Asma’ Husna dan Studi Tentang Sebagian Sifat-Sifat Allah
.

Alhamdulillah
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
.••
Nama Allah yang indah – Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc., M.A. 19Mb
https://app.box.com/s/i9ktbdbsiem44mpq41rid8yyoh89iffj
Perusak Nama dan Sifat Allah _ Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc 4Mb28Mnit
https://app.box.com/s/oblvvoojtucg49pjqx7x7vlk539mgcug
Mengenal Sifat Berkehendak Allah – Ustadz Lalu Ahmad Yani, Lc..webm
https://app.box.com/s/zr8p0zj42i7ukz24drel5e8rlfr85fwv
Sifat Mata dan Wajah Bagi Allah | Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc, MA 18Mb
https://app.box.com/s/bgedst9nmzwgj8we8bhi76vjnfyqyq4q
Bahaya Jangan Pahami Sifat Allah Dengan 4 Cara Ini-Ust.Mizan Qudsiyah.mp3
https://app.box.com/s/v69rzombevdep6wz4gbrab5ewy59ljxe
Ahlussunnah mengimani sifat-sifat Allah – Ustadz Harits Abu Naufal 23Mb
https://app.box.com/s/trx4v9qi7c6gfn2a8dxs6afwxbtkai35
TAUHID ASMA WA SIFAT-Ustadz Umar Baladraf, M.Pd.I
https://bit.ly/2YqcGXe (17 mb
Sifat-sifat Allah Ta’ala dalam Beberapa Hadits-Ust.Sofyan Chalid Ruray 21Mb
https://app.box.com/s/7itbgebdnvir65s5o9e1mzkktlcx6mzb
Sifat Allah Tidak Sama Dengan Mahluknya | Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc, MA 17Mb
https://app.box.com/s/o1bxegakt1qppgns353sws77l1rrm6od

Fiqh Asma’ Husna-Ust Muhammad Romelan

Ust. Firanda Andirja – Pengenalan Tauhid Asma’ wa SifatBag1: Bag2

Ust.Firanda Andirja – Penjelasan Tauhid Al-Asma’ was Sifat

Silsilah Fiqh Asmaul Husna; Asy Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al ‘Abbad Al Badr Hafidzohullohuta’ala
https://archive.org/details/SilsilahFiqhAsmaulHusna
Rekaman Kajian Fikih Asmaul Husna
Kitab Fiqih Asmaul Husna Karya: Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad_
Bersama *Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA*
https://archive.org/details/RekamanKajianFiqihAsmaulHusnaUstadzAfifi
Ustadz Afifi Abdul Wadud – Fiqh Asmaul Husna
https://archive.org/details/UstadzAfifiAbdulWadud-FiqhAsmaulHusnamasjidAl-mustaqim
Ustadz Abdullah Taslim – Fiqh Asmaul Husna
https://archive.org/details/radiorodja_asmaulhusna
Fiqih Asmaul Husna Ustadz Wira Mandiri Bachrun
https://archive.org/details/FiqihAsmaulHusna
Memahami Nama Nama Dan Sifat Allah ( Ustadz Dr Muhammad Arifin Badri MA)
https://archive.org/details/20150425MemahamiNamaNamaDanSifatAllahUstadzDrMuhammadArifinBadriMASesi2 Nama dan Sifat Allah-Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.
https://www.radiorodja.com/tag/nama-dan-sifat-allah/

