Pentingnya Belajar Fikih
.

Alhamdulillah
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
••
1.AJARI ANAK ANDA DULU SEBELUMMENDISIPLINKANNYA

2.BANGSA BESAR DIMULAI DENGAN MENDIDIK ANAK-ANAK PEREMPUAN

3.Diharamkannya Riba dalam Semua Syariat yang-Diturunkan Allah

4.Tinjauan Kritis Terhadap Perbankan Syari’ah Di-Indonesia (bag.6 habis)

5.Riba Menciptakan Kesenjangan Sosial

6.Hukum Panitia Memasak & Memakan DagingQurban

7.Kisah : Di Balik Kesulitan Pasti Ada Kemudahan

=

133 Audio Kajian Kitab Taqrib – Matan Abi Syuja’ by Dr. KH. Mohamad Najib Amin
https://archive.org/details/MatanAbiSyuja
114 Audio Fiqih dan Ushul Fiqih
https://archive.org/details/AudioKajian.02
Ustadz Muhammad Ajib, Lc-Memahami Ilmu Fiqih
https://archive.org/details/UstadzMuhammadAjibLcMemahamiIlmuFiqih

=

USHUL FIQIH UNTUK PEMULA (08) – Ijma’ [Ustadz Hasan al-Jaizy]

USHUL FIQIH UNTUK PEMULA (07) – Dalil Hukum Syar’iyyah [Ustadz Hasan al-Jaizy]

USHUL FIQIH UNTUK PEMULA (06) – Haram, Makruh dan Mubah [Ustadz Hasan al-Jaizy]

USHUL FIQIH UNTUK PEMULA (05) – Cara Mengenal Amalan Mandub [Ustadz Hasan al-Jaizy]

USHUL FIQIH UNTUK PEMULA (04) – Mandub [Ustadz Hasan al-Jaizy]

USHUL FIQIH UNTUK PEMULA (03) – Wajib [Ustadz Hasan al-Jaizy]

USHUL FIQIH UNTUK PEMULA (02) Hukum Syar’i [Ustadz Hasan al- Jaizy]

USHUL FIQIH UNTUK PEMULA (01) Mengenal ilmu Ushul Fiqh [Ustadz Hasan al-Jaizy]

=

Apa Itu Ilmu Ushul Fiqh [Ustadz Hasan al-Jaizy]

Memahami ushul dan Fiqh [Ustadz Hasan al-Jaizy]

==
Ebook

Ringkasan Fiqih Islam – Muhammad ibrahim Altuwaijry –

Empat Madzhab Fiqih (Imam, Fase Perkembangan,Ushul dan Pengaruhnya) – Unit Kajian Ilmiah Departemen Fatwa-201Halaman

Hukum-Hukum Fiqih 50Hlm

Mazhab Fiqih Kedudukan dan Cara Menyikapinya-Abdullah Haidir 94Hlm

Ensiklopedi Fiqih Islam_1 Kitab Thaharah(Bersuci)

Ensiklopedi Fiqih Islam_2 Kitab Shalat

Ensiklopedi Fiqih Islam_3 Kitab Zakat, Puasa, & Haji

Ensiklopedi Fiqih Islam_4 Kitab Jenazah, Sumpah & Nadzar

Ensiklopedi Fiqih Islam_5 Kitab Makanan & Pakaian

Ensiklopedi Fiqih Islam_6 Kitab Munakahat(Pernikahan)

Ensiklopedi Fiqih Islam_7 Kitab Jual beli, Wasiat & Warisan

Ensiklopedi Fiqih Islam_8 Khatimah (Penutup)

===…
➡ Pentingnya Belajar Fikih
.
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,
Open Donasi,Sedekah,Waqaf,Infaq: https://bit.ly/2JIhYq3
kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR
Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1
Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ
Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM
mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x
Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR
==

