Tanggapan terhadap Disertasi Abdul Azis Mahasiswa S3 UIN Jogja yang Membolehkan Hubungan Seksual Tanpa Nikah, Hermeneutika dan Kekacauan Akhlak
.

Alhamdulillah
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
.••

Disertasi Mahasiswa Jurusan Agama Ini Halalkan Zina-Ust.Farhan Abu Furaihan 5Mb
https://app.box.com/s/zu3iaraamok8u4wuxjir4rm4ouvwyjy2
Heboh tentang Menghalalkan Zina & Pendapat Penghapusan Perbudakan-Ustadz Dzulqarnain M Sunusi
https://drive.google.com/file/d/1zLXumlh9S0W2d2Cht1eDZuGnJM_Skux4/view?usp=drivesdk
Sebab Kafirnya Manusia – Ustadz Lalu Ahmad Yani, Lc. 16.9Mb
https://app.box.com/s/93mg5g8fsr5fa666r4l8i0qddxt108pa
Zina Halal (Pengikut Abu Jahal) – Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.32Mb
https://app.box.com/s/m79ok8ebpv9m5ssy0878pwujyo8k58xy
*“Penghalal Zina Terjatuh Dalam Kesyirikan, Kemunafikan Dan Kekufuran”* Ustadz
Abdurrahman Dani
https://drive.google.com/file/d/1HaeWa1AEvpuAoa-_EKJxdac3vKakcdGM/view?usp=drivesdk
Bahaya Dosa Syirik, Membunuh, Zina dan Menghalalkan Zina-Ust.Sofyan Chalid Ruray
https://app.box.com/s/puouoifzvh1e02w8iwhplp7qjzffyinz
Murjiah Gerbang Menuju Liberal/Pluralis-Ust.Abu Hanifah
https://app.box.com/s/vs5d5fp3zb0ywqevdli8qs5ghx4mjr0w
Halal dan Haram di Tangan Allah – Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc., M.A..webm
https://app.box.com/s/a5pqj3832cdu4391g78zqqfihxcgmpwy


Ust.Syafiq Riza Basalamah Jangan Dekati Zina

25 Audio Ceramah Islam Ustadz DR Adian Husaini
https://archive.org/details/CeramahUstadAdianHusaini
389 Audio mp3 Ust. Yazid bin Abdul Qodir
Jawas
https://archive.org/details/Ust.YazidBinAbdulQodirJawas
Sekilas Asal Muasal Paham Islam’ Nusantara-Ust. Sofyan Chalid Ruray
https://app.box.com/s/3ua4fs0gx9mln3sdkv0t1c1on8wh3r76
BEKAL PERJALANAN -Ustadz Masykur Abu
Mawaddah
https://mir.cr/0XIZM6MP
https://drive.google.com/file/d/10nhYVg3Q4_t1dn6EEbEboTJasYYOeZFM/view?usp=drivesdk
Masuklah Islam Secara Kaffah – Ustadz Abdul Malik
https://app.box.com/s/tojtq4zblzanxzys67k3abakln3n4tr2
Agar Dicintai Allah. Ustadz DR. Firanda Andirja, MA 26Mb
https://app.box.com/s/ew1z2p5crrhraypql36y2a2a0dflhvde
Tugas Ayah dalam Mendidik Anak – Ustadz Ahmad Firdaus, Lc. 24.6Mb
https://app.box.com/s/x9kra6r9hcwkrr77y3onkhx4ileb8ggz
Nasehat Pernikahan – Ustadz Nizar Saad Jabal, Lc., M.Pd 8.7Mb
https://app.box.com/s/oiice20y94o96u9ftvtmu8sijhmde28j
Jenis Ibadah: Raghbah, Khasy’yah dan Isti’anah – Ustadz Thantawi Abu Muhammad 24.8Mb
https://app.box.com/s/nq3llzm0qnb51ta22ngn5aljs0q7lorf
Pelajaran Dari Kisah Nabi Sulaiman – Ustadz Abdul Malik 37Mb
https://mir.cr/UACUZNRD
https://drive.google.com/file/d/1NJBUCoPl9dmWA3Thyu_ZdlBQ6HQsASoR/view?usp=drivesdk
AL ISLAM BAG. 2 | USTADZ ABDUL HAKIM BIN AMIR ABDAT 24Mb
https://app.box.com/s/leeiu6w1teic6p6upl7w47kwpk2wnqpb
Ustadz Ali Musri Semjan Putra – Istiqomah Di Atas Ketaatan 20mb
https://app.box.com/s/rkremrlizdp4cemaouq7t6x77tx3htts
==
REKAMAN AUDIOUstadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA
KAPAN PERTOLONGAN ITU DATANG?
https://bit.ly/2lIdS6q (21 mb)
AKHLAKMU BUKTI AQIDAHMU
https://bit.ly/2lFtDv1 (24 mb)
ILMU YANG PALING TERHEBAT (TAUHID)
USTADZ KHAIDIR M SUNUSI
https://drive.google.com/file/d/1vL5txOCjeZErOZiKEGnSQAVkiIrSltQ6/view?usp=drivesdk
Ada Apa Dengan Masa Mudamu ?
Ustadz Bambang Abu Ubaidillah hafizhahullah
https://drive.google.com/file/d/1pur52Cq2dztOl7fWfx9novqZiJVsfZGn/view?usp=drivesdk
*“Penghalal Zina Terjatuh Dalam Kesyirikan, Kemunafikan Dan Kekufuran”* Ustadz
Abdurrahman Dani
https://drive.google.com/file/d/1HaeWa1AEvpuAoa-_EKJxdac3vKakcdGM/view?usp=drivesdk
Untkmu yg Sedang Sakit-Ustadz Bambang Abu Ubaidillah hafizhahullah
https://drive.google.com/file/d/1AZOvetLHVckgelTUx6ES7S7RpLa_f3w7/view?usp=drivesdk
Agar Suamiku Shalih Oleh Ust Muhammad Romelan Lc
https://radiomuslim.com/download/7661/
11 BAHAYA SYIRIK & 10 BAHAYA BID’AH
Ustadz Umar Baladraf, M.Pd.I
https://bit.ly/2m6VVyQ
PENGUSAHA YANG DIRINDUKAN SURGA
Ustadz Ammi Nur Baits
https://bit.ly/2lCOK1d
ADAB SAAT BANGUN TIDUR-Ustadz Muhammad Syahputra, Lc
https://bit.ly/2kqKqSv (19 m
TAUSIYAH DAKWAH SOSIAL-Ustadz Abu Ubaidah As Sidawi
https://bit.ly/2lKW7U0
Kisah Perempuan Seperti Kepingan Rembulan
Al Ustadz Dzulqarnain M Sunusi
https://drive.google.com/file/d/135eWVj4l5MdLkfsPl1IrgKFbpoZ5LyQ8/view?usp=drivesdk
–File Webm Diputar Dengan Mx Player–
=… 


== . 

