Fiqih Ramadhan (Bag.2)

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

Dimana Al-Qur’anmu-Ust.Syafiq Basalamah.webm
https://app.box.com/s/8gygtwywyx4kj6ozk6tzq5sh5dv0w3ou
Hanya Allah Pemberi Syafaat-Ust.Lalu Ahmad Yani.webm
https://app.box.com/s/gcnuiepad9cytq9qo57nydi73qx2sl7q
Ibadah Hanya kepada Allah Dengan Cinta,Harap,Dan Takut-Ust.Yazid Jawas.mp3
https://app.box.com/s/2rghmvxl2lgc598xrbj2bu5zufjgya7g
Ilmu Agama-Ust.Dr.Firanda Andirja.mp3
https://app.box.com/s/gqv6r37nn6ftqtnlf06z9h0nr62zq4hn
Islam Mengajak Pada Persatuan Bukan Perpecahan-Ust Yazid Jawas.mp3
https://app.box.com/s/wf3lksn6mre55pjkr4rwos6pp1bh13zl
Jauhi Keributan Jangan Jadi Ruwaibidhoh-Ust.Sofyan Chalid Ruray.mp3
https://app.box.com/s/wien1t3o5o2vkz1gxn5gnmgaatw7b742
Puasa dan Al-Quran-Ust.Dr.Firanda Andirja.mp3 https://app.box.com/s/427knri2e1xhd3nkxx0nehuuccrgi9pb
Serial Ramadhan Hukum Bersetubuh Di Siang Hari Ramadhan-Ust.Ahmad Firdaus.mp3
https://app.box.com/s/ctqb4wmgevgqd46kkczdmstq9q8oc2v1
Serial Ramadhan Makan Minum Saat Puasa Karena Lupa-Ust.Ahmad Firdaus.mp3
https://app.box.com/s/sqnsdwrtoo54yeoa3w7ikf4ltglaffma
Serial Ramadhan Nasehat Untuk Para Wanita-Ust.Ahmad Firdaus.mp3
https://app.box.com/s/rmf5xyefissto7f2p36rtlfc9prhwxdg
Tanya Jawab Ramadhan Ustadz Dr Aspri Rahmat Azai.MA.mp3
https://app.box.com/s/37dlm2fqtxpj73yffcj8dkw3cghhbklj
Untuk Apa Beribadah-Ust.Syafiq Basalamah.mp3
https://app.box.com/s/qjxsec5xky8noep6rxw7bcxh248f7c9l
Berburu Kunci Surga-Ust.Nizar Saad Jabal.mp3
https://mir.cr/1FFH4D23
https://drive.google.com/file/d/1MM-gnQr86FsX74MrYMBahu4Cpa0_s1zk/view?usp=drivesdk
—(WEBM DIPUTAR DENGAN MX PLAYER DI ANDROID)—
***
Ebook
Zikir dan Sunnah Harian Nabi shallallahu alaihi wasallam-Dr. Abdullah bin Hamod Al-Forih 173Halaman
https://app.box.com/s/s8qh0awonemdq5spgdued67y5zc9io19
Bekal Berpuasa-Fahad bin Yahya Al ‘Amariy 246Halaman
https://app.box.com/s/ceztjzztk5wzcbicg92evys634puyg06
Untaian Faedah Dari Ayat Puasa-Muhammad Abduh Tuasikal 113Halaman
https://app.box.com/s/b4w6kyv0f020vurhwjpx5e8nrp3qg3kp
Menjaga Tauhid-Syeikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz 133Halaman
https://d1.islamhouse.com/data/id/ih_books/single/id-menjaga-tauhid.pdf
Ad-Daa’ Wa Ad-Dawaa’ Macam-macam Penyakit Hati yang.Membahayakan dan Resep Pengobatannya -Karya : Ibnu Qayyim Al Jauziyah-566Halaman
https://app.box.com/s/dfnvyzv4xyzwxk14a9e5i1w0gmx4ygxx 

==

➡ Fiqih Ramadhan (Bag.2)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR

Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1

Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ

Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM

mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x

Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR

==

  • FIQIH RAMADHĀN (BAG.2)

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠّﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ

ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠّﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ

Kaum muslimin dan muslimat, rahīmani wa rahīmakumullāh, saya akan membahas tentang fiqih dan saya ambil dari bukunya Syaikh Muhammad bin Shālih Al Utsaimin rahimahullāh, “Majlis Syahri.Ramadhān”.

