Pelebur Dosa Dan Hal-Hal yang Bisa Mensucikan Dosa-Dosa Kita di Dunia Ini? 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Menzhalimi Budak, Dosa Besar

2.Pahala Bagi Orang yang diGhibah

3.Adab Ziarah ke Masjid Nabawi agar Ssuai dengan Tuntunan (Bag. 1)

4.Taubatnya Orang Yang Meninggalkan Shalat

5.Manakah yang Lebih Utama, Wanita Shalat di Rumah atau.di Masjid? (Bag. 4) 

6.Apakah Ada Dosa Karena Tidak Tahu?

7.Apakah Tinta Yang Menghalangi Kulit Harus Dibersihkan Ketika Wudhu?

8.Status Darah Kering Pada Luka Atau Pembedahan 

9.Dia Telah Balig Tapi Belum Puasa Ramadan

10.Apakah Harus Memperingatkan Apabila Melihat Orang Yang Makan Karena Lupa Di Bulan Ramadan

11.Datang Bulannya Tidak Normal Karena Faktor KB, Lalu Bagaimanakah Dengan Shalat dan Puasanya ?

==

Firanda Andirja · Taubat Sebagai Kunci Sukses

Syafiq Basalamah · Pemuda Tonggak Bangsa

Syafiq Basalamah · Untukmu

Syafiq Basalamah · Sisakan Waktumu untuk Akhirat

Syafiq Basalamah · Mumpung Masih Hidup

Syafiq Basalamah · Hijrah Bukan Hanya Penampilan

Syafiq Basalamah · Cermin Sebuah Keyakinan

Muhammad Nuzul · Wali Allah Keistimewaannya

Muhammad Nuzul · Pahala yang Terus Mengalir

Muhammad Nuzul · Menjadi Wali Mungkinkah

Syafiq Basalamah · Bekal Menuju Allah

Muhammad Nuzul · Majelis Ilmu Ibadah

Muhammad Nuzul · Muliakan Dia

Pelebur-Pelebur Dosa-Ust Abdullah Zaen

Amalan-amalan Pelebur Dosa Oleh Ustadz AbuIhsan Al Maidani MA

10 Pelebur Dosa” Oleh Ustadz MuhammadAbduh Tausikal MSc

Download [Audio] Kajian “Amal – Amal Penghapus Dosa” & “Menambah Pahala Sesuai Sunnah” Oleh Ustadz Nafi’ Zainuddin Lc

Amalan Pelebur Dosa” Oleh Ustadz Abu YahyaBadrussalam Lc

Doa Pelebur Dosa” Oleh Ustadz Ahmad Zainuddin Lc

=

Ebook

Pintu Pahala dan Penghapus Dosa

PINTU-PINTU PAHALA DAN PENGHAPUS DOSA

Pintu-pintu Pahala dan Penghapus DosaPenulis: Syaikh Abdurrohman al-Jami

Amalan Singkat Penghapus Dosa

=========

➡ Pelebur Dosa Dan Hal-Hal yang Bisa Mensucikan Dosa-Dosa Kita di Dunia Ini?

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR

Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1

Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ

Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM

Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR

Segala puji bagi Allah ta’ala, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam.

Di penghujung tahun 2006, ketika penulis naik taksi menuju Masjid Nabawi, sopir taksi yang kebetulan bekerja sebagai satpam di perumahan dokter rumah sakit Su’udi Almani bercerita, “Tadi malam sekitar jam sepuluh, setelah para dokter pulang kerja, sambil menuju ke rumah mereka masing-masing, di jalan mereka saling berbincang-bincang. Di antara perbincangan itu, obrolan antara dua dokter, dokter A berkata kepada dokter B, “Wahai fulan tolong besok segera beritahukan kepada saya hasil tes laboratorium pasien C, saya ingin segera mengetahui jenis penyakit yang ia derita”. Dokter B menjawab, “InsyaAllah dengan senang hati”. Kemudian mereka masuk ke rumah masing-masing.

