Yang Baik yang Baik, yang Jelek untuk yang Jelek (Keumuman Jodoh Setiap Manusia)



Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Melakukan Hubungan Badan Sebelum Istri Mandi WajibSetelah Haidh

3.Pentingnya Sikap Ilmiah dalam Beragama

4.Anjuran Bersuci, Berdzikir, Sedekah, Dan Sabar

5.Hewan Qurban Cacat Ketika Turun dari Kendaraan

7.10 Kiat Istiqomah (Bag.17)

8.Iman Dan Istiqamah

9.Jodoh, Antara Takdir dan Usaha |

10.Faedah Surat An-Nuur #14: Laki-Laki Baikuntuk Perempuan Baik

••

Kajian Pra Nikah ׃ Tips Mencari Pasangandan Mantu Ideal – Ust Nuzul Dzikri, Lc.mp3

Problematika Mencari Jodoh – Ust NuzulDzikir, Lc.mp3

Ceramah Nasehat PernikahanUstadz Nuzul Dzikri, Lc

Bagaimana Cara Cari Jodoh Yang Baik, Ustadz DR Khalid Basalamah, MA

Ustadz Nuzul Dzikri Tips & Trik Mencari Jodoh

Ust Arifin Badri Jodoh Harus Dicari Ataukah Di Tunggu

Tips Dapat Jodoh Ustadz DR Khalid Basalamah, MA

Benarkah Lelaki baik Untuk Wanita YangBaik. Ustadz DR Khalid Basalamah, MA .mp3

••

Bersahabatlah Dengan Al-Qur’an – Ust. Ahmad Bazher 32Mb
https://app.box.com/s/942uoeafos4w74b6q0uut3p1gf5hq9ql
Kesalahan Seputar Shalat Jum’at | Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc, MA 2Mb
https://app.box.com/s/k110xhhx1h30it1oyjpcunks6qfg695u
Akhlakul Karimah – Ustadz Ahmad Bazher.mp3
https://app.box.com/s/lvb34n96ji2u98b8avfgnmzw3etcm54d
Berilmu Sebelum Beramal Kewajiban Hamba Terhadap Perintah Allah – Ustadz Ahmad Bazher.mp3
https://app.box.com/s/ttczxbc6f2tih7xr28xghwfq2lsg5y95
Ilmu Atau Harta – Ustadz Ahmad Bazher.mp3
https://app.box.com/s/ek435lo5vpcdpf7z4h1vgquw7lg2qg49
KEWAJIBAN SEORANG HAMBA TERHADAP PERINTAH ALLAH OLEH USTADZ AHMAD BAZHER.Lc.webm
https://app.box.com/s/mce7o9ey4irqgi51bcsdp585zs8t0y4k
Pemberi Harapan Palsu – Ust. Ahmad Bazher.webm
https://app.box.com/s/psv9to1ez3rry64cwf94mv6n0lhsj9ji
Hikmah Dari Wafatnya Paman Nabi – Ustadz Ahmad Firdaus.mp3
https://app.box.com/s/5aovbcc67t0440nkx70qfkdo05cump5n
.==
Nutrisi Hati Oleh Ustadz Amir As Soronji, Lc. M.Pdi
https://radiomuslim.com/download/7087/
(Aqidah Yang Samar, Ustadz Zainal Abidin, LC hafidzahullah

(Fenomena Terlambat Menghadiri Sholat Berjama`ah, Ustadz Abu Umair Haryono bin Suyadi Hafizhahullah)

