Menyoal Pendapat: “Boleh Mengganti Beras Zakat Fithri dengan Uang”* 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••.

1.Khutbah Idul Fitri 1440 H – Satukan Langkah, Tinggalkan Media Berita!!!

Adab-Adab Berpakaian Bagi Muslim Dan Muslimah

3.Menyambut Hari Raya

4.Mewakilkan untuk Dibelikan Beras Saat Membayar Zakat Fitrah

5.Nasihat Kepada Orang Yang Keberatan Mengeluarkan Zakat

6.Berburu Lailatul Qadar Saat Perjalanan Mudik

===

Pandangan Ulama Islam Tentang Sufi Tasawuf Part 4-Ustadz Harist Abu Naufal.mp3
https://app.box.com/s/ud9vejbanx6dytwdxcldy627ueogjcdz
Istiqomah Setelah Ramadhan-Ustadz Abdullah Taslim.mp3
https://app.box.com/s/yfsqozh5h2x4xkneb1kg6tti1rmkrcgo
Adab Di Hari Raya-Ust Ali Nur.mp3
https://app.box.com/s/pjtrji57zbygehlsixnt9268mlkcvqyz
Allah Al Halim Ustadz Firanda Andirja.mp3
https://app.box.com/s/f2ukyl3o7rixlf2rfqjj3kzrvhp2olc1
Bekal Ilmu Dalam Menyambut Hari Raya Idul Fitri-Ust.Muhammad Rofii.mp3
https://app.box.com/s/hgtttlc2yh7feqpk18cjr056j8hksri6
Renungan di Akhir Bulan Ramadhan-Ust.Ali Nur.mp3
https://app.box.com/s/2mqb6kxfuel6pwnqi2ggqofdea6v6n84
Serial Ramadhan Adab Shalat Idhul Fitri-Ust.Ahmad Firdaus.mp3
https://app.box.com/s/kq5lf0rlkrco7qmsh8kffhtxm256ett8
Serial Ramadhan Amalan Setelah Ramadhan-Ust.Ahmad Firdaus.mp3
https://app.box.com/s/od4yufm27n8p7f5p1q94xvbjzzcwqh0d
Ustadz Abdurrahman al Atsary-Beberapa Kesalahan Seputar 2 Hari Raya.mp3
https://app.box.com/s/38m43z32j7ip78gloc5zmcw3n3vdgjrj
Ustadz Abdurrahman al Atsary-Fiqih Seputar Hari Raya.mp3
https://app.box.com/s/3qstk37hbcgze7klkimrlewd0gtoz2l5  
===

Menyoal Pendapat: “Boleh Mengganti Beras Zakat Fithri dengan Uang”*

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

  • Menyoal Pendapat: “Boleh Mengganti Beras Zakat Fithri dengan Uang”*

————

Dalil-dalil sunnah yang bertebaran, menunjukkan bahwa Zakat Fithri ditunaikan dalam bentuk makanan pokok daerah setempat. Beras, kira-kira 3 Kg, untuk muslimin di Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya. Belakangan muncul pendapat; boleh menggantinya dengan uang senilai beras 3 Kg. Bahkan uang lebih bermanfaat bagi fakir miskin kata mereka.

Pendapat tersebut, perlu kita soal ulang terkait kebenaran dan keabsahannya. Tentunya dari berbagai sisi. Sebab, ini adalah urusan ibadah yang selalu berulang dan senantiasa kita lakukan. Landasan yang keliru dalam hal ini, bisa berdampak pada keabsahan ibadah itu sendiri.

Pertama; Apakah pendapat tersebut bersesuaian dengan dalil-dalil sunnah yang banyak? Atau justru menyelisihinya?

✅ Dalam hadits Ibnu ‘Umar yang termaktub dalam ash-Shahihain, dengan tegas disebutkan bahwa Rasulullah mem-fardhu-kan (فرض) Zakat Fithri seukuran 1 sho’ kurma atau gandum. Dalam riwayat lain, menggunakan lafaz “أمر”, yang berarti Rasulullah memerintahkan hal tersebut.

✅ Sementara dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri, yang juga diriwayatkan dalam ash-Shahihain, disebutkan bahwa di masa Rasulullah, para Sahabat mengeluarkan Zakat Fithri berupa makanan (طعام) seukuran 1 sho’.

