Mandi dalam Bimbingan Syariat (Bag.1)
.

Alhamdulillah
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
.••

Tata Cara Mandi Wajib-Ust Yazid Jawas


Hal-hal yang Mewajibkan Mandi (1) (Ust.Sofyan C.Ruray)


Tata Cara Mandi Wajib ( Ust.Sofyan C.Ruray )


Mandi-mandi yang Disunnahkan ( Ust.Sofyan C.Ruray )


Mandi Wajib-Ust.Abu Salman


Adab Kamar Mandi-Ust.Abu SalmanBag1 :Bag2


Bab. Mandi Wajib dan Hukum MandiJunub Ust.Askari


Mandi Junub karena mimpi Ust.AskariQc.mp3

Mandi hari jum’at dan hukum menyentuhmushaf bagi yang junub Ust.Askari


Tata cara mandi junub Ust.Askari


Kajian Kitab Safiinatun Najaah oleh Ustadz Arifin Badri,MA


Enam Perkara Diwajibkannya Mandi Junub


Sunnah-sunnah Mandi Janabah


“Kitab Bulughul Maram Ibn Hajar al-Asqalani” Ustadz DR. Sufyan Basweidan, Lc, MA.
Mandi dan Hukum Junub
Bag2:https://app.box.com/s/61xfpv0ea1eyf2qsnzg530ytqhqv9yxu
Bag3:https://app.box.com/s/98adlftkt18087gmvpx1a6avtc591z02
Bag4:https://app.box.com/s/5bunk2imzmhbgicb4dvz5rlvq5p8y150
Bag5:https://app.box.com/s/0m16zk50plhdj4g3cns23i3yfj7ketpj
Bag6:https://app.box.com/s/z4h8lwroa1oldifwo9st25qj2qxw11mq
Bag7:https://app.box.com/s/vono41bs0m8568ruitvqgju7zk6zx02h
Tata Cara Mandi Junub Besar Sesuai Sunnah-Yufid 3Mb 6Mnit
https://app.box.com/s/3ltvr5hsyrl178hz7tx9wnhbysvim495
Tata Cara Mandi Wajib yang Benar Sesuai Sunnah LENGKAP-Cara Mandi Junub.mp4 10Mb
https://app.box.com/s/t2m197tqome9zdn4ksk25zvbesbt8ht7
=.
Ebook
Fiqih Hukum Seputar Mandi-26Hlm

Klik untuk mengakses 11-hukum-seputar-mandi.pdf


Kitab Thaharah 138Halaman

Klik untuk mengakses 43-kitab-thaharah.pdf


Sifat Mandi Janabat (Menurut Rasulullah)-Al-Ustadz Ibnu ‘Abidin As-Soronji
https://drive.google.com/file/d/0BzDT5zrhbMyDLU02QVR5UW1uWWM/view?usp=drive_open
Tata Cara Mandi Wajib

Klik untuk mengakses tata-cara-mandi-wajib.pdf


Kitab Mandi Edisi Lengkap

Klik untuk mengakses syarah-ktab-ghusul-min-shahih-bukhori.pdf


Masalah-Masalah Seputar Mandi Janabat. Ol

Klik untuk mengakses sifat-mandi-janabat.pdf


=…  

➡ Mandi dalam Bimbingan Syariat (Bag.1)
.
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,
Open Donasi,Sedekah,Waqaf,Infaq: https://bit.ly/2JIhYq3
kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR
Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1
Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ
Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM
mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x
Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR
.==
Mandi dalam Bimbingan Syariat (Bagian Ke-1)
.
Al-Ustadz Utsman
.
✅ Mandi dalam Bimbingan Syariat (Bagian Ke-1)

Pada beberapa edisi sebelumnya sudah dibahas mengenai wudhu—berikut pembatal-pembatalnya—dan masalah mengusap khuf dan kaus kaki sebagai pengganti membasuh kaki. Ini semua terkait dengan mengangkat/menghilangkan hadats kecil. Adapun hadats besar, bisa diangkat dengan mandi.[1]
.

