SHOLAT JUMAT(Bag.2)

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

Kesalahan Seputar Shalat Jum’at | Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc, MA 20Mb

Kesalahan Dalam Meninggalkan Shalat Jum’at Ust Mizan Qudsiyah

Hukum Mandi Untuk Sholat Jum’at-Ust Mizan Qudsiyah

Beberapa Kesalahan Dalam Sholat Jum’at-Ust Mizan Qudsiyah

Bersegara Datang Untuk Sholat Jum’at-Ust Mizan Qudsiyah 7Mb41Mnit 

Telat Datang Sholat Jum’at Karena Nonton Bola-Ust Mizan Qudsiyah 5Mb 2Mnit

Amalan yang Mengurangi Pahala Shalat Jum’at-Ust Mizan QudsiyahBag1-Bag2

Seputar Shalat Jum’at- Ust Mizan Qudsiyah

Bag1 :Bag2:Bag3:Bag4:Bag5

Tidak Shalat Jumat tiga Kali Murtadkah-Ust.Khalid Basalamah

==

Kajian Tafsir Juz 29 Surat Al Qalam – Ust.Firanda Andirja.webm
https://mir.cr/1SG9IOH9
https://www.solidfiles.com/v/M26mzVM7k2XdY
Apa Jadinya Jika Meraih Rezeki Haram – Ustadz Ahmad Bazher.mp3
https://app.box.com/s/giik2pcd71niajk9blmz6vgikmjygi78
Hadits Hadits Singkat Yang Bermakna Luas – Syaikh Abdullah Bin Abdurrazzaq Al Badr.mp3
https://app.box.com/s/vqoa3f5j3yzmdb5ubu3wrh7hk6d0rlp3
Inilah Aqidah Seorang Muslim – Ustadz Sofyan Bafin Zen.webm
https://app.box.com/s/y6yobreuiqxlydc935ctlwwdwhsawqrh
Pedihnya Sakaratul Maut Amru Bin Ash – Ustadz Dahrul Falihin.mp3
https://app.box.com/s/9m88d1fb2col4lt5lxzcpnnp5nh72e9g
Penggugah Jiwa – Ustadz Ahmad Bazher.webm
https://app.box.com/s/u9j3numc232ip6qtedmt7m4czqjt6k2q
Wasiat Allah Terkait Orang Tua Oleh Ustadz Ristiyan Ragil
https://radiomuslim.com/download/7020/
“Hakikat Kecintaan Kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wassalam” – Asy Syaikh Khalid Muhammad Al-Ghufaily hafidzahullah
(Penasihat Keagamaan di Kementrian Pertahanan, Saudi Arabia)
Penerjemah:Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi Hafidzahullah
https://drive.google.com/file/d/10iYraggmD6VojJWFMoBI8H6903HSlJfn/view?usp=drivesdk
Menjaga Frekuensi Hati – Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi (Hafizhahullah)
https://drive.google.com/file/d/10gPmKgbSSDX25Me4KmWWCYdt7WC0J5Cg/view?usp=drivesdk
HANCURNYA KEJAYAAN SEBUAH BANGSA – AS-SYAIKH TAUFIQ MUHAMMAD AL
BA’DANY ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ
PENERJEMAH – USTADZ DZULQARNAIN M SUNUSI HAFIDZAHULLAH TA’ALA
https://drive.google.com/file/d/10chIyuM0LscfvYt5cRrEkHkqFAGjpNbP/view?usp=drivesdk
Mengarungi Indahnya Sunnah – Ustadz Bambang Abu Ubaidillah hafizhahullah
https://drive.google.com/file/d/10Yj9BNDiPZ7aoMyGWf8AarLguoyKT-iq/view?usp=drivesdk 

==
Ebook

Wahid Abdussalam Baali – Kesalahan-Kesalahan Seputar Shalat Jum’at.pdf

Jawaban Penting Pertanyaan Seputar Sholat Jumat-Abu Umar Basyir Al-Maidani

Fiqh Jum’at-60Hlm

Kumpulan Materi Khutbah Pilihan

Ensiklopedi Khutbah Pilihan-200Hlm 

==

➡ SHOLAT JUMAT(Bag.2)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

Open Donasi,Sedekah,Waqaf,Infaq: https://bit.ly/2JIhYq3

kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR

Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1

Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ

Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM

mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x

Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR

====

  • Apakah mandi pada hari Jumat adalah kewajiban?

