Keagungan Kalimat Tauhid 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

Syeikh Prof. Dr. Sulaiman Ar-Ruhaily Studi Kritis Kasus-Kasus Perniagaan Kontemporer.webm

Ramadhan Saatnya Hijrah Dari Riba Dr. Erwandi Tarmizi, MA.webm

Saatnya Berlomba – Ustadz DR Syafiq Riza Basalamah MA.webm 

Ngapain Puasa – Ustadz Dr syafiq Riza Basalamah.webm 

Ceramah Agama Mengilmui Puasa Ramadhan – Ustadz Sufyan Bafin Zen.webm

Menyambut Kedatangan Ramadhan – Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc..webm 
==

ISTIQOMAH DALAM MENTAUHIDKAN ALLAH USTADZ YAZID BIN ABDUL QODIR JAWAS ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .webm

Mendalami Tiga Tauhid Dalam Islam – Ustadz Mizan Qudsiah,Lc.MA.webm

Tauhidkan Rabbmu Damailah Negeriku-Ustadz Zainal Abidin Syamsudin.webm

Referensi Ahlus Sunnah Dalam Beraqidah-Ustadz Abdurrahman Thoyyib.webm

Hakekat Makna Kalimat Tauhid – Ustadz Mizan Qudsiah, Lc. MA.webm

==

Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja · Syarah Kitab Tauhid · Sihir Bag2

Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja · Syarah Kitab Tauhid · Nabi Menjaga Sisi-Sisi Tauhid Dari Kesyirikan

Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja · Syarah Kitab Tauhid · Bahwa Sebagian Umat Ini Akan Menyembah Berhala

Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja · Syarah Kitab Tauhid · Bab Para Dukun dan yang Semisalnya

Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja · Syarah Kitab Tauhid · Larangan Ibadah di Kuburan Orang Shaleh Bag2

Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja · Syarah Kitab Tauhid · Nabi Menutup Semua Jalan Menuju Kesyirikan

Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja · Syarah Kitab Tauhid ·Berlebihan Terhadap Orang Sholeh Bag2

Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja · Syarah Kitab Tauhid · Dicabutnya Rasa Takut Malaikat

Abdullah Zaen ·Peka Menangkap Pesan

Abdullah Zaen · Mati Lampu 

==

Ebook

Keutamaan Kalimat TAUHID dan Syarat-syaratnya

Menjaga Kemurnian Tauhid

Keutamaan Tauhid

Menyelami Samudra Kalimat Tauhid

Risalah Tauhid jilid 4 Pluralis Liberal 250Hlm

Risalah Tauhid Jilid 3 Dakwah Tauhid kepadaAhlul Kitab108Hlm

Risalah Tauhid Jilid 2 Ismul A’dzom Allah ( ﺍﻟﻠﻪُ)

Risalah Tauhid Jilid 1 Makna Kalimatut Tauhid ( ﻻ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻ ﺍﻟﻠﻪُ ) dan korelasi pembagian Tauhid92Hlm

Pedoman Tauhid(103hlm)-Prof DR Abdurrazzaq Al-Badr

Kaidah Memahami Tauhid(125hlm)

Rukun Islam-90Hlm

Syahadatain (makna, rukun dan, syarat Dua Kalimat Syahadat)-17Hlm

Al-Qauluts Tsabit (Memahami Tauhid Dengan Benar)-43Hlm

Ucapan Yang Teguh Dalam Kalimat Tauhid-71Hlm

Tingkatan Di Dalam Islam (Islam,Iman dan Ihsan)-370Hlm

Penjelasan Tentang Rukun Iman-116Hlm

======

Keagungan Kalimat Tauhid

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR

Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1

Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ

Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM

Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR

  • KEAGUNGAN KALIMAT TAUHID

Oleh: Majalah ar-risalah

Tiada kata henti untuk bersyukur, karena banyaknya nikmat Allah tak terukur. Adalah keliru jika seseorang itu memandang nikmat sebatas pada makanan, minuman, tempat tinggal maupun kemewahan. Betapa seseorang akan sulit merasakan kebahagiaan jika tak mengenali nikmat selain pada kelezatan ragawi dan kenikmatan materi. Imam Hasan al-Bashri berkata, ”Barangsiapa yang tidak mengenali nikmat Allah selain pada makanan, minuman dan pakaian, maka sungguh dangkal ilmunya, dan amat berat penderitaannya.” Tentu saja ia menderita, karena ketika seseorang tidak mengenali nikmat, ia pun tidak mampu merasakan kelezatannya.

