15 Alasan Kokohnya Aqidah Salaf Shalih 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

Membenahi Aqidah 26 – Mengolok – Olok Agama

Membenahi Aqidah 25 – Buruk Sangka Kepada Allah

Membenahi Aqidah 24 – Hukum Allah Vs Hukum Manusia

Membenahi Aqidah 23 – Syirik DalamKetaatan

Membenahi Aqidah 22 – Syirik Dalam Tawakkal

Membenahi Aqidah 21 – Meraih Cinta Allah ‘Azza Wa Jalla

Membenahi Aqidah 20 – Syirik Dalam Cinta

Membenahi Aqidah 19 – Khouf, Roja & Mahabbah

Membenahi Aqidah 18 – Macam-Macam Syirik Besar

Membenahi Aqidah 17 – Meluruskan Syubhat Dalam Bertauhid

Membenahi Aqidah 16 – Menggambar Makhluq Hidup

Membenahi Aqidah 15 – Sayyidina Muhammad

Membenahi Aqidah 14 – Kultus Individu  

==

Al Itisam Adakah Istilah Bidah Hasanah Bag.1-Ustadz Farhan Abu Furaihan.mp3
https://app.box.com/s/1gyyx74dv7azd42btagvko94wdekfcc2
Al Itisam Adakah Istilah Bidah Hasanah Bag.2-Ustadz Farhan Abu Furaihan.mp3
https://app.box.com/s/ymlc9t7g2on9fn7gfama05mq948t15oe
Al Itisam Syubhat Bahwa Bidah Terbagi Menjadi 5 dan Bantahannya-Ustadz Farhan Abu Furaihan.mp3
https://app.box.com/s/8s2vqv9j45kjyghwje4mvd3enxh0y1dj
Bahaya Mengolok-ngolok Agama-Ust.Abu Hanifah Ibnu Yasin-mc.m4a
https://app.box.com/s/31ucbawi3bo4ietwbxfqp2ftgv7hpfbf
Mengenal Ringkas Makna Syahadat LA ILAHA ILLALLAH-Ust.Abu Hanifah Ibnu Yasin-mc.m4a https://app.box.com/s/y5kwj4wpq6imcgiswn1dm7kp4vsny3yg
(makna syahadat Muhammad Rasulullah)-Ust.Abu Hanifah Ibnu Yasin.mp3
https://drive.google.com/uc?export=download&id=1EhitN-RBg2MC096jJLK-Ccx5QYC8KgFo
Cara Bersyukur Kepada Allah-Ustadz Farhan Abu Furaihan.mp3
https://app.box.com/s/j2bcbhep2m96jo3c80k51ceyx4h713gu
Jangan CobaCoba Meninggalkan Shalat-Ustadz Farhan Abu Furaihan.mp3
https://app.box.com/s/2lndhph2hdmgxaabhz62amvbqbgbnpnx
Jangan Sekutukan Allah-Ust.Sofyan Chalid Ruray.mp3
https://app.box.com/s/hsf8jmv1biamxawscf72dz0m201ob6b9
Kapan Seorang Anak Wajib Mengerjakan Shalat Ustadz Farhan Abu Furaihan.mp3
https://app.box.com/s/z45ptapqa7svgpoxss6os0zg5bl2v3ip
Memudaratkan Orang Lain Maka Allah Akan Memudaratkanmu-Ustadz Farhan Abu Furaihan.mp3
https://app.box.com/s/sdd9fzdu9j7iydx0ps4uup1lrg8kx3h0
Sikap Muslim Menyikapi Berita Hoax-Ustadz Farhan AbuFuraihan.mp3
https://app.box.com/s/5qbicjnjpkjm9u1q0mu50gaa3fi9o24z
Tafsir Ibnu Katsir QS.Al Baqarah Ayat 6 Keadaan Sifat Orang Kafir-Ust.Farhan Abu Furaihan.mp3
https://app.box.com/s/uqsei8848o9ju6syxegkjmj99hy6eslr
Tafsir Ibnu Katsir QS.Al Baqarah Ayat 8 Sifat Orang Munafik-Ust.Farhan Abu Furaihan.mp3
https://app.box.com/s/n55si88nhatuqeae096ksk15dymz369o
Tafsir Ibnu Katsir QS.Al Baqarah Ciri dan Sifat Orang Beriman dan Bertakwa-Ust.Farhan Abu Furaihan.mp3
https://app.box.com/s/ho283hw5q1poojph5t30o6wq4kvc4ecd  
==

EBOOK

FAKTOR-FAKTOR PENOPANG MANTAPNYA AQIDAH DI DALAM JIWA

Faktor Penopang Mantapnya Aqidah-Syaikh Abdurrazzaq Al Badr

Pokok Pokok Aqidah Salaf Secara Ringkas

40 Hadits Pilihan Dalam Masalah Aqidah

Ensiklopedi Aqidah Islam-200Hlm

Apakah yang Dimaksud Dengan Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah-Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin 101Hlm

