Pembatal-Pembatal Puasa dan Syarat-Syarat Keadaan Batal Puasa

 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

Bekal Ilmu Dalam Beribadah Di Bulan Ramadhan – Ustadz Dr. Aspri Rahmat Azai, MA.webm

Perusak – Perusak Aqidah Dr. Syafiq Riza Basalamah,MA.webm

Berhati Hati dari Sering Terlambat Sholat Jamaah Ustadz Ayman Abdillah.m4a

Ceramah Agama Keutamaan Bulan Ramadhan – Ustadz Ahmad Firdaus, Lc..webm

Ceramah Agama Wasiat Ummul Mukminin Aisyah – Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc., M.A..webm

Fiqih Ramadhan – Ustadz Jefri Halim, MA.webm 

Hukum – Hukum Seputar Puasa – Ustadz AdeAgustian,Lc.webm

Keluarga Sakinah-Ustadz Dr.Firanda Andirja.webm

Kitab Shahih Bukhari Kabar Gembira bagi Orang Bertauhid -Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc., M.A..webm

Menjaga Nikmat Keamanan Negeri- Ustadz Sofyan Chalid Ruray.webm

Sifat-sifat Istri Shalihah Calon Penghuni Surga-Ustadz Sofyan Chalid Ruray.webm

Wanita yang Masuk Surga dari Pintu Mana Saja yang Dikehendakinya- Ustadz Sofyan Chalid Ruray.webm

Pembatal-Pembatal Puasa-Ustadz Sofyan Chalid Ruray

Syarat Pembatal Puasa & Adab Wajib dalamPuasa-Ustadz Sofyan Chalid Ruray

Pembatal-Pembatal Puasa Kontemporer-Ustadz Firanda Andirja

==

Ebook

Buku Saku Ramadhan”-Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Munajjid 117Hlm

Bekal Ramadhan”-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid 89Hlm

qMadrasah Ramadhan-Ust Sofyan Chalid Ruray 333Halaman

Fiqh dan Hikmah Puasa, Tarawih, I’ tikaf, Zakat dan Hari Raya. Ringkasan Pembahasan,Fatwa dan Tarjih Ulama Ahlus sunnah Wal Jama’ah

Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja-Muhammad Abduh Tuasikal, MSc 86Halaman 

Puasa-Muhammad Bin Ibrahim Altuwayjiry 54Hlm

Risalah Ramadhan(Keutamaan-Kekhususan-Hukum-Faedah-Adab-Fatwa-Pesan-Nasehat)-Abdullah Bin Jarullah 202Hlm 
Paket Fiqih Ramadhan

Paket Fiqih Ramadhan-1_Puasa-22Hlm

Paket Fiqih Ramadhan-2_Shalat Tarawih & Witir

Paket Fiqih Ramadhan-3_I’tikaf-23Hlm

Paket Fiqih Ramadhan-4_Zakat Fitrah-15Hlm 

Paket Fiqih Ramadhan-5_Shalat ‘Ied-23Hlm

Hadiah dan Bekal Persiapan Menyambut Ramadhan 227 Hlm

24 Jam di Bulan Ramadhan 116Hlm

RAMADHAN BERTABUR BERKAH(Fiqh Puasa dan Panduan Menjalani Ramadhan Sesuai Sunnah Nabi)-ABU UTSMAN KHARISMAN 270Hlm

===

Pembatal-Pembatal Puasa dan Syarat-Syarat Keadaan Batal Puasa

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR

Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1

Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ

Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM

Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR

===

  • ➡ 12. PEMBATAL-PEMBATAL PUASA 

Ada beberapa hal yang membatalkan puasa, yaitu:

✅ 1. Makan dan minum atau perbuatan yang semakna dengan makan dan minum, seperti infus.

✅ 2. Berhubungan suami istri atau mengeluarkan mani secara sengaja

✅ 3. Muntah secara sengaja

✅ 4. Obat tetes hidung

✅ 5. Keluarnya darah haid atau nifas bagi wanita

✅ 6. Memiliki niat dan tekad kuat untuk membatalkan puasa

=====

  • Makan dan Minum atau Perbuatan yang Semakna dengannya

Telah dijelaskan dalam pembahasan tentang ayat puasa, yaitu pada ayat 187 surat al-Baqoroh bahwa Allah memperbolehkan makan dan minum pada waktu malam, sebelum fajar. Hal itu menunjukkan bahwa di waktu siang (dari Subuh hingga Maghrib), tidak diperbolehkan makan dan minum, maupun yang semakna dengan makan dan minum

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

Dan makan dan minumlah hingga nampak jelas bagimu benang putih dari benang hitam pada fajar (Q.S al-Baqoroh:187)

➡ Hal-hal yang semakna dengan makan dan minum adalah:

✅ 1. Infus, memasukkan obat dan nutrisi tubuh melalui pembuluh darah. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin.

