Salafi Dituduh Sebagai Takfiri (Suka Mengkafirkan) ?

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

Prinsip Ahlus Sunnah Terhadap Masalah Kekufuran dan Takfir-Ustadz Yazid Jawas

Bag1:Bag2:

Nasehat Bagi Gerakan Takfiri-Ustadz Sofyan Baswedan

Takfiri-Ustadz Afifi Abdul Wadud

Ciri-Ciri Kelompok Takfiri-Ustadz Abu Ihsan Al Atsary

Meluruskan Faham Takfir-Ustadz Muhammad Wasitho

Bag1:Bag2:

=
Ebook

Mewaspadai Paham Takfiri

••

➡ Salafi Dituduh Sebagai Takfiri ? (Suka Mengkafirkan)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah.menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR

Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1

Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ

Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM

Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR

=====

Ahmad Firdaus · Pentingnya Takwa dalam Kehidupan

Sufyan Bafin Zen · Kehormatan Seorang Muslim

  • SALAFI DITUDUH SEBAGAI TAKFIRI ? :.

[Simak penjelasan kami berikut ini sebanyak 6 (enam) bagian secara bertahap dari buku “Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah” poin ke 43 Penerbit: Pustaka Imam Syafi’i, buah karya Al Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas -hafizhahullah-.]

➡ •• PRINSIP AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH TERHADAP MASALAH KUFUR DAN TAKFIR (PENGKAFIRAN) ••

➡ || Bagian 1 ||

Prinsip dan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah tentang masalah kufur dan takfir (pengkafiran) adalah sebagai berikut :

  • ➡ A. Definisi Kufur

Kufur secara bahasa (etimologi) berarti menutupi. Sedangkan menurut syara’ (terminologi), kufur adalah tidak beriman kepada Allah Subhanau wa ta’ala dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wasallam baik dengan mendustakannya atau tidak mendustakannya

Majmuu’ Fatawaa (XII/335) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan ‘Aqiidatut Tauhiid (hlm.81) oleh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah al-Fauzan

Orang yang melakukan kekufuran, tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya disebut kafir.

  • ➡ B. Prinsip-prinsip Ahlus Sunnah dalam Kufur dan Takfir

✅ 1. Pengkafiran adalah hukum syar’i dan tempat kembalinya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wasallam

✅ 2. Barang siapa yang tetap keislamannya secara meyakinkan, maka keislaman itu tidak bisa lenyap darinya kecuali dengan sebab yang meyakinkan pula.

Majmuu’ Fatawaa (XII/446) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

✅ 3. Tidak setiap ucapan dan perbuatan yang disifatkan nash sebagai kekufuran merupakan kekafiran yang besar (kufur akbar) yang mengeluarkan seseorang dari agama, karena sesungguhnya kekafiran itu ada dua macam: kekafiran kecil (asghar) dan kekafiran besar (akbar). Maka, hukum atas ucapan ucapan maupun perbuatan-perbuatan ini sesungguhnya berlaku menurut ketentuan metoda para ulama Ahlus Sunnah dan hukum-hukum yang mereka keluarkan

➡ || Bagian 2 ||

✅ 4. Tidak boleh menjatuhkan hukum kafir kepada seorang Muslim, kecuali telah ada petunjuk yang jelas, terang dan mantap dari Al-Quran dan As-Sunnah atas kekufurannya. Maka, dalam permasalahan ini tidak cukup hanya dengan syubhat dan zhan (persangkaan) saja.

Ahlus Sunnah tidak menghukumi pelaku dosa besar tersebut dengan kekafiran. Namun menghukuminya sebagai bentuk kefasikan dan kurangnya iman apabila bukan dosa syirik dan dia tidak menganggap halal perbuatan dosanya. Hal ini karena Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu, bagi siapa yang Dia kehendaki, Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh, ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisaa’: 48)

✅ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan dengan keras tentang tidak bolehnya seseorang menuduh orang lain dengan ‘kafir’ atau ‘musuh Allah.’

