MEMETIK FAIDAH DAUROH BATU-MALANG KE-20

(Bagian 1)

➡ Faidah Menarik Syaikh Ziyâd Abbadi saat Pembukaan Dauroh

Mayoritas peserta dauroh adalah MUSAFIR, dan sejatinya kita semua semenjak dilahirkan adalah MUSAFIR. MUSAFIR hanya singgah lalu berlalu, dan memiliki kampung halaman, yaitu surga.

✅ Sejatinya kita tinggal di dunia ini hanya sebentar saja, sebagaimana firman Allåh :

( ﻗَـٰﻞَ ﻛَﻢۡ ﻟَﺒِﺜۡﺘُﻢۡ ﻓِﯽ ﭐﻟۡﺄَﺭۡﺽِ ﻋَﺪَﺩَ ﺳِﻨِﯿﻦَ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ۟ ﻟَﺒِﺜۡﻨَﺎ ﯾَﻮۡﻣًﺎ ﺃَﻭۡ ﺑَﻌۡﺾَ ﯾَﻮۡﻡࣲﻓَﺴۡـَٔﻞِ ﭐﻟۡﻌَﺎۤﺩِّﯾﻦَ ﻗَـٰﻞَ ﺇِﻥ ﻟَّﺒِﺜۡﺘُﻢۡ ﺇِﻟَّﺎ ﻗَﻠِﯿﻞࣰﺍۖ ﻟَّﻮۡ ﺃَﻧَّﻜُﻢۡ ﻛُﻨﺘُﻢۡ ﺗَﻌۡﻠَﻤُﻮﻥَ )

Dia (Allah) berfirman: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?”. Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung.” Dia (Allah) berfirman: “Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar saja, jika kamu benar-benar mengetahui.”( QS. Al-Mu’minun: 112-114)

Hidup itu mirip dengan dauroh (makna dauroh secara bahasa adalah putaran, siklus, lingkaran).

ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺩﻭﺭﺓ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮﺓ ﻭﻧﺤﻦ ﺍﻵﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻭﺭﺓ ﺍﻟﺼﻐﻴﺮﺓ ﻭﻻ ﻓﺮﻕ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎﻭﻛﻞ ﺑﺪﺍﻳﺔ ﻟﻬﺎ ﻧﻬﺎﻳﺔ ﻭﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﻣﻦ ﻳﺴﺘﻤﺮ ﺑﻬﺎ ﻭﻳﻐﺘﻨﻢ ﻛﻞ ﺍﻟﻔﺮﺹ ﻓﻴﻬﺎ

Hidup itu adalah dauroh besar dan kita saat ini berada di dauroh kecil, sejatinya tidak ada beda diantara keduanya, karena setiap awal pasti memiliki akhir. Seorang yang berakal ia akan melewati siklus (dauroh) ini dan menggunakan semua kesempatan yang ada dengan sebaik- baiknya.

✅ Dauroh ini mengingatkan kita pada hadits yang dihasankan Syaikh al-Albani, dari sepupu Nabi Shallallâhu alayhi wa Sallam , Ibnu Abbas, bahwa beliau bersabda:

<< ﺍﻏْﺘَﻨِﻢْ ﺧَﻤْﺴًﺎ ﻗَﺒْﻞَ ﺧَﻤْﺲٍ , ﺷَﺒَﺎﺑَﻚَ ﻗَﺒْﻞَ ﻫَﺮَﻣِﻚَ , ﻭَﺻِﺤَّﺘَﻚَ ﻗَﺒْﻞَ ﺳَﻘَﻤِﻚَ, ﻭَﻏِﻨَﺎﻙَ ﻗَﺒْﻞَ ﻓَﻘْﺮِﻙَ , ﻭَﻓَﺮَﺍﻏَﻚَ ﻗَﺒْﻞَ ﺷُﻐُﻠُﻚَ , ﻭَﺣَﻴَﺎﺗَﻚَ ﻗَﺒْﻞَ ﻣَﻮْﺗِﻚَ >>

Pergunakan baik-baik 5 hal sebelum 5 hal lain datang:

Masa muda sebelum tuamu.