Lima menit kemudian si satpam tersebut terkejutkan dengan deringan telpon di posnya yang ternyata berasal dari istri dokter A, sambil teriak dan menangis histeris dia mengabarkan bahwa suaminya begitu masuk pintu rumah tiab-tiba ia terjatuh dan langsung menghembuskan nafas terakhirnya!

Padahal beberapa menit yang lalu dia masih berbincang-bincang tentang pasien dia yang sakit, ternyata justru dia yang mendahului pasiennya menghadap Allah ta’ala.

✅ Subhanallah, benarlah apa yang difirmankan Allah ta’ala,

“وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ” (لقمان: 34).

Artinya: “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. QS. Luqman: 34.

Yang jadi pertanyaan: sudah siapkah kita jika tiba-tiba nyawa kita dicabut? Sudahkah bekal yang kita persiapkan cukup untuk menghadap Allah ta’ala? Apakah ada di antara kita yang ingin seperti apa yang diceritakan oleh Allah ta’ala,

“وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحاً غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ” (فاطر: 37).

Artinya: “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Rabbi, keluarkanlah kami. Niscaya kami akan mengerjakan amalan shalih berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan”. Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu  dalam masa yang cukup bagi orang yang mau berpikir?! Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (QS: Faathir 37).

  • Memang benar tidak ada di antara kita yang selamat dari dosa..

✅ Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam  bersabda,

“كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“

Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat“. HR Tirmidzi dan al-Hakim, al-Hakim berkata, “isnadnya shahih”. Al-Albani menghasankan hadits ini.

Kami kira tidak ada di antara kita yang merasa bahwa dia bukan keturunan nabi Adam. Karena masing-masing dari kita adalah anak keturunan nabi Adam mestinya kitapun juga merasa bahwa dosa-dosa kita banyak, diakui ataupun tidak diakui. Kalau tidak percaya, mari kita amati kehidupan kita sehari-hari mulai dari bangun tidur sampai kembali merebahkan badan di kasur. Niscaya dalam satu hari saja dosa-dosa yang kita lakukan tidak akan terhitung jumlahnya.  Ini baru satu hari dan baru dosa-dosa yang ketahuan, bagaimana jika satu tahun? Bagaimana jika dikumpulkan selama 23 tahun?

✅ Junjungan besar kita Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah menggambarkan dampak buruk dari dosa dalam sabdanya,

“إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}”.

Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu bintik hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu dan beristighfar niscaya bintik hitam itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa dan terus menerus berbuat; bintik-bintik hitam itu akan terus bertambah hingga menghitamkan semua hatinya, itulah penutup yang difirmankan oleh Allah (yang artinya): “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutup hati mereka“. HR Tirmidzi, dia berkata: “Hasan shahih”, dan al-Hakim, dia berkata, “Shahih menurut syarat Muslim”, serta dihasankan oleh Syeikh Al Albani.

✅ Maka tidaklah mengherankan jika seringkali kita merasakan bahwa hati ini mengeras; membaca ayat-ayat Al Qur’an hati ini tidak tergetar, mendengar nasehat-nasehat para ulama kalbu ini tidak luluh. Padahal Allah  telah mensifati orang yang beriman dalam frman-Nya,

)إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ(  (الأنفال:2)

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka“. Al Anfal: 2.

Orang-orang yang merasa dosanya telah menggunung dan dia merasa bersalah, lebih baik daripada orang-orang yang dosanya sudah menumpuk tetapi tidak merasa atau bahkan merasa suci dan alim!

✅ Ketahuilah bahwa semua amalan kita dicatat di sisi-Nya, Allah ta’ala berfirman,

)مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ( (ق: 18)

Artinya: “Tiada suatu ucapan yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat yang selalu hadir“. QS. Qaf: 18.

Bukan hanya dicatat saja, tapi juga akan diberi ganjaran yang setimpal. Dan jika Allah ta’ala  telah menyiksa, maka sungguh adzab-Nya sangatlah pedih,

)إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ( (البروج:12)

Artinya: “Sesungguhnya adzab Rabbmu benar-benar keras.”. QS. Al Buruj: 12.