(Efek Terjerumus Dalam Fitnah, Ustadz Sahl AbuAbdillah),

Sudah Sesuaikah Ibadahku Dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam Ustadz Bambang Abu Ubaidillah hafizhahullah
https://drive.google.com/file/d/11NQJy891YUp_GDedydHNgPSN2otMJWGI/view?usp=drivesdk
Antara Kehidupan dan Kematian Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafidzhahullahu Ta’aala
https://drive.google.com/file/d/1HF5MrdLUB4b2tiZ0OSLC1FKmsv34T09S/view?usp=drivesdk
KEIKHLASAN DALAM BERAMAL – Syaikh Taufiq Muhammad Al Ba’dani ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ
Penterjemah : Al-Ustadz Dzulqarnain M Sunusi ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ
SESI1:https://drive.google.com/file/d/11IrGSazPZuWds6evg3rmLMl1thuim4wp/view?usp=drivesdk
SESI 2:https://drive.google.com/file/d/11IrGSazPZuWds6evg3rmLMl1thuim4wp/view?usp=drivesdk
Perselisihan Tentang Hukum Demonstrasi –
Syaikh Khalid Muhammad Al-Ghufaly
Hafizhahullah Ta’ala
Penerjemah Al Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafidzhahullahu Ta’aala
https://drive.google.com/file/d/1R0rGoTAtOJRL_I7POvpVhH8ZsLUqsUWv/view?usp=drivesdk
MEREKA YANG DILAKNAT OLEH ALLOH ﷻ & RASUL-NYA – Fadhilatusy Syaikh Taufiq Muhammad Al Ba’dani ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ
Penterjemah : Al-Ustadz Abu Said Yahya ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ
SESI 1:https://drive.google.com/file/d/11GLfuxmo2C29OV9UXTuoB7YrVm8y0C8Y/view?usp=drivesdk
SESI 2:https://drive.google.com/file/d/11DI-UhCZKvegzLKv9asxqcPtCWS2RyUY/view?usp=drivesdk
Shalat – Shalat Sunnah : Shalat Taubat & Shalat Qobliyah Jum’at -Ustadz Bambang Abu Ubaidillah hafizhahullah
https://drive.google.com/file/d/12RpBUZ51Kd7dIX_EmJJ3oR4lM6sMSxm2/view?usp=drivesdk  
••
Ebook

Kupinang Engkau dengan Hamdalah-Mohammad Fauzil Adhim 377Halaman

Jodohku Tak Kunjung Datang

Menjadi Bidadari Cantik ala Islam – Ummu Ahmad Rifqi 66Halaman

Siap Dipinang

Suami Istri Idaman

Jangan Dekati Zina Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Seret Rezeki Susah Jodoh

==   
••

  • Yang Baik yang Baik, yang Jelek untuk yang Jelek (Keumuman Jodoh Setiap Manusia)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

Open Donasi,Sedekah,Waqaf,Infaq: https://bit.ly/2JIhYq3

kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR

Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1

Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ

Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM

mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x

Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR

==

  • Yang Baik yang Baik, yang Jelek untuk yang Jelek (Keumuman Jodoh Setiap Manusia)

✅ Al-Ustadz Abdurrahman Dani

.

Allah Ta’ala Berfirman: 
ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِۚ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ٢٦

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula). Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia.” (an-Nur: 26)

Jenis Surat dan Sebab Turunnya

  • Surat an-Nur termasuk surat madaniyyah.[1]

Surat ini mengandung banyak hukum atau tuntunan Islam. Di antaranya adalah hukuman bagi orang yang menuduh orang lain berbuat zina, hukuman bagi pelaku zina, kesaksian tentang perbuatan zina, hukum menikah dengan pezina dan orang musyrik, adab atau tata cara masuk rumah, cara menjaga diri dengan menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, wanita-wanita yang termasuk mahram (haram dinikahi oleh seorang pria), dan sebagainya.

Adapun ayat di atas turun tentang ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan ahlul ifk[2]. Sudah dimaklumi bahwa kezaliman dan gangguan terbesar bagi seseorang adalah tuduhan dan celaan bahwa istrinya telah berbuat zina. Apalagi, yang dituduh adalah ummul mukminin dan menyangkut kehormatan Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha termasuk dari ath-thayyibat (wanita-wanita yang baik). Beliau adalah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam, dan tentu beliau ` termasuk dari ath-thayyibun (laki-laki yang baik).

  • Tafsir Ayat

➡ 1. Firman-Nya, “ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ”

Ada empat pendapat ahli tafsir, yaitu:

1.Perkataan yang khabitsat (keji) tidaklah diucapkan kecuali oleh al-khabits (orang yang keji), baik laki-laki maupun perempuan. Adapun perkataan yang thayyibat (baik) tidaklah diucapkan kecuali oleh ath-thayyibun (orang-orang yang baik), baik laki-laki maupun perempuan.

