Cahaya Ilmu Di Bulan Ramadhan” (Bag.1) dan Hukum Puasa Orang Yang Tidak Sholat
Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

Cara Menyambut Ramadhan yang Benar – Ustadz Musta’an,Lc..webm
https://app.box.com/s/7m1vecz2u0kg378h40s6f4jgmmk2agnl

Keistimewaan Bulan Ramadhan Dr. Musyaffa Ad Dariny,MA.webm
https://app.box.com/s/16qk2w0h5emkcwzqwp4s47g7tgyj1ouo

Keseharian Para Salaf Selama Bulan Ramadhan PART 1 -Ustadz Harits Abu Naufal.webm
https://app.box.com/s/knz0mahw2bhlzvnmyagw3lsi6g8z03t6

Syarat Kebenaran Tauhid – Ustadz Mizan Qudsiah, Lc.MA.webm
https://app.box.com/s/dasygsfrw76rbb5j4s7ivu66xl2qavde
==

Puasa Adalah Perisai-Ustadz Sofyan Chalid Ruray.mp4

https://app.box.com/s/oecqprwr1vs2liucsddaj23r5ja3p6r6

Medis dan Ramadhan – Ustadz Raehanul Baaraen.webm
https://app.box.com/s/fqbzpgc78gm58jb09ou05d654u68wzuf

Hukum Puasa Orang Tidak Shalat-Ustadz Sofyan Chalid Ruray.mp4
https://app.box.com/s/rjmd0h3xzulbwth5wxfwhpy7kzuayr70

Ceramah Agama Fiqih Puasa (Bagian 2) – Ustadz Ahmad Firdaus. Lc..webm
https://app.box.com/s/pc9uhyjtfk6qlbkcskyqrw39godqn70u

Bekal Ramadhan – Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc..webm
https://app.box.com/s/pp44dqbg81tuyjtlr6keib1kgvb79679

6 Kesalahan Dalam Shalat Tarawih-Ustadz Sofyan Chalid Ruray.mp4
https://app.box.com/s/39tlotxwsf11f1y5gbp5cxgp36h3l8ws

Ramadhan Ini Kau Ingin Apa – Ustadz Syafiq Riza Basalamah.webm
https://app.box.com/s/3vu8qzv7ofyj0vp9t2ql3huovs11efjy

tanya Jawab Ramadhan – Ustadz Zamzami Juned, Lc.webm
https://app.box.com/s/89iuho4w4m932fdhohi56klgvelmkgk6

Cara Sunnah dan Bid’ah Penetapan Awal Ramadhan dan Idul Fitri-Ustadz Sofyan Chalid Idham Ruray.webm
https://app.box.com/s/uoqgmgvv07inqm30hribrmjw9e4knde3

Ceramah Agama Fiqih Puasa (Bagian 1) -Ustadz Ahmad Firdaus. Lc..webm
https://app.box.com/s/vrbltv0u3gw8o33b6gkwchjaichflbnx

Empat Kemungkaran Jelang Ramadhan-Ustadz Sofyan Chalid Idham Ruray.webm
https://app.box.com/s/f6llbmdhfqzxwm35737llbjl63eu5qvw

Kaidah Seputar Ramadhan – Ustadz Farhan Abu Furaihan.webm
https://app.box.com/s/18136r8khn2ia1994jnvnn2g4uia41xy

Meredam Fitnah Akhir Zaman – Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin Lc, M.M..webm
https://app.box.com/s/ecr2y9ku5rfo9txg1imrg0faxh6ctciv

Pemuda Dan Ramadhan – Ustadz DR. Abdullah Roy, MA.webm
https://app.box.com/s/8yendmqlsmbnu3n8umo53aijnce5qxlx

Syarat Kalimat LA ILAHA ILLALLAH – Ustadz Thantawi Abu Muhammad.webm
https://app.box.com/s/t0j5al49hkfh3nagpd26kodn84nda14l

Ustadz Midzan Qudsyiah – Keutamaan Dakwah Tauhid.webm
https://app.box.com/s/fvo4exnshxn8vwoaewzldk97rva3ud07