  • Hal-hal yang Mengharuskan Mandi.

.
➡ 1.Keluarnya air mani, baik dari laki-laki maupun perempuan, baik dalam keadaan sadar maupun tidur.
.
✅ Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits,
.
إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ
.
Kewajiban menggunakan air (mandi) itu tidak lain karena keluarnya air (mani).” (HR. Muslim)
.
✅ Demikian juga hadits ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam ditanya apakah perempuan harus mandi jika mimpi basah, beliau menjawab, “Ya, jika dia melihat air (mani).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
.
Para ulama memahami dari hadits ini bahwa keluarnya air mani, baik dari lelaki maupun perempuan, yang diiringi syahwat, baik karena mimpi basah, berhubungan badan, onani/masturbasi[2], maupun karena membayangkan, melihat, atau mendengar sesuatu yang membangkitkan syahwatnya sampai keluar mani[3], mengharuskan mandi.
.
Jika mani keluar tanpa diiringi syahwat, misalnya karena sakit atau karena hawa dingin yang luar biasa, apakah juga mengharuskan mandi? Asy-Syafi’i rahimahullah berpendapat bahwa keluarnya mani walaupun tanpa diiringi syahwat tetap mengharuskan mandi berdasarkan keumuman hadits di atas.[4]
.
‼ Selain itu, sebagaimana keluarnya kencing atau kotoran manusia dengan sebab apa pun membatalkan wudhu, seperti itu pulalah keluarnya mani, dengan sebab apa pun mengharuskan mandi.
.

  • Faedah

.
An-Nawawi rahimahullah menjelaskan ciri-ciri mani, yang ringkasnya sebagai berikut.[5]
.
✅ 1.Mani lelaki berwarna putih, kental, berbau seperti bau adonan tepung, keluar dengan terpancar (bisa beberapa kali), dan setelah keluar mengakibatkan futur (lemas, lesu). Ini jika si lelaki dalam keadaan sehat. Jika dia sakit, mungkin berubah satu di antara sekian sifatnya. .
‼ Di antara sekian banyak sifat ini, yang menjadi ciri utama ada tiga: (1) keluar dengan syahwat dan mengakibatkan badan lesu, (2) berbau khas, dan (3) keluar dengan terpancar. Tidak disyaratkan ketiganya harus ada, bahkan satu sifat saja sudah cukup. Jika ketiga-tiganya tidak ada, kemungkinan besar itu bukan m
ani.
.
✅ 2.Mani perempuan berwarna kuning (dan kadang bisa memutih), agak encer. Ada dua ciri khasnya—satu saja sudah cukup: (1) baunya seperti bau mani lelaki dan (2) keluarnya menimbulkan rasa nikmat dan mengakibatkan tubuh lesu.
.

  • Masalah

Setelah berhubungan badan dengan suaminya, seorang perempuan mandi besar. Selesai dia mandi, keluar dari kemaluannya sperma suaminya. Apa yang harus dia lakukan?
.
Pendapat yang kuat adalah pendapat mayoritas ulama, yaitu dia tidak wajib mengulangi mandi, tetapi harus wudhu jika hendak shalat.

Setelah berhubungan badan, seorang lelaki mandi. Selesai dia mandi, keluar sperma dari kemaluannya. Berdasarkan keumuman hadits di atas, dia harus mengulang mandi walaupun sperma yang keluar terakhir tidak terpancar/tersemprot.

.
Jika seseorang bangun tidur dan mendapatkan basah di pakaiannya, ada tiga kemungkinan:
.