✅ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Barang siapa yang mengatakan kepada saudaranya: ‘Wahai kafir’ maka ucapan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya. Apabila (saudaranya itu) seperti yang ia katakan (maka ia telah kafir), namun apabila tidak maka akan kembali kepada yang menuduh.” (HR.Muslim (no.60), Abu ‘Awanah (I/23), Ibnu Hibban (no.250, at-Ta’liiqaatul Hisan ‘alaa Shahiih Ibni Hibban) dan Ahmad (II/44) dari Sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.)

✅ Beliau bersabda (yang artinya):

“… Dan barang siapa yang menuduh kafir kepada seseorang atau mengatakan: ‘Wahai musuh Allah,’ sedangkan orang tersebut tidaklah demikian, maka tuduhan tersebut berbalik kepada dirinya sendiri.” ( HR. Muslim (no.61), dari Sahabat Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu.)

✅ Rasulullah bersabda (yang artinya):

Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan ataupun kekufuran, melainkan tuduhannya itu akan kembali kepada dirinya jika orang yang dituduh tidak seperti yang ia tuduhkan.” ( HR. Al-Bukhari (no. 6045) dan Ahmad (V/181), dari Sahabat Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu)

➡ Bagian 3 ||

✅ 5. Terkadang ada keterangan dalam Al Quran dan As Sunnah yang mendefinisikan bahwa suatu ucapan, perbuatan atau keyakinan merupakan kekufuran (bisa disebut kufur). Namun, tidak boleh seseorang dihukumi kafir kecuali telah ditegakkan hujjah atasnya dengan kepastian syarat-syaratnya, yakni mengetahui, dilakukan dengan sengaja dan bebas dari paksaan, serta tidak adanya penghalang (yang berupa kebalikan dari syarat-syarat tersebut.

✅ Syarat syarat seseorang bisa dihukumi kafir

1. Mengetahui (dengan jelas),

2. Dilakukan dengan sengaja, dan

3. Tidak ada paksaan.

✅ Sedangkan Intifaa-ul Mawaani’ (tidak ada penghalang yang menjadikan seseorang dihukumi kafir) yaitu kebalikan dari syarat tersebut di atas:

1. Tidak mengetahui,

2. Tidak disengaja, dan

3. Karena dipaksa.

Lihat Mujmal Masa-ilil Iman wal Kufr al-Ilmiyyah fi Ushubil Aqidah as-Salafiyyah (hlm 28-35, cet. II, th 1424 H) dan Majmu Fatawa (XII/498).

Dan yang berhak menentukan seseorang telah kafir atau tidak adalah para ulama yang dalam ilmunya dan para ulama Rabbani ( Rabbani adalah orang yang bijaksana, alim, dan penyantun serta banyak ibadah dan bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala. Lihat Tafsir Ibnu Katsir (I/405).) dengan ketentuan-ketentuan syariat yang sudah disepakati.

✅ 6. Ahlus Sunnah tidak mengkafirkan orang yang dipaksa (dalam keadaan diancam) selama hatinya tetap dalam keadaan beriman.

Barangsiapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapat azab yang besar.” (QS An-Nahl : 106).

➡ Bagian 4 ||

✅ 7. Kufrun Akbar(kekafiran besar) ada beberapa macam:

a. Juhud (mengingkari)

b. Takdzib (mendustakan)

c. Iba’ (sikap enggan)

d. Syakk (keraguan)

e. Nifaq (kemunafikan)

f. I’radh (sikap berpaling)

g. Istihza’ (memperolok-olok)

h. Istihlal (penghalalan)

✅ 8. Sebab-sebab yang dapat membawa kepada kekafiran besar ada 3 (tiga) macam: perkataan, perbuatan dan i’tiqad (keyakinan).

Di antara kufur ‘amali (perbuatan) dan qauli (ucapan) ada yang bisa mengeluarkan pelakunya dari agama dengan sendirinya dan tidak mensyaratkan penghalalan hati. Yaitu suatu perbuatan / perkataan yang jelas-jelas bertentangan dengan iman dari segala seginya, misalnya menghujat Allah, dan mencaci-maki Rasullullah shallallahu ’alaihi wasallam, bersujud kepada berhala, membuang mushaf Al Quran di tempat sampah, dan perbuatan-perbuatan lain yang semakna dengan itu.