✅ 2.Perkataan yang khabitsat (keji) hanyalah dilekatkan pada al-khabitsun (orang-orang yang keji), baik laki-laki maupun perempuan. Adapun ath-thayyibat (wanita-wanita yang baik) dan ath-thayyibun (pria-pria yang baik) hanya pantas disebut dengan ucapan yang thayyibat (baik).
✅ 3.Al-Khabitsat (wanita-wanita yang keji) adalah untuk al-khabitsun (pria-pria yang keji). Adapun ath-thayyibat (wanita-wanita yang baik) adalah untuk ath-thayyibun (pria-pria yang baik).
4.Amalan-amalan yang khabitsat (keji) adalah untuk orang-orang yang keji, dan orang-orang yang keji adalah untuk amalan-amalan yang keji. Begitu pula berlaku untuk amalan yang thayyibat (baik). (Zadul Masir 5/374).

  • ➡ Terkait dengan kekejian dan kebaikan, tempat tinggal manusia dibagi menjadi tiga, yaitu:

✅ 1.Tempat tinggal yang hanya dihuni oleh orang baik dan diharamkan bagi mereka yang tidak termasuk orang baik. Di tempat tinggal ini dikumpulkanlah semua orang yang baik. Tempat tinggal ini adalah jannah (surga).
✅ 2.Tempat tinggal yang hanya dimasuki dan dihuni oleh orang-orang keji, baik laki-laki maupun perempuan. Tempat tinggal ini adalah nar (neraka).
✅ 3. Tempat tinggal yang bercampur di dalamnya orang yang keji dan orang yang baik, yaitu tempat tinggal kita sekarang ini (dunia). Karena percampuran tersebut, terjadilah musibah dan ujian di tempat tinggal ini. Hal ini merupakan wujud hikmah dari Allah subhanahu wa ta’al
a. (Badai’ut Tafsir 3/247)

.
➡ 2. Firman-Nya, “أُوْلَٰٓئِكَ”

✅ Artinya “mereka”, yaitu ‘Aisyah dan Shafwan radhiyallahu ‘anhu, yang dituduh telah berbuat zina.

➡ 3. Firman-Nya, “مُبَرَّءُونَ ”

✅ Artinya “yang berlepas diri”, yaitu bersih dan suci dari tuduhan tersebut.

➡ 4. Firman-Nya, “مِمَّا يَقُولُونَۖ”

✅ Artinya “dari apa yang mereka katakan”, yaitu kebohongan.

➡ 5. Firman-Nya, “لَهُم مَّغۡفِرَةٞ”

✅ Artinya “bagi mereka ampunan”, yaitu dari dosa-dosa mereka.

➡ 6. Firman-Nya “وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ”

✅ Artinya “dan rezeki yang mulia”, yaitu jannah (surga).

Petikan Faedah Ayat

Berikut sebagian faedah yang bisa dipetik dari ayat ini.

  • ➡ 1. Apakah boleh seorang pria menikahi wanita yang telah melakukan khaba’its (perbuatan keji), yaitu berzina, sebelum dia bertobat?

Para ulama berbeda pendapat.

Malik berpendapat, “Dimakruhkan menikahi wanita pezina secara mutlak. Tidak boleh (menikahi si wanita) kecuali setelah al-istibra’ (memastikan bahwa si wanita tidak hamil)[3], baik yang menikahinya adalah pria yang pernah berzina dengannya maupun pria lain.”
Istibra’ tersebut adalah dengan (menunggu sampai) tiga kali haid, sebagaimana dalam salah satu riwayat dari beliau. Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa istibra’ ini cukup dengan sekali haid, tetapi tiga kali (haid) adalah lebih utama. Beliau juga berpendapat tidak dipersyaratkan tobat.

✅ Abu Hanifah dan asy-Syafi’i berpendapat, “Boleh akad (nikah) walau tanpa tobat dan istibra’.
✅ Boleh pula bersetubuh, menurut pendapat asy-Syafi’i. Adapun Abu Hanifah berpendapat, “Tidak boleh bersetubuh sampai istibra’ dengan sekali haid, atau sampai melahirkan jika wanita tersebut hamil.”[4]

✅ Ahmad berpendapat, “Tidak boleh menikahinya kecuali dengan dua syarat: (1) si wanita telah bertobat[5] dan (2) istibra’, yaitu dengan melahirkan jika dia hamil, atau dengan haid, atau dengan adanya saksi jika dia tidak mendapat haid.” (al-Ifshah 3/146—148)

Yang paling kuat adalah pendapat al-Imam Ahmad.