✅ Dalam kitab tersebut pada ﺍﻟﻤﺠﻠﺲ ﺍﻟﻌﺎﺷﺮ (pertemuan ke 10) beliau mengatakan:

ﻓﻲ ﺁﺩﺍﺏ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﺍﻟﻮﺍﺟﺒﺔ

Tentang adab- adab yang hukumnya wajib dikerjakan oleh orang yang berpuasa.”

✅ Karena adab itu ada yang sifatnya sunnah dan ada yang sifatnya wajib.

ﻓﻤﻦ ﺍﻵﺩﺍﺏ ﺍﻟﻮﺍﺟﺒﺔ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻡ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ ﺑﻤﺎ ﺃﻭﺟﺐ ﺍﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕﺍﻟﻘﻮﻟﻴﺔ ﻭﺍﻟﻔﻌﻠﻴﺔ ﻭﻣﻦ ﺃﻫﻤﻬﺎ

Diantara kewajiban seorang yang berpuasa adalah melakukan adab-adab yang telah diwajibkan oleh Allāh berupa ibadah-ibadah qauliyah (ucapan) ataupun fi’liyah (perbuatan).

Di antara kewajiban orang yang berpuasa adalah”

  • ➡ (1) Yang pertama | ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺍﻟﻤﻔﺮﻭﺿﺔ Shalāt wajib

Dan diantara adab ibadah yang paling penting bagi orang yang berpuasa adalah shalat wajib.

Diantara rukun iman yang paling besar setelah syahadatain adalah shalat wajib. Ada riwayat, bahkan banyak, yang menerangkan bahwa batas antara kekafiran dan ke-Islaman seseorang itu bukan puasa tapi shalat.

ﺍﻟﻌَﻬْﺪُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺑَﻴْﻨَﻨَﺎ ﻭَﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓُ، ﻓَﻤَﻦْ ﺗََﺮَﻛَﻬَﺎ ﻓََﻘَﺪْ ﻛََﻔََﺮَ .

Batas antara kita (kaum muslimin) dengan orang- orang kufar itu adalah shalat.”(HR Tirmidzi nomor 2545, versi Maktabatu al Ma’arif Riyadh nomor 2621)

Orang muslim itu tanda (ciri) utamanya adalah shalat. Kalau sampai meninggalkan shalat maka kafir, terlepas dari perbincangan para ulama dalam menghukumi bahwa kafirnya keluar dari agama Islam ataukah dia masih muslim tapi fasik. Kalau dia meninggalkan shalat dengan mengingkari kewajibannya, (misal meyakini):

Shalat ki ra wajib,” (shalat ini tidak wajib). “Sing wajib ki apik karo tonggone,” (yang wajib ini baik sama tetangga). Jika dia mengatakan begitu maka orang ini kafir karena dia mengingkari wajibnya shalat, sepakat para ulama bahwa orang ini kafir.

✅ Adapun selama orang itu masih meyakini:

Shalat ki yo wajib, ning males, aras-arasen, sibuk, mengko disek nek wis tuwo,” (Shalat ini ya wajib, tapi malas, ogah-ogahan, nanti dulu kalau sudah tua) sehingga dia tidak shalat sampai sudah tua, maka sebagian ulama mengatakan tidak kafir.

Tapi yang rajih, pendapat yang kuat, Wallāhu A’lamu bish Shawab, kalau terus-terusan tidak shalat meskipun dia meyakini wajibnya shalat maka dia kafir, na’udzu billāhi min dzalik.