✅ 2. Cuci darah, sebagaimana dijelaskan oleh Fataawa al-Lajnah adDaaimah (10/19)).

Demikian juga merokok termasuk membatalkan puasa. Dalam istilah bahasa Arab, merokok adalah syurbud dukhon (meminum uap), sehingga semakna dengan meminum. Selain itu ada unsur/ zat yang sampai tenggorokan atau bahkan lambung, sehingga semakna dengan makan atau minum (disarikan dari Majmu’ Fataawa Ibnu Utsaimin 203-204 melalui Fataawa al-Islaam Suaal wa Jawaab)

  • Berhubungan Suami Istri atau Mengeluarkan Mani dengan Sengaja

Jimak (berhubungan suami istri) di siang hari Romadhon yang dilakukan oleh orang yang wajib berpuasa, selain membatalkan puasa juga mengharuskan pembayaran kaffaroh.

✅ Dalam sebuah hadits dinyatakan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هَلَكْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَمَا أَهْلَكَكَ قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي فِي رَمَضَانَ قَالَ هَلْ تَجِدُ مَا تُعْتِقُ رَقَبَةً قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ تَجِدُ مَا تُطْعِمُ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لَا قَالَ ثُمَّ جَلَسَ فَأُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهِ تَمْرٌ فَقَالَ تَصَدَّقْ بِهَذَا قَالَ أَفْقَرَ مِنَّا فَمَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَحْوَجُ إِلَيْهِ مِنَّا فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ اذْهَبْ فَأَطْعِمْهُ أَهْلَكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu: Datang seseorang kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah binasa!” Rasulullah bertanya, “Apa yang membinasakanmu?” Orang itu menjawab, “Aku telah berhubungan dengan istriku (jimak) di siang Ramadhan.” Rasulullah shollallahu alaihi wasallam kemudian mengatakan, “Mampukah engkau untuk memerdekakan budak?” Ia menjawab, “Tidak.” Kemudian kata beliau, “Mampukah engkau berpuasa selama dua bulan berturut-turut?” Ia menjawab, “Tidak.” Kemudian kata beliau, “Mampukah engkau memberi makan 60 orang miskin?” Ia menjawab, “Tidak.” Kemudian didatangkan satu wadah kurma kepada Nabi dan beliau berkata (kepada laki-laki itu), “Shadaqahkan ini.” Orang itu bertanya, “Kepada yang lebih fakir dari kami? Sungguh di Kota Madinah ini tiada yang lebih membutuhkan kurma ini daripada kami.” Mendengar itu Rasulullah shollallahu alaihi wasallam tertawa hingga terlihat gigi taringnya, kemudian beliau  berkata, “Pulanglah dan berikan ini kepada keluargamu (H.R alBukhari dan Muslim)

Dari hadits di atas dapat diambil pelajaran bahwa kaffaroh bagi orang yang melakukan hubungan suami istri di siang hari Romadhan bagi yang wajib berpuasa adalah: (i) memerdekakan budak, jika tidak mampu (ii) berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu: (iii) Memberi makan 60 orang miskin.

Hal itu adalah urut-urutan jika tiap poin tidak mampu dijalankan. Bukan pilihan, tapi dijalankan berdasarkan urutan. Jika pada satu urutan tidak mampu, maka urutan berikutnya.

Paling akhir, jika tidak mampu semua adalah memberi makan 60 orang miskin. Satu orang miskin diberi takaran 1 mud bahan makanan pokok(Ihkaamul Ahkaam karya Ibnu Daqiiqil ‘Ied). Ukuran 1 mud adalah sekitar 0,75 kg. Namun, jika tidak mampu memberi makan 60 orang miskin maka gugur kewajiban dari dia, seperti pada laki-laki yang disebutkan dalam hadits di atas.

Namun, seseorang yang memiliki udzur untuk berpuasa, kemudian berhubungan (jimak) dengan istrinya, maka ia tidak terkena kaffaroh. Contohnya, seperti sepasang suami istri yang safar di bulan Romadhan, dan pada saat safar itu mereka berhubungan, maka mereka tidak terkena kaffaroh. Mereka hanya diharuskan mengganti puasanya di hari lain (asy-Syarhul Mukhtashar ala Bulughil Maram karya Ibnu Utsaimin)

Termasuk yang membatalkan puasa dalam kategori jenis ini adalah mengeluarkan mani secara sengaja, seperti masturbasi/ onani.

