Fiqh Puasa Syawwal

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Bahaya Riya

2.Mengenal Khiyar Majlis di Pasar

3.Larangan Jual Beli Najasy dan Bolehnya Jual Beli Lelang (Muzayadah)

4.Riya Dan Bahayanya

5.Mencela dan Mencaci Orang Tua

6.Lemahnya kekuatan selain Allah
7.Manusia Yang Paling Hina

Kajian Ilmiah Ustadz Abu Haidar As Sundawy

Yang Dibolehkan Bagi Yang SHAUM

Pembatal-Pembatal Shaum

Sunnah Bagi Yang Shaum #3

Sunnah Bagi Yang Shaum #2

Sunnah Bagi Yang Shaum #1 

Adab Shaum #2

Adab Shaum #1

(makna syahadat Muhammad Rasulullah)-Ust.Abu Hanifah Ibnu Yasin 

==

Al Itisam Adakah Istilah Bidah Hasanah Bag.1-Ustadz Farhan Abu Furaihan.mp3
https://app.box.com/s/1gyyx74dv7azd42btagvko94wdekfcc2
Al Itisam Adakah Istilah Bidah Hasanah Bag.2-Ustadz Farhan Abu Furaihan.mp3
https://app.box.com/s/ymlc9t7g2on9fn7gfama05mq948t15oe
Al Itisam Syubhat Bahwa Bidah Terbagi Menjadi 5 dan Bantahannya-Ustadz Farhan Abu Furaihan.mp3
https://app.box.com/s/8s2vqv9j45kjyghwje4mvd3enxh0y1dj
Bahaya Mengolok-ngolok Agama-Ust.Abu Hanifah Ibnu Yasin-mc.m4a
https://app.box.com/s/31ucbawi3bo4ietwbxfqp2ftgv7hpfbf
Mengenal Ringkas Makna Syahadat LA ILAHA ILLALLAH-Ust.Abu Hanifah Ibnu Yasin-mc.m4a https://app.box.com/s/y5kwj4wpq6imcgiswn1dm7kp4vsny3yg
(makna syahadat Muhammad Rasulullah)-Ust.Abu Hanifah Ibnu Yasin.mp3
https://drive.google.com/uc?export=download&id=1EhitN-RBg2MC096jJLK-Ccx5QYC8KgFo
Cara Bersyukur Kepada Allah-Ustadz Farhan Abu Furaihan.mp3
https://app.box.com/s/j2bcbhep2m96jo3c80k51ceyx4h713gu
Jangan CobaCoba Meninggalkan Shalat-Ustadz Farhan Abu Furaihan.mp3
https://app.box.com/s/2lndhph2hdmgxaabhz62amvbqbgbnpnx
Jangan Sekutukan Allah-Ust.Sofyan Chalid Ruray.mp3
https://app.box.com/s/hsf8jmv1biamxawscf72dz0m201ob6b9
Kapan Seorang Anak Wajib Mengerjakan Shalat Ustadz Farhan Abu Furaihan.mp3
https://app.box.com/s/z45ptapqa7svgpoxss6os0zg5bl2v3ip
Memudaratkan Orang Lain Maka Allah Akan Memudaratkanmu-Ustadz Farhan Abu Furaihan.mp3
https://app.box.com/s/sdd9fzdu9j7iydx0ps4uup1lrg8kx3h0
Sikap Muslim Menyikapi Berita Hoax-Ustadz Farhan AbuFuraihan.mp3
https://app.box.com/s/5qbicjnjpkjm9u1q0mu50gaa3fi9o24z
Tafsir Ibnu Katsir QS.Al Baqarah Ayat 6 Keadaan Sifat Orang Kafir-Ust.Farhan Abu Furaihan.mp3
https://app.box.com/s/uqsei8848o9ju6syxegkjmj99hy6eslr
Tafsir Ibnu Katsir QS.Al Baqarah Ayat 8 Sifat Orang Munafik-Ust.Farhan Abu Furaihan.mp3
https://app.box.com/s/n55si88nhatuqeae096ksk15dymz369o
Tafsir Ibnu Katsir QS.Al Baqarah Ciri dan Sifat Orang Beriman dan Bertakwa-Ust.Farhan Abu Furaihan.mp3
https://app.box.com/s/ho283hw5q1poojph5t30o6wq4kvc4ecd
 