Jawab:

✅ Mandi Jumat adalah amalan yang sangat ditekankan, namun tidak sampai pada taraf wajib. Sesuai dengan hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَدَنَا وَأَنْصَتَ وَاسْتَمَعَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ قَالَ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا

Dari Abu Hurairah beliau berkata Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang berwudlu’ pada hari Jumat kemudian membaguskan wudlu’nya, kemudian mendatangi pelaksanaan sholat Jumat, mendekati (khotib), diam dan menyimak khutbah dengan baik, maka akan diampuni (dosa) antara 2 Jumat ditambah 3 hari. Barangsiapa yang memainkan kerikil maka ia telah sia-sia (H.R Ahmad)

مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ وَمَنْ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ (رواه الترمذي(

Barangsiapa yang berwudlu’ pada hari Jumat, maka itu baik. Barangsiapa mandi, maka mandi adalah lebih utama” (H.R atTirmidzi)

✅ Hendaknya seseorang muslim bersemangat dan berupaya keras agar bisa melakukan mandi Jumat. Keutamaan mandi pada hari Jumat telah tercapai jika seseorang mandi setelah terbit fajar pada hari Jumat. Namun, pelaksanaan mandi menjelang sholat Jumat adalah lebih utama (disarikan dari Majmu’ Fatwa Syaikh Bin Baz)

  • Apakah hukum melakukan jual beli pada saat dikumandangkan adzan Jumat?

Jawab:

✅ Sebagian Ulama’ berpendapat bahwa pelaksanaan jual beli pada saat dikumandangkan adzan Jumat (naiknya khotib ke mimbar) adalah haram dan batil. Haram menyebabkan pelakunya berdosa, sedangkan batil artinya akad jual beli itu tidak sah, sehingga pembeli tidak memiliki hak milik terhadap barang yang dibeli waktu itu.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian diseru (dikumandangkan adzan) untuk sholat Jumat maka bergegaslah menuju dzikir kepada Allah dan tinggalkan jual beli (Q.S al-Jum’ah:9)

Sebagian Ulama merinci bahwa larangan tersebut adalah jika salah satu pelaku (pembeli atau penjual) adalah orang yang wajib mendatangi sholat Jumat.

  • Apa yang Dilakukan Oleh Orang yang Baru Masuk Masjid Saat Khotib sedang Berkhutbah?

Jawab:

Jika seseorang baru datang masuk ke masjid untuk sholat Jumat pada saat khotib sedang berkhutbah, maka hendaknya ia sholat dua rokaat (tahiyyatul masjid) dengan melakukan sholatnya secara ringkas (tidak berlama-lama), kemudian duduk mendengarkan khutbah dengan seksama.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَجَلَسَ فَقَالَ لَهُ يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا ثُمَّ قَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma beliau berkata: Sulaik al-Ghothofaaniy datang pada hari Jumat saat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam sedang berkhutbah. Kemudian Sulaik langsung duduk. Rasul bersabda kepada Sulaik: Wahai Sulaik, bangkitlah untuk sholat dua rokaat dan ringkaskanlah. Kemudian beliau bersabda: jika salah seorang dari kalian datang pada hari Jumat pada saat Imam sedang berkhutbah, sholatlah dua rokaat dan ringkaskanlah pelaksanaannya (H.R Muslim) 

  • Bolehkah Saat Khutbah Jumat Makmum Berbicara dengan Sesama Makmum ? 

Jawab: 

Tidak boleh. Karena hal itu bisa menghapuskan pahala/ keutamaan sholat Jumatnya. 

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

Jika engkau berkata pada hari Jumat kepada temanmu: Diamlah, sedangkan Imam sedang berkhutbah, maka engkau telah melakukan perbuatan sia-sia (H.R al-Bukhari dan Muslim) 

