Berwudhu dengan Bimbingan Syariat
(Bag.1)

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

Kajian Kitab Safiinatun Najaah oleh Ustadz Arifin Badri,MA
Rukun Wudhu

Bag1Bag2Bag3Bag4bag5

Syarat Sah Wudhu

Fiqih KIFAYATUL AKHYAR-Ust Hasan Al Jaizy

Fardhu Dalam Wudhu

Faraidh Wudhu

FIQIH SYAFII MUTAMAD Ust Hasan Al Jaizy

Syariat dan Syarat Wudhu

Syarat-Wudhu“-Ustadz-Hasan-al-Jaizy

Sunnah Dalam Berwudhu

Beberapa Sunnah Dalam Wudhu

Wudhu Sesuai Sunnah-Ustadz Muflih Safitra.webm

Ustadz Hasan Al-Jaizy, Lc. -Sifat Wudhu Nabi

Cara Berwudhu Dengan Kran 

Cara Berwudhu Dengan Gayung

Cara Berwudhu Sesuai Sunnah: Anggota Wudhu dan Batasannya

=

Ebook

Wudhu’: Defenisi, Dalil dan KeutamaannyaPenulis : Syaikh Fahd bin Abdurrahman asy-Syuwayyib

Tuntunan Wudhu

MATERI BERGAMBAR SIFAT WUDHU Nabi

.==

➡ Berwudhu dengan Bimbingan Syariat

.

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

Link Blog: https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/blog/

Link Ebook Islam: https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/ebook-islam-pdf/

Link Mp3 Audio Kajian

https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/mp3-audio-kajian-sunnah/

.==

  • Berwudhu dengan Bimbingan Syariat

.

Al-Ustadz Utsman

.

  • Berwudhu dengan Bimbingan Syariat (Bagian Pertama)

.

✅ Bersuci dalam rangka menghilangkan hadats[1] ada tiga macam: (1) wudhu, (2) mandi, dan (3) tayammum sebagai pengganti wudhu dan mandi. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan ketiganya dalam satu ayat, yaitu dalam firman-Nya,

.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ وَإِن كُنتُمۡ جُنُبٗا فَٱطَّهَّرُواْۚ وَإِن كُنتُم مَّرۡضَىٰٓ أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوۡ جَآءَ أَحَدٞ مِّنكُم مِّنَ ٱلۡغَآئِطِ أَوۡ لَٰمَسۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءٗ فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدٗا طَيِّبٗا فَٱمۡسَحُواْ بِوُجُوهِكُمۡ وَأَيۡدِيكُم مِّنۡهُۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجۡعَلَ عَلَيۡكُم مِّنۡ حَرَجٖ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمۡ وَلِيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ٦

.

Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian hendak berdiri untuk shalat, basuhlah wajah kalian dan tangan-tangan kalian sampai ke siku; usaplah kepala kalian; dan (basuhlah) kaki-kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki. Jika kalian dalam keadaan junub, bersucilah. Jika kalian sakit, atau dalam keadaan safar, atau setelah buang air, atau setelah ‘menyentuh’ wanita, kemudian kalian tidak mendapatkan air, bertayammumlah kalian dengan tanah yang baik, yaitu usaplah wajah dan tangan-tangan kalian. Allah tidak menginginkan sesuatu yang memberatkan kalian, tetapi Dia ingin menyucikan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya atas kalian sehingga kalian bersyukur.” (al-Maidah: 6)

.

✅ Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah, dalam Tafsir beliau, menyebutkan lebih dari lima puluh faedah hukum yang bisa diambil dari ayat ini. Akan kami sebutkan faedah yang terkait dengan bahasan kali ini, yaitu masalah wudhu. Di antara yang beliau sebutkan adalah:

.

➡ 1. Mengamalkan hal-hal yang disebutkan oleh ayat ini adalah konsekuensi iman, sehingga tidak sempurna iman seseorang tanpa mengimani dan mengamalkannya. Sebab, dalam ayat ini Allah menyeru orang-orang yang beriman, bukan selain mereka.