Hadits-hadits yang semakna ini juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi, dan an-Nasaai dari Ibnu ‘Abbas.

✅ *Semuanya menunjukkan bahwa syariat benar-benar memaksudkan makanan pokok dalam penunaian Zakat Fithri. Bukan uang.*

Hadits Ibnu ‘Abbas yang menyebutkan 2 hikmah utama pensyariatan Zakat Fithri juga semakin menegaskan hal tersebut. Zakat Fithri sejatinya ditujukan sebagai; penyuci bagi orang yang berpuasa (طهرة للصائم) dari dosa dan perkara sia-sia, dan sebagai makanan bagi faqir miskin (طعمة للمساكين). Jika ditunaikan dalam bentuk uang, maksud tersebut bisa jadi tidak tercapai. Sebab uang tersebut boleh jadi akan dibelanjakan untuk keperluan lain selain makanan.

Kedua; apakah pendapat tersebut pernah mengemuka di era Rasulullah atau masa Sahabat?

Ternyata tidak sama sekali. Di era Rasulullah dan Sahabat, semuanya satu kata. Bahwa Zakat Fithri dikeluarkan dalam bentuk makanan seukuran 1 sho’. Ibnu ‘Abbas bahkan pernah berkhotbah menekankan hal ini, dan tidak ada Sahabat yang menyelisihinya. Menunjukkan bahwa ijma’ atau konsensus Sahabat telah tersimpul dalam masalah ini. Sementara ijma’ sudah pasti kebenaran. Apa yang menyelisihinya, bisa dipastikan bukanlah kebenaran, atau menyimpang dari kebenaran.

 ✅ Sebab Nabi pernah bersabda;

إِنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ ، وَيَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ

_”Sungguh Allah tidak akan mengumpulkan (ulama) umatku di atas kesesatan. Tangan Allah bersama al-jamaa’ah”_ [at-Tirmidzi: 2167, dihasankan al-Albani]

✅ Ditambah lagi, alat tukar sudah ada di era Rasulullah dan Sahabat. Toh, mereka–selaku generasi terbaik umat ini–tidak beralih dari makanan pokok menuju uang dalam penunaian Zakat Fithri. Padahal mereka adalah komunitas yang tinggal di tengah gurun, dikelilingi oleh bukit-bukit batu. Mereka punya kebutuhan yang lain selain makanan. Mereka butuh pakaian, selimut, penerangan, dsb.

Rasulullah –terlebih lagi Allah– tahun akan hal itu. Kebutuhan untuk disyariatkannya Zakat Fithri dengan uang, benar-benar ada, dan tidak ada penghalang untuk menetapkannya. Namun tetap saja Rasulullah memerintahkan Zakat Fithri dibayar dengan makanan pokok. Menunjukkan bahwa urusan Zakat Fithri ini memang bukan dengan uang.

➡ Ketiga; kenapa Rasulullah memerintahkan Zakat Fithri dibayar dengan satu takaran yang sama untuk beberapa jenis makanan yang berbeda?

Padahal masing-masing jenis makanan tersebut (seperti; kurma, gandum, kismis, dan keju) memiliki harga yang berbeda-beda. Ini, sebagaimana diungkapkan oleh al-Mawardi, menunjukkan bahwa syariat memang menghendaki makanan (pokok setempat) dalam penunaian Zakat Fithri. Bukan uang. Sebab jika boleh ditunaikan dengan uang, tentunya 1 sho’ gandum akan berbeda harga dengan kismis (zabiib) seukuran yang sama. Dan semestinya syariat akan memberikan kebijakan ukuran yang berbeda jika standarnya adalah harga. Satu sho’ gandum semestinya bisa diganti dengan ½ sho’ kismis. Karena kismis lebih mahal.

✅ Namun ternyata syariat tidak membedakannya dari sisi ukuran. Ijmak yang telah tersimpul di kalangan ulama menyatakan tidak sahnya Zakat Fithri dengan ½ sho’ kismis, sekalipun ia setara dengan 1 sho’ gandum dari sisi harga. Berarti yang jadi standar bukanlah harga atau uang, melainkan apa yang menjadi makanan pokok setempat dan seberapa ukuran atau takarannya.

