Nilai-Nilai Akidah Dalam Ayat dan Hadits Puasa 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

Kemuliaan Lailatul Qodr,Waktunya,Tanda-Tandanya,Amalan 10 Hari Akhir Ramadhan-Ust.Sofyan Chalid Ruray.mp3
https://app.box.com/s/hkyu67ofunjukwwrcrdmys82bqch2tm0
Membenci Syariat Yang Rasulullah Bawa-Ust.Thantawi Abu Muhammad.mp3
https://app.box.com/s/hw4177ohveswx7kadlck80er54knb9k5
Nabi Palsu Di Masa Hidpnya Rasulullah-Ust Syauqi Al Yamani.mp3
https://app.box.com/s/2mf5m69s6ggzgpbtubzue9ysak2qv7ks
Serial Ramadhan (Kesalahan-Kesalahan Orang Yang Berpuasa)-Ust.Ahmad Firdaus.mp3
https://app.box.com/s/osywekx0hpr3w43ginzfsixomukwu0k3
Serial Ramadhan (Keutamaan Umroh Di Bulan Ramadhan)-Ust.Ahmad Firdaus.webm
https://app.box.com/s/24qa57aqcqa2n4hkmn71s8nccjlx0sjd
==
Adat Yang Menjadi Sumber Hukum-Ust.Harits Abu Naufal.webm
https://app.box.com/s/fxj74nbti6tl8y9orbxo6jo094l2pl6s
SerialRamadhan-Wajib Mengamalkan Al-Qur’an-Ust.Ahmad Firdaus.webm
https://app.box.com/s/arzdoodpixteivvyi1c49ynuek1cp2eh
Taqwa Dalam Puasa-Ust Zaid Susanto.webm
https://app.box.com/s/zl6p8zf6k1mfpk7o2d7wmq7gmgss1b3n
Tawassul Antara Yang Disyariatan dan Tidak Diperbolehkan-Ustadz Abu Hanifah Ibnu Yasin-mc.m4a
https://app.box.com/s/jeqx2usr13t46ffjdltgddsu9dh3sy9z
Pemberontak dan Pendukung Kezaliman Penguasa Akan Terusir Dari Telaga Nabi-Ust.Sofyan Chalid Ruray.webm
https://app.box.com/s/ynkwan4wes7a9ji3o4ajyt1n95el3yvo
Puasa Tapi Maksiat Jalan Terus-Ust.Aris Munandar.webm
https://app.box.com/s/2g14utsxynjbmwi55fmtpkj6k2v18vy2
Serial Ramadhan-Keutamaan Memberi Makanan Berbuka-Ustadz Ahmad Firdaus.webm https://app.box.com/s/bg2p5yzxhoyw9ue6ho7gq3ngbrb5aask
**
Sunnah-Sunnah Yang Sering Terlupakan Dibulan Ramadhan-Ust.Dr.Firanda Andirja.mp3
https://app.box.com/s/mdw00eqfvru479e0jvhgm4zvv6co3inm
Tanya Jawab Ramadhan-Ust.SyamsuRizal.mp3
https://app.box.com/s/bae59ln23j13q8jimwe8xqn57wx0eoz5
Yang Disangka Dilarang Di Bulan Ramadhan-Ust.Dr.Firanda Andirja.mp3
https://app.box.com/s/ikcfc5bf1qe7raxm5tcczp7p4pcg8ua4
Hijrah Bukan Sekedar Trend-Ust Mufy Hanif Tholib.webm
https://app.box.com/s/mmfhb6djmpv9ckodmxcduftcp431cf6i
Apa itu Sufi dan Tasawuf part 2-Ustadz Harist Abu Naufal.webm
https://app.box.com/s/nedxougpzup271vxa2jskftdr4kyto58
Dosa Sekecil Apapun Akan Memasukannmu Ke Neraka-Ust.Harits Abu Naufal.mp3
https://app.box.com/s/eibkphvc75f0tod18aeyaolbzp1awnyz
Jangan Gara Gara Paslonnya Tidak Terpilih_ Memberontak Kudeta Demo Ust Abdullah Husni.mp3
https://app.box.com/s/nxwd4kwaatum1drny7psgnzmxjgvfaxb
((Webm Diputar Dengan App Mx Player di Hp Android))
**
Ebook
Menghidupkan 10 Terakhir Ramadhan-Syaikh ‘Abdullah Al-Jarullah 54Halaman
https://app.box.com/s/xhn7g7aujqjnyxpkyfn2idfks587bdkb
Catatan Atas Kitab Tauhid Bag.1(Syaikhul Islam Muhammad Bin ‘Abdul Wahhab 214Halaman
https://drive.google.com/uc?export=download&id=1QQ11B0bSXUwj6sCDeDYh4gzKxXojOpfa
10 Hari Terakhir Bulan Ramadan Bersama Rasulullah Penyusun: Syaikh Nashir asy-Syimaliy
https://drive.google.com/uc?export=download&id=1OznpPt7nf-bKDx8IqtxXvT2jU-NCIlHQ