Masa sehatmu sebelum sakitmu.

Masa kayamu sebelum miskinmu.

Masa lapangmu sebelum sibukmu.

Masa hidupmu sebelum matimu.

Suatu ketika Imam Ahmad ditanya: “ Sampai kapan kita menuntut ilmu?”

Beliau menjawab: “ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺤﺒﺮﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﻘﺒﺮﺓ (dari semenjak merangkak hingga berkalang tanah).”

✅ Selama nyawa masih di kandung badan, maka selama itu pula kita tetap harus belajar menambah ilmu. Usia tidak mencegah seseorang untuk menambah lmunya dan ilmu itu tidaklah berhenti dan stagnan, karena itu ia hendaknya teruslah bertambah. Karena itulah dikatakan:

ﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﻋﻠﻤﺖ ﻓﻘﺪ ﺟﻬﻞ

Siapa yang mengatakan saya sudah tahu sejatinya ia jahil.

Taqarrub kepada Allâh yang paling utama adalah Taqarrub dengan ilmu.

==_

(Bagian 2)

Faidah Bermanfaat Syaikh Ali Hasan Al-Halabi saat Pembukaan Dauroh

Teruslah semangat dalam menuntut ilmu dan terus menambah ilmu secara berkesinambungan, karena manusia secara asal adalah bodoh dan tetap terus berada dalam kebodohan kecuali jika terus belajar.

✅ Syaikh membawakan syair :

ﺍﻃﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﻻ ﺗﻜﺴﻞ ﻓﻤﺎ ﺃﺑﻌﺪ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻋﻠﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻜﺴﻞ

ﻻ ﺗﻘﻞ ﻗﺪ ﺫﻫﺒﺖ ﺃﺭﺑﺎﺑﻪ ﻛﻞ ﻣﻦ ﺳﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺪﺭﺏ ﻭﺻﻞ

Tuntutlah Ilmu Janganlah malas, karena betapa jauhnya kebaikan dari para pemalas.

Janganlah beralasan para pembesar ilmu sudah pergi, karena siapa yang meniti jalannya akan sampai.

✅ Diantara keutamaan ilmu sebagaimana disebutkan Ibnul Qayyim dalam Miftah Dâris Sa’âdah , adalah dijadikannyaﺍﻟﻜﻠﺐ ﺍﻟﻤﻌﻠﻢ (anjing yang dilatih) memiliki hukum berbeda dengan ﺍﻟﻜﻠﺐ ﺍﻟﺠﺎﻫﻞ (anjing tak terlatih), yaitu buruan anjing terlatih halal hukumnya, namun anjing tak terlatih haram.

Haruslah membersamai ilmu dengan ar-Rifq (kelemahlembutan) dan Al-Lîn (kehalusan), jangan sampai musuh dakwah lebih lembut dan hikmah dibandingkan kita.

✅ Syaikh al-Albânî rahimahullâhu berkata :

ﺩﻋﻮﺓ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﺩﻋﻮﺓ ﺍﻟﺤﻖ ﻭﺍﻟﺤﻖ ﺛﻘﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻼ ﻧﻀﻴﻒﺇﻟﻰ ﺛﻘﻞ ﺍﻟﺤﻖ ﺛﻘﻞ ﺍﻷﺳﻠﻮﺏ

Dakwah yang berlandas al-Qur’an dan sunnah ini dakwah yang benar, dan seringkali kebenaran itu berat bagi kebanyakan manusia. Karena itu janganlah menambah beratnya kebenaran ini dengan beratnya uslub (cara berdakwah). Karena itu wajib bagi kita berdakwah, menasehati dan mengingatkan, selain dengan ilmu, maka sertai dengan kelemah lembutan dan hikmah.

@abinyasalma

==

➡ MEMETIK FAIDAH BERSERAKAN

Dari Dauroh Syar’iyyah fî Masâ’ilil Aqodiyah wal Manhajiyah ke-20 di Kusuma Agro Wisata

  • DAKWAH ITU TIDAK DENGAN MEMAKSA

Dakwah itu adalah mengajak, menyeru, memotivasi (targhib) dan memperingatkan (tarhib). Bukan dengan memaksa, karena hati manusia berada di genggaman Allâh, tidak bisa manusia memaksakan sesuatu.