✅ Dalam suatu hadits Qudsi, Allah berfirman tentang orang yang berpuasa:

يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي

(Orang yang berpuasa itu) meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Aku (H.R al-Bukhari no 1761)

✅ Dalam sebagian lafadz hadits, kata syahwat adalah istilah bagi mani. Sebagaimana dalam hadits:

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرًا

dan pada kemaluan kalian terdapat shodaqoh. Para Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apakah salah seorang dari kami mendatangi syahwatnya tapi justru mendapat pahala? Nabi menjawab: Bagaimana pendapatmu, jika ia meletakkannya pada yang haram, bukankah ia mendapatkan dosa? Maka demikianlah, jika ia letakkan pada yang halal, maka itu baginya adalah pahala (H.R Muslim)

Yang ‘diletakkan’ dalam makna hadits tersebut adalah mani, yang diistilahkan dengan ‘syahwat’ pada kalimat sebelumnya. Ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa mengeluarkan mani secara sengaja pada siang hari Romadhon membatalkan puasa (penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Majmu’ Fataawa wa Rosaail (19/138).

  • Muntah Secara Sengaja

Muntah secara sengaja membatalkan puasa. Secara sengaja, contohnya: memasukkan jari ke mulut hingga pangkal lidah, sehingga muntah. Atau, menyengaja membaui bau-bau yang busuk agar muntah. Demikian juga menyengaja melihat hal-hal yang menjijikkan dengan tujuan agar menjadi muntah. Hal-hal demikian adalah membatalkan puasa.

Namun bagi orang yang tidak menyengaja untuk muntah, tapi karena keadaan tertentu seperti seorang yang terserang masuk angin, kemudian muntah, maka ini tidak membatalkan puasa.

مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَمَنْ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِ

Barangsiapa yang terserang muntah (tidak sengaja) maka tidak harus mengganti (puasa). Barangsiapa yang menyengaja muntah, maka hendaknya mengganti (puasa)(H.R Abu Dawud, atTirmidzi, Ahmad, dishahihkan Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Hakim, al-Albany. Lafadz sesuai riwayat atTirmidzi)

  • Obat Tetes Hidung

Pada saat berpuasa, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam melarang seseorang yang berwudhu’ menghirup air ke hidungnya terlalu dalam:

وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

Dan bersungguh-sungguhlah dalam istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung), kecuali jika engkau dalam keadaan berpuasa (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, anNasaai, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan al-Albany)

Hadits tersebut dijadikan dalil oleh sebagian Ulama yang menunjukkan bahwa penggunaan tetes hidung membatalkan puasa. Masuknya air ke hidung sehingga sampai kerongkongan akan membatalkan puasa. Berbeda dengan sekedar menghirup kemudian mengeluarkan lagi, seperti yang dilakukan dalam berwudhu’, hal itu tidak membatalkan puasa.

  • Keluarnya Darah Haid dan Nifas pada Wanita

Telah dijelaskan di atas pada bab Orang yang Wajib Berpuasa, bahwa wanita yang haid dan nifas haram untuk berpuasa.

  • Memiliki Niat Kuat untuk Membatalkan Puasa

Seseorang yang memiliki niat dan azam yang sangat kuat untuk membatalkan puasa, maka terhitung puasanya telah batal, meski ia belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Berbeda dengan jika sekedar terbetik keinginan sesaat untuk membatalkan puasa. Tidak berupa niat yang sangat kuat. Hanya sekelebat keinginan saja. Maka hal ini tidaklah membatalkan puasa.

Sama dengan seseorang yang punya keinginan berbuat kejahatan. Jika sekedar keinginan yang sekelebatan, kemudian tidak dijadikan niat yang kuat, maka hal ini tidaklah terhitung sebagai suatu kejahatan, selama belum dilakukan.

Tapi, seseorang yang ingin berbuat kejahatan, dan berupaya keras untuk mempersiapkan kejahatan itu, bertekad dan memiliki niat yang sangat kuat, maka terhitung ia telah menjalankan kejahatan tersebut.

Seseorang yang berniat kuat untuk membunuh saudaranya sesama muslim karena masalah duniawi, dan telah mempersiapkan sarana untuk membunuh, namun ternyata justru dialah yang terbunuh, maka ia terhitung melakukan perbuatan penduduk neraka dan diancam dengan neraka.

إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ قَالَ إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

Jika dua orang muslim bertemu dengan pedang masing-masing, maka pembunuh dan yang dibunuh ada di neraka. Aku (seorang Sahabat) bertanya: (kalau) pembunuhnya sudah jelas (berdosa), mengapa yang terbunuh juga demikian? Rasul bersabda: karena dia bertekad kuat untuk membunuh lawannya (H.R al-Bukhari no 30)

—— (Lanjut ke Halaman 2) ——