Puasa Sunnah Ayyamul Bidh Bulan Syawwal 1440 H dan Menjadi Orang Tua Yang Saleh 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••••

1.Hijroh itu menjadikan lapangnya kehidupan … 
2.Walaupun Romadhon berlalu

3.PUASA SYAWAL DAN KEUTAMAANNYA

4.Pergantian Giliran Kepemimpinan

5.Allah berpaling darinya …

6.Peristiwa bersejarah di bulan Syawal

7.Tidak akan ketemu 2 rasa takut dan aman ini selamanya…

8. Faedah Dzikir

9.I k h l a s

10.Metode Dakwah kepada Orang Kafir

==

Puasa Syawwal-Ust Firanda Andirja

Qadha Dulu atau Syawwal Dulu-Konsultasisyariah

Memulai Puasa Syawwal Di Hari Jum’at-Konsultasisyariah 

Menggabung Niat Puasa Syawwal Dengan Puasa Qadha -Konsultasisyariah

Menggabung Puasa Syawwal Dengan Puasa Senin Kamis -Konsultasisyariah

Mengganti Niat Puasa Syawwal Dengan Puasa Qadha -Konsultasisyariah

Puasa syawal Harus Berturut-turut -Konsultasisyariah

Puasa Syawal Dengan Menentukan Hari-Konsultasisyariah

Puasa Syawal Bagi Yang Punya Tanggungan Qadha-Konsultasisyariah

Tata Cara Puasa Syawal-Konsultasisyariah

Watu Paling Baik Melaksanakan Puasa Syawal-Konsultasisyariah

Tugas-Tugas Ibadah di Bulan Syawal –Kitab At-Taudhih Wal Bayan Li Syajaratil Iman (Ustadz Abdullah Taslim, M.A.)

Jangan Lupakan Ramadhan (Ustadz Muhammad Nuzul Dzikry, Lc.)

==

Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja-Muhammad Abduh Tuasikal, MSc 86Halaman

Fiqih Puasa (membahas hukum seputar puasa, baik itu; Puasa Ramadhan, Puasa Sunnah,dan Puasa yang Dilarang)-54Hlm

Tafsir Ayat Tentang Puasa-42Hlm

Fiqih Puasa-90Hlm

(Membahas hukum seputar puasa, baik itu; Puasa Ramadhan,Puasa Sunnah,Puasa yang Dilarang, dan I’tikaf)

Untaian Faedah Dari Ayat Puasa-Muhammad Abduh Tuasikal 113Halaman

https://app.box.com/s/b4w6kyv0f020vurhwjpx5e8nrp3qg3kp
==

➡ Puasa Sunnah Ayyamul Bidh Bulan Syawwal 1440 H

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang Puasa,semoga Allahmenjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin .

  • Besok إِنْ شَاءَ اللَّهُ puasa ayyamul bidh...

_*Kita disunnahkan berpuasa dalam sebulan minimal tiga kali.* Dan yang lebih utama adalah melakukan puasa pada ayyamul bidh, yaitu *pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah (Qomariyah).* Puasa tersebut *disebut ayyamul bidh (hari putih) karena pada malam-malam tersebut bersinar bulan purnama dengan sinar rembulannya yang putih.*

*_Niatnya? Cukup di dalam hati ingin puasa ayyamul bidh*_

*Keutamaannya banyak, di antaranya*

_*1. Bekal akhirat,*_

_2. Seperti puasa sebulan (jika dikerjakan rutin setiap bulan, seperti puasa setahun),*_

_*3. Lalu baik untuk kesehatan.*_

✅ _Dalilnya sbb:

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda_

صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ

_*”Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.”* (HR. Bukhari no. 1979)_

✅ _Dari Ibnu Milhan Al Qoisiy, dari ayahnya, ia berkata_

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْمُرُنَا أَنْ نَصُوَ الْبِيضَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ . وَقَالَ هُنَّ كَهَيْئَةِ الدَّهْرِ

_*“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah).”* Dan beliau bersabda, *“Puasa ayyamul bidh itu seperti puasa setahun.”*

(HR. Abu Daud no. 2449 dan An Nasai no. 2434. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)_

➡Insya Allah…

*Shoum Ayyaamul Bidh untuk bulan Syawwal 1440 H bertepatan dengan*

Senin, 13 Syawwal 1440 H / 17 Juni 2019 M

• Selasa, 14 Syawwal 1440 H / 18 Juni 2019 M

• Rabu, 15 Syawwal 1440 H / 19 Juni 2019 M

_*Puasa Senin Kamis atau bahkan puasa Dawud bagi yang mengamalkannya, tetap memiliki fadhail di bulan Syawwal

➡ *Catatan* :

_Puasa tiga hari setiap bulan paling utama dikerjakan pada Ayyamul Bidh, yaitu tanggal 13,14, dan 15 setiap bulan Hijriyah. Dan jika tidak memungkinkan, tidak apa-apa dikerjakan di awal bulan atau di akhir bulan, boleh berurutan atau berselang._

