Memetika Faidah Dauroh Batu-Malang Ke-20

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••1.Haruskah Berdakwah dengan Lemah Lembut di Zaman Ini?

2.Syarah Hadits Jibril Tentang Islam, Iman Dan IhsanBag.2

3.Sering Keluar Cairan Saat Hamil, Bagaimana Shalatnya?

4.Syarah Hadits Jibril Tentang Islam, Iman Dan Ihsan

5.Bagi Yang Mengamalkan Sunnah Nabi, Ini Masanya Ujian Kesabaran

6.Lebih Utama Memulai Chat dengan Basmalah atau Salam?

7.Tidak ada hukum syariat yang sia-sia…

8.TANDA-TANDA KEBERUNTUNGAN SEORANG HAMBA !

9.Waspada dari dzalim dan bakhil …

10.Hati Kita Penuh Dengan Apa?

 Hadits Qudsi Keutamaan Umat Islam-Ust.Khalid Basalamah
https://mir.cr/650OR8FD
https://drive.google.com/file/d/1hOJ4id2yUPBTyVaQeC3RSh7wN8V2QOaO/view?usp=drivesdk
Cara Memperbaiki Keimanan-Ust.Abdullah Taslim.mp3
https://app.box.com/s/k44gk2p0lwhn5t1wr03wjxqbh8bnpqwr
Hukum Membangun Masjid Diatas Kuburan-Ust.Harits Abu Naufal.mp3
https://app.box.com/s/cbjls4sl2wl4e68atvnh9nly48vzhqjr
Inilah Tips Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga-Ust.Zainul Arifin Bag.1.mp3
https://app.box.com/s/bdvw03j6bs80nb0aug1kc1mw3fg91uif
Inilah Tips Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga-Ust.Zainul Arifin Bag.2.mp3
https://app.box.com/s/8thshte4r3233zlf1dftirkfgegy87q2
Islam Mengatur Tempat Penguburan Jenazah-Ust.Harits Abu Naufal.mp3
https://app.box.com/s/ya61qcsr7v2wri1n9hvxr80dv7by89xh
Keutamaan Dzikir Yang Jarang Diketahui-Ust.Zainul Arifin.mp3
https://app.box.com/s/3chfkfw8467ou9v6u575na96yvrlrf5m
Menolak Kebenaran Karena Nafsu-Ust.Abdullah Zaen.mp3
https://app.box.com/s/f7p0rkfss4s4wvdjhovn818xu40qmau9
Menyingkap Tabir Surat Al-Fatihah-Ust.Mizan Qudsiyah.webm
https://app.box.com/s/uczsalbl5fi6f39rmvhz4so3zqmdefbx
Menyingkap Tabir Surat Al-Fatihah-Ust.Zainul Fikri.webm
https://app.box.com/s/0f774qh1v2fn7pioxa7pvje1l4zoyz2k
Nasehat Pernikahan-Ust.Syafiq Basalamah.mp3
https://app.box.com/s/kgqgnayemyk1pab4fzpzu6n4egsma64p
Nasehat Untuk Penuntut Ilmu-Ust.Farhan Abu Furaihan.mp3
https://app.box.com/s/nfjvvi2nmkcfr6jzoe43u248ylkg8sqe
Soal Jawab Panduan Menuntut Ilmu-Ust.Yazid Jawas.webm
https://app.box.com/s/hgzx0rjp9ljhqohepayk0ly06lwpce98
Urgensi Pendidikan Tauhid Di Dalam Keluarga-Ust.SofyanChalid Ruray.webm
https://app.box.com/s/3m250xg3k5d4vbtdcgbkbtb63cgl8itx
UNTAIAN NASEHAT ‘ULAMA TIMUR TENGAH
Bersama :*Syaikh Abdul Hadiy Al-Umairiy _Hafidzahullah_*._( Pengajar Ma’had dan Anggota Dewan Pelayanan Fatwa Masjidil
Haram, Arab Saudi )_
https://drive.google.com/file/d/1–e8rZZFrvUb7kf-0eLPFRyjjSxVECmj/view?usp=drivesdk