Pondasi Tauhid Asma Wa Sifat-Ust.MizanQudsyiah

Ust.Firanda Andirja · Syubhat dalam Tauhid Asma’ wa Shifat dan Bantahannya

Tauhid Asma’ wa Shifat-Ust.Abdurrahman Thayyib

Kitab Shahih Bukhari (Bab Tauhid) Mengenal Sifat Sifat Allah-Ustadz Mizan Qudsiyah
https://eshaardhie.blogspot.com/2017/11/download-kumpulan-kajian-kitab-shahih-bukhari-bab-tauhid-ustadz-mizan-qudsiyah.html?m=1
=…
Ebook
Syarhus Sunnah: AKIDAH AL-MUZANI (Murid al-Imam asy-Syafii)-Abu Utsman Kharisman 362Hlm
https://pustakahudaya.files.wordpress.com/2015/03/buku-penjelasan-syarhus-sunnah-lil-muzani-ed-1-0.pdf
Kitab Fiqih Asmaul Husna Karya: Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad
https://archive.org/download/SilsilahFiqhAsmaulHusna/ar_fiqhul_asmaail_husna.pdf
Mengenal Asma dan Shifat Allah-Syaikh Shalih bin ‘Abdil ‘Aziz as-Sindi hafizhahullahu
https://ibnumajjah.files.wordpress.com/2017/04/asma-wa-shifat.pdf
Al-Asmâ-Ul-Husnâ Dan Penyimpangan Terhadapnya
https://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single3/id_Al_Asma_Ul_Husna_Dan_Penyimpangan_Terhadapnya.pdf
Kaidah-kaidah Utama tentang Asma` dan Sifat Allah
https://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/id_fundamentals_assama_wassifat.pdf
=…
Asma’ Husna Dan Sifat Kesempurnaan,
.
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,
Open Donasi,Sedekah,Waqaf,Infaq: https://bit.ly/2JIhYq3
kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR
Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1
Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ
Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM
mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x
Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR
.==

Asma’ Husna dan Studi Tentang Sebagian Sifat-Sifat Allah

  • Pertama: Asma’ul Husna

✅ Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Hanya milik Allah asma’ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-A’raf: 180)

.
‼ Ayat yang agung ini menunjukkan hal-hal berikut:
.
➡ 1. Menetapkan nama-nama (asma’) untuk Allah Subhannahu wa Ta’ala , maka siapa yang menafikannya berarti ia telah menafikan apa yang telah ditetapkan Allah dan juga berarti dia telah menentang Allah Subhannahu wa Ta’ala .
.
➡ 2. Bahwasanya asma’ Allah Subhannahu wa Ta’ala semuanya adalah husna.
Maksudnya sangat baik. Karena ia mengandung makna dan sifat-sifat yang sempurna, tanpa kekurangan dan cacat sedikit pun. Ia bukanlah sekedar nama-nama kosong yang tak bermakna atau tak mengandung arti.
.
➡ 3. Sesungguhnya Allah memerintahkan berdo’a dan ber-tawassul kepadaNya dengan nama-namaNya. Maka hal ini menunjukkan keagungannya serta kecintaan Allah kepada do’a yang disertai nama-namaNya.
.
➡ 4. Bahwasanya Allah Subhannahu wa Ta’ala mengancam orang-orang yang ilhad dalam asma’Nya dan Dia akan membalas perbuatan mereka yang buruk itu.
.
✅ Ilhad menurut bahasa berarti condong. Ilhad di dalam asma’ Allah berarti menyelewengkannya dari makna-makna agung yang dikandungnya kepada makna-makna batil yang tidak dikandungnya. Sebagaimana yang dilakukan orang-orang yang men-ta’wil-kannya dari makna-makna sebenarnya kepada makna yang mereka ada-adakan.
.
‼ Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-asma’ul husna (nama-nama yang terbaik) …”. (Al-Isra’: 110)
.
✅ Diriwayatkan, bahwa salah seorang musyrik mendengar baginda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam sedang mengucapkan dalam sujudnya, “Ya Allah, ya Rahman”. Maka ia berkata, “Sesungguhnya Muhammad mengaku bahwa dirinya hanya menyembah satu tuhan, sedangkan ia memohon kepada dua tuhan.”
.
‼ Maka Allah menurunkan ayat ini. Demikian seperti disebutkan oleh Ibnu Katsir. Maka Allah menyuruh hamba-hambaNya untuk memanjatkan do’a kepadaNya dengan menyebut nama-namaNya sesuai dengan keinginannya. Jika mereka mau, mereka memanggil, “Ya Allah”, dan jika mereka menghendaki boleh memanggil, “Ya Rahman” dan seterusnya.
.
✅ Hal ini menunjukkan tetapnya nama-nama Allah dan bahwasanya masing-masing dari namaNya bisa digunakan untuk berdo’a sesuai dengan maqam dan suasananya, karena semuanya adalah husna. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al-asma’ul husna (nama-nama yang baik).” (Thaha: 8)
.
“… Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepadaNya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Al-Hasyr: 24)
.

