Ya Akhi…Maukah Engkau Menikahiku…?” Pentingnya Ketakwaan Sang Nakhoda dan Bolehkah Menghibahkan Diri
 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

3 cara Mendapat Ampunan Allah – Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc., M.A..webm
https://app.box.com/s/jeycnknr9csmx85rajbosglal4jltk5o

97 KITABUT TAUHID 17 UST. ABDUL HAKIM BIN AMIR ABDATﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .webm
https://app.box.com/s/5h1vyvc5yjph73c0xvvsvohmjkbrzqw2

97 KITABUT TAUHID 18 UST. ABDUL HAKIM BIN AMIR ABDATﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .webm
https://app.box.com/s/5hgf7u3e4425niwbkhgcx6o2rv791nx6

Akhlak Orang Munafik – Ustadz Abdurrahman Thoyyib,Lc..webm
https://app.box.com/s/3a5kxnbpbirarrnpfqciu6xoauoit50x

Fiqih Ramadhan (Bagian 3) – Ustadz Musta’an, Lc..webm
https://app.box.com/s/fz798gchiiixsg2b8fa3m2xe8kps1gaf

Nasehat-nasehat Seputar Ramadhan – Ustadz Dr Aspri Rahmat Azai, MA.webm
https://app.box.com/s/xx9dtkk0qxxd3kwhmkjnycr901tho2kn

Sabar Hadapi Kezaliman Penguasa, Jangan Terprovokasi-Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray.webm
https://app.box.com/s/w18syv4v5r6eqp1pttrmaf9dt3v8s4u2

Seputar Ramadhan-Ustadz Abu Hanifah Ibnu Yasin.m4a
https://app.box.com/s/67nz4zepjr732wuoqu5pumsahr04uuqs

Tauhid Sumber Kebahagiaan – Ustadz Harits Abu Nufal.webm
https://app.box.com/s/rqo3b7jp7vu08b5esp5ubnbbhxfvx87c

(Webm Diputar Dengan Aplikasi Mx Player)

Ketika Bahteraku Hampir Karam-Ustadz Syafiq Basalamah

Bahtera yang Hampir Karam-Ustadz Ahmad Zainuddin

Andai Gelombang Menerpa Bahteramu-Ustadz Syafiq Basalamah

Solusi Problematika Rumah Tangga-Ustadz Ahmad Zainuddin

Petunjuk Nabi Dalam Menghadapi Problamatika Rumah Tangga-Ustadz Firanda Andirja

Mengatasi Konflik Rumah Tangga-Ust Abdullah Zaen

Membina Rumah Tangga-Ustadz Kholid Syamhudi

Mempersiapkan Rumah Tangga-Ustadz Kholid Syamhudi

===
Ebook

CincinPinangan(Adab Pernikahan Islami-Muhammad Nashruddin Al-albani 185Halaman

Bagaimana-Merajut Benang Pernikahan Merajut Benang Pernikahan Secara Islami-Moch. Rachdie Pratama, S.Si dan Runinda Pradnyamita, S.Ked 44Halaman

Hak-hak Wanita Sebuah Tinjauan Sejarah – Dr. Abdullah H. Al-Kahtany 76Halaman

Jangan Bersedih (Kiat Meraih Hidup Bahagia) – Abdurrahman bin Nashir As-Sa’dl 27Hlm

Ringkasan Fiqih Islam (6) ( NIKAH DANPERMASALAHAN TERKAIT

Menikah Sesuai Tuntunan Nabi

36 Faidah Seputar Pernikahan dan Etikanya-Muhammad Shalih Al Munajjid (63hlm)

Ragu Menikah-Ustadz Ali Nur

Tuntunan Lengkap Pernikahan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah file DJVU

Manhajus Salikin (3): Kitab Waris, Kitab Nikah & Kitab Mahar (Matan & Terjemahan)

==

Khithbah (Panduan Syariat Dalam Melamar)-16Hlm

Fikih Munakahat(Fiqih seputar pernikahan. Di mulai dari pembahasan; sebelum pernikahan, ketika pernikahan, hingga hal-hal yang dapat memutuskan hubungan pernikahan)

Fikih Munakahat Bab1-48Hlm

Fikih Munakahat Bab2-105Hlm

Fikih Munakahat Bab3-84Hlm

Fiqih Muslimah-363Hlm 

======

Ya Akhi…Maukah Engkau Menikahiku…?” Pentingnya Ketakwaan Sang Nakhoda dan Bolehkah Menghibahkan Diri

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR

Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1

Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ

Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM

mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x

Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR

•••••

  • ➡ “Ya Akhi…Maukah Engkau Menikahiku…?”