••…
➡ Tanggapan terhadap Disertasi Abdul Azis Mahasiswa S3 UIN Jogja yang Membolehkan Hubungan Seksual Tanpa Nikah, Hermeneutika dan Kekacauan Akhlak
.
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,
Open Donasi,Sedekah,Waqaf,Infaq: https://bit.ly/2JIhYq3
kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR
Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1
Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ
Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM
mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x
Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR
.==
Tanggapan terhadap Disertasi Abdul Azis Mahasiswa S3 UIN Jogja yang Membolehkan Hubungan Seksual Tanpa Nika
.
Oleh Dr. Tgk. Muhammad Yusran Hadi, Lc., M.A
.
✅ Keharaman zina itu sudah jelas dan qath’i berdasarkan Alqur’an, As-Sunnah dan ijma’. Oleh karena itu, menghalalkan zina dengan sadar atau sengaja bisa mengakibatkan penulis disertasi dan orang-orang yang menyetujuinya serta meluluskannya (yaitu para promotor dan penguji) bisa menjadi murtad (kafir).
.
‼ Penulis harus dicabut gelar doktornya. Adapun orang-orang yang menyetujui dan meluluskannya (yaitu rektor, para promotor dan para penguji) harus mengundurkan diri atau diberhentikan dari jabatan rektor dan dosen.

.
✅ Meminta kepada pihak UIN Jogja membatalkan disertasi Abdul Azis dan mencabut kelulusannya atau gelar doktornya. Disertasi tersebut tidak perlu direvisi. Sesuai dengan kaidah Fiqh: “Adh-dhararu yuzaal” (Kemudharatan itu harus dihilangkan) dan kaidah syariat lainnya. Jadi disertasi ini mesti dibatalkan, bukan meminta penulisnya untuk merevisinya.
.

‼ Sehubungan hasil disertasi Abdul Azis mahasiswa program doktor UIN Sunan Kalijaga Jogja yang berjudul “Konsep Milk al-Yamin Muhammad Syahrur Sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Nonmarital” yang membolehkan hubungan seksual tanpa nikah dan diluluskan oleh delapan orang penguji (Tim penguji terdiri dari Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, PhD, sebagai ketua sidang sekaligus rektor UIN Sunan KalijagaJogja, Prof. Dr. Waryono Abdul Ghafur sebagai sekretaris sidang, Prof. Dr. H. Khoiruddin, MA dan Dr. Phil. Sahiron, MA sebagai promotor, Prof. Dr. Euis Nurlailawati, MA, Dr. H. Agus Moh Najib, M.Ag, Dr. Samsul Hadi, M.Ag), dengan nilai sangat memuaskan dalam sidang disertasi yang diadakan baru-baru ini pada tanggal 28 Agustus 2019 di kampus UIN Sunan KalijagaJogja, maka saya perlu memberikan tanggapan sebagai berikut:
.

  • Pertama; Menolak dan mengecam disertasi tersebut.

.
✅ Pemikiran dalam disertasi ini telah menyimpang dari ajaran Islam dan membuat resah umat Islam sehingga menimbulkan penolakan dan kecaman keras dari umat Islam. Disertasi ini merupakan salah satu bukti dan contoh pemikiran liberal yang menyesatkan berkembang di UIN Sunan KalijaJogja. Sepatutnya disertasi yang ditulis oleh seorang muslim sesuai dengan Islam dan memperkuat keimanannya serta bermanfaat bagi agama dan umat Islam.
.
Kedua: Menyayangkan dan menyesalkan pihak UIN Jogja, khususnya para promotor dan penguji disertasi, yang telah meloloskan dan meluluskan disertasi ini sejak awal ujian proposal sampai ujian sidang munaqasyah dengan nilai sangat memuaskan.
.
✅ Sepatutnya disertasi ini ditolak sejak dari awal ujian proposal, karena tidak ilmiah dan menyimpang dari hukum Islam. Selain itu, membahayakan kehidupan rumah tangga dan merusak moral generasi bangsa. Ini level S3. Kok bisa diloloskan dan diluluskan disertasi yang ngawur dan tidak ilmiah seperti ini? Ada apa ini? Sangat mengherankan. Ini kesalahan dan tanggung jawab pihak UIN Jogja, khususnya para promotor dan penguji, yang telah meloloskan dan meluluskan doktor yang menghalalkan zina sehingga pantas disebut dengan “doktor zina”.
.
Ketiga: Disertasi ini telah menyimpulkan bahwa hubungan seksual di luar nikah (nonmarital) adalah boleh dan tidak melanggar syariat, dengan dalih konsep milkal-yamin dalam Alqur’an dipakai untuk konteks zaman sekarang mengikuti konsep pemikiran tokoh liberal Syiria Muhammad Syahrur, dengan syarat dilakukan dengan suka sama suka, bukan sedarah, dewasa, dan dilakukan di tempat privat (bukan tempat umum).
.

✅ Kesimpulan ini bertentangan dengan Alqur’an, as-Sunnah, dan ijma’. Maka pemikiran disertasi ini telah menyimpang dari Islam. Dengan kata lain, sesat dan menyesatkan.
.
Keempat: Menjadikan Muhammad Syahrur sebagai rujukan dalam persoalan agama merupakan kesalahan besar dan kesesatan.
.