✅ Maka barangsiapa menafikan asma’ Allah berarti ia berada di atas jalan orang-orang musyrik, sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang’, mereka menjawab: ‘Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami (bersujud kepadaNya)?’, dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).” (Al-Furqan: 60)
.

‼ Dan termasuk orang-orang yang dikatakan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala : “… padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: ‘Dialah Tuhanku tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia …’.” (Ar-Ra’d: 30)
.

✅ Maksudnya, ini yang kalian kufuri adalah Tuhanku, aku meyakini rububiyah, uluhiyah, asma’ dan sifatNya. Maka hal ini menunjukkan bahwa rububiyah dan uluhiyah-Nya mengharuskan adanya asma’ dan sifat Allah Subhannahu wa Ta’ala. Dan juga, bahwasanya sesuatu yang tidak memiliki asma’ dan sifat tidaklah layak menjadi Rabb (Tuhan) dan Ilah (sesembahan).
.

  • Kedua: Kandungan Asma’ Husna Allah

✅ Nama-nama yang mulia ini bukanlah sekedar nama kosong yang tidak mengandung makna dan sifat, justru ia adalah nama-nama yang menunjukkan kepada makna yang mulia dan sifat yang agung.
.
‼ Setiap nama menunjukkan kepada sifat, maka nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim menunjukkan sifat rahmah; As-Sami’ dan Al-Bashir menun-jukkan sifat mendengar dan melihat; Al-’Alim menunjukkan sifat ilmu yang luas; Al-Karim menunjukkan sifat karam (dermawan dan mulia); Al-Khaliq menunjukkan Dia menciptakan; dan Ar-Razzaq menunjuk-kan Dia memberi rizki dengan jumlah yang banyak sekal
i.
.
✅ Begitulah seterusnya, setiap nama dari nama-namaNya menunjukkan sifat dari sifat-sifatNya. Syaikh Ibnu Taimiyah berkata: “Setiap nama dari nama-namaNya menunjukkan kepada Dzat yang disebutnya dan sifat yang dikandungnya, seperti Al-’Alim menunjukkan Dzat dan ilmu, Al-Qodir menunjukkan Dzat dan qudrah, Ar-Rahim menunjukkan Dzat dan sifat rahmat.”
.
‼ Ibnul Qayyim berkata, “Nama-nama Rabb Subhannahu wa Ta’ala menunjukkan sifat-sifat kesempurnaanNya, karena ia diambil dari sifat-sifatNya. Jadi ia adalah nama sekaligus sifat dan karena itulah ia menjadi husna. Sebab andaikata ia hanyalah lafazh-lafazh yang tak bermakna maka tidaklah disebut husna, juga tidak menunjukkan kepada pujian dan kesempurnaan.
.
✅ Jika demikian tentu diperbolehkan meletakkan nama intiqam (balas dendam) dan ghadhab (marah) pada tempat rahmat dan ihsan, atau sebaliknya. Sehingga boleh dikatakan, “Ya Allah sesungguhnya saya telah menzhalimi diri sendiri, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya Engkau adalah Al-Muntaqim (Maha Membalas Dendam). Ya Allah anugerahilah saya, karena sesungguhnya engkau adalah Adh-Dharr (Yang Memberi Madharat) dan Al-Mani’ (Yang Menolak) …” d
an yang semacamnya.
.
Lagi pula kalau tidak menunjukkan arti dan sifat, tentu tidak diperbolehkan memberi kabar dengan masdar-masdar-nya dan tidak boleh menyifati dengannya. Tetapi kenyataannya Allah sendiri telah mengabarkan tentang DiriNya dengan masdar-masdar-Nya dan menetapkannya untuk DiriNya dan telah ditetapkan oleh RasulNya untukNya, seperti firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rizki Yang Mem-punyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (Adz-Dzariyat: 58)
.
✅ Dari sini diketahui bahwa Al-Qawiy adalah salah satu nama-namaNya yang bermakna “Dia Yang Mempunyai Kekuatan”. Begitu pula firman Allah: “… Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya …” (Fathir: 10)
.