Seorang da’i, sebelum berdakwah, maka ia wajib berilmu sebelum menyampaikan, dan kata sejumlah salaf

ﻟﻴﺲ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﻜﺜﺮﺓ ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺔ ﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺎﻟﺨﺸﻴﺔ

Ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat, namun Ilmu itu adalah dengan rasa takut kepada Allâh.

Selain itu, ilmu haruslah diamalkan karena takkan bermanfaat ilmu yang tak diamalkan.

Ini semua takkan bisa direalisasikan apabila tanpa MUJAHADAH (kesungguhan). Dan tugas terberat seorang da’i adalah ﺍﻥ ﻳﺠﺎﻫﺪﻧﻔﺴﻪ ﻗﺒﻞ ﻏﻴﺮﻩ (berjihad menundukkan dirinya sebelum orang lain).

✅ Karena itulah dikatakan :

ﺍﻟﻤﺠﺎﻫﺪ ﻣﻦ ﺟﺎﻫﺪ ﻫﻮﺍﻩ ﻓﻲ ﺫﺍﺕ ﺍﻟﻠﻪ

Seorang mujahid itu adalah orang yang berjihad menundukkan hawa nafsunya di dalam ketaatan kepada Allâh.

Tidak mungkin seseorang yang tidak mampu berjihad menundukkan dirinya, ia bisa menundukkan orang lain. Diantara yang harus ditundukkan oleh seorang da’i adalah hawa nafsunya, ego, tinggi hati (sombong), merasa paling baik dan benar sendiri dan merendahkan orang lain.

Jika kita sebagai hamba saja tdk mampu menguasai hati kita sendiri kecuali dg pertolongan Allâh, lantas bagaimana dengan hati orang lain. Karena itulah, kita berdakwah tidak dengan MEMAKSA.

✅ Alangkah indahnya ucapan Syaikh al-Albânî rahimahullâhu, acap kali beliau menyampaikan sesuatu, maka beliau ucapkan

ﻛﻼﻣﻲ ﻣﻌﻠﻢ ﻟﻴﺲ ﺑﻤﻠﺰﻡ

Perkataanku ini sebagai informasi saja, bukan keharusan. (Faidah dari Syaikh Ziyâd Abbadî)

  • SAMPAIKAN KEBENARAN DENGAN HIKMAH, SELEBIHNYA SERAHKAN ALLAH

✅ Syaikh Ali Hasan Al-Halabi hafizhahullâhu mengutipkan perkataan guru beliau, Al-Allâmah al-Albânî rahimahullâhu di dalam berdakwah

ﻗﻞ ﺍﻟﺤﻖ ﻭﺍﻣﺸﻲ

Sampaikan kebenaran kemudian berlalulah (serahkan pada Allâh)

✅ Syaikh al-Albânî rahimahullâhu juga berkata :

ﻫﺆﻻﺀ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺨﺎﻟﻔﻮﻥ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﺑﻼ ﺷﻚ، ﻫﻢ ﺻﺎﻟﻮﻥ، ﻣﺎ ﺩﺍﻣﻮﺍ ﻛﺬﻟﻚ ﻓﻬﻢﻣﺮﺿﻰ ﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﻧﺸﻔﻖ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﺍﻥ ﻧﻌﺎﻣﻠﻬﻢ ﻳﺎﻟﺮﻓﻖ ﻭﻧﺪﻋﻮﻫﻢ ﺑﺎﻟﺤﻜﻤﺔ ،ﻛﻤﺎﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ :

Mereka yang menyelishi al-Qur’ân dan sunnah, tidak diragukan lagi mereka adalah orang² yang sesat. Selama mereka dalam kondisi seperti ini, maka mereka ini sejatinya SAKIT dan layak DIKASIHANI. Karena itu hendaknya kita menyikapi mereka dengan LEMAH LEMBUT dan mendakwahi mereka dengan HIKMAH, .