✅ Dia adalah seorang professor dalam bidang tehnik sipil asal Syiria yang belajar di Rusia, namun aktif menulis tentang keislaman meskipun ngawur dan menyimpang dari Islam. Jadi keahliannya adalah bidang tehnik sipil, bukan agama. Terlebih lagi dia dikenal sebagai seorang tokoh liberal Syiria. Selain itu, dia juga seorang komunis (syuyu’i) dan atheis (mulhid).
.
‼ Sepatutnya jika seseorang berbicara mengenai agama, maka dia harus merujuk kepada ahlinya yaitu ulama. Belajar agama dari orang yang bukan ahlinya, maka akan terjerumus kepada kesesatan seperti yang disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apalagi merujuk kepada orang sesat seperti Syahrur.
.
Kelima; Disertasi ini telah membuka jalan kerusakan (mafsadah) yang besar yaitu menyebabkan zina merajalela, merusak moral dan merusak tatanan kehidupan rumah tangga, karena telah melegalkan hubungan seksual di luar nikah (nonmarital).
.
✅ Tujuannya untuk menyalurkan nafsu seksual semata, bukan untuk memperoleh keturunan dan bertanggungjawab (berkeluarga). Ini sama dengan kawin kontrak (nikah mut’ah) kumpul kebo, pergaulan bebas (free sex) dan lainnya yang sejenis. Padahal, semua itu perbuatan zina yang diharamkan dalam Islam berdasarkan Alqur’an, as-Sunnah dan ijma’. Maka ini telah menyimpang dari Islam.
.
Keenam; Membolehkan hubungan seksual tanpa ikatan nikah juga bertentangan dengan maqashid syariah dalam perintah menikah yaitu untuk memperoleh keturunan, mawaddah dan rahmah, berkeluarga serta bertanggung jawab dengan memberikan nafkah kepada istri dan anak.
.
✅ Begitu pula bertentangan dengan maqashid syari’ah dalam larangan zina yaitu untuk menghilangkan berbagai mafsadah dan mudharat yang ditimbulkan akibat zina seperti merusak moral dan kehidupan rumah tangga, terjangkitnya penyakit kelamin, anak tanpa ayah, menzhalimi wanita, tidak mau menikah, berkurangnya jumlah manusia akibat tidak mau punya keturunan, dan lainnya.
.
Ketujuh; Disertasi ini telah menghalalkan zina yang telah diharamkan oleh Islam dengan mengatasnamakan konsep milkal-yamin (kebolehan seseorang untuk melakukan hubungan seksual dengan budak wanitanya tanpa akad nikah) yang dibolehkan pada awal Islam ketika perbudakan terjadi, baik sebelum Islam maupun pada awal Islam datang.
.
✅ Namun, konsep ini tidak bisa diberlakukan untuk saat ini karena tidak ada lagi perbudakan, kecuali perbudakan muncul lagi pada suatu saat yang dimulai oleh musuh-musuh Islam. Islam telah menghapuskan perbudakan. Begitu pula semua negara-negara saat ini telah meratifikasi penghapusan perbudakan. Maka memaksakan mencopot dalil dari Alquran tentang milkal-yamin untuk menjustifikasi bolehnya hubungan seksual di luar nikah adalah sebuah kecerobohan dan kebodohan serta kesesatan.
.
Kedelapan;Keharaman zina itu sudah jelas dan qath’i berdasarkan Alqur’an, As-Sunnah dan ijma’.
.
✅ Oleh karena itu, menghalalkan zina dengan sadar atau sengaja bisa mengakibatkan penulis disertasi dan orang-orang yang menyetujuinya serta meluluskannya (yaitu para promotor dan penguji) bisa menjadi murtad (kafir). Para ulama sepakat (ijma’) mengatakan bahwa menghalalkan apa yang diharamkan oleh Alqur’an dan hadits yang shahih yang telah disepakati keharamannya oleh para ulama atau sebaliknya maka hukumnya murtad. Ini termasuk persoalan aqidah yang sudah qath’i dalilnya dan disepakati keharamanya oleh para ulama. Jadi, bukan persoalan khilafiah dan bukan pula ranah ijtihad baru. Maka tidak bisa dianggap persoalan biasa dalam pemikiran dan keilmuan.
.
Kesembilan; Persoalan ini telah mencoreng nama UIN, khususnya UIN Sunan Kalijaga Jogja sebagai institusi pendidikan Islam dan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia.
.
✅ Maka pihak UIN Jogja harus mengambil pelajaran dari kasus ini agar ke depan tidak mengulanginya dan tidak membiarkan paham liberal berkembang di UIN Jogja. Begitu pula diharapkan kepada instusi Perguruan Tinggi Islam di Indonesia seperti UIN, IAIN dan STAIN agar dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari kasus ini dan berhati-hati dalam mengambil metodologi dan konsep berpikir dari barat atau pengikut mereka.
.

Kesepuluh; meminta kepada penulis, promotor dan para penguji disertasi ini untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah Subhnahu wa Ta’ala serta memohon maaf kepada umat Islam atas keresahan yang ditimbulkan akibat diluluskannya disertasi ini.
.
✅ Selain itu harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka tersebut. Penulis harus dicabut gelar doktornya. Adapun orang-orang yang menyetujui dan meluluskannya (yaitu rektor, para promotor dan para penguji) harus mengundurkan diri atau diberhentikan dari jabatan rektor dan dosen.
.
Kesebelas; meminta kepada pihak UIN Jogja membatalkan disertasi Abdul Azis dan mencabut kelulusannya atau gelar doktornya.
.
✅ Disertasi tersebut tidak perlu direvisi. Sesuai dengan kaidah Fiqh: “Adh-dhararu yuzaal” (Kemudharatan itu harus dihilangkan) dan kaidah syariat lainnya. Jadi disertasi ini mesti dibatalkan, bukan meminta penulisnya untuk merevisinya.
.
Keduabelas; Kasus penyimpangan Islam di UIN Jogja bukan kali ini saja terjadi.
.