Keempat; uang lebih bermanfaat bagi faqir miskin di hari ‘ied, benarkah..??

✅ Belum tentu. Boleh jadi seseorang membelanjakan uangnya pada hal-hal yang sebenarnya tidak atau kurang ia butuhkan. Berbeda dengan makanan pokok yang merupakan kebutuhan esensial. Mau tidak mau pasti butuh.

Syaikh Prof. Dr. Shalih Sindi –guru besar Universitas Islam Madinah sekaligus pengajar di Masjid Nabawi– menceritakan bahwa ada keluarga faqir yang beliau kenal, benar-benar mengkonsumsi stok makanan pokok hasil Zakat Fithri yang diperolehnya selama setahun penuh. Benar-benar manfaat yang luar biasa, selain manfaat yang pasti.

Karena memenuhi kebutuhan esensial manusia.

Kalaupun pada kasus tertentu seorang faqir miskin lebih butuh uang daripada beras, namun itu hanya bersifat situasional kondisional, juga temporer dan personal. Sementara syariat kita yang mulia dan bijak ini, bukanlah syariat yang hanya menjawab problema segelintir orang pada situasi dan lingkup momen yang terbatas.

Syariat kita adalah syariat yang universal, untuk segenap manusia, di setiap waktu dan tempat dengan berbagai latar kebutuhan mereka.

Di sisi lain, semua kita mengetahui, bahwa uang -sebanyak apapun itu-, sangat mungkin dalam sekejap tidak memiliki nilai tukar sama sekali, dikarenakan kejadian-kejadian tertentu di suatu negeri. Beda halnya dengan makanan pokok, kalaupun kurang dibutuhkan hari ini, esok bisa sangat berharga, atau paling tidak pada saatnya nanti, pasti dibutuhkan. Toh, si faqir miskin tetap bisa menjual kelebihan stok berasnya, jika ia sangat membutuhkan uang.

✅ Jika faqir miskin hanya diberi beras, beras dan beras, bagaimana dengan kebutuhannya yang lain? Mereka kan juga butuh pakaian, listrik, pulsa, butuh pendidikan, dsb? Subhanallah, bukankah syariat kita sudah memberi solusi untuk itu melalui Zakat Maal dan sedekah sunnah lainnya? Tak ada halangan untuk membayar Zakat Fithri kepada si miskin, ditambah dengan sejumlah uang yang diniatkan sebagai sedekah. Ini tentu lebih baik lagi.

Lagi pula, jika kita kembali pada aturan main dalam syariat, alasan _”uang lebih meng-cover kebutuhan faqir miskin”_ adalah alasan akal yang melawan nash (dalil naqli) atau hukum yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sementara dalam prinsip beragama kita, dalil naqli (al-Quran dan as-Sunnah) harus lebih dikedepankan daripada dalil akal. Kendati sebenarnya, pendalilan akal yang benar tidak akan mungkin bertolak belakang dengan dalil naqli.

Kelima; mampukah pendapat tersebut menjamin tidak terjadinya perubahan pada hukum lain yang semisal?

✅ Yang ada justru celah perubahan hukum –tanpa aturan– akan terbuka lebar. Bisa saja hukum penunaian kaffarat sumpah berupa makanan atau pakaian untuk faqir miskin akan berganti dengan uang. Jika demikian, kesakralan ayat ini akan hilang, dan tidak lagi memiliki esensi;

(…فَكَفَّـٰرَتُهُۥۤ إِطۡعَامُ عَشَرَةِ مَسَـٰكِینَ مِنۡ أَوۡسَطِ مَا تُطۡعِمُونَ أَهۡلِیكُمۡ أَوۡ كِسۡوَتُهُمۡ أَوۡ تَحۡرِیرُ رَقَبَةࣲۖ…)

_”….maka kafaratnya (denda pelanggaran sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian atau memerdekakan seorang hamba sahaya.”_ [QS. al-Maaidah: 89]

✅ Lambat laun, yang lebih parah lagi akan terjadi. Orang bakal seenak perut merubah aturan baku dalam agama ini, dengan alasan “lebih maslahat”…, “lebih mengakomodir tuntutan zaman”…, dan berbagai alasan lainnya yang cenderung sporadis bahkan liar mengikuti kemana hawa nafsu berhembus. Akhirnya, rusak dan kacau balaulah agama ini jika begitu.