Dijatuhkannya hukum kufur ini kepada orang-orang tertentu hanya boleh dilakukan setelah memenuhi syarat-syarat (kufur) yang bisa diterima, sebagaimana perbuatan-perbuatan lain yang menyebabkan kafir pelakunya.

✅ 9. Sesungguhnya amalan kekafiran adalah kufur dan dapat menyebabkan pelakunya menjadi kafir, sebab keadaannya menunjukkan kepada batinnya yang juga kufur. Ahlus Sunnah tidak mengatakan seperti yang diucapkan para ahli bid’ah: “Amalan kekafiran tidak kufur, tapi dia menunjukkan kepada kekufuran!” Perbedaan keduanya jelas

➡ Bagian 5 ||

✅ 10. Sebagaimana ketaatan merupakan sebagian dari cabang-cabang iman, demikian juga maksiat merupakan sebagian dari cabang kekafiran. Masing-masing sesuai dengan kadarnya.

✅ 11. Ahlus Sunnah tidak mengkafirkan seorang pun dari ahlul Qiblat (kaum Muslimin) karena dosa-dosa besarnya. Ahlus Sunnah menyebut mereka dengan Mukmin fasiq atau naasiqhul iimaan, dan mereka khawatir apabila nash-nash ancaman terjadi kepada pelaku dosa-dosa besar, walaupun mereka tidak kekal di dalam Neraka. Bahkan mereka akan bisa keluar dengan syafa’at para pemberi syafa’at dan karena rahmat Allah disebabkan masih adanya tauhid pada diri mereka. Pengkafiran karena dosa besar adalah madzhab Khawarij yang keji.

Lihat bahasan kufur dan takfir: Majmuu’ Fataawaa (XII/ 498) dan Mujmal Masaailil Iimaan wal Kufr al-’Ilmiyyah fii Ushuulil ‘Aqiidah as-Salafiyyah (hlm. 28-35, cet. II-1424H) oleh Musa Alu Nashr, ‘Ali Hasan al-Halaby al-Atsary, Salim bin ‘Ied al-Hilaly, Masyhur Hasan Alu Salman, Husain bin Áudah al-’Awayisyah, Baasim bin Faishal al-Jawaabirah, hafizhahumallah, al-Wajiiz fii ‘Aqiidatis Salafish Shaalih (hlm. 121-126, cet. II, Daarur Raayah-1422 H) oleh ‘Abdullah bin ‘Abdil Hamid al-Atsary, dimuraja’ah dan ditaqdim oleh beberapa ulama, dan Fitnatut Takfiir oleh Muhadditsul ‘Ashr Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany, taqdim oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz dan ta’liq oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahumallah, dikumpulkan oleh ‘Ali bin Husain Abu Lauz, cet. II, 1418H, Daar Ibnu Khuzaimah, Tabshiir bi Qawaa’idit Takfiir, Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid, cet. I, th.1423H, Mauqif Ahlis Sunnah min Ahli Ahwaa wal Bida’, karya Syaikh Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar Ruhaili.

➡ Bagian 6 ||

Perbedaan antara kufur besar dengan kufur kecil adalah:

✅ 1. Kufur besar mengeluarkan pelakunya dari agama islam dan menghapuskan (pahala) amalnya, sedangkan kufur kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, juga tidak menghapuskan (pahala) amalnya, tetapi bisa mengurangi (pahala)nya sesuai dengan kadar kekufurannya, dan pelakunya tetap dihadapkan dengan ancaman.

✅ 2. Kufur besar menjadikan pelakunya kekal di dalam Neraka, sedangkan kufur kecil, jika pelakunya masuk Neraka, maka ia tidak kekal didalamnya, (dan bisa saja Allah memberi ampunan kepada pelakunya sehingga ia tidak masuk Neraka sama sekali).