✅ Sebelumnya, terjadi pelarangan cadar di UIN Jogja oleh sang rektor Prof. Drs. Yudian Wahyudi, MA, PhD sehingga mendapat kecaman keras dan penolakan dari umat Islam yang akhirnya memaksa dicabutnya aturan tersebut dan permohonan maaf dari pimpinan UIN ini. Kedua kasus penyimpangan Islam ini terjadi pada masa kepemimpinan rektor yang sama. Bisa jadi banyak lagi kasus penyimpangan Islam lainnya di UIN Jogja yang tidak terekspos di media, baik pada masa rektor ini maupun sebelumnya. Maka tidak salah bila UIN jogja dinilai banyak orang sebagai “lahan subur” berkembangnya paham liberal dan pusat liberal di Indonesia, karena bebasnya berkembang paham liberal dan adanya sejumlah tokoh liberal dan pendukung paham liberal di UIN ini.
.
➡ Ketigabelas; meminta presiden Jokowi lewat menteri agama Lukman Saifuddin untuk mencopot jabatan rektor UIN Jogja, diganti dengan orang yang taat dan komitmen dengan Islamnya, demi kemaslahatan dan menjaga nama baik UIN Jogja sendiri.
.
✅ Juga demi kemaslahatan agama dan umat Islam.
.
Keempatbelas; mengajak kepada umat Islam untuk mewaspadai dan menolak pemikiran atau paham yang menyimpang dari Islam seperti paham Liberal, Komunis, Syi’ah dan paham-paham sesat lainnya.
.
✅ Selain itu, memperkuat pemahaman dan aqidah Islam yang benar yaitu aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang bersumber dari Alqur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para ulama salafushshalih yaitu para sahabat, tabi’in, dan tabi’uttabi’in (para imam mujtahid mazhab ahlussunnah, termasuk para imam mazhab empat).
Banda Aceh, 5 September 2019
Ttd
Dr. Tgk. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA
Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh, doktor bidang Fiqh & Ushul Fiqh pada International Islamic University Malaysia (IIUM), Dosen Fiqh & Ushul Fiqh Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan anggota Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara.
=…

  • HERMENEUTIKA DAN KEKACAUAN AKHLAK

Oleh: Dr. Adian Husaini
(Direktur Attaqwa College — Pesantren at-Taqwa Depok)
.
✅ Heboh soal disertasi yang mengabsahkan hubungan seksual di luar nikah menyeret kembali perbincangan tentang penggunaan hermeneutika untuk menafsirkan al-Quran. Penulis disertasi itu mencatat bahwa ia menggunakan metode hermeneutika.
.
‼ Apakah hermeneutika memang layak digunakan untuk menafsirkan al-Quran, menggantikan Ilmu Tafsir yang telah diterima secara ijma’ oleh umat Islam selama ratusan tahun? Mari kita telaah secara singkat!
.
✅ Pada 24 Juni 2005, Harian Republika menurunkan sebuah artikel berjudul “Ketika Hermeneutika Menggantikan Tafsir Alquran.” Ditulis dalam artikel itu: “Dalam pemikiran Islam kontemporer, wacana hermeneutika sebagai solusi atas ‘kebuntuan’ tafsir dalam menghadapi tantangan zaman seolah menjadi sesuatu yang niscaya dan satu-satunya pilihan (the only alternative). Terma ini bahkan nyaris sudah menjadi bagian dari wacana pemikiran Islam kontemporer itu sendiri. Para pemikir Islam kontemporer seperti Arkoun, Fazlur Rahman, Nasr Abu Zayd, Hassan Hanafi, Khaled Abu Fadhl, dan Amin Abdullah serta para aktivisi Islam Liberal senantiasa menyinggung pentingnya metode ini. Asumsi kuat dari para pendukung hermeneutika, bahwa tafsir konvensional sudah tidak relevan lagi untuk konteks sekarang, karenanya perlu diganti dengan hermeneutika.”
.
‼ Secara harfiah, ‘hermeneutika’ artinya ‘tafsir’. Secara etimologis, istilah hermeneutika dari bahasa Yunani hermêneuin yang berarti menafsirkan. Istilah ini merujuk kepada seorang tokoh mitologis dalam mitologi Yunani yang dikenal dengan nama Hermes (Mercurius). Di kalangan pendukung hermeneutika ada yang menghubungkan sosok Hermes dengan Nabi Idris.
.
✅ Dalam mitologi Yunani Hermes dikenal sebagai dewa yang bertugas menyampaikan pesan-pesan Dewa kepada manusia. Dari tradisi Yunani, hermeneutika berkembang sebagai metodologi penafsiran Bibel, yang dikemudian hari dikembangkan oleh para teolog dan filosof di Barat sebagai metode penafsiran secara secara umum dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora.
.
‼ The New Encyclopedia Britannica menulis, bahwa hermeneutika adalah studi prinsip-prinsip general tentang interpretasi Bibel (the study of the general principle of biblical interpretation). Tujuan dari hermeneutika adalah untuk menemukan kebenaran dan nilai-nilai dalam Bibel. Dalam sejarah interpretasi Bibel, ada empat model utama interpretasi Bible, yaitu (1) literal interpretation, (2) moral interpretation, (3) allegorical interpretation, (4) anagogical interpretation.
.

✅ Dalam sebuah buku berjudul ‘Hermeneutika Pembebasan’, (Jakarta: Teraju, 2002), seorang guru besar di Yogya menulis: “Apalagi sebagian besar tafsir dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islam selama ini, sadar atau tidak, telah turut melanggengkan status quo, dan kemerosotan umat Islam secara moral, politik, dan budaya.”
.
‼ Dalam buku Penafsiran Alkitab dalam Gereja: Komisi Kitab Suci Kepausan, ditulis: “Alkitab adalah sabda Tuhan sepanjang segala abad. Oleh karena itu, mutlak dibutuhkan sebuah teori hermeneutik yang memungkinkan penggabungan metode-metode sastra dan kritik historis dalam suatu model penafsiran yang lebih luas… Karena itu, semua eksegese tentang teks diharapkan melengkapi dirinya dengan suatu “hermeneutika” seperti yang dipahami oleh makna modern ini. Alkitab sendiri serta sejarah penafsirannya menunjuk pada pentingnya suatu hermeneutika – yaitu suatu penafsiran yang berasal dari dan menyapa dunia kita sekarang.” (hlm. 100-101)
.*****