✅ sebagaimana firman Allåh :

( ﭐﺩۡﻉُ ﺇِﻟَﻰٰ ﺳَﺒِﯿﻞِ ﺭَﺑِّﻚَ ﺑِﭑﻟۡﺤِﻜۡﻤَﺔِ ﻭَﭐﻟۡﻤَﻮۡﻋِﻈَﺔِ ﭐﻟۡﺤَﺴَﻨَﺔِۖ )

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik

[Surat An-Nahl 125]

ﻭﻻ ﻧﺰﺍﻝ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﻮﻗﻒ ﺣﺘﻰ ﻳﺘﺒﻴﻦ ﻟﻨﺎ ﻣﻦ ﺃﺣﺪﻫﻢ ﺃﻧﻪ ﻣﻜﺎﺑﺮ ﻭﻳﺠﺤﺪ ﺍﻟﺤﻖﻭﺃﻥ ﺍﻟﺮﻓﻖ ﻭﺍﻟﻠﻴﻦ ﻣﻌﻪ ﻻ ﻳﻔﻴﺪ ﺷﻴﺌﺎ، ﻓﺤﻴﻨﺌﺬ ﻧﺄﻧﻲ ﻫﻨﺎ ﻗﻮﻝ ﺭﺑﻨﺎ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ :

Kita akan terus bersikap seperti ini sampai tampak kepada kami ada salah satu dari mereka yang congkak dan menentang kebenaran, sedangkan kelemahlembutan padanya sudah tidak lagi berguna sedikitpun, maka dalam kondisi saat ini kita hadirkan firman Allåh Azza wa Jalla :

( ﺧُﺬِ ﭐﻟۡﻌَﻔۡﻮَ ﻭَﺃۡﻣُﺮۡ ﺑِﭑﻟۡﻌُﺮۡﻑِ ﻭَﺃَﻋۡﺮِﺽۡ ﻋَﻦِ ﭐﻟۡﺠَـٰﻬِﻠِﯿﻦَ )

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.

[Surat Al-A’raf 199]

ﺍﻟﻒ ﻛﻠﻤﺘﻚ ﻭﺍﻣﺾ

Sampaikan nasehatmu lalu lewati!

  • PENUNTUT ILMU TIDAK DITUNTUT TAHU SEGALANYA

Sebagai penuntut ilmu, kita tidak dituntut tahu segalanya, karena ini tidak mungkin.

Namun wajib bagi penuntut ilmu mengetahui perkara paling mendasar dari agama ini beserta dalilnya. Membaca banyak buku, berusaha mengetahui banyak hal, itu baik, tapi mengkhususkan ke salah satu spesialisasi itu lebih baik.

✅ Syaikh Ziyâd al-Abbâdî hafizhahullâhu berkata :

ﺍﻗﺮﺃ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﻭﺗﺨﺼﺺ ﻓﻲ ﺷﻲﺀ ﻭﺍﺣﺪ ﻭﺗﺒﺮﻉ ﻓﻴﻪ

Bacalah semua buku, namun spesialisasikan dirimu di satu bidang saja dan jadilah mahir di dalamnya Karena itu, kita perhatikan para ulama pun memiliki spesialisasi dan kekhususan masing². Ada yang spesialisasinya di ilmu hadits, ilmu qiro’ah, ilmu tafsir, dll

Karena itulah di studi apapun, akan selalu ada penjurusannya. Menspesialisasikan diri itu bukan artinya menyempitkan ilmu dan merasa cukup dengannya tanpa mau mempelajari lainnya. Tetap, memahami perkara mendasar adalah syarat utama sebelum pengkhususan.

Karena, tidak ada manusia bisa menguasai semuanya. Manusia itu terbatas kemampuannya, sehingga menfokuskan dan mendalami suatu bidang ilmu lebih bermanfaat daripada berusaha menguasai semua ilmu yang ada.

✅ Alangkah benarnya ungkapan yang mengatakan

ﻣﻦ ﺗﻜﻠﻢ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻓﻨﻪ ﺃﺗﻰ ﺑﺎﻟﻌﺠﺎﺋﺐ

Siapa yang bicara di bukan bidangnya maka akan mendatangkan berbagai macam keanehan…

  • DA’I HARUS MEMILIKI AKHLAK MULIA

✅ Syaikh Ali al-Halabi saat menjelaskan pentingnya seorang da’i itu memiliki akhlaq yang luhur, perangai yang indah, adab yang mulia, karena da’i itu adalah orang yang berilmu dan mengajak orang kepada ilmu.