Maka jaminan kebahagiaan bukan dari sisi kekayaannya, begitu juga derajat kemuliaan seorang hamba di sisi Allah. Hanya saja, budaya materialistis telah mendorong manusia memandang kemuliaan melulu berdasarkan harta dan kelebihan secara fisik.

✅ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِنَّ اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ فَيَقُولُ لَا يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَفَلَكَ عُذْرٌ فَيَقُولُ لَا يَا رَبِّ فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً فَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَيَقُولُ احْضُرْ وَزْنَكَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ فَقَالَ إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ قَالَ فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ

Sesungguhnya, Allah akan membebaskan seorang lelaki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Akan dibentangkan padanya 99 lembaran (catatan amal keburukan), tiap-tiap lembaran seukuran sejauh pandangan mata. Kemudian Allah bertanya, “Apakah engkau mengingkari sesuatu dari lembaran (catatan amal keburukan) ini? Apakah para (malaikat) penulis–Ku al-Hafizhun (yang mencatat) menzhalimimu?”

Maka, hamba tadi menjawab, “Tidak wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah engkau memilik alasan?” Maka, hamba tadi menjawab, “Tidak wahai Rabb-ku.” Maka, Allah berfirman, “Benar, sesungguhnya di sisi Kami engkau memiliki satu kebaikan. Sesungguhnya pada hari ini engkau tidak akan dizhalimi.  Kemudian, dikeluarkan sebuah bithaqah (karcis) yang bertuliskan: Asyhadu alla ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu warasuluhu (Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah adalah hambaNya dan Rasul-Nya. Allah berfirman, “Datangkanlah timbanganmu.”  Hamba tadi berkata, “Wahai Rabb-ku, apa (pengaruh) karcis ini terhadap lembaran-lembaran ini.” Maka, Allah berfirman, “Sesungguhnya engkau tidak akan dizhalimi.” Rasulullah bersabda, “Maka, lembaran-lembaran itu diletakkan di atas satu daun timbangan, dan satu karcis tersebut diletakkan di atas satu daun timbangan yang lain. Maka, ringanlah lembaran-lembaran itu, dan beratlah karcis tersebut. Maka, sesuatupun tidak berat ditimbang dengan nama Allah.” (HR. Tirmidzi)

Demikianlah, tidak ada sesuatu pun yang lebih berat bila ditimbang dengan kalimat Laa ilaaha illallah. Siapa yang bertemu Allah dan mengimaninya maka Allah akan menyelamatkannya dari Azab neraka meskipun sebelumnya dia diazab lantaran dosa yang dilakukan. Sebaliknya, siapa yang bertemu dengan Allah tanpa kalimat itu dan mengkufurinya, kelak dia akan menyesal tidak mendapatkan rahmat-Nya.

✅ Kalimat Laa ilaaha illallah adalah inti dakwah para Nabi. Allah berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al-Anbiya: 25).

Tidaklah seorang Nabi dibenci dan dimusuhi melainkan karena mereka menyampaikan dan mengajak semua orang untuk mengagungkan kalimat tersebut. Kalimat Laailaaha illallah adalah kalimat pembuka jannah sebagaimana sabda Rasulullah,

Barang siapa mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah dengan penuh keikhlasan, maka dia akan masuk surga.“ (HR. Ahmad).

✅ Namun, tidak setiap yang mengucapkannya bisa mengambil manfaat dari kalimat tersebut. Iman Bukhari meriwayatkan bahwa seseorang pernah bertanya kepada Imam Wahab bin Munabbih, seorang Tabi’in dari Shan’a, “Bukankah Laa ilaaha illallah itu kunci surga?”  Wahab menjawab, “Benar, akan tetapi setiap kunci pasti bergerigi. Jika engkau membawa kunci yang bergerigi, maka pintu surga itu akan dibukakan untukmu.”

Apakah gerigi-gerigi itu? Gerigi itu adalah syarat-syarat Lailaha illallah. Demikian pula keterangan Hasan Al Bashri rahimahullah, ketika ia ditanya, “Orang-orang mengatakan bahwa barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah pasti akan masuk surga.” Hasan al-Bashri berkata:

من قال « لا إله إلا الله » فأدَّى حقها وفرضها دخل الجنة

Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah, lalu menunaikan hak dan kewajibannya (konsekuensinya), pasti akan masuk surga“.

✅ Rasulullah juga bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

Sesiapa yang akhir ucapannya adalah kalimat Lailaha illallah maka Allah akan memasukkannya ke dalam jannah.” (HR. Abu Dawud).