✅ 3. Kufur besar menjadikan halal darah dan harta pelakunya, sedangkan kufur kecil tidak demikian.

✅ 4. Kufur besar mengharuskan adanya permusuhan yang sesungguhnya, antara pelakunya dengan orang-orang Mukmin. Dan orang-orang Mukmin tidak boleh mencintai dan setia kepadanya, betapa pun ia adalah keluarga terdekat. Adapun kufur kecil, maka ia tidak melarang secara mutlak adanya kesetian, tetapi pelakunya dicintai dan diberi kesetiaan sesuai dengan kadar keimanannya, dan dibenci serta dimusuhi sesuai dengan kadar kemaksiatannya. Aqidatut Tauhiid (hlm. 84) oleh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan.

Wallaahu a’lam.

————— Selesai —————

  • Hukum Thoghut : Antara Kafir Otomatis dan Kafir dengan Perincian

Kenapa seorang Muslim yang berhukum dengan hukum Thoghut tidak langsung “OTOMATIS” dikafirkan, melainkan hanya dikafirkan dengan “PERINCIAN” setelah terpenuhi sebab, syarat, dan tidak ada udzur atau syubhat baginya?

➡ – Hmm, saya coba jawab dengan cara lain ya. Gpp kan?

✅ + Iya gpp.

➡ – Menurut antum orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah, dan yang mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah itu kafir nggak?

✅ + Tentu, kafir.

➡ – Bukankah itu berarti dia berhukum dengan hukum thoghut, karena dia sudah melewati batas hingga menghalalkan apa yang diharamkan Allah atau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah?

✅ + Ya, tentu. Ini hukum thoghut. Dia berhukum dengan hukum thoghut yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah, dan mengharamkan yang dihalalkan Allah. Dia kafir, jelas. Dia pengikut dan pembela hukum thoghut.

➡ – Khoir, tapi Rasulullah berkata bahwa sunguh benar-benar nanti akan ada ummatku yang menghalalkan zina, Sutera, khomr, dan alat-alat musik. Hadits tersebut shohih riwayat Bukhori.

Ok, lupakan masalah perkataan ma’azif (alat-alat musik) yang ada di hadits itu. Fokus kepada perkataan “Zina” dan “Khomr” dulu. Bukankah jelas zina dan khomr itu harom?

✅ Dan Rasulullah jelas menggunakan perkataan ( يَسْتَحِلُّونَ ) “menghalalkan” di situ. Namun kenapa Rasulullah tetap mengatakan mereka dengan perkataan ( أُمَّتِى ) ” ummatii” atau ummatku di situ? Bukankah ummat Rasulullah itu orang Islam, bukan orang kafir?

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik. ” (Hr. Bukhori)

✅ + Hmmmmm……

– Oleh karena itu orang-orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah itu memang perbuatan harom, kufur, dan terancam dikafirkan. Demikian juga dengan orang-orang yang berhukum dengan hukum Thoghut hingga menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, dan demikian juga sebaliknya.

Akan tetapi mereka tidak bisa “OTOMATIS” dikafirkan, kecuali dengan “PERINCIAN” dan verifikasi masalah sebab, syarat, dan udzur atau syubhatnya. Kalau itu terpenuhi baru dikafirkan.

Sebenarnya beda antara kami dan kalian itu hanya dalam masalah manhaj “OTOMATIS” dan manhaj “PERINCIAN”, kami juga sama-sama kok membenci dan mengingkari hukum Thoghut, sistemnya, dan pelakunya. Akan tetapi kami tidak gegabah dalam menghukumi pelakunya.

Apalagi hingga sampai menghasung pemberontakan, pembunuhan, dan terorisme kepada suatu pemerintahan negara beserta masyarakatnya. Yang mana hal itu akan menyebabkan tercabutnya nikmat Allah berupa keamanan, dan tumpahnya darah di mana-mana.

= ~~~~~ (Lanjut ke Halaman 2) ~~~~~~~