==

Ebook
Hadits Puasa dari Bulughul Maram-karya Ibnu Hajar Al-Asqalani.85Halaman

Bekal Berpuasa-Fahad bin Yahya Al ‘Amariy 246Halaman

Untaian Faedah Dari Ayat Puasa-Muhammad Abduh Tuasikal 113Halaman

Risalah Puasa Bagi Kaum Muslimin-38Hlm 

➡ Fiqh Puasa Syawwal

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

Open Donasi,Sedekah,Waqaf,Infaq: https://bit.ly/2JIhYq3

kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR

Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1

Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ

Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM

mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x

Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR

==

  • Fiqh Puasa Syawwal

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ, ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ اَلدَّهْرِ 

Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti dengan berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa setahun.” (HR. Jama’ah ahli hadits selain Bukhari dan Nasa’i)

Hadits ini menunjukkan dianjurkannya puasa enam hari di bulan Syawwal. Pendapat inilah yang dipegang oleh Imam Ahmad, Imam Syafi’i dan lainnya. Namun Imam Malik mengatakan makruh, menurut Ibnu Abdil Bar Imam Malik berpendapat begitu karena belum sampai hadits ini kepadanya.

✅ Imam Nawawiy dalam Syarh Muslim berkata, “Sahabat-sahabat kami (yang semadzhab) berkata, “Afdhalnya melakukan puasa enam hari secara berturut-turut setelah Idul Fithri (yakni dimulai pada tanggal 2 Syawwal)”. mereka juga berkata, “Kalau pun tidak berturut-turut atau ditunda tidak di awal-awal bulan Syawwal, tetapi di akhirnya maka ia tetap mendapatkan keutamaan “mengiringi”, karena masih bisa dikatakan “mengiringi dengan enam hari di bulan Syawwal.”

Para ulama mengatakan, “Dianggap seperti berpuasa setahun adalah karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan, bulan Ramadhan dihitung sepuluh bulan, sedangkan enam hari di bulan Syawwal dihitung dua bulan.

Ini adalah karunia dari Allah dan kemurahan-Nya, dengan umur kita yang sedikit, namun jika mengerjakan amalan ini, kita dianggap berpuasa selama setahun. Sungguh sangat beruntung orang yang memanfaatkan kesempatan ini untuk berpuasa sebelum habis waktunya.

Saudaraku, sesungguhnya Allah Ta’ala apabila menerima amal seorang hamba, maka Dia akan memberikan taufiq (membantunya) untuk mengerjakan amal salih lainnya.

➡ Beberapa masalah yang berkaitan dengan puasa Syawwal

✅ 1. Para fuqaha (ahli fiqh) berselisih tentang hukum melakukan puasa sunnah sedangkan puasa  Ramadhan belum diqadha’nya’ hingga timbul 3 pendapat:

✅ a.   Tidak apa-apa melakukan puasa sunnah meskipun belum mengqadha’ puasa Ramadhan. Ini adalah pendapat madzhab Hanafiyyah. Di antara alasannya adalah penjelasan Aisyah radhiyallahu ‘anha yang melakukan qadha’ puasanya di bulan Sya’ban, dan tidak mungkin antara bulan Ramadhan sebelumnya dengan bulan Sya’ban ia tidak melakukan puasa sunat, wallahu a’lam.

✅ b.   Tidak mengapa tetapi makruh, karena sama saja ia menunda yang wajib. Ini pendapat madzhab Maalikiyyah dan Syaafi’iyyah.

✅ c.    Haram melakukan puasa sunnah jika puasa Ramadhan belum diqadha’ dan tidak sah puasanya, ia harus mengerjakan puasa wajib lebih dahulu lalu berpuasa sunnah. Ini madzhab Hanabilah.

.

Oleh karena itu, sebaiknya jika kita hendak berpuasa sunnah, hendaknya kita kerjakan dahulu puasa yang wajib yang belum diqadha’, setelah itu mengerjakan puasa sunnah.