 *****
 

➡ Memetika Faidah Dauroh Batu-Malang Ke-20

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

Open Donasi,Sedekah,Waqaf,Infaq: https://bit.ly/2JIhYq3

kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR

Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1

Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ

Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM

mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x

Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR

==

  • ➡ Penyakit Para Da’i & Penuntut Ilmu yang Perlu Diwaspadai (3 Inti Nasehat Syaikh Dr. Ziyad al-Abbadi)*

———

Sejak usia belasan tahun, Syaikh Dr. Ziyad al-Abbadi sudah bermulazamah menimba ilmu dari Syaikh al-Albani. Beliau salah satu kelangkaan zaman ini, seorang alim yang Allah anugerahi 2 spesialisasi keilmuan sekaligus, ini jarang terjadi; beliau pakar dalam bidang qira’at sekaligus pakar dalam hadits. Hadits, beliau menimbanya dari Syaikh al-Albani dan juga Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi. Sementara ilmu qira’at, beliau ambil dari Syaikh Muhammad Musa Nashr yang menguasai 10 qira’at, rahimahumullaah jamii’an.

Semalam, di sesi yang ke-2 setelah pembukaan, beliau menyampaikan nasehat kepada 334 lebih dai se-Indonesia yang hadir. Ada 3 poin inti yang bisa saya rangkum dari nasehat beliau, ketiganya berbicara tentang penyakit kronis yang banyak melanda di medan dakwah, melanda para dai dan penuntut ilmu:

  • Pertama: Cinta Popularitas (Hubbuzh Zhuhuur)

Jangan sampai penyakit ini, wahai da’i, merasukimu. Jika sampai merasukimu, ia akan membunuhmu. Pembunuhan tanpa pisau.

Tak usah risau. Jika Allah menghendaki engkau mencuat, demi Allah engkau akan mencuat, demi Allah engkau akan menjulang, punya kedudukan terhormat di tengah masyarakat. Namun jangan pernah menjadikan popularitas sebagai tujuanmu. Karena kita mengetahui dengan yakin bahwa;

الرافع الحقيقي هو الله، والمعز هو الله، والمذل هو الله

✅ “Yang melejitkan kedudukan seseorang sejatinya adalah Allah. Yang menjadikan seseorang menjulang sebenarnya adalah Allah. Yang menghinakan dan menjatuhkan pada hakikatnya adalah Allah”.

(Maka dakwah, jangan jadi ajang pencitraan agar bisa populer. Jangan pula nyeleneh dan mengada-ada dalam dakwah demi popularitas instan)

✅ Kunci hati-hati manusia ada di tangan Allah subhaanahu

وَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِهِمۡۚ لَوۡ أَنفَقۡتَ مَا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا مَّآ أَلَّفۡتَ بَيۡنَ قُلُوبِهِمۡ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ أَلَّفَ بَيۡنَهُمۡۚ إِنَّهُۥ عَزِيزٌ حَكِيمٞ

dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana. –Sura Al-Anfal, Ayah 63.

✅ Seiring bertambahnya ilmu seseorang, seharusnya ia bertambah tawadhu, rendah hati. Ulama kita mengatakan;

كلما ازددت علما ازددت علما بمقدار جهلي

Semakin bertambah ilmuku, semakin aku menambah ilmu tentang kadar kebodohanku”.

  • Kedua: Hasad terhadap saudara sesama da’i atau penuntut ilmu.

Jangan sampai engkau, wahai da’i, berambisi untuk melejit namun dengan menjatuhkan saudaramu. Karena sekali lagi, kita meyakini bahwa yang mampu melejitkan sejatinya adalah Allah. Jika engkau menjatuhkan saudaramu, namun Allah tidak menghendaki engkau melejit, maka engkau tak akan melejit.

Jauhi hasad. Karena hasad akan membunuhmu, lebih dulu sebelum membunuh orang yang engkau hasadi.

Jangan hasad. Kejahatan pertama yang terjadi pada Bani Adam adalah; saudara membunuh saudara kandungnya gara-gara hasad.

  • Ketiga: Anggapan Bahwa Eksis = al-katsroh (baca: yang penting banyak)

✅ Jangan pernah menganggap eksistensi seorang da’i adalah; banyaknya pengikut, banyak follower, dst. Jadilah eksis dengan memberi. Eksislah dengan keikhlasan. Eksislah dengan ilmu yang bermanfaat. Bukan dengan standar “asal banyak” (kuantitas). Tak ada satupun ayat dalam al-Quran yang memuji “al-katsroh” (yang penting banyak). Justru yang ada sebaliknya; al-Quran banyak bicara negatif tentang “al-katsroh”.

وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ

Dan *banyak* di antara mereka menjadi orang-orang fasik. –Al-Hadid: 16.

وَأَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ

dan *kebanyakan* mereka tidak mengerti. –Al-Ma’idah: 103.

يَعۡرِفُونَ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ

dan *kebanyakan* mereka adalah orang yang ingkar kepada Allah. -An-Nahl: 83.

يُلۡقُونَ ٱلسَّمۡعَ وَأَكۡثَرُهُمۡ كَٰذِبُونَ

…*kebanyakan* mereka orang-orang pendusta. -Ash-Shu’ara: 223.

✅ Demikian 3 poin inti nasehat Syaikh Ziyad yang mampu saya rangkum. Sebenarnya nasehat beliau cukup banyak. Namun, sebagaimana kata pepatah;

ما لا يدرك كله لا يترك جله

Sedikit, masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

Semoga memberikan faidah, dan mari berbagi. Karena pembagi faidah akan mendapatkan raihan para pengamal faidah tersebut.

__________

#Liputan_Dauroh_20 (2)

  • ➡ *Sampaikan, dan Melangkahlah*

————-

ألق كلمتك وامض

✅ _”Sampaikan kalimat (dakwahmu), dan teruslah melangkah.”_

Inilah kalimat emas yang sering kali diucapkan Syaikh al-Albani rahimahullah teruntuk murid-murid beliau, para da’i di jalan Allah.

✅ Syaikh Ziyad al-Abbadi menukilnya untuk kami, peserta Dauroh. Ketika itu beliau tengah menyampaikan nasehat untuk para du’at sebelum membuka sesi tanya-jawab. Hari ini, lagi-lagi kami mendengar nukilan kalimat yang serupa dari Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi.

ألق كلمتك وامش

✅ Kalimat ringkas tersebut, sarat akan makna. Di antaranya;

Tugas kita hanya menyampaikan yang haq dengan hikmah dan kelembutan. Adapun hidayah dan hati manusia, semuanya di tangan Allah. Jika orang-orang menolak dakwah kita, maka tak perlu dirundung duka, dengan syarat kita telah menempuh manhaj yang benar dalam dakwah, berbalut keikhlasan, cara yang hikmah, dan diiringi tulusnya doa. Kedukaan yang berlarut justru tanda masih ada jentik-jentik ketidakikhlasan dalam perjuangan. Cukup _”Sampaikan yang haq dengan cara yang haq, kemudian lupakan bahwa engkau telah berkorban ini dan itu demi dakwah. Berlalu dan lupakanlah“_.

✅ Jika sebagian manusia menolak dakwah yang haq, maka ingatlah bahwa Abu Thalib pun enggan menerimanya, padahal ia paman Nabi, dan Nabi sendiri yang menuntunnya.

Jika sebagian manusia memusuhi dakwah yang haq, yakinlah di sana masih banyak manusia yang siap menyambut kembalinya kebenaran pada mereka. Untuk itu, jangan terhenti.

✅ Sampaikan, dan teruslah melangkah.

ألق كلمتك وامش

Sebaliknya jika orang-orang menerima dakwahmu, bahkan mulai mengelu-elukanmu, maka jangan tertegun lantas langkah dakwahmu terhenti oleh tembok kepuasan.

✅ Engkau hanya penyampai risalah Allah, bahkan engkau seharusnya telah melupakan sudah berbuat ini dan itu demi dakwah, engkau seharusnya terus melangkah. Seolah tak pernah berbuat apa-apa demi dakwah, jadi butuh untuk selalu berbuat untuk dakwah.