_Dari Mu’adzah Al ‘Adawiyyah, ia pernah bertanya pada ‘Aisyah -istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam_

أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ قَالَتْ نَعَمْ. فَقُلْتُ لَهَا مِنْ أَىِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ كَانَ يَصُومُ قَالَتْ لَمْ يَكُنْ يُبَالِى مِنْ أَىِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ يَصُومُ

_*“Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan puasa tiga hari setiap bulannya?”* ‘Aisyah menjawab, *“Iya”.* Ia pun bertanya pada ‘Aisyah, *“Pada hari apa beliau berpuasa?”* ‘Aisyah menjawab, *“Beliau tidak memperhatikan pada hari apa beliau berpuasa dalam sebulan.”* (HR. Muslim no. 1160).*_

=

  • Puasa Tiga Hari setiap Bulan

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah, keluarga dan para sahabatnya.

Berpuasa tiga hari setiap bulan disunnahkan dan nilainya terhitung seperti puasa dahr (setahun), karena amal shalih dalam Islam diganjar sepuluh kali lipat. Berpuasa sehari diganjar seperti puasa sepuluh hari. Maka siapa yang berpuasa tiga hari setiap bulannya, dia terhitung berpuasa setahun penuh.

Dari Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya:

وَإِنَّ بِحَسْبِكَ أَنْ تَصُومَ كُلَّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَإِنَّ لَكَ بِكُلِّ حَسَنَةٍ عَشْرَ أَمْثَالِهَا فَإِنَّ ذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ

Dan sesungguhnya cukuplah bagimu berpuasa tiga hari dari setiap bulan. Sesungguhnya amal kebajikan itu ganjarannya sepuluh kali lipat, seolah ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan an Nasai)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: [1] berpuasa tiga hari setiap bulannya, [2] mengerjakan shalat Dhuha, [3] mengerjakan shalat witir sebelum tidur. (HR. Bukhari no. 1178.).

Mu’adzah bertanya pada ‘Aisyah,

أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَتْ نَعَمْ. قُلْتُ مِنْ أَيِّهِ كَانَ يَصُومُ قَالَتْ كَانَ لاَ يُبَالِى مِنْ أَيِّهِ صَامَ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa tiga hari setiap bulannya?” ‘Aisyah menjawab, “Iya.” Mu’adzah lalu bertanya, “Pada hari apa beliau melakukan puasa tersebut?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau).”[ HR. Tirmidzi no. 763 dan Ibnu Majah no. 1709. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

Dan disunnahkan melaksanakannya pada Ayyamul Bidh (hari-hari putih), yaitu tanggal 13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah. Diriwayatkan dari Abi Dzarr Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku:

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنْ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

Wahai Abu Dzar, jika engkau ingin berpuasa tiga hari dari salah satu bulan, maka berpuasalah pada hari ketiga belas, empat belas, dan lima belas.” (HR. At Tirmidzi dan al-Nasai. Hadits ini dihassankan oleh al-Tirmidzi dan disetujui oleh Al-Albani dalam al-Irwa’ no. 947)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul biidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.” (HR. An Nasai no. 2345. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Ash Shohihah no. 580.)

Dari Jabir bin Abdillah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

صِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صِيَامُ الدَّهْرِ وَأَيَّامُ الْبِيضِ صَبِيحَةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

Puasa tiga hari setiap bulan adalah puasa dahr (puasa setahun). Dan puasa ayyamul bidh (hari-hari putih) adalah hari ketiga belas, empat belas, dan lima belas.” (HR. An Nasai dan dishahihkan al Albani)

➡ Faedah dan Pelajaran Penting

✅ 1. Pada setiap kurun waktu waktu yang dilalui manusia, Allah azza wa jalla menetapkan musim-musim kebaikan, dan Dia azza wa jalla mensyariatkan padanya ibadah dan amal shaleh untuk mendekatkan diri kepada-Nya.[ Lihat keterangan Imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam Lathaiful Ma’arif hal.19-20]

✅ 2. Pahala perbuatan baik akan dilipatkan gandakan menjadi sepuluh kali,[ HR.al-Bukhari 42] karena puasa tiga hari pahalanya dilipatkangandakan sepuluh kali menjadi tiga puluh hari (satu bulan), maka kalau ini dikerjakan setiap bulan berarti sama dengan berpuasa satu tahun penuh.[ Lihat kitab asy-Syarhul Mumti’ 3/97 dan Bahjatun Nazhirin 2/390]

✅ 3. Keutamaan berpuasa ini lebih dikuatkan dengan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri, sebagaimana yang diriwayatkan oleh istri beliau, Aisyah radhiyallahu ‘anha.[ HR.Muslim 1160]

✅ 4. Demikian pula lebih dikuatkan dengan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada beberapa sahabat untuk melakukan puasa ini, seperti kepada Abu Hurairah [HR.al-Bukhari 1124 dan Muslim 721] dan Abu Dzar[HR.Muslim 722] radhiyallahu ‘anhuma.