Madrasah Ramadhan-Ust Sofyan Chalid Ruray 333Halaman
Fiqh dan Hikmah Puasa, Tarawih, I’ tikaf, Zakat dan Hari Raya. Ringkasan Pembahasan,Fatwa dan Tarjih Ulama Ahlus sunnah Wal Jama’ah
https://archive.org/download/MADRASAHRAMADHAN/MADRASAH%20RAMADHAN.pdf
Saat Ramadhan Menyapa-Ustadz Ali Ahmad bin Umar 50Halaman
https://app.box.com/s/6nq11z8crd0q06k4riv6b3l4m0nhl3x3
Fiqih Ramadhan-Ustadz Abu Hafizhah Irfan 128Halaman
https://app.box.com/s/e2w1fdc2at7aqtzgbke5fpgrf3n5cay9
Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja-Muhammad Abduh Tuasikal, MSc 86Halaman
https://app.box.com/s/jm6cwklbglu86rxf6ooqcms3znukkg61
Meraih Surga Bulan Ramadhan-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
https://drive.google.com/open?id=0BzDT5zrhbMyDeHRWTlR1RjNETGM
Hadiah dan Bekal Persiapan Menyambut Ramadhan 227 Hlm
https://app.box.com/s/lwln3qkdk6g468mo4fham0q2os25gjoe
https://kautsaramru.files.wordpress.com/2016/06/ebook-hadiah-dan-bekal-ramadhan.pdf
24 Jam di Bulan Ramadhan 116Hlm
https://app.box.com/s/mdan6rweylowzetto7m7y2kwqzf4vqok
Puasa-Muhammad Bin Ibrahim Altuwayjiry 54Hlm
http://www.islamicbook.ws/indonesian/indonesian-60.pdf
Risalah Ramadhan(Keutamaan-Kekhususan-Hukum-Faedah-Adab-Fatwa-Pesan-Nasehat)-Abdullah Bin Jarullah 202Hlm
http://www.islamicbook.ws/indonesian/indonesian-52.pdf
Buku Saku Ramadhan(Hukum, Keutamaan dan Beberapa Perkara yg Berkaitan Dgn Puasa
http://pustaka.hisbah.net/wp-content/uploads/2016/06/Ramadhan-Cet-IV1.pdf
Buku Saku Ramadhan”-Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Munajjid 117Hlm
https://drive.google.com/file/d/0BwfJLm9banNvMU1IcHY2X3JvdFE/view
“Bekal Ramadhan”-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid 89Hlm
https://drive.google.com/file/d/0B8vJSWqLZFYQQ2RBbjVPVFEwSUk/view 
==

Nilai-Nilai Akidah Dalam Ayat dan Hadits Puasa

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR

Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1

Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ

Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM

mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x

Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR

***

➡ *Nilai-Nilai Akidah Dalam Ayat dan Hadits Puasa (1)*

✅ Allah ta’ala berfirman,

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻛَﻤَﺎ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْﺗَﺘَّﻘُﻮﻥَ

_“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”_ [al-Baqarah: 183]

  • ➡ *Nilai-nilai akidah yang terkandung dalam ayat:*

➡ 1.Seruan dengan sifat keimanan pada ayat di atas menunjukkan bahwa istilah iman mencakup istilah islam, karena setiap muslim diseru untuk melaksanakan ketentuan dan kewajiban dalam ayat ini, sehingga bukan sekadar mencakup setiap orang yang mewujudkan keimanan berdasarkan pengertian iman secara khusus..