  • Pentingnya Belajar Fikih

.
Oleh: Ummu Maryam Lathifah
.
Apakah fikih itu? Apa hubungan fikih dengan ibadah? Mengapa ada banyak perbedaan pendapat dalam fikih? Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita sebagai muslimah mempelajarinya? Sejauh mana kita harus belajar?
.
‼ Berikut ini sekilas jawaban yang disarikan (dengan penyesuaian) dari kajian al-Muqaddimah fil Fiqhil Islami bersama asy-Syaikh Muhammad ‘Umar Bazmul hafizhahullah. Semoga Allah memberikan manfaat dengannya.
.
Mempelajari fikih ibadah dan dalil-dalil hukum di dalam Islam adalah perkara yang penting bagi muslimah. Mengapa? Karena kita diciptakan untuk beribadah kepada al-Khaliq (Sang Pencipta), Rabb kita, yaitu Allah. Kita membutuhkan fikih dalam shalat dan puasa kita, ketika kita hendak mandi haid atau mandi janabah, ketika kita hendak mengurusi jenazah, dst. Kita membutuhkannya di setiap aspek kehidupan kita.
.
Ibadah tidak terbatas pada bentuk-bentuk ritual tadi. Dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, ibadah adalah sebuah kata yang mengumpulkan segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Kita telah mempelajari syarat diterimanya suatu ibadah dalam rubrik “Pilar” pada edisi perdana majalah ini. Kita tidak mungkin mengetahui berbagai ibadah yang dicintai oleh Allah dan menjalankannya dengan benar tanpa mengenal fikih Islam dan dalil-dalilnya.
.

  • Definisi Fikih

Secara bahasa, fikih (al-fiqh) artinya al-fahmu (pemahaman). Allah berfirman

Maka mengapakah orang-orang (munafik) ini hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (sedikit pun)?” (an-Nisa’: 78)

✅ Kata al-fiqh secara bahasa juga berarti pemahaman yang mendalam/mendetail, seperti ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.berdoa bagi Ibnu ‘Abbas .
.
 اَللهم فَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
.
Ya Allah, jadikanlah ia benar-benar memahami agamanya.”
.
✅ Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, kata al-fiqh bisa berarti pemahaman terhadap makna yang diinginkan, seperti ketika kaum Syu’aib berkata kepadanya,
.
Kami tidak memahami kebanyakan apa yang engkau ucapkan.” (Hud: 91)
.

Adapun secara syariat, makna kata al-fiqh adalah pengagungan terhadap segala sesuatu yang datang dari syariat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
.
 مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
.
Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan padanya, Allah akan menjadikannya fakih di dalam agamanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
.

Fakih di sini maknanya adalah mengagungkan perintah Allah dengan menjalankannya dan mengagungkan larangan Allah dengan menjauhi segala sesuatu yang dilarang dan dicerca oleh-Nya.
.
‼ Secara istilah, al-fiqh (ilmu fikih) adalah ilmu tentang hukum-hukum syariat yang bersifat ‘amali (membahas amalan ibadah anggota badan), yang disarikan dari dalil-dalil yang terperinci. Jadi, ilmu fikih membahas hukum syar’i, seperti hukum taklifi (yang berkaitan dengan hukum beban syariat: haram, makruh, mubah, mustahab, dan wajib) dan hukum wadh’i (yang bersifat penetapan/hukum positif, seperti sah atau rusaknya suatu amal, syarat atau sebab, atau pencegah suatu amalan).
.
Ilmu fikih terfokus pada amalan anggota badan yang berhubungan dengan mukallaf (orang yang dibebani syariat agama) dari sisi pewajiban, pengharaman, ketiadaan, dan sah atau rusaknya suatu amalan. Oleh karena itu, dari sudut pandang tersebut, ilmu ini membahas hukum-hukum ibadah, akhlak, adab, dan muamalah.
.
Ilmu fikih juga berkaitan dengan perkara yang kembalinya pada istinbath (pengambilan hukum) dari dalil-dalil syariat yang terperinci. Dalil-dalil fikih yang disepakati oleh para ulama ada empat: al-Qur’an, as-Sunnah (hadits Rasulullah), ijma’ (kesepakatan para ulama umat ini), dan qiyas (analogi terhadap dalil-dalil yang lain). Dalil yang dibahas di dalam fikih bersifat terperinci untuk suatu masalah tertentu. .
Misalnya, dalil kewajiban wudhu adalah firman Allah
.
 “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak berdiri untuk mengerjakan shalat, basuhlah wajah dan tangan kalian….” (al-Maidah: 6)
.