✅ Ibnu Qudamah berkata, “Jika dua syarat ini terpenuhi, si wanita halal dinikahi oleh pria yang berzina dengannya ataupun pria lainnya. Hal ini menurut pendapat kebanyakan ahli ilmu, di antaranya Abu Bakr, ‘Umar, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Jabir, Sa’id bin al-Musayyib, Thawus, Jabir bin Zaid, ‘Atha’, al-Hasan, ‘Ikrimah, az-Zuhri, ats-Tsauri, asy-Syafi’i, Ibnul Mundzir, dan Ash-habur Ra’yi.”

(Lihat Fathul Qadir 3/145, al-Badai’ 2/269, Bidayatul Mujtahid 2/39, al-Muhadzdzab 2/43, al-Majmu’ 16/219, dan al-Mughni 6/347)

  • ➡ 2. Pada awalnya, sepasang suami istri termasuk orang baik-baik (bukan dari al-khabitsun dan al-khabitsat). Akan tetapi, salah satunya kemudian berzina. Apakah pernikahan mereka rusak?

✅ Keempat imam mazhab telah sepakat bahwa jika wanita yang sudah menikah (dan masih bersuami) melakukan perbuatan zina, pernikahannya dengan suaminya tidak rusak, baik zina tersebut dia lakukan sebelum dukhul (jima’) maupun sesudah dukhul. Ini pendapat seluruh ahli ilmu, dan merupakan pendapat Mujahid, ‘Atha’, an-Nakha’i, ats-Tsauri, asy-Syafi’i, Ishaq, dan Ash-hab ar-Ra’yi.

✅ Ibnu Qudamah  menukilkan bahwa al-Imam Ahmad menganggap mustahab bagi si suami menceraikan istrinya yang telah berbuat zina. Beliau berkata, “Saya berpendapat bahwa suami tidak perlu mempertahankan istri semacam ini. Sebab, dikhawatirkan si istri akan merusak (urusan) ranjang si suami dan akan dinasabkan kepada si suami ini anak yang sebenarnya bukan anaknya.”

(Lihat Fathul Qadir 3/146, al-Badai’ 2/269, al-Muhadzdzab 2/43, dan al-Mughni 6/348)

Banyak jenis pernikahan yang termasuk dalam makna ayat ini. Di antaranya, pernikahan pasangan liwath (sesama pria), pernikahan sesama wanita, pernikahan manusia dengan hewan,[6] dan pernikahan dengan orang Majusi dan ahli watsan[7]. Ini semua pernikahan yang diharamkan.

.

  • Kaum munafikin dan Rafidhah memiliki sifat suka mencela para sahabat.[8]

Pemimpinnya adalah ‘Abdullah bin Ubai bin Salul yang pertama kali menuduh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berzina, dan diikuti oleh pengikutnya, yaitu Rafidhah, sampai dengan zaman kita ini.

ٱلزَّانِي لَا يَنكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوۡ مُشۡرِكَةٗ وَٱلزَّانِيَةُ لَا يَنكِحُهَآ إِلَّا زَانٍ أَوۡ مُشۡرِكٞۚ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٣

Laki-laki yang berzina tidak menikah kecuali dengan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. Demikian pula perempuan yang berzina tidak dinikahi kecuali oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki yang musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman.” (an-Nur: 3)

Hukum dalam ayat ini berlaku sebelum pelaku zina bertobat. Adapun jika ia sudah bertobat, hukum tersebut tidak berlaku lagi, berdasarkan sabda Nabi ,

اَلتَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ

Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah dan ath-Thabarani, dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib 3/122)

✅ Secara logika (berdasarkan dalil ‘aqli), jika seorang wanita pezina tidak bertobat dari perbuatan zinanya, dikhawatirkan dia akan merusak urusan ranjang suaminya. Selain itu, bisa jadi dia melahirkan anak dari selain suaminya, tetapi si anak dinasabkan kepada suaminya.

