Panduan dan Bekal Ramadhan (Bag.3) 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

97 KITABUT TAUHID 16 UST. ABDUL HAKIM BIN AMIR ABDAT ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .webm

Aku Bangga Menjadi Muslim – Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc, MA.webm

Doa Mustajab Di Penghujung Shalat – Ustadz Mizan Qudsiyah,Lc..webm

Fiqih Ramadhan (bagian 1) – Ustadz Jamaluddin, Lc..webm

Harus Bertanya Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA.webm

Misi Hidupmu – Ustadz Sofyan Cholid Ruray.webm  

••

ROMADHON YANG DIRINDUKAN”*(Bekal Berharga Menyambut Romadhon ‏)Ustadz Abu ‘Ubaidah Abdurrahman Ar_Riyawi

Serba-serbi Ramadhan-Abu Muhammad Fauzan Al Kutawy

Amalan-Amalan Nabi di Bulan Ramadhan-Ustadz Abuz Zubair Hawaary.webm

Jika Ini Ramadhan Terakhirku – Ustadz Rizal Yuliar Putrananda, Lc ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻝ .webm

Kiat-Kiat Meraih Keamanan – Ustadz Abdurrahman Thoyyib,Lc..webm

Kitab Shahih Bukhari Dalil Ahlussunnah Tentang Kalamullah -Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc., M.A..webm

Manfaatkan Masa Muda – Wasiat Salaf Untuk Pemuda (02)-Ustadz Sofyan.C.Ruray.webm

Seputar Takdir – Ustadz Dr. Sufyan Baswedan, MA.webm

,==

Syeikh Prof. Dr. Sulaiman Ar-Ruhaily Studi Kritis Kasus-Kasus Perniagaan Kontemporer.webm

Ramadhan Saatnya Hijrah Dari Riba Dr. Erwandi Tarmizi, MA.webm

Saatnya Berlomba – Ustadz DR Syafiq Riza Basalamah MA.webm

Ngapain Puasa – Ustadz Dr syafiq Riza Basalamah.webm

Ceramah Agama Mengilmui Puasa Ramadhan – Ustadz Sufyan Bafin Zen.webm

Menyambut Kedatangan Ramadhan – Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc..webm

–webm diputar dengan aplikasi mx player pada hp android–

=

Ebook

Hadits Puasa dari Bulughul Maram-karya Ibnu Hajar Al-Asqalani.85Halaman Link2

======

➡ Panduan dan Bekal Ramadhan (Bag.3)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR

Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1

Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ

Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM

mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x

Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR

  • Perkara-Perkara yang Wajib Ditinggalkan Oleh Orang yang Berpuasa

Orang yang berpuasa diwajibkan untuk meninggalkan makan, minum, dan berhubungan badan. Hal ini tentunya sangat dimaklumi berdasarkan firman Allah,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Dan makan dan minumlah kalian hingga tampak, bagi kalian, benang putih terhadap benang hitam, yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” [Al-Baqarah: 187]

✅ Juga dalam hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menegaskan,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشَرَ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللهُ تَعَالَى : إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ, يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِيْ

Setiap amalan Anak Adam, kebaikannya dilipat­gandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’âla berfirman, ‘Kecuali puasa. Sesung­guhnya (amalan) itu adalah (khusus) bagi-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya karena (orang yang ber­puasa) meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.’.” (Lafazh hadits adalah milik Imam Muslim)

  • Meninggalkan Dusta, Riba, dan Adu Domba

Orang yang berpuasa diwajibkan untuk meninggalkan perkataan dusta, memakan harta riba, dan mengadu domba.

  • Meninggalkan Perkara Sia-sia

Orang yang berpuasa juga diharuskan untuk meninggalkan segala perkara sia-sia.