✅ 5. Dianjurkan berpuasa tiga hari setiap bulannya, pada hari apa saja. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin menjelaskan, “Puasa tiga hari setiap bulannya boleh dilakukan pada sepuluh hari pertama, pertengahan bulan atau sepuluh hari terakhir dari bulan Hijriyah, atau pula pada setiap sepuluh hari tadi masing-masing satu hari. Puasa tersebut bisa pula dilakukan setiap pekan satu hari puasa. Ini semuanya boleh dan melakukan puasa tiga hari setiap bulannya ada keluasan melakukannya di hari mana saja. Oleh karena itu, ‘Aisyah mengatakan, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau di awal, pertengahan atau akhir bulan hijriyah)”. (Syarh Riyadhus Sholihin, 3/470.)

✅ 6. Yang paling utama puasa tiga hari ini dilakukan pada hari-hari bidh yang dikenal dengan ayyamul bidh. (putih/terang) (biid = putih, ayyamul = hari) karena pada malam-malam itu bersinar putih dikarenakan bulan purnama yang muncul pada saat itu [Lihat kitab asy-Syarhul Mumti’ 3/97 dan Bahjatun Nazhirin 2/389], yaitu tanggal 13,14 dan 15 setiap bulan (hijriyah),[ Lihat keterangan Imam an-Nawawi dalam “Riyadhus Shalihin” (2/389-Bahjatun Nazhirin)] karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memerintahkan hal ini secara khusus dalam hadits yang shahih di atas.[ HR.Abu Dawud 2449 dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani]

✅ 7. Larangan berpuasa tiap hari sepanjang tahun (puasa dahr), kemudian beliau membimbing mereka kepada kebaikan dan keutamaan yang mereka mampu kerjakan secara kontinyu.[ Lihat kitab Bahjatun Nazhirin 2/391]

✅ 8. Hadits-hadits tersebut juga menunjukkan keutamaan amal ibadah yang dikerjakan secara kontinyu(Menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling kontinyu dikerjakan meskipun sedikit.”[ HR.al-Bukhari 6099 dan Muslim 783.]

✅9 . Memberi istirahat pada anggota badan setiap bulannya. Wallahu a’lam.

Sumber:

1. Majalah As-Sunnah Edisi 10/Thn.XIII/Muharram 1431H/Januari 2010M

2. Artikel Rumaysho.com

=

  • Menjadi Orang Tua Yang Saleh

Oleh: Al-Ustadzah Ummu Umar Asma

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Begitu pula benih yang buruk, akan menghasilkan tanaman yang buruk. Sebaliknya, dari benih yang baik tentu akan dihasilkan tanaman yang baik pula, dengan izin Allah.

Demikianlah ungkapan-ungkapan yang menggambarkan hubungan antara perilaku anak dan perilaku orang tuanya. Memang, secara umum seperti itulah kenyataannya. Perilaku anak tidak jauh berbeda dengan perilaku ayah ibunya. Orang tua yang baik, yang senantiasa memerhatikan aturan-aturan agama, akan memiliki anak-anak yang baik pula, mudah diatur, sopan dalam tutur kata dan tindakannya. Adapun orang tua yang kurang bijak dan lebih sering “menyerempet” larangan-larangan agama, anak-anaknya pun tidak jauh beda dengan mereka. Semoga Allah melindungi kita dari hal demikian.

Sekali lagi, hal ini kita lihat secara umum. Sebab, ada pula fenomena yang menunjukkan sebaliknya. Yang jelas, hidayah hanya di tangan Allah, baik hidayah bagi orang tua maupun anak-anak.

  • Tanaman Sesuai dengan Benihnya

Pembaca Qonitah, dari pepatah dan ungkapan di atas, kita tahu betapa kuatnya pengaruh sikap orang tua terhadap sikap yang akan terbentuk pada diri anak. Ya, apabila benih yang bagus ditanam pada tanah yang subur dan dirawat dengan baik, tentu akan menghasilkan tanaman yang kuat dan berbuah banyak. Sebaliknya, benih yang buruk, pada tanah yang tandus, kiranya tanaman seperti apa yang bisa diharapkan tumbuh darinya?

✅ Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia,

وَٱلۡبَلَدُ ٱلطَّيِّبُ يَخۡرُجُ نَبَاتُهُۥ بِإِذۡنِ رَبِّهِۦۖ وَٱلَّذِي خَبُثَ لَا يَخۡرُجُ إِلَّا نَكِدٗاۚ كَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَشۡكُرُونَ ٥٨

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Rabb-nya. Adapun tanah yang buruk, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (al-A’raf: 58)

Seperti itu pula keberadaan anak. Pria saleh mestinya berpasangan dengan wanita salehah, sehingga menghasilkan keturunan yang saleh pula.

||••|| [Lanjut ke Halaman 2] ||••||

Iklan