✅ Adalah Prof. Syed Muhammad Nuquib al-Attas, ilmuwan muslim pertama yang menjelaskan secara mendasar akan bahaya penggunaan hermeneutika dalam penafsiran al-Quran. Itu jauh sebelum gelombang hermeneutika menerpa sebagian kalangan intelektual di Indonesia. Prof. al-Attas menjelaskan perbedaan antara hermeneutika dengan Ilmu Tafsir.
.
‼ Pakar pemikiran Islam, Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud, dalam bukunya, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas: An Exposition of the Original Concept of Islamization (Kuala Lumpur: ISTAC, 1998), menulis satu judul sub bab, “Tafsir is not Hermeneutics”.
.
✅ Ditulis oleh Wan Mohd Nor: “Al-Attas is perhaps the first contemporary Muslim scholar who has understood the unique nature of the Islamic science of tafsir and distinguishes it from the Western concept and practice of hermeneutics, whether on Biblical sources or other texts. In this respect, al-Attas differs substantively from Fazlur Rahman and other modernist or post modernist Muslims like Arkoun, Hasan Hanafi and A. Karim Shoroush.”
.

‼ Dalam Konferensi International Kedua tentang Pendidikan Islam di Islamabad, Al-Attas menekankan bahwa ilmu pertama di kalangan Muslim, yakni Ilmu Tafsir, tetap sangat berharga dan bisa diaktualisasikan, sebab adanya karakteristik ilmiah dari bahasa Arab. Tafsir tidaklah identik dengan hermeneutika Yunani atau hermeneutika Kristen atau metode interpretasi kitab suci dari budaya atau agama apa pun. (Wan Mohd Nor, 1998: 343-344).
.
✅ Jadi, tulis Wan Mohd Nor, tafsir “benar-benar tidak identik dengan hermeneutika Yunani, juga tidak identik dengan hermeneutika Kristen, dan tidak juga sama dengan ilmu interpretasi kitab suci dari kultur dan agama lain.”
.
‼ Ilmu Tafsir al-Qur’an adalah penting karena ini benar-benar merupakan ilmu asas yang di atasnya dibangun keseluruhan struktur, tujuan, pengertian pandangan dan kebudayaan agama Islam. Itulah sebabnya mengapa al-Tabari (wafat 923 M) menganggapnya sebagai yang terpenting dibanding dengan seluruh pengetahuan dan ilmu
. Ini adalah ilmu yang dipergunakan umat Islam untuk memahami pengertian dan ajaran Kitab suci al-Qur’an, hukum-hukumnya dan hikmah-hikmahnya.
.
✅ Prof. Wan Mohd. Nor juga mengkritik dosen pembimbingnya di Chicago University, yaitu Prof. Fazlur Rahman, yang mengaplikasikan hermeneutika untuk menafsirkan ayat-ayat al-Quran. Wan Mohd Nor menulis: “Konsekuansi dari pendekatan hermeneutika ke atas sistem epistemologi Islam termasuk segi perundangannya sangatlah besar dan saya fikir agak berbahaya. Yang paling utama saya kira ialah penolakannya terhadap penafsiran yang final dalam sesuatu masalah, bukan hanya masalah agama dan akhlak, malah juga masalah-masalah keilmuan lainnya. Keadaan ini dapat menimbulkan kekacauan nilai, akhlak dan ilmu pengetahuan; dapat memisahkan hubungan aksiologi antar generasi, antar agama dan kelompok manusia. Hermeneutika teks-teks agama Barat bermula dengan masalah besar: 1) ketidakyakinan tentang kesahihan teks-teks tersebut oleh para ahli dalam bidang itu sejak dari awal karena tidak adanya bukti materiel teks-teks yang paling awal, 2) tidak adanya laporan-laporan tentang tafsiran yang boleh [dapat] diterima umum, yakni ketiadaan tradisi mutawatir dan ijma, dan 3) tidak adanya sekelompok manusia yang menghafal teks-teks yang telah hilang itu. Ketiga masalah ini tidak terjadi dalam sejarah Islam, khususnya dengan al-Qur’an. Jika kita mengadopsi satu kaedah ilmiah tanpa mempertimbangkan latar-belakang sejarahnya, maka kita akan mengalami kerugian besar. Sebab kita akan meninggalkan metode kita sendiri yang telah begitu sukses membantu kita memahami sumber-sumber agama kita dan juga telah membantu kita menciptakan peradaban internasional yang unggul dan lama.” (Lihat, artikel Wan Mohd Nor Wan Daud di Majalah Islamia edisi 1, tahun 2004 dan wawancaranya di majalah yang sama pada edisi 2, tahun 2004).
.*****
‼ Pada 3 September 2019, saat berkunjung ke Kota Surakarta, saya mendapatkan disertasi Dr. Abdul Azis yang menghebohkan. Membaca disertasi itu, mulai judul, pembahasan, kesimpulan, sampai saran-saran, tergambar dengan sangat jelas pola pikir penulisnya.
.
✅ Bahwa, hubungan seks di luar pernikahan adalah dibolehkan dengan syarat-syarat tertentu. Itu pula yang disampaikan penulisnya dalam wawancara di berbagai media.
Maka, hebohlah masyarakat muslim Indonesia. Ada yang mengekspresikan kegalauannya dengan menulis aneka kritik di media sosial.
.
‼ Mereka heran, bagaimana mungkin ada seorang dosen syariah yang menghalalkan hubungan seksual tanpa nikah, asalkan saling rela, tidak di tempat terbuka, bukan dengan istri orang, dan sebagainya. Bagaimana jika pemikiran sang dosen itu dipraktikkan langsung dengan para mahasiswinya?
.
✅ Begitulah, banyak orang terheran-heran. Tapi, mungkin, penulisnya juga heran, mengapa banyak orang heran? Sebab, disertasi itu sudah melalui proses panjang. Membaca judulnya saja sudah dipahami kemana arah pemikiran sang penulis. Inilah salah satu dampak penggunaan metode yang salah dalam penafsiran al-Quran.
.