Oleh : Abu Ibrahim ‘Abdullah bin Mudakir Al-Jakarty

Bukanlah sebuah perkara yang ‘aib ketika ada seorang wanita yang menawarkan dirinya kepada laki-laki yang shalih untuk menikahinya. Hal ini pernah dilakukan oleh seorang shahabiyyah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan bukan perkara yang ‘aib pula kalau seorang wanita menawarkan dirinya untuk dipoligami (dijadikan istri ke-2 atau ke-3 atau yang ke- 4). 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Tsabit Al-Banaani, beliau berkata,

 كُنْتُ عِنْدَ أَنَسٍ وَعِنْدَهُ ابْنَةٌ لَهُ قَالَ أَنَسٌ جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم تَعْرِضُ عَلَيْهِ نَفْسَهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ أَلَكَ بِي حَاجَةٌ فَقَالَتْ بِنْتُ أَنَسٍ مَا أَقَلَّ حَيَاءَهَا وَاسَوْأَتَاهْ وَاسَوْأَتَاهْ قَالَ هِيَ خَيْرٌ مِنْكِ رَغِبَتْ فِي النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَعَرَضَتْ عَلَيْهِ نَفْسَهَا.

Saya sedang bersama dengan Anas dan bersamanya anak perempuannya. Anas berkata, ‘Seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wasallam menawarkan dirinya. Dia (wanita tersebut –ed) berkata, ‘Apakah engkau menginginkanku?’ Anak perempuan Anas kemudian berkata, ‘Betapa sedikit rasa malunya dan jelek perilakunya dan jelek perilakunya.’ Lalu Anas menyangkal seraya berkata, ‘Dia lebih baik darimu dia menginginkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menawarkan dirinya.” (HR. Al-Bukhari : 5120)

✅ Berkata Al-Imam Bukhari Rahimahullah beristimbat dari hadits ini beliau membuat bab : “Bab Wanita Yang Menawarkan Dirinya Kepada Laki-laki Yang Shalih.”  (Kitabun Nikah, Dari Shahih Bukhari bab yang ke 32)

✅ Lalu coba perhatikan hadits di bawah ini dan perhatikan pemahaman Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah dalam hadits ini :

Abdullah bin Umar menceritakan, ketika Hafshah menjadi janda karena kematian suaminya, (Khunais bin Hudzaafah As-Sahmi radhiyallahu ‘anhu, termasuk shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang  meninggal di Madinah) berkata Umar bin Khaththab : “Aku mendatangi Utsman bin Affan dan aku menawarkan Hafshah kepadanya, maka dia berkata, ‘Aku akan memikirkannya dulu.’ Aku pun menunggunya beberapa malam, kemudian Utsman menemuiku dan berkata, “Aku memutuskan untuk tidak menikah pada hari-hari ini.” Berkata Umar, “Aku menemui Abu Bakar As-Siddiq dan berkata kepadanya, ‘Jika kamu menginginkan aku akan menikahkan Hafshah binti Umar denganmu.’ Namun Abu Bakar hanya diam, sungguh aku lebih marah kepadanya daripada dengan Utsman. Aku pun menunggu beberapa hari kemudian Rasulullah melamar Hafshah maka aku menikahkan putriku kepadanya (Rasulullah)…” (HR. Bukhari)

Berkata Al-Haafidz Ibnu Hajar Rahimahullah, “…Dan di dalam hadits ini menunjukkan bahwasanya tidak mengapa pula seseorang menawarkan putrinya kepada laki-laki yang sudah beristri dikarenakan ketika ditawarkan (untuk menikahi Hafshah) Abu Bakr sudah beristri.” (Fathul Bari : 9/204, Cet. Darul Hadits Al-Qaahirah)