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ تَبَارَكَ وَهُوَ قَائِمٌ فَذَكَّرَنَا بِأَيَّامِ اللَّهِ وَأَبُو الدَّرْدَاءِ أَوْ أَبُو ذَرٍّ يَغْمِزُنِي فَقَالَ مَتَى أُنْزِلَتْ هَذِهِ السُّورَةُ إِنِّي لَمْ أَسْمَعْهَا إِلَّا الْآنَ فَأَشَارَ إِلَيْهِ أَنْ اسْكُتْ فَلَمَّا انْصَرَفُوا قَالَ سَأَلْتُكَ مَتَى أُنْزِلَتْ هَذِهِ السُّورَةُ فَلَمْ تُخْبِرْنِي فَقَالَ أُبَيٌّ لَيْسَ لَكَ مِنْ صَلَاتِكَ الْيَوْمَ إِلَّا مَا لَغَوْتَ فَذَهَبَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ وَأَخْبَرَهُ بِالَّذِي قَالَ أُبَيٌّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَ أُبَيٌّ

Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam membaca surat Tabarok (al-Mulk) pada hari Jumat dalam keadaan berdiri (berkhutbah). Beliau mengingatkan kami dengan kenikmatan/ adzab dari Allah. Pada saat itu Abud Darda’ atau Abu Dzar merabaku dengan tangannya kemudian bertanya: Kapan turunnya ayat ini? Aku belum pernah mendengarnya kecuali sekarang. Saya (Ubay bin Ka’ab) memberikan isyarat kepadanya untuk diam. Ketika selesai (mendengarkan khutbah), dia berkata kepadaku : Aku bertanya kepadamu tentang kapan diturunkan surat ini tapi engkau tidak memberitahukannya kepadaku. Ubay berkata: Engkau tidak mendapatkan bagian dari sholatmu hari ini kecuali kesia-siaan. Kemudian dia pergi kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam menceritakan hal itu. Kemudian Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Ubay benar (H.R Ibnu Majah, dishahihkan al-Albany). 

✅ Jika seseorang butuh untuk berbicara kepada rekan di samping kiri/ kanannya hendaknya dilakukan sebelum atau setelah khutbah Jumat. 

Sedangkan jika seseorang berbicara kepada Khotib karena ada keperluan atau khotib berbicara kepada salah satu jamaah pada saat khutbah Jumat maka yang demikian tidak mengapa. 

Seorang Arab badui pernah berbicara kepada Nabi saat beliau sedang berkhutbah Jumat. Orang itu menyampaikan keluhannya karena terjadi kekeringan, kemudian Nabi berdoa istisqo’. Hadits tentang ini insyaAllah akan disampaikan pada Bab Sholat Istisqo’. 

Nabi yang sedang berkhutbah pernah berbicara kepada Sulaik yang langsung duduk saat baru datang ke masjid. Nabi memerintahkan kepada beliau untuk sholat dulu dua rokaat.

  • Apakah ada keutamaan berpagi-pagi mendatangi sholat Jumat? Bagaimana pembagian waktunya?

Jawab:

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ (متفق عليه)

Barangsiapa yang mandi janabah pada hari Jumat kemudian berangkat ke masjid maka seakan-akan ia berkurban unta, barangsiapa yang berangkat di waktu yang kedua seakan-akan berkurban sapi, barangsiapa yang berangkat di waktu yang ketiga seakan-akan berkurban kambing, barangsiapa yang berangkat di waktu yang ke empat seakan-akan berkurban ayam, barangsiapa yang berangkat di waktu yang kelima seakan-akan berkurban telur. Jika Imam keluar, malaikat hadir mendengarkan dzikir (khutbah)(Muttafaqun ‘alaih)

✅ Pembagian waktu tersebut dimulai dengan terbitnya matahari di hari Jumat dan berakhir sampai Imam mulai naik mimbar. Rentang waktu tersebut dibagi dalam 5 bagian (penjelasan Syaikh al-Utsaimin dalam Syarhul Mumti’).

Sebagai contoh (untuk memudahkan pemahaman), jika pada suatu Jumat matahari terbit adalah jam 6 pagi (WIB) dan waktu Dzuhur bermula pada jam 12 siang (Imam naik ke atas mimbar), maka rentang waktu 6 jam tersebut dibagi 5 bagian. 6 jam = 6 x 60 menit =360 menit. Jika 360 menit dibagi 5, maka masing-masing waktu itu adalah 72 menit atau 1 jam lebih 12 menit. Sehingga pembagian waktu bagi orang yang mendatangi masjid dan menunggu imam di sana dengan aktivitas ibadah, kurang lebih sebagai berikut:

Waktu I (seperti berkurban unta) : 06.00 WIB – 07.12 WIB.