Oleh karena itu Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk menalqinkan kalimat tersebut pada orang yang hendak meninggal.

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

Talqinkanlah (tuntunkanlah) orang yang akan meninggal di antara kalian dengan kalimat, ’laa ilaha illallah’.” (HR. Muslim)

Itu pulalah yang diinginkan Rasulullah dari paman beliau, Abu Thalib. Paman yang telah berjuang membela dan melindungi Rasulullah ketika kaum kafir menginginkan kecelakaan pada beliau. Beliau ingin pamannya mengucapkan kalimat tersebut di akhir hayatnya. Maka pada saat pamannya berada pada detik-detik akhir hidupnya, beliau berdiri di sisi dipan sambil berkata, “Wahai pamanku, ucapkan Laa ilaaha illallah, kalimat yang dengannya aku akan berhujjah (membelamu) di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.”  (HR. Al-Bukhari)

Namun sayang, pamannya enggan mengucapkan kalimat tersebut. Karena bujukan dan hasutan dari kedua saudaranya Abu Jahal dan Abu lahab, yang turut serta mendampinginya di akhir hayatnya.

Belum setelah wafatnya Rasulullah, Umar Ibnu Khatab pernah mendapati sahabat Thalhah bin Ubaidillah sedang duduk berteduh dan bersedih. Lantas umar bertanya kepada Thalhah, “Wahai Thalhah, apa yang membuatmu bersedih? apakah istrimu?”

Jawabnya, “Bukan, tapi yang membuatku sedih adalah aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebelum beliau meninggal, ‘Sungguh aku tahu, ada satu kalimat, tidaklah seorang hamba mengucapkannya disaat kematiannya melainkan kalimat itu akan menjadi cahaya diwajahnya sehingga warnanya cerah dan Allah mudahkan urusannya. Dan sungguh jasad dan ruhnya akan mendapat kenyamanan dan rahmat di saat kematian’.

Thalhah melanjutkan ucapannya, “Aku ingin menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam, namun beliau jatuh sakit. Dan aku tidak sempat menanyakannya hingga beliau wafat. Dan ini yang membuatku sedih.”

Umar pun mengatakan, “Aku tahu kalimat itu wahai Thalhah, yaitu kalimat yang beliau ingin agar pamannya Abu Thalib mengucapkannya (yaitu kalimat laa ilaaha illallah).”

✅ Begitu berharganya kalimat Laa ilaaha illah, sehingga para Nabi dan orang-orang shalih mewasiatkan hal ini kepada anak-anaknya. Dalam sebuah hadits Rasulullah menceritakan Nabi Nuh alaihissalam di masa akhir hidupnya. Ia berpesan kepada anaknya,

Wahai anakku, aku perintahkan kepadamu melazimi kalimat laa ilaaha illallah …kalaulah kiranya tujuh lapisan langit dan bumi diletakkan dalam satu timbangan. Kemudian kalimat laa ilaaha illallah diletakkan pada timbangan yang satu. Sungguh kalimat laa ilaaha illallah itu lebih berat. Kalaulah kiranya dunia langit seisinya itu terbentuk menjadi sebuah rantai yang kokoh, sungguh kalimat laa ilaaha illallah dapat memotongnya“.

Nabi Nuh telah diberikan umur yang panjang oleh Allah. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa umur beliau mencapai 950 tahun. Sepanjang usianya ia habiskan untuk mendakwahkan kalimat Lailaha illallah. Beliau menyaksikan bagaimana Allah menolong dan menyelamatkan orang-orang yang berpegang dengan kalimat tauhid dan ia menyaksikan kebinasaan penduduk bumi yang hanyut tenggelam lantar kekufuran mereka terhadap kalimat laa ilaaha illallah. Begitu agungnya kalimat ini, sehingga tak ada nilainya seberapapun dunia yang kita miliki bila di dalam hati kita tidak ada keimanan dan tidak ada pengagungan kepada kalimat tauhid ini.

✅ Kalimat ini pulalah yang dipesankan oleh Nabi Yaqub kepada putra-putrinya. Allah mengisahkan tentang Nabi Ya’kub,

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya” (QS. Al-Baqarah: 133).

Nabi Ya’kub tidak mengkhawatirkan kehidupan dunia anak-anaknya. Ia tidak khawatir dengan apa yang mereka makan kelak, yang mereka pakai kelak, di mana kelak mereka akan tinggal. Yang ia khwatirkan adalah apa yang akan mereka sembah, yang akan mereka taati, yang akan mereka ibadahi sepeninggal beliau. Itu yang beliau khawatirkan.