“Al ‘aziiz” adalah “Yang Memiliki Izzah (kemuliaan)”. Sampai akhirnya Ibnu Qoyyim berkata: “… juga seandainya asma-Nya tidak mengandung makna dan sifat maka tidak boleh mengabari tentang Allah dengan fi’il (kata kerja)nya. Maka tidak boleh dikatakan “Dia mendengar”, “Dia melihat”, “Dia mengetahui”, “Dia berkuasa” dan “Dia ber-kehendak”. Karena tetapnya hukum-hukum sifat adalah satu cabang dari ketetapan sifat-sifat itu. Jika pangkal sifat tidak ada maka mustahil adanya ketetapan hukumya.”
.

  • Ketiga: Studi Tentang Sebagian Sifat-Sifat Allah

.
✅ Sifat-sifat Allah terbagi menjadi dua bagian:
.
Bagian pertama, adalah sifat dzatiyah, yakni sifat yang senantiasa melekat denganNya. Sifat ini tidak berpisah dari DzatNya. Seperti ilmu, kekuasan, mendengar, melihat, kemuliaan, hikmah, ketinggian, keagungan, wajah, dua tangan, dua mata.
.
Bagian kedua, adalah sifat fi’liyah. Yaitu sifat yang Dia perbuat jika berkehendak. Seperti, bersemayam di atas ‘Arsy, turun ke langit dunia ketika tinggal sepertiga akhir dari malam, dan datang pada hari Kiamat.
.
‼ Berikut ini kami sebutkan sejumlah sifat-sifat Allah dengan dalil dan keterangannya, apakah ia termasuk dzatiy atau fi’liy.
.

  • ➡ A. Al-qudrah (berkuasa)

.
✅ Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “… dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Al-Maidah: 120) “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 20)
.

Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Al-Kahfi: 45)
.
“Katakanlah: ‘Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu’.” (Al-An’am: 65)
.
Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembali-kannya (hidup sesudah mati).” (Ath-Thariq: 8)
.

✅ Dia telah menetapkan sifat qudrah, kuasa untuk melakukan apa saja, sebagaimana Dia juga menafikan dari DiriNya sifat ‘ajz (lemah) dan lughub (letih). Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan tiada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (Fathir: 44)
.
Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit-pun tidak ditimpa keletihan.” (Qaf: 38)
.
✅ Dia memiliki qudrah yang mutlak dan sempurna sehingga tidak ada sesuatu pun yang melemahkanNya. Tidaklah ada penciptaan makhluk dan pembangkitan mereka kembali kecuali bagaikan satu jiwa saja. “Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia.” (Yasin: 82)
.

‼ Maka seluruh makhlukNya, baik yang di atas maupun yang di bawah, menunjukkan kesempurnaan qudrah-Nya yang menyeluruh.
.
✅ Tidak ada satu partikel pun yang keluar dariNya. Cukuplah menjadi dalil bagi seorang hamba manakala ia melihat kepada penciptaan diri-nya; bagaimanakah Allah menciptakannya dalam bentuk yang paling baik, membelah baginya pendengaran dan penglihatannya, menciptakan untuknya sepasang mata, sebuah lisan dan sepasang bibir? Kemudian apabila ia melayangkan pandangannya ke seluruh jagat raya ini maka ia akan melihat berbagai keajaiban qudrahNya yang menunjukkan keagunganNya.
.

  • ➡ B. Al-iradah (berkehendak)

.
Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendakiNya.” (Al-Maidah: 1)
.
Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (Al-Hajj: 14)
.
Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya.” (Al-Buruj: 16)
.
Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia.” (Yasin: 82)
.