✅ 2. Di antara ahli ilmu ada yang berpendapat bahwa wanita yang nifas, jika ia tidak berpuasa Ramadhan hampir sebulan penuh, maka ia kerjakan puasa Ramadhan dahulu, kemudian mengerjakan puasa Syawwal, meskipun sebagian puasa Syawwal ia kerjakan di bulan Dzulqa’dah, karena habis terisi dengan qadha’ puasa Ramadhan yang dikerjakannya.

✅ 3. Masing-masing ibadah termasuk puasa wajib disertai niat, untuk puasa wajib, niat harus sudah ada sebelum terbit fajar, namun untuk puasa sunnah, niatnya boleh setelah terbit fajar. Dan niat ini tempatnya di hati, bukan di lisan.

  • Hikmah Puasa Syawwal

Ibnu Rajab rahimahullah berkata,

“Kembali berpuasa setelah Ramadhan memiliki banyak faedah, di antaranya:

✅ 1. Puasa enam hari di bulan Syawwal setelah Ramadhan menjadikan pahala orang yang berpuasa sempurna seperti puasa setahun.

✅ 2. Puasa Syawwal dan Sya’ban seperti shalat sunah rawatib sebelum shalat fardhu dan setelahnya, sehingga dapat menyempurnakan kekurangan pada shalat fardhu, karena kekurangan pada shalat fardhu dapat ditutupi atau disempurnakan dengan shalat sunah pada hari Kiamat.

✅ 3. kembali berpuasa setelah puasa Ramadhan merupakan tanda diterima puasa Ramadhan, karena apabila Allah menerima amal seorang hamba, Dia memberinya taufik untuk beramal saleh lagi setelahnya sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama bahwa, pahala kebaikan adalah kebaikan lagi setelahnya.

✅ 4. Puasa Ramadhan dapat menghapuskan dosa yang telah lalu, dan bahwa orang-orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahala sempurna saat Idul Fitri, sehingga kembali berpuasa setelah Idul Fitri merupakan tanda syukur terhadap nikmat itu, dan tidak ada nikmat yang lebih besar daripada diampuni dosa.

Nabi shallallahu alaihi Wasallam ketika qiyamullail sampai bengkak kedua kakinya lalu ditanya, “Mengapa engkau melakukan hal ini padahal dosamu yang lalu dan akan datang telah diampuni?” Beliau bersabda, “Tidak patutkah aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?!”

✅ 5. Termasuk bentuk seorang hamba kepada Rabbnya dengan diberi-Nya taufik untuk berpuasa Ramadhan, dibantu-Nya, serta diampuni dosa-dosanya adalah dia melakukan puasa sebagai bentuk syukur terhadapnya.”

(Latha’iful Ma’arif hal. 219)

  • Fatwa Lajnah daa’imah yang berkaitan dengan puasa Syawwal dan puasa sunat lainnya

Ketua        : Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz

Wakil         : Syaikh ‘Abdurrazzaq ‘Afiifiy

Anggota   : Syaikh Abdulllah bin Ghudayyan

Anggota   : Syaikh Abdullah bin Qu’uud

Fatwa no. 2264

Pertanyaan: “Apakah orang yang berpuasa enam hari di bulan Syawwal, namun ia belum menyempurnakan puasa Ramadhannya, misalnya ia tidak berpuasa Ramadhan selama sepuluh hari karena uzur syar’i,  apakah ia mendapatkan pahala seperti orang yang menyempurnakan puasa Ramadhan kemudian melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawwal yang pahalanya seperti orang yang berpuasa setahun penuh, berikanlah penjelasan, semoga Allah membalas anda?”

➡ Jawab, “Urusan pahala yang dikerjakan hamba itu kembalinya kepada Allah, ini adalah hak khusus bagi Allah ‘Azza wa Jalla, dan seorang hamba apabila berusaha mencari pahala dan bersungguh-sungguh menjalankan ketaatan, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan pahalanya sebagaimana firman-Nya:

Sesungguhnya Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang memperbaiki amalnya.” (Terj. QS. Al Kahfi: 30)

Namun seharusnya bagi orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan, hendaknya mendahulukan (qadha’ puasa Ramadhan), kemudian puasa enam hari di bulan Syawwal, karena hal tersebut tidak termasuk (dikatakan) mengiringi Ramadhan dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, kecuali jika ia menyempurnakan puasa (Ramadhan)nya.”