✅ Berbeda halnya dengan ilmu ushul fikih yang membahas dalil yang bersifat keseluruhan/komprehensif dari sisi penunjukannya dan cara pengambilan hukum dari dalil tersebut.
.

  • Hukum Mempelajari Ilmu Fikih

.
Ada tiga keadaan dalam masalah ini.
.
➡ 1.     Apabila yang dimaksud adalah mempelajari hukum syar’i yang dibutuhkan setiap hari oleh seorang muslim yang mukallaf agar ia bisa menegakkan ibadah kepada Allah,,, seperti hukum bersuci, shalat, puasa, zakat, dsb, hukum mempelajari fikih dalam konteks ini adalah fardhu ‘ain (harus secara individual) bagi setiap orang yang sudah diwajibkan untuk menunaikan berbagai ibadah tersebut.
.
✅ Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
.
العلمِ فريضةٌ على كلِّ مسلمٍ ، وإِنَّ طالبَ العلمِ يستغفِرُ له كلُّ شيءٍ ، حتى الحيتانِ في البحرِ
.
Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim. Dan para penuntut ilmu itu dimintakan ampunan oleh segala sesuatu bahkan oleh ikan-ikan di lautan” (HR. Ibnu Majah no. 224, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 3914).
.
Hal ini juga karena adanya kaidah ushul, “Suatu hal yang tidak akan sempurna sebuah kewajiban selain dengan adanya hal tersebut, maka hal tersebut juga menjadi wajib.”
.
Seorang muslim harus menunaikan perkara yang dituntut oleh syariat sehingga dia wajib pula mempelajari hukum perkara tersebut. Sebab, agama Islam tegak di atas dua landasan:
.
Kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah
.
✅ Kita tidak mengibadahi-Nya kecuali dengan perkara yang Ia syariatka
n.
Konsekuensi poin kedua adalah setiap individu muslim wajib mempelajari perintah ibadah yang telah disyariatkan oleh Allah, agar ibadahnya benar dan diterima.
.
➡ 2.     Terkadang, mempelajari ilmu fikih berhukum mustahab (dianjurkan/disukai) dalam hal yang merupakan tambahan terhadap perkara yang dituntut pada keadaan pertama di atas (baca: fardhu ain).
.
➡ 3.     Terkadang pula, menuntut ilmu fikih hukumnya fardhu kifayah. Ini terjadi apabila sebagian orang telah menunaikannya, gugurlah kewajiban dan dosa dari yang lainnya. Sebab, penduduk suatu negeri pasti membutuhkan keberadaan seorang ahli fikih di tengah-tengah mereka. Ahli fikih tersebut mengetahui hukum-hukum syariat sehingga bisa memberikan arahan kepada penduduk negerinya dalam berbagai permasalahan kehidupan mereka.
.

  • Keutamaan Mempelajari Fikih

.
‼ Seluruh dalil syar’i yang menunjukkan keutamaan ilmu syar’i menjadi dalil juga bagi keutamaan mempelajari ilmu fikih, bahkan ilmu fikih adalah cabang ilmu yang pertama kali berhak masuk di dalam keutamaan tersebut.
.
✅ Misalnya, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
.
مَن سلَك طريقًا يطلُبُ فيه عِلْمًا، سلَك اللهُ به طريقًا مِن طُرُقِ الجَنَّةِ، وإنَّ الملائكةَ لَتضَعُ أجنحتَها رِضًا لطالبِ العِلْمِ، وإنَّ العالِمَ ليستغفِرُ له مَن في السَّمواتِ ومَن في الأرضِ، والحِيتانُ في جَوْفِ الماءِ، وإنَّ فَضْلَ العالِمِ على العابدِ كفَضْلِ القمَرِ ليلةَ البَدْرِ على سائرِ الكواكبِ، وإنَّ العُلَماءَ ورَثةُ الأنبياءِ، وإنَّ الأنبياءَ لم يُورِّثوا دينارًا ولا درهًما، ورَّثوا العِلْمَ، فمَن أخَذه أخَذ بحظٍّ وافرٍ
.
Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju surga. Dan para Malaikat akan merendahkan sayap-sayap mereka kepada para penuntut ilmu, karena ridha kepada mereka. Dan orang yang berilmu itu dimintakan ampunan oleh semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi, juga oleh ikan-ikan yang ada di kedalaman laut. Sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu dibandingkan orang yang ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama dibandingkan seluruh bintang-bintang. Dan para Nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, Namun mereka mewariskan ilmu, barangsiapa yang menuntut ilmu sungguh ia mengambil warisan para Nabi dengan jumlah yang besar” (HR. At Tirmidzi no. 2682, Abu Daud no. 3641, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).
.
Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda,.