Fikih Kesehatan Kontemporer Terkait
Puasa Ramadhan Oleh dr. Agung Panji

https://radiomuslim.com/download/6443/

Ustadz Abu Abdirrahman Thoriq Hafizhahullah Ta’ala-Puasa, Ibadah Yang Tak Tertandingi”
https://drive.google.com/file/d/14EMDBroGHXrS4Y4wLvzR-MZl9KFa_KvF/view?usp=drivesdk

—(Webm Diputar Dengan Pemutar Mx Player di Android)—
=
Ebook

Fikih Praktis Puasa RamadanPenulis: Ustadz Yusuf Abu Ubaidah

Madrasah Ramadhan-Ust Sofyan Chalid Ruray 333Halaman

Fiqh dan Hikmah Puasa, Tarawih, I’ tikaf, Zakat dan Hari Raya. Ringkasan Pembahasan,Fatwa dan Tarjih Ulama Ahlus sunnah Wal Jama’ah

Saat Ramadhan Menyapa-Ustadz Ali Ahmad bin Umar 50Halaman

Fiqih Ramadhan-Ustadz Abu Hafizhah Irfan 128Halaman

Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja-Muhammad Abduh Tuasikal, MSc 86Halaman

Meraih Surga Bulan Ramadhan-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Hadiah dan Bekal Persiapan Menyambut Ramadhan 227 Hlm

24 Jam di Bulan Ramadhan 116Hlm

Puasa-Muhammad Bin Ibrahim Altuwayjiry 54Hlm

Risalah Ramadhan(Keutamaan-Kekhususan-Hukum-Faedah-Adab-Fatwa-Pesan-Nasehat)-Abdullah Bin Jarullah 202Hlm

Buku Saku Ramadhan”-Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Munajjid 117Hlm

Bekal Ramadhan”-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid 89Hlm

==== 

Meraih Keutamaan Ramadhan-46Halaman  

==

➡ “Cahaya Ilmu Di Bulan Ramadhan”danHukum Puasa Orang Yang Tidak Sholat

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR

Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1

Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ

Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM

mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x

Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR

 

==<

  • ➡ 1. Hukum “Selamat Berpuasa & Hari Raya”

✅ Sering kita dapati pro kontra tentang masalah ini. Namun pendapat yang kuat adalah boleh.

Rasulullah pernah memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan tibanya bulan Ramadhan. Dari Abu Hurairoh bahwasanya Nabi bersabda:

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Alloh mewajibkan puasa atas kalian di dalamnya. Pada bulan ini dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu setan-setan. Di dalam bulan ini ada sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tercegah dari kebaikannya, maka sungguh dia tercegah untuk mendapatkannya. (HR.Ahmad 12/59, Nasai 4/129. Syaikh al-Albani berkata: “Hadits Shahih Lighairih”. Lihat Shahih at-Targhib 1/490, Tamamul Minnah hal.395 keduanya oleh al-Albani).

✅ Al-Hafizh Ibnu Rojab berkata:

“Sebagian ulama mengatakan; hadits ini adalah dalil bolehnya mengucapkan selamat antara sebagian manusia kepada yang lain berhubungan dengan datangnya bulan Ramadhan.

Bagaimana mungkin seorang mukmin tidak bergembira dengan dibukanya pintu surga?!, bagaimana tidak bergembira orang yang berbuat dosa dengan ditutupnya pintu neraka?! Bagaimana mungkin orang yang berakal tidak bergembira dengan suatu waktu yang saat itu setan dibelenggu, waktu mana yang bisa menyerupai waktu semacam ini?”. (Lathoiful Maarif hal.279).

✅ Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di berkata:

Ucapan selamat dalam berbagai kesempatan dibangun di atas kaidah yang berharga, yaitu asal dalam masalah adat, baik ucapan maupun perbuatan hukumnya adalah boleh, tidak bisa diharamkan atau dibenci kecuali apabila mengandung hal yang dilarang oleh syari’at atau mengandung kerusakan.

