UNGKAPAN CINTA PADA RASUL shallallahu’alaihi wasallam Dengan Membaca Shalawat
.

Alhamdulillah
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
.••
==…

➡ UNGKAPAN CINTA PADA RASUL shallallahu’alaihiwasallam
.
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,
Open Donasi,Sedekah,Waqaf,Infaq: https://bit.ly/2JIhYq3
kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR
Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1
Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ
Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM
mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x
Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR
.==

  • UNGKAPAN CINTA PADA RASUL shallallahu’alaihiwasallam

.
Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA
.
Cinta merupakan sesuatu yang membutuhkan pembuktian dan memiliki pertanda, agar cinta tersebut tidak menjadi klaim dan pengakuan kosong belaka. Di antara pertanda besar kecintaan seseorang kepada sesuatu, ia akan sering menyebut dan memujinya.
.
‼ Cinta kepada Rasul shallallahu’alaihiwasallam adalah merupakan salah satu amalan yang diwajibkan dalam agama kita, bahkan kecintaan tersebut harus mengalahkan kecintaan kepada seluruh insan selain beliau, siapapun ia.
.
✅ Cinta Rasul shallallahu’alaihiwasallam ini membutuhkan pembuktian dan memiliki pertanda. Baik itu melalui lisan, hati maupun amalan keseharian seorang hamba. Di antara pertanda terbesarnya dalam lisan, seorang insan tidak akan membiarkan hari-harinya lewat begitu saja tanpa menyebut nama beliau, mendoakan dan memujinya. Doa serta pujian tersebut, lazim diistilahkan dalam bahasa syariat dengan shalawat.

.
✅ Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
.
“إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”
.
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepada beliau”. QS. Al-Ahzab: 56.
.
✅ Maksud ayat ini, kata Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya[1], “Allah ta’ala memberitahu para hamba-Nya akan kedudukan Rasulullah di sisi-Nya di hadapan para malaikat. Di mana Allah memuji beliau di hadapan mereka, begitu pula mereka bershalawat kepada beliau. Lalu Allah ta’ala memerintahkan kepada para penghuni bumi untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada beliau; agar berpadu pujian para penghuni langit dan para penghuni bumi semuanya untuk beliau”.
.

‼ Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati
.
Membaca shalawat kepada Rasul shallallahu’alaihiwasallam merupakan suatu ibadah mulia yang bertabur pahala dan keistimewaan. Sehingga amat merugilah orang yang tidak memperbanyak amalan ini semasa hidupnya. Di antara ganjaran istimewa yang disediakan untuk mereka yang gemar membaca shalawat:
.

  • Keistimewaan pertama: Orang yang bershalawat dijanjikan pahala berlipat ganda

.
✅ Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda,
.
“صَلُّوا عَلَيَّ؛ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً؛ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا”
.
Bershalawatlah kalian padaku. Sesungguhnya barang siapa bershalawat padaku satu kali niscaya Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali”. HR. Muslim (I/288-289 no. 384) dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma.
.
‼ Dalam kitab Tuhfah al-Ahwadzi, al-Mubarakfuri menjelaskan, bahwa maksud dari shalawat Allah untuk para hamba-Nya adalah: Allah akan merahmati mereka dan melipatgandakan pahalanya.
.

  • Keistimewaan kedua: Orang yang bershalawat akan dihapuskan banyak dosanya dan ditinggikan derajatnya

.
✅ Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam menerangkan, 
.
“مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً؛ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ، وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ”
.
Barang siapa bershalawat padaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali, akan dihapuskan sepuluh dosanya dan akan diangkat derajatnya sepuluh tingkatan”. HR. An-Nasa’i dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim.
.
✅ Subhanallah, dengan amalan yang ringan, seorang hamba bisa mengurangi tumpukan dosa yang membebaninya, juga meninggikan derajatnya di surga yang luasnya melebihi langit dan bumi. Betapa besar karunia dan belas kasih Allah kepada para hamba-Nya. Namun amat disayangkan kebanyakan manusia tidak menyadarinya!
.

  • Keistimewaan ketiga: Shalawat merupakan salah satu sebab terkabulnya doa hamba

.
✅ Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,
.
“كُلُّ دُعَاءٍ مَحْجُوْبٌ حَتَّى يُصَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”
.
Setiap doa akan terhalang (untuk dikabulkan) hingga dibacakan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya”. HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany.
.