Berdasarkan poin 1 di atas, seruan dengan sifat keimanan juga mencakup setiap muslim pelaku dosa besar, karena ia turut diseru menjalankan syari’at berpuasa. Oleh karena itu, tidaklah tepat jika menghilangkan pokok keimanan _(muthlaq al-iman)_ pada diri pelaku dosa besar, sebagaimana tidaklah tepat menyatakan dirinya memiliki iman yang sempurna _(al-iman al-muthlaq)_.

Namun, lebih tepat jika pelaku dosa besar disifati sebagaimana yang dinyatakan oleh ahli sunnah bahwa dia adalah _“orang beriman yang kurang keimanannya”_ atau _“orang yang beriman karena iman yang dimilikinya sekaligus orang yang fasik karena dosa besar yang dilakukannya”_.

✅ Demikian pula dengan aturan-aturan agama yang berlaku di dunia, pelaku dosa besar tercakup dalam sifat iman, sehingga ketentuan dalam firman Allah ta’ala,

ﻓَﺘَﺤْﺮِﻳﺮُ ﺭَﻗَﺒَﺔٍ ﻣُﺆْﻣِﻨَﺔٍ

_“…serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman”_ [An-Nisa: 92]

juga mencakup muslim pelaku dosa besar apabila melakukan pelanggaran yang terkait dengan sanksi di atas.

✅ Hal di atas tentu tidak berlaku pada dalil-dalil agama yang topik utama pembicaraannya adalah keimanan yang sempurna _ (al-iman al-muthlaq)_. Artinya, muslim pelaku dosa besar tidak tercakup dalam dalil-dalil yang demikian itu, seperti pada firman Allah ta’ala,

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺇِﺫَﺍ ﺫُﻛِﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺟِﻠَﺖْ ﻗُﻠُﻮﺑُﻬُﻢْ

_“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka…”_ [Al-Anfal: 2]

➡ 2.Sekte Murjiah berdalil dengan ayat-ayat al-Quran semisal ayat di atas untuk menyatakan bahwa amal tidak tercakup dalam penamaan iman. Mereka beralasan karena Allah ta’ala tetap menyeru dengan panggilan iman padahal mereka belum mengamalkan kandungan dalam ayat tersebut!

Alasan tersebut dapat dibantah bahwa orang yang diseru dalam ayat itu pada hakikatnya telah beriman atas dasar ketundukan mereka terhadap kewajiban yang telah diperintahkan kepada mereka sebelumnya. Adapun amal yang dibebankan kepada mereka dalam ayat di atas, sesungguhnya belum diperintahkan sebelumnya. Akan tetapi, jika terdapat beban agama yang lain setelahnya, maka amal ini dipertimbangkan sebagai sifat keimanan dan setiap orang yang tidak melakukannya, sungguh keimannya telah berkurang. Silakan diperhatikan lagi poin 2.

➡ 3.Pada ayat ini terdapat dalil penetapan takdir yang sifatnya terdahulu _(al-qadr as-saabiq)_, karena kata kerja tercantum dalam bentuk lampau, yaitu “ﻛﺘﺐ ” (dituliskan) yang berarti“ ﻓﺮﺽ” (diwajibkan). Sedangkan tempat tertuliskan takdir adalah al-Lauh al-Mahfuzh.