.

➡ 2. Thaharah merupakan syarat sahnya shalat. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala memerintah orang yang hendak shalat untuk bersuci, sedangkan hukum asal dari suatu perintah adalah wajib.

.

➡ 3. Thaharah tidak wajib dengan sekadar masuknya waktu shalat.

.

➡ 4.Setiap shalat, baik yang wajib—termasuk yang fardhu kifayah—maupun yang sunnah, dipersyaratkan thaharah padanya. Bahkan, sekadar sujud, seperti sujud syukur dan sujud tilawah, juga disyaratkan thaharah menurut pendapat banyak ulama.

.

➡ 5.Anjuran untuk tajdid al-wudhu (memperbarui wudhu)[2] setiap akan shalat sehingga kita lebih sempurna dalam melaksanakan ibadah yang diperintahkan kepada kita.

.

➡ 6.Perintah untuk membasuh wajah. Batas-batasnya secara vertikal adalah dari tempat tumbuhnya rambut yang normal[3] sampai ke ujung dagu; dan secara horizontal adalah dari.telinga ke telinga[4].

.

➡ 7.Termasuk membasuh wajah adalah berkumur dan istinsyaq (menghirup air ke hidung) berdasarkan tuntunan yang disebutkan oleh as-Sunnah. Demikian pula membasuh rambut-rambut yang tumbuh di wajah. Jika rambut yang tumbuh di wajah ini tipis[5], diwajibkan sampainya air ke bagian kulit; jika rambut tersebut tebal, cukup dibasuh bagian luar rambut.

.

➡ 8.Perintah untuk membasuh kedua tangan sampai siku. Siku ikut dibasuh karena kewajiban membasuh ini tidak akan sempurna melainkan dengan membasuh seluruh bagian siku.

.

➡ 9.Perintah untuk mengusap kepala.

.

✅ Yang wajib adalah mengusap seluruh kepala karena huruf ba’[6] tidak menunjukkan makna tab’idh (yang diusap sebagian kepala saja).[7]

.

✅ Yang wajib dilakukan pada kepala adalah pengusapan. Oleh karena itu, jika seseorang membasuh atau mengguyur kepalanya dengan air tanpa mengusapnya, berarti dia belum melakukan hal yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

.

✅ Mengusap kepala ini tidak harus menggunakan kedua tangan, tetapi boleh dengan satu tangan saja atau dengan selain tangan (seperti kain).

.

➡ 10.Perintah untuk membasuh kedua telapak kaki sampai ke mata kaki. Tidak boleh mengusap kedua telapak kaki saja tanpa membasuhnya selama keduanya terbuka.

.

➡ 11.Perintah untuk melakukan wudhu dengan tertib dan berurutan.

.

✅ Perintah untuk tertib ini hanya berlaku pada keempat anggota wudhu yang tersebut dalam ayat mulia tersebut. Adapun tertib/berurutan di antara berkumur, istinsyaq, dan membasuh wajah; demikian pula tertib dalam hal membasuh bagian kanan tangan ataupun kaki lebih dahulu sebelum bagian kiri, ini semua .tidak wajib, tetapi mustahab (sunnah).[8]

.

➡ 12.Thaharah lahiriah untuk anggota badan menggunakan air adalah penyempurna thaharah batiniah (kalbu) dengan tauhid dan tobat yang benar.

.

✅ Ketika Allah subhanahu wa ta’ala memilihkan hukum-hukum syariat untuk kita, Dia sama sekali tidak ingin memberatkan kita. Sebaliknya, syariat Allah adalah bentuk rahmat dan kesempurnaan nikmat-Nya bagi kita.

.

  • Tata Cara Wudhu Menurut Sunnah Nabi

.

Sebagai penyampai syariat Allah kepada umat manusia, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam juga telah mencontohkan tata cara wudhu yang benar kepada kita. Walhamdulillah, para sahabat telah mengisahkan kepada kita tata cara wudhu yang mereka saksikan dan dengar langsung dari uswah kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama pun bersemangat mengumpulkan hadits-hadits tentang tata cara wudhu Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam.