✅ Umar bin Khatthab radhiyallahu’anhu memperjelas maksud hadits di atas,
.
“إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، لَا يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ، حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”
.
Sesungguhnya doa itu akan tertahan di antara langit dan bumi, tidak akan diangkat; hingga engkau bershalawat kepada Nabimu shallallahu’alaihiwasallam”. Diriwayatkan oleh Tirmidzy dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany.
.
‼ Jadi setiap doa yang dilantunkan hamba tidak akan diangkat kehadapan Allah tabaraka wa ta’ala sampai disertai dengan shalawat. Sebab shalawat merupakan pengantar terkabulnya sebuah doa. Demikian keterangan al-Munawy dalam Faidh al-Qadîr.
.
✅ Karena itu, para ulama telah berijma’, sebagaimana dinukil Imam Nawawy dalam al-Adzkâr, bahwa sebelum berdoa disunnahkan bagi seorang muslim untuk memanjatkan pujian kepada Allah ta’ala dan membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam.
.

  • Keistimewaan keempat: Shalawat adalah salah satu sarana untuk meraih syafa’at Rasul shallallahu’alaihiwasallam

.
✅ Dalam Shahih Muslim disebutkan:
.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ؛ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ؛ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ. فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ”
.

Dari Abdullah bin ’Amr radhiyallahu’anhuma, bahwa beliau mendengar Nabi shallallahu’alaih wasallam bersabda, ”Jika kalian mendengar muadzin maka tirukanlah ucapannya, kemudian bershalawatlah kepadaku. Sesungguhnya orang yang bershalawat padaku sekali; maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Lalu mintakanlah kepada Allah wasilah untukku, karena wasilah adalah sebuah tempat di surga yang tidak akan dikaruniakan melainkan kepada salah satu hamba Allah. Dan aku berharap bahwa akulah hamba tersebut. Barang siapa memohonkan untukku wasilah, maka ia akan meraih syafa’at”
.
.
Satu saja dari berbagai keutamaan di atas telah cukup untuk memotivasi kita guna memperbanyak bershalawat kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Bagaimana halnya jika masih banyak keutamaan lain selain apa yang tersebut di atas. Maka perbanyaklah membaca shalawat kepada Sayyidina Muhammad shallallahu’alaihiwasallam, apalagi di hari istimewa ini; hari Jum’at.
.
✅ Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,
.
“إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ … فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ”
.
Sesungguhnya di antara hari-hari kalian yang paling istimewa adalah hari Jum’at … Maka perbanyaklah membaca shalawat untukku di dalamnya”. HR. Abu Dawud dari Aus bin Aus radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Hakim, Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban.
.
✅ Sebagaimana telah maklum, berdasarkan dalil dari al-Qur’an dan Sunnah juga keterangan para ulama Islam, bahwa setiap ibadah, agar diterima di sisi Allah jalla wa ‘ala harus memenuhi dua syarat. Yakni; menjalankannya secara ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam.[2]
.
Berhubung shalawat merupakan ibadah dan amal shalih, maka supaya amalan tersebut diterima oleh Allah ‘azza wa jalla; harus pula terpenuhi dua syarat tersebut di atas, yakni ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasul shallallahu’alaihiwasallam.
.

  • Ikhlas dalam bershalawat berarti:

.
➡ 1. Semata-mata mengharapkan dari amalan tersebut ridha Allah ta’ala dan pahala dari-Nya. Bukan dalam rangka unjuk gigi kekuatan massa atau menonjolkan fanatisme golongan.
.
➡ 2.Redaksi shalawat yang dilantunkan tidak mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan prinsip ikhlas. Atau dengan kata lain: tidak berbau kesyirikan dan kekufuran, semisal istighatsah kepada selain Allah, menisbatkan sesuatu yang merupakan hak prerogatif Allah kepada selain-Nya dan yang semisal. Aturan kedua ini tentunya diterapkan atas redaksi shalawat buatan selain Rasul shallallahu’alaihiwasallam.
.
✅ Adapun jika redaksi shalawat itu bersumber dari sosok yang maksum shallallahu’alaihiwasallam, maka ini di luar konteks pembicaraan kita; sebab tidak mungkin Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan sesuatu yang berisi kesyirikan.
.

  • Adapun meneladani Rasul shallallahu’alaihiwasallam dalam bershalawat maknanya adalah:

.
✅ –  Mencontoh shalawat yang diajarkan beliau dan tidak melampaui batas sehingga memasuki ranah ghuluw (sikap ekstrim) dan lafaz syirik.
.
✅ –  Bershalawat pada momen-momen yang beliau syariatkan.[3]
.
✅ – Memperbanyak membaca shalawat semampunya, dalam rangka mengamalkan firman Allah ta’ala dalam QS. Al-Ahzab: 56 dan sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, tersebut di atas.
.
✅ –  Tidak menambahkan aturan-aturan baru dalam pembacaan shalawat, yang sama sekali tidak ada landasannya dari al-Qur’an maupun hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
.