Engkau hanya pengantar pesan Nubuwwah, penyampai hujjah, bukan pemilik dan pemberi hidayah. Jika bukan karena perintah Allah, mereka yang meraih hidayah melalui dakwahmu, tak harus berterimakasih padamu, melainkan pada Allah semata. Tak ada secuilpun yang telah kau perbuat. Semuanya taufiq dari-Nya. Maka jangan pernah silau melihat suksesnya dakwahmu, atau banyaknya follower-mu._”Sampaikan, lalu melangkah dan berlalulah”_

ألق كلمتك وامض

Kemudian dalam hal berpendapat pada perkara-perkara ijtihadiyyah, kalimat ringkas tersebut mengingatkan kita untuk tidak ta’ashshub atau tidak menjadikan orang lain ta’ashshub.

✅ Pendapat kita bukanlah pendapat yang ma’shum hingga orang lain pun harus tunduk di bawahnya. “Sampaikan dalil-dalil dan argumentasimu, kemudian berlalulah”. Orang tak harus tunduk pada pendapatmu, melainkan hanya pada Allah dan Rasul-Nya semata.

****

Jangan pernah berpikir; _”setiap orang pasti dan sudah seharusnya menyukai dakwahmu”._ Sehingga manakala ada yang tidak menyukai dakwahmu, begitu cepat engkau menyimpang dari manhaj dakwah yang haq, hanya agar mereka menyukaimu. Sedikit demi sedikit, engkau tak lagi mengindahkan manhaj Rasulullah dan para Sahabatnya dalam dakwah.

✅ Engkau hanyut mengikuti kemauan orang, bukan lagi kemauan Allah dan Rasul-Nya. Inilah penyakit yang menyebabkan banyak medan dakwah bukan lagi medan perjuangan, melainkan panggung hiburan. Masjid-masjid bukan lagi majelis qoolallaah qoolarrasuul, tapi qiila waqoola, majelis anasyid dan gelak tawa.

ألق كلمتك وامش

Sampaikan kalimatmu, dan teruslah melangkah”. Mustahil semua orang bersepakat menyukaimu. Lebih-lebih, tak ada kewajiban dakwahmu harus bisa menghibur semua orang.

Untuk itu, tak perlu berkreasi yang aneh dan nyeleneh dalam dakwah yang tauqifiyyah ini. Hanya agar orang-orang bisa terhibur dan “mau menerimamu”. Sebab;

كل شيء زاد عن حده ينقلب إلى ضده

Segala sesuatu yang melampaui batas, akan berbalik sebaliknya.” Kesuksesan dakwah yang kau impikan, justru kan berbuah kehancuran.

_Sosok “engkau” dalam tulisan ini, bukan siapa-siapa, melainkan diri pribadi ini, sebelum menunjuk orang lain.

=

  • Kisah Syaikh al-Albani & Syaikh Ziyad Kecil*

——————

Syaikh Ziyad membacakan pertanyaan di secarik kertas di sesi Liqo’ Maftuh semalam. “Syaikhona, kisahkan kepada kami bagaimana Syaikh al-Albani dalam adab dan akhlak”.

“Ooh, banyak banget. Bukan satu kisah saja, tapi berkisah-kisah”, kata Syaikh Ziyad.

✅ “Saya kisahkan satu saja ya. Kisah masa kecil, langsung antara saya dan Syaikh (al-Albani)”.

Ketika itu saya anak usia 14-15 tahun. Saya membaca Riyadhus Shalihin. Lantas saya menelpon Syaikh. Tentu saja Syaikh mengenalku.

Wahai Syaikh kami, engkau keliru dalam men-takhrij sebuah hadits“, demikian ungkapan Syaikh Ziyad Kecil (SZK) via telpon kepada gurunya, Syaikh al-Albani (SA).

SA: “Hadits yang mana nak…??”

SZK: “Hadits yang ini”, beliau kemudian menyebutkan haditsnya (yang ada di kitab Riyadhus Shalihin)

SA: “Beri aku waktu. Aku akan menelitinya ulang. Nanti telpon lagi ya nak…!!”

✅ Selang beberapa waktu, saya kembali menelpon Syaikh al-Albani.

SZK: “Wahai Syaikh, tadi saya menelponmu. Lantas saya mengatakan…ini dan itu…”

SA: “Wahai anakku, dengarkanlah. Sekarang buka kitabnya, dan lihatlah. Tadi engkau mengatakan begini, namun yang benar adalah ….. (Syaikh al-Albani meluruskan Syaikh Ziyad Kecil)

✅ Saya pun tersadar, yang keliru justru saya. _”Aasif ya Syaikh._ Duh, maaf yah Syaikh”

Syaikh al-Albani ketika itu bicara dengan anak kecil. Beliau tidak mengahardikku, tidak mencelaku, tidak pula mengatakan;

من أنت تخطأني…؟!!