➡ 4.Pada ayat ini terdapat dalil adanya keseragaman pokok syari’at dalam sebagian hukum karena Allah berfirman dalam ayat ini,

ﻛَﻤَﺎ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺘَّﻘُﻮﻥَ

_“…(diwajibkan atas kamu berpuasa) sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu”_

Perbedaan ditemui pada tata cara, bentuk, waktu, periode pelaksanaan, dan hal semisal seperti yang difirmankan Allah ta’ala,

ﻟِﻜُﻞٍّ ﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺷِﺮْﻋَﺔً ﻭَﻣِﻨْﻬَﺎﺟًﺎ ۚ

_“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.”_ [Al-Maidah: 48]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

ﺍﻟْﺄَﻧْﺒِﻴَﺎﺀُ ﺇِﺧْﻮَﺓٌ ﻟِﻌَﻠَّﺎﺕٍ ﺃُﻣَّﻬَﺎﺗُﻬُﻢْ ﺷَﺘَّﻰ ﻭَﺩِﻳﻨُﻬُﻢْ ﻭَﺍﺣِﺪٌ

_”Para Nabi adalah bersaudara dari satu ayah, agama mereka satu sedangkan ibu (syari’at) mereka berbeda-beda.”_ [HR. al-Bukhari dan Muslim]

maksud hadits di atas, syari’at mereka berbeda-beda dalam perinciannya.

➡ 5.Pada ayat di atas terdapat penetapan adanya hikmah dalam setiap perbuatan Allah ta’ala dan pensyari’atan-Nya, karena Allah menyampaikan alasan mengapa berpuasa itu diwajibkan dalamfirman-Nya,

ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺘَّﻘُﻮﻥَ

_“…(yaitu) agar kamu bertakwa.”_

Tentunya hal ini berbeda dengan pendapat ahli kalam yang menolak hal tersebut.

_Wallahu ta’ala a’lam._

**

  • ➡ *Nilai-Nilai Akidah dalam Ayat dan Hadits Puasa (2)*

✅ Dalam ash-Shahihain, dari hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺑُﻨِﻲَ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡُ ﻋَﻠَﻰ ﺧَﻤْﺲٍ ﺷَﻬَﺎﺩَﺓِ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺇِﻗَﺎﻡِﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻭَﺇِﻳﺘَﺎﺀِ ﺍﻟﺰَّﻛَﺎﺓِ ﻭَﺍﻟْﺤَﺞِّ ﻭَﺻَﻮْﻡِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ

_“Islam terbangun di atas lima tonggak, yaitu: syahadat laa ilaaha illa Allah dan syahadat Muhammad Rasulullah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berhaji; dan berpuasa Ramadhan.”_ [HR. al-Bukhari dan Muslim]

*Nilai-nilai akidah yang terkandung dalam hadits di atas:*

➡ 1. Pada hadits di atas terdapat indikasi bahwa puasa adalah pokok dan pondasi agama Islam yang agung, karena puasa adalah rukun keempat dari Rukun Islam.

Hal ini menunjukkan bahwa perkara-perkara agama tidak berada dalam tingkatan yang sama, namun dapat dikategorikan menjadi perkara ushul (perkara pokok) dan perkara furu’ (perkara cabang).

Sebagian perkara agama lebih tinggi kedudukannya daripada perkara agama yang lain, sebagaimana yang ditunjukkan dalam lima rukun Islam ini. Dan dalam hadits juga dinyatakan,

ﻹﻳﻤﺎﻥ ﺑﻀﻊ ﻭﺳﺒﻌﻮﻥ ﺷﻌﺒﺔ ، ﻓﺄﻓﻀﻠﻬﺎ ﻗﻮﻝ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﺩﻧﺎﻫﺎ ﺇﻣﺎﻃﺔ ﺍﻷﺫﻯﻋﻦ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ، ﻭﺍﻟﺤﻴﺎﺀ ﺷﻌﺒﺔ ﻣﻦﺍﻹﻳﻤﺎﻥ

_“Iman memiliki lebih dari 70 cabang, yang paling tinggi adalah syahadat “laa ilaaha illallah” dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.”_ [HR. Muslim]

➡ 2.Pada hadits di atas terdapat bantahan bagi ahli kalam yang mengkhususkan perkara ushul dengan perkara-perkara yang berkaitan dengan i’tiqad dan perkara furu’ dengan perkara-perkara yang berkaitan dengan ahkam (hukum-hukum amaliyah).

✅ Mengapa demikian?

Karena puasa yang merupakan perkara ahkam termasuk dalam perkara ushul, bahkan menjadi rukun Islam. Oleh karena itu, kritikan pada ahli kalam ditujukan pada pijakan dan batasan mereka dalam melakukan pembagian di atas, bukan karena semata-mata pembagian perkara agama menjadi ushul dan furu’.