✅ Ayat-ayat ini menetapkan iradah untuk Allah Subhannahu wa Ta’ala yakni di antara sifat Allah yang ditetapkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. .
‼ Ahlus-Sunnah wal Jama’ah menyepakati bahwa iradah itu ada dua macam:

.
✅ a. Iradah Kauniyah, sebagaimana yang terdapat dalam ayat: “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit …” (Al-An’am: 125)
.
‼ Yaitu iradah yang menjadi persamaan masyi’ah (kehendak Allah), tidak ada bedanya antara masyi’ah dan iradah kauniyah.
.
✅ b. Iradah Syar’iyah, sebagaimana terdapat dalam ayat: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Al-Baqarah: 185)
.
➡ Perbedaan antara keduanya ialah:
.
Iradah kauniyah pasti terjadi, sedangkan iradah syar’iyah tidak harus terjadi; bisa terjadi bisa pula tidak.
.
✅ Iradah kauniyah meliputi yang baik dan yang jelek, yang bermanfaat dan yang berbahaya bahkan meliputi segala sesuatu. Sedangkan iradah syar’iyah hanya terdapat pada yang baik dan yang bermanfaat saja.
.
✅ Iradah kauniyah tidak mengharuskan mahabbah (cinta Allah). Terkadang Allah menghendaki terjadinya sesuatu yang tidak Dia cintai, tetapi dari hal tersebut akan lahir sesuatu yang dicintai Allah. Seperti penciptaan Iblis dan segala yang jahat lainnya untuk ujian dan cobaan.
.
✅ Adapun iradah syar’iyah maka di antara konsekuensinya adalah mahabbah Allah, karena Allah tidak menginginkan dengannya kecuali sesuatu yang dicintaiNya, seperti taat dan pahal
a.
.

  • ➡ C. Al-’Ilmu (Ilmu)

.
Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “… Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata …” (Al-Hasyr: 22)
.
“… Yang mengetahui yang ghaib. Tidak ada tersembunyi dari-padaNya seberat zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi …” (Saba’: 3)
.
Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi.” (Al-Hujurat: 18)
Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.” (Ali Imran: 5)
.
“… dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah …” (Al-Baqarah: 255)
.
Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (An-Nahl: 74)
.
✅ Di antara dalil yang menunjukkan atas ilmuNya yang luas adalah firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “… agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmuNya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Ath-Thalaq: 12)
.
✅ Di antara dalilnya yang lain ialah hasil ciptaanNya yang sangat teliti dan sempurna. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan)…?” (Al-Mulk: 14)

.
‼ Karena mustahil bisa menciptakan benda-benda di alam ini dengan sangat teliti dan sempurna kalau bukan Yang Maha Mengetahui. Yang tidak mengetahui dan tidak mempunyai ilmu tidak mungkin menciptakan sesuatu, seandainya ia menciptakan tentu tidak akan teliti dan sempurna. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula) …” (Al-An’am: 59)
.
Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan menge-tahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (At-Taghabun: 4)
.
✅ Dan masih banyak lagi ayat-ayat tentang masalah ini. Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, “Kaum Muslimin memahami, sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu sebelum benda-benda itu ada dengan ilmuNya dan qadim azaliy yang merupakan salah satu dari konsekuensi DiriNya yang Mahasuci. Dan Dia tidak mengambil ilmu tentang benda itu dari benda itu sendiri.
.
“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui?”
(Al-Mulk: 14)

.

  • ➡ D. Al-Hayat (Hidup)

.
Yaitu sifat dzatiyah azaliyah yang tetap untuk Allah, karena Allah bersifat dengan ‘ilmu, qudrat dan iradah; sedangkan sifat-sifat itu tidaklah ada kecuali dari yang hidup. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya) …” (Al-Baqarah: 255)

.


Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia …” (Ghafir: 65)

Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati …” (Al-Furqan: 58)


.


✅ Ayat-ayat di atas menetapkan sifat hayat bagi Allah. Dan bahwa Al-Hayyul Qayyum adalah “Al-Ismul A’zham” (nama yang paling agung) yang jika Allah dipanggil dengannya pasti Dia mengabulkan, jika Dia dimintai dengannya pasti Dia memberi; karenanya hayat menunjukkan kepada seluruh sifat-sifat dzatiyah, dan qayyum menunjukkan kepada seluruh sifat-sifat fi’liyah.