✅ 1.Dia yakin bahwa yang membasahi pakaiannya adalah mani, maka dalam hal ini dia harus mandi, baik ketika tidur mengalami ihtilam[6] maupun tidak.
.
✅ 2.Dia yakin bahwa yang membasahi pakaiannya bukan mani, maka tidak wajib mandi, tetapi harus mencuci pakaiannya karena berarti yang membasahi adalah kencing atau madzi atau sejenisnya.
.
✅ 3.Dia tidak bisa memastikan atau menduga apakah yang membasahi pakaiannya itu mani atau bukan. Jika demikian, kalau ada sesuatu yang mungkin dijadikan patokan, diikuti.
Artinya, jika dia mengalami ihtilam, ini pertanda bahwa yang membasahi adalah mani. Jika dia tidak mengalami ihtilam tetapi sebelum tidur membayangkan hubungan badan, ini pertanda bahwa yang membasahi adalah 
.
‼ Namun, jika tidak ada yang bisa dijadikan patokan, kembali ke hukum asal tentang sucinya seseorang sehingga dia tidak harus mandi, tetapi perlu mencuci pakaiannya. Kalaupun dia hendak mandi sebagai bentuk kehati-hatian, tidak menjadi soal. Wallahu a’lam.
.
➡ 2.Bertemunya dua khitan.
.
✅ Yang dimaksud adalah terjadinya hubungan badan antara lelaki dan perempuan sampai masuknya kemaluan lelaki ke kemaluan perempuan.
.

Di antara dalilnya adalah hadits (artinya), “Jika seorang lelaki telah duduk di antara empat cabang tubuh perempuan[7] kemudian bersungguh-sungguh, telah wajib baginya mandi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim ada tambahan, “… walaupun tidak mengeluarkan mani.”

‼ Yang dimaksud dengan ungkapan “telah duduk di antara empat cabang tubuh perempuan kemudian bersungguh-sungguh” ialah terjadinya hubungan badan antara lelaki dan perempuan sampai masuknya kemaluan lelaki ke kemaluan perempuan.
.
✅ Jadi, walau tidak sampai keluar mani, terjadinya hubungan badan mengharuskan mandi. Yang seperti ini pernah dialami oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersama ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha (HR. Muslim).
.

  • Catatan

.
Hukum di atas berlaku baik dalam keadaan rela maupun terpaksa. Misalnya, seorang perempuan diperkosa, dia tetap wajib mandi.[8]
.
✅ Termasuk pula dalam hal ini adalah seorang perempuan yang digauli di bagian dubur.[9]
.
Jika yang terjadi hanya sentuhan antara kemaluan lelaki dan tempat khitan perempuan, dan kemaluan lelaki tidak masuk sedikit pun ke kemaluan perempuan, para ulama sepakat bahwa dalam keadaan ini keduanya tidak wajib mandi.[10] Di antara yang memperkuat makna ini adalah lafadz “kemudian bersungguh-sungguh” dari hadits di atas
.
✅ Sekadar masuknya pucuk kemaluan lelaki ke kemaluan perempuan sudah mengharuskan mandi. Jadi, tidak dipersyaratkan masuknya seluruh kemaluan lelaki.

.

  • Masalah

.
Apakah pemakaian kondom dan semisalnya mengubah hukum di atas? Pendapat yang kuat dalam hal ini bahwa keduanya wajib mandi, baik kondom/pelapisnya tebal maupun tipis.[11]
.
➡ 3.Berhentinya darah haid atau nifas.
.
✅ Di antara dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,
.
وَيَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡمَحِيضِۖ قُلۡ هُوَ أَذٗى فَٱعۡتَزِلُواْ ٱلنِّسَآءَ فِي ٱلۡمَحِيضِ وَلَا تَقۡرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطۡهُرۡنَۖ فَإِذَا تَطَهَّرۡنَ فَأۡتُوهُنَّ مِنۡ حَيۡثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُۚ
.
Dan mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ‘Dia (haid) itu kotor, maka jauhilah (jangan gauli) para perempuan pada masa haid, dan jangan dekati mereka sampai mereka suci. Jika mereka sudah bersuci (mandi), datangilah (gaulilah) mereka di tempat yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala pada kalian’.” (al-Baqarah: 222)
.
✅ As-Sa’di rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini ada dalil wajibnya seorang perempuan yang haid untuk mandi, dan berhentinya darah haid merupakan syarat sahnya mandi.”
.