  • ✅ ~~> Ustadz, saya dengan pengajian ini ingin menghukumi orang.

Pak, Bu, “Ngaji iku ora nggunuhi uwong, ngaji itu untuk merangkul orang. Ingat, ngaji itu bukan untuk memvonis, tapi justru semakin ngaji  kita semakin sayang kepada orang lain.

Kita ini dengan semakin ngaji jadi seperti dokter. Dokter itu kalau lihat pasien bagaimana? Pasti berpikiran bagaimana pasiennyasembuh. Orang yang ngaji itu makin lama semakin rahmat, semakin kasih sayang kepada orang lain, tidak gampang memvonis, tidak gampang.

✅ Maka betul kata Syaikhul Islam Ibnu Qayyim:

ﺃﻋﻼﻡ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺃﺭﺣﻤﻬﻢ ﺑﺎﻟﻤﺨﻠﻮﻕ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ

Ahlus sunnah wal jama’ah itu adalah orang yang paling kenal Allāh dan paling sayang kepada makhluk.”

Kita ngaji itu untuk selamat, bukan menganggap diri paling selamat. Nek (kalau) sekedar nganggep (menganggap) dirinya paling selamat semua orang mengaku dirinya ahlus sunnah waljama’ah, semuanya.

✅ Kata pepatah:

Semua orang mengaku jadi kekasihnya Laila, tetapi Laila ternyata tidak menerima cintanya.”

✅ Kenapa ?

Karena syaratnya tidak masuk hitungan Laila.

Semua orang mengaku dirinya yang paling benar tapi ternyata kebenaran tidak berpihak kepadanya. Maka, betul kata para ulama:

ﺍﻟﺤﻖ ﻻﻳﻘﻮّﻡ ﺑﺎﻟﺮﺟﺎﻝ ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﻳﻘﻮﻣﻮﻥ ﺑﺎﻟﺤﻖ

Kebenaran itu tidak diukur dari orang. Tapi justru orang-orang itu diukur kebenarannya. “

Jadi yang menjadi parameter adalah kebenaran bukan orangnya.

Angger sing kondo iku (kalau yang ngomong itu) Ustadz, Kyai, Doktor, Profesor, LC, MA itu pasti benar, belum tentu. Kita kembali.

Ternyata banyak orang yang tidak mau shalat tapi mau puasa, ini namanya adalah mendahulukan suatu kewajiban yang sifatnya dibawah meninggalkan sesuatu yang lebih wajib.

Puasa dibandingkan dengan shalat kedudukannya adalah jauh lebih tinggi shalat.

Makanya sebagian ulama bahkan mengatakan:

Orang yang tidak shalat puasanya tidak sah.”

Karena kei-Islamannya diragukan. Terlebih lagi kalau kaum pria yang wajib shalat berjamaah. Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam saja dalam keadaan peperangan bersama dengan shahabat tetap diperintahkan untuk melakukakn shalat berjamaah.

✅ Orang buta dituntun datangnya menghadap Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Ya Rasūlullāh, saya ini buta, wajib tidak saya shalat berjamaah?” Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wasallam: “Tidak.” Kemudian orang itu kembali, kemudian dipanggil lagi oleh Rasul shallallāhu ‘alaihi wasallam: “Kamu masih mendengar panggilan adzan atau tidak?”

Kata orang tadi: “Ya, saya mendengar.”

“Kalau begitu datang.” Dan perintah Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wasallam itu menunjukkan sesuatu yang wajib.

✅ Maka kewajiban pertama ketika bulan Ramadhān adalah kita tegakkan shalat.

Dan ditingkatkan pahalahnya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Ibadah itu ditingkatkan pahalanya (mutunya) oleh Allāh kemungkinan karena tempatnya yang mulia atau waktunya yang mulia.

Waktu yang mulia, contohnya bulan Ramadhān. Contohnya lagi shalat di tengah malam, makanya shalat tahajud adalah shalat yang paling utama:

ﺃﻓﻀﻞ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻔﺮﻳﻀﺔ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻠﻴﻞ

Shalat malam itu adalah shalat yang utama setelah shalat fardhu.”