✅ Dan dalam surat al-Fajr ayat 25:

 (  فَيَوْمَئِذٍ لا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ)

Artinya: “Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksaan-Nya.”

✅ Oleh karena itu pada suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah bersabda:

وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ رَأَيْتُمْ مَا رَأَيْتُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا ». قَالُوا وَمَا رَأَيْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « رَأَيْتُ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ ».

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya (Allah), seandainya kalian wahai para sahabatku, melihat apa yang yang aku lihat, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis”, mereka bertanya,”Apa yang engkau lihat wahai Rasulullah?”, Beliau menjawab, ” Aku melihat surga dan neraka.” HR. Bukhari dan Muslim.

➡ Sebenarnya bagaimanakah kondisi neraka hingga para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam menangis sesenggukan tatkala mengingatnya?

✅ Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim Nabi shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan keadaan adzab yang paling ringan di neraka:

« إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا مَنْ لَهُ نَعْلاَنِ وَشِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ يَغْلِى مِنْهُمَا دِمَاغُهُ كَمَا يَغْلِى الْمِرْجَلُ مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدُّ مِنْهُ عَذَابًا وَإِنَّهُ لأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا ».

Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang yang mengenakan sepasang sandal dari api, yang dengan sebabnya otaknya mendidih, sebagaimana mendidihnya air di dalam bejana. Dia mengira bahwa tidak ada satupun penghuni neraka yang lebih keras adzabnya darinya.  Padahal ia adalah orang yang yang paling ringan adzabnya.” HR. Buhari dan Muslim.

Mengapa dia sampai mengira semacam itu? Karena api di neraka bukanlah seperti api di dunia.

« نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِى يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ »

Api kalian –yang dinyalakan bani Adam (di dunia)- hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian neraka Jahannam.” HR Bukhari dan Muslim.

➡ Seberapa dalamkah neraka? Kita akan dapatkan jawabannya dalam kisah di bawah ini,

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « تَدْرُونَ مَا هَذَا ». قَالَ قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « هَذَا حَجَرٌ رُمِىَ بِهِ فِى النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا فَهُوَ يَهْوِى فِى النَّارِ الآنَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا ».

Abu Hurairah berkata, “Suatu hari kami duduk-duduk bersama Nabi shallallahu’alaihiwasallam, tiba-tiba terdengarlah suara benda jatuh, serta merta Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda, ” Tahukah kalian suara apa itu?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu,” maka beliau bersabda, “Benda itu adalah batu yang Allah lemparkan ke dalam neraka Jahanam sejak 70 tahun yang lalu sekarang baru sampai ke dasarnya“. HR. Muslim.

Apa makanan dan minuman penghuni neraka? Allah ta’ala berfirman,

 )لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إلا مِنْ ضَرِيعٍ  لا يُسْمِنُ وَلا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ( (الغاشية: 6-7).

Artinya: “Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri  yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar“. QS. Al-Ghasyiyah: 7-6.

إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ * طَعَامُ الأثِيمِ * كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ * كَغَلْيِ الْحَمِيم

Artinya: “Sesungguhnya pohon Zaqqum itu makanan orang yang banyak dosa ia bagaikan kotoran minyak yang mendidih di dalam perut seperti mendidihnya air yang sangat panas“.  QS. Ad-Dukhan 43-46.

)وَسُقُوا مَاءً حَمِيماً فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ( (محمد:15)

Artinya: “Mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong motong ususnya“. QS. Muhammad: 15.

) لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا (23) لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا (24) إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا (

Artinya: “Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapatkan) minuman selain air  yang mendidih dan nanah“. QS. An-Naba: 23-25.

➡ Apakah tatkala usus mereka terputus-putus mereka langsung mati?  Ya, tapi akan dihidupkan kembali, padahal satu hari di neraka sama dengan seribu tahun di dunia. Allah Ta’ala berfirman:

)وَإِنَّ يَوْماً عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ( (الحج:47)

Artinya: “Sesungguhnya satu hari disisi Rabbmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” Al Hajj: 47.

