Tiga Maksiat Pembinasa
.

Alhamdulillah
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
••

1.Macam-Macam Syirik dalam Ibadah (Bag.14): Lanjutan Syirik dalam Menyembelih Binatang

2.Hukum Shalat Jumat di Rumah, Jama’ah Kurang dari 40 Orang

3.Jangan Suka Teriak-Teriak!

4.Keluasan Ampunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Luas

5.Potong Rambut dan Kuku, Qurban Tidak Sah?

6.Dua Pengertian Sifat Kalam Allah Menurut Aqidah Ahlus Sunnah (Bag. 1)

7.Mengikuti Syari’at Allah Tiang Keimanan

==

Ujub dan Taubatnya – Ustadz Ahmad Bazher15Mb

Bencana Ujub-Ust.Abu Fairuz Ahmad

Bakhil,Kikir,Pelit-Ust.Ahmad Zainuddin

Obat Penawar Candu Maksiat Ust.Ahmad Zainuddin

Menolak Kebenaran Karena Nafsu-Ust.Abdullah Zaen.mp3

Jangan Remehkan Maksiat – Ustadz MizanQudsiyah 7Mb

UjubPenggugur Amal Shalih-Ust Firanda Andirja 15Mb 1jm24Mnit

Ustadz Harits Abu Naufal- Pengaruh Buruk Akibat Maksiat

Ustadz Ali Saman – Kajian Pengaruh Maksiat

=
Ebook

Salafus Shalih Khawatir Dari Sifat ‘Ujub

Risalah Ujub 139Halaman

Dampak Negatif Kemaksiatan

Kikir Sifat yang Tercela

Jangan Mengikuti Hawa Nafsu

Waspadai Jeratan Nafsu  

==
➡ Tiga Maksiat Pembinasa
.
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,
Open Donasi,Sedekah,Waqaf,Infaq: https://bit.ly/2JIhYq3
kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR
Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1
Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ
Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM
mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x
Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR
==.

  • Tiga Maksiat Pembinasa

.
Oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Faizah, Lc.
–hafizhahullah-
.
Kehidupan dunia adalah kehidupan yang penuh dengan aral dan rintangan.
.
‼ Barang siapa yang tak berhati-hati mencari jalan yang dapat menyelamatkan dirinya, maka ia akan celaka di dunia, bahkan boleh jadi nanti di akhirat.
.
‼ Karena itu, hendaknya kita menghindari segala perkara yang mendatangkan kebinasaan.

.
‼ Disebutkan dalam sebuah hadits :
.
✅ Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
.
ثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ ، وَثَلاَثٌ مُنْجِيَاتٌ ، فَقَالَ : ثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ وهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
.
Ada tiga perkara yang dapat membinasakan dan tiga perkara yang menyelamatkan. Tiga perkara yang membinasakan adalah kebakhilan yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan dan bangganya seseorang terhadap dirinya”.

➡ Takhrij Hadits
.
Hadits ini diriwayatkan dari beberapa orang sahabat: Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, Abdullah bin Abi Awfa dan Abdullah bin Umar -radhiyallahu anhum-.
.
‼ Hadits Anas -radhiyallahu anhu- diriwayatkan oleh Al-Bazzar dalam Musnad-nya (no. 80), Al-Uqoiliy dalam Adh-Dhu’afaa’ (hal. 352), Abu Bakr Ad-Dainuriy dalam Al-Mujalasah wa Jawaahir Al-Ilm (no. 899), Abu Muslim Al-Kaatib dalam Al-Amaali (261/1), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (2/343) dan Al-Harowiy dalam Dzammul Kalaam (145/1)  dan Al-Qudho’iy dalam Musnad Asy-Syihaab (no. 327).

.
✅ Hadits ini sanadnya dho’if (lemah). Akan tetapi ia memiliki beberapa mutabi’ dan syawahid sehingga derajatnya menjadi hasan, bahkan boleh jadi shohih. [Lihat Ash-Shohihah (no. 1802) karya Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah-]
.

  • Faedah Ilmiah Hadits Ini

‼ Hadits ini lafazhnya pendek, tapi mengandung banyak manfaat dan faedah serta nasihat.
.
Begitulah salah satu ciri sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, pendek lafazhnya. Tapi faedahnya banyak sekali.
.
Lain halnya dengan ucapan kebanyakan diantara kita. Lafazhnya bertele-tele dan panjang, namun sedikit manfaatnya.
.
‼ Para pembaca yang budiman, diantara faedah yang bisa kita petik dari hadits Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- yang mulia ini:

.

  • ➡ 1. Bahaya Bakhil

✅ Bakhil adalah penyakit hati yang timbul karena kurangnya tawakkal seseorang kepada Allah.
.
Sebab orang yang bakhil merasa bahwa apabila ia sedekahkan sebagian hartanya, maka harta itu akan hilang begitu saja, tanpa ada gantinya.
.