Kaidah agung ini dibangun di atas Al-Qur’an dan Sunnah. Sesungguhnya manusia tidaklah bermaksud ibadah dengan ucapan ini, namun hal itu merupakan adat sesama mereka dalam sebagian kesempatan.

Hal ini tidak terlarang, bahkan menyimpan kemaslahatan sebab apabila kaum mukmin saling mendoakan antara sesama maka sejatinya hal itu akan menyebabkan mereka saling mencintai.

Dan adat-adat yang boleh apabila diringi dengan manfaat dan maslahat, maka bisa menjadikannya sebagai amalan yang dicintai oleh Allah sesuai dengan buah yang dihasilkannya”.(Al-Fatawa As-Sa’diyyah hlm. 487).

NB : Lihat secara luas masalah ini dalam risalah Hukmu at-Tahniah Bi Dukhuli Syahri Romadhan, Yusuf bin Abdul Aziz at-Thorifi, karena beliau telah mengumpulkan dalil-dalil dan ketarangan para ulama yang membolehkan hal ini

==

  • ➡ 2. Indahnya Kebersamaan Dalam Puasa Dan Hari Raya

Setiap tahun, menjelang bulan puasa dan hari raya, kaum muslimin di berbagai Negara selalu dibuat ribut oleh sebuah dilema, apakah mereka akan berpuasa dan berhari raya mengikuti Negara masing-masing ataukah mengikuti ru’yah salah satu negara yang lebih dahulu melihat hilal?!

Kami tidak ingin memaksakan pendapat kami untuk diikuti oleh selain kami. Namun ada satu hal yang harus kita fikirkan bersama, yaitu bahwa masalah ini adalah masalah khilafiyyah ijtihadiyah maka hendaknya kaum muslimin menyerahkan dan mengikuti pemerintah mereka dalam memilih di antara pendapat di atas agar tidak terjadi perbedaan dan perpecahan di kalangan kaum muslimin, sebab sebagaimana diketahui bersama persatuan adalah sesuatu yang sangat ditekankan dalam syariat Islam.

✅ Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah:

الصَّوْمُ يَوْمَ يَصُوْمُ النَّاسُ وَالْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ

Puasa itu hari manusia berpuasa dan hari raya itu hari manusia berhari raya.

Syaikh al-Albani berkata: “Inilah yang sesuai dengan syari’at yang mulia ini, yang bertujuan untuk menyatukan barisan kaum muslimin dan menjauhkan mereka dari perpecahan. Syari’at tidak menganggap pendapat pribadi -sekalipun dalam pandangannya benar- dalam ibadah jama’iyyah seperti puasa, hari raya dan sholat jama’ah”. (Silsilah Ahadits ash-Shohihah 1/444).

✅ Hal ini sesuai dengan kaidah.

حُكْمُ الْحَاكِمِ يَرْفَعُ الْخِلاَفَ

Keputusan hakim menyelesaikan perselisihan.

Oleh karenanya, para fuqoha’ bersepakat bahwa hukum/keputusan pemerintah dalam masalah ini menyelesaikan perselisihan dan perbedaan pendapat. (Lihat Al-Istidzkar Ibnu Abdil Barr 10/29 dan Rosail Ibnu Abidin 1/253).

Hal ini akan membawa kemaslahatan persatuan kaum muslimin.

Alangkah bagusnya ucapan Imam asy-Syaukani tatkala mengatakan: “Persatuan hati dan persatuan barisan kaum muslimin serta membendung segala celah perpecahan merupakan tujuan syari’at yang sangat agung dan pokok di antara pokok-pokok besar agama Islam. Hal ini diketahui oleh setiap orang yang mempelajari petunjuk Nabi yang mulia dan dalil-dalil Al-Qur’an dan sunnah”.(Al-Fathur Robbani 6/2847-2848).

Sungguh sangat disayangkan sekali, bila ibadah yang mulia ini dijadikan alat untuk fanatik golongan, fanatic Negara atau membela pendapat, sehingga masing-masing berusaha agar pendapatnya didengar oleh masyarakat dengan embel-embel agama, tanpa menjaga kaidah masalahat dan mengamalkan dalil terkuat!!!