[1] Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu az-Zubair . Dikatakan oleh Abu Hayyan bahwa secara ijma’, surat ini adalah madaniyyah. (Ruhul Ma’ani 18/131)

[2] Al-Hafizh Abul Fida’ Isma’il Ibnu Katsir  menyebutkan dalam Tafsirnya (5/301) bahwa awal surat an-Nur sampai ayat kesepuluh diturunkan untuk Ummul Mukminin ‘Aisyah  tatkala beliau dituduh berzina oleh ahlul ifk (para pembohong) dari kalangan munafikin. Tuduhan ini menyebabkan Allah subhanahu wa ta’ala cemburu sehingga Dia turunkan ayat tersebut untuk ‘Aisyah dan Nabi-Nya . Ayat tersebut menunjukkan berlepas dirinya ‘Aisyah dari tuduhan tersebut dan menjaga kehormatan Nabi .

Yang pertama kali memunculkan pelaknatan (tuduhan) ini adalah ‘Abdullah bin Ubai bin Salul, si gembong munafikin. Dialah yang mengumpulkan orang-orang dan menyebarkan berita tersebut. Akibatnya, masuklah pemikiran ini ke otak sebagian muslimin dan tersebarlah berita bohong tersebut hingga kira-kira sebulan, lalu turunlah ayat-ayat tersebut. Kisah ini didapati dalam hadits-hadits shahih. Silakan merujuk kisahnya yang panjang dalam Tafsir Ibnu Katsir 5/302—307.

[3] Lihat Mukhtar ash-Shihah karya ar-Razi, hlm. 58. Adapun tujuan istibra’ adalah mencegah terjadinya percampuran nasab.

[4]Ini jika yang menikahi si wanita bukan pria yang menghamilinya. Adapun jika yang menikahinya adalah pria yang telah menghamilinya, boleh bersetubuh tanpa menunggu si wanita melahirkan. Bahkan, pensyarah Fathul Qadir menukilkan bahwa ini adalah kesepakatan para ulama. Ini juga merupakan fatwa azh-Zhahiriyyah.

[5] Yaitu bertobat dari zina. Disyaratkannya tobat ini juga merupakan pendapat Qatadah, Ishaq, dan Abu ‘Ubaid. Mereka berdalil dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

[6] Ini semua pernikahan yang sangat buruk dan menyelisihi fitrah.

[7] Imam empat mazhab telah sepakat atas larangan menikah dengan wanita Majusiyyah (penyembah api) atau watsaniyyah (penyembah berhala). Dilarang pula menikahi wanita yang murtad karena melakukan kesyirikan. Sebagian ulama menyebutkan hikmah dilarangnya menikah dengan mereka, yaitu bahwa ketiadaan iman menyebabkan wanita mudah mengkhianati suaminya, memperbuat kerusakan, berperangai jelek, dan tidak memiliki sifat amanah, istiqamah, dan kebaikan. Mereka juga beriman dengan khurafat (cerita bohong) dan mudah terpengaruh oleh hawa nafsu. Semua ini tiada lain karena tidak adanya agama yang mengatur mereka. Wallahu a’lam.

[8] Untuk mendapatkan tambahan referensi, silakan merujuk ke kitab-kitab akidah tentang hukum sabbush shahabah (mencela para sahabat Nabi ).

==

  • Stop! Jangan Kamu Nikahi Dia

Al-Ustadz Abu Bakar Abdurrahman

فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا مَرْثَدُ، اَلزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً، وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ، فَلَا تَنْكِحْهَا.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pun menjawab, ‘Wahai Martsad, lelaki pezina tidaklah menikah kecuali dengan perempuan pezina atau perempuan musyrik, demikian pula perempuan pezina tidak dinikahi kecuali oleh lelaki pezina atau lelaki musyrik. Oleh karena itu, jangan kamu nikahi dia (perempuan pezina itu)’.” (HR. at-Tirmidzi no. 3177, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani )

Pembaca Qonitah yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala.

Sudah menjadi sunnatullah bahwa manusia diciptakan dengan pasangannya. Sebagai anugerah ilahi, disyariatkanlah pernikahan. Seorang pria yang fitrahnya masih suci tentu ingin menyalurkan nafsu biologisnya dengan cara yang halal, yang diridhai oleh Allah dan mendatangkan pahala.