✅ Kemudian, puasa juga bertingkat-tingkat. Ada puasa Ramadhān itu mulia, puasa Senin-Kamis juga mulia tapi ada yang lebih mulia daripada Senin-Kamis yaitu puasa hari arafah.

Shalat di bulan Ramadhān berbeda dengan shalat di bulan-bulan biasanya.

Demkian juga dengan tempat, shalat di masjidil Haram berapa kaliipat? 100 ribu kali, māsyā Allāh. 100 ribu kali dibandingkan dengan shalat sunnah di sini. Demikian juga shalat di masjid Nabawi,1000 kali. Kalau bisa ke masjidil Aqsha dan tidak membahayakan, shalat di sana 500 kali. Masjid Quba’, dari penginapan menuju masjid berjalan kaki maka seperti halnya orang yang melakukan umrah.

Ini adab yang pertama.

***

  • ➡ (2) Yang kedua | Tinggalkan Dusta

Karena orang yang berpuasa kalau dusta sebagian ulamā mengatakan puasanya batal tidak ada pahalanya. Dusta itu di luar bulan puasa saja dosa besar apalagi di bulan puasa. Jangan berdusta baik di luar bulan Ramadhān terlebih di dalam bulan Ramadhān.

ﻛﻮﻧﻮﺍ ﻣﻊ ﺍﻟﺼﺎﺩﻗﻴﻦ

Berlakulah anda, kumpulah anda bersama orang-orang yang jujur.”

✅ Sekarang harus kita praktekan, kalau jujur pasti mujur. Jadi, jangan berdusta di dalam bulan Ramadhān. Termasuk berdusta yang berbahaya adalah dusta atas nama Nabi.Shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Mubaliqh, Ustadz, hati-hati, tidak boleh berdusta. Lebih-lebih di bulan Ramadhān.

Kenapa (saya katakan demikian)?

Sebagaimana (telah banyak beredar) kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, bahwasanya, “10 hari pertama Ramadhān rahmat, pertengahannya maghfirah, akhirnya ‘Itqun minannār (pembebasan dari api neraka).”

Itu hadīts dha’if.

✅ Tapi bukan berarti Ramadhān itu tidak ada rahmatnya, tidak ada.maghfirahnya, bukan berarti tidak ‘Itqun minannār (pembebasandari api neraka). ‘Itqun min annār itu sepanjang malam bulan Ramadhān, “Wadzalika kula lailah…,” pembebasan dari api neraka itu setiap malam, kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Hadīts dha’if itu tidak bisa di nisbatkan kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Ini Ustadz kita mengatakan jangan dusta, dusta itu dosa besar, lebih-lebih di bulan Ramadhān, bulan yang penuh rahmat seperti sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Berarti dia dusta atau tidak? Dusta. Dusta atas nama siapa? Dusta atas nama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Ini dosanya besar, bertumpuk-tumpuk karena kalau dusta atas nama seseorang saja, misal nya:

“Eh, Pak Fulān tadi mengatakan begitu,” padahal tidak. Ini dusta atu tidak? “Dusta”. Besar tidak? “Besar”, karena memfitnah orang.

Ini yang di fitnah, dikatakan telah berkata begini-begini bukan orang biasa, tapi Rasūl shallallāhu ‘alayhi wa sallam, dan diancam oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

ﻣَﻦْ ﻛَﺬَﺏَ ﻋَﻠَﻲَّ ﻣُﺘَﻌَﻤِّﺪًﺍ ﻓَﻠْﻴَﺘَﺒَﻮَّﺃْ ﻣَﻘْﻌَﺪَﻩُ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

Barangsiapa yang berdusta atas namaku maka hendaklah dia menyiapkan tempat untuknya di dalam Neraka.” (Hadist riwayat Bukhāri nomor 104, versi Fathul Bari nomor 107)

✅ Jadi, kalau mau menyampaikan hadīts, maka sampaikanlah hadīts-hadits yang shahīh-shahīh saja. Bagaimana cara mengetahui hadīts-hadits ini shahīh atau tidak? Sekarang māsyā Allāh, internet itu faedahnya luar biasa, anda yang bisa berbahasa arab tinggal ketik hadīts apa saja kemudian tahu hukumnya hadīts itu.