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفقِّهْهُ في الدِّينِ
.
Orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapatkan kebaikan, akan dimudahkan untuk memahami ilmu agama” (HR. Bukhari no. 71, Muslim no. 1037).
.
✅ Demikian pula firman Allah
.
Tidak sepatutnya orang yang beriman itu pergi berperang seluruhnya. Mengapa tidak pergi sekelompok orang dari setiap golongan mereka untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberikan peringatan kepada kaumnya apabila kaumnya telah kembali kepada mereka, agar mereka dapat menjaga diri?” (at-Taubah: 122)
.

  • Perkembangan dan Periodisasi Ilmu Fikih

.
Dengan mempelajari poin ini, kita bisa mengambil banyak faedah, di antaranya adalah memahami sebab perselisihan di dalam disiplin ilmu ini.
.

  • ➡ 1.    Periode fikih pada masa Rasulullah

.

Ciri-ciri periode ini, sandarannya adalah wahyu Allah, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah (bimbingan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, S
ebab, Rasulullah tidak berbicara dari hawa nafsu, tetapi ucapan beliau adalah perkara yang diwahyukan.
.
➡ 2.    Periode fikih pada masa sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
.

Periode ini ditandai dengan fatwa para sahabat. Keilmuan para sahabat di dalam hukum syariat bertingkat-tingkat, sebagaimana halnya mereka bertingkat-tingkat dalam hal hadits yang mereka dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ada sahabat yang banyak fatwanya karena panjangnya masa hidupnya atau banyaknya peristiwa yang terjadi semasa hidupnya. Di antara imam fatwa di kalangan sahabat adalah al-Khulafa’ ar-Rasyidun (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali) dan al-‘Abadilah (para sahabat yang bernama Abdullah: Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, Abdullah bin ‘Umar, dan Abdullah bin Abbas).
.
➡ 3.    Periode fikih pada masa tabi’in (generasi setelah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ) yang menegakkan fikih para sahabat dan berbicara berdasarkan apa yang mereka dengar dari para sahabat.
.
Periode sahabat dan tabi’in memiliki ciri istimewa, yaitu meluasnya pembahasan fikih dan menyebarnya ilmu fikih di banyak negeri. Hal ini disebabkan oleh menyebarnya para sahabat ke berbagai penjuru dunia dengan meluasnya wilayah kemenangan kaum muslimin. Ada sahabat yang tinggal di Syam, di Irak, dan di Mesir. Ada yang tinggal di Makkah, ada pula yang tetap di Madinah. Sahabat yang tinggal di suatu tempat menjadi salah satu menara fikih dan ilmu syariat di alam ini. Mereka menyebarkan ilmu yang mereka dapatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Selain itu, mereka juga menyampaikan apa yang mereka ketahui dan ijtihad mereka di tempat-tempat tersebut. Setelah itu, para tabi’in meneruskan apa yang mereka dapatkan dari para sahabat.
.
➡ 4.    Periode fikih pada masa atba’ut tabi’in (para pengikut generasi tabi’in)
.

✅ Periode ini adalah perkembangan dari periode sebelumnya. Pada masa inilah empat imam mujtahid dikategorikan: al-Imam Abu Hanifah, al-Imam Malik, al-Imam asy-Syafi’i, dan al-Imam Ahmad bin Hanbal. Pada masa ini juga terdapat banyak imam besar, yang dengan berjalannya waktu mazhab fikih mereka terhapus. Misalnya, al-Imam al-Auza’i dan Sufyan ats-Tsauri. Periode ini melanjutkan periode-periode sebelumnya. Mereka fokus pada atsar (riwayat perkataan) para sahabat dan tabi’in.
.