Meski syahwat sudah memuncak, tetap seorang muslim berpikir panjang untuk menentukan pasangan hidupnya. Keimanan dan kesalehan seorang wanita, itulah yang dia kedepankan dan utamakan di atas segala-galanya.

Seorang wanita yang salihah tentu akan dicari oleh pria yang saleh. Maka dari itu, janganlah Anda, Saudariku, cemas dan khawatir. Selama Anda berhias dengan ketakwaan, pasti akan banyak pria yang mendambakan Anda. Sebaliknya, jika Anda tidak peduli terhadap akhlak Anda, jangan harap pria saleh menjadi pasangan Anda.

Dalam hadits yang telah kami ketengahkan ke hadapan Anda, seorang sahabat yang termasuk pejuang Islam pada zaman Rasulullah meminta pendapat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Dia menyampaikan keinginan untuk menikahi wanita bekas kekasihnya pada masa jahiliah, sebelum dia masuk Islam. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam melarangnya karena wanita itu adalah pezina. Mari kita simak hadits yang sarat faedah ilmu berikut ini.

Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam ada seorang sahabat yang bernama Martsad bin Abi Martsad. Beliau bertugas membawa tawanan perang—kaum muslimin yang tertawan di Mekkah—ke Madinah. Di Mekkah ada seorang wanita jalang bernama ‘Anaq. Dia adalah kekasih Martsad pada masa jahiliah sebelum Martsad masuk Islam.

✅ Suatu saat beliau berjanji kepada salah seorang tawanan. Beliau menuturkan, “Aku pun datang untuk menepati janji tersebut. Aku berhenti di suatu tembok milik penduduk Mekkah pada malam yang bermandikan cahaya bulan.

Pada saat itu datanglah ‘Anaq. Dia melihat bayanganku di tembok itu. Tatkala jarak sudah dekat, dia pun mengenaliku.

Martsad?’ tanyanya menerka.

Ya, aku Martsad,’ jawabku. Dia pun menyambutku, ‘Selamat datang. Mari bermalam di rumahku.’

✅ Aku beralasan, ‘Wahai ‘Anaq, sesungguhnya Allah mengharamkan zina.’

Dia pun marah dan berseru, ‘Wahai penghuni tenda (para penjaga tawanan)! Orang ini mau mengambil tawanan kalian!’

Serempak delapan orang mengejarku. Aku pun berlari, menyelinap ke jalan-jalan di gunung sampai menemukan lubang persembunyian. Aku pun masuk ke dalamnya. Namun, mereka sampai pula ke persembunyianku. Mereka kencing di lubang tersebut sampai air kencing mereka mengenai kepalaku. Namun, Allah membutakan mata mereka sehingga tidak melihatku. Kemudian, mereka pergi meninggalkan tempat itu.

Aku pun kembali ke tempat si tawanan lalu mengangkutnya. Orang ini memiliki badan yang berat. Sampailah kami ke sebuah tempat yang di sana banyak tumbuhan idzkhir. Kulepaskan belenggunya, lalu kuangkut kembali dia. Sungguh hal ini sangat melelahkanku sampai aku pun tiba di Madinah.

Kusampaikan kepada Rasulullah perihal ‘Anaq. Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bolehkah saya menikahi ‘Anaq?’

✅ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam terdiam, tidak menjawab sedikit pun, sampai turun kepada beliau ayat,

ٱلزَّانِي لَا يَنكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوۡ مُشۡرِكَةٗ وَٱلزَّانِيَةُ لَا يَنكِحُهَآ إِلَّا زَانٍ أَوۡ مُشۡرِكٞۚ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٣

 ‘Lelaki pezina tidaklah menikah kecuali dengan wanita pezina atau wanita musyrik, demikian pula wanita pezina tidaklah dinikahi kecuali oleh lelaki pezina atau lelaki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.’ (an-Nur: 3)

✅ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pun bersabda, ‘Wahai Martsad, lelaki pezina tidaklah menikah kecuali dengan perempuan pezina atau perempuan musyrik, demikian pula perempuan pezina tidak dinikahi kecuali oleh lelaki pezina atau lelaki musyrik. Oleh karena itu, jangan kamu nikahi dia’.”

•••|||••• Lanjut ke Halaman 2 •••|||•••

Iklan