Karena itu alangkah indahnya perkataan beliau

ﻛﻠﻤﺎ ﺍﺗﺴﻊ ﻋﻠﻤﻚ ﺍﺗﺴﻌﺖ ﺭﺣﻤﺘﻚ

Setiap kali bertambah ilmumu, harusnya bertambah pula kasih sayangmu

Bukan malah semakin banyak ilmu, semakin sering belajar, namun malah semakin kasar, bengis, ketus, suka nyinyir dst…

✅ Perkataan Syaikh Ali al-Halabi di atas berasal dari ucapan Al- Imam Ibnul Qoyyim rahimahullâhu :

ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻛﻠﻤﺎ ﺍﺗﺴﻊ ﻋﻠﻤﻪ ﺍﺗﺴﻌﺖ ﺭﺣﻤﺘﻪ

Seseorang, semakin bertambah ilmunya, akan semakin penuh welas asih(Ighotsatul Lahafan II/914)

✅ Semisal ini juga perkataan Al-Allâmah Ibnu Utsaimîn rahimahullâhu saat mengomentari sejumlah penuntut ilmu yang kasar lagi keras :

ﺑﻌﺾُ ﻃّﻠّﺎﺏ ﺍﻟﻌﻠﻢِ ﺍﻵﻥ ﺃﺟﻔﻰ ﻣﻦ ﺍﻷﻋﺮﺍﺏ ﻻ ﻋﻨﺪﻩ ﺑﺸﺎﺷﺔ ﻭﻻ ﺗﺴﻠﻴﻢ ﻭﻻﺗﻮﺍﺿﻊ ! ﺑﻞ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨّﺎﺱ ﻛّﻠّﻤﺎ ﺍﺯﺩﺍﺩ ﻋﻠﻤﺎً ﻳﺰﺩﺍﺩ ﻛﺒﺮﺍً

Sebagian penuntut ilmu saat ini, lebih kasar daripada orang Badui. Tidak punya keceriaan wajah, penerimaan (atau salam) dan tdk tawadhu! Bahkan, sebagian orang ketika semakin bertambah ilmunya malah semakin sombong!

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita kelembutan hati, perangai yang baik, sikap rahmat dan kelemahlembutan….

–abinyasalma–

•••••••••••••••••••••••

_*Ya Allah, saksikanlah bahwa kami telah menjelaskan dalil kepada umat manusia, mengharapkan manusia mendapatkan hidayah,melepaskan tanggung jawab dihadapan Allah Ta’ala, menyampaikan dan menunaikan kewajiban kami. Selanjutnya, kepadaMu kami berdoa agar menampakkan kebenaran kepada kami dan memudahkan kami untuk mengikutinya*_

_*Itu saja yang dapat Ana sampaikan. Jika benar itu datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Kalau ada yang salah itu dari Ana pribadi, Allah dan RasulNya terbebaskan dari kesalahan itu.*_

Hanya kepada Allah saya memohon agar Dia menjadikan tulisan ini murni mengharap Wajah-Nya Yang Mulia, dan agar ia bermanfaat bagi kaum muslimin dan menjadi tabungan bagi hari akhir.

Saya memohon kepada Allah Ta’ala Agar menjadikan Tulisan ini amal soleh saat hidup dan juga setelah mati untuk saya dan untuk kedua orang tua saya juga keluarga saya dihari dimana semua amal baik dipaparkan

Sebarkan,Sampaikan,Bagikan artikel ini jika dirasa bermanfaat kepada orang-orang terdekat Anda/Grup Sosmed,dll, Semoga Menjadi Pahala, Kebaikan, Amal Shalih Pemberat Timbangan Di Akhirat Kelak. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas kebaikan Anda.

Wa akhiru da’wanā ‘anilhamdulillāhi rabbil ālamīn Wallāhu a’lam, Wabillāhittaufiq

_*“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.”* (HR Muslim no. 2674)_