‼ Di antara manhaj (metode) ilmiah mereka adalah prinsip tidak keluar dari pendapat para sahabat.
Para imam ini menyerukan agar manusia tidak mengikuti pendapat mereka tanpa melihat dalil yang mereka bawa, tetapi mengambil ilmu dari sumbernya, yaitu Rasulullah n dan para sahabat beliau.
.
➡ 5.    Periode fikih setelah para imam mujtahid
.
Pada periode ini, di tengah-tengah kaum muslimin mulai berkembang sikap taqlid (mengikuti suatu pendapat tanpa ilmu, tanpa melihat dalil pendapat tersebut) dan sikap bergantung pada pendapat para imam mujtahid.
.

  • Madrasah al-Atsar (Metodologi Atsar) dan Madrasah ar-Ra’yi (Metodologi Logika)

.
Dengan menyebarnya para sahabat ke berbagai penjuru dunia, keadaan negeri-negeri kaum muslimin di dalam masalah ilmu agama pun bertingkat-tingkat. Makkah dan Madinah (Hijaz) menjadi tempat istimewa karena banyak sahabat periwayat hadits yang masih tinggal di sana. Atsar/hadits dari Nabi dan para sahabat banyak terdapat di Hijaz, sehingga penduduk Hijaz terkenal sebagai ahlul atsar (pemilik atsar).
.
Negeri-negeri lain tidak seberuntung Hijaz. Irak misalnya, di sana sedikit sekali dijumpai hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa-masa awal Islam. Sebagian orang mulai memalsukan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , sehingga para ulama negeri tersebut sangat berhati-hati mengambil hadits dari seorang penduduk Irak, terutama daerah Kufah. Karena kondisi ini, di dalam berbagai masalah ilmu agama dan fatwa, ulama Irak sering melakukan ijtihad berdasarkan ra’yu (pemikiran/logika) mereka. Oleh karena itulah, mereka disebut ahlur ra’yi.
.
‼ Jadi, pada masa-masa awal para imam mujtahid ini muncul dua madrasah (metodologi) dalam hal fikih: madrasah al-atsar yang dimiliki oleh ulama Hijaz, dan madrasah ar-ra’yi yang ditempuh oleh ulama Irak.
.
✅ Pada asalnya, sebenarnya dua madrasah ini tidak bertentangan. Masing-masing justru saling melengkapi. Yang dicela adalah ketika seorang ahlur ra’yi tetap berpegang pada logikanya, padahal sudah sampai atsar kepadanya; atau ketika seorang muslim tetap berpegang pada mazhab ulamanya, padahal dia mengetahui bahwa mazhab tersebut menyelisihi hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, dengan sikap ini ia telah mendahulukan logika dan fanatisme mazhab daripada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
.
Seharusnya, ketika sampai kepada seorang muslim sebuah sunnah yang shahih dari Rasulullah yang menyelisihi pendapat, keyakinan, atau apa yang diikutinya selama ini, ia harus bersegera mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Ketika mendengar sebuah hadits shahih, semestinya ia membayangkan dirinya tengah berada di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendengar beliau mengucapkannya. Dengan demikian, tidak mungkin ia mengucapkan, “Saya tidak akan mengambil hadits ini. Saya tetap teguh dengan logika saya, atau dengan apa yang diajarkan oleh ulama saya, imam saya, atau kyai saya.”
.

Karena menyebarnya fanatisme di tengah-tengah muslimin ini, para ulama ahli atsar mencela madrasah ar-ra’yi yang berpusat di Kufah. Namun, celaan ini tidak tertuju kepada ulama ahlur ra’yi yang mengambil metodologi logika karena keadaan yang memaksa, tetapi sebagai peringatan terhadap kaum muslimin secara umum. Tujuannya adalah agar mereka tidak bersikukuh dengan logika yang mereka ikuti ketika datang hadits shahih yang menyelisihi logika tersebut.
.

••||••|| Lanjut ke Halaman 2 ••||••||