Anda yang tidak bisa berbahasa Arab bisa ditulis terjemahannya hukum hadīts ini, nanti akan keluar, kedudukan hadīts tersebut. Jadi, māsyā Allāh, sekarang dimudahkan. Maka, untuk berceramah itu cukup dengan hadīts-hadits yang shahīh saja.

  • ➡ (3) Yang ketiga | Tinggalkan Ghībah.

Ibu-ibu, māsyā Allāh, menjelang berbuka ada tukang sayur kemudian ngobrol:.”Bukanya pakai apa?” “Ikan asin dengan kangkung.” “Ooh, tiap hari ikan asin sama kangkung?” “Iya, itulah suami saya. Ih, enak bener.” “Kalau suami saya tiap hari lauknya harus berubah, sekarang ikan, besok telur, besok kambing, besok sapi, terus berubah.” Tadinya memuji suami, akhirnya ikut ghībah suami orang. Hati-hati !

Kalau dikerjakan dibulan Ramadhān dosanya semakin besar. Sebagian ulamā mengatakan puasanya tidak akan diterima, Allāhu musta’an.

Mudah-mudahan Allāh melindungi kita.

  • ➡ (4) Yang keempat | Tinggalkan Namimah

✅ Tinggalkan adu domba. Misalnya:

Sama sama panitia ta’jil, Subhānallāh: “Eh, kata Si Fulān demikian loh.” “Kamu takjilnya cuma bisa ni.”.”Kata ini begini!”.Akhirnya kerengan (ribut).

Ini namanya mengadu domba, namimah.

Namimah itu menukil perkataan dengan tujuan merusak hubungan. Hati-hati, apalagi yang dirusak itu hubungan suami istri, ini di bulan puasa tidak boleh demikian, juga di bulan yang lain. Sebagian orang bisa melakukan amalan ibadah dengan meninggalkan perkara-perkara yang halal (karena berpuasa) tapimereka sulit untuk meninggalkan perkara-perkara yang harām.

Contohnya yang halal makan dan minum. Tapi yang harām, baik itu di luar bulan Ramadhān atau di dalam bulan Ramadhān sama-sama tidak boleh, bahkan di bulan.Ramadhān lebih lagi. Maka sungguh aneh kalau ada orang bisa meninggalkan sesuatu yang halal tapi dia tidak bisa meninggalkan sesuatu yang harām.

Lalu, paling aman bagaimana Ustadz bila bulan Ramadhān? Paling aman, perbanyak hubungan kita dengan Allāh. Orang kalau sudah memperbanyak hubungan dengan Allāh berarti hubungan dengan manusia bagaimana? Berkurang, jadi kesempatan untuk berbuat maksiat itu akan semakin berkurang, mumpung bulan Ramadhān.

✅ Lho Ustadz, katanya kalau beribadah harus sepanjang hari sepanjang tahun, lah ini Ramadhān koq saja? Tidak apa-apa, ulamā juga begitu mereka tambah semanggat di bulan Ramadhān dibandingkan di luar bulan Ramadhān. Kalau mungkin biasanya di luar bulan Ramadhān khatamnya sebulan sekali, ini sebagian ulamā, walaupun ini ijtihad mereka, ada yang mengkhatamkan Al Qurān sehari dua kali, ada yang mungkin mereka sepuluh hari sekali. Maka, silahkan mumpung bulan Ramadhān, semanggat sebagaimana para ulamā juga dulu semanggat. Kita tingkatkan hubungan kita dengan Allāh, sehingga kita tersibukan dan terkurangi hubungan kita dengan manusia. Bukan melupakan, karena kita masih butuh hubungan dengan istri, ngemong anak, sang istri butuh dengan suaminya, suami membutuhkan dia, anak-anak membutuhkan dia, tetangga membutuhkan dia, tapi yang seperti itu di kurangi.