****

Akhirul kalam, Allah selaku peletak syariat yang sempurna ini, adalah Dzat yang Mahatahu, Mahabijak, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia tahu apa yang masalahat dan dibutuhkan hamba-hamba-Nya dalam agama mereka. Rasulullah, sebagai penyampai syariat Allah, juga manusia yang welas asih, tidak menginginkan untuk umatnya sesuatu yang memberatkan, apalagi sesuatu yang tidak membawa kepada kemaslahatan.

✅ Mustahil Allah dan Rasul-Nya menetapkan aturan syari’at, jika itu tidak mengandung maslahat bagi hamba-hamba Allah, baik di dunia apalagi di akhirat.

✅ Bertolak dari itu, tentu di balik penetapan hukum Zakat Fithri harus dengan makanan pokok, ada hikmah yang terbaik dan sempurna. Sebab, hukum-Nya tak mungkin lepas dari sifat-sifat Allah yang Mahatahu, Mahabijak dan Maha Pengasih pada hamba-hamba-Nya.

وَٱتَّبِعۡ مَا يُوحَىٰٓ إِلَيۡكَ وَٱصۡبِرۡ حَتَّىٰ يَحۡكُمَ ٱللَّهُۚ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ

_”Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan. Dialah peletak hukum yang terbaik (karena hukum-Nya mengandung keadilan yang sempurna–dari segala sisi–).”_ [at-Tafsir al-Muyassar, QS. Yunus: 109]

Demikian, semoga bisa memberikan sedikit pencerahan. Hanya Allah tempat kembali, dan semoga amal ibadah kita, baik berupa Zakat Fithri ataupun amalan lain, diterima disisi-Nya.*)

Wallaahua’lam

_________

Abu Ziyan Johan Saputra Halim

==

  • Pensuci Orang Yang Berpuasa

✅ Ibnu Abbas berkata:

فَرَضَ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ الفِطرِ طُهرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعمَةً لِلمَسَاكِينِ، مَنْ أدَّاهَا قَبلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقبُولَةٌ، وَمَن أدَّاهَا بَعدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ»

Nabi shallallahu alaihi wasallam mewajibkan zakat fithr sebagai pensuci untuk orang yang berpuasa dari perbuatan sia sia dan ucapan yang tak baik. Dan sebagai makanan untuk orang orang miskin. Siapa yang mengeluarkannya sebelum sholat (ied) maka ia adalah zakat yang diterima. Dan siapa yang mengeluarkannya setelah sholat maka ia adalah sedekah.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud.

✅ Sungguh menggembirakan hati ketika membaca riwayat ini. Karena untuk meninggal perkara yang sia sia di saat berpuasa tidak mudah.

✅ Ketika kita berusaha beribadah tentu akan ada masa lelah. Di saat itu terkadang kita sibuk dengan hp atau lainnya dari perkara yang sia sia.

✅ Namun Allah Maha luas rahmatNya. Allah mensyariatkan zakat fithr untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perbuatan sia sia dan ucapan yang tidak baik.

✅ Segala puji bagi Allah yang amat sayang kepada hamba hambaNya. Zakat fithr juga memberikan kegembiraan untuk fuqoro dan orang orang miskin. Dari riwayat ini ada beberapa hukum yang bisa dipetik, yaitu:

  1. ➡ 1. Zakat fithr hendaknya berupa makanan bukan berupa uang.

✅ Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam menyuruh mengeluarkan zakat fithr dengan makanan. Padahal di zaman itu ada dinar dan dirham yang berfungsi sebagai uang. Namun Nabi hanya menyebutkan makanan saja. Ini adalah pendapat mayoritas ulama dan inilah yang rojih.

  • ➡ 2. mustahiq zakat fithr hanya fakir miskin saja bukan 8 ashnaf. 

Karena disebutkan dalam riwayat ini bahwa zakat fithr berfungsi sebagai makanan untuk fakir miskin.

✅ Juga disebutkan bahwa ia adalah pensuci. ini menunjukkan bahwa zakat fithr adalah jenis dari kafarat mirip dengan fidyah dan sejenisnya.

Dan kafarat bukan dari jenis zakat mal (harta).

Sehingga berbeda dengan zakat mal.