✅ Waktu II (seperti berkurban sapi) : 07.12 WIB- 08.24 WIB.

 

✅ Waktu III (seperti berkurban kambing) : 08.24 WIB – 09.36 WIB.

✅ Waktu IV (seperti berkurban ayam) : 09.36 WIB – 10.48 WIB.

✅ Waktu V (seperti berkurban telur) : 10.48 WIB – 12.00 WIB

Dijelaskan dalam riwayat lain bahwa jika Imam telah naik mimbar, maka seseorang tidak dapat keutamaan pahala berkurban tersebut karena catatan telah ditutup. 

  • Bagaimana Tata Cara Khutbah Jumat?

Jawab:

➡ Tata cara khutbah Jumat, adalah:

➡ 1. Khotib naik ke atas mimbar, saat sudah masuk waktu sholat Jumat, kemudian mengucapkan salam kepada para hadirin, dan selanjutnya duduk. 

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا صَعِدَ الْمِنْبَرَ سَلَّمَ

Dari Jabir bin Abdillah –radhiyallahu anhuma- bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam jika beliau naik ke atas mimbar beliau mengucapkan salam (H.R Ibnu Majah, dihasankan al-Albany)

✅ Hadits Ibnu Majah itu dalam sanadnya terdapat Ibnu Lahi’ah yang lemah, namun dikuatkan oleh jalur riwayat lain secara mursal (asy-Sya’bi dan Atha’) riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Abdurrozzaq (Tamaamul Minnah karya al-Albany (1/332)). 

➡ 2. Muadzin mengumandangkan adzan.

➡ 3. Setelah selesai adzan, Khotib mulai berkhutbah sebagai khutbah yang pertama 

✅ Saat berkhutbah Jumat, hendaknya Imam tidak banyak menggerakkan tangannya. Jikapun diperlukan cukup mengisyaratkan dengan jari telunjuk saja, termasuk dalam berdoa. Sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Umaaroh bin Ru-aiybah dalam riwayat Muslim. Kecuali jika berdoa istisqo’ maka mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya, sebagaimana yang dilakukan Nabi (InsyaAllah akan disebutkan dalam Bab Sholat Istisqo’) 

➡ 4. Setelah khutbah pertama, Khotib duduk sejenak.

➡ 5. Bangkit dari duduk, dan menyampaikan khutbah yang kedua.  

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ خُطْبَتَيْنِ كَانَ يَجْلِسُ إِذَا صَعِدَ الْمِنْبَرَ حَتَّى يَفْرَغَ أُرَاهُ قَالَ الْمُؤَذِّنُ ثُمَّ يَقُومُ فَيَخْطُبُ ثُمَّ يَجْلِسُ فَلَا يَتَكَلَّمُ ثُمَّ يَقُومُ فَيَخْطُبُ

Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu beliau berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam berkhutbah dua khutbah (dalam sholat Jumat). Beliau duduk jika (telah) naik ke mimbar hingga muadzzin selesai adzan. Kemudian beliau berdiri berkhutbah (setelah selesai adzan) kemudian duduk, tidak berbicara, kemudian berdiri berkhutbah (H.R Abu Dawud, dishahihkan al-Albany)  

➡ 6. Selesai khutbah yang kedua, turun dari mimbar dan melakukan sholat Jumat dua rokaat. 

  • ➡ Apa Saja yang Harus Ada dalam Khutbah Jumat?

Jawab:

✅ Para Ulama dalam madzhab Syafiiyyah dan Hanabilah menyatakan bahwa minimal khutbah Jumat harus mengandung 4 hal:

1. Pujian kepada Allah.

2. Sholawat kepada Nabi.

3. Wasiat bertaqwa kepada Allah.

4. Membaca ayat al-Quran minimal satu ayat

(al-Muhadzdzab karya Abu Ishaq asy-Syiirooziy dan Zaadul Mustaqni’ karya Syarafuddin  Musa bin Ahmad al-Hajjaawiy)

Dalam madzhab Syafiiyyah juga disunnahkan membaca doa bagi kaum muslimin dan waliyyul amr pada khutbah kedua. 

Jika kita perhatikan, dalam kalimat Khutbatul Hajah yang sering dibaca Nabi sebagai pembukaan khutbah/ ceramah, keempat syarat itu -selain sholawat kepada Nabi- sudah tercakup semua. 