✅ Lalu simaklah sebuah kisah dari seorang wanita yang mulia Khadijah binti Khuwailid, yang  mempunyai kedudukan tinggi, adab yang mulia, seorang wanita yang cerdas lagi cantik dan kaya. Khadijah adalah seseorang  yang mempunyai usaha perdagangan yang memperkerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena  mendengar berita tentang kejujuran, amanah dan akhlaq beliau untuk menjalankan dagangannya ke negeri Syam bersama seorang pemuda yang bernama Maisarah. Lalu mereka berdua pergi dan menjalankan dagangannya, dan Allah memberikan kemudahan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam usaha ini sehingga perdagangan tersebut menghasilkan keuntungan yang besar yang membuat  Khadijah merasa gembira. Akan tetapi dia lebih kagum terhadap kepribadian Muhammad yang sangat agung dan mendalam. Datanglah pikiran-pikiran ke dalam benaknya tentang Muhammad, ini adalah sosok laki-laki yang tidak seperti keumuman laki-laki lainnya dan… dan…

Akan tetapi  dia berfikir apakah pemuda yang jujur lagi terpercaya itu mau menerima kalau dirinya menawarkan untuk dinikahi olehnya. Sedangkan umurnya telah mencapai 40 tahun? Lalu bagaimana reaksi kaumnya, sementara dia telah menolak lamaran para tokoh Quraisy?

Ketika pikirannya dalam keadaan bingung dan resah, temannya yang bernama Nafisah binti Munabbih datang menemuinya. Mereka duduk bersama sambil berbincang-bincang. Dengan kecerdasannya Nafisah mampu menyingkap rahasia yang terpendam di atas sifat malu dan dalam tekanan suara pembicaraan Khadijah.

Nafisah binti Munabbih berhasil menenangkan Khadijah, Nafisah mengingatkan bahwa dia merupakan wanita yang cantik, mempunyai nasab yang baik dan kaya.

Tidak lama kemudian Nafisah keluar bergegas menuju orang yang terpercaya (Rasulullah) dan dengan cepat dia mengajukan pertanyaan kepadanya : “Wahai Muhammad apa yang menyebabkan engkau tidak  menikah?”

Nabi menjawab : “Tidak ada yang bisa saya pakai untuk menikah.” Nafisah tersenyum sambil berkata : “Jika engkau diberi dan diminta untuk menikahi wanita yang berharta, rupawan, mulia dan cukup, apakah engkau menerimanya?”

Muhammad bertanya : “Siapa?” Nafisah berkata: “Khadijah binti Khuwailid.” Dia berkata: “Kalau dia setuju, maka saya terima.”

Akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dan Khodijah pun menikah.

Jadi bukanlah perkara aib kalau seorang wanita menawarkan dirinya untuk dinikahi oleh laki-laki shalih, apalagi yang mendorongnya untuk melakukan hal itu perkara-perkara mulia seperti ingin segera menikah sehingga menjadi sebab terjaga dirinya dari maksiat atau perkara mulia yang lainnya. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum seseorang menawarkan dirinya untuk dinikahi oleh seorang laki-laki  yang ia senangi dan ia anggap baik agamanya, di antaranya sebagaimana yang akan saya sebutkan di bawah ini:

Cari tahu lebih lanjut tentang agama, akhlaq dan manhajnya. Jangan meremehkan hal ini  supaya ia tidak menyesal di kemudian hari karena apa yang dia sangka baik dari calon suaminya ternyata menyelisihi kenyataan diakibatkan lalainya ia untuk mengetahui lebih lanjut tentang calon suaminya. Atau karena kesalahan sebagian wasilah yang merekomendasi orang tanpa tahu keadaan orang tersebut. Cari tahu bagaimana agama, akhlaq dan manhajnya, kepada siapa dia ta’lim dan seterusnya.

✅ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ خُلُقَهُ وَدِينَهُ فَزَوِّجُوهُ ، إِن لا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ

Jika ada seorang laki-laki datang kepadamu yang telah kalian ridhai agama dan akhlaqnya maka nikahkanlah (wanita yang berada di bawah kewalianmu) dan jika tidak kamu lakukan maka akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ : 270)

  • Dilakukan dengan cara yang aman dari fitnah.

