dia setuju dan menerima pinangan.

✅ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الثَّيِّبُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا، وَالْبِكْرُ يَسْتَأْذِنُهَا أَبُوْهَا فِي نَفْسِهَا وَإِذْنُهَا صُمَاتُهَا.

Janda itu lebih berhak atas dirinya daripada walinya. Sedangkan gadis, ayahnya meminta izin kepadanya untuk menikahkan dirinya, dan izinnya adalah diamnya.” (HR. Muslim).

Namun jika anak itu diam dan menangis, peganglah air matanya, jika air matanya hangat, berarti dia bersedih dan tidak mau dengan laki-laki yang meminangnya. Jika air matanya dingin, berarti dia bahagia dan menerima pinangan laki-laki tersebut.

✅ Berkata Ibnu Qayyim rahimahullah :

والفرق بين بكاء السرور والفرح وبكاء الحزن أن دمعة السرور باردة والقلب فرحان ودمعة الحزن حارة والقلب حزين .

Dan perbedaan antara tangisan kebahagiaan dan tangisan kesedihan , bahwa tangisan kebahagiaan adalah jika maka air mata yang mengalir adalah air mata yang dingin dan sejuk dengan hati yang gembira, sementara tangisan kesedihan akan mengalirkan air mata yang panas dengan hati yang sedih. (Zadul Ma’aad 1/185-186).

✅ Dari hadis-hadis di ataslah kemudian mayoritas ulama (Jumhur) seperti mazhab Hanafi, Imam Ahmad, Al-Auza’i, Ats-Tsauri, Abu Tsaur, Ibnul Mundzir, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -semoga rahmat Allah menyertai mereka-, menyimpulkan, bahwa kerelaan seorang gadis untuk menerima lelaki yang meminangnya, adalah kewajiban. Memaksanya untuk menikah adalah perbuatan haram. (Lihat : Shahih Fiqh Sunnah, 3/127)

➡ Sampai-sampai, Imam Bukhari memberikan judul bab dalam kitab shahih beliau terhadap hadits di atas,

باب لا ينكح الأب وغيره البكر والثيب إلا برضاها

Bab: Seorang ayah atau wali lainnya, tidak boleh menikahkan anak gadisnya atau wanita janda, kecuali atas dasar kerelaan wanita yang hendak ia nikahkan.”

➡ Dalam kitab Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani memberikan catatan atas judul bab yang ditulis oleh Imam Bukhari di atas,

إن الترجمة معقودة لاشتراط رضا المزوجة بكرا كانت أو ثيبا صغيرة كانت أو كبيرة ، وهو الذي يقتضيه ظاهر الحديث

Judul bab ini menjelaskan, bahwa disyaratkannya ridho dari mempelai wanita (dalam pernikahan), baik yang masih gadis ataupun janda; janda muda ataupun tua. Inilah yang sesuai dengan dzohir hadis.”

  • ➡ Sahkah Nikahnya?

Jika sudah terjadi, status akad nikahnya tidak sah. Menjadi sah jika kemudian Sang Gadis ridho. Namun, meski tidak sah, jika sudah terjadi mempelai wanita tidak boleh menikah lagi kecuali setelah mendapatkan cerai dari suaminya, atau ikatan pernikahan telah dibatalkan oleh KUA setempat.

Dan dalam kondisi ini, suami tidak boleh menyetubuhi istrinya sampai sang istri rela dinikahinya. Karena pernikahan tersebut tidak sah, akan menjadi sah jika istri telah merelakan. (Lihat : Liqo’ As-Syahri, Ibnu Utsaimin, 1/343)

✅ Saran kami: Hendaknya para orang tua bertakwa kepada Allah. Kemudian mencari suasana yang pas dan nyaman untuk meminta persetujuan puterinya sebelum menikahkannya dengan lelaki pilihan orang tua. Agar ia tenang dan bahagia dalam menjalani bahtera rumah tangga. Demikian keberkahan dan mawaddah war rahmah dapat tercapai dalam pernikahannya. Kita tentu tak ingin anak kita merana, dalam menjalani bahtera rumah tangga, hanya dikarenakan ego kita yang sesaat.

Sekian.

Wallahua’lam bis showab.

****

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori

(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

===

Bapak Tidak Boleh Memaksa Putrinya Menikah

Fatawa Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dan Syaikh Muhammad al-Utsaimin rahimahullah

➡ Pertanyaan 1:

Saya mempunyai saudara perempuan sebapak (satu bapak berbeda ibu). Bapaknya telah menikahkannya dengan seseorang tanpa persetujuannya dan tanpa meminta.pendapatnya. Sedangkan ia telah mencapai usia dua puluh satu tahun. Beberapa orang telah bersaksi palsu terhadap aqad nikah bahwa ia telah setuju, dan ibunya telah-menandatangani aqad nikah sebagai wakilnya. Seperti inilah-terjadi pernikahan, dan ia masih menolak perkawinan ini.Apakah hukumnya aqad pernikahan ini dan persaksian para-saksi?