Seandainya kita di dalam neraka setengah sehari hari saja, berarti kita akan mendekam di dalamnya selama 500 tahun / 5 abad. Na`udzu billah min dzalik…

Inilah siksaan yang Allah ta’ala sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang bergelimang dosa. Tapi ingat! Jangan sampai kita berputus asa karena banyaknya dosa, sebab setan akan masuk dari pintu keputusasaan seorang hamba seraya berkata, “Dosa kamu sudah terlampau banyak, tidak akan mungkin Allah ta’ala mengampunimu”, hingga akhirnya ia terus menerus berbuat dosa.

✅ Tidak demikian! Allah ta’ala telah berfirman:

) قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ( (الزمر:53)

Artinya: “Katakanlah,”Hai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Az-Zumar 53)

✅ Allah ta’ala juga telah menegaskan dalam surat Al Hijr: 49-50,

)نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ  وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ(   (الحجر: 49-50)

Artinya: “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, “Bahwa sesungguhnya Akulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih“. QS. Al-Hijr: 49-50.

➡ Tatkala membaca ayat di atas, barangkali akan timbul pertanyaan di benak sebagian kita; Bagaimana Allah yang Maha penyayang tapi juga adzab-Nya sangat pedih? Inilah inti dari pembahasan kita kali ini.

Meskipun siksaan Allah ta’ala di hari Akhir amatlah keras, tapi dengan kasih sayang-Nya, Dia memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi para hamba yang bergelimang dosa untuk mensucikan dirinya dari kotoran dosa-dosa di dunia ini, sehingga tatkala dia menghadap ke hadirat Allah ta’ala kelak, dia akan menghadap dalam keadaan suci bersih dari noda-noda dosa, sama sekali tidak disiksa di api neraka, bahkan dia akan masuk ke surga dengan penuh kedamaian.

➡ Lalu apa saja hal-hal yang bisa mensucikan dosa-dosa kita di di dunia ini?

Ulama tersohor yang dikenal kepiawaiannya dalam memberikan resep-resep manjur pengobatan penyakit-penyakit hati; Ibnu Qayyim al-Jauziyah, telah  menjawab pertanyaan  ini dalam penjelasannya, “Telah tersedia bagi orang-orang yang bergelimang dosa  tiga telaga untuk mensucikan diri mereka di dunia. Seandainya mereka tidak bersuci di dalamnya niscaya mereka akan disucikan di lembah neraka jahanam. Tiga telaga itu adalah telaga taubat nasuha, telaga amal shaleh dan telaga musibah“[1].

Berikut ini penjabaran masing-masing dari telaga tersebut di atas:

  • ➡ 1. Telaga Taubat Nasuha

✅ Benarkah taubat nasuha akan  menghapuskan dosa-dosa? apa dalilnya?

) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَحِيماً ( (الفرقان: 70(

Artinya: “Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amalan shaleh, maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”  (QS:Al Furqan:70).

)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ( (التحريم:8)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”(QS. At Tahrim: 8)

Benar, Allah ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertaubat dengan taubat yang nasuha (semurni-murninya/sebenar-benarnya), bukan taubat sambel! Bukan model taubat seorang perokok yang apabila mendapat giliran meronda dan bertemu temannya yang masih merokok lantas menawarinya rokok, dia kembali merokok.

Perlu diketahui bahwa taubat nasuha memiliki empat syarat[2]:

1.Meninggalkan maksiat.

2.Menyesali kemaksiatan yang telah ia perbuat.

3.Bertekad bulat untuk tidak mengulangi maksiat itu selama-lamanya.

4.Seandainya maksiat itu berkaitan dengan hak orang lain, maka dia harus mengembalikan hak itu kepadanya, atau memohon maaf darinya.

Mari kita membaca penjelasan berikut satu persatu.

  • ➡ Meninggalkan maksiat .