Dibolehkan seorang muslimah menawarkan dirinya kepada laki-laki shalih yang ia senangi untuk menikahinya namun dilakukan dengan cara yang aman dari fitnah. Bisa dia menyampaikan kepada  temannya (yang sudah bersuami) yang ia percaya dari sisi agama dan amanahnya supaya suami temannya menyampaikan keinginan Anda kepada laki-laki shalih yang anda senangi. Atau cara yang lainnya yang aman dari fitnah.

  • Siap jika diterima dan siap juga jika ditolak.

Tentu bisa jadi diterima bisa juga ditolak, maka hal itu mesti dipersiapkan. Sebagaimana kisah yang disampaikan oleh Anas Radhiyallahu ‘anhu dalam hadits di atas. Dan hal ini sekali lagi bukan perkara yang ‘aib atau kejelekan. Bahkan ketika seorang muslimah menawarkan dirinya untuk dinikahi menunjukan agama wanita ini, dia menginginkan kesucian, keutamaan dan kehormatan. Coba ingatlah siapa wanita yang pernah menawarkan dirinya untuk dinikahi oleh Nabi..? Jawabnya adalah shahabiyah, wanita-wanita terbaik dalam agama.

  • ➡ Jangan lupakan doa.

Berdoa kepada Allah adalah sebuah ibadah yang sangat agung, sebab yang besar seseorang meraih apa yang ia inginkan.

✅ Allah Ta’aala berfirman :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Dan apabila hamba–hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.”  (Qs. al-Baqarah : 186)

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Dan Rabbmu berfirman : ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Qs. al-Mukmin : 60)

  • Maka jangan lupakan doa, agar Allah memberi kemudahan kepada urusan kita.

✅ Jadi boleh hukumnya seorang wanita menawarkan dirinya untuk dinikahi oleh laki-laki shalih bahkan hal ini diantara hal yang menunjukkan baiknya wanita tersebut.

=

  • Pentingnya Ketakwaan Sang Nakhoda

Oleh: Ustadzah Ummu Luqman Salma

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia,

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untuk kalian pasangan hidup (istri-istri) dari diri kalian agar kalian merasa tenang kepadanya dan Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada hal itu ada tanda-tanda bagi orang-orang yang mau berpikir.” (ar Rum: 21)

Sudah menjadi ketetapan Allah Yang Mahabijaksana, pria membutuhkan wanita untuk menjadi pasangannnya. Demikian pula wanita. Dia membutuhkan pria yang bertakwa dan mulia yang akan memimpinnya, memenuhi kebutuhannya, menjaga kehormatannya, dan menjadi ketenangan baginya. Kedua insan berlainan jenis ini bertemu dalam sebuah jalinan kasih suci yang lazim disebut rumah tangga. Adapun jalinan-jalinan lain, seperti pacaran, kumpul kebo, dan sejenisnya, hal itu tidak dibenarkan oleh syariat Islam.

Saat wanita mencapai usia nikah, dibutuhkan andil ayah atau walinya yang lain. Hendaknya dia memilihkan untuk putrinya seorang pria yang bertakwa dan berakhlak mulia, yang akan menjadi nakhoda bahtera rumah tangga yang bakal ditumpangi putrinya. Dia tidak boleh membiarkan seorang pria yang jahat dan buruk tingkah lakunya mengambil putrinya yang tercinta. Sebab, pria yang bertakwalah yang akan mengarahkan bahteranya menuju negeri kebahagiaan. Pria yang seperti ini paham, negeri yang ditujunya bukanlah dunia nan fana ini, melainkan negeri akhirat yang kekal abadi.

  • Mengapa Memilih Pria yang Bertakwa?

✅ Pria yang bertakwa akan mengamalkan firman Allah,

“Bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian, apabila kalian tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (an-Nisa’: 19)

Dia akan memperbagus ucapannya dan memperbaiki tingkah laku serta penampilannya sebagaimana halnya sang istri dituntut demikian. Jika dia tidak menyukai sesuatu dari sang istri, entah wajahnya yang kurang cantik, kurang pandai memasak, atau kurang pandai mengatur rumah, dia akan bersabar. Dia tidak akan memberikan beban yang melampaui batas dan tidak memayahkan istri untuk memenuhi hak-haknya. Sebaliknya, dia rela sebagian haknya tidak terpenuhi. Semua ini untuk merealisasikan hal yang lebih penting, yaitu memperbaiki pergaulan suami istri.