Semoga Allah memudahkan kita dalam melaksanakan konsekuensi dari kalimat tauhid sehingga kita dimudahkan dalam mengucapkan kalimat Laa ilaaha illah di penutup usia kita. Kemudian Allah memasukkan kita ke dalam Jannah bersama para ahli tauhid.

Oleh: Ust. Taufik Anwar

=

Sukses di dunia

ﻭﻣﻦ ﻳﻄﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﻓﻘﺪ ﻓﺎﺯ ﻓﻮﺯﺍ ﻋﻈﻴﻤﺎ

Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kesuksesan yang besar” (Al-Ahzab :71)

Sukses di akhirat

ﻓﻤﻦ ﺯﺣﺰﺡ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﻭ ﺃﺩﺧﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻓﻘﺪ ﻓﺎﺯ

“Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah mendapatkan kesuksesan” (Ali Imran : 185)

==

➡ “Mati Lampu”

Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA

Pernahkah anda tiba-tiba mengalami mati lampu? Pet! Apa yang anda rasakan saat itu? Gelap gulita. Tidak tahu mana arah. Grayap-grayap, meraba-raba. Anda sulit membedakan mana makanan dan mana kotoran.  Mana kucing dan mana anjing. Mana kopi dan mana terigu. Mana gula dan mana garam.

Anda berjalan dengan sangat pelan karena takut menabrak meja dan kursi atau tembok.

➡ Keinginan terbesar

Banyak keinginan manusia di dunia ini. Namun saat mati lampu, saya yakin keinginan terbesar kita adalah agar lampu menyala kembali. Atau minimal kita akan mencari secercah cahaya. Lilin, senter, HP, atau yang lainnya. Untuk menyinari kegelapan yang terasa sangat mengganggu.

Jadi, cahaya adalah kebutuhan pokok manusia.

  • Cahaya Hakiki

Namun tahukah Anda, bahwa di sana ada cahaya yang jauh lebih penting dibanding cahaya lampu atau lilin? Sebab lampu itu hanya kita butuhkan di malam hari saja. Ketahuilah bahwa di sana ada cahaya yang kita butuhkan siang dan malam, sejak kita lahir hingga kita meninggal dunia. Bahkan saat kita di kuburan kelak dan di alam akhirat.

Apakah cahaya itu? Cahaya tersebut tidak lain adalah ilmu agama yang bersumber dari al-Quran dan Sunnah disertai lentera bimbingan para ulama. Allah ta’ala berfirman,

[arabic-font]”وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا”[/arabic-font]

Artinya: “Telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang”. QS. An-Nisa’ (4): 174.

✅ Maksud dari cahaya dalam ayat di atas adalah al-Qur’an. Demikian keterangan Imam ath-Thabariy.

Ilmu agama adalah kebutuhan primer setiap insan. Bahkan menurut Imam Ahmad bin Hambal, kebutuhan kita terhadap ilmu agama lebih besar dibanding kehidupan kita terhadap makan dan minum. Sebab dalam sehari semalam, paling-paling kita membutuhkan makan dan minum, dua atau tiga kali saja. Sedangkan ilmu selalu kita butuhkan setiap saat. Tapi realitanya dalam keseharian, waktu kita lebih banyak dialokasikan untuk mencari makan dan minum dibanding untuk mencari ilmu agama.

Ilmu agama inilah yang akan menerangi kehidupan kita. Membantu kita untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Yang bermanfaat dan yang berbahaya. Yang halal dan yang haram. Membedakan tauhid dan syirik, sunnah dan bid’ah, juga maksiat dan ibadah.

✅ Cahaya ini pula yang akan membimbing kita menuju surga Allah di tengah kegelapan hari kiamat kelak. Allah ta’ala berfirman,

[arabic-font]”يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ…”[/arabic-font]

Artinya: “Pada hari engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka. (Dikatakan kepada mereka), “Pada hari ini ada berita gembira untuk kalian. (Yaitu) surga-surga…”. QS. Al-Hadid (57): 12.

✅ Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa cahaya orang yang beriman kelak akan berbeda-beda. Ada yang sebesar gunung. Ada yang sebesar pohon kurma. Ada yang sebesar orang yang sedang berdiri. Dan adapula yang cahayanya di jempol dia. Terkadang menyala dan kadang pula padam.

Maka mari kita terus belajar ilmu agama, agar cahaya kita semakin terang benderang!

—–(Lanjut ke halaman 2)—-