✅ Dulu para ulamā kalau sudah masuk bulan Ramadhān tdak ngaji, pengajian-pengajian tutup kemudian baca Al Qurān. Bukan berarti majelis ilmu adalah majelis yang jelek, tidak !

Mereka melihat kesempatannya adalah untuk sebanyak-banyaknyamembaca Al Qurān.

***

  • ➡ (5) Yang kelima | Tinggalkan Kecurangan

Curang dalam hal apa? Curang dalam masalah jual beli (timbangan, takaran). Secara umum jujur dalam jual beli di luar bulan Ramadhān sangat dianjurkan.

✅ Kata Rāsulullāh shālallahu ‘alayhi wassalam bahwasanya:

ﻓَﺈِﻥْ ﺻَﺪَﻗَﺎ ﻭَﺑَﻴَّﻨَﺎ ﺑُﻮﺭِﻙَ ﻟَﻬُﻤَﺎ ﻓِﻲ ﺑَﻴْﻌِﻬِﻤَﺎ

Apabila penjual dan pembeli sama-sama menerangkan (sang penjual menerangkan aib barangnya), maka akan diberkahi jual beli keduanya.” (HR Muslim nomor 2825, versi Syarh Muslim nomor 1532)

Semakin kita jujur semakin barākah harta yang kita dapatkan. Itu di luar bulan Ramadhān, dalam bulan-bulan Ramadhān lebih- lebih lagi.

Kita harus meninggalkan curang karena kecurangan itu dosanya besar.

✅ Kata Rāsulullah shalallahu ‘alayhi wassalam:

ﻭَﻣَﻦْ ﻏَﺸَّﻨَﺎ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻨَّﺎ

Orang yang curang bukan termasuk golonganku.” (HR Muslim nomor 146, versi Syarh Muslim nomor 101)

✅ Suatu saat Rāsulullah shalallahu ‘alayhi wassalam inspeksi ke pasar, Beiau melihat seorang pedagang menumpuk makanan, luarnya bagus. Kemudian:

ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻣَﺮَّ ﻋَﻠَﻰ ﺻُﺒْﺮَﺓِ ﻃَﻌَﺎﻡٍ ﻓَﺄَﺩْﺧَﻞَ ﻳَﺪَﻩُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻓَﻨَﺎﻟَﺖْﺃَﺻَﺎﺑِﻌُﻪُ ﺑَﻠَﻠًﺎ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻣَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻳَﺎ ﺻَﺎﺣِﺐَ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺻَﺎﺑَﺘْﻪُ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀُ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِﻗَﺎﻝَ ﺃَﻓَﻠَﺎ ﺟَﻌَﻠْﺘَﻪُ ﻓَﻮْﻕَ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ ﻛَﻲْ ﻳَﺮَﺍﻩُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻣَﻦْ ﻏَﺶَّ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻨِّﻲ

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memasukan jarinya ke dalam tumpukan makanan. Maka didapatkan tumpukan makanannya itu basah bagian dalamnya. Kemudian ditarik dan katakan: ‘Wahai penjual makanan, ini kok basah kenapa?‘ Kata sang penjual: ‘Oh, itu kehujanan ya Rāsulullah, sehingga agak lembab dan agak busuk.’

Kata Rāsulullah shalallahu ‘alayhi wassalam:

Kenapa tidak kamu letakan di bagian atas sampai manusia bisa melihatnya?’ (Kata Rāsulullah shalallahu ‘alayhi wassalam selanjutnya:) ‘Yang berbuat curang tidak termasuk golonganku’.” (HR Muslim nomor 147, versi Syarh Muslim nomor 102)

Itu diluar bulan Ramadhān, lebih-lebih lagi nanti dibulan Ramadhān. Hati-hati !

  • ➡ (6) Yang keenam | Jaga Telinga

✅ Yang ke 6 ini betul-betul dinasehatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin.