_”Emangnya kamu siapa…?!! Berani-berani nyalahin aku.”_

Tidak pernah…, tidak pernah…., tidak pernah sama sekali beliau berkata (angkuh) demikian. (Padahal sedang berhadapan dengan anak kecil yang menyalahkan dirinya).

أجابني بكل لطف، بكل أدب، بكل هدوء… رحمه الله

_”Beliau menjawabku dengan penuh kelembutan, penuh adab, dan penuh kesejukan.

.. Semoga Allah merahmati beliau”._

Inilah adab. Dan inilah satu kisah tentang beliau, dan yang satu ini sudah mencukupi.

****

✅ Syaikh Ziyad kembali bertutur: “Kejadian tersebut sangat berpengaruh besar pada diriku, subhanallah.

Sehari sebelum saya datang (ke Dauroh ini) bertemu antum semua, seorang anak kecil menghampiri ketika saya shalat di masjidku. Anak ini mengatakan; “Hei Syaikh, cara shalatmu salah…”

Tiba-tiba saya jadi teringat Syaikh al-Albani.

****

Inilah ilmu yang membentuk keluhuran adab seseorang. Semoga Allah merahmati segenap ulama dan guru-guru kita semua, demikian juga dengan anak-anak didik kita, dan mengumpulkan kita semua di surga-Nya yang tertinggi.

____

Batu-Malang, 24 Syawwal 1440 – 27062019

Abu Ziyan Johan Saputra Halim

==

  • SEBELUM ENGKAU MENYAMPAIKAN

Sahabat, sebelum engkau menyampaikan dakwah, perhatikanlah beberapa hal ini :

✅ (1) apa tujuanmu menyampaikannya? Telitilah hatimu! Jika karena Allâh, maka sampaikan, jika karena riya dan sum’ah, maka berhentilah dan perbaiki niatmu!

✅ (2) apa perkataanmu benar² sudah kau teliti sehingga kau yakin bahwa itu benar dan sesuai dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullâh?

Jika yakin, maka…

✅ (3) apakah waktunya pas untuk menyampaikannya? Ataukah malah menimbulkan madharat karena di waktu yang sedang bergejolak fitnah misalnya…

Jika waktunya pas…

✅ (4) apakah audiens dan mad’u-nya sesuai? Ataukah malah perkataanmu tsb akan menimbulkan masalah dan gejolak karena ternyata audiens-nya tidak pas.

Di dalam riwayat dikatakan :

خاطب الناس على قدر عقولهم

Sampaikan kepada manusia sesuai dengan tingkatan akal mereka.

Karena itu tentunya berbeda saat berbicara antara orang awam dengan pelajar, antara pelajar pemula dengan pelajar lama, dst…

Jika audiens-nya tepat…

✅ (5) maka sampaikan kebenaran itu dengan cara baik, tenang, tidak emosional, dan dengan pemilihan diksi yang juga tepat…

Jangan sampai kebenaran yang kau sampaikan menjadi tercemar lantaran diksi dan emosimu ketika menyampaikannya…

✅ (6) jika itu semua sudah dipertimbangkan baik², maka sebagaimana kata Al-Imam al-Albânî rahimahullâhu :

قل الحق وامشي

Sampaikan kebenaran kemudian berlalulah”

✅ (7) jangan pernah berfikir bahwa dakwahmu pasti diterima, kerena hidayah di tangan Allâh

ليس عليك هداهم ولكن الله يهدي من يشاء

Bukanlah kewajibanmu memberikan hidayah kpd mereka semua, akan tetapi Allâh memberi hidayah kepada siapa saja yang Allâh kehendaki”

✅ (9) Jika setelah ini semua dilakukan, kemudian ada yang menolak, maka :

وأن نقول الحق أينما كنا ولا نخاف لومة لائم

Kita tetap menyampaikan kebenaran di manapun kita berada dan kita tidak takut dengan celaan para pencela…

Semoga bermanfaat

====××=== Lanjut ke Halaman 2) ==××==