➡ Jawaban 1:

Jika saudari ini masih perawan dan bapaknya memaksanya-menikah dengan seorang laki-laki, sebagian ulama-berpendapat bahwa pernikahannya sah. Mereka berpendapat bahwa bapak boleh memaksa putrinya menikah dengan-orang yang tidak dia kehendaki, apabila sederajat (sesuai).

Akan tetapi pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah:bapak atau yang lainnya tidak boleh memaksa anakperempuannya menikah dengan orang yang tidak-diinginkannya, sekalipun masih sederajat, karena Nabi-Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪﻭﺳﻠﻢ : ‏( ﻭَﻻَﺗُﻨْﻜَﺢُ ﺍﻟْﺒِﻜْﺮُ ﺣَﺘَّﻰﺗُﺴْﺘَﺄْﺫَﻥَ‏)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dan wanita-perawan tidak boleh dinikahkan sehingga diminta-pendapatnya.” [HR. Al-Bukhari 5136 dan Muslim 1419]

✅ Hadits ini bersifat umum tidak ada satu wali pun yang dikecualikan, bahkan disebutkan dalam Shahih Muslim:

ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪﻭﺳﻠﻢ : ‏( ﻭَﺍﻟْﺒِﻜْﺮُ ﻳَﺴْﺘَﺄْﺫِﻧُﻬَﺎ ﺃَﺑُﻮْﻫَﺎ‏)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dan wanita-perawan, bapaknya meminta persetujuannya.” [HR. Muslim.1421.]

Maka ditegaskan terhadap wanita perawan dan terhadap-bapak. Ini adalah nash yang masih diperselisihkan maka-harus kembali kepadanya (sebagai bahan rujukan). Atas-dasar ini, pemaksaan seseorang terhadap putrinya untuk menikah dengan seseorang yang tidak ia kehendaki adalah-haram, dan yang diharamkan, hukumnya tidak sah dan tidak-terlaksana, karena mensahkannya adalah bertolak belakangdengan syara’, dan sesuatu yang dilarang oleh syara`-sesungguhnya adalah agar umat tidak melakukannya.Apabila kita sahkan maka artinya kita boleh melakukannya-dan menjadikannya sejajar dengan kedudukan aqad yang-dibolehkan oleh syara’, dan ini adalah perkara yang tidak-mungkin. Atas dasar penjelasan ini maka pendapat yang-kuat adalah bapakmu menikahkan putrinya dengan orang yang tidak diinginkannya ini adalah pernikahan yang rusak.Dan aqad yang rusak harus ditinjau ulang oleh pengadilan-syari’at (pengadilan agama kalau di Indonesia, pent.)

✅ Adapun yang terkait persaksian palsu, maka mereka telah melakukan salah satu dosa besar, seperti disebutkan dalam hadits:

ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪﻭﺳﻠﻢ : َ)ﻻَ ﺃُﺧْﺒِﺮُﻛُﻢْ ﺑِﺄَﻛْﺒَﺮِ ﺍﻟْﻜَﺒﺎَﺋِﺮِ‏)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “ Maukah-kamu kuberitahukan tentang dosa-dosa besar? ” lalu beliau menyebutkannya. Tadinya beliau bersandar, lalu duduk-kemudian bersabda:

ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪﻭﺳﻠﻢ : ‏( ﺃَﻻَ ﻭَﻗَﻮْﻝُ ﺍﻟﺰُّﻭْﺭِ ﻭَﺷَﻬَﺎﺩَﺓُﺍﻟﺰُّﻭْﺭِ, ﺃَﻻَ ﻭَﻗَﻮْﻝُ ﺍﻟﺰُّﻭْﺭِ ﻭَﺷَﻬَﺎﺩَﺓُﺍﻟﺰُّﻭْﺭِ‏)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketahuilah,ucapan palsu dan persaksian palsu. Ketahuilah, ucapan-palsu dan persaksian palsu.” Beliau terus mengulanginya-sehingga mereka berkata: Andaikan beliau diam. [HR. Al-Bukhari 5976 dan Muslim 87 dengan semisalnya.

Orang-orang yang bersaksi palsu tersebut: mereka harus-bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengatakan yang benar, dan hendaklah mereka menjelaskan kepada-hakim syar’i (hakim agama kalau di Indonesia, pent.) bahwa-mereka telah bersaksi palsu, dan sesungguhnya mereka-kembali dari persaksian mereka ini.

Demikian pula sang ibu, di mana ia telah menandatangani-sebagai wakil anaknya secara dusta, sesungguhnya ia-berdosa atas hal itu. Ia harus bertaubat kepada Allah-subhanahu wa ta’ala dan jangan mengulangi lagi.

Sumber: Syaikh Muhammad al-Utsaimin – Majmu’ Fatawa wa

Rasail (2/759 – 760).

Sumber: Syaikh Muhammad al-Utsaimin – Majmu’ Fatawa waRasail (2/759 – 760).

<<<>>><<< Lanjut ke Halaman 2 >>><<<