  • ➡ 3. Waktu pembayaran zakat adalah sebelum sholat ied.

✅ Dan itu adalah waktu yang paling utama. Dan diberikan rukhsah boleh dibayarkan 2 hari sebelum ied. Bila setelah sholat kita bari ingat belum membayarnya, maka ia wajib segera membayarnya.

Wallahu a’lam

–Ust.Badrussalam—

==

  • Zakat Fitri Dengan Uang

Tahukah anda,

khilafiyah masalah penunaian zakat fitri cukup dengan hanya membayar qiimah (harganya) saja (baca : diganti dengan uang).

Benar-benar bisa dilacak riwayatnya berasal mulai sejak zaman Tabi’in?

✅ Jadi sama,

Seperti antara khilafiyah penerapan takaran satu sho jenis gandum Syam yang dianggap oleh Gubernur Muawiyah senilai dengan dua sho jenis gandum Madinah. Sehingga untuk zakat fitri dengan jenis gandum Syam, cukup setengah sho’ saja.

Dengan Abu Musa Al Asy’ari yang tetap bersikukuh satu sho gandum untuk takaran zakat fitri itu tetap berlaku untuk gandum jenis apapun.

✅ Yang mana khilafiyah ini terekam riwayatnya di dalam kitab hadits.

Dengan aplikasi penerapan zakat fitri, dengan cukup membayar uang saja. Hal ini juga terekam di dalam kitab hadits.

Bahkan di kitab hadits tersebut, sengaja dibuat suatu judul bab khusus mengenai masalah pembayaran zakat fitri dengan uang ini.

Ini maksudnya benar-benar bayar Zakat fitri pakai uang lho. Bukan titip uang ke panitia agar nanti dibelikan makanan pokok untuk menunaikan kewajiban zakat fitri.

Kholifah Umar bin Abdul Aziz menetapkan, bahwa nilai zakat fitri pada zaman beliau itu cukup dengan bayar uang setengah dirham saja. Dan demikian juga beberapa pendapat ulama pemuka tabi’in yang membolehkan hal ini.

Dan uniknya lagi, Atsar-Atsar ini sama sekali tidak menyebutkan term and condition bahwa bolehnya bayar Zakat Fithri dengan uang ini, karena alasan adanya hajat ataupun mashlahat seperti argumentasi pendapat Ibnu Taimiyah sama sekali.

✅ Atsar-Atsar ini secara dhohir, membolehkan bayar Zakat Fithri pakai uang secara mutlaq. Dengan tanpa harus terikat alasan apapun.

***

Sekarang Kitab hadits yang mana sih, yang menyebutkan Atsar-Atsar Salaf di zaman Tabi’in. Yang meriwayat praktek bayar Zakat Fithri pakai uang, dan bahkan sampai dibikin suatu judul bab khusus dalam kitab tersebut?

Riwayat-riwayat tersebut ada di dalam Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, pada Kitab Zakat, dan dikumpulkan pada bab khusus yang berjudul

( فِي إعْطَاءِ الدَّرَاهِمِ فِي زَكَاةِ الْفِطْرِ)

Hal-hal yang berkaitan dengan pembayaran dirham untuk zakat fithri

Ada 5 hadits maqthu’ atau atsar yang berasal dari Tabi’in, dimulai dari nomor hadits 10151 sampai nomor hadits 10155, yang diriwayatkan khusus oleh Ibnu Abi Syaibah dalam bab itu.

Berikut adalah list hadits riwayat tabi’in nya :

[10151]

حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ ، عَنِ ابْنِ عَوْنٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ كِتَابَ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ يُقْرَأُ إلَى عَدِيٍّ بِالْبَصْرَةِ : ” يُؤْخَذُ مِنْ أَهْلِ الدِّيوَانِ مِنْ أَعْطِيَّاتِهِمْ عَنْ كُلِّ إنْسَانٍ نِصْفُ دِرْهَمٍ ”

Haddatsana (telah mengabarkan kepada kami) Abu Usamah, dari Ibnu Aun dia berkata :

Aku mendengar kitab (ketetapan) Umar bin Abdul Aziz dibacakan kepada Ady di Bashroh yang berbunyi, “Ambillah dari para ahli diwan (anggota perwakilan pemerintah) untuk penunaian (zakat fitri mereka), setiap orang sebesar setengah dirham” [10152]