✅ Ibn Hajar al-Haitamy rahimahullah (909-974 H) menasehatkan, bahwa pengagungan terhadap Nabi shallallahu’alaihiwasallam hendaknya dengan sesuatu yang ada dalilnya dan yang diperbolehkan, jangan sampai melampaui batas tersebut.[4]

  • Beberapa Macam Bacaan Shalawat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan berbagai lafal bacaan shalawat. Sikap yang tepat adalah berusaha menghafal semuanya dan mengamalkannya secara bergantian, sehingga kita tergolong orang yang melestarikan ajaran Beliau. Berikut beberapa diantara bacaan shalawat yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.

  • Lafazh bacaan shalawat yang paling ringkas yang sesuai dengan dalil-dalil yang shahih adalah:

.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
.
✅ “Allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala aali muhammad”
.

“Ya Tuhan kami, limpahkanlah shalawat ke atas Nabi Muhammad dan ke atas keluarganya.” (An Nasa’i: 1292, shahih
)
.
➡ Kemudian terdapat riwayat-riwayat yang shahih dalam delapan riwayat lain, yaitu:
.

  • ➡ 1. Dari Ka’ab bin ‘Ujrah Radhiyallahu ‘Anhu

.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ،اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
.
Allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala aali muhammad, kamaa shallaita ‘ala ibrahim wa ‘ala aali ibrahim innaka hamiidum majiid. Allahumma baarik ‘ala muhammad wa ‘ala aali muhammad, kamaa baarakta ‘ala ibrahim wa ‘ala aali ibrahim innaka hamiidum majiid.
.
‼ “Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR Al Bukhari dan Muslim)

.

  • ➡ 2.Dari Abu Humaid As Sa’di Radhiyallahu ‘Anhu

.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ،كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ،وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ،كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
.
Allaahumma sholli ‘alaa muhammad, wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyyatihi, kamaa shollaita ‘alaa aali ibroohiim. Wa baarik ‘alaa muhammad, wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyyatihi, kamaa baarokta ‘alaa aali ibroohiim, innaka hamiidun majiid
.

‼ “Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada isteri-isteri beliau dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada keluarga Ibrahim. Ya Allah, berkatilah Muhammad dan isteri-isteri beliau dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberkati keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.” (HR Al Bukhari dan Muslim)
.

  • ➡ 3.Dari Abi Mas’ud Al Anshari Radhiyallahu ‘Anhu

.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ،وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
.
Allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala aali muhammad, kamaa shallaita ‘ala aali ibrahim wa baarik ‘ala muhammad wa ‘ala aali muhammad, kamaa baarakta ‘ala aali ibrahim, fil‘aalamiina innaka hamiidum majiid.
.
‼ “Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada keluarga Ibrahim, dan berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkati keluarga Ibrahim atas seluruh alam, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.” ( HR. Malik dalam Al-Muwatha, Ahmad, Nasai, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth). )

.

  • ➡ 4.Dari Abi Mas’ud, ‘Uqbah bin ‘Amr Al Anshari Radhiyallahu ‘Anhu (jalan kedua)

.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ،وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ،كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
.
Allahumma shalli ‘ala muhammad an-nabiyyil ummiyi wa ‘ala aali muhammad, kamaa shallaita ‘ala aali ibrahim. Wa baarik ‘ala muhammad an-nabiyyil ummiyi wa ‘ala aali muhammad, kamaa baarakta ‘ala aali ibrahim, fil ‘aalamiina innaka
hamiidum majiid.

.
‼ “Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad, nabi yang ummi, dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Dan berkatilah Muhammad, nabi yang ummi, sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.” ( HR. Muslim, Abu Awanah, Ibnu Abi Syaibah, Abu Dawud no. 981, dan Nasa’i, disahkan oleh Hakim
.

  • ➡ 5.Dari Abi Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘Anhu

.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ،كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ،وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ.
.
Allahumma shalli ‘ala muhammad ‘abdika warosulika kamaa shallaita ‘ala ibrahim wa baarik ‘ala muhammad wa ‘ala aali muhammad, kamaa baarakta ‘ala ibrahim
.

‼ “Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad hamba-Mu dan Rasul-Mu, sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada keluarga Ibrahim. Dan berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim.” (HR Al Bukhari)

.
✅ atau
.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ
.
Allahumma shalli ‘ala muhammad ‘abdika warosulika kamaa shallaita ‘ala ali ibrahim, wa baarik ‘ala muhammad ‘abdika warosulika wa ‘ala aali muhammad, kamaa baarakta ‘ala ibrahim wa ‘ala aali ibrahim
.
‼ “Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad, hamba-Mu dan Rasul-Mu, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada keluarga Ibrahim dan berilah karunia kepada Muhammad, hamba-Mu dan Rasul-Mu dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan karunia kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim.”[HR. Bukhari Nasa’i, Thahawi, Ahmad, Ismail al-Qadhi dalam kitab Fadhlush Shalah ‘alan Nabiyyi halaman 28.]

.

~•~•~•~••~ Lanjut ke Halaman 2 ~•~•~•~•~
 

Iklan