Kita memohon kepada Allah agar memberikan kita ilmu pengetahuan dalam agama dan mengikuti Nabi secara sempurna serta kesungguhan dalam persatuan kaum muslimin di atas petunjuk yang lurus.

==

  • ➡ 3. Puasa Level Tinggi

Puasa bagi kebanyakan orang tak lebih dari sekedar menahan diri dari makan dan minum semata. Inilah puasa orang level awam.

Namun bagi orang yang level tinggi, puasa yg sesungguhnya lebih dari itu, yaitu menahan seluruh anggota tubuh dari dosa dan kemaksiatan.

عن أبي هريرة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ليس الصيام من الأكل والشرب، إنما الصيام من اللغو والرفث.

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda: “Bukanlah puasa itu dari makan dan minum, tetapi puasa sesungguhnya adalah menahan diri dari ucapan kotor dan sia-sia”. (HR. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan dishahihkan Al Hakim dan al Albani dalam Shahih Targhib wa Tarhib: 1082)

قَالَ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ : إِذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُكَ ، وَبَصَرُكَ ، وَلِسَانُكَ عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَحَارِمِ ، وَدَعْ أَذَى الْخَادِمِ ، وَلْيَكُنْ عَلَيْكَ وَقَارٌ وَسَكِينَةٌ يَوْمَ صِيَامِكَ ، وَلَا تَجْعَلْ يَوْمَ فِطْرِكَ وَصَوْمِكَ سَوَاءً

Sahabat Jabir bin Abdillah berkata: “Jika engkau berpuasa, maka berpuasalah pendengaranmu dan pandanganmu serta lisanmu dari dusta dan dosa. Janganlah menyakiti pembantu. Hendaknya dirimu tenang dan berwibawa saat puasa. Dan jangan jadikan hari puasamu dan hari tidak puasamu sama saja”. (Al Mushonnaf kry Ibnu Abi Syaibah: 8973)

✅ Al-Hafizh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata:

Orang berpuasa yang sebenarnya adalah seorang yang menahan anggota badannya dari segala dosa, lidahnya dari dusta, perutnya dari makanan dan minuman, farjinya dari jima.

Kalau dia berbicara, dia tidak mengeluarkan kata yang menodai puasanya.

Kalau dia berbuat, dia tidak melakukan hal yang dapat merusak puasanya, sehingga ucapannya yang keluar adalah bermanfaat dan baik.

Demikian pula amal perbuatannya, dia ibarat wewangian yang dicium baunya oleh kawan duduknya. Seperti itu juga orang yang berpuasa, kawan duduknya mengambil manfaat dan merasa aman dari kedustaan, kemaksiatan dan kedzalimannya.

Inilah hakekat puasa sebenarnya, bukan hanya sekedar menahan diri dari makanan dan minuman”. (Al-Waabil as-Shayyib wa Rafiul Kalim Thayyib hal. 57)

=

  • ➡ 4.Imsak, Bukan Batas Akhir Sahur

Menetapkan waktu imsak bagi orang yang makan sahur 5 atau 7 menit sebelum adzan Subuh dan mengumumkannnya melalui pengeras suara ataupun radio adalah bidah dan menyelisihi sunnah mengakhirkan sahur.

Syari’at memberikan batasan seseorang untuk makan sahur sampai adzan kedua atau adzan Subuh dan syari’at menganjurkan untuk mengakhurkan sahur, sedangkan imsak melarang manusia dari apa yang dibolehkan oleh syari’at dan memalingkan manusia dari menghidupkan sunnah mengakhirkan sahur.

Maka lihatlah wahai saudaraku keadaan kaum muslimin pada zaman sekarang, mereka membalik sunnah dan menyelisihi petunjuk Nabi, dimana mereka dianjurkan untuk bersegera berbuka tetapi malah mengakhirkannya dan dianjurkan untuk mengakhirkan sahur tetapi malah menyegerakannya. Oleh karenanya, mereka tertimpa petaka dan kefakiran dan kerendahan di hadapan musuh-musuh mereka”. (Shofwatul Bayan fii Ahkamil Adzan wal Iqomah hlm. 116 oleh Abdul Qodir al-Jazairi).