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ ، عَنْ قُرَّةَ ، قَالَ : جَاءَنَا كِتَابُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ : ” فِي صَدَقَةِ الْفِطْرِ نِصْفُ صَاعٍ عَنْ كُلِّ إنْسَانٍ ، أَوْ قِيمَتُهُ نِصْفُ دِرْهَمٍ ”

✅ Haddatsana (telah mengabarkan kepada kami) Waki’, dari Qurroh dia berkata: Datang kepada kami kitab (ketetapan) Umar bin Abdul Aziz (yang berbunyi), “Penunaian Shodaqoh fithri (Zakat fithri) itu adalah setengah sho’ bagi setiap orang, atau dengan harga uang sebesar setengah dirham.” [10153]

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ ، عَنْ سُفْيَانَ ، عَنْ هِشَامٍ ، عَنِ الْحَسَنِ ، قَالَ : ” لَا بَأْسَ أَنْ تُعْطِيَ الدَّرَاهِمَ فِي صَدَقَةِ الْفِطْرِ ” .

Haddatsana (telah mengabarkan kepada kami) Waki’, dari Sufyan, dari, Hisyam, dari Al Hasan dia berkata: “Tidak mengapa kita mengeluarkan dirham untuk Shodaqoh Fithri (Zakat Fithri)”.

[10154]

حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ ، عَنْ زُهَيْرٍ قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا إِسْحَاقَ ، يَقُولُ : ” أَدْرَكْتهمْ وَهُمْ يُعْطُونَ فِي صَدَقَةِ رَمَضَانَ الدَّرَاهِمَ بِقِيمَةِ الطَّعَامِ ” .

Haddatsana (telah mengabarkan kepada kami) Abu Usamah, dari Zuhri dia berkata: Aku mendengar Abu Ishaq berkata, “Saya mengetahui bahwasanya mereka menunaikan Shodaqoh Romadhon nya (Zakat Fithri) dengan membayar uang dirham senilai harga makanan.”

[10155]

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ ، عَنْ عُمَرَ ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ ، عَنْ عَطَاءٍ ، ” أَنَّهُ كَرِهَ أَنْ يُعْطِيَ فِي صَدَقَةِ الْفِطْرِ وَرِقًا ” .

Haddatsana (telah mengabarkan kepada kami) Abu Bakar, dari Umar, dari Juraih, dari Atho’,

Bahwasanya dia tidak menyukai penunaian kewajiban Shodaqoh fithri (zakat fitri) dengan uang perak” Lihat riwayat riwayat itu dalam Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, pada :

https://www.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=96&pid=50017&hid=1015

***

Hmm terus sekarang bagaimana?

Ya kalau ulil Amri kita mewajibkan bayar Zakat Fithri harus dengan takaran makanan pokok. Yang mana ini yang dijadikan madzhab resmi suatu negara. Seperti mungkin apa yang dilakukan oleh Saudi Arabia.

✅ Maka kita ya dengar dan taat. Kita menunaikan zakat fitri dengan takaran bahan makanan pokok sebesar 1 sho’

Akan tetapi kalau ulil Amri kita membolehkan pembayaran zakat fithri dengan menggunakan uang, sebagaimana yang dilakukan oleh Kholifah Umar bin Abdul Aziz dan diperbolehkan oleh sebagian tabi’in dari kalangan Salaf

Maka ya kita hendaknya adem ayem saja.

✅ Masing-masing boleh jalan dengan apa yang dipandang baik bagi dirinya.

Jangan suka ngegas, nyinyir, sama yang berbeda pendapat. Dihormati saja. Lha wong ulil amri nya ngebolehin kok

✅ Sejak zaman Gubernur Muawiyah dan Kholifah Umar bin Abdul Aziz ada perbedaan pendapat mengenai perincian variasi cara pembayaran zakat fithri. Gubernur Muawiyah cukup setengah sho’ saja untuk gandum jenis Syam, sedangkan Kholifah Umar bin Abdul Aziz boleh pilih antara setengah sho’ atau uang setengah dirham.

Tapi ya karena ulil amri nya sudah bikin aturan yang membolehkan, maka ya adem ayem saja. Dan itu disaksikan oleh para sahabat dan para tabi’in juga.