✅ Padahal bila ia mau berpikir bahwa dengan sedekah, Allah akan membersihkan hartanya dan memberkahinya.
.
‼ Dengan itu, ia akan diberi ganti yang lebih baik, entah di dunia, atau kalau tidak –insya Allah di .akhirat- dengan ganti yang jauh lebih baik.

.
Seorang yang bakhil akan jauh dari kebaikan, imannya tak akan bertambah, bahkan boleh jadi akan menurun.
.
‼ Sebab dengan kikirnya seseorang, banyak sekali jalan-jalan kebaikan yang mestinya ia lakukan, tapi ia sia-siakan.
.
‼ Dia tinggalkan kesempatan dalam memperbanyak amal yang bisa meningkatkan iman akibat sifat kikir pada dirinya.

.
✅ Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
.
لَا يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ فِي جَوْفِ عَبْدٍ أَبَدًا وَلَا يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا
.
Tak akan berkumpul debu fi sabilillah dan asap Jahannam dalam rongga tubuh seorang hamba selama-lamanya, dan tak akan berkumpul sifat bakhil dan keimanan dalam hati seorang hamba selama-lamanya.” [HR. An-Nasa’iy dalam Kitab Al-Jihad (no. 3110 & 3111). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3828)]
.

✅ Al-Imam Abul Hasan Nuruddin As-Sindiy -rahimahullah- berkata,
.
“أَي : لَا يَنْبَغِي لِلْمُؤمنِ أَن يجمع بَينهمَا إِذْ الشُّح أبعد شَيْء من الْإِيمَان أَو المُرَاد بِالْإِيمَان كَمَاله كَمَا تقدم أَو المُرَاد أَنه قَلما يجْتَمع الشُّح والايمان وَاعْتبر ذَلِك بِمَنْزِلَة الْعَدَم.” اهـ حاشية السندي على سنن النسائي (6/ 13)
.
Maksudnya, tak pantas bagi seorang mukmin untuk mengumpulkan antara kedua hal itu, sebab sifat kikir adalah sesuatu yang amat jauh dari keimanan; atau maksudnya, jarang berkumpul antara sifat kikir dengan keimanan. Perkara itu dianggap seakan-akan tak ada“. [Lihat Hasyiyah As-Sindiy ala Sunan An-Nasa’iy (6/13), cet. Maktab Al-Mathbu’at Al-Islamiyyah, 1406 H]
.

✅ Abu Bakr Al-Kalaabaadziy -rahimahullah- berkata,
.
“وَالْبُخْلُ يَكُونُ مِنْ سُوءِ الظَّنِّ بِاللَّهِ تَعَالَى؛ لِأَنَّهُ يَخَافُ عَلَيْهِ أَنْ لَا يَخْلُفَ، وَلَمْ يُمْكِنْ تَحْقِيقُ الثَّوَابُ مِنْ قِبَلِهِ، فَالْبُخْلُ بِالْمَالِ مِنْ سُوءِ الظَّنِّ بِاللَّهِ، وَسُوءُ الظَّنِّ يُوهِنُ التَّصْدِيقَ.” اهـ من بحر الفوائد المسمى بمعاني الأخبار للكلاباذي (ص: 187)
.
Sifat kikir muncul dari adanya buruk sangka kepada Allah -Ta’ala-. Karena si kikir khawatir bila Allah tak memberinya ganti. Tak mungkin akan terwujud pahala dari orang yang seperti. Jadi, sifat kikir muncul dari buruk sangka kepada Allah, sedang buruk sangka kepada Allah akan melemahkan iman”. [Lihat Bahr Al-Fawa’id (hal. 187), cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 1420 H]
.
Perkataan beliau ini amatlah benar. Sebab tak mungkin seseorang kikir dan menahan hartanya, kecuali karenan lemahnya iman yang lahir adanya buruk sangka kepada Allah. Karenanya, layaklah bila imannya tak bertambah, bahkan berkurang.
.
✅ Allah -Ta’ala- berfirman dalam mencela kaum munafiq akibat sifat bakhil mereka,
.
{أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ أُولَئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا } [الأحزاب: 19]
.
Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik- balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu belum beriman. Karenanya, Allah menghapuskan (pahala) amalnya. dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS. Al-Ahzaab : 19)
.
✅ Ahli Tafsir Jazirah Arab, Syaikh Abdur Rahman As-Sa’diy -rahimahullah- berkata,
.
“{أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ} بأبدانهم عند القتال، وبأموالهم عند النفقة فيه، فلا يجاهدون بأموالهم وأنفسهم.” اهـ من تيسير الكريم الرحمن (ص: 661)
.
Mereka bakhil terhadapmu dalam hal badan mereka ketika perang dan dalam harta mereka ketika berinfaq di jalan Allah. Jadi, mereka itu tidak berjihad dengan harta dan jiwa mereka”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 660)]
.
‼ Demikianlah Allah –azza wa jalla- mencela pelaku kebakhilan, akibat keburukan laku bakhil mereka. Ia mengira bahwa dirinya akan mulia dengan menahan harta benda di tangannya, dan menumpuknya demi memperkaya diri dan berbangga-bangga, lalu melupakan tabungan di negeri akhirat, melalui infaq dan sedekah yang ia keluarkan.
.