Di antara dalilnya pula adalah hadits yang mengisahkan petunjuk Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam kepada perempuan yang mengalami istihadhah. Dalam hadits tersebut, di antara yang beliau sampaikan adalah, “… jika sudah berakhir masa haidmu, mandilah dan shalatlah.” (HR. al-Bukhari)
.
Nifas dalam hal ini sama hukumnya dengan haid. Dalam sebagian hadits, Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam memakai ungkapan “nifas” dengan makna haid.
.
‼ Wajibnya mandi bagi perempuan jika darah haid atau nifasnya sudah berhenti merupakan kesepakatan para ulama.[12]

.

  • Faedah

.
Dalam keadaan tertentu yang mungkin sangat jarang terjadi, jika seorang perempuan melahirkan dan tidak mengeluarkan darah sedikit pun, mayoritas ulama berpendapat bahwa dia tidak wajib mandi, tidak batal puasanya, dan boleh digauli oleh suaminya.
.
➡ 4.Meninggalnya seseorang.
.
Jika seseorang meninggal, orang yang masih hidup wajib memandikannya berdasarkan beberapa dalil. Di antaranya adalah hadits ketika ada seseorang meninggal karena terlempar dari untanya, Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan untuk memandikannya dengan air dan sidr (HR. al-Bukhari dan Muslim). Para ulama telah menukil adanya ijma’ tentang wajibnya memandikan jenazah muslim.[13]
.
‼ Dikecualikan darinya adalah orang yang meninggal dalam jihad melawan kaum kafir. Dia dikuburkan dengan pakaian yang dikenakannya ketika terbunuh tanpa dimandikan, sebagaimana datang beberapa hadits dalam masalah ini.[14]
.

➡ 5.Mandi Jumat.
.

Seorang muslim yang sudah balig dan hendak melakukan shalat Jumat wajib mandi sebelum berangkat ke masjid.[15] Hal ini berdasarkan hadits (artinya), “Jika salah seorang dari kalian mendatangi (shalat) Jumat, hendaklah dia mandi!” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
.
Dalam hadits lain, “Mandi Jumat wajib atas setiap orang yang sudah balig.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
.
✅ Dalam hadits lain pula, “Hak (wajib) bagi setiap muslim mandi pada satu dari tujuh hari (dalam sepekan), dengan membasuh kepala dan tubuhnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim
)
.
‼ Perempuan yang hendak shalat Jumat disyariatkan pula untuk mandi Jumat.
.

  • Faedah

.
✅ Para ulama sepakat[16] bahwa jika seseorang shalat Jumat tanpa mandi terlebih dahulu, shalatnya tetap sah.
.
✅ Mandi Jumat disyariatkan untuk shalat Jumat, bukan sekadar karena tibanya hari Jumat

.

  • Masalah

.
Jika berkumpul pada seseorang dua sebab atau lebih yang mengharuskan mandi,[17] apakah cukup satu kali mandi untuk semuanya (selama sudah diniatkan), atau setiap sebab mengharuskan mandi tersendiri?
.

Pendapat yang kuat dalam hal ini adalah pendapat jumhur ulama bahwa cukup satu kali mandi untuk semuanya. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits (artinya), “Barang siapa mandi pada hari Jumat dengan mandi junub kemudian berangkat ke masjid (pada waktu pertama), seakan-akan dia berkurban dengan unta ….” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

.
✅ Hadits ini jelas sekali menunjukkan bahwa mandi junub pada hari Jumat mencukupi untuk keduanya (junub dan Jumat).
.
‼ Hal ini sebagaimana jika berkumpul pada seseorang beberapa sebab yang mengharuskan wudhu, cukup satu kali wudhu.
.
✅ Asy-Syaikh Abdurrahman al-‘Adani menyebutkan bahwa tidak ada dalil yang shahih bagi yang mengharuskan berbilangnya mandi karena berbilangnya sebab yang mengharuskan mandi. (Syarh Muntaqa al-Akhbar)[18]
.

Wallahu a’lam.
.

~~××~~×× Lanjut ke Halaman 2 ~~××~~××