Dua hal terakhir di atas berdasarkan dalil-dalil umum akan larangan terhadap perkara-perkara tersebut secara mutlak, baik dalam keadaan berpuasa maupun tidak. Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu riwayat Al-Bukhary, secara khusus berkaitan dengan puasa

✅ Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan (tetap) mengamalkan hal tersebut, Allah tidak perlu terhadap (amalan) dia (yang) meninggalkan makan dan minumnya (yaitu terhadap puasanya, -pent.).”

✅ Selain itu, dalam riwayat Al-Bukhâry dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ يَوْمَئِذٍ وَلاَ يَسْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّيْ امْرُؤٌ صَائِمٌ

“…dan puasa adalah tameng. Bila ada hari puasa di antara salah seorang di antara kalian, janganlah ia berbuat sia-sia dan janganlah ia banyak mendebat. Kalau orang lain mencaci-maki atau memusuhinya, hendaknya ia berkata, ‘Saya sedang berpuasa.’.”

✅ Lalu, dalam hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu riwayat Ibnu Khuzaimah dengan sanad yang hasan, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menegaskan,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشَّرَابِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَفَثِ

Puasa itu bukanlah sekedar (menahan diri) dari makan dan minum, melainkan bahwa puasa itu hanyalah (me­nahan diri) dari perbuatan sia-sia dan tidak berguna.”

  • Meremehkan shalat berjamaah karena lebih memilih tidur atau menggabungkan (menjamak) shalat tanpa udzur

Kemunkaran besar yang terjadi di bulan Ramadhan adalah meremehkan shalat berjamaah di masjid bagi kaum laki-laki. Padahal, shalat adalah rukun Islam yang agung setelah dua kalimat syahadat.

Oleh karena itu, tidak boleh bermudah-mudah meninggalkan shalat berjamaah di masjid karena lebih memilih tidur atau sejenisnya. Demikian pula, tidak boleh menggabungkan (menjamak) shalat tanpa ada keperluan yang bisa dibenarkan oleh syariat.

Menjadi kewajiban seorang muslim untuk mendahulukan atau memprioritaskan shalat atas aktivitas yang lainnya. Juga menjadi kewajiban seorang muslim untuk saling menolong dalam melaksanakan ketaatan, saling memberikan nasihat terhadap kemunkaran yang muncul di bulan Ramadhan berkaitan dengan diremehkannya shalat berjamaah di masjid.

✅ Allah Ta’ala berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah [5]: 2)

  • Meninggalkan Shalat Ashar Maka Amalan Puasa Ramadhan Terhapus?

✅ Pertanyaan :

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠّﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ

ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ

Ustadz, Ana mau tanya tentang keshohihan hadits yang menerangkan: “ Barang siapa yang meninggalkan shalat ashar tanpa udzur syar’i, maka amalan shalatnya terhapus “. Jika hadits ini shohih, apakah amalan shalat yang terhapus di hari itu saja? Atau seluruh amalan shalat yang telah kita kerjakan sebelumnya?

=

✅ Jawaban:

Hadits diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari,

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺍﻟﻤَﻠِﻴﺢِ، ﻗَﺎﻝَ: ﻛُﻨَّﺎ ﻣَﻊَ ﺑُﺮَﻳْﺪَﺓَ ﻓِﻲ ﻏَﺰْﻭَﺓٍ ﻓِﻲ ﻳَﻮْﻡٍ ﺫِﻱﻏَﻴْﻢٍ، ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﺑَﻜِّﺮُﻭﺍ ﺑِﺼَﻼَﺓِ ﺍﻟﻌَﺼْﺮِ، ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ: ‏« ﻣَﻦْ ﺗَﺮَﻙَ ﺻَﻼَﺓَ ﺍﻟﻌَﺼْﺮِ ﻓَﻘَﺪْ ﺣَﺒِﻂَ ﻋَﻤَﻠُﻪُ‏»

Dari Abu Malih, Beliau mengatakan: ‘Kami pernah bersama Buraidah (bin Al-Hushaib, salah seorang sahabat) pada suatu peperangan yang diselimuti mendung, maka beliau mengatakan; ‘Segera tunaikanlah shalat Ashar, Karena Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda; “Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka amalannya gugur“. (HR. Al-Bukhari 553)

Karena hadits tersebut diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari maka haditsnya shahih.