Bantahan dan kritikan ditujukan pada pembagian yang dilakukan ahli kalam ditinjau dari segi batasan dan konsekuensi pembagian tersebut.

✅ *Dalam hal batasan*, pengkhususan perkara ushul untuk perkara- perkara i’tiqad (akidah) dan perkara furu’ untuk perkara-perkara ahkam adalah pembagian yang tidak tepat, karena terdapat sejumlah perkara akidah yang bukan merupakan perkara ushul seperti perbedaan dalam menilai keutamaan antara sahabat Ali dan Utsman radhiallahu ‘anhuma atau permasalahan apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah ta’ala dalam peristiwa Mi’raj. Sama halnya, di sana terdapat perkara-perkara ahkam yang justru tercakup dalam perkara ushul seperti puasa.

✅ *Dalam hal konsekuensi* yang timbul dari pembagian tersebut, yaitu ahli kalam akhirnya tidak menggunakan khabar ahad sebagai hujjah dalam perkara akidah, padahal sebagaimana dimaklumi khabar ahad selama shahih sanadnya, maka wajib diterima kandungannya tanpa membeda-bedakan karena ia adalah wahyu Allah ta’ala melalui lisan Nabi seperti yang difirmankan,

ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻨْﻄِﻖُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻬَﻮَﻯٰ ﺇِﻥْ ﻫُﻮَ ﺇِﻟَّﺎ ﻭَﺣْﻲٌ ﻳُﻮﺣَﻰٰ

_“…dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”_ [An-Najm: 3-4)

***

  • SAATNYA BERTAUBAT, SEBELUM TERLAMBAT!

Allah telah memberikan nikmat yang banyak sekali kepada Bani Israil. Allah mengutus para Rasul dan Nabi-Nabi yang banyak kepada Bani Israil untuk membimbing mereka menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah menolong mereka dari kekejaman penguasa yang zalim sampai Allah membinasakan Firaun dan tentaranya.

Baru saja mereka diselamatkan oleh Allah, dan mereka telah menyeberangi lautan, mereka melihat orang – orang yang menyembah berhala. Mereka meminta kepada Nabi Musa untuk membuatkan berhala – berhala untuk mereka sembah. Nabi Musa mengingkari mereka. (Lihat Surat Al A’raf 138-139)

✅ Kemudian Nabi Musa Alaihissalam melanjutkan perjalanan bersama kaumnya. Kemudian beliau meninggalkan kaumnya selama empat puluh hari untuk menerima wahyu di gunung Thursina. Kepemimpinan diserahkan kepada Nabi Harun Alaihissalam. (Lihat surat Al A’raaf 142-147)

Sebagian besar Bani Israil menyimpang dengan menyembah patung sapi buatan Samiri. Nabi Musa pulang dalam keadaan marah kepada kaumnya. Beliau menghukum Samiri dan membakar patung sapi dari emas serta membuangnya ke laut. (lihat surat Al A’raaf 148-154 dan surat Thaaha 83-98)

Nabi Musa Alaihissalam membawa tujuh puluh orang pengikutnya mewakili kaumnya untuk bertaubat kepada Allah dan menaiki sebuah bukit. (Lihat surat Al A’raaf 155-157)

Sebagian kaumnya meminta kepada Nabi Musa Alaihissalam untuk langsung melihat Allah sebagai syarat keimanan mereka.

✅ Allah berfirman yang artinya, “Dan (ingatlah) ketika kalian (Bani Israil) berkata, “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan nyata, karena itu kalian disambar petir, sedang kalian menyaksikannya. Kemudian Kami bangkitkan kalian sesudah-kematian kalian agar kalian bersyukur.” (Surat Al Baqarah 55-56)

Kemudian Bani Israil berjanji setia untuk mengikuti syariat Allah yang telah disampaikan kepada Nabi Musa Alaihissalam. Allah mengangkat gunung Thursina diatas kepala – kepala mereka.