Kami memahami bahwa maksud para pencetus Imsak adalah sebagai bentuk kehati-hatian agar jangan sampai masuk waktu Subuh, sedangkan masih masih makan atau minum, tetapi ini adalah ibadah sehingga harus berdasarkan dalil yang shohih.

Jika kita hidup di zaman Nabi, apakah kita berani membuat-buat waktu imsak, melarang Rosululloh makan sahur jauh-jauh sebelum waktu Subuh tiba?!!

✅ Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Termasuk bidah yang mungkar yang telah tersebar pada zaman sekarang adalah mengumandangkan adzan kedua sebelum shubuh sekitar 15 menit pada bulan Romadhan, dan mematikan lampu-lampu sebagai tanda peringatan haramnya makan dan minum bagi orang yang hendak puasa.

Mereka mengklaim bahwa hal itu sebagai bentuk kehati-hatian dalam ibadah. Mereka mengakhirkan berbuka dan menyegerakan sahur, mereka menyelisihi sunnah.

Oleh karenanya sedikit sekali kebaikan yang mereka terima, bahkan mereka malah tertimpa petaka yang banyak, Allohul Mustaan. (Fathul Bari 4/199. Lihat pula Islahul Masajid hlm. 118-119 oleh al-Qosimi, Tamamul Minnah hlm. 417-418 oleh al-Albani, Fatawa Ibnu Utsaimin hlm. 670, Taisir Alam 1/ 496 oleh Abdullah al-Bassam, Mukholafat Romadhan hlm. 22-23 oleh Abdul Aziz As-Sadhan).

=

  • ➡ 5. Ramadhan, Bulan Semangat Bukan Malas & Lemes

Banyak orang di bulan puasa ini terlihat malas, banyak tidur, jalan2 gak jelas, lihat sinetron dan lain sebagainya dari hal2 yg sia2, padahal bulan Ramadhan di mata Nabi dan para salaf dahulu adalah bulan perjuangan, jihad, pengorbanan, semangat ibadah & berlomba dalam kebaikan.

Sejarah mencatat banyak peristiwa besar dalam perjalan hidup Nabi Muhammad & para salaf dahulu:

* Perang Badar & Fathu Mekkah terjadi di bulan Ramadhan, dua peristiwa yang merupakan momentum kebangkitan & kemenangan Islam & umat Islam.

* Di Bulan Ramadhan, Nabi & para sahabat menghancurkan patung2 besar seperti Lata dan Manat.

* Di bulan Ramadhan, Nabi menikah dg Hafshoh Putri Umar bin Khothob

* Di bulan Ramadhan, Nabi menghancurkan Masjid Dhiror yg dibangun kaum munafiq.

* Di Bulan Ramadhan, Nabi menerima delegasi2 yang menyatakan masuk Islam.

* Di bulan Ramadhan, Nabi berperang sembilang kali peperangan.

* Di Bulan Ramadhan, terjadi perang Ain Jalut yang mengalahkan kaum Salibis dg kekalahan yg telak.

Walhasil, bulan Ramadhan di mata Nabi & ulama salaf adalah bulan perjuangan, semangat, pengorbanan untuk menegakkan panji Islam, bukan hanya sekedar bersenang2 makan & minum.

Yuk semangat di bulan Ramadhan & Jangan Malas !

(Disarikan dari risalah “Ma’a Nabi Fii Ramadhan, Syeikh Muhammad Musa Nashr, hlm. 37-38)

Abu Ubaidah As Sidawi

=

  • Sebagian orang jika melihat masjid-masjid penuh saat Ramadhân

ia berkata dengan sinis, “Kemana orang-orang ini di luar Ramadhân? Kenapa hanya datang pada saat Ramadhân?” Seakan-akan surga dan neraka ada di tangannya.