Wa billahit taufiiq, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam

Fatwa no. 10195

➡ Pertanyaan: “Apa hukum orang yang puasa sunat, kemudian di tengah-tengah puasanya ia berbuka, apakah dia wajib melakukan sesuatu?”

➡ Jawab, “Bagi orang yang berpuasa sunat boleh berbuka di tengah-tengah puasanya, karena orang yang berpuasa sunat diberikan pilihan (antara berpuasa atau tidak) sebelum memulai puasa, sehingga setelah memulai puasa, ia pun tetap diberikan pilihan.”

Wa billahit taufiiq, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam

Fatwa no. 2232

➡ Pertanyaan, “Orang yang memiliki hutang puasa, namun ia malah mengerjakan puasa sunat sebelum mengqadha’ puasa wajibnya itu, lalu setelahnya ia mengqadha’, apakah (qadha’nya) itu sah?”

➡ Jawab, “Orang yang berpuasa sunat sebelum mengqadha’ puasa wajibnya, setelah itu ia mengqadha’, maka qadha’nya sah. Tetapi seharusnya, dia mengqadha’ dahulu, setelah itu melakukan puasa sunat, karena yang wajib itu lebih penting.”

Wa billahit taufiiq, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam

Fatwa no. 6497

➡ Pertanyaan: “Bolehkah berpuasa sunat dengan dua niat; niat mengqadha’ (puasa wajib) dan niat mengerjakan puasa sunat, dan apa hukum berpuasa bagi musafir dan orang yang sakit, khususnya yang dianggap secara mutlak sebagai safar dikatakan safar, juga (bagaimana) jika si musafir sanggup berpuasa, dan juga jika si sakit sanggup berpuasa, apakah dalam kondisi ini puasanya diterima atau tidak?”

➡ Jawab, “Tidak boleh berpuasa sunat dengan dua niat; niat mengqadha’ dan niat puasa sunat. Yang utama bagi musafir yang melakukan safar yang membolehkan mengqashar adalah berbuka, tetapi kalau pun berpuasa, maka sah.

Demikian juga lebih utama bagi orang yang terasa berat dan bisa menambah parah sakitnya untuk berbuka, demi menghindarkan kepayahan dan bahaya. Musafir serta orang yang sakit wajib mengqadha’ puasa Ramadhan yang ia berbuka itu di hari-hari yang lain, tetapi kalau pun ia memaksakan diri untuk puasa, maka puasanya sah.”

Wa billahit taufiiq, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Fatwa no. 12128

➡ Pertanyaan, “Hari-hari apa saja yang lebih baik untuk berpuasa sunat, dan bulan apa saja yang paling utama untuk mengeluarkan zakat?”

➡ Jawab: “Hari yang paling utama untuk berpuasa sunat adalah hari Senin dan Kamis, Ayyamul Biedh yaitu tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan (Hijriah), sepuluh hari bulan Dzulhijjah, khususnya hari ‘Arafah, tanggal sepuluh bulan Muharram dengan berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya dan puasa enam hari di bulan Syawwal.

Adapun untuk zakat, maka ia dikeluarkan jika sudah sempurna satu tahun ketika sudah sampai nishabnya di bulan apa saja.”

Wa billahit taufiiq, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Fatwa no. 13700

➡ Pertanyaan: “Bolehkah berpuasa ‘Asyura (10 Muharram) hanya sehari saja?”

➡ Jawab: “Boleh berpuasa ‘Asyura sehari saja, akan tetapi yang lebih utama adalah berpuasa juga sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, ini adalah Sunnah yang sah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdasarkan sabda Beliau:

لَئِنْ بَقِيْتُ إِلىَ قَابِلٍ لَأَصُوْمَنَّ التَّاسِعَ

Sungguh, jika saya masih hidup tahun depan, niscaya saya akan berpuasa pada tanggal sembilan.”