✅ Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, juga pernah menyatakan hadits yang semisal denganya, dalam riwayat imam Ahmad;

ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ” ﻣَﻦْ ﺗَﺮَﻙَ ﺻَﻠَﺎﺓَ ﺍﻟْﻌَﺼْﺮِﻣُﺘَﻌَﻤِّﺪًﺍ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻔُﻮﺗَﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﺃُﺣْﺒِﻂَ ﻋَﻤَﻠُﻪُ ”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa meninggalkan shalat ashar hingga keluar waktunya, maka amalannya telah gugur “. (HR. Ahmad 27.492 dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam Shahih Targhib no hadits 479)

Para ulama ketika ada datang hadits ancaman seperti ini, biasanya mereka membiarkannya sebagaimana datangnya, agar seorang takut untuk melakukannya.

✅ Imam Ibnu Hajar, ketika menerangkan hadits ini berkata:

ﻭﺑﻴﻨﺎ ﺃﻥ ﺃﻛﺜﺮ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻭﺍﻷﻣﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺑﺬﻟﻚ، ﻭﺇﻣﺮﺍﺭ ﺍﻻﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﻮﺍﺭﺩﺓﻓﻴﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺟﺎﺀﺕ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺗﻌﺴﻒ ﻓﻲ ﺗﺄﻭﻳﻼﺗﻬﺎ

Telah kami terangkan juga, bahwa kebanyakan salaf dan umat, mengatakan hal ini dan membiarkan hadits seperti sebagaimana datangnya tanpa harus susah-susah mencari makna yang sebenarnya “.(Fathul Bari Syarah Hadits no 553)

  • Ancaman bagi Orang yang Meninggalkan Shalat Ashar

Di antara dalil yang menunjukkan pentingnya kedudukan shalat ashar adalah ancaman bahwa barangsiapa yang meninggalkannya, maka terhapuslah pahala amal yang telah dikerjakannya di hari tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺗَﺮَﻙَ ﺻَﻼَﺓَ ﺍﻟْﻌَﺼْﺮِ ﻓَﻘَﺪْ ﺣَﺒِﻂَ ﻋَﻤَﻠُﻪُ

Barangsiapa yang meninggalkan shalat ashar, maka terhapuslah amalannya .” (HR. Bukhari no. 553, An-Nasa’i 1/83 dan Ahmad 5/349.)

✅ Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Yang tampak dari hadits ini – dan Allah lebih mengetahui tentang maksud Rasul-Nya- adalah bahwa yang dimaksud ‘meninggalkan’ ada dua kondisi. Pertama, meninggalkan shalat secara keseluruhan, tidak melaksanakan shalat sama sekali. Maka hal ni menyebabkan terhapusnya seluruh amal.

(Kondisi ke dua), meninggalkan shalat tertentu di hari tertentu. Maka hal ini menyebabkan terhapusnya amal di hari tersebut. Terhapusnya amal secara keseluruhan adalah sebagai balasan karena meninggalkannya secara keseluruhan, dan terhapusnya amal tertentu adalah sebagai balasan karena meninggalkan perbuatan tertentu.” (Ash-Shalah wa Hukmu Taarikiha hal.43-44.)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

« ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺗَﻔُﻮﺗُﻪُ ﺻَﻠَﺎﺓُ ﺍﻟْﻌَﺼْﺮِ، ﻛَﺄَﻧَّﻤَﺎ ﻭُﺗِﺮَﺃَﻫْﻠَﻪُ ﻭَﻣَﺎﻟَﻪُ »

“ Orang yang terlewat (tidak mengerjakan) shalat ashar, seolah-olah dia telah kehilangan keluarga dan hartanya.”(HR. Bukhari no. 552 dan Muslim no. 200,626.)