.

Di antara hadits yang cukup lengkap menggambarkan tata cara wudhu adalah hadits ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Bahkan, hadits ini disebut ‘umdah (pedoman) tata cara wudhu. Selain itu, ada pula hadits dari Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim, ‘Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin ‘Amr, dan sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum.

.

Berdasarkan ayat ke-6 dari surat al-Maidah dan berdasarkan banyak hadits, para ulama merumuskan bahwa wudhu memiliki rukun-rukun dan sunnah-sunnah.

.

  • Rukun Wudhu

.

Berniat[9] wudhu untuk menghilangkan hadats[10] atau untuk mengerjakan shalat. Niat ini tidak perlu dilafadzkan/diucapkan.

.

✅ Membasuh wajah, termasuk berkumur[11] dan istinsyaq (menghirup air ke hidung).[12]

Membasuh kedua tangan sampai ke siku.

.

✅ Mengusap seluruh kepala[13] dan kedua telinga. Tata cara mengusap kepala yang dicontohkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam adalah mengambil air yang baru untuk mengusap kepala, bukan air sisa membasuh kedua tangan ( Muslim).

.

✅ Setelah itu, beliau mengusap mulai dari tempat tumbuhnya rambut di bagian depan, menyapukan tangan sampai ke ujung rambut di bagian belakang kepala, kemudian mengusapkan kembali tangan dari belakang ke depan sampai ke tempat awal mengusap (HR. .al-Bukhari dan Muslim).

.

✅ Setelah itu, beliau mengusap telinga tanpa mengambil air lagi (HR. al-Bukhari dan Muslim). Ketika mengusap telinga, beliau memasukkan jari telunjuk untuk mengusap bagian dalam telinga, sedangkan ibu jari mengusap bagian luar telinga[14].

.

Membasuh kedua telapak kaki sampai mata kaki.

.

Dalil dari rukun ke-1 sampai ke-6 sudah jelas dari pemaparan ayat di atas.

.

Berturut-turut[15]. Artinya, penyucian anggota-anggota wudhu dilakukan segera setelah anggota sebelumnya disucikan, tidak ditunda-tunda dan tidak diselingi dengan perbuatan lain yang tidak perlu[16]. Dalilnya, wudhu adalah ibadah yang berupa satu kesatuan, tidak terpisah antara bagian satu dan bagian lainnya, dan demikianlah Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam senantiasa mencontohkannya kepada kita.

.

  • Mengapa Hanya 4 Anggota Badan yang Menjadi Anggota Wudhu?

.

✅ Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, dalam karya beliau yang berjudul Miftah Daris Sa’adah, menjelaskan bahwa di antara hikmah Allah subhanahu wa ta’ala mengkhususkan empat anggota tubuh saja sebagai anggota wudhu adalah:

.

Keempatnya adalah tempat berkumpulnya indra manusia.

.

➡ Keempatnya adalah anggota tubuh manusia yang paling banyak bersinggungan langsung dengan maksiat sehingga kotoran dosa lebih banyak menempel pada keempatnya dibandingkan dengan anggota tubuh lainnya.

.

➡ Keempatnya adalah anggota tubuh yang paling banyak dipakai untuk beraktivitas sehingga lebih kotor—karena debu atau kotoran lain yang menempel—daripada anggota tubuh lainnya.

.

➡ Keempatnya adalah anggota tubuh yang paling mudah dicuci sehingga tidak memberati seorang hamba ketika harus mencucinya berulang kali dalam sehari semalam.

  • Mengapa Kepala Hanya Diusap, Tidak Dibasuh?

.