Ibnu Abbas mengatakan, “Yakni dengan sepuluhnya.”

Fatwa no. 2014

➡ Pertanyaan: “Saya berpuasa tiga hari setiap bulan, di salah satu bulan saya sakit, sehingga tidak bisa berpuasa, apakah saya mesti qadha’ atau membayar kaffarat?”

➡ Jawab: “Puasa sunat tidak diqadha’ meskipun meninggalkannya atas keinginan sendiri, hanya saja bagi seseorang selayaknya menjaga amal salih yang biasa dikerjakannya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلىَ اللهِ مَاداَوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang senantiasa dikerjakan meskipun sedikit.”

Oleh karena itu, anda tidak mesti mengqadha’, juga tidak perlu membayar kaffarat, dan perlu diketahui bahwa amal salih yang ditinggalkan seorang hamba karena sakit atau tidak sanggup ataupun karena sedang safar dsb, akan dicatat pahalanya, berdasarkan hadits,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيْماً صَحِيْحاً

Apabila seorang hamba sakit atau bersafar, maka akan dicatat untuknya pahala seperti yang biasa dikerjakannya ketika tidak safar dan sehat.” (HR. Bukhari  dalam shahihnya)

Wa billahit taufiiq, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Fatwa no. 13589

➡ Pertanyaan: “Saya seorang wanita yang ingin berpuasa tiga hari pada setiap bulan, akan tetapi saya tidak bisa berpuasa tanggal 13, 14 dan 15, karena saya wanita yang terkadang datang bulan dan nifas, bolehkah saya berpuasa hari apa saja tanpa harus tanggal 13, 14 dan 15? Dan apabila saya kerjakan di hari apa saja setiap bulan, apakah bisa dianggap puasa setahun atau tidak?  -semoga Allah membalas anda-”

➡ Jawab, “Yang paling utama bagi yang hendak berpuasa tiga hari di setiap bulan adalah pada Ayyaamul biidh (tanggal 13, 14 dan 15), namun kalaupun pada hari yang lain, maka tidak apa-apa, kami berharap hal tersebut dianggap puasa setahun, karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh, juga karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada Abu Hurairah dan Abud Dardaa’ untuk berpuasa tiga hari di setiap bulan, tidak menentukan harus Ayyaamul biidh, demikian juga karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma,

صُمْ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ

Berpuasalah tiga hari dalam setiap bulan, itu adalah puasa setahun.”

Wa billahit taufiiq, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Fatwa no.11507

➡ Pertanyaan, “Ada orang yang memiliki kebiasaan tahunan, ia berpuasa tiga hari bulan Sya’ban yaitu pada Ayyaamul biidh, pada malam ke lima belas Sya’ban ia menyembelih seekor sembelihan sebagai sedekah, saya minta penjelasan tentang hukumnya agar lebih lengkap dalam menasehatinya atau lebih kuat?”

➡ Jawab, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memang mendorong berpuasa tiga hari Ayyaamul biedh setiap bulan sebagai amal sunat, namun tidak menentukan bulan ini saja, bulan yang lain tidak, selain Ramadhan sebagaimana sudah kita ketahui. Oleh karena itu pengkhususan Anda hanya berpuasa di bulan Sya’ban saja menyalahi keumuman Sunnah yang menunjukkan tidak khusus (bulan tertentu). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mendorong ummatnya untuk bertaqarrub kepada Allah Ta’ala dengan melakukan kurban sunat tanpa menentukan hari atau bulan, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, 

Katakanlah, Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (terj. Al An’aam: 162)

Oleh karena itu, kebiasaan anda melakukan taqarrub dengan melakukan penyembelihan pada malam ke-15 adalah bid’ah, mengkhususkan sesuatu tanpa dalil, dan telah sah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Beliau bersabda, “Barang siapa yang mengerjakan amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan itu tertolak.”, dan

Beliau bersabda, “Barang siapa yang mengadakan dalam urusan agama kami ini, yang tidak termasuk di dalamnya, maka hal itu tertolak.”