‼ Umat Islam memiliki kitab suci yang terjaga keotentikannya; yang dihafal dan ditulis sejak awal. Al-Quran bukan teks budaya atau teks karya manusia. Al-Quran adalah Tanzil. Kata-kata dalam al-Quran memiliki kepastian makna; bukan spekulatif. Karena itu, metode hermeneutika tidak bisa diterapkan untuk al-Quran. Al-Quran dijaga oleh Allah..Bukan hanya lafaznya, tapi juga cara baca, makna, dan metode penafsirannya. Ilmu Tafsir telah diterima secara Ijma’ oleh para ilmuwan muslim sebagai metode yang otoritatif dalam menafsirkan al-Quran.
.

✅ Kasus disertasi Abdul Azis membuka mata banyak orang tentang problem penggunaan hermeneutika dalam penafsiran al-Quran. Sebab, metode ini menimbulkan ketidakpastian atau relativisme nilai dan kebenaran. Ujungnya, kata Prof. Wan Mohd Nor: “Keadaan ini dapat menimbulkan kekacauan nilai, akhlak dan ilmu pengetahuan.”
.
‼ Tapi, ini satu pilihan. Pilih Tafsir atau hermeneutika untuk menafsirkan al-Quran. Atau, pakai metode sendiri. Maunya, yang penting asal beda! Katanya, bukan tafsir “Jalalain” tapi tafsir “Jalan lain”.

.
✅ Apa pun pilihan kita, yang jelas, kita semua akan menghadap Allah dan akan bertanggung jawab atas ilmu dan amal kita. Sebab, al-Quran itu kalam Allah, bukan kata-kata manusia. Sepatutnyalah kita sangat berhati-hati dalam menafsirkannya. Ada otoritas keilmuan yang diperlukan dalam penafsiran al-Quran.
Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak; bukan untuk mengacaukan akhlak, dengan mengabsahkan perbuatan zina! Wallahu A’lam bish-shawa
b. (Riau, 6 September 2019).
.

  • HERMENEUTIKA DAN INFILTRASI KRISTEN

Oleh: Adian Husaini
.
✅ (Selain mengaburkan dan menolak kebenaran, faham ini juga akan melahirkan mufassir-mufassir palsu dan pemikir-pemikir yang tidak terkendali, liar).
.
‼ Majalah Gatra, edisi 3 April 2004 menurunkan laporan cukup panjang tentang fenomena kajian hermeneutika di kalangan perguruan Islam di Indonesia. Disebutkan, dua perguruan tinggi negeri, yakni Universitas Islam Negeri Jakarta dan IAIN Yogyakarta sudah mengajarkan mata kuliah Hermeneutika untuk mahasiswanya. Laporan Gatra itu menarik untuk dicermati, di tengah-tengah hingar bingar pemilu 2004. Mengapa? Sebab, fenomena ini menunjukkan, betapa lemahnya pertahanan kaum Muslim dalam aspek yang sangat strategis, yakni cara pemahaman (epistemologis) terhadap sumber utama Islam, yakni al-Quran.
.
✅ Laporan Gatra mengulas terbitnya satu majalah pemikiran dan peradaban Islam, ISLAMIA, awal Maret 2004, yang nomor perdananya mengulas secara mendalam masalah hermeneutika. Pada dasarnya, hermeneutika adalah metode tafsir Bible, yang kemudian dikembangkan oleh para filosof dan pemikir Kristen di Barat menjadi metode interpretasi teks secara umum.
Oleh sebagian cendekiawan Muslim, kemudian metode ini diadopsi dan dikembangkan, untuk dijadikan sebagai alternatif dari metode pemahaman al-Quran yang dikenal sebagai ilmu tafsir. Jika metode atau cara pemahaman al-Quran sudah mengikuti metode kaum Yahudi-Nasrani dalam memahami Bible, maka patut dipertanyakan, bagaimanakah masa depan kaum Muslim di Indonesia?
.
Pertanyaan ini perlu disampaikan, kepada kita semua, termasuk kepada para politisi Muslim, yang sedang aktif menggalang dukungan suara untuk partai dan dirinya. Bahwa, ada kanker ganas yang sedang bekerja sangat cepat menggeregoti organ-organ vital kaum Muslimin. Apakah hermeneutika dapat diadopsi untuk menggantikan tafsir al-Quran? Sebuah ulasan ringkas dan komprehensif tentang hermeneutika dan al-Quran disusun oleh Syamsuddin Arif, kandidat doktor bidang pemikiran Islam di ISTAC-IIUM, yang sedang melakukan penelitian di Johann Wolfgang Goethe-Universitet, Frankfurt am Main, Jerman.
.
Syamsuddin Arif termasuk salah satu cendekiawan Muslim langka yang kini dimiliki kaum Muslim. Selain menguasai bahasa Arab dan Inggris dengan fasih, lisan dan tulisan, alumnus Pondok Gontor ini juga menguasai bahasa Latin dan Yunani. Di Jerman, di tengah-tengah kesibukan penelitiannya, sedang menekuni bahasa Hebrew dan Syriac. Catatan Syamsuddin Arief yang dikirimkan kepada saya berikut ini sangat menarik dan penting untuk dicermati, mengingat, bahwa biasanya, banyak pemikir dan tokoh Islam, sangat peduli dengan wacana pemikiran Islam yang terkait dengan aspek fiqih dan politik, seperti isu perkawinan antar agama atau masalah penerapan syariat Islam dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Tetapi, jarang sekali yang peduli atau memahami masalah-masalah kajian metodologis atau epistemologis yang sebenarnya lebih mendasar dan berdampak besar dalam perkembangan pemikiran Islam di Indonesia di masa depan. Contohnya masalah hermeneutika.
.
‼ Tampak, bagaimana banyak ulama dan cendekiawan Muslim di Indonesia, terlambat memahami masalah yang sangat fundamental tersebut. Padahal, beberapa institusi pendidikan Islam sudah mengajarkan hermeneutika sebagai alternatif bagi metode penafsiran al-Quran yang selama ini dikenal olen umat Islam pada umumnya. Bahkan, sekarang sudah banyak muncul cendekiawan dan tokoh-tokoh organisasi Islam, yang begitu bersemangat menyebarkan dan mengajarkan hermeneutika, dengan menyerukan agar metode tafsir klasik al-Quran tidak digunakan lagi. Semestinya, umat Islam tidak menunjukkan sikap ekstrim dalam menyikapi setiap gagasan baru, baik bersikap latah untuk menerima atau menolaknya. Yang diperlukan adalah sikap kritis. Sikap inilah yang telah ditunjukkan oleh para ulama Islam terdahulu, sehingga mereka mampu menjawab setiap tantangan zaman, tanpa kehilangan jatidiri pemikiran Islam itu sendiri. Apalagi, di kalangan umat Islam, mulai muncul gejala umum yang mengkhawatirkan, yakni mudahnya mengambil dan meniru metodologi pemahaman al-Quran dan al-Sunnah yang berasal dari pemikiran dan peradaban asing. Gerakan impor pemikiran semakin gencar dilakukan, terutama oleh kalangan yang menggeluti Islamic Studies. Sayangnya, tidak banyak yang memiliki sikap teliti sebelum membeli gagasan-gagasan impor yang sebenarnya bertolak-belakang dengan dan berpotensi menggerogoti sendi-sendi akidah seorang Muslim.
.
✅ Salah satu produk asing tersebut adalah hermeneutika, yang belum lama ini dipasarkan dalam sebuah seminar nasional Hermeneutika al-Quran: Pergulatan tentang Penafsiran Kitab Suci di sebuah perguruan Tinggi. Konon tujuannya antara lain mencari dan merumuskan sebuah hermeneutika al-Quran yang relevan untuk konteks umat Islam di era globalisasi umumnya dan di Indonesia khususnya. Terlanjur gandrung pada segala yang baru dan Barat (everything new and Western), sejumlah cendekiawan yang nota bene Muslim itu menganggap hermeneutika bebas-nilai alias netral. Bagi mereka, hermeneutika dapat memperkaya dan dijadikan alternatif pengganti metode tafsir tradisional yang dituduh ahistoris (mengabaikan konteks sejarah) dan uncritical (tidak kritis). Kalangan ini tidak menyadari bahwa hermeneutika sesungguhnya sarat dengan asumsi-asumsi dan implikasi teologis, filosofis, epistemologis dan metodologis yang timbul dalam konteks keberagamaan dan pengalaman sejarah Yahudi dan Kristen.
.