Kumpulan Fatwa Ulama Dalam Masalah Aqidah-Yulian Purnama-73Halaman

AKIDAH AL-MUZANI (Murid al-Imam asy-Syafii)-Abu Utsman Kharisman 362Hlm

Ambillah Akidahmu Dari Al-Qur’an dan As-Sunnah Yang Shahih-Muhammad Jamil Zainu  

➡ 15 Alasan Kokohnya Aqidah Salaf Shalih

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

Open Donasi,Sedekah,Waqaf,Infaq: https://bit.ly/2JIhYq3

kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR

Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1

Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ

Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM

mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x

Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR

==

➡ 15 Alasan Kokohnya Aqidah Salaf Shalih

Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr[1]

  • Muqaddimah

Sesungguhnya aqidah Islam yang bersumberkan al-Qur’an dan Sunnah memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam agama. bahkan kedudukannya ibarat fondasi bagi bangunan dan akar bagi pohon. Bila aqidah sudah mengakar kuat dalam hati seorang hamba maka akan membuahkan akhlak yang indah, ibadah yang mulia, dan manhaj yang lurus sebab bila aqidah semakin kuat dan mantap maka akan semakin membuahkan segala kebaikan dan kebahagiaan.

Oleh karena itu, para ulama salaf shalih sangat mencurahkan perhatian mereka terhadap masalah aqidah lebih dari segalanya, bahkan lebih daripada makanan, minuman, dan pakaian mereka karena mereka menyadari bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan hati mereka.

✅ Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَجِيبُواْ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمۡ لِمَا يُحۡيِيكُمۡۖ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَحُولُ بَيۡنَ ٱلۡمَرۡءِ وَقَلۡبِهِۦ وَأَنَّهُۥٓ إِلَيۡهِ تُحۡشَرُونَ ٢٤

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan. (QS. al-Anfâl [8]: 24)

Bila kita membuka lembaran-lembaran sejarah salaf shalih, niscaya akan kita dapati potret perhatian mereka yang sangat menakjubkan. Di antara buktinya adalah ribuan buku yang ditulis oleh ulama salaf dalam menjelaskan aqidah yang benar dan membelanya dari rongrongan para perusak agama dengan bahasa yang lugas dan jelas seterang matahari di siang bolong.

✅ Gayung terus bersambut, estafet perjuangan mereka dilanjutkan oleh generasi selanjutnya tanpa adanya perubahan dalam aqidah mereka.

Tema tulisan ini adalah mengenai kokohnya aqidah salaf dan selamatnya dari segala perubahan semenjak beberapa abad yang lampau. Aqidah Ahlus Sunnah pada zaman sekarang sama halnya dengan aqidah yang dibawa oleh Rasulullah dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka sehingga sampai pada zaman sekarang ini tetap dalam keadaan bersih dan jernih.

Ketika ada beberapa golongan menyimpang dari jalan yang lurus, para salaf tetap selamat mempertahankan agama dan aqidahnya karena mereka mengambilnya dari sumber aslinya yaitu al-Qur’an dan Hadits. Mereka tidak terjebak dalam ‘tipu daya’ akal mereka, hawa nafsu, dan perasaan mereka. Sebab itu, jadilah aqidah mereka penuh dengan keselamatan, ilmu, dan kemuliaan.

✅ Tentu saja di balik kokohnya aqidah mereka ada beberapa sebab yang perlu diketahui oleh seorang muslim agar bisa diterapkan dalam kehidupan mereka untuk menjaga kemurnian aqidahnya. Dan setelah saya renungi dan selami petuah-petuah para ulama seputar masalah ini, terkumpul olehku beberapa faktor yang cukup banyak yang menyebabkan kokohnya aqidah mereka. Saya akan ringkas dalam beberapa poin berikut ini:

  • ➡ 1. Berpegang teguh dengan al-Qur’an dan hadits Nabi serta mengimani seluruh yang terkandung dalam keduanya

✅ Inilah faktor utama kokohnya aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan selamatnya dari penyimpangan yaitu bersandar dengan al-Qur’an dan hadits. Mereka beriman terhadap seluruh yang terkandung dalam al-Qur’an dan hadits serta pasrah sepenuhnya. Karena rahasia inilah, mereka meraih keselamatan dan keautentikan dalam beragama. Dan sebagaimana sering diungkapkan oleh Syaikhul Islam, “Barangsiapa meninggalkan dalil (petunjuk), niscaya akan tersesat jalan. Dan tidak ada petunjuk yang benar selain apa yang dibawa oleh Rasulullah.” [2] Ibnu Abil Izzi juga mengatakan, “Bagaimana akan sampai kepada tujuan utama tanpa petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah.” [3] Yakni itu tidak mungkin dan sangat mustahil.