Maksiat itu bisa berwujud mengerjakan sesuatu yang diharamkan oleh Allah ta’ala atau bisa berwujud meninggalkan sesuatu yang diwajibkan oleh Allah ta’ala. Mengerjakan yang haram seperti melihat perempuan yang bukan mahramnya, maka tidak bisa dinamakan taubat kalau matanya tetap melotot pada acara dangdutan di TV misalnya.  Meninggalkan yang wajib contohnya: meninggalkan shalat berjamaah di masjid (bagi kaum pria), kalau benar-benar seseorang ingin bertaubat, maka jika dia mendengar adzan shubuh, dia harus berusaha bangkit dari springbednya yang empuk, kemudian menyentuh air yang dingin (berwudhu), lalu berjalan ke masjid walaupun mengantuk. Bukannya malah menarik selimut tebalnya kembali!

  • Menyesali kemaksiatan yang telah diperbuat.

Setiap dia mengingat dosa yang telah dia perbuat, maka dia akan selalu menyesalinya dan merasa sedih sehingga dia beristighfar dan meneteskan air mata. Bukan malah sebaliknya, merasa bangga dengan kemaksiatannya yang silam, bahkan bercerita kepada kawan-kawannya bahwa dia pernah menonton film yang tidak layak di tonton bersama teman-temannya yang dulu Wal’iyaadzu billaah…

  • Bertekad bulat dan bersungguh-sungguh untuk tidak mengulangi maksiat itu selama-lamanya.

Orang yang tangannya telah berlumuran dengan noda-noda dosa, sehingga  kemaksiatan telah menjadi tradisi hidupnya, dia akan merasa berat dalam berusaha untuk meninggalkan maksiat, akan tetapi jika dia bersungguh-sungguh ingin bertaubat dan memohon pertolongan dari Allah ta’ala, pasti Allah ta’ala akan menolongnya, dan semuanya akan terasa ringan insya Allah.

  • Mengembalikan hak bani Adam.

Contohnya mencuri, jika dia pernah mencuri, maka dia wajib mengembalikan barang curian tersebut kepada pemiliknya. Jika dia tidak menemukannya, maka dia harus  berusaha mencarinya sampai bertemu dengannya. Jika sudah meninggal, dia temui anaknya, cucunya, buyutnya dan seterusnya dari kerabat atau keturunannya. Jika tidak berhasil juga, maka dia bersedekah dengan mengatasnamakan pemiliknya. Kemudian seandainya pada suatu hari dia bertemu dengan pemiliknya maka dia harus memberitahukan kepadanya dan memberikan pilihan, antara merelakan sedekah yang pernah dikeluarkan atas namanya atau menginginkan barang tersebut kembali. Jika dia menginginkan yang kedua, maka dia wajib memenuhi permintaannya.

✅ Mungkin langkah-langkah ini terasa berat, tapi kalau kita renungkan kembali sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam di bawah ini niscaya itu akan terasa ringan.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: « أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ». قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ ».

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut / jatuh pailit itu?”, para sahabat menjawab, “Orang yang pailit di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang perniagaan…”.  Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi dia telah memaki orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain, memukul orang lain. Maka diambillah pahala amalan-amalannya dan diberikan kepada ini dan kepada itu (orang lain yang dia dzalimi tersebut -pen), apabila amal kebaikannya sudah habis, sedangkan tanggungan dosanya belum juga tuntas, maka dosa-dosa mereka akan dicampakkan kepadanya, lalu ia dimasukkan ke dalam neraka“. HR. Muslim

✅ Itulah pentingnya taubat. Kita yang banyak dosa ini seharusnya selalu bertaubat. Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

« يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ ».

Wahai para manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah! (Karena) sesungguhnya aku bertaubat dalam satu hari sebanyak seratus kali.” HR. Muslim.

Ya, begitulah Nabi shallallahu’alaihiwasallam, padahal Allah ta’ala sudah mengampuni dosa-dosa beliau yang lalu dan yang akan datang menjamin beliau masuk surga. Lalu bagaimana dengan kita…?

~~~—–(Lanjut ke Halaman 2) —-~~~~~