Pria yang bertakwa akan mengajari dan mendidik istrinya. Sang istri tidak akan dia jadikan sebagai binatang  piaraan yang hanya tahu makan, minum, dan bekerja. Sebaliknya, istri juga tidak dibiarkannya lepas sebebas-bebasnya mengikuti arus emansipasi wanita yang begitu gencar didengung-dengungkan oleh musuh-musuh Islam. Dia akan mengarahkan istrinya agar berjalan di atas jalannya, yaitu jalan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wassalam.

Pria yang bertakwa akan bersikap lembut kepada istrinya, tidak kaku dan tidak kasar. Dia akan berusaha memiliki sifat hamba-hamba Allah yang beriman, yaitu bersikap lemah lembut kepada kaum mukminin dan bersikap keras kepada orang-orang kafir.

Pria yang bertakwa tidak akan merendahkan dan menghinakan istrinya. Jika mencintai istrinya, dia akan memuliakannya. Sebaliknya, jika tidak mencintainya, dia tidak akan menghinakannya.

✅ Pendek kata, pria yang bertakwa akan berusaha mempelajari dan mengamalkan bimbingan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wassalam ketika memimpin bahtera rumah tangganya. Segala problem yang terjadi akan dikembalikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wassalam. Dengan demikian, terbentuklah di bawah kepemimpinannya keluarga sakinah yang penuh cinta dan kasih sayang.

  • Siapakah Orang yang Bertakwa?

Salah satu definisi takwa yang terbaik adalah ucapan Thalq bin Habib rahimahullah, “Takwa adalah engkau menaati Allah di atas cahaya (ilmu) dari Allah karena mengharap balasan dari-Nya; dan meninggalkan kemaksiatan kepada Allah di atas cahaya (ilmu) dari Allah karena takut hukuman-Nya.”

Dari definisi tersebut kita bisa mengenal ciri-ciri orang yang bertakwa berdasarkan pengamalannya terhadap perintah dan larangan agama. Ciri-ciri tersebut antara lain:

➡ 1. Dia konsekuen mempelajari Islam yang benar sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman para sahabat (Salafush Shalih) manhaj Salaf

Tidak mungkin seseorang mencapai hakikat takwa jika tidak mengetahui (tidak mempelajari) ajaran Islam yang benar, yang menjelaskan amalan ketaatan kepada Allah lantas dia amalkan dan yang menjelaskan amalan maksiat kemudian dia tinggalkan.

➡ 2. Dia menjaga shalat lima waktu dengan berjamaah tepat pada waktunya. Sebab, shalat adalah tiang agama dan tali penghubung dengan Rabbul ‘alamin.

➡ 3. Dia tidak mengonsumsi minuman keras dan narkoba,.Merokok karena semua itu menyebabkan permusuhan dan kebencian serta menghalangi dari zikir dan shalat.

➡ 4. Dia bersahabat dengan orang-orang saleh dan bertakwa. Sebaliknya, dia menjauhkan diri dari orang-orang bejat yang suka bermaksiat. Sebab, persahabatan dapat memengaruhi kepribadian dan ketakwaan seseorang.

➡ 5. Dia tidak begadang untuk hal yang sia-sia, seperti berbagai permainan, menonton, dan lain-lain. Sebaliknya, dia amat menghargai waktu dengan memanfaatkannya untuk menaati Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wassalam.

➡ 6. Dia tidak suka mengumpat, mencela, dan melaknat.

✅ Itulah beberapa ciri-ciri pria bertakwa yang bisa diamati. Dengan izin Allah, pria yang seperti ini sifatnya akan berusaha membahagiakan keluarganya. Pendek kata, dia menjaga ajaran-ajaran Islam yang lurus ini dalam seluruh aspek kehidupannya. Dengan demikian, dia menjadi contoh dan suri teladan yang baik bagi orang lain. Pria seperti inilah yang siap mengamalkan bimbingan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya n dalam hal pergaulannya dengan istri dan anggota keluarganya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

= (lanjut ke halaman 2)

Iklan