Ketika seseorang kehilangan keluarga dan hartanya, maka dia tidak lagi memiliki keluarga dan harta. Maka ini adalah perumpamaan tentang terhapusnya amal seseorang karena meninggalkan shalat ashar.

Sehingga, biarkanlah arti hadits inisebagaimana datangnya. Tidak perlu diartikan, maksudnya seperti ini dan seperti itu.Dengan maksud agar orang yang mendengarkannya takut dan tidak melakukan apa yang dilarang dalam hadits.

Wallahu a’lam, wabillahittaufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:

Ustadz Ratno Abu Muhammad Lc, ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ

Mendengarkan musik, baik di bulan Ramadhan dan di luar Ramadhan(Terutama Musik Sabyun Gambas atau Lagu Nasyid yg Mengambil Lagu Populer Seperti Lagu India Lagu Dangdut)

Karena Hukumnya Haram dan Karena Bisa Mengurangi dan Membatalkan Pahala Puasa

Hal ini karena adanya dalil-dalil dai Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menunjukkan haramnya musik.

✅ Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman [31]: 6)

✅ ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

الْغِنَاءُ وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ، يُرَدِّدُهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia semata, (yang dimaksud dengan ‘perkataan yang tidak berguna’) adalah nyanyian.”

✅ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

Sungguh akan ada sekelompok umatku yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat-alat musik.”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq dengan shighat jazm (ungkapan tegas).

Dzahir hadits di atas menunjukkan haramnya alat-alat musik. Hal ini karena “menghalalkan” atau “menganggap halal” tentu tidak akan terjadi kecuali pada hal-hal yang pada asalnya diharamkan. Dan benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena kita jumpai orang-orang yang menganggap alat-alat musik itu halal.

Sebagian kaum muslimin hobi memainkan alat-alat musik, mereka seakan berpaling dan tidak peduli terhadap larangan ini. Mereka habiskan waktunya di bulan Ramadhan untuk mendengarkan musik demi menunggu waktu berbuka puasa. Padahal, kewajiban kita adalah mengikuti petunjuk dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, menjauhi segala hal yang Allah Ta’ala haramkan, lebih-lebih jika kita berada di bulan Ramadhan.

  • ➡ 2.Mengucapkan kata-kata dusta dan perbuatan sia-sia

Perkataan dusta, serta semua ucapan dan perbuatan yang haram hendaknya dijauhi sejauh-jauhnya, apalagi di bulan Ramadhan.

Seperti Bermain Game Di Hp Android Seperti Mobile Legend Dan Permainan Android,PC,Ps4,Xbox Lainnya. Karena Bisa Mengurangi dan Membatalkan Pahala Puasa

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan yang haram, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minuman.” (HR. Bukhari no. 1903)

Dalam riwayat lainnya disebutkan,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ وَالجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan yang haram, juga berperilaku seperti perilaku orang-orang bodoh, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minuman.” (HR. Bukhari no. 6057)

Sehingga wajib bagi orang yang berpuasa untuk menjauhi ucapan-ucapan kotor, caci maki, juga akhlak-akhlak yang jelek, seperti ghibah (menggunjing), adu domba, dusta atau kebohongan, dan penyakit-penyakit lisan yang lainnya.

Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ’Setiap amal anak adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor, jangan pula berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencaci dan mengajak berkelahi maka katakanlah, ’Saya sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)

Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ

Tidaklah puasa itu hanya sekedar menahan dari makan dan minum. Akan tetapi, hakikat puasa adalah menahan diri dari ucapan kotor dan sia-sia. Jika ada seseorang yang mencacimu dan berbuat usil kepadamu, maka ucapkanlah, ‘Saya sedang berpuasa, saya sedang berpuasa.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya no. 1996)

Orang yang sedang berpuasa wajib untuk menghindari semua hal di atas, demikian pula ketika sedang tidak berpuasa. Akan tetapi, hal ini lebih ditekankan lagi saat puasa Ramadhan mengingat keutamaan bulan Ramadhan dan ibadah puasa di bulan itu.