✅ Kalau ulil Amri kita bikin aturan masalah zakat fithri nya emang gimana sih? Coba dilihat lagi.

Jadi orang itu jangan suka “reaktif”. Poso Poso kok senengane gegeran wae.

Betul?

Kautsar Amru

==

  • RANGKUMAN TENTANG ZAKAT FITHRI

Oleh : Abu Ghozie As Sundawie

➡ [1] MAKNA zakat fithri atau shadaqah fithri adalah shadaqah yang wajib ditunaikan dengan sebab fithri (berbuka) dari puasa Ramadhan, boleh juga disebut zakat Fithrah yang berarti Khilqah (jiwa) karena ditunaikan berkaitan jiwa atau badan. (lihat QS Ar Ruum : 30, pembahasan di kitab Az Zakah fil Islam, hal. 317)

➡ [2] HUKUM zakat Fithri adalah WAJIB berdasarkan al Quran, As Sunnah dan Ijma’ para ulama (kitab Az Zakah Fil Islam, hal. 317-318). Diwajibkan sebelum pensyari’atan Zakat Maal

➡ [3] Syarat kewajiban zakat fithri ada 3 (tiga) yaitu :

✅ (a) Islam

✅ (b) Mampu, yakni pada malam ied memiliki kelebihan beras dari kebutuhan keluarganya sebanyak 1 sha’. (kurang lebih 3 kg)

✅ (c) Mendapati waktu wajib yaitu tenggelamnya matahri pada malam ied akhir Ramadhan.

➡ [4] HIKMAH disyari’atkannya Zakat fithri :

✅ (a) Membersihkan orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan kemaksiatan yang merusak puasanya (HR Abu Dawud, no. 1609; Ibnu Majah, no. 1827 dari Ibnu ‘Abbas. Dihasankan oleh Syaikh al Albani)

✅ (b) Sebagai makanan orang Miskin, serta mencukupkan mereka dari meminta minta di hari raya. (HR Abu Dawud, no. 1609; Ibnu Majah, no. 1827 dari Ibnu ‘Abbas. Dihasankan oleh Syaikh al Albani)

✅ (c) melapangkan seluruh kaum muslimin

✅ (d) Mendapatkan pahala yang besar bagi yang menunaikannya sesuai tuntunan (dari waktunya, jenisnya serta pembagiannya, pen)

✅ (e) Sebagai zakat badan dalam rangka bersyukur atas umur panjang bisa hidup dalam tahun tersebut.

✅ (f) Tanda syukur atas nikmat Allah kepada orang yang berpuasa karena dapat menyempurnakan puasanya.

➡ [5] JENIS Zakat Fitri adalah berupa makanan pokok Negeri (Quutul Balad) seperti beras, dan tidak terbatas dengan yang disebutkan dalam hadits hadits seperti Kurma, gandum, anggur kering dll. (HR Bukhari : 1510, dari Abu Sa’id)

➡ [6] UKURAN zakat yang harus di keluarkan sebanyak 1 (satu) Sho’. (HR Bukhari : 1510, dari Abu Sa’id). Satu sha’ adalah empat mud. Satu mud adalah sepenuh dua telapak tangan biasa.

➡ [7] Ada PERBEDAAN pendapat tentang UKURAN satu sha’ jika dijadikan ukuran berat dalam timbangan, karena memang asal sha’ adalah takaran untuk menakar ukuran, lalu dipindahkan kepada timbangan untuk menakar berat dengan perkiraan dan perhitungan.

✅ (1)-Satu sha’ = 2,157 kg (Shahih Fiqih Sunnah, 2/83).

✅ (2)- Satu sha’ = 3 kg (Taisirul Fiqh, 74; Taudhihul Ahkam, 3/74).

✅ (3)-Satu sha’ = 2,40 gr gandum yang bagus. (Syarhul Mumti’, 6/176).

Untuk kehati hatian maka mengeluarkan dengan ukuran 3 kg insya Allah lebih menentramkan, dan jika ada kelebihan dari takaran yang ditetapkanpun maka hal itu sebagai sedekah tambahan, wallahu a’lam.