  • ➡ 2. Larangan Memperturutkan Hawa Nafsu

.
Hawa nafsu maknanya keinginan jiwa. Jiwa manusia terkadang menginginkan dan mencintai sesuatu berupa perkara-perkara yang menyenangkan dirinya.
.
‼ Hanya saja banyak diantara mereka yang tak bisa menempatkan hawa nafsunya sesuai yang diridhoi oleh Allah, sehingga sering kali kita menemukan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu yang tidak mendatangkan ridho Allah, bahkan menyeret dirinya kepada jurang kebinasaan.
.

✅ Para pembaca yang budiman, hawa nafsu bisa berupa kesenangan dan kecintaan kepada harta, pekerjaan, keturunan, kehormatan dan lainnya.
.
‼ Dengan hawa nafsu, terkadang seseorang terpuji dan seringnya tercela.
.
✅ Lantaran itu, seseorang harus mengerti hakikat hawa nafsu yang memiliki kesenangan dan kecintaan.
.
Menyenangi dan membenci sesuatu haruslah mengikuti kecintaan dan keridhoan Allah -Azza wa Jalla-.

.
Bila hawa nafsu seseorang mencintai Allah atau mencintai sesuatu sesuatu yang Allah cintai, maka hawa nafsu ini terpuji.
.
‼ Demikian pula, bila hawa nafsunya membenci setan dan segala yang disenangi oleh setan, maka hawa nafsu ini terpuji.

.
Intinya, hawa nafsu kita harus mencintai dan membenci karena Allah semata.
.
Inilah hawa nafsu yang terpuji, hawa nafsu yang memperhambakan diri kepada Allah, Sang Maha Pencipta.

.
✅ Sebaliknya, bila hawa nafsu malah lebih mencintai setan dan segala hal yang disenangi oleh setan, maka hawa nafsu seperti ini adalah tercela.
.
‼ Demikian pula, bila hawa nafsu malah membenci Allah atau membenci perkara yang dicintai oleh Allah, maka hawa nafsu ini juga tercela, dan pemiliknya telah menghambakan diri kepada hawa nafsunya.

.
✅ Inilah yang dikatakan oleh Allah dalam firman-Nya,
.
{أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (23)} [الجاثية: 23]
.
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah Telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah : 23)
.
✅ Al-Hafizh Abul Fidaa’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,
.
“أَيْ: إِنَّمَا يَأْتَمِرُ بِهَوَاهُ، فَمَهْمَا رَآهُ حَسَنًا فَعَلَهُ، وَمَهْمَا رَآهُ قَبِيحًا تَرَكَه.” اهـ من تفسير ابن كثير ت سلامة (7/ 268)
.
Maksudnya, ia hanya mengikuti keinginannya (hawa nafsunya). Apa pun yang dipandang baik oleh keinginannya, maka ia lakukan dan apapun yang ia pandang buruk, maka ia meninggalkannya”. [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (7/268) oleh Ibnu Katsir, cet. Dar Thoybah]
.
Orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai pengatur dirinya, yang mengarahkan dirinya kepada segala yang diinginkan oleh jiwa, tanpa memandang batasan-batasan Allah. Pelakunya telah mempertuhankan hawa nafsunya.
.
✅ Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambaliy -rahimahullah- berkata,
.
“فَمَنْ أَحَبَّ شَيْئًا وَأَطَاعَهُ، وَأَحَبَّ عَلَيْهِ وَأَبْغَضَ عَلَيْهِ، فَهُوَ إِلَهُهُ، فَمَنْ كَانَ لَا يُحِبُّ وَلَا يُبْغِضُ إِلَّا لِلَّهِ، وَلَا يُوَالِي وَلَا يُعَادِي إِلَّا لَهُ، فَاللَّهُ إِلَهُهُ حَقًّا، وَمَنْ أَحَبَّ لِهَوَاهُ، وَأَبْغَضَ لَهُ، وَوَالَى عَلَيْهِ، وَعَادَى عَلَيْهِ، فَإِلَهُهُ هَوَاه.” اهـ من جامع العلوم والحكم (ص/ 210)
.
Barangsiapa yang mencintai dan menaati sesuatu; ia mencintai dan membenci karena sesuatu tersebut, maka sesuatu itu adalah tuhannya. Barangsiapa yang tak mencintai dan membenci, kecuali karena Allah serta ia tak berloyal dan memusuhi, kecuali karena Allah, maka Allah adalah ilah-nya (Tuhannya) yang sebenarnya. Barangsiapa yang mencintai dan membenci sesuatu karena hawa nafsu (keinginan jiwa)nya serta ia berloyal dan memusuhi (sesuatu) karena hawa nafsunya, maka tuhannya adalah hawa nafsunya”. [Lihat Jami’ Al-Ulum wal Hikam (hal. 210), cet. Dar Al-Ma’rifah, 1408 H]
.

••||•••|| Lanjut ke Halaman 2 ••||••••|