  • ➡ 3.Mengumbar pendengaran dan penglihatan terhadap hal-hal yang diharamkan

✅ Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 36)

Anggota badan yang dipercayakan kepada seorang hamba, semua akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah diperbuat. Sebagian kaum muslimin terbiasa mendengar dan melihat hal-hal yang haram, seperti melihat wanita-wanita yang berdandan yang mengajak kepada fitnah. Seperti Menonton Acara Televisi yg Menampilkan Perempuan Tidak Menutup Aurat. Ini semua wajib ditinggalkan, baik di bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan. Tentu saja, pada bulan Ramadhan lebih ditekankan lagi, karena bulan ini adalah bulan ketaatan dan bulan ampunan.

Betapa indahnya kondisi seorang muslim jika dia menjadikan bulan Ramadhan sebagai sarana untuk meninggalkan berbagai syahwat pendengaran dan penglihatan yang haram, dan juga semua syahwat lainnya. Sebagaimana dalam hadits qudsi,

يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي

Dia menjauhi makanan, minuman, dan syahwatnya karena Aku.” (HR. Ahmad dalam Musnad no. 9112, shahih)

  • Tidak Boleh Menyambung Puasa Secara Dua Hari Ber­turut-turut atau Lebih

✅ Seseorang juga diharamkan untuk berpuasa Wishal.

Puasa Wishal artinya menyambung puasa secara dua hari berturut-turut atau lebih tanpa berbuka. Puasa Wishal diharamkan atas umat ini, kecuali bagi Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, menurut pendapat yang lebih kuat dari kalangan ulama.

✅ Hal tersebut berdasarkan hadits Abdullah bin Umar, Abu Hurairah, Aisyah, dan Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhum riwayat Al-Bukhâry dan Muslim. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menyatakan,

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْوِصَالِ قَالُوْا: إِنَّكَ تُوَاصِلُ قَالَ : إِنِّيْ لَسْتُ مِثْلَكُمْ إِنِّيْ أُطْعَمُ وَأُسْقَى

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam melarang (seseorang untuk) berpuasa wishal, maka para sahabat berkata, ‘Sesungguhnya, (bukankah) engkau (berpuasa) Wishal?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya saya tidak seperti kalian. Saya diberi (kekuatan) makan dan minum.’.

➡ Hal-Hal Makruh bagi Orang yang Berpuasa

➡ Berbekam (Al-Hijâmah)

Berbekam (mengeluarkan darah kotor dari kepala dan selainnya) adalah makruh karena bisa melemahkan tubuh dan memaksa orang yang berbekam untuk berbuka puasa. Demikian pula, donor darah semakna dengan hal ini.

✅ Hukum ini merupakan bentuk kompromi terhadap dua hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, yaitu antara hadits mutawatir, yang di dalamnya, beliau menyatakan,

أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُوْمُ

Orang yang membekam dan orang yang dibekam (dianggap) telah berbuka puasa.”

✅ Dan hadits Ibnu Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ riwayat Al-Bukhâry bahwa Ibnu Abbas berkata,

احْتَجَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ صَائِمٌ

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berbekam, padahal beliau dalam keadaan berpuasa.”

  • Memeluk dan Mencium Hingga Membangkitkan Syahwat

Memeluk dan mencium istri hingga membang­kitkan syahwat hukumnya makruh jika dilakukan oleh orang yang berpuasa. Hal tersebut berdasarkan hadits riwayat Abu Dâud, dengan sanad yang shahih dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, bahwa Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu berkata,

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمَبَاشَرَةِ لِلصَّائِمِ فَرَخَّصَ لَهُ وَأَتَاهُ آخَرُ فَسَأَلَهُ فَنَهَاهُ فَإِذَا الَّذِيْ رَخَّصَ لَهُ شَيْخٌ وَالَّذِيْ نَهَاهُ شَابٌّ