Wahai saudaraku

Mereka itu datang ke rumah Allah, bukan ke rumahmu.

Mereka adalah tamu Allah, bukan tamumu.

Mereka mengharapkan rahmat Allah, bukan rahmatmu.

Apa tidak lebih baik kita berbahagia dan mendoakan semoga kita dan mereka istiqomah?

Dany N.Harun

==

Hukum Puasa Orang Yang Tidak Sholat

✅ HUKUM PUASA ORANG YANG TIDAK SHOLAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Meninggalkan sholat adalah kekafiran, dan dosa kekafiran membatalkan semua ibadah termasuk puasa, maka tidak sah puasanya orang yang tidak sholat. Allah ta’ala berfirman,

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” [At Taubah: 11]

✅ Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ

Sesungguhnya, batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

✅ Dan sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam,

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Perjanjian antara kami dan mereka adalah sholat, barangsiapa meninggalkannya sungguh ia telah kafir.” [HR. At-Tirmidzi dari Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallahu’anhu, Shahihut Targhib: 564]

✅ Tabi’in yang Mulia Abdullah bin Syaqiq Al-‘Uqaili rahimahullah berkata,

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ

Dahulu para sahabat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam tidaklah menganggap ada satu amalan yang apabila ditinggalkan menyebabkan kekafiran, kecuali sholat.” [Riwayat At-Tirmidzi, Shahihut Targhib: 565]

Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa meninggalkan sholat adalah kekafiran yang menyebabkan pelakunya murtad keluar dari Islam, dan dosa kekafiran menghapuskan semua ibadah, tidak terkecuali puasa. Allah ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan barangsiapa kafir dengan keimanan maka terhapuslah amalannya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” [Al-Maidah: 5]

✅ Dan firman Allah ta’ala,

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ

Dan tidak ada yang menghalangi untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” [At-Taubah: 54]

✅ Dan firman Allah ta’ala,

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” [Al-Furqon: 23]

Sebagaimana orang-orang yang melakukan syirik besar juga tidak sah puasa mereka, karena syirik besar termasuk kekafiran yang menghapuskan amalan. Allah ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُون

َ“Dan kalau mereka menyekutukan Allah maka terhapuslah amalan yang dulu mereka kerjakan.” [Al-An’am: 88]

✅ Dan firman Allah ta’ala

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” [Az-Zumar: 65]

Maka jelaslah bahwa orang yang berpuasa tapi tidak sholat, tidak sah puasanya, karena meninggalkan sholat adalah kekafiran yang menghapuskan seluruh amalan pelakunya (Lihat Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Ibni Baz rahimahullah, 9/280-281 dan Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah, 19/87).

Bahkan tidak sah puasa orang yang hanya sholat di bulan Ramadhan dan meninggalkan sholat di selain bulan Ramadhan, karena meninggalkan sholat adalah kufur akbar yang menghapuskan amalan. Disebutkan dalam fatwa ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah di masa ini,

أما الذين يصومون رمضان ويصلون في رمضان فقط فهذا مخادعة لله، فبئس القوم الذين لا يعرفون الله إلا في رمضان، فلا يصح لهم صيام مع تركهم الصلاة في غير رمضان، بل هم كفار بذلك كفرا أكبر، وإن لم يجحدوا وجوب الصلاة في أصح قولي العلماء

Adapun orang-orang yang berpuasa Ramadhan dan hanya melakukan sholat di bulan Ramadhan saja maka itu adalah usaha menipu Allah (yang sesungguhnya tidak sanggup mereka lakukan), sungguh jelek suatu kaum yang tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadhan, maka tidak sah puasa mereka apabila meninggalkan sholat di selain bulan Ramadhan, karena mereka kafir dengan sebab itu; dengan kekafiran yang besar walau mereka tidak menentang kewajiban sholat, menurut pendapat yang paling shahih dari dua pendapat ulama.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta’, 10/140-141 no. 102]

Sofyan Chalid Ruray

= ~~~•~~~ (Lanjut ke Halaman 2) ~~~•~~~