Oleh karena itu, tidak ada seorang pun dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang membuat aqidah dari pemikirannya sendiri, pendapatnya sendiri, atau perasaannya sendiri; berbeda halnya dengan ahli bid’ah yang melakukan hal itu, maka jadilah ketimpangan dan penyimpangan terjadi pada diri mereka.

Syaikhul Islam pernah mengatakan, “Aqidah itu bukanlah diambil dariku atau orang yang lebih besar dariku, tetapi diambil dari Allah dan rasul-Nya serta apa yang disepakati oleh salaf shalih.” [4]

  • ➡ 2.  Keyakinan mereka bahwa al-Qur’an dan Sunnah telah sempurna menghimpun keyakinan yang benar tanpa ada kekurangan sedikit pun

Al-Qur’an dan Sunnah telah menjelaskan segala yang dibutuhkan oleh umat manusia baik yang berkaitan tentang aqidah, ibadah, mu’amalah, akhlak, dan sebagainya.

✅ Allah berfirman:

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian dan nikmat-Ku kepada kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian. (QS. al-Mâidah [5]: 3)

✅ Al-Qur’an dan Sunnah telah menjelaskan secara terperinci masalah-masalah yang ringan seperti adab buang hajat, adab bersuci, dan sebagainya. Lantas, mungkinkah masalah yang lebih penting daripada itu justru malah diabaikan?! Sungguh mustahil sekali hal itu terjadi, sebagaimana ucapan Imam Malik bin Anas, “Mustahil Nabi menjelaskan segala sesuatu sampai masalah adab buang hajat lalu beliau tidak menjelaskan tentang masalah tauhid.”

Tatkala Ahlus Sunnah meyakini hal ini secara bulat dan menyadari secara mendalam bahwa semua masalah aqidah telah dijelaskan dalam al-Qur’an dan Hadits maka mereka pun berkiblat kepadanya dan kembali kepadanya tanpa melirik kepada selainnya, sehingga mereka pun menuai keselamatan yang sempurna tiada terkira. Imam Malik juga pernah berkata, “Sunnah itu ibarat kapal Nabi Nuh, siapa yang menaikinya maka selamat dan siapa yang tidak menaikinya maka akan tenggelam.”

  • ➡ 3.  Mengembalikan segala bentuk perbedaan dan perselisihan kepada al-Qur’an dan Hadits

✅ Ini adalah faktor utama kokohnya aqidah mereka yaitu setiap kali mereka mendapati perselisihan dan perbedaan maka mereka memahami bahwa tidak ada solusi yang tepat untuk menyelesaikan perselisihan tersebut kecuali dengan mengembalikannya kepada al-Qur’an dan Sunnah sebagaimana firman Allah:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا ٥٩

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. an-Nisâ’ [4]: 59)

✅ Tidak ragu lagi bahwa siapa pun yang mengembalikan segala perbedaan kepada al-Qur’an dan Hadits niscaya dia akan kokoh, selamat, dan tidak goncang atau plinplan, sebab tidak ada solusi untuk mengatasi perselisihan kecuali dengan berpedoman kepada al-Qur’an dan Sunnah karena pendapat manusia, ideologi, dan akal pikiran mereka berbeda-beda. Tidak ada cara yang jitu untuk menghilangkan semua perbedaan tadi kecuali apabila semuanya mau kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah.

  • ➡ 4.  Menjaga kesucian fitrah

Fitrah adalah anugerah Allah kepada hamba-Nya dengan menciptakan mereka semua di atas fitrah sebagaimana sabda Nabi, “Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanya-lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi.” (HR. Bukhari: 1385)

✅ Demikian juga Ahlus Sunnah, fitrah mereka terjaga dari polusi dan penyimpangan tatkala golongan lainnya tercemari oleh polusi-polusi penyimpangan. Oleh karenanya, hendaknya bagi setiap orang untuk bersungguh-sungguh menjaga fitrah mereka.

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. ar-Rûm [30]: 30)

✅ Namun, perlu diketahui bahwa kesucian fitrah sangat bergantung pada lurusnya landasan beragama. Jika pemilik fitrah berlandaskan pada al-Qur’an dan hadits maka fitrahnya akan selamat dan terjaga. Namun, jika dia mengorbankan fitrahnya kepada hawa nafsu, syubhat (kerancuan) yang merusak dan ideologi yang sesat maka fitrahnya akan tercemar.

  • ➡ 5.  Menempatkan akal pada porsinya

Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah golongan yang sangat cemerlang akal mereka, tidak berlebihan atau meremehkan sebagaimana kelompok-kelompok ahli bid’ah. Mereka tidak berlebihan kepada akal seperti halnya para ahli filsafat dan orang yang meniti jejak mereka, sehingga mereka melemparkan al-Qur’an dan Hadits ke belakang punggung mereka dan bersandar pada logika mereka secara penuh.