.


‼ Jadi seluruh sifat kembali kepada dua nama yang agung ini. BagiNya adalah kehidupan yang sempurna; tidak ada kematian, tidak ada kekurangan, tidak ada kantuk dan tidak ada tidur. Dialah Al-Qayyum, yang menegakkan yang lainNya dengan memberinya sebab-sebab kelangsungan dan kebaikan.

.

  • ➡ E. As-Sam’u (Mendengar) Dan Al-Bashar (Melihat)

.
✅ Keduanya termasuk sifat dzatiyah Allah. Allah menyifati diriNya dengan kedua-duanya dalam banyak ayat, seperti firmanNya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

.


Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (An-Nisa’: 58)


.


“… Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.” (Thaha: 46)

.
✅ Pendengaran Allah Subhannahu wa Ta’ala menangkap semua suara, baik yang keras maupun yang pelan; mendengar semua suara dengan semua bahasa dan dapat membedakan semua kebutuhan masing-masing. Satu pendengaran tidak mengganggu pendengaran yang lain. Berbagai macam bahasa dan suara tidaklah membuat samar bagiNya.
.
‼ Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Al-Mujadalah: 1)
.

Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka?” (Az-Zukhruf: 80)
.
✅ Sebagaimana Allah juga melihat segala sesuatu, dan tidak ada sesuatu pun yang menutupi penglihatanNya. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:
.
Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?” (Al-’Alaq: 14)
.

Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.” (Asy-Syu’ara: 218-219)
.

Dan katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu itu …’.” (At-Taubah: 105)
.

Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit
. (Ali Imran: 5)
.

✅ Yang tidak mendengar dan melihat tidak layak untuk menjadi Tuhan. Allah Subhannahu wa Ta’ala menceritakan tentang Ibrahim Alaihissalam yang berbicara kepada bapaknya sebagai protes atas penyembahan mereka terhadap berhala. “Mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak bisa mendengar dan melihat.” (Maryam: 42)
.
Apakah berhala-berhala itu mendengar (do’a) mu sewaktu kamu berdo’a (kepadanya)?” (Asy-Syu’ara: 72)
.

  • ➡ F. Al-Kalam (Berbicara)

.
✅ Di antara sifat Allah yang dinyatakan oleh Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ salaf dan para imam adalah Al-Kalam. Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta’ala berbicara sebagaimana yang Dia kehendaki; kapan Dia menghendaki dan dengan apa Dia kehendaki, dengan suatu kalam (pembicaraan) yang bisa didengar.
Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan (nya) daripada Allah.” (An-Nisa’: 87)

.


Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (An-Nisa’: 122)

.


Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (An-Nisa’: 164)

.


“… Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) …” (Al-Baqarah: 253)


.


“(Ingatlah), ketika Allah berfirman, ‘Hai Isa …” (Ali Imran: 55)


.


Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia munajat (kepada Kami).” (Maryam: 52)


.


Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa …” (Asy-Syu’ara: 10)


.


Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka …” (Al-Qashash: 62)


.


“…supaya ia sempat mendengar firman Allah…” (At-Taubah: 6)


.


“…padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah…” (Al-Baqarah: 75)


.

Semua ayat ini menetapkan sifat hadits (ucapan), qaul (perkataan), kalam (pembicaraan), nida’ (seruan) dan munajat. Semuanya adalah termasuk jenis kalam yang tetap bagi Allah sesuai dengan keagunganNya. Kalam Allah termasuk sifat dzatiyah, karena terus menyertai Allah dan tidak pernah berpisah dariNya. Juga termasuk sifat fi’liyah, karena berkaitan dengan masyi’ah dan qudrah-Nya.
.
‼ Allah Subhannahu wa Ta’ala juga menyebutkan bahwa yang tidak bisa berbicara tidak pantas untuk menjadi Tuhan. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka?” (Al-A’raf: 148)
.

✅ Kalam adalah sifat kesempurnaan, sedangkan bisu adalah sifat kekurangan. Dan Allah memiliki sifat kesempurnaan, suci dari keku-rangan.

••“`•• Lanjut ke Halaman 2 ••“`••