Wa billahit taufiiq, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Maraaji’: Subulus Salaam (M. Bin Ismail Ash Shon’ani), Nailul Awthaar (M. Bin Ali Asy Syaukani), Masaa’il muhimmah tata’allaq bishiyaamiss sitti min Syawwal (Al Muslim bin Al Muslim), Mausuu’ah fataawaal lajnatid daa’imah wal imaamain (by. Islam.spirit).

==

  • PUASA SYAWAL DAN KEUTAMAANNYA

➡ Apa Hukum Puasa 6 Hari Di Bulan Syawal?

Asy-Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim menulis dalam Shahih Fiqih Sunnah: Disunnahkan untuk melakukan puasa enam hari di bulan Syawal setelah melaksanakan puasa Ramadhan –tanpa keharusan untuk dilakukan secara berkesinambungan- karena puasa ini setara dengan puasa satu tahun, seperti diriwayatkan dari Abu Sa`id Al-Khudri –radhiyallahu `anhu- bahwa Rasulullah –shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Artinya: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh”. (Riwayat Muslim no. 1164).

  • Apa Ganjaran Keutamaan Puasa 6 Hari Di Bulan Syawal?

➡ 1. Puasa tersebut setara dengan puasa satu tahun.

✅ Yang demikian itu terjadi karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipatnya, sehingga puasa Ramadhan setara dengan sepuluh bulan, dan enam hari setara dengan dua bulan. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat Tsauban –radhiyallahu `anhu- dari Nabi –shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ ، وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ صِيَامِ السَّنَةِ

Artinya: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan maka satu bulan setara pahalanya seperti sepuluh bulan, dan (bila ditambah lagi) puasa enam hari setelah idul fitri maka dengan itu menjadi sempurna satu tahun”. (Riwayat Ahmad [V/280], An-Nasa’I di dalam Al-Kubro no. 2860, Ibnu Majah no. 1715). (Lihat Shahih Fiqih Sunnah [II/134] Karya Asy-Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim).

Mengapa Puasa Ramadhan ditambah puasa 6 hari di bulan Syawal pahalanya setara dengan setahun?

Karena puasa 1 bulan Ramadhan adalah 30 hari yang bila dilipatgandakan pahalanya 10 kali lipat maka sama dengan puasa 300 hari, sedangkan puasa 6 hari di bulan Syawal yang bila dilipatgandakan pahalanya 10 kali lipat maka sama dengan puasa 60 hari, sehingga jika digabungkan kedua jenis puasa tersebut menjadilah puasa 360 hari alias satu tahun. Hal ini karena Allah berfirman:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

Artinya: “Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya”. (Surat Al-An`am: 160).

Ini merupakan balasan paling sedikitnya, dan bisa menjadi banyak tergantung niatnya, keikhlasannya, aqiidahnya, keimanannya.

➡ 2). Amalan sunnah bisa menambal kekurangan pada amalan wajib, demikian pula dalam ibadah puasa. Puasa 6 hari di bulan Syawal bisa menyempurnakan apa yang kurang dari puasa Ramadhan.

✅ Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah -`Azza wa Jalla- berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu: Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah?. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan yang ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya. Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini”. (Riwayat Abu Daud no. 864, Ibnu Majah no. 1426. Al-Imam Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

➡ 3). Ketaatan yang dilakukan seseorang adalah pertanda bahwa ketaatan sebelumnya merupakan amalan yang diterima oleh Allah. Barangsiapa yang puasa 6 hari di bulan Syawal semoga hal itu menjadi pertanda bahwa puasa Ramadhannya diterima di sisi Allah Ta`ala.

✅ Ibnu Rajab mengatakan: “sesungguhnya kembali berpuasa setelah berpuasa Ramadhan adalah pertanda diterimanya puasa Ramadhan, karena sesungguhnya Allah Ta`ala apabila menerima amalan seorang hamba niscaya Dia akan memberi taufiq untuk dapat mengerjakan amalan shalih lagi setelahnya. Sebagaimana para salaf bertutur: Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula sebaliknya, barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan”. (Lihat Latha’iful Ma`arif hal. 388 Cet. Al-Maktab Al-Islamiy Karya Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali).

[[×××]] (Lanjut ke Halaman 2) [[×××]]

Iklan