Telinga wajib dijaga, dijaga dari apa?

Mendengan musik. Ya Allāh, musik itu sudah kaya racun dalam keehidupan para pemuda. Seikit-dikit musik. Kalau bulan Ramadhān, rumah kita ubah jadi madrasah Qurān.

Maka, cobalah di bulan Ramadhān ini kita hindarkan dari pendengaran-pendengaran yang tidak diridhai oleh Allāh. Kita ganti rumah kita menjadi rumah Al Qurān. Itu jauh lebih bermanfa’at. Saya kira sampai sini apa yang bisa saya sampaikan. Ini tentang adab-adab yang wajib. Adapun tentang adab-adab yang mustahab, contohnya adalah kalau sahur diakhirkan, kalau buka disegerakan. Terus kalau buka pakai kurma. Ruthab kalau ada, kalau tidak ada, kurma dan seterusnya.

Wallāhu Ta’ala A’lam bish Shawaab.

=

  • FOKUS MENUJU GARIS FINISH

Tidak terasa Ramadhan sudah dipertengahan dan semakin mendekati titik akhir, itu artinya Setiap kita harus lebih memacu ritme ibadah , sebagaimana yang di contohkan panutan kita Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Aisyah radhiyallahu anha mengatakan :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ

Adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh beribadah pada sepuluh malam terakhir di bulan romadhan , tidak seperti bersungguh-sungguh nya pada malam malam yang lain .” (HR Muslim).

Beliau shalallahu alaihi wasallam membangunkan para istrinya , menghidupkan malam malam nya untuk beribadah serta mengencangkan kain sarungnya, sebagai ungkapan untuk bersungguh sungguh dalam beribadah atau bermakna menjauhi para istrinya tidak mencampurinya, demi fokus ibadah dan bertaqarrub kepada Allah di malam yang penuh berkah.

✅ Aisyah radhiyallahu anha berkata :

كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Adalah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, bila sepuluh malam terakhir telah masuk, mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya” ( HR Bukhari dan Muslim ).

✅ Dalam riwayat lain, Aisyah radhiyallahu anha mengatakan :

لا اعلم رسول الله صلى الله عليه وسلم قرأ القرآن كله في ليلة ولاقام ليلة حتى أصبح ولا صام شهراً كاملاً قط غير رمضان

Aku tidak mengetahui Rasulullah shalallahu alaihi wasallam membaca Al Qur’an semalam suntuk kecuali di bulan Romadhan, demikian juga aku tidak melihat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam shalat semalam suntuk kecuali dibulan Romadhan, tidak pula aku melihat beliau puasa sebulan penuh kecuali di bulan Romadhan” (HR An Nassai)

Diantara amalan utama di sepuluh malam yang akhir di bulan Ramadhan adalah :

  • ➡ [1] Shalat malam

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berdiri (untuk mengerjakan shalat) pada lailatul qadr karena keimanan dan hal mengharap pahala, akan diampuni untuknya segala dosanya yang telah berlalu.” [HR Bukhari dan Muslim]

  • ➡ [2] Membaca Al-Qur`an

Dianatara karakteristik bulan Ramadhan adalah bahwa Ramadhan bulan Al Qur’an,

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur`an.” [Al-Baqarah: 185]

✅ Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bertadarus dengan Malaikat Jibril dimalam malam Romadhan , sebagaimana dalam riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَلْقَاهُ فِيْ كُلِّ سَنَةٍ فِيْ رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ فَيَعْرِضُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam orang yang terbaik dengan kebaikan, dan beliau lebih terbaik pada bulan Ramadhan. Sesungguhnya Jibril menjumpai beliau setiap tahun pada (bulan) Ramadhan hingga bulan berlalu. Beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam memperhadapkan (memeperdengarkan) Al-Qur`an kepada (Jibril). Apabila Jibril menjumpai (Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam), beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang lebih baik dengan kebaikan daripada angin yang berembus tenang.” [HR Bukhari dan Muslim]

  • ➡ [3] I’tikaf

I’tikaf berarti berdiam di masjid dalam rangka beribadah kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Tidaklah seseorang keluar dari masjid, kecuali untuk memenuhi hajatnya sebagai manusia.