✅ Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menyebutkan, di antara hikmah diusapnya kepala dalam ibadah wudhu, dan tidak perlu dibasuh[17], “Ini merupakan kemudahan dari Allah bagi para hamba-Nya. Sebab, pada umumnya kepala ditumbuhi rambut, sedangkan sifat rambut adalah menyerap air. Jika kepala harus dibasuh, akan banyak air tertahan di kepala dan terserap ke dalam tubuh. Hal ini dikhawatirkan menimbulkan efek negatif terhadap kesehatan, lebih-lebih pada saat cuaca dingin.”

.

  • Sunnah-sunnah Wudhu

.

Di antara sunnah-sunnah wudhu adalah:

.

Membasuh kedua telapak tangan tiga kali sebelum berwudhu ( al-Bukhari dan Muslim).

.

➡ Menghemat pemakaian air wudhu. Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam berwudhu dengan air seukuran satu mud (seukuran dua telapak tangan yang disatukan, tidak terlalu dibuka dan tidak terlalu terkatup) ( al-Bukhari dan Muslim)[18]. Penghematan air ini tentu disesuaikan dengan kondisi. Jangan sampai karena semangat menghemat air, seseorang ingin mencontoh Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam tetapi melupakan sesuatu yang wajib. Misalnya, wajah tidak dibasuh, tetapi hanya diusap. Yang demikian tidak benar. Wallahu a’lam

.

➡ Membasuh anggota wudhu dua atau tiga kali. Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam pernah berwudhu dan membasuh anggota wudhu yang harus dibasuh (wajah, tangan, kaki) sebanyak tiga kali ( al-Bukhari dan Muslim). Pernah pula beliau membasuhnya masing-masing dua kali (HR. al-Bukhari). Pernah pula beliau membasuh sebagiannya tiga kali dan yang lain dua kali (HR. al-Bukhari dan Muslim).

.

Adapun mengusap kepala, yang dituntunkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam adalah sekali saja.

.

➡ Bersiwak atau menggosok gigi sebelum berwudhu ( al-Bukhari dan Muslim).

.

Mendahulukan membasuh tangan kanan, baru tangan kiri; demikian pula ketika membasuh kaki ( al-Bukhari dan Muslim).

.

✅ Membaca zikir setelah wudhu, sebagaimana dalam hadits,

.

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ، فَيُبْلِغُ أَوْ فَيُسْبِغُ الْوُضُوءَ، ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ؛ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

.

Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya kemudian mengucapkan أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ melainkan akan dibukakan baginya delapan pintu surga, dia bisa memasukinya dari pintu mana saja yang dia mau.” (HR. Muslim)

.

✅ Berdoa setelah wudhu, yaitu dengan doa berikut:

.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُوَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ (رواه مسلم)اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ (صحيح رواه الترمذي )

.

Asyhadu al-laa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh. Allaahummaj ‘alnii minat-tawwaabiina waj ‘alnii minal mutathohhiriin.”

.

Doa lain yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa-sallam setelah berwudhu diriwayatkan dari Abu Sa’id-Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

.

ﻣﻦ ﺗَﻮَﺿَّﺄ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙ ﺃﺷﻬﺪ ﺃَﻥ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻧْﺖﺍﺳﺘﻐﻔﺮﻙ ﻭَﺃَﺗُﻮﺏ ﺇِﻟَﻴْﻚ ﻛﺘﺐ ﻓِﻲ ﺭﻕ ﺛﻢَّ ﻃﺒﻊ ﺑِﻄَﺎﺑﻊ ﻓَﻠﻢ ﻳﻜﺴﺮﺇِﻟَﻰ ﻳَﻮْﻡ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔ

.

*“Barangsiapa yang berwudhu kemudian setelah berwudhu mengucapkan doa, ’Subhaanaka allahumma wabihamdika asyhadu an laa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika’ [Maha suci Engkau ya Allah, segala puji untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu] maka akan ditulis di.lembaran berwarna putih kemudian di-stempel dan-tidak akan hancur sampai hari kiamat.” HR. An-Nasa’i dalam ‘Amal Yaum wal Lailah no.30. Dinilai shahih oleh Al-Albani di Shahihul Jami’hadits no. 6046.

..

••|||•• (lanjut ke halaman 2) ••|||••