  • Istilah dan Sejarahnya

.
Secara etimologi, istilah hermeneutics berasal dari bahasa Yunani (ta hermeneutika), (bentuk jamak dari to hermeneutikon) yang berarti hal-hal yang berkenaan dengan pemahaman dan penerjemahan suatu pesan. Kedua kata tersebut merupakan derivat dari kata Hermes, yang dalam mitologi Yunani dikatakan sebagai dewa yang diutus oleh Zeus (Tuhan) untuk menyampaikan pesan dan berita kepada manusia di bumi.Dalam karya logika Aristoteles, kata hermeneias berarti ungkapan atau pernyataan (statement), tidak lebih dari itu.
.
✅ Bahkan para teolog Kristen abad pertengahan pun lebih sering menggunakan istilah interpretatio untuk tafsir, bukan hermeneusis. Karya St. Jerome, misalnya, diberi judul De optimo genere interpretandi (Tentang Bentuk Penafsiran yang Terbaik), sementara Isidore dari Pelusium menulis De interpretatione divinae scripturae (Tentang Penafsiran Kitab Suci). Adapun pembakuan istilah hermeneutics sebagai suatu ilmu, metode dan teknik memahami suatu pesan atau teks, baru terjadi kemudian, pada sekitar abad ke-18 Masehi. Dalam pengertian modern ini, hermeneutics biasanya dikontraskan dengan exegesis, sebagaimana ilmu tafsir dibedakan dengan tafsir.
.
✅ Adalah Schleiermacher, seorang teolog asal Jerman, yang konon pertama kali memperluas wilayah hermeneutika dari sebatas teknik penafsiran kitab suci (Biblical Hermeneutics) menjadi hermeneutika umum (General Hermeneutics) yang mengkaji kondisi-kondisi apa saja yang memungkinkan terwujudnya pemahaman atau penafsiran yang betul terhadap suatu teks. Schleiermacher bukan hanya meneruskan usaha Semler dan Ernesti untuk membebaskan tafsir dari dogma, ia bahkan melakukan desakralisasi teks. Dalam perspektif hermeneutika umum, semua teks diperlakukan sama, tidak ada yang perlu di-istimewakan, apakah itu kitab suci (Bible) ataupun teks karya manusia biasa. Kemudian datang Dilthey yang menekankan historisitas teks dan pentingnya kesadaran sejarah (Geschichtliches Bewusstsein). Seorang pembaca teks, menurut Dilthey, harus bersikap kritis terhadap teks dan konteks sejarahnya, meskipun pada saat yang sama dituntut untuk berusaha melompati jarak sejarah antara masa-lalu teks dan dirinya. Pemahaman kita akan suatu teks ditentukan oleh kemampuan kita mengalami kembali (Nacherleben) dan menghayati isi teks tersebut.
.
‼ Di awal abad ke-20, hermeneutika menjadi sangat filosofis. Interpretasi merupakan interaksi keberadaan kita dengan wahana sang Wujud (Sein) yang memanifestasikan dirinya melalui bahasa, ungkap Heidegger. Yang tak terelakkan dalam interaksi tersebut adalah terjadinya hermeneutic circle, semacam lingkaran setan atau proses tak berujung-pangkal antara teks, praduga-praduga, interpretasi, dan peninjauan kembali (revisi).
.
✅ Demikian pula rumusan Gadamer, yang membayangkan interaksi pembaca dengan teks sebagai sebuah dialog atau dialektika soal-jawab, dimana cakrawala kedua-belah pihak melebur jadi satu (Horizontverschmelzung), hingga terjadi kesepakatan dan kesepahaman. Interaksi tersebut tidak boleh berhenti, tegas Gadamer. Setiap jawaban adalah relatif dan tentatif kebenarannya, senantiasa boleh dikritik dan ditolak. Habermas pergi lebih jauh. Baginya, hermeneutika bertujuan membongkar motif-motif tersembunyi (hidden interests) yang melatarbelakangi lahirnya sebuah teks. Sebagai kritik ideologi, hermeneutika harus bisa mengungkapkan pelbagai manipulasi, dominasi, dan propaganda dibalik bahasa sebuah teks, segala yang mungkin telah mendistorsi pesan atau makna secara sistematis. Asumsi dan Implikasinya. Dengan latarbelakang seperti itu, hermeneutika jelas tidak bebas-nilai. Ia mengandung sejumlah asumsi dan konsekuensi.
.
Pertama, hermeneutika menganggap semua teks adalah sama, semuanya merupakan karya manusia. Asumsi ini lahir dari kekecewaan mereka terhadap Bible. Teks yang semula dianggap suci itu belakangan diragukan keasliannya. Campur-tangan manusia dalam Perjanjian Lama (Torah) dan Perjanjian Baru (Gospels) ternyata didapati jauh lebih banyak ketimbang apa yang sebenarnya diwahyukan Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Isa as. Bila diterapkan pada al-Quran, hermeneutika otomatis akan menolak status al-Quran sebagai Kalamullah, mempertanyakan otentisitasnya, dan menggugat ke-mutawatir-an mushaf Usmani.
.
Kedua, hermeneutika menganggap setiap teks sebagai produk sejarahsebuah asumsi yang sangat tepat dalam kasus Bible, mengingat sejarahnya yang amat problematik. Hal ini tidak berlaku untuk al-Quran, yang kebenarannya melintasi batas-batas ruang dan waktu (trans-historical) dan pesan-pesannya ditujukan kepada seluruh umat manusia (hudan li-n naas).
.
Ketiga, praktisi hermeneutika dituntut untuk bersikap skeptis, selalu meragukan kebenaran dari manapun datangnya, dan terus terperangkap dalam apa yang disebut sebagai lingkaran hermeneutis, dimana makna senantiasa berubah. Sikap semacam ini hanya sesuai untuk Bibel, yang telah mengalami gonta-ganti bahasa (dari Hebrew dan Syriac ke Greek, lalu Latin) dan memuat banyak perubahan serta kesalahan redaksi (textual corruption and scribal errors). Tetapi tidak untuk al-Quran yang jelas kesahihan proses transmisinya dari zaman ke zaman.
.