Sesungguhnya, seseorang lelaki bertanya kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tentang hal memeluk (istri) bagi orang yang berpuasa, maka beliau memberikan keringanan kepadanya (untuk melakukan hal tersebut), dan laki-laki lain datang untuk bertanya kepada beliau, lalu beliau pun bertanya kepadanya, maka beliau melarangnya (untuk melakukan hal tersebut), ternyata orang yang diberikan keringanan adalah orang tua dan orang yang dilarang terhadap hal tersebut adalah seorang pemuda.”

  • Puasa Wishal Hingga Sahur

Puasa Wishal, yakni menyambung puasa dari Maghrib (yang merupakan waktu untuk berbuka puasa) sampai waktu sahur, lalu berbuka puasa sambil makan sahur untuk puasa hari selanjutnya, adalah makruh menurut pendapat yang lebih kuat di kalangan ulama berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallâhu ‘anhu riwayat Al-Bukhâry bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُوَاصِلُوا، فَأَيُّكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوَاصِلَ فَلْيُوَاصِلْ حَتَّى السَّحَرِ

Janganlah kalian berpuasa Wishal. Barangsiapa yang menyambung, sambunglah sampai waktu sahur.”

Perkara-Perkara yang Menjadikan Seseorang Tetap Diperbolehkan untuk Berpuasa

  • ➡ Kesiangan dalam Keadaan Junub

Orang yang sedang junub yang bangun kesia­ngan diperbolehkan untuk berpuasa berdasar­kan hadits Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallâhu ‘anhumâ riwayat Al-Bukhâry dan Muslim bahwa Aisyah berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُوْمُ

Sesungguhnya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, kadang shubuh mendapati­nya (yakni beliau memasuki shubuh), padahal beliau sedang junub (setelah “bercampur” dengan) istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa.”

Tidak ada perbedaan dalam hal ini, baik keadaan junub seseorang diakibatkan oleh mimpi atau jima’.

  • Kesiangan dalam Keadaan Telah Suci terhadap Haidh atau Nifas Sebelum Shubuh

Demikian pula, meskipun bangun setelah fajar terbit dan belum sempat mandi junub, perempuan yang telah suci terhadap haidh atau nifas sebelum fajar terbit diperbolehkan untuk berpuasa menurut pendapat yang lebih kuat dari kalangan ulama berdasarkan hadits di atas

  • Bersiwak

Orang yang berpuasa diperbolehkan pula untuk bersiwak, bahkan hal ter­sebut merupakan sunnah, menggunakan kayu siwak atau sikat gigi.

  • Memakai Pasta Gigi

Orang yang berpuasa diperbolehkan pula untuk menggunakan pasta gigi, tetapi dengan menjaga jangan sampai menelan sesuatu ke dalam kerongkongannya juga jangan menggunakan pasta gigi yang berpengaruh kuat ke dalam perut dan tidak bisa dikontrol.

✅ Pembolehan dua hal terakhir di atas berdasarkan ha­dits-hadits umum yang menunjukkan akan kesunnahan bersiwak, seperti hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu riwayat Al-Bukhâry dan Muslim bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صُلَاةٍ

Andaikata tidak memberatkan ummatku, niscaya mereka akan kuperintahkan untuk bersiwak setiap akan mengerjakan shalat.”

✅ Selain itu, Malik, Ahmad, An-Nasa`i dan selainnya, dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, meriwayatkan dengan lafazh,

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوءٍ

Andaikata tidak memberatkan ummatku, niscaya mereka akan kuperintahkan untuk bersiwak bersama setiap wudhu.”

Dua hadits ini menunjukkan kesunnahan bersiwak secara mutlak tanpa membedakan, baik dalam keadaan berpuasa maupun tidak.

~~~~••••~~~~(Lanjut ke Halaman 2) ——–