➡ [8] TIDAK BOLEH mengeluarkan zakat fithri berupa uang dan yang sejenisnya, namun harus berupa Tho’am (makanan pokok). Inilah pendapat mayoritas Para Ulama kecuali Imam Abu Hanifah yang membolehkan zakat Fitri dengan uang namun yang benar adalah pendapat Jumhur Ulama. Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Tidak sah zakat fitri dengan uang karena menyimpang dari dalil dalil (yang menunjukan dengan makanan) (Al Mughni 4/295, lihat dalam Az Zakah Fil Islam, hal. 342-343)

➡ 9] BOLEH mewakilkan penunaian zakat fithri berupa uang dengan syarat agar orang yang diwakili tersebut membelikan beras sehingga mengeluarkannya kepada fakir miskin tidak lagi berbentuk uang.

➡ [10] Zakat fitrah WAJIB hukumnya atas setiap muslim, baik itu hamba sahaya atau yang merdeka, laki-laki atau wanita anak kecil atau orang dewasa. (HR Bukhari : 1503, dan Muslim : dari Ibnu Umar)

➡ [11] SUAMI membayarkan zakat fithri atas dirinya dan orang yang menjadi tanggungannya seperti istri dan anak anaknya. (Hadits hasan riwayat Daraquthni no 2077,. Lihat Irwa-ul Ghalil, no. 835)

➡ [12] Dianjurkan juga untuk mengeluarkan zakat atas Janin yang masih dalam kandungan selama sudah ditiupkan Ruh, yaitu minimal usia kandungan 4 bulan, dalil atas hal ini adalah apa yang dilakukan oleh Utsman bin ‘Affan (Ibnu Abi Syaibah 3/419)

➡ [13] Jika ISTERI atau ANAK memiliki kemampuan untuk megeluarkan zakat Fithri maka dianjurkan untuk membayar zakat dari hartanya masing masing, karena kewajiban zakat diserukan juga terhadap mereka, namun jika dibayarkan oleh orang yang menanggung nafkahnya walaupun punya kemampuan maka di bolehkan (Al Muntaqa Lil Haditsi Fi Ramadhan, hal. 174)

➡ [14] WAKTU mengeluarkan zakat fithri dari mulai tanggal 28 Ramadhan sampai pagi hari raya iedul Fithri sebelum melakukan shalat ied. Dengan demikian terbagi tiga waktu ;

✅ (a) Waktu yang WAJIB yaitu akhir Ramadhan malam iedul fithri

✅ (b) Waktu yang BOLEH sebagi keringanan yaitu sehari atau dua hari sebelum ‘Ieddul Fithri (HR Bukhari : 1511; Muslim : 986 dari Ibnu Umar)

✅ (c) Waktu yang UTAMA yaitu pagi hari sebelum shalat ‘Ied (HR Bukhari : 1511, dan Muslim : 984 dari Ibnu Umar)

➡ [15] BOLEH mewakilkan penunaian zakat fithri sejak hari pertama bulan Ramadhan dengan syarat agar orang yang diwakili tersebut mengeluarkannya pada waktu waktu yang telah ditetapkan, baik waktu yang boleh atau wakatu wajib atau waktu yang utama.

➡ [16] Yang berhak MENERIMA zakat Fitrah menurut pendapat yang kuat hanyalah golongan Fakir Miskin saja tidak sebagaimana pada Zakat Maal berdasarkan hadits Ibnu Abbas (HR Abu Dawud, no. 1609; Ibnu Majah, no. 1827; dan lain-lain).

➡ [17] Yang UTAMA agar di keluarkan zakat fithri kepada FUQARA (orang faqir) di tempat yang berzakat berada, namun BOLEH di keluarkan ke tempat lain apabila ada KEMASLAHATAN yang lebih besar (Majmu’ Fatawa, Ibnu Baaz 14/214)

➡ [18] Zakat Fithri berbeda dengan KURBAN atau AQIQAH yang CARA PEMBAGIANNYA boleh dibagikan kepada tetangga atau teman atau kerabat atau siapapun baik MUSLIM atau KAFIR tanpa melihat status MISKIN atau TIDAK nya, maka zakat Fithri tidaklah diberikan kecuali kepada FUQARA dan MASAKIN yang MUSLIM saja.

Demikian semoga bermanfaat, Wallahu waliyyut Taufiq

== ~~~•••~~~ (Lanjut ke Halaman 2) •••••