✅ Sebagaimana diketahui bersama, akal manusia itu berbeda-beda. Oleh karena itu, tatkala sebagian kelompok menjadikan akal sebagai sandaran dan pedoman, maka yang terjadi adalah munculnya penyimpangan dan perbedaan tajam di kalangan mereka, karena akal manusia itu bertingkat-tingkat.

Sebaliknya, ada juga kelompok lainnya yang justru merendahkan akal seperti mayoritas ahli tasawuf sehingga banyak di antara mereka yang terjatuh dalam amalan-amalan yang semigila dan tidak masuk akal. Adapun Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka bersikap tengah-tengah, tidak berlebih-lebihan sehingga melampaui batas wilayah akal, tetapi juga tidak merendahkannya.

✅ Akal manusia ada batasnya yang tepat. Barangsiapa yang berusaha untuk menceburkan akalnya di luar kapasitasnya maka dia akan tersesat. Akal Ahlus Sunnah selamat dari penyimpangan karena mereka menempatkan akal pada posisinya. Merekalah orang-orang yang cerdas sesungguhnya, karena menempatkan akal pada posisinya yang tepat, tidak berlebihan dan tidak meremehkan.

ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١

(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Âli ’Imrân [3]: 191)

  • ➡ 6.  Merasa sangat tenteram, bahagia, dan lezat dengan aqidah salaf

Kelezatan dan kebahagiaan yang dirasakan oleh Ahlus Sunnah tersebut tidak dirasakan oleh para pengekor hawa nafsu lainnya.

✅ Allah berfirman:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ ٢٨

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. ar-Ra’du [13]: 28)

✅ Tentang hal ini, Ibnul Qayyim menuturkan, “Ketenangan hati dan kemantapan hati tidak mungkin terwujudkan kecuali dengan keyakinan. Oleh karena itu, engkau mendapati hati para Ahlus Sunnah sangat mantap dengan keimanan kepada Allah, malaikat-Nya, dan Hari Akhir. Mereka tidak ragu dan tidak berselisih dalam masalah itu sedikit pun.” [5]

✅ Syaikhul Islam juga menuturkan, “Adapun Ahlus Sunnah dan (Ahlul) Hadits, maka tidak didapati dari salah seorang ulama mereka atau seorang awam di kalangan mereka yang keluar dari aqidahnya, bahkan mereka adalah manusia yang paling sabar sekalipun menuai berbagai cobaan. Demikianlah kondisi para nabi dan para pengikutnya.” [6]

Jika memang demikian ketenteraman hati mereka, lantas untuk apa lagi mereka harus beralih dan mencari selainnya?!!

  • ➡ 7.  Menyandarkan pemahaman mengenai al-Qur’an dan Sunnah kepada pemahaman salaf shalih

Pemahaman manusia bisa jadi salah dan keliru, namun barangsiapa yang menggali agama dari sumber aslinya yang jernih yaitu Nabi dan para sahabatnya secara langsung dengan hati yang bersih, akal yang sehat, dan kejujuran maka dia akan meraih ilmu, keselamatan, dan hikmah. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah selalu bergantung pada pemahaman salaf shalih dalam memahami dalil-dalil. Imam Sijzi bertutur menyifati Ahlus Sunnah, “Mereka adalah kelompok yang konsisten di atas aqidah yang dinukil oleh para sahabat dalam hal-hal yang tidak ada nash yang jelas dalam al-Qur’an dan Hadits, karena mereka adalah para imam panutan. Kita diperintahkan untuk mengikuti jejak mereka. Ini sangat jelas, tanpa membutuhkan bukti.” [7]

✅ Al-Ajurri juga berkata, “Tanda seorang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah adalah tatkala dia menempuh jalan ini yaitu berpegang teguh terhadap al-Qur’an dan Sunnah serta sunnah para sahabat dan a orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik dari para ulama setiap negeri seperti al-Auza’i, Sufyan Tsauri, Malik bin Anas, Syafi’i, Ahmad bin Hambal, al-Qasim bin Sallam, dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka.” [8]

✅ Ibnu Qutaibah juga berkata, “Seandainya kita ingin pindah dari pendapat ahli hadits (Ahlus Sunnah) menuju pendapat ahli kalam/filsafat, maka itu berarti kita pindah dari persatuan menuju perpecahan dan dari kebahagiaan menuju kekacauan.” [9]

Semua ini menunjukkan secara jelas kepada kita bahwa tidak mungkin suatu kekokohan (terwujud) kecuali dengan bersandar pada pemahaman salaf shalih.

✅ Allah berfirman:

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا ١١٥

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. an-Nisâ’ [4]: 115)

[|||] Lanjut ke Halaman 2) [|||]

    Iklan