✅ Allah berfirman yang artinya,

Dan (ingatlah) ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka) : ” Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepada kalian, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.” (Surat Al A’raaf 171)

Kalau kita renungkan betapa banyak nikmat – nikmat yang Allah berikan kepada kita yang wajib kita syukuri.

Kita pernah sakit yang sepertinya akan mengantarkan kepada ajal, tapi Allah masih memberikan kesembuhan.

Saat di jalan raya, mungkin kita pernah mengalami kecelakaan atau nyaris kita mati di jalan raya. Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk hidup lebih panjang.

Kita pernah mengalami hidup susah, susah untuk makan dengan menu empat sehat lima sempurna. Susah karena kebutuhan yang wajar untuk keluarga masih lebih besar dari pendapatan kemudian Allah melepaskan kesusahan dan memberikan kemudahan.

Berbagai cobaan dan musibah silih berganti kemudian diakhiri dengan pertolongan Allah.

Apakah kita sudah bersyukur kepada Allah dengan melakukan ketaatan dan meninggalkan kebiasaan buruk dan dosa?

✅ Sampai kapan kita menunda taubat? Berbagai bisikan setan bertumpuk tumpuk menghalangi kita untuk bertaubat. Takut kemiskinan, takut celaan orang, takut kehilangan pengaruh dan takut takut lainnya yang menunjukkan kelemahan iman dan kurang percaya dengan janji Allah. Allah berjanji,

… ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻟَﻪُ ﻣَﺨْﺮَﺟًﺎ ‏(2‏) ﻭَﻳَﺮْﺯُﻗْﻪُ ﻣِﻦْ ﺣَﻴْﺚُ ﻟَﺎ ﻳَﺤْﺘَﺴِﺐُ ﻭَﻣَﻦْﻳَﺘَﻮَﻛَّﻞْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻬُﻮَ ﺣَﺴْﺒُﻪُ …‏(3 )

✅ Artinya,

“… Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya….” (Surat Ath Thalaq 2-3)

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk meninggalkan segala kebiasaan buruk. Semoga Allah menerima taubat kita dari segala dosa…

Ustadz Fariq Gasim Anuz

**

  • ➡ *Di antara kandungan surat ath-Thalaq*

Allah ta’ala berfirman,

ﻟَﻌَﻞَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﺤْﺪِﺙُ ﺑَﻌْﺪَ ﺫَٰﻟِﻚَ ﺃَﻣْﺮًﺍ

“…Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.” [QS. Ath-Thalaq : 1]

✅ Allah ta’ala berfirman,

ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻟَﻪُ ﻣَﺨْﺮَﺟﺎً . ﻭَﻳَﺮْﺯُﻗْﻪُ ﻣِﻦْ ﺣَﻴْﺚُ ﻻ ﻳَﺤْﺘَﺴِﺐُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَﻮَﻛَّﻞْﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻬُﻮَ ﺣَﺴْﺒُﻪُ

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” [QS. Ath-Thalaq : 2-3]

✅ Allah ta’ala berfirman,

ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِﻩِ ﻳُﺴْﺮًﺍ

Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” [QS. Ath- Thalaq : 4]

✅ Allah ta’ala berfirman,

ﺳَﻴَﺠْﻌَﻞُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑَﻌْﺪَ ﻋُﺴْﺮٍ ﻳُﺴْﺮًﺍ

Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” [QS. Ath-Thalaq : 7]

Seluruh ayat di atas tercantum dalam satu surat, yaitu surat ath-Thalaq, seolah-olah hal itu adalah hiburan dan kabar gembira bagi pasangan suami istri akan adanya kemudahan dan akhir yang baik dalam permasalahan rumah tangga yang dihadapi. Tapi, dengan syarat semua bentuk penyelesaian masalah rumah tangga yang diupayakan sesuai dengan batasan-batasan agama dan keduanya selalu dalam kondisi bertakwa kepada Allah dalam menghadapinya.

Ayat-ayat di atas setidaknya menunjukkan tiga hal penting yang tidak terbatas pada urusan perceraian/talak, tapi juga berlaku pada seluruh perkara. Ketiga hal itu adalah:

~•~•~~•~ (Lanjut ke Halaman 2) •~•~•~•~

Iklan