I’tikaf adalah ibadah utama , baik pada bulan Ramadhan ataupun di luar Ramadhan. Amalan tersebut adalah syariat yang telah ada pada umat-umat sebelum umat Islam.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman ,

وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Sedang kalian beri’tikaf di dalam masjid.” [Al-Baqarah: 187]

✅ Ayat di atas masih dalam rangkaian penjelasan hukum-hukum seputar puasa Ramadhan. Jadi, I’tikaf memiliki kekhususan berkaitan dengan Ramadhan. Oleh karena itu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan sebagaimana diterangkan oleh hadits Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ,

أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Sesungguhnya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri beliau beri’tikaf setelah itu.” [HR Bukhari dan Muslim]

  • ➡ [4] Memperbanyak Doa

Ramadhan adalah bulan untuk memperbanyak doa, kaitaanya antara Romadhan dengan banyak berdoa adalah karena ayat doa diapit oleh ayat ayat puasa Romadhan, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ menyebut tentang doa di sela sela pembicaraan tentang hukum-hukum puasa.

✅ Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [Al-Baqarah: 186]

✅ Demikian juga bahwa akhir malam adalah waktu yang baik untuk berdoa,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ (وَفِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : حِيْنَ يَمْضِيْ ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَوَّلُ, وَفِيْ رِوَايَةٍ أُخْرَى لَهُ : إِذَا مَضَى شَطْرُ اللَّيْلِ أَوْ ثُلُثَاهُ) فَيَقُوْلُ مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِيْ فَأُعْطِيَهِ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita Tabâraka wa Ta’âlâ turun ke langit dunia setiap malam ketika sepertiga malam terakhir tersisa (dalam salah satu riwayat Muslim, ‘Ketika sepertiga malam pertama telah berlalu,’ dan dalam riwayat beliau yang lain, ‘Apabila seperdua atau dua pertiga malam telah berlalu,’), kemudian berfirman, ‘Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkan untuknya, barangsiapa yang meminta kepada-Ku, Aku akan memberikan untuknya, dan barangsiapa yang memohon ampunan kepada-Ku, Aku akan mengampuninya.’.” [HR Bukhari dan Muslim]

  • ➡ [5] Taubat dan Istighfar

Taubat dan istighfar adalah amalan yang di anjurkan pada seluruh keadaan.

✅ Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertaubatlah kalian seluruhnya kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kalian beruntung.” [An-Nûr: 31]

✅ Malam hari adalah tempat untuk bertaubat dan beristighfar bagi orang-orang yang bertakwa. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ. آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ. كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ. وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan pada mata air-mata air, sambil mengambil sesuatu yang diberikan oleh Rabb mereka kepada mereka. Sesungguhnya, sebelumnya di dunia, mereka adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam; Dan pada akhir malam, mereka memohon ampun (kepada Allah).” [Adz-Dzâriyât: 15-18]

  • ➡ [6] Umrah

✅ Umrah termasuk amalan yang agung, penuh dengan keutamaan dan kebaikan, serta lebih utama untuk diamalkan pada bulan Ramadhan karena Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عُمْرَةً فِيْ رَمَضَانَ تَقْضِيْ حَجَّةً مَعِيْ

Umrah pada bulan Ramadhan sama seperti berhaji bersamaku.” [HR Bukhari dan Muslim].

✅ Demikianlah semoga Allah Ta’ala memberikan kekuatan untuk menghidupkan malam yang penuh berkah dengan sungguh sungguh dalam ibadah. Khususnya di akhir romadhan karena Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah bersabda :

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada Finishnya.” (HR. Bukhari : 6607),

Wallahu Waliyyut Taufiq..

—Abu Ghozie As Sundawie—

==>…… (Lanjut ke Halaman 2) ==>…

Iklan