Keempat, hermeneutika menghendaki pelakunya untuk menganut relativisme epistemologis. Tidak ada tafsir yang mutlak benar, semuanya relatif. Yang benar menurut seseorang, boleh jadi salah menurut orang lain. Kebenaran terikat dan bergantung pada konteks (zaman dan tempat) tertentu. Selain mengaburkan dan menolak kebenaran, faham ini juga akan melahirkan mufassir-mufassir palsu dan pemikir-pemikir yang tidak terkendali (liar).
.
‼ Dampak penggunaan metode hermeneutika terhadap pemikiran Islam sudah sangat mencolok di Indonesia. Misalnya, pemikiran tentang kebenaran satu agama, serta tidak boleh adanya truth claim (klaim kebenaran) dari satu agama tertentu. Paham ini disebarkan secara meluas. Pada 1 Maret 2004 lalu, dalam sebuah seminar di Universitas Muhammadiyah Surakarta, seorang profesor juga mengajukan gagasan tentang tidak bolehnya kaum Muslim melakukan truth claim. Sebab, hanya Allah yang tahu kebanaran. Pada tataran fiqih, semakin gencar disebarkan pemahaman yang mendekonstruksi hukum-hukum fiqih Islam, yang qathiy, seperti kewajiban jilbab, haramnya muslimah menikah dengan laki-laki non-Muslim, dan sebagainya.

.
✅ Jika metodologi pemahaman al-Quran sudah dirusak oleh para ulama, cendekiawan, dan tokoh Islam, yang semestinya menjaga umat, maka keadaan ini bukanlah hal yang biasa-biasa saja. Pekerjaaan merusak pemikiran Islam semacam ini dulu hanya diakukan oleh para misionaris Kristen dan Orientalis. Karena itu, tentunya kaum Muslimin sangat perlu mencermati dan melakukan tindakan pencegahan dan penyembuhan terhadap serbuan penyakit yang sudah begitu jauh mencengkeram dan merusak tubuh umat Islam. Wallahu alam. (KL, 31 Maret 2004).
__oOo__

•••••••••••••••••••••••
_*Ya Allah, saksikanlah bahwa kami telah menjelaskan dalil kepada umat manusia, mengharapkan manusia mendapatkan hidayah,melepaskan tanggung jawab dihadapan Allah Ta’ala, menyampaikan dan menunaikan kewajiban kami. Selanjutnya, kepadaMu kami berdoa agar menampakkan kebenaran kepada kami dan memudahkan kami untuk mengikutinya*_
.
_*Itu saja yang dapat Ana sampaikan. Jika benar itu datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Kalau ada yang salah itu dari Ana pribadi, Allah dan RasulNya terbebaskan dari kesalahan itu.*_
.
Hanya kepada Allah saya memohon agar Dia menjadikan tulisan ini murni mengharap Wajah-Nya Yang Mulia, dan agar ia bermanfaat bagi kaum muslimin dan menjadi tabungan bagi hari akhir.
.
Saya memohon kepada Allah Ta’ala Agar menjadikan Tulisan ini amal soleh saat hidup dan juga setelah mati untuk saya dan untuk kedua orang tua saya juga keluarga saya dihari dimana semua amal baik dipaparkan
.
Sebarkan,Sampaikan,Bagikan artikel ini jika dirasa bermanfaat kepada orang-orang terdekat Anda/Grup Sosmed,dll, Semoga Menjadi Pahala, Kebaikan, Amal Shalih Pemberat Timbangan Di Akhirat Kelak. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas kebaikan Anda.
Wa akhiru da’wanā ‘anilhamdulillāhi rabbil ālamīn Wallāhu a’lam, Wabillāhittaufiq
.
_*“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.”* (HR Muslim no. 2674)_     

Iklan