✅ Berikut ini adalah hadits tentang bacaan Khutbatul Hajah yang diajarkan Nabi: 

عَنِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ إِذَا أَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يَخْطُبَ خُطْبَةَ الْحَاجَةِ فَلْيَبْدَأْ وَلْيَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا مَنْ يَهْدِي اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ثُمَّ يَقْرَأُ هَذِه الآيَاتِ ياَ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ , اتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا ياَ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا

Dari Ibnu Mas’ud –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Jika salah seorang dari kalian akan berkhutbah dalam khutbatul hajah, hendaknya mulai dari ucapan: Alhamdulillah, nahmaduhu wa nasta’iinuhu wa nastaghfiruhu. Wa Na’udzu billaahi min syuruuri anfusina. Man yahdillaahu falaa mudhilla lahu wa man yudhlil falaa haadiya lah. Wa asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘Abduhu wa rosuuluhu. Kemudian dia membaca ayat-ayat ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (البقرة :102)

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (النساء :1)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (الأحزاب :70(

(H.R Abdurrozzaq dalam Mushonnafnya, dengan sanad yang shahih, seluruh perawinya adalah rijal al-Bukhari atau Muslim, demikian juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, anNasaai, Ibnu Majah, dan Ahmad). 

Salah satu riwayat pendapat Imam Ahmad, menyatakan bahwa tidak ada kewajiban membaca minimal satu ayat al-Quran, yang penting khutbah itu adalah nasehat untuk memperbaiki keadaan hati dan penjelasan terhadap hukum-hukum syar’i (asy-Syarhul Mumti’ alaa Zaadil Mustaqni’ karya Ibn Utsaimin (5/54)). 

✅ Namun, meski demikian, jika mayoritas makmum berpandangan bahwa syarat-syarat khutbah harus mengandung hal-hal tersebut di atas, khotib harus memperhatikan hal itu dan menjalankannya. Agar tidak terjadi fitnah. Keempat syarat di atas jika dilaksanakan adalah kesempurnaan khutbah (disarikan dari Majmu’ Fataawa wa rosaa-il libni Utsaimin (16/51)). 

  • Apakah Disunnahkan Khotib Memegang Tongkat Saat Khutbah? 

Jawab: 

✅ Terdapat sebuah hadits dari al-Hakam bin Hazn al-Kulafiy yang menyaksikan khutbah Jumat Nabi, beliau menyatakan:

فَقَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى عَصًا أَوْ قَوْسٍ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ كَلِمَاتٍ خَفِيفَاتٍ طَيِّبَاتٍ مُبَارَكَاتٍ (رواه أبو داود)

Kemudian Nabi berdiri dengan bersandarkan pada tongkat atau busur (panah) kemudian beliau memuji dan memuja Allah dan menyampaikan kalimat-kalimat ringkas yang baik dan diberkahi (H.R Abu Dawud, dinyatakan sanadnya hasan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Talkhiishul Habiir) 

✅ Atas dasar inilah Jumhur Ulama (Malik, asy-Syafii, dan Ahmad) menyatakan disunnahkan untuk memegang tongkat atau semisalnya saat Khotib berkhutbah. 

✅ Al-Imam as-Shon’aaniy rahimahullah menyatakan:Jika tidak didapati sesuatu untuk menyandarkan (tangan), maka ia biarkan tangannya (di samping tubuh) atau meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri atau di samping mimbar (Subulus Salam (2/59)). 

✅ Sebagian Ulama lain yaitu Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah berpendapat tidak disunnahkan untuk menyandarkan tangan pada tongkat, karena tidak didapati dalil Nabi bersandar pada tongkat saat mimbar sudah dibuat. 

✅ Sedangkan Syaikh Ibn Utsaimin merinci hal itu. Jika memang dibutuhkan oleh Khotib, misalkan karena lemah butuh sesuatu sandaran tangan untuk berdiri tegak, maka itu adalah sunnah. Karena sesuatu hal yang menolong untuk tercapainya sunnah (berdiri saat khutbah) adalah sunnah. Namun, jika tidak, hal itu tidak diperlukan (disarikan dari Majmu’ Fataawa wa Rosaa-il Ibn Utsaimin (16/62)).